Memahami Focus Group Discussion (FGD)

Iwan Awaluddin Yusuf[1]
Follow me @IwanAwaluddin

Istilah kelompok diskusi terarah atau dikenal sebagai Focus Group Discussion (FGD) saat ini sangat populer dan banyak digunakan sebagai metode pengumpulan data dalam penelitian sosial. Pengambilan data kualitatif melalui FGD dikenal luas karena kelebihannya dalam memberikan kemudahan dan peluang bagi peneliti untuk menjalin keterbukaan, kepercayaan, dan memahami persepsi, sikap, serta pengalaman yang dimiliki informan. FGD memungkinkan peneliti dan informan berdiskusi intensif dan tidak kaku dalam membahas isu-isu yang sangat spesifik. FGD juga memungkinkan  peneliti mengumpulkan informasi secara cepat dan konstruktif dari peserta yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Di samping itu, dinamika kelompok yang terjadi selama berlangsungnya proses diskusi seringkali memberikan informasi yang penting, menarik, bahkan kadang tidak terduga.

Hasil FGD tidak bisa dipakai untuk melakukan generalisasi karena FGD memang tidak bertujuan menggambarkan (representasi) suara masyarakat. Meski demikian, arti penting FGD bukan terletak pada hasil representasi populasi, tetapi pada kedalaman informasinya. Lewat FGD, peneliti bisa mengetahui alasan, motivasi, argumentasi atau dasar dari pendapat seseorang atau kelompok. FGD merupakan salah satu metode penelitian kualitatif yang secara teori mudah dijalankan, tetapi praktiknya membutuhkan ketrampilan teknis yang tinggi.

Tulisan ini merupakan panduan sederhana dalam menyelenggarakan FGD dengan menggabungkan pendekatan teoritis dan praktis. Pertama-tama akan diuraikan basis teoritis FGD, mulai dari penjelasan soal konsep FGD, teknik penentuan jumlah kelompok, tata ruang, membuat panduan diskusi, pelaksanaan, hingga analisis data dan penulisan laporan.

Pengertian FGD

FGD secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis dan terarah mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Irwanto (2006: 1-2) mendefinisikan FGD adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok.

Sesuai namanya, pengertian Focus Group Discussion mengandung tiga kata kunci: a. Diskusi (bukan wawancara atau obrolan); b. Kelompok (bukan individual); c. Terfokus/Terarah (bukan bebas). Artinya, walaupun hakikatnya adalah sebuah diskusi, FGD tidak sama dengan wawancara, rapat, atau obrolan beberapa orang di kafe-kafe. FGD bukan pula sekadar kumpul-kumpul beberapa orang untuk membicarakan suatu hal. Banyak orang berpendapat bahwa FGD dilakukan untuk mencari solusi atau menyelesaikan masalah. Artinya, diskusi yang dilakukan ditujukan untuk mencapai kesepakatan tertentu mengenai suatu permasalahan yang dihadapi oleh para peserta, padahal aktivitas tersebut bukanlah FGD, melainkan rapat biasa. FGD berbeda dengan arena yang semata-mata digelar untuk mencari konsensus.

Sebagai alat penelitian, FGD dapat digunakan sebagai metode primer maupun sekunder. FGD berfungsi sebagai metode primer jika digunakan sebagai satu-satunya metode penelitian atau metode utama (selain metode lainnya) pengumpulan data dalam suatu penelitian. FGD sebagai metode penelitian sekunder umumnya digunakan untuk melengkapi riset yang bersifat kuantitatif dan atau sebagai salah satu teknik triangulasi. Dalam kaitan ini, baik berkedudukan sebagai metode primer atau sekunder, data yang diperoleh dari FGD adalah data kualitatif.

Di luar fungsinya sebagai metode penelitian ilmiah, Krueger & Casey (2000: 12-18) menyebutkan, FGD pada dasarnya juga dapat digunakan dalam berbagai ranah dan tujuan, misalnya (1) pengambilan keputusan, (2) needs assesment, (3) pengembangan produk atau program, (4) mengetahui kepuasan pelanggan, dan sebagainya.

Kapan FGD Harus Digunakan?

FGD harus dipertimbangkan untuk digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:

  1. Peneliti ingin memperoleh informasi mendalam tentang tingkatan persepsi, sikap, dan pengalaman yang dimiliki informan.
  2. Peneliti ingin memahami lebih lanjut keragaman perspektif  di antara kelompok atau kategori masyarakat.
  3. Peneliti membutuhkan informasi tambahan berupa data kualitatif dari riset kuantitatif yang melibatkan persoalan masyarakat yang kompleks dan berimplikasi luas.
  4. Peneliti ingin memperoleh kepuasan dan nilai akurasi yang tinggi karena mendengar pendapat langsung dari subjek risetnya.

Kapan FGD Tidak Diperlukan?

FGD harus dipertimbangkan untuk tidak digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:

  1. Peneliti ingin memperoleh konsensus dari masyarakat/peserta
  2. Peneliti ingin mengajarkan sesuatu kepada peserta
  3. Peneliti akan mengajukan pertanyaan “sensitif” yang tidak akan bisa di-share dalam sebuah forum bersama kecuali jika pertanyaan tersebut diajukan secara personal antara peneliti dan informan.
  4. Peneliti tidak dapat meyakinkan atau menjamin kerahasiaan diri informan yang berkategori “sensitif”.
  5. Metode lain dapat menghasilkan kualitas informasi yang lebih baik
  6. Metode lain yang lebih ekonomis dapat menghasilkan informasi yang sama.

Meskipun terlihat sederhana, menyelenggarakan suatu FGD yang hanya berlangsung 1 -3 jam, memerlukan persiapan, kemampuan, dan keahlian khusus. Ada prosedur dan standar tertentu yang harus diikuti agar hasilnya benar dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Mengapa FGD?

Irwanto (2006: 3- 6) mengemukakan tiga alasan perlunya melakukan FGD, yaitu alasan filosofis, metodologis, dan praktis.

  1. Alasan Filosofis
  • Pengetahuan yang diperoleh dalam menggunakan sumber informasi dari berbagai latar belakang pengalaman tertentu dalam sebuah proses diskusi, memberikan perspektif yang berbeda dibanding pengetahuan yang diperoleh dari komunikasi searah antara peneliti dengan responden.
  • Penelitian tidak selalu terpisah dengan aksi. Diskusi sebagai proses pertemuan antarpribadi sudah merupakan bentuk aksi .
  1. Alasan Metodologis
  • Adanya keyakinan bahwa masalah yang diteliti tidak dapat dipahami dengan metode survei atau wawancara individu karena pendapat kelompok dinilai sangat penting.
  • Untuk memperoleh data kualitatif yang bermutu dalam waktu relatif singkat.
  • FGD dinilai paling tepat dalam menggali permasalahan yang bersifat spesifik, khas, dan lokal. FGD yang melibatkan masyarakat setempat dipandang sebagai pendekatan yang paling sesuai.
  1. Alasan Praktis

Penelitian yang bersifat aksi membutuhkan perasaan memiliki dari objek yang diteliti- sehingga pada saat peneliti memberikan rekomendasi dan aksi, dengan mudah objek penelitian bersedia menerima rekomendasi tersebut. Partisipasi dalam FGD memberikan kesempatan bagi tumbuhnya kedekatan dan perasaan memiliki.

Menurut Koentjoro (2005: 7), kegunaan FGD di samping sebagai alat pengumpul data adalah sebagai alat untuk meyakinkan pengumpul data (peneliti) sekaligus alat re-check terhadap berbagai keterangan/informasi yang didapat melalui berbagai metode penelitian yang digunakan atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, baik keterangan yang sejenis maupun yang bertentangan.

Dari berbagai keterangan di atas, dapat disimpulkan dalam kaitannya dengan penelitian, FGD berguna untuk:

a)      Memperoleh informasi yang banyak secara cepat;

b)      Mengidentifikasi dan menggali informasi mengenai kepercayaan, sikap dan perilaku  kelompok tertentu;

c)      Menghasilkan ide-ide untuk penelitian lebih mendalam; dan

d)     Cross-check data dari sumber lain atau dengan metode lain.

Persiapan dan Desain Rancangan FGD

Sebagai sebuah metode penelitian, pelaksanaan FGD memerlukan perencanaan matang dan tidak asal-asalan. Untuk diperlukan beberapa persiapan sebagai berikut: 1) Membentuk Tim; 2) Memilih Tempat dan Mengatur Tempat; 3) Menyiapkan Logistik; 4 Menentukan Jumlah Peserta; dan 5) Rekruitmen Peserta.

1) Membentuk Tim

Tim FGD umumnya mencakup:

  1. Moderator, yaitu fasilitator diskusi yang terlatih dan memahami masalah yang dibahas serta tujuan penelitian yang hendak dicapai (ketrampilan substantif), serta terampil mengelola diskusi (ketrampilan proses).
  2. Asisten Moderator/co-fasilitator, yaitu orang yang intensif mengamati jalannya FGD, dan ia membantu moderator mengenai: waktu, fokus diskusi (apakah tetap terarah atau keluar jalur), apakah masih ada pertanyaan penelitian yang belum terjawab, apakah ada peserta FGD yang terlalu pasif sehingga belum memperoleh kesempatan berpendapat.
  3. Pencatat Proses/Notulen, yaitu orang bertugas mencatat inti permasalahan yang didiskusikan serta dinamika kelompoknya. Umumnya dibantu dengan alat pencatatan berupa satu unit komputer atau laptop yang lebih fleksibel.
  4. Penghubung Peserta, yaitu orang yang mengenal (person, medan), menghubungi, dan memastikan partisipasi peserta. Biasanya disebut mitra kerja lokal di daerah penelitian.
  5. Penyedia Logistik, yaitu orang-orang yang membantu kelancaran FGD berkaitan dengan penyediaan transportasi, kebutuhan rehat, konsumsi, akomodasi (jika diperlukan), insentif (bisa uang atau barang/cinderamata), alat dokumentasi, dll.
  6. Dokumentasi, yaitu orang yang mendokumentasikan kegiatan dan dokumen FGD: memotret, merekam (audio/video), dan menjamin berjalannya alat-alat dokumentasi, terutama  perekam selama dan sesudah FGD berlangsung.
  7. Lain-lain jika diperlukan (tentatif), misalnya petugas antar-jemput, konsumsi, bloker (penjaga “keamanan” FGD, dari gangguan, misalnya anak kecil, preman, telepon yang selalu berdering, teman yang dibawa peserta, atasan yang datang mengawasi, dsb)

2) Memilih dan Mengatur Tempat

Pada prinsipnya, FGD dapat dilakukan di mana saja, namun seyogianya tempat FGD yang dipilih hendaknya merupakan tempat yang netral, nyaman, aman, tidak bising, berventilasi cukup, dan bebas dari gangguan yang diperkirakan bisa muncul (preman, pengamen, anak kecil, dsb). Selain itu tempat FGD juga harus memiliki ruang dan tempat duduk yang memadai (bisa lantai atau kursi). Posisi duduk peserta harus setengah atau tiga perempat lingkaran dengan posisi moderator sebagai fokusnya. Jika FGD dilakukan di sebuah ruang yang terdapat pintu masuk yang depannya ramai dilalui orang, maka hanya moderator yang boleh menghadap pintu tersebut, sehingga peserta tidak akan terganggu oleh berbagai “pemandangan” yang dapat dilihat diluar rumah.

Jika digambarkan, layout ruang diskusi dapat dilihat sebagai berikut:

(Irwanto, 2006: 68)

3) Menyiapkan Logistik

Logistik adalah berbagai keperluan teknis yang dipelukan sebelum, selama, dan sesudah FGD terselenggara. Umumnya meliputi peralatan tulis (ATK), dokumentasi (audio/video), dan kebutuhan-kebutuhan peserta FGD: seperti transportasi; properti rehat: alat ibadah, konsumsi (makanan kecil dan atau makan utama); insentif; akomodasi (jika diperlukan); dan lain sebagainya.

Insentif dalam penyelenggaraan FGD adalah suatu hal yang wajar diberikan. Selain sebagai strategi untuk menarik minat peserta, pemberian insentif juga merupakan bentuk ungkapan terimakasih peneliti karena peserta FGD bersedia meluangkan waktu dan pikiran untuk mencurahkan pendapatnya dalam FGD. Jika perlu, sejak awal, dicantumkan dalam undangan mengenai intensif apa yang akan mereka peroleh jika datang dan aktif dalam FGD. Mengenai bentuk dan jumlahnya tentu disesuaikan dengan sumberdaya yang dimiliki peneliti. Umumnya insentif dapat berupa sejumlah uang atau souvenir (cinderamata).

4). Jumlah Peserta

Dalam FGD, jumlah perserta menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan. Menurut beberapa literatur tentang FGD (lihat misalnya Sawson, Manderson & Tallo, 1993; Irwanto, 2006; dan Morgan D.L, 1998) jumlah yang ideal adalah 7 -11 orang, namun ada juga yang menyarankan jumlah peserta FGD lebih kecil, yaitu 4-7 orang (Koentjoro, 2005: 7) atau 6-8 orang (Krueger & Casey, 2000: 4). Terlalu sedikit tidak memberikan variasi yang menarik, dan terlalu banyak akan mengurangi kesempatan masing-masing peserta untuk memberikan sumbangan pikiran yang mendalam. Jumlah peserta dapat dikurangi atau ditambah tergantung dari tujuan penelitian dan fasilitas yang ada.

5). Rekruitmen Peserta: Homogen atau Heterogen?

Tekait dengan homogenitas atau heterogenitas peserta FGD, Irwanto (2006: 75-76) mengemukakan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Pemilihan derajat homogenitas atau heterogenitas peserta harus sesuai dengan  tujuan awal diadakannya FGD.
  2. Pertimbangan persoalan homogenitas atau heterogenitas ini melibatkan variabel tertentu yang diupayakan untuk heterogen atau homogen. Variabel sosio-ekonomi atau gender boleh heterogen, tetapi peserta itu harus memahami atau mengalami masalah yang didiskusikan. Dalam mempelajari persoalan makro seperti krisis ekonomi atau bencana alam besar, FGD dapat dilakukan dengan peserta yang bervariasi latar belakang sosial ekonominya, tetapi dalam persoalan spesifik, seperti perkosaan atau diskriminasi, sebaiknya peserta lebih homogen.
  3. Secara mendasar harus disadari bahwa semakin homogen sebenarnya semakin tidak perlu diadakan FGD karena dengan mewawancarai satu orang saja juga akan diperoleh hasil yang sama atau relatif sama.
  4. Semakin heterogen semakin sulit untuk menganalisis hasil FGD karena variasinya terlalu besar.
  5. Homogenitas-heterogenitas tergantung dari beberapa aspek. Jika jenis kelamin, status sosial ekonomi, latar belakang agama homogen, tetapi dalam melaksanakan usaha kecil heterogen, maka kelompok tersebut masih dapat berjalan dengan baik dan FGD masih dianggap perlu.
  6. Pertimbangan utama dalam menentukan homogenitas-heterogenitas adalah ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh heterogen dan ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh homogen.

Menyusun Pertanyaan  FGD

Kunci dalam membuat panduan diskusi yang terarah adalah membuat pertanyaan-pertanyaan kunci sebagai panduan diskusi. Untuk mengembangkan pertanyaan FGD, lakukan hal-hal berikut:

-          Baca lagi tujuan penelitian

-          Baca lagi tujuan FGD

-          Pahami jenis informasi seperti apa yang ingin Anda dapatkan dari FGD

-          Bagaimana Anda akan menggunakan informasi tersebut

-          Tulis pertanyaan umum ke khusus. Sebaiknya jangan lebih dari 5 (lima) pertanyaan inti.

-          Rumuskan pertanyaan dalam bahasa yang sederhana dan jelas. Hindari konsep besar yang kabur maknanya.

-          Uji pertanyaan-pertanyaan tersebut pada teman-teman dalam tim Anda.

Berbeda dengan wawancara, dalam FGD moderator tidaklah selalu bertanya. Bahkan semestinya tugas moderator bukan bertanya, melainkan mengemukakan suatu permasalahan, kasus, atau kejadian sebagai bahan pancingan diskusi. Dalam prosesnya memang ia sering bertanya, namun itu dilakukan hanya sebagai ketrampilan mengelola diskusi agar tidak didominasi oleh sebagian peserta atau agar diskusi tidak macet (Irwanto, 2006: 2)

Pelaksanaan FGD

Keberhasilan pelaksanaan FGD sangat ditentukan oleh kecakapan moderator sebagai “Sang Sutradara”. Peran Moderator dalam FGD dapat dilihat dari aktivitas utamanya, baik yang bersifat pokok (secara prosedural pasti dilakukan) maupun yang tentatif (hanya diperlukan jika memang situasi menghendaki demikian). Peran-peran  tersebut adalah (a) membuka FGD, (b) meminta klarifikasi, (c) melakukan refleksi, (d) memotivasi, (e) probing (penggalian lebih dalam), (f) melakukan blocking dan distribusi (mencegah ada peserta yang dominan dan memberi kesempatan yang lain untuk bersuara), (g) reframing, (h) refokus, (i) melerai perdebatan, (j) memanfaatkan jeda (pause), (k) menegosiasi waktu, dan (l) menutup FGD.

Dalam pelaksanaan FGD, kunci utama agar proses diskusi berjalan baik adalah permulaan. Untuk membuat suasana akrab, cair, namun tetap terarah, tugas awal moderator terkait dengan permulaan diskusi yaitu (1) mengucapkan selamat datang, (2) memaparkan singkat topik yang akan dibahas (overview), (3) membacakan aturan umum diskusi untuk disepakati bersama (atau hal-hal lain yang akan membuat diskusi berjalan mulus), dan (4) mengajukan pertanyaan pertama sebagai panduan awal diskusi. Untuk itu usahakan, baik pertanyaan maupun respon dari jawaban pertama tidak terlalu bertele-tele karena akan menjadi acuan bagi efisisensi proses diskusi tersebut.

Analisis Data dan Penyusunan Laporan FGD

Analisis data dan Penulisan Laporan FGD adalah tahap akhir dari kerja keras peneliti. Langkah-langkahnya dapat ditempuh sebagai berikut:

1.  Mendengarkan atau melihat kembali rekaman FGD

2.  Tulis kembali hasil rekaman secara utuh (membuat transkrip/verbatim)

3.  Baca kembali hasil transkrip

4.  Cari mana masalah-masalah (topik-topik) yang menonjol dan berulang-ulang muncul dalam transkrip, lalu kelompokan menurut masalah atau topik. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan oleh dua orang yang berbeda untuk mengurangi “bias” dan “subjektifitas”. Pengkategorian bisa juga dilakukan dengan mengikuti Topik-topik dan subtopik dalam Panduan diskusi. Jangan lupa merujuk catatan yang dibuat selama proses FGD berlangsung.

5.  Karena berhubungan dengan kelompok, data-data yang muncul dalam FGD biasanya mencakup:

a. Konsensus

b. Perbedaan Pendapat

c. Pengalaman yang Berbeda

d. Ide-ide inovatif yang muncul, dan sebagainya.

6. Buat koding dari hasil transkripsi menurut pengelompokan masalah/topik, misalnya  tentang Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja dibuat kode:

Kode 1 untuk perilaku seks remaja

Bisa dipecah lagi menjadi:

Kode 1a : aturan/nilai-nilai menyangkut perilaku seks remaja

Kode 1b : pengalaman seksual

Kode 2 untuk masalah kesehatan reproduksi remaja,

Bisa dipecah lagi:

Kode 2a : masalah tiadanya informasi kesehatan reproduksi

Kode 2b : masalah tidak adanya pelayanan untuk remaja, dst

Kode 3 untuk kebutuhan remaja

Menurut Irwanto (2006: 82-86), dalam melakukan analisis FGD, perlu diperhatikan hal-hal berikut:

  1. Periksa dahulu, apakah tujuan FGD tercapai—antara lain terlihat dari jumlah pertanyaan yang ditanyakan (dieksekusi) apakah sesuai dengan rencana awal?
  2. Adakah perubahan dalam tujuan FGD yang terjadi karena input dari peserta?
  3. Identifikasi masalah utama yang dikemukakan oleh peserta. Untuk itu perhatikan tema sentral dalam TOR FGD.
  4. Adakah variasi peserta dalam persoalan utama ini? Bagaimana variasinya? Mengapa? (Perbedaan-perbedaan yang muncul tersebut ada yang sangat ekstrim sampai yang hanya berbeda sedikit saja. Jika perbedaan ini timbul, keduanya harus disajikan dalam laporan.
  5. Selain persoalan utama itu, adakah persoalan lain (tema-tema lain) yang muncul dalam diskusi? Apa saja? Mana yang relevan dengan tujuan FGD?
  6. Buatlah suatu kerangka prioritas dari persoalan-persoalan yang muncul. Dengan melihat sumber daya peneliti dan stakeholders, pilihlah masalah-masalah apakah dapat diselesaikan dapat diselsaikan dalam jangka waktu pendek atau panjang. Selain itu coba dipilih persoalan yang tidak kunung selesai, misalnya yang menyangkut perubahan apda tingkat makro (terutama struktur ekonomi dan politik).
  7. Lakukan koding sesuai dengan faktor-faktor yang dikehendaki.

Setelah pekerjaan di atas selesai, baru hasilnya dituliskan atau dilaporkan dengan cara berikut:

  1. Tuliskan topik-topik/masalah-masalah yang ditemukan dari hasil FGD. Setelah itu tuliskan juga “kutipan-kutipan langsung” (apa kata orang yang berdiskusi) mengenai masalah tersebut
  2. Bahas topik-topik atau masalah-masalah yang diungkapkan bersama tim peneliti. Lakukan topik demi topik, sampai semua topik/masalah penting selesai dilaporkan dan dibahas.

Tidak boleh dilupakan, keseluruhan laporan FGD harus memuat poin-poin berikut ini: (a) identitas subjek (untuk kasus tertentu diperlukan deskripsi subjek, bisa ditulis dalam lampiran); (b) tujuan FGD; (c) bentuk FGD; (d) waktu FGD; (e) tempat berlangsungnya FGD; (f) alat bantu dalam FGD; (g) berapa kali dilakukan FGD; (h) tema-tema atau temuan penting dalam FGD, (i) kendala-kendala selama proses FGD; (j) pemahaman-pemaknaan FGD; dan (k) pembahasan hasil FGD.

Catatan Penting:

  1. Perlu diingat bahwa jika dalam sebuah wawancara pribadi, peneliti dihadapkan pada data individual—bukan sebuah proses kelompok—maka dalam FGD peneliti akan memperoleh data individu sekaligus kelompok.
  2. Semua pekerjaan, mulai dari mengumpulkan data, membahas hasil, mencari topik yang penting dalam transkrip, membahas kembali topik-topik itu, sampai menuliskan laporan harus dilakukan dengan tim atau paling tidak berpasangan untuk menghindari pendapat subjektif pribadi. Bila dilakukan dalam tim maka laporan bisa mendekati keutuhan karena berbagai pandangan saling melengkapi.

[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

About these ads

64 thoughts on “Memahami Focus Group Discussion (FGD)

  1. kalo pake FGD ini judul skripsi saya mesti gimana pak?
    obyeknya film “alangkah Lucunya”(negeri ini)
    saya sangat mengharap bantuan bapak
    terima kasih

  2. artikel yang sangat menarik mas. untuk penelusuran referensi, apakah ada info referensi buku secara lengkap dari yang mas pakai dalam menulis ini, terutama penulis Indonesia. terimakasih infonya.

  3. Ada bnyk buku ttg FGD..sebagimana aretikel lain di blog ini sengaja tidak sy tuliskan lengkap referensinya sbg daftar pustaka..hanya sbg bodynote dg tujuan spy pembaca bs menelusuri lbh lanjut dan untuk menghindari replikasi utuh (bbrp kasus terjadi, trtm yg sy temukan pd mahasiswa sy)..
    Untuk referensi ttg FGD berbahasa Indonesia antara lain buku sy sendiri (2007) yg diterbitkan PKMBP, Puji Rianto (2011) diterbitkan RRI dan PKMBP, Irwanto (2006) yg diterbitkan obor, dan bbrp buku lain yg biasanya menjadi subbab di buku2 metode penelitian. Semoga membantu.

  4. Pak Iwan, maturnuwun sanget sharing ilmu ttg FGD nya.Setelah andi membaca metode FGD tsb, maka saya baru dpt pandangan mengenai tata cara menerapkan FGD.

    Mhn ijin utk diskusi, boleh pak Iwan?

    [Ask 1]
    andi ingin tny, apabila topik yg diangkat mengenai rating suatu produk X dengan mesin/hardware nya yg sedikit dirubah2, berarti saat FGD berlangsung, peneliti juga menyodorkan list produk X tsb utk diberi penilaian ya (asumsi 0: kualitas jelek, 10: kualitas terbaik)?Apakah saat FGD diperkenankan menyebar kuisioner rating spt itu?Atau justru malah mengganggu alur diskusi yg dipimpin moderator?

    [Share 2]
    Setiap percakapan dari masing2 peserta, harus terecord dgn baik ya pak?sbg hasil analisis kita nantinya…

    Maturnuwun utk sharing dan jawaban nya ya pak Iwan.

    Warm Regards,

    Andi Bagus Ruhendra,S.Kom.

    • Dear Mas Andi, sy coba jawab.

      [1]
      Peserta yang diminta mengisi list dsb sebaiknya tidak dalam forum FGD (tematik)nya. Apalagi jika fokusnya adalah pendalaman opini peserta terhadap sebuah produk.
      Namun demikian boleh saja dalam rangkaian FGD (pra FGD atau sesudah FGD diberikan kuesioner untuk diisi, tergantung kebutuhan). Tapi ini berdiri sendiri sebagai metode survei. Rating yang Mas Andi maksudnya sendiri lebih condong ke kuantitatif, sementara dalam FGD eksplorasi kualitatif lebih mendalam.

      [2]
      Iya harus terekam dan terdokumentasikan, akrena secara metodologis, semua percakapan harus terekam apa adanya (disebut verbatim) yang menggambarkan dinamika diskusi.

      Salam

  5. ass wr wb pak iwan…..
    terlbh dulu perkenalkan saya AKBP Firdaus bekerja di Pld Jambi sbg Wadir Binmas….sangat tertarik sekali dengan FGD dimana sy pikir terkait sekali dng tugas sy di Binmas yg mana merupakan fungsi pre-emtif di kepolisian
    sy mau tanya bgmn caranya FGD ini dpt digunakan utk memecahkan permasalahan sosial yg ada di masyarakat ? ini mgkn mrpkan pengembangan suatu ide kreatif inovatif utk memecahkan permasalahan sosial yg ada dlm masyarakat dng cara melaks FGD,
    selain pedoman yg tlh disampaikan diatas mgkn ada pedoman lain yg bisa digunakan, trm ksh sblmnya…..
    kalau tdk keberatan mgkn p iwan bs berikan contact person utk diskusikan mslh tsb diatas……trm ksh
    wass……

  6. Waswrwb.
    Salam kenal juga.
    Ya, FGD bisa digunakan untuk membuat instrumen kebijakan dan menemukan “ide kreatif” sebagaimana Bapak maksud.
    Silakan diskusi tentang FGD di blog ini. Insya Allah akan saya usahakan jawab semua pertanyaan.
    Trims.

  7. Mas Iwan, terimakasih tulisan tentang FGDnya. Sangat membantu sekali untuk memahami apa itu FGD beserta tahapannya.

  8. wah lengkap banget artikelnya pak cuma sayang referensinya tidak dicantumkan. akan lebih baik jika referensinya dicantumkan/

  9. Terimakasih Bli Oka..Ada kok, referensi sangat lengkap di bodynotenya..Tapi memang sengaja tidak saya list daftar pustakanya..untuk menghindari plagiasi dan copy paste tulisan sy ini tanpa membaca buku aslinya.
    Sbgmn seringkali terjadi replikasi tdk bertanggung jawab jika sy cantumkan semua.
    Salam.

  10. artikel bapak sangat bagus, sy ingin tanyakan apakah FGD bs dterpkan untuk research yg ditujukan untuk siswa sekolah?

  11. Salam kenal mas Iwan. Saat ini saya sedang mengambil S2 di Magister Desain ITB dan sedang menyusun tesis dengan rumusan judul WACANA VISUAL ILUSTRASI PADA RUBRIK OPINI KOMPAS PERIODE 2011. Saya memfokuskan diri dalam mencari Wacana dalam visual yang berhubungan dengan Opini KORUPSI. Nah untuk mengumpulkan data saya disuruh menggunakan FGD, dan saya belum terlalu paham dengan metode tersebut. Pertanyaannya, mas Iwan bisa memberikan contoh pertanyaan FGD terkait dengan judul penelitian saya?

    Sebagai info, pertanyaan penelitian saya:
    1. Bagaiamana posisi ilustrasi dalam rubrik opini Kompas?
    2. Bagaimana relasi makna antara teks visual dengan teks verbal dalam rubrik Opini Kompas?

    sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih :)

  12. Mas iwan … mohon izin saya kutip ya tulisannya untuk keperluan FGD (sekali lagi) di *RI Banjarmasin :D , btw smoga kita bisa bekerja sama lagi di lain kegiatan ya mas, thx

  13. Mas Iwan bisa dibantu untuk melaksanakan FGD ini, saya sedang butuh research dalam proses pembuatan produk konsumen baru yaitu mie instant

  14. @ Noval Sufriyanto: Melihat pertanyaan penelitiannya, sebaiknya pertanyaan FGD dibuat sesederhana mungkin namun dapat menggali banyak informasi dari peserta FDG. Dimulai dari pendapat dan kesan yg muncul dr gambar2 di Kompas tersebut, dst sampai mengerucut ke pertanyaan inti.
    @ Mas Dani: Monggo Mas..Sukses untuk FGD RRI di Banjarmasin. Siap, senang bekerja dg Mas Dani.
    @ Ario: Ok. Dengan senang hati, silakan japri saja lewat email saya atau share lwt comments di blog ini..:)

  15. Saya baru sekali mengikuti FGD terkait kerukunan umat beragam, krn saya sebagai sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Surabaya, dan sangat bangus untuk mengembangkan wawasan, skrg sedang membuat FGD untuk Muhammadiyah.Trim, atas artikelnya smg bermanfaat

  16. Terima kasih banyak Mas / Pak,, artikel yang sangat bagus dan dapat membantu saya dalam menyelesaikan tugas kuliah,,,

  17. bagus sekali pak artikelnya. Sangat membantu skali dan bisa diterapkan di lingkungan kerja saya. menunggu tulisan bapak yang lain :)

  18. Ass mas Iwan,
    Terima kasih tulisannya. Amat membantu penelitian magister sy.. Mohon ijin utk share ke peers groups.
    Wassalam.

  19. Assalamualaikum wr.wb….Pak Iwan…terimakasih banyak , sangat bermanfaat. tetapi karena saya pertama kali menggunakan FGD atas saran sponsor, saya masih bingung bagaimana analisanya….

  20. tehnik FGD ini baik sekali bila digunakan dalam rangka membuat kebijakan agar hasilnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. terimakasih imfonya, semoga sukses selalu.

  21. Salam Kenal Pak Iwan saya ingi sekali FGD ini saya pake untuk penelitian Tesis saya (Magister Keperawatan UNPAD), dengan Tema Efektifitas FGD untuk meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan Depresi pada lansia, Mohon infonya rancangan awal apa yang harus saya buat? apakah tema saya ini bisa di aplikasikan ya?

  22. Saya mengikuti proses rekrutmen di salah satu perusahaan bumn, yg testnya mencakup FGD. persiapan apa yg mesti saya lakukan? saya masih bingung dgn FGD ini. Terimakasih pak:)

  23. Referensi yg sangat bagus mas ,, mohon ijin utk sy pelajari sbg masukan skripsi sy ttg dampak pembangunan kepariwisataan di karimunjawa ..

  24. Pingback: Focus Group Discussion (FGD) | Muhamad Yusup

  25. makasih pak…. informasi ini bisa dijadikan tambahan referensi saya menyelengarakan FGD di pesantren…

  26. terima kasih bapak, artikelnya sangat membantu, saya ingin mengajukan pertanyaan pak, saya sedang mengerjakan tugas akhir dan kebingungan mengenai metodenya, pertanyaan penelitiannya berupa bagaimana respon masyarakat terhadap program penanganan permukiman oleh jokowi, nah apakah bisa metodenya hanya menggunakan fgd saja atau perlu dibantu dengan metode lainnya? terima kasih sebelumnya

  27. selamat siang pak, senang membaca tulisan di blog bapak ttg FGD karena kebetulan saya menggunakan FGD dalam penelitian skripsi dan saya cukup kesulitan menemukan buku metpend kulitatif yg membahas FGD. jika saya ingin membeli buku bapak, apakah di jual di gramedia, toko buku lain atau dimana? terima kasih bapak, mohon di balas :)

  28. Ass. Wr. Wb…. selamat kenal pak Iwan…terima kasih banyak atas tulisannya bisa menambah wawasan dan gambaran saya dalam pelaksanaan FGD, untuk menambah referensi bisa saya cari di gramedia ngak. Wass

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s