Bisnis Surat Kabar, Masihkah Menjanjikan?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Setiap pendirian perusahaan media selalu dilandasi tujuan untuk menjamin kelangsungan hidup melalui pertumbuhan dan profitabilitas maksimal sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Demikian pula, pembicaraan mengenai industri suratkabar sebagai institusi bisnis selalu mengarah pada dua kondisi, “sehat” dan “tidak sehat”. Dalam konteks bisnis suratkabar, ukuran tradisionalnya dilihat dari jumlah tiras, wilayah edar, dan jumlah pembaca.Namun dalam perkembangannya kini terjadi pergeseran indikator, yakni kesehatan suratkabar lebih meyakinkan jika diukur dari pendapatan iklan. Perolehan iklan ini mampu menunjukkan seberapa kuat cengekraman pengaruh dan kepercayaan media di mata stakeholder, terutama bagi pengiklan serta pembacanya.

Di sisi lain, dalam melihat relasi perkembangan ekonomi dan perkembangan industri media massa di suatu negara, salah satu prinsip yang penting adalah adanya hubungan timbal-balik antara economic development dan development of media, khususnya untuk media-media yang orientasinya market economy (Doyle, 2002: 3). Semakin besar pertumbuhan ekonomi di suatu negara (dengan mengabaikan sistem politik yang dianut), semakin besar pula pertumbuhan dan perkembangan media. Hal ini terutama berlaku bagi bisnis media cetak. Sebaliknya, pertumbuhan dan perkembangan media dapat berkontribusi dalam memacu pertumbuhan ekonomi di suatu negara.

Tulisan ini mengelaborasi industri suratkabar dilihat dari perspektif ekonomi. Pada bagian awal akan dibahas karakteristik bisnis suratkabar sebagai bagian dari aktivitas ekonomi. Bagian kedua dipaparkan peta industri suratkabar di Amerika Serikat yang menjadi barometer industri media massa dunia. Sebagai komparasi, dijelaskan peta industri suratkabar dalam konteks Indonesia. Terakhir dipaparkan peluang dan tantangan bisnis suratkabar di masa-masa mendatang.

Bisnis Suratkabar: Suatu Tinjauan Ekonomi

Berbeda dengan media elektronik yang bersifat “gratis” dalam mengaksesnya, media cetak umumnya harus dibeli dengan sejumlah uang tertentu. Perusahaan penyiaran radio atau televisi misalnya sama sekali tidak melibatkan audiensnya dalam proses pembelian (kecuali pembelian pesawat radio atau televisi). Pembelian produk hanya dilakukan oleh pengiklan untuk ruang-ruang beriklan. Disini pengorbanan audiens dikaitkan dengan nilai kesediaan meluangkan waktu untuk mengikuti program acara yang disiarkan perusahaan penyiaran.

Suratkabar memainkan peran penting sebagai fasilitator perdagangan, mempromosikan konsumerisme melalui iklan, dan menjalankan berbagai kepentingan bisnis pemodal/pemiliknya. Sebagai sistem ekonomi, industri suratkabar mencakup dua kegiatan utama: produksi dan konsumsi (Albarran, 1996). Kegiatan produksi merujuk pada proses pengolahan produk, mulai dari mengumpulkan bahan dasar sampai berwujud output media. Kegiatan produksi dalam industri media mencakup 2 produk: (1) media goods; merupakan produk fisik media seperti bentuk dan ukuran suratkabar, (2) media services; menunjuk pada content media atau aktivitas-aktivitas pendukung yang memasok produk, misalnya berbentuk berita atau artikel.

Sementara itu, kegiatan konsumsi industri suratkabar mencakup pemenuhan kebutuhan media goods dan media service untuk dua pasar sasaran: yakni pembaca dan pengiklan. Model bisnis suratkabar harian adalah penjualan dua produk utama yaitu isi berita yang dibaca oleh pembacanya, dan akses ke pembaca itu, yang dijual kepada pengiklan. Keberadaan dua jenis konsumen ini sangat menentukan kelangsungan hidup institusi media. Karenanya untuk memaksimalkan keuntungan, pengelola media selau berorientasi pada kepentingan pembaca dan pengiklan. Itulah sebabnya, selera kebanyakan konsumen akan menjadi tolok ukur utama proses produksi media. Kriteria semacam ini kemudian menyebabkan media seringkali dituduh menanggalkan prinsip-prinsip kualitas.

Dalam struktur pasar yang normal, operasi bisnis suratkabar dalam merespon harga dan kuantitas produk selalu berdasarkan pada mekanisme supply and demand. Dalam mekanisme ini, audiens atau pengguna media mengambil keputusan membeli media goods dan services. Demand adalah hasrat menggunakan media dan kemampuan membeli produk media. Hasrat ini dipengaruhi oleh keinginan atau kebutuhan konsumen pada produk media. Khusus bagi pengiklan, hasrat tersebut terkait dengan kebutuhan akan space iklan. Disamping itu, consumer demand pun ditentukan oleh kemampuan konsumen membeli produk media atau space iklan. Pembelian produk media umumnya mengacu pada pembelian produk fisik media, sementara space iklan mengacu pada pada pembelian ruang atau halam media untuk beriklan. Consumer demand dipengaruhi oleh 3 hal: (1) Produk ; terkait dengan variasi dan content media yang ada dipasar; (2) Harga; terkait dengan jumlah pengorbanan finansial yang menjadi beban konsumen untuk mengakses atau mengkonsumsi media; dan (3) Karakteristik pasar; terkait dengan selera konsumen, daya beli, perilaku pembelian media, presepsi tentang nilai media, prioritas kebutuhan, dan sebagainya.

Sementara itu, supply mencakup kuantitas barang (goods) yang memenuhi permintaan konsumen dalam suatu rentang waktu tertentu dengan penawaran harga dan karakteristik produk yang menarik. Perusahaan media dituntut dapat merespon kepentingan konsumen agar produk medianya dapat diterima. Prasyarat inilah yang mendorong perushaan selalu berupaya memahami kebutuhan dan keinginan konsumen termasuk merancang spesifikasi produk suratkabar yang berbeda dari pesaingnya.

Biaya distribusi koran cetak untuk sampai di tangan pembacanya mencakup sekitar 10 persen dari pengeluaran kebanyakan perusahaan suratkabar. Sistem pengiriman yang umum digunakan adalah mempunyai perjanjian subkontrak dengan distributor yang menanggung sebagaian besar biaya distribusi. Biaya pengiriman ini akan semakin meningkat seiring bertambah jauhnya jarak yang memerlukan biaya transportasi serta operasi kendaraan dan pegawai yang lebih tinggi.

Sekitar 15 persen dari seluruh suratkabar menggunakan distributor kontrak, yaitu agen yang dibayar sejumlah tarif tertentu untuk mengirim koran dan sekitar 10 persen lainnya menggunakan pegawai yang digaji berdasarkan jam kerja.

Peta Industri Suratkabar di Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, suratkabar merupakan industri media massa paling tua sekaligus paling menguntungkan. Menurut Picard (2004), memasuki millenium baru, AS memiliki 1.480 harian dan 917 koran edisi hari Minggu. Harian nasional di AS yang terbesar di antaranya adalah Wall Street Journal, USA Today, dan Christian Science Monitor. Harian New York Times juga termasuk di antaranya walau hanya seperempat dari total sirkulasinya masuk ke pasaran nasional.

Average Daily Circulation (ADC) atau rata-rata sirkulasi per hari adalah indikator terbaik untuk tingkat permintaan pelanggan sebuah harian. The Wall Street Journal dan USA Today dianggap sebagai koran nasional karena keduanya tidak mencakup sebuah area geografis tertentu atau yang juga disebut retail trading zone (RTZ)–istilah yang umum digunakan dalam industri suratkabar.

Tren yang berkembang di AS dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan, banyak pengiklan memandang suratkabar sebagai cara untuk mencapai target konsumen secara massal. Mereka memilih menggunakan media lain seperti radio atau majalah untuk mencapai target konsumen yang lebih tersegmentasi. Ketergantungan pengiklan besar pada koran nasional menciptakan sebuah situasi ekonomi yang menyebabkan koran nasional kompetitor tidak dapat bersaing dan bertahan di pasar yang sama karena pengiklan akan cenderung memilih untuk memasang iklan di koran dengan sirkulasi nasional nomor satu. Situasi ini adalah yang disebut sebagai “circulation elasticity of demand”.

Namun demikian, di pasar lokal, beberapa koran AS mulai mensegmentasi porsi pasar mereka dengan menyediakan edisi lokal yang berdasarkan zona geografis untuk menarik pengiklan lokal. Koran-koran lokal semacam Washington Post, The New York Times, Chicago Tribune, atau Los Angeles Times justru merajai konsumsi media di daerah-masing-masing.

Menurut Mahtoem Mastoem (2006: 34), di Amerika Serikat sudah sangat sulit menebitkan suratkabar nasional karena tiap kota memiliki segmen, kebutuhan dan kebanggaan sendiri-sendiri. Sejak tahun 1950-an hingga sekarang, sebagian besar koran yang eksis adalah koran lokal atau regional. Amerika Serikat yang sering dijadikan kiblat bagi suratkabar dunia, memiliki lebih banyak state newspaper atau koran negara bagian. Demikian juga di negara–negara Eropa, koran lokal lebih eksis dan berkembang. Situasi ini juga berlaku di tingkat koran lokal, yakni koran dengan jumlah sirkulasi terbesar akan semakin dilirik oleh pengiklan lokal dan membuat pesaingnya dapat terjebak dalam spiral sirkulasi. Dalam situasi seperti ini, koran pesaing dapat berada dalam kondisi keuangan yang cukup sulit bila koran utamanya menguasai 55-60 persen sirkulasi dalam pasar.

Dari aspek konsolidasi (kelompok penerbitan), industri suratkabar dan grup media di AS termasuk rendah dibandingkan dengan konsolidasi industri sejenis di negara lain[2]. Data tahun 2001 menunjukkan Community Newspaper Holdings adalah perusahaan pemilik suratkabar terbesar di AS. Namun banyaknya angka kepemilikan suratkabar tidak selalu menunjukkan kekuatan penetrasi pasar. Angka sirkulasi merupakan indikator konsolidasi yang lebih tepat, dan berdasarkan hal ini, Gannett Co., mengontrol sirkulasi terbesar di AS dan bersama ketiga perusahaan lainnya yang berada di empat peringkat teratas (Knight Ridder, Tribune, Co., dan Advance Publications). Keempat perusahaan ini menguasai 31,8 persen  pasar.

Pasaran suratkabar di AS sangat terkonsentrasi karena struktur pasar yang monopolis. Konsentrasi ini diukur oleh Picard berdasarkan data sirkulasi koran nasional dan lokal, dan menurutnya walau pasar suratkabar semakin terkonsetrasi, konsentrasi ini meningkat seiring menurunnya pasar. 

Dua sumber penghasilan utama sebuah koran adalah sirkulasi dan iklan. Demikian pula di AS, selama setengah abad ke-20 industri koran suratkabar di negara tersebut sangat bergantung dari pemasukan iklan. Tahun 2000, iklan menyediakan 81 persen dari total pemasukan sebuah harian. Permintaan terhadap ruang iklan di koran terus meningkat dibandingkan dengan permintaan serupa di media lain. Jumlah sirkulasi berdampak terhadap penjualan iklan karena preferensi pengiklan terhadap koran tersebut akan meningkat seiring dengan meningkatkan jumlah sirkulasi, begitu juga sebaliknya akan menurun bila jumlah sirkulasi menurun.

Keuntungan yang didapat sebagai salah satu bisnis yang paling menguntungkan menjadikan beberapa perusahaan koran sebagai perusahaan yang paling besar di negerinya. Pada tahun 2001, Tribune Co. memiliki total aset sebesar $14.5 milyar, Gannet Co. sebesar $13 milyar, Knight Ridder sebesar $4.2 milyar, The New York Times sebesar $3.5 milyar, dan Dow Jones & Co. sebesar $1.3 milyar.

Dari tinjauan finansial, secara umum biaya terbesar yang ditanggung suratkabar adalah ketika menghasilkan eksemplar pertama (first copy). Biaya yang dikeluarkan antara lain biaya operasional pengumpulan, dan penulisan berita, dan menyiapkannya menjadi sebuah salinan yang siap dicetak. Proses kedua dari penerbitan ini adalah mereproduksi hasil cetakan pertama tersebut.

Walau industri ini sudah banyak menggunakan teknologi dan perangkat elektronik, biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja mencakup 40 persen dari pemasukan suratkabar. Di seluruh AS, hampir setengah juta karyawan bekerja di industri suratkabar dan 48 persen diantaranya adalah wanita.

Di AS, penjualan oplah dan ruang iklan suratkabar terus berkembang walau banyak saluran media baru yang berpotensi menggeser posisi suratkabar sebagai penyedia informasi dan iklan. Dalam perkembangan terbaru, produksi suratkabar meningkat bukan hanya sekedar hard copy saja, tapi juga dalam bentuk soft copy dengan tersedianya versi online di Internet. Hingga kini tercatat sekitar 90 persen suratkabar AS memiliki versi online, walau jarang yang menghasilkan keuntungan. Suratkabar versi online merupakan situs Web yang paling sering dikunjungi dibanding dengan situs Web yang dimiliki oleh stasiun televisi.

Suratkabar Bersirkulasi Terbesar di AS

(Rata-Rata Sirkulasi Per Hari)

Suratkabar

Jumlah Oplah

Waktu Terbit

(p) : edisi pagi

 

The Wall Street Journal

1.818.562

(p)

USA Today

1.494.929

(p)

The New York Times

1.141.366

(p)

Los Angeles Times

1.089.690

(p)

The Washington Post

813.908

(p)

Daily News, New York

764.070

(p)

Newsday

747.890

(sepanjang hari)

Chicago Tribune

690.842

(p)

Detroit Free Press

556.116

(p)

San Francisco Chronicle

544.253

(p)

Chicago Sun Times

535.793

(p)

The Boston Globe

507.647

(p)

The Dallas Morning News

493.837

(p)

The Phildaelphia Inquirer

486.568

(p)

The Star Ledger, Newark

473.558

(p)

 Sumber: Newspaper Association of America (Dalam Albarran, 1994:154 )

Peta Industri Suratkabar di Indonesia

Sebagaimana disinggung pada awal tulisan ini, kemampuan ekonomi masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan dan akses terhadap media massa. Dalam konteks Indonesia, kemampuan ekonomi masyarakat tergolong masih sangat rendah sehingga menghambat perkembangan media cetak yang memang mensyaratkan pembacanya untuk membayar (meskipun terdapat trend bahwa media-media semacam ini akan gratis). Pola pemenuhan daya beli untuk mengejar keuntungan suratkabar ekonomi ini membuat isi suratkabar di Indonesia lebih banyak berorientasi pada masyarakat perkotaan. Ini mengakibatkan pasar suratkabar untuk masyarakat miskin pedesaan tidak tergarap dengan baik sehingga kelompok ini—selain tidak mempunyai cukup uang untuk membeli—juga  enggan mengonsumsi media cetak.

Di sisi lain, muncul ketimpangan ekonomi antar masyarakat dan antar daerah di Indonesia yang berimbas pada kemampuan masyarakat untuk mengakses suratkabar. kemampuan ekonomi yang sangat tidak merata membuat perkembangan media sangat lambat. Menurut Sekjen SPS, Amir Effendi Siregar (2007: 30), daerah peredaran suratkabar 65% berada di Jakarta  (penduduk 10 juta); 20% di Jawa luar Jakarta (penduduk 110 juta); 15% di luar Jawa (penduduk 100 juta). DKI Jakarta yang kemampuan industri dan ekonomi masyarakatnya tumbuh dengan baik, bisnis media juga berkembang dengan baik pula. Sebaliknya, daerah-daerah di luar Jakarta yang kemampuan ekonomi masyarakatnya kurang berkembang dengan baik maka media cetak juga hanya sedikit saja sirkulasinya. Koran-koran yang mempunyai oplah oplah besar semuanya berada di Jawa dan terutama Jakarta.      

                    Jumlah Oplah Koran-Koran Terbesar di Indonesia

No

Suratkabar

Jumlah Oplah

(dalam ribuan)

1

Kompas

509

2

Jawa Pos

433

3

Suara Pembaruan

239

4

Media Indonesia

 

200

 

5

Koran Tempo

200

 

6

Republika

 

200

 

7

Rakyat Merdeka

200

 

8

Pos Kota

 

200

 

9

Pikiran Rakyat 

183

10

Suara Merdeka 

176

11

Kedaulatan Rakyat 

159

12

Surya 

110

13

Suara Karya 

100

14

Sinar Harapan 

100

15

Bisnis Indonesia

100

Sumber: Asmono Wikan. 2005. Diolah dari data SPS.

Dari segi jumlah, hingga tahun 2005, tercatat tidak kurang dari 829 total penerbitan media cetak di Indonesia. Dari keseluruhan jumlah ini, suratkabar harian sebanyak 245 buah, majalah sebanyak 253 buah, SKM dan Tabloid sebanyak 329, dan buletin sebanyak 2 buah (Wikan, 2005). Dari jumlah tersebut, 408 adalah anggota Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), sebesar 197 yang mengisi data sirkulasi ke SPS dengan total sirkulasi keseluruhan sebesar 10.498.000. Sebanyak 211 tidak mengisi data ke SPS dan diperkirakan mempunyai sirkulasi sebesar 3.000.000 sehingga jika dihitung keseluruhan termasuk yang bukan anggota SPS maka total sirkulasi untuk media cetak diperkirakan sebesar sebesar 17. 498.000.

Jumlah sirkulasi untuk suratkabar jauh lebih kecil lagi. Hingga tahun 2006, dari keseluruhan anggota SPS yang sebanyak 408 koran, 162 diantaranya adalah suratkabar harian. Dari jumlah tersebut, sebanyak 74 SK mengisi data sirkulasi dengan jumlah total keseluruhan sebanyak 4.567.009, dan sisa anggota SPS lainnya diperkirakan mempunyai sirkulasi sebesar 1.200.000, sehingga total sirkulasi suratkabar yang menjadi anggota SPS sebesar  5.767.009. Jika jumlah ini ditambah dengan 245 penerbit lainnya yang diperkirakan mempunyai sirkulasi sebesar 1.500.000 eksemplar maka total sirkulasi suratkabar di Indonesia adalah sebesar 7.267.000 (Wikan, 2006).

Dibandingkan dengan negara AS, pembaca di Indonesia jauh tertinggal. Menurut Stanley J. Baran (1999), terdapat 12.246 jenis suratkabar (harian, mingguan, semi mingguan) yang beroperasi di AS dengan jumlah kombinasi sirkulasi sebesar 60.7 juta dan mingguan sebesar 54.6 juta. Dengan data ini, diperkirakan sirkulasi media cetak di negara maju, khususnya AS melebihi jumlah penduduk. Jumlah penduduk AS diperkirakan 250 juta jiwa. Padahal, sirkulasi untuk 20 majalah ternama saja mencapai 138.1 eksemplar. Ditambah dengan jumlah pembaca suratkabar yang diperkirakan sebesar 100 juta eksemplar maka jumlah keseluruhan telah melebihi jumlah penduduk AS. Media-media tersebut berkembang dan mempunyai sirkulasi yang cukup besar karena didukung oleh kemampuan ekonomi masyarakatnya. Kondisi inilah yang membuat perbedaan segmentasi di AS dengan di Indonesia. Di Indonesia, segmentasi dilakukan untuk kelas sosial yang sama. Artinya, seseorang yang telah membaca Jawa Pos atau Kompas, misalnya, diharapkan juga akan membaca Femina.

  Jumlah Pembaca Suratkabar di Indonesia

Tahun 2003-2004

No

Suratkabar

Tahun 2003

Tahun 2004

1

Pos Kota

1.957.000

2.392.000

2

Kompas

1.826.000

1.721.000

3

Lampu Merah

1.283.000

1.311.000

4

Jawa Pos

1.239.000

1.224.000

5

Media Indonesia

457.000

611.000

6

Berita Kota

444.000

532.000

7

Pikiran Rakyat

455.000

468.000

8

Pos Metro

368.000

406.000

9

Memorandum

460.000

338.000

10

Republika

310.000

321.000

Sumber: Nielsen Media Research (2004) dan Media Scene (2004-2005) dalam Media Directory Pers Indonesia 2006

Dari sisi iklan, suratkabar memiliki ketergantungan pendapatan iklan untuk tetap survive. Di tengah persaingan memperebutkan pangsa kue iklan dengan media elektronik, suratkabar di Indonesia memperoleh peringkat kedua dalam perolehan iklan setelah televisi. Selengkapnya data perolehan iklan suratkabar di Indonesia dapat dilihat dalam tabel berikut:

   Perolehan Iklan Suratkabar di Indonesia

Tahun 2001-2004 (Rp Miliar)

No

Suratkabar

Tahun 2001

Tahun 2002

Tahun 2003

Tahun 2004

1

Kompas

612,380

792,724

941,367

1.149,844

2

Jawa Pos

201,851

287,231

338,782

460,802

3

Media Indonesia

178,106

196,480

295,421

392,988

4

Bisnis Indonesia

133,977

151,450

158,276

189,042

5

Pikiran Rakyat

95,638

148,726

176,210

191, 521

6

Bali Post

98,625

160,085

160,356

173, 473

7

Manado Post

32,442

60,701

114,572

154,724

8

Kaltim post

50,988

68,436

104,670

146,369

9

Sumatera Ekspress

41,794

70,486

91,524

132,170

10

Suara Merdeka

71,297

100,040

124,248

132,118

11

Fajar

60,359

74,946

110,072

121,641

12

Koran Tempo

41,298

77,364

85,303

104,565

13

Sriwijaya Pos

22,692

29,078

39,255

94,381

14

Suara Pembaruan

90,035

80,779

90,128

92,804

15

Kedaulatan Rakyat

34,815

49,521

66,906

86,933

16

Jambi Independen

-

-

26,611

89,958

17

Memorandum

25,394

31,324

39,240

79,381

18

Akcaya

28,836

36,315

51,608

76,663

Sumber: Nielsen Media Research (2004) dan Media Scene (2004-2005)

dalam Media Directory Pers Indonesia 2006

Dari tabel di atas terlihat bahwa selama tiga tahun terakhir perkembangan iklan di suratkabar menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Ini mengindikasikan gairah bisnis media cetak terus berkembang dinamis. Berdasarkan tabel 1, peta pangsa iklan koran nasional tetap kokoh dijuarai Kompas. Dari tahun ke tahun Kompas tak tergoyahkan menjadi market leader sekaligus barometer iklan suratkabar nasional. Peraih iklan terbanyak berikutnya tetap diduduki oleh Jawa Pos pada posisi kedua dan Media Indonesia pada ranking ketiga. Sementara itu, harian Pikiran Rakyat yang bermarkas di Bandung ini masih menjadi market leader pangsa pasar iklan bagi koran daerah, disusul Bali Post dan Manado Post pada urutan kedua dan ketiga.

Sebagai catatan, dari data tabel di atas terlihat bahwa suratkabar daerah yang sudah cukup mapan dan eksis di daerahnya, menunjukkan peningkatan progresif dan tren menaik dalam hal pangsa iklan. Bahkan menurut pengamatan Asmono Wikan, Direktur Eksekutif SPS, selama tiga tahun terakhir nyaris tidak ada satupun penerbitan suratkabar ternama di tanah air yang mengalami koreksi negatif dari perolehan iklan mereka, baik suratkabar utama di ibukota maupun suratkabar-suratkabar utama di wilayah provinsi dan kota kabupaten (Wikan, 2006: 37).

Dari aspek distribusi, di Indonesia beberapa koran yang sudah menggunakan fasilitas cetak jarak jauh. Kompas misalnya untuk wilayah jawa tidak harus berpusat di Jakarta, tetapi menggunakan mesin cetaknya di Bawen, sehingga distribusinya lebih cepat. Demikian pula Jawa Pos Group dengan Koran Radarnya mampu menjangkau berbagai wilayah Indonedia dengan cepat setelah ditambah suplemen daerah sebagai menu uatam yang mengesankan lokalitas, padahal sebagian besar beritanya ditulis di Surabaya. Inilah yang menyebabkan efisiensi luar bisa.

Selain cetak jarak jauh, teknologi satelit juga sudah diterapkan di Indonesia, sehingga koran Indonesia dapat dinikmati pembacanya di manacanegara. Koran tersebut antara lain Kompas, Koran Tempo, Bisnis Indonesia, dan The Jakarta Post. Teknologi satelit untuk mencetak koran-semacam telecopier-ini dikembangkan oleh sebuah perusahaan bernama SATELLiTE Newspapers, yang dikendalikan di kantor pusatnya di Zug, Swiss. SATELLiTE Newspapers didirikan pada 14 Februari 2003 dan 100 persen merupakan anak perusahaan dari Satellite Ernterprise Corporation, sebuah perusahaan publik di AS yang telah terdaftar di Nasdaq (Ali, 2006; dalam Media Directory Pers Indonesia 2006).

Peluang danTantangan: dari Produksi hingga Konsumsi  

Perkembangan industri suratkabar sangat terkait erat dengan perkembangan teknologi. Sebagai konsekuensi dari globalisasi dan modernitas, hubungan ini bersifat saling mempengaruhi dan memberi dampak satu sama lain. Fungsi teknologi yang mempengaruhi perkembangan suratkabar antara lain meliputi aspek produksi, distribusi, serta pola konsumsi masyarakat. Ini  berlangsung terus-menerus sejak penemuan mesin cetak massal hingga pesatnya penggunaan teknologi komputer dan internet di berbagai bidang.

Pada tahun 1990, Bill Gates pernah meramalkan, 10 tahun lagi (tahun 2000) suratkabar tercetak akan mati digantikan oleh teknologi suratkabar baru yang berbasis teks elektronik. Tetapi setelah sepuluh tahun berselang, pendiri Microsoft tersebut, kembali merevisi prediksinya, yakni sekitar 50 tahun lagi ke depan, ramalannya baru akan mewujud. Masyarakat akan terbiasa dengan electronic newspaper dan perlahan tapi pasti suratkabar cetak akan ditinggalkan.

Prediksi yang dikemukakan Gates tidaklah mengada-ada. Terlepas dari perdebatan apakah terbukti saat ini suratkabar elektronik akan mematikan suratkabar cetak, sekadar menggantikan, atau bahkan menyempurnakannya, teknologi selalu menjadi bagian terpenting dari perkembangan suatu jenis media massa, termasuk suratkabar. Kenyataan ini sejalan dengan teori konvergensi media yang menyatakan bahwa berbagai perkembangan bentuk media massa terus terjadi sejak awal penemuannya Setiap model media terbaru cenderung menjadi perpanjangan atau evolusi dari model-model pendahulunya.

Di Indonesia, Semakin bergesernya budaya membaca ke budaya menonton, serta pesatnya perkembangan teknologi multimedia membuat oplah suratkabar terus menurun. Menurut Direktur Eksekutif Serikat Penerbit Suratkabar Pusat (SPS) Asmono Wikan sebagaimana diberitakan Kompas, 5 Desember 2007, dalam satu tahun terakhir setidaknya terjadi penurunan oplah sekitar satu juta eksemplar. Wikan juga mengatakan bahwa di Indonesia, secara umum jumlah terbitan secara nasional stagnan pada angka 17 juta eksemplar, namun khusus untuk suratkabar turun sekitar 1 juta eksemplar. Penambahan terjadi pada majalah-majalah franchise. Menurut Wikan, berkurangnya oplah suratkabar karena kebiasaan masyarakat yang lebih menyukai informasi melalui tayangan televisi. Tontonan televisi dianggap lebih menarik karena disajikan dalam bentuk gambar bergerak, sementara suratkabar lebih banyak menampilkan kata-kata yang harus dibaca jika ingin mengetahui isinya. Selain budaya menonton, gencarnya perkembangan multimedia melalui situs-situs portal di internet juga turut memengaruhi penurunan oplah suratkabar. Internet menyajikan informasi yang lebih cepat, sementara suratkabar butuh waktu semalam untuk mencetaknya (Kompas, 5 Desember 2007).

Teknologi dengan berbagai konvergensinya hanyalah salah satu tantangan. Banyak faktor lain yang harus dihadapi pers lokal jika ingin tetap bertahan hidup di arena industri bisnis suratkabar. Tantangan ini misalnya makin pendeknya siklus hidup sebuh produk media cetak, sehingga perlu dikembangkan inovasi dan kreasi baru bagi pembaca. Apalagi the supremacy of brand atau loyalitas pembaca telah lewat masa kejayaannya. Loyalitas pada merk bukan tidak penting dijaga, namun melihat pilihan-pilihan rasional media baru yang lebih segar, menarik, dan murah harganya, maka mengandalkan nama besar tidaklah cukup dalam persaingan bisnis ini, diperlukan peningkatan kualitas dan pembenahan manajemen serta riset khalayak yang intensif dan ekstensif.

Sandaran mendirikan media yang hanya pada idealisme juga tidak akan bertahan lama, industi media adalah pertempuran pasar, maka prinsip-prinsip pemasaran mutlak diterapkan. Faktor segmentasi, targetting, dan positioning (STP) menjadi strategi dan taktik bisnis yang harus dipilih. Sebuah media perlu memiliki basis pembaca yang jelas, di samping stakeholder yang luas.

Tantangan berikutnya yang harus dihadapi sebagai akibat liberalisasi dan globalisasi informasi adalah masuknya penanaman modal dan masuknya media-media cetak asing. Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang banyak dilirik oleh perusahaan-perusahaan media massa raksasa di dunia untuk menanamkan investasi mereka. Stagnasi perkembangan media di negara-negara maju ikut mendorong pemilik media-media raksasa untuk melebarkan jangkaun modal dan media pers mereka ke negara dunia ketiga. Kondisi ini tentu membuka persaingan yang lebih kompetitif dan tajam sampai tingkatan lokal, maka tuntutan profesionalisme lagi-lagi menjadi kuncinya. Mastoem (2002: 22) mengemukakan, bisnis pers adalah bisnis murni yang membutuhkan banyak persyaratan, seperti man, money, method, machine, material, dan market. Amir Effendi Siregar (2000: 39) menggarisbawahi pentingnya modal yang cukup agar industri pers bisa berjalan. Indikasinya bisa dilihat dari kelayakan penghasilan yang diperoleh karyawan dan wartawan sehingga mereka dapat bekerja secara profesional.

Dari proses produksi, tantangan utama terlihat dari naiknya harga bahan baku suratkabar (kertas, tinta, film) yang terus naik, padahal kontribusi biaya kertas koran mencapai 40-45% dari komponen biaya produksi.

Sedangkan dari aspek konsumsi, tantangan terbesar adalah lemahnya daya beli masyarkat terhadap surtakabar. Bagaimanapun sejak krisis ekonomi berkepanjangan, secara daya beli masyarakat terhadap koran menjadi menurun. Penurunan ini terjadi di berbagai kelas:

a)    Pembaca kelas atas, yang semula berlangganan dua sampai tiga koran, menyeleksi kembali langganannya dan hanya memilih satu atau maksimal dua suratkabar saja.

b)    Pembaca kelas menengah, memilih suratkabar yang murah karena sadar akan penghematan pengeluaran.

c)    Pembaca kelas bawah, meninggalkan langganannya, memilih beli koran eceran. Itu pun jika mereka merasa sangat perlu informasi dari media cetak dan tidak diperoleh dari media elektronik.

Penutup

Pertumbuhan ekonomi, iklim keterbukaan dan kebebasan pers membawa semangat berbagai perusahaan untuk menerbitkan suratkabar yang berorientasi memenuhi kebutuhan khalayak pembaca. Persaingan yang ketat mendominasi industri suratkabar sehingga setiap pemilik suratkabar berlomba-lomba menguasai pangsa pasar. Media yang tidak memperoleh iklan dan pembaca yang memadai akan gulung tikar.

Fluktuasi jumlah pengiklan dan pembaca tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor. Persaingan dengan pendatang baru menjadi faktor yang menentukan, selain munculnya stasiun radio dan televisi pada kurun waktu yang sama. Dua jenis media baru ini memberi imbas pada kecenderungan budaya baca yang bergeser ke arah budaya menonton televisi. Pun di sejumlah daerah, terutama di ibukota provinsi, terpaan internet juga memberi andil bagi inkonsistensi pertumbuhan pembaca suratkabar lokal. Meski demikian pada ranah yang lokalitasnya lebih sempit, seperti di daerah-daerah, peluang menggaet jumlah pembaca suratkabar tetap tinggi, tentunya dengan mempertajam positioning dan segmentasi pasar.

Di tengah ketatnya persaingan, setiap perusahaan suratkabar dituntut melakukan inovasi di berbagai bidang. Salah satunya adalah pemanfaatan IT/IS yang menjadi suatu keharusan jika tidak ingin ketinggalan dalam persaingan dengan perusahaan sejenis. Penggunaan IT/IS dalam usaha penerbitan dapat dilakukan mulai dari tahapan produksi, pemasaran, hingga sirkulasi.  Di sisi lain, saat ini perusahaan media cetak tidak mungkin hanya berpatok pada bisnis koran konvensional yang berbasis kertas, namun juga dituntut menggunakan multimedia sebagai bagian dari konvergensi media yang dihadapi oleh masyarakat di seluruh dunia sebagai konsekuensi dari modernitas. Lembaga bisnis yang tidak memanfaatkan IT/IS akan kehilangan daya saing dan tergilas perusahaan lain yang berorientasi IT/IS (Ishadi, 1999). Berbagai kecenderungan pasar berbanding lurus dengan penggunaan teknologi baru. Jika perusahaan media cetak tidak mengadopsinya akan kesulitan dalam menghadapi peta persaingan. (Iwan Awaluddin Yusuf).


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

[2] Pada dekade akhir tahun 1980-an, industri media dikarakteristikkan oleh munculnya gelmbang akusisi dan merger. Ben Bagdikian (2004), dalam buku “Media Monopoly” menggambarkan bahwa pada tahun 1980-an di AS terdapat 50 perusahaan besar yang menguasai jaringan bisnis media. Salah satu peristiwa penting yang menandai fenomena ini adalah merger diilakukan oleh Time, Inc. dengan Warner Communications tahun 1989. Kepentingan utama dari merger perusahaan tersebut terkait dengan potensi yang dapat dikembangakan perusahaan karena membuka peluang penggabungan media cetak dan audio visual ke dalam perusahaan multimedia.

About these ads

3 thoughts on “Bisnis Surat Kabar, Masihkah Menjanjikan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s