Potret Janda dalam Bingkai Media

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Bagaimana media kita menggambarkan janda? Dalam berbagai bentuk pesan media, baik fiksi dan nonfiksi, sosok janda dikonstruksi dan direproduksi sedemikian rupa sehingga menghasilkan penggambaran negatif yang akhirnya beredar luas di masyarakat. Ironisnya, citra tentang janda yang ditampilkan media  seolah  “disetujui”, bahkan  “diamini” masyarakat pada umunya.

Dalam ranah fiksi, banyak cerita bertema janda yang seolah-olah tak habis-habisnya diangkat ke dalam film, sinetron, cerpen, hingga novel. Mulai dari genre horor, misteri, drama, sampai komedi. Kemunculan figur janda dalam cerita-cerita fiksi di Indonesia hampir selalu disertai atribut “kembang”, “kaya”, “muda”, “molek”, dan sejenisnya. Tak hanya berhenti pada atribut, pengembangan cerita mengenai sosok janda senantiasa diwarnai dengan intrik yang menghasilkan perasaan debar jantung, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Tapi tentu saja dengan irama berbeda. Debaran yang terdengar oleh perempuan adalah perasaaan cemas dan takut kalau-kalau si janda merebut hati suami atau pacarnya. Sedangkan kebanyakan lelaki, janda adalah seorang perempuan yang menarik hati untuk didekati atau bahkan disentuh. Tak jarang kehadiran sosok “janda kembang” menjadi ruang pelampiasan hasrat olok-olok, gosip, keisengan, dan pertaruhan para lelaki.

Sosok janda yang kebetulan masih berusia muda secara naif digambarkan sebagai seorang perempuan seksi, penggoda, dan suka mengenakan baju ketat. Sosok ini misalnya dapat dilihat dalam film Indonesia berjudul “Ku Tunggu Jandamu” (2008). Ku Tunggu Jandamu adalah film komedi yang disutradarai Findo Purwono HW dan dibintangi antara lain Dewi Perssik, Andi Soraya, Chintyara Alona, Yana Zein, Fara Diana, dan Edi Brokoli. Cerita yang dingkat film ini tak jauh dari eksploitasi stereotip janda sebagaimana cerita-certa film bertema janda lainnya, yakni kehebohan para lelaki memperebutkan sosok janda yang diperankan Dewi Perssik.

Persik Wulandari (Dewi Perssik) menjadi janda setelah menggugat cerai suaminya, Rozak yang diam-diam telah menikah dengan perempuan lain. Setelah gugatan dikabulkan pengadilan, mereka resmi bercerai. Namun Rozak (Eric Scada) tidak begitu saja melepaskan Persik. Ia melakukan berbagai cara untuk mempersulit hidup Persik agar kembali padanya. Situasi menjadi tambah rumit bagi Persik ketika ia harus menumpang di rumah kakaknya, Cherry (Andi Soraya) di sebuah lingkungan kompleks bernama 69 Residence yang semula tenang, namun berubah menjadi ‘panas’ sejak kehadiran Sang Janda yang menonjolkan sensualitas dan memancing perhatian penghuni kompleks. Persik yang selalu mengenakan pakaian seksi membuat para pria penasaran melihat keseharian dan tingkah lakunya. Seperti tiga sekawan yang diperankan Edi Brokoli, Rizky Mocil, dan Hardi Fadillah. Mereka selalu mencuri kesempatan mengintip Persik ganti baju. Adegan intip-mengintip terpampang dengan gamblang dalam film ini. Bahkan salah satu adegan diperlihatkan Persik mengenakan kemben dan celana dalam bertali tipis warna pink. Aksi pamer celana dalam pun kembali muncul saat Perssik sedang santai di teras rumah. Ia seolah sengaja membuka roknya untuk memancing perhatian tetangganya. Memprihatinkan karena sepanjang film tak pernah absen diputar sosok perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian minim.

Nilai moral yang ingin disampaikan film produksi Maxima Pictures ini-sesuai dengan tagline “Biar janda asal terhormat” sama sekali tidak tergambarkan. ‘Ku Tunggu Jandamu’ justru lebih menjual keseksian Dewi Persik dan aktris lainnya seperti Andi Soraya. Dengan alur yang cenderung klise dan dipaksakan, film berakhir dengan sebuah kontes  yang mengikutsertakan Perssik sebagai salah satu peserta. Dalam kontes itu Perssik menceritakan perjuangannya menjadi janda. Setelah mendengar kisahnya, para juri menganugerahkan Persik sebagai Janda of The Year.

Dalam catatan sejarah perfilman Indonesia, terdapat banyak film yang menampilkan sosok janda menjadi lakon, baik sebagai tokoh utama maupun pendukung. Banyak di antara film tersebut secara eksplisit menampilkan kata “janda” dalam judulnya.

Janda dalam Judul Film Indonesia

Judul Film

Tahun Produksi

Sutradara

Genre

Pemeran Utama

Gara-gara Djanda Muda

1954

L. Inata Drama, Komedi Ellya Rosa, Ermina Zaenah, Raden Mochtar
Si Janda Kembang

1973

Muhardi dan Sudrajat Drama Komedi Titiek Sandhora, Bambang Irawan, Hardjo Muljo
Gara-gara Janda Kaya

1977

Azwar An Drama, komedi Nani Wijaya,Enny Haryono,Cahyono

 

Sembilan Janda Genit

1977

Pietrajaya Burnama Komedi A. Hamid Arief, Zainal Abidin.Mansjur Sjah Susanna Caecilia, Ratmi B-29
Misteri Janda Kembang

1991

H. Tjut Djalil Horor, Misteri H.I.M. Damsyik, Fujiyanti, Sally Marcellina
Kembalinya Si Janda Kembang

1992

Sisworo Gautama Putra Horor, Misteri Sally Marcellina, H.I.M. Damsyik, Eddy Gunawan
Ku Tunggu Jandamu

2008

Findo Purwono HW Komedi Dewi Perssik, Andi Soraya, Chintyara Alona, Yana Zein, Fara Diana, dan Edi Brokoli
Janda Kembang

2009

Lakonde Drama, Komedi Ringgo Agus Rahman, Luna Maya, Sarah Sechan, Esa Sigit
Darah Janda Kolong Wewe

2009

Mamahit Luigi Donie Horor Yurike Prastika, Trio Macan, Mario Pratama, Shiddiq Kamidi
Pelukan Janda Hantu Gerondong

2011

Helfi C.H. Kardit Horor Indah Kalalo, Aida Saskia,Wulan Guritno,Angel Lelga, Adam Jordan
Mati Muda di Pelukan Janda

2011

Helfi C.H. Kardit Komedi M. Ihsan Tarore, Ayu Pratiwi, Shinta Bachir

Sosok janda sebetulnya sudah menjadi bagian dari cerita hidup masyarakat Indonesia. Mitos dan cerita tentang janda sudah lama direproduksi melalui media tutur dan tulis. Cerita rakyat seperti Malin Kundang misalnya, menggambarkan keadaan ibu Malin Kundang yang janda yang bersusah-payah membesarkan anaknya dan berusaha menafkahi mereka berdua, namun akhirnya dicampakkan oleh Malin Kundang. Dalam berbagai versi cerita, Ibu Malin Kundang secara konsisten ditampilkan sebagai sosok  janda yang baik.

Namun sosok janda lainnya sangat berbeda dalam cerita rakyat Tangkuban Perahu. Janda dalam legenda ini digambarkan sebagai seorang wanita cantik yang bisa meluluhkan hati pria mana saja, bahkan putranya sendiri. Secara konsisten pula sosok janda dalam cerita Tangkuban Perahu digambarkan sebagai seorang penggoda yang tidak bisa menjaga harga diri.

Bagaimanakah sosok janda dibingkai dalam teks berita yang berbahan baku fakta, bukan fiksi? Dalam berbagai pemberitaan di suratkabar, sosok janda juga tidak jauh dari opini tertentu yang cenderung negatif. Opinisasi tentang janda seringkali ditampilkan dalam bentuk generalisasi, yaitu penyimpulan gejala tertentu tentang entitas janda tanpa disertai premis-premis yang relevan. Terkadang opini dibuat seolah-olah mewakili pendapat atau pikiran aktor/subjek berita padala sesungguhnya merupakan kesimpulan pribadi penulis berita. Contoh opinisasi iniantara terlihat dalam lead berita Koran Pos Kota yang ditulis sebagai berikut.

Menjadi bom seks tampaknya menjadi pilihan bagi sejumlah selebritis kita yang menyandang status janda. Mereka melihat film dengan buka aurat merupakan bagian dari profesionalisme memenuhi tuntutan skenario. (Pos Kota, 10 Agustus 2008)

Opinisasi media dapat juga diartikan sebagai pemberian opini pribadi dari wartawan dalam sebuah berita sehingga mencampuradukkan antara fakta dan opini, Akbitanya fakta sebenarnya menjadi rancu. Dalam konsepsi baku jurnalisme, pemberian opini merupakan hal yang dilarang karena tugas wartawan hanyalah melaporkan fakta. Namun kebanyakan jurnalis tidak kuasa untuk menghindari beropini untuk membumbui sebuah cerita menjadi sensasional.  Contoh opinisasi yang mencampuradukkan fakta dan opini dalam suratkabar dapat dilihat dari kutipan berita Harian Pos Kota berikut ini.

“Malang nian nasib janda tua ini. Saat merebus mie di rumahnya…ia terjatuh lalu menyenggol kompor hingga tubuhnya terbakar…” (Pos Kota, 27 Juli 2004).

Kalimat pertama jelas merupakan opini wartawan mengenai kemalangan seorang perempuan yang kebetulan menyandang status janda. Fakta-fakta tentang kejadian baru dipaparkan pada kalimat kedua dan seterusnya.

Media Sebagai Pembentuk Citra 

Peran media dalam membingkai citra tentang janda bukanlah persoalan sederhana. Media memainkan peran sebagai sarana sosialisasi dan penyampaian pesan. Lewat pesan-pesan yang disampaikan, citra tentang janda dibingkai oleh media massa. Tentu saja, di balik pesan yang disampaikan lewat media senantiasa tersembunyi berbagai muatan yang menyuarakan kepentingan pihak-pihak tertentu yang memiliki “kuasa”, termasuk ideologi partriarkis yang cenderung tidak berpihak pada perempuan, khususnya janda.

Kedudukan perempuan dalam dunia media bisa dilihat melalui metode semiotik yang berusaha memaknai simbol femininitas. Simbol dan makna kemudian menjadi dua elemen penting dalam melihat bagaimana relasi perempuan dengan media massa. Menurut Piliang (dalam Swastika, Feminisme dan Media Massa ; Kompas, 28 Oktober 2002), perjuangan wanita dalam media adalah perjuangan memperebutkan “makna”. Media menjadi sebuah arena bagi perjuangan simbol atau tanda. Posisinya sangat ditentukan oleh konstruksi budaya di mana perempuan dan media berada. Media umum yang hidup dalam budaya patriarki yang kental misalnya, lebih menonjolkan simbol maskulinitas. Dengan demikian, pada saat bersamaan, simbol femininitas akan termarjinalkan.

Tubuh perempuan kemudian dieksploitasi laki-laki sebagai “pekerja semiotik” dengan mengendalikan “tatanan simbolik” (symbolic order) dan bahasa semiotiknya, sehingga di dalam dunia tersebut laki-laki dapat berada dalam kekuasaan fantasi dan obsesinya. Perempuan hanya berperan sebagai pembawa makna (bearer), bukan pencipta makna (creator). Laki-laki menawarkan penciptaan makna kesenangan (pleasures) bagi dirinya. Salah satunya adalah scopophilia, yaitu kesenangan menjadikan orang lain sebagai objek, yang bisa dikendalikan tampilan dan citranya, sehingga mengundang rasa ingin tahu yang bersifat seksualitas.

Lebih jauh Piliang berpendapat, citra, baik verbal maupun visual (foto, ilustrasi, video, film) mempunyai pengaruh besar pada pembentukan rangsangan hasrat bagi orang yang melihat. Sekali lagi “citra tubuh perempuan” memainkan peranan penting yang membangkitkan hasrat pornografi. Sebagai gambaran sederhana, banyak sekali media yang menampilkan cover depan atau poster film seorang model dengan pakaian minim dan gaya menggoda untuk memikat pembaca aau penontonnya. Di sini, eksploitasi perempuan sudah sangat terasa. Pandangan mata calon pembeli dirangsang dengan tampilan cover  Kemudian, setelah calon pembeli dipikat dengan tampilan model cover, ia juga dipikat dengan sebuah judul berita yang cukup seronok dan sangat vulgar. Unsur bombastis dan hot stuff seakan-akan menjadi suatu persyaratan bagi sebuah nilai-berita (news values).

Pada posisi demikian, perempuan, termasuk janda senantiasa ditempatkan sebagai objek. Penempatan perempuan sebagai objek (komoditas) dibangun berdasarkan ideologi patriarki yang mengakar.  Akibatnya, pada setiap media yang dikelola oleh laki-laki (yang tidak sensitif gender), perempuan menjadi bahan ekspolitasi. Katastopik yang demikian dibangun oleh proses pengalamiahan (naturalization), ketimpangan, subordinasi, marjinalisasi di dalam relasi gender. Inilah yang disebut Antonio Gramsci sebagai penciptaan consent atau common sense guna dijadikan sebuah kendaraan untuk mempertahankan hegemoni sebuah kelas atas kelas lainnya di dalam masyarakat hegemoni laki-laki.

Di sisi lain, dalam aktivitas media sangat sedikit kaum perempuan terlibat menjadi pekerja media. Persoalan kuantitas ini barangkali tidak terlalu parah bila di antara jumlah yang sedikit tersebut para pekerja kreatif perempuan telah memiliki sensitifitas gender. Ironisnya, karena umumnya mereka masuk dalam dunia media yang sangat maskulin, ukuran-ukuran kreativitas yang digunakan masih menggunakan ukuran laki-laki sebagai pihak dominan dalam pengambilan keputusan. Tulisan dan gambar yang disajikan para jurnalis (atau sutradara) perempuan pun sudah dikondisikan dalam “pola laki-laki” (male patterns). Lihatlah dari daftar film Indonesia yang bertema “janda” di atas, semuanya disutradarai oleh laki-laki. Di sisi lain, beberapa perempuan yang concern terhadap sensitifitas gender, dalam banyak kasus hanya menempati posisi yang kurang penting dalam jajaran pekerja media (Yusuf, 2012: 8).

Menurut Moenta dalam artikelnya “Perempuan di Tengah Himpitan Kapitalisme Media” (MediaWatch No. 8 Tahun 2001), kehadiran perempuan sebagai komoditas media massa telah mengangkat ke permukaan setidak-tidaknya tiga persoalan, yang menyangkut eksistensi kaum perempuan di dalam wacana ekonomi politik (political economy). Pertama, persoalan “ekonomi politik tubuh” (political economy of the body), yaitu bagaimana tubuh perempuan digunakan di dalam berbagai aktivitas ekonomi berdasarkan pada konstruksi sosial atau ideologi tertentu. Kedua, persoalan “ekonomi politik tanda” (political economy of the signs) yaitu bagaimana perempuan “diproduksi” sebagai tanda-tanda (signs) di dalam sistem pertandaan (sign system) yang membentuk citra (image), makna (meaning) dan identitas (identity) diri mereka di dalamnya. Ketiga, persoalan “ekonomi politik hasrat” (political economy of desire), yaitu bagaimana “hasrat” perempuan di disalurkan atau direpresi di dalam berbagai bentuk komoditas, khususnya komoditas hiburan.

Persoalan “ekonomi politik tubuh”, berkaitan dengan sejauh mana eksistensi perempuan dalam kegiatan ekonomi politik, khususnya di dalam proses produksi komoditas; Persoalan “ekonomi politik tanda”, berkaitan dengan eksistensi perempuan sebagai “citra” di dalam berbagai media (televisi, film, video, musik, majalah, koran, komik, seni lukis, fashion). Sementara “ekonomi politik hasrat”,  menjelaskan bagaimana “tubuh” dan “citra” berkaitan dengan “pembebasan” atau “represi” hasrat. Yang pertama melukiskan eksistensi perempuan dalam “dunia fisik”, yang kedua di dalam “dunia citra”, dan yang ketiga di dalam “dunia psikis”, meskipun ketiga dunia tersebut saling berkaitan satu sama lain.

Pada tataran ini, penggunaan “tubuh” dan “representasi tubuh” (body Sign) sebagai komoditas di dalam berbagai media hiburan masyarakat kapitalis, telah mengangkat berbagai hal yang tidak saja menyangkut “relasi ekonomi” (peran ekonomi perempuan), akan tetapi lebih jauh “relasi ideologi”, yaitu bagaimana penggunaan tubuh dan citra tersebut menandakan sebuah relasi sosial—khusus relasi gender—yang dikonstruksikan berdasarkan ideologi tertentu. Media massa dalam kasus ini menjadi tempat pertempuran memperebutkan wacana dan ideologi. Siapa pun yang memenangkan pertempuran itu bisa mendominasi dan melakukan hegemoni. Dalam konteks ini, media kemudian menjadi pengidentifikasi, pembaca, penerjemah dan pendistribusi realitas.

Secara sederhana semua itu ditampilkan bentuk bahasa, baik bahasa verbal, nonverbal, maupun visual. Bahasa adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Melalui bahasa, para pekerja media bisa menghadirkan hasil reportasenya kepada khalayak. Setiap hari, para pekerja media memanfaatkan bahasa dalam menyajikan berbagai realitas (peristiwa, keadaaan, benda) kepada publik. Dengan bahasa, secara massif mereka menentukan gambaran beragam realitas ke dalam benak masyarakat. Bahkan menurut DeFleur dan Ball-Rokeach (1989: 267), begitu pentingnya bahasa, maka tak ada berita, cerita, ataupun ilmu pengetahuan tanpa bahasa. Bagi media massa, keberadaan bahasa tidak lagi hanya sebagai alat untuk menggambarkan sebuah peristiwa, melainkan bisa membentuk citra yang akan muncul di benak khalayak. Terdapat berbagai pola media massa memengaruhi bahasa dan makna ini: (i) mengembangkan kata-kata baru beserta makna asosiatifnya; (ii) memperluas makna dari istilah-istilah yang ada; (iii) mengganti makna lama sebuah istilah dengan makna baru; (iv) memantapkan konvensi makna yang telah ada dalam suatu sistem bahasa.

Dalam kaitan ini, janda adalah status melaui bahasa yang sama dengan “menikah”, “tidak menikah”, “duda”, “perjaka”, “perawan”, “jejaka”, dan kata sandang lainnya yang beredar di masyarakat. Pembingkaian yang semena-mena tentang janda mengabaikan kenyataakn bahwa  dalam hidup seseorang terkadang harus berhadapan dengan pilihan yang sulit bila masalah akhirnya menyebabkan perceraian. Atau ketika takdir Tuhan bicara lain dari rencana sepasang manusia, dan membuat yang ditinggalkan harus menjalani hidup sendiri, maka status janda atau duda akhirnya disandang.  Bertolak dari kenyataan tersebut, dalam merepresentasikan seseorang atau sekelompok orang melalui media massa seharusnya diperlukan suatu kesadaran bahwa di dalam membingkai realitas sosial ke dalam realitas media pada dasarnya sarat potensi lahirnya korban. Media harus memegang prinsip-prinsip humanitarian yang berangkat dari sensitivitas pertanyaan etis, tentang kemanfataan dan kerugian pihak-pihak yang direpresentasikan, dalam hal ini janda (Iwan Awaluddin Yusuf).


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis di lembaga Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA),Yogyakarta.

[2] Tulisan ini dimuat pada Jurnal Rifka Annisa, Edisi Agustus-September 2012.

About these ads

2 thoughts on “Potret Janda dalam Bingkai Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s