Memaknai Sensasionalisme Bahasa dalam Pemberitaan Media

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Akar kata sensation, yakni “sense”, sebenarnya sudah cukup menggambarkan apa yang disebut berita sensasi, yaitu berita yang isinya dan terutama cara mengemukakannya bertujuan untuk menarik perhatian, membangkitkan perasaan dan emosi manusia. Dengan demikian, berita sensasional harus hebat, memberikan keheranan, kekaguman, ketakjuban, atau kengerian. Pendeknya, harus dapat meluapkan berbagai macam perasaan.

Wikipedia free encyclopedia mendefinisikan sensasasionalisme sebagai “a manner of being extremely controversial, loud, attention-grabbing, or otherwise sensationalistic”. Dapat diartikan sebagai cara untuk menimbulkan kontroversi, mencolok, memancing perhatian, atau menimbulkan sensasi. Hal ini senada dengan pengertian “sensasi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam kamus terbitan Balai Pustaka tersebut, “sensasi” menunjukkan arti: 1. yang membuat perasaan terharu (rusuh, gempar, dsb); 2. yang merusuhkan, menggemparkan; dan 3. yang merangsang emosi. Sementara “sensasional” diartikan sesuatu (termasuk dalam hal ini berita) yang bersifat merangsang perasaan (emosi, dsb) atau bersifat menggemparkan.

McQuail (1992: 216) dan Fung (2006: 190) menyandingkan bahasan mengenai sensasionalisme pemberitaan dengan unsur daya pikat manusia (human interest) dan materi penarik perhatian (excitement), seperti berita kriminal, skandal seks, gosip, dan kehidupan selebritis yang diperoleh dengan melanggar privasi, termasuk foto-foto perempuan seksi dan korban kriminalitas yang ditampilkan secara “telanjang”. Berita sensasional sedikit sekali didasarkan pada nalar atau logika yang sehat karena semata-mata ditujukan untuk memicu rasa penasaran, emosi, empati, bahkan kesenangan sensual bagi pembacanya.

Kusumaningrat dan Kusumaningrat (2005: 67) menilai, suratkabar yang gemar menyiarkan berita-berita sensasional cenderung menampilkan tema-tema berita “key-hole news”, yaitu berita sekitar dapur dan kamar tidur orang lain, hasil mengintip yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan umum. Contoh berita seperti ini misalnya terlihat dari judul berita: “4 Cowok + 4 Cewek, yang Pasti Bukan Laki-bini, Check-In di Hotel, Lagi Asyik-asyikan, Ditangkepin Polisi” (Lampu Merah, 25 Agustus 2008, Halaman 1). Selain materi berita yang tidak relevan dengan kepentingan publik, teknik penulisan judul tersebut juga menyalahi aturan penulisan berita yang—secara  teori—menghendaki penggunaan bahasa jurnalistik yang efisien, yakni sederhana, ringkas, padat, dan jelas (Fink, 1998; Salzman, 1998; Mencher, 2000; Cappon, 2000; Burns, 2004; Newsom & Wollert, 1985; dan Dale & Pilgrim, 2005).

Bhumika Ghimire, seorang kontributor ohmynews.com—situs berita online berbasis jurnalisme warga terbesar di dunia—mengatakan bahwa berita sensasional menjadi kecenderungan negatif dalam budaya pemberitaan yang serba instan dan cepat dengan kehadiran media-media baru seperti saat ini. Menurut Ghimire, reporter seringkali memberitakan isu-isu yang terbatas pada taraf pengungkapan konflik tanpa melakukan penelitian terlebih dahulu. Ini dilakukan semata-mata untuk memuaskan konsumen medianya akan sesuatu yang sensasional (http://english ohmynews.com/). Padahal, menurut Fink (1995: 63-64), sejak awal etika penulisan berita yang jujur (the ethics of honest writing) berkaitan dengan pemilihan sumber berita dan cara pemilihan kutipannya. Sumber berita sangat berpengaruh pada terbentuknya opini publik. Sedangkan pemilihan kutipan oleh wartawan demi mengejar sensasi bisa menjadi “jebakan” tersendiri dan berpotensi untuk menyembunyikan opini-opini tertentu dari narasumber tertentu pula (the sin of disguised opinion).

Terdapat tiga aspek bahasan mengenai sensasionalisme pemberitaan di media massa, yakni “teknik”, “proses”, dan “pola”. Pertama, teknik sensasionalisme, yaitu cara atau strategi yang digunakan media untuk menampilkan berita menjadi “sensasional”. Ini dapat dilakukan melalui penggunaan elemen verbal dan visual, serta penyajian dengan metode repetisi dan alokasi. Elemen verbal adalah pemakaian unsur bahasa (sensasional) dalam penulisan berita, baik pada level kata, frasa, klausa, dan kalimat yang tampak dari judul, subjudul, lead, dan isi berita. Elemen visual antara lain terlihat dari penggunaan foto, ilustrasi, dan tabel yang mendukung sensasionalisme, termasuk penggunaan warna tertentu dan ukuran penulisan judul yang dibuat besar dan mencolok, gunanya untuk menarik perhatian inderawi pembaca. Sedangkan metode repetisi adalah pengulangan atau peningkatan frekuensi kemunculan unsur-unsur sensasionalisme dalam berita untuk menimbulkan sensasi. Semakin sering berita diulang atau ditampilkan, berita tersebut berpotensi menjadi sensasional. Sementara metode alokasi adalah penyediaan (penambahan) waktu (pada media elektronik) atau space (pada media cetak) guna menampilkan atau memberi penekanan pada unsur-unsur sensasionalisme dalam berita. Semakin lama atau semakin luas/besar ukuran, misalnya judul, kolom, atau foto berita ditampilkan, akan semakin menarik perhatian.

Salah satu teknik sensasionalisme yang sering dipraktikkan media untuk menarik dan mempertahankan minat pembacanya adalah menampilkan unsur sensasionalisme pada headline. Cara-cara media menampilkan sensasionalisme dalam laporan berita utama diyakini oleh pengelola media memberi pengaruh pada bagaimana khalayak tertarik pada informasi yang ditampilkan.[2] Strategi penonjolan satu judul berita dibanding judul lainnya ini sangat lazim dalam dunia jurnalistik karena pada dasarnya isi media massa selalu direncanakan berlandaskan pertimbangan-pertimbangan hipotetik yang berupaya mendekatkan berbagai kepentingan. Kepentingan tersebut mencakup dua ranah, yaitu kepentingan pihak media maupun kepentingan pembaca.

Eriyanto (2005: 69-70) memaparkan dua strategi media dalam membentuk citra tertentu–-termasuk sensasionalisme—melalui teknik pembingkaian (framing). Pertama, memilih fakta/realitas. Proses memilih fakta ini didasarkan pada asumsi, wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam memilih fakta ini selalu terkandung dua kemungkinan: apa yang dipilih (included) dan apa yang dibuang (excluded). Penekanan aspek tertentu itu dilakukan dengan memilih aspek tertentu, memilih fakta tertentu, melupakan fakta yang lain, memberitakan aspek tertentu dan melupakan aspek lainnya. Intinya, peristiwa dilihat dari sisi tertentu. Akibatnya, pemahaman dan konstruksi atas suatu peristiwa bisa jadi berbeda antara satu media dengan media lain. Pemilihan fakta ini kerapkali didasarkan pada kandungan nilai dan unsur berita pada sebuah peristiwa. Kedua, menuliskan fakta. Teknik ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih itu disajikan kepada khalayak. Gagasan itu diungkapkan dengan kata, kalimat, dan proposisi apa, dengan bantuan aksentuasi foto dan gambar apa, metafora apa yang digunakan untuk mendeskripsikan, dan sebagainya. Bagaimana fakta yang sudah dipilih tersebut ditekankan dengan pemakaian perangkat tertentu: penempatan yang mencolok (pada headline depan, atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang sedang diberitakan, dan sebagainya.

Sementara itu, Funkhouser (dalam Severin dan Tankard, 2001: 232) menawarkan lima teknik untuk membuat suatu peristiwa aktual mampu di-blow up oleh media sehingga menarik perhatian pembaca:

1. Adaptation of the media to a stream of events, berkaitan dengan kemampuan media memahami peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung tidak secara an sich dan bahwa peristiwa-peristiwa itu bisa dipandang berbeda.

2. Overreporting of significant but unusual events, yaitu bagaimana media memberikan pemberitaan dalam jumlah dan frekuensi yang tinggi mengenai peristiwa yang penting (dan seringkali, sensasional).

3. Selective reporting of the newsworthy aspects of otherwise nonnewsworthy situations, berkaitan dengan kemampuan media mencari angle tertentu yang bisa dijadikan “senjata” untuk membuat berita tampak menarik dan penting.

4. Pseudoevents, or the manufacturing of newsworthy events, adalah bagaimana media membuat suatu peristiwa menjadi layak untuk dijadikan agenda masyarakat. Misalnya berita tentang demonstrasi, protes, dan sebagainya.

5. Event summaries, or situations that portray nonnewsworthy events in a newsworthy way, berkaitan dengan bagaimana media mengkorelasikan peristiwa dari yang tak memiliki nilai berita dengan hal lain hingga menjadi laik diberitakan. Misalnya berita tentang hubungan antara kebiasaan merokok dengan kanker paru-paru.

Aspek kedua dalam pembahasan mengenai sensasionalisme berita adalah “proses”, yakni dinamika yang terjadi di ruang redaksi saat memformulasikan sebuah “berita sensasional”. Proses produksi berita melibatkan unsur-unsur redaksional yang kompleks, seperti peran reporter, redaktur, dan lain-lain. Proses ini dapat dilihat dengan menggunakan teori konstruksi berita sebagai representasi realitas. Menurut teori ini, berita adalah hasil rekonstruksi tertulis dari realitas sosial yang terdapat dalam kehidupan. Proses pembuatan berita bukanlah sebuah proses yang bebas nilai. Terbitnya berita tak lepas dari kompleksitas organisasi media, yang di dalamnya terdapat pertarungan pelbagai kepentingan. Termasuk di dalamnya adalah proses negosiasi dalam dinamika ruang redaksi mengenai pembuatan berita, pemilihan peristiwa, dan penyeleksian isu. Peristiwa tak bisa dianggap sebagai sesuatu yang taken for granted ketika ingin diterjemahkan ke dalam berita. Ada proses dialektika antara apa yang ada dalam pikiran wartawan dengan peristiwa yang dilihatnya (Utami, 2008: 13).

Menurut Tankard (dalam McQuail, 2000), media kerap melakukan pengerangkaan atas berita yang diadapatnya dengan melalui penyeleksian (selection), penekanan (emphasis), pengurangan (exclusion), dan perluasan (elaboration). Keempat hal itu menunjukkan bahwa media tak hanya menyusun agenda untuk isu, kejadian, tokoh tertentu untuk terlihat lebih penting, namun juga menunjukkan beberapa atribut spesifik yang dimiliki oleh kepentingan-kepentingan tertentu.

Fishman (dalam McQuail, 2000), melengkapi teori ini dengan mengatakan bahwa ada dua pendekatan bagaimana proses produksi berita dilihat. Pandangan pertama sering disebut sebagai pandangan seleksi berita (selectivity of news) yang melahirkan teori seperti gatekeeper. Intinya adalah proses seleksi, komunikator akan memilih mana yang penting dan mana yang tidak, mana yang ditekankan dan mana yang disamarkan, mana yang layak diberitakan mana yang tidak. Pandangan ini seolah menyatakan adanya realitas riil yang diseleksi wartawan untuk dibentuk dalam sebuah berita. Pendekatan kedua adalah pendekatan pembentukan berita (creation of news). Dalam pandangan ini peristiwa bukan diseleksi, melainkan dibentuk. Wartawanlah yang membentuk peristiwa: mana yang disebut berita dan mana yang tidak. Realitas bukan diseleksi melainkan dikreasi oleh wartawan. Wartawan aktif berinteraksi dengan realitas dan sedikit banyak menentukan bagaimana bentuk dan isi berita dihasilkan (McQuail, 2000).

Sementara itu, Shoemaker dan Reese (1996) menyebut beberapa faktor yang memengaruhi kebijakan redaksi dalam memproduksi berita:

(1) Faktor individual, berhubungan dengan latar belakang profesional dari pengelola media.

(2) Rutinitas media, berhubungan dengan mekanisme dan proses penentuan berita.

(3)  Level organisasi, berhubungan dengan struktur organisasi yang secara hipotetik memengaruhi pemberitaan.

(4) Level ekstramedia, berhubungan dengan lingkungan di luar media, antara lain: Pertama, sumber berita, yang di sini dipandang bukan sebagai pihak yang netral, tetapi juga memiliki kepentingan untuk memengaruhi media dengan berbagai alasan, misalnya memenangkan opini publik, memberi citra tertentu kepada khalayak, dan sebagainya. Kedua, sumber penghasilan media, berupa pemasang iklan, penanam modal, dan audiens sebagai konseumen. Media harus survive sehingga kadangkala harus berkompromi dengan pihak-pihak dan pelbagai sumber daya yang menghidupi mereka.

(5) Pihak eksternal, seperti pemerintah dan lingkungan bisnis.

(6) Level ideologi, yang diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi individu pekerja media dalam menafsirkan realitas dan bagaimana mereka menghadapinya.

Aspek ketiga dalam pembahasan mengenai sensasionalisme berita adalah “pola”, yakni kecenderungan bentuk-bentuk pemberitaan sensasional dalam kurun waktu tertentu yang muncul sebagai akibat dari “teknik” dan “proses” yang dijalankan secara rutin oleh media dan hasilnya tampak dalam pemberitaan. Pola-pola sensasionalisme inilah yang akan diteliti secara mendalam dalam riset ini, khususnya yang direpresentasikan melalui bahasa.

Bahasa adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Melalui bahasa, para pekerja media bisa menghadirkan hasil reportasenya kepada khalayak. Setiap hari, para pekerja media memanfaatkan bahasa dalam menyajikan berbagai realitas (peristiwa, keadaaan, benda) kepada publik. Dengan bahasa, secara massif mereka menentukan gambaran beragam realitas ke dalam benak masyarakat. Bahkan menurut DeFleur dan Ball-Rokeach (1989: 267), begitu pentingnya bahasa, maka tak ada berita, cerita, ataupun ilmu pengetahuan tanpa bahasa. Bagi media massa, keberadaan bahasa tidak lagi hanya sebagai alat untuk menggambarkan sebuah peristiwa, melainkan bisa membentuk citra yang akan muncul di benak khalayak. Terdapat berbagai pola media massa memengaruhi bahasa dan makna ini: (i) mengembangkan kata-kata baru beserta makna asosiatifnya; (ii) memperluas makna dari istilah-istilah yang ada; (iii) mengganti makna lama sebuah istilah dengan makna baru; (iv) memantapkan konvensi makna yang telah ada dalam suatu sistem bahasa.

Pola sensasionalisme koran kuning lewat penggunaan bahasa antara lain terlihat dari dramatisasi berita. Dramatisasi dapat dipahami sebagai bentuk penyajian atau penulisan berita yang bersifat hiperbolik dan melebih-lebihkan sebuah fakta dengan maksud menimbulkan efek dramatis bagi pembacanya. Efek dramatis dapat membantu pembaca untuk lebih “mengalami” secara langsung peristiwa yang disajikan. Namun demikian, objektivitas pemberitaan menuntut suatu penyajian berita yang berhati-hati dan mengambil jarak dari fakta yang dilaporkan (McQuail, 1992; Tim Peneliti Dewan Pers, 2006).

Dalam pandangan Mencher (2000: 182), gaya penulisan berita dengan dramatisasi bagaikan penulisan cerita fiksi salah satunya disebabkan para jurnalis sering terjebak dalam gaya storytelling yang salah sehingga menghasilkan berita-berita dramatis. Storytelling merupakan gaya jurnalisme baru yang menampilkan berita secara naratif laiknya cerita fiksi. Ironisnya, banyak jurnalis menganggap hal itu merupakan keahlian mereka dan menjadikan laporan reportasenya menjadi alur cerita yang sangat mengesankan. Akibatnya, mereka memperpanjang berita seperti storytellers tanpa merasa ada kebohongan.

Pola dramatisasi semakin kuat bersinergi dengan berita-berita yang terkait peristiwa-peristiwa kriminal sehingga koran kuning di Indonesia yang mayoritas menampilkan berita kriminal sebagai sajian utama kerap disebut sebagai koran kriminal. Terlepas dari perdebatan apakah berita kriminalitas di media massa menguntungkan publik atau sebaliknya, merugikan masyarakat, sajian berita kriminal merupakan salah satu jenis komoditas yang menjadi andalan koran kuning guna menarik minat pembacanya. Persoalannya, penyajian berita kriminal di koran kuning selalu dibumbui unsur dramatisasi dari wartawan. Padahal, menurut Jewkes (2005: 54), Boyle (2005), dan Yusuf (2008), tanpa harus didramatisasikan, cerita kriminal yang bermuatan kekerasan pada umumnya sudah mengandung cerita human interest (drama) yang bersentuhan dengan emosi manusia. Day (2003: 93) dan Raney & Bryant (2002) menilai, dramatisasi pada suatu peristiwa kriminal dapat menghasilkan distrosi dan bias dari fakta-fakta yang sebenarnya terjadi sehingga menimbulkan penilaian moral dan memfasilitasi pembentukan sikap-sikap tertentu dalam masyarakat.

Dramatisasi dalam berita kriminal biasanya berupa penggunaan ilustrasi dan detail untuk menjelaskan sebuah peristiwa. Penggunaan dramatisasi dapat ditoleransi selama hal tersebut benar-benar terjadi dan dapat membantu pembaca untuk memahami peristiwa yang terjadi. Namun dalam kasus berita perkosaan misalnya, dramatisasi dirasakan tidak perlu karena dapat mencederai perasaan korban yang trauma akibat tindak perkosaan. Dalam beberapa kasus, penggunaan dramatisasi bahkan dapat mengaburkan substansi berita yang ingin disampaikan dan justru menimbulkan pikiran negatif dalam benak pembaca (Narendra, 2006: 172-173).


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Terkait minat pembaca terhadap headline dan halaman depan suratkabar, Askariani Kartono (1975) dalam skripsinya yang berjudul Perbandingan Make-up Halaman 1 dari Empat Suratkabar yang Terbit di Jakarta. (Jurusan Publisistik, Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia) menyimpulkan bahwa Pos Kota adalah “suratkabar yang berwajah lain daripada yang lain”. Bentuk perwajahan Pos Kota menggunakan teknik circus make-up. Dipakainya bentuk circus make-up ini menurut pihak pengelola suratkabar adalah sebagai jawaban atas pertanyaan “Apa yang merupakan selera dan kesenangan sebagian masyarakat lapisan bawah”. Menurut penelitian yang menggunakan metode survei ini, anggapan awal yang menyatakan bahwa kecenderungan lay out halaman I hanya disenangi oleh masyarakat kecil setelah diteliti ternyata tidak terbukti, karena di antara lapisan masyarakat kelas atas juga secara diam-diam banyak yang suka membaca Pos Kota. Selengkapnya mengenai intisari penelitian ini dapat dibaca pada tulisan Awang Ruswandi dan Ibnu Hamad dalam artikelnya berjudul “Pos Kota dalam Skripsi Mahasiswa: dari Minat Penjahat Bergolok hingga Minat Baca Orang Jakarta” (dalam buku Pos Kota, 30 Tahun Melayani Pembaca, 2000: 101-138).

[3]. Ringkasan tulisan ini dimuat di Bernas, 29 April 2010.

About these ads

One thought on “Memaknai Sensasionalisme Bahasa dalam Pemberitaan Media

  1. Bang aku mau tanya donk. Statement Funkhouser tentang teknik merebut perhatian pembaca itu sumbernya darimana ya bang? Boleh minta infonya gak bang? Makasi ya bang sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s