Tips Jitu Cepat Selesai Skripsi ala Bincangmedia

Iwan Awaluddin Yusuf

Boleh dikatakan, kategori pengunjung terbesar blog BINCANGMEDIA adalah mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi atau tesis. Kali ini sebagai bentuk apresiasi, sengaja saya menampilkan kiat-kiat ringan dalam menyelesaikan skripsi dengan cepat dan bebas galau.

Tips ini merupakan kuliah twitter (kultwit) saya di Twitter @IwanAwaluddin. Jika pembaca blog ini ingin berjejaring dengan saya, silakan difollow. Baiklah, kita mulai tipsnya:

  1. “Buat apa mikir skripsi, #skripsi sj tidak pernah mikirin kita”. Betul! karena skripsi tidak untuk dipikirkan saja, tapi dikerjakan.
  2. Memikirkan #skripsi dg mengerjakan skripsi itu sama. Menyita energi dan pikiran. Jadi kenapa tidak pilih mengerjakan saja?
  3. Percayalah, pada akhirnya #Skripsi yang paling baik adalah skripsi yang SELESAI.
  4. Biang kerok macet #skripsi adalah: mahasiswa jrg konsultasi, dosen susah ditemui, objek sulit diteliti, narasumber enggan diwawancarai.
  5. Pembimbing #skripsi yang baik membuat jadwal konsultasi, mahasiswa yg baik paham kapan harus berkonsultasi.
  6. Dosen itu umumnya sibuk, jd bimbingan #skripsi jgn ikut-ikutan sibuk sendiri, nanti dua2nya tidak pernah nyambung frekuensi.
  7.  #Skripsi itu sulitnya setengah mati, tp akan terasa lebih ringan jika dikerjakan sepenuh hati | Apalagi disupport pujaan hati :)
  8. Kunci cepat lulus #skripsi adalah mengerjakan dengan tekun, bukan pergi ke dukun | Apalagi kabur ke Eyang Subur.
  9. Pejuang #skripsi itu harus banyak referensi, rajin-rajinlah ke perpus atau diskusi, jgn suka M(ENG)URUNG diri saat mengerjakan skripsi.
  10.  Janganlh berpikir #skripsi itu mmbebani,tp berpikirlah skripsi itu misi suci utk mnylesaikan studi | trus jd modal cr suami/istri *aseek
  11. Jgn sekali-kali terpikir mengambil jalan pintas dg menjiplak #skripsi karena itu melapetaka terpendam yg sgt berbahaya di kemudian hari.
  12. Sekali lagi, berbagai upaya menjiplak #skripsi = menjual reputasi dan harga diri. #sikap
  13.  #Skripsi dicorat-coret atau direvisi itu seni sekaligus sensasi,jd tdk perlu brkecil hati | *Aplagi dendam pd dosennya. Ada itu..adaa ;p
  14. Jika #pejuangskripsi tahu cara berkawan dg #skripsi, skripsi itu sekrispi/secrispy (serenyah) camilan. jd tdk perlu ngomel-ngomel skripsi itu skrips**t :D. Tapi Skripsweet :D
  15. Sayangilah #skripsi bagai cinta sejati krn itu terjadi cukup sekali | Kl sdh lulus tdk perlu membuat skripsi lg (Kecuali maniak skripsi;p)
  16. Mengelola waktu, menambah kegigihan, dan mengurangi distractor, terbukti mempercepat penyelesaian #skripsi.
  17. Setidaknya ada 4 tipe mahasiswa yg sedang mengerjakan #skripsi. Anda termasuk #pejuang skripsi tipe mana?
  18. A. Punya waktu tapi tidak punya kegigihan mengerjakan #skripsi. Biasanya kebanyakan jalan, ngetweet, FBan, nonton, ngegame, dsb.Ada.
  19. B. Punya kegigihan tp tidak punya waktu mngerjakan #skripsi. Mhs yg nyambi kerja atau ngurus orangtua boleh masuk kategori ini. Syaratnya keingat skripsi terus.
  20. C. Tidak punya waktu dan tidak punya kegigihan. ini tipe mahasiswa paling buruk. Bayar SKS untuk #skripsi, tp tdk ada progress. tahu2 dpt surat peringatan. Ada..
  21. D. Punya waktu dan punya kegigihan. Ini tipe yg paling oke. Jika bs mengondisikan ke dalam tipe ini, mahasiswa tdk bakal awet pacaran dg #skripsi.
  22. Kesimpulannya, cepat tidaknya penyelesain #skripsi, bagus tidaknya nilai akhir skripsi, berbanding lurus dg kegigihan mahasiswa.

Demikian tipsnya semoga membantu para pejuang skripsi untuk bebas dari kepo dan galau…Sekian.[@IwanAwaluddin]

______________________________________________________________________________

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

Menyelami Dunia Superhero Lewat Kajian Komunikasi

Gundala, Godam, dan Carok                             sumber gambar: http://savetha.wordpress.com/image/indonesian-superhero/

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Setiap generasi dari lintas zaman pasti memiliki figur superhero. Imaji superhero telah menjadi bagian dari perjalanan cerita hidup masyarakat di berbagai belahan dunia. Mitos dan legenda tentang manusia super sudah lama direproduksi secara tradisional melalui media tutur dan tulis. Pada era modern, dongeng superhero hadir melalui berbagai bentuk budaya populer. Dalam ranah fiksi, banyak cerita bertema superhero yang seolah-olah tak habis-habis diangkat ke dalam komik, film, sinetron, game, hingga teater. Mulai dari genre action, horor, drama, komedi, sampai film dewasa berkategori XXX dengan tema parodi tokoh superhero. Dengan berbagai lakon, secara konsisten superhero ditampilkan sebagai sosok klise manusia luar-biasa dengan berbagai kelebihan “supra human” yang mendukung tugasnya  “membela kebenaran”.

Kehadiran superhero terus berlanjut karena didukung oleh media yang sarat dengan inovasi teknologi. Inilah yang membuat superhero menjadi lebih hidup, lebih menarik, dan semakin membuka ruang berkesenian baru yang eksploratif karena sifatnya yang disenangi oleh semua kalangan. Namun, industrialisasi dan komersialisasi superhero sebagai produk budaya populer dituding membawa nilai-nilai buruk yang berupa kekerasan, pornografi, bahkan ideologi tertentu. Anggapan ini tidaklah berlebihan karena dalam visualisasi komik, kartun, game, atau film superhero nyaris tak pernah absen adegan perkelahian yang kadang ditampilkan sampai berdarah-darah. Belum lagi dialog yang diwarnai makian dan kata-kata kasar. Dalam beberapa cerita superhero juga kerap terpampang gambar adegan percintaan yang vulgar atau aneka kostum yang terlampau ketat .

Di sinilah superhero kemudian hadir sebagai arena yang lebih luas, tidak semata sebagai penyalur hasrat fantasi dan mimpi, melainkan membawa pemujanya ke dalam ruang-ruang imajinasi, ruang pembebasan dari dunia nyata yang penuh keterbatasan ke dalam dunia dan identitas baru yang nyaris tanpa batas tentang ide-ide kebebasan, keadilan, dan segala rupa bentuk hitam putih kebenaran dan kejahatan yang akhirnya kebenaran versi pencipta dan pemuja si superherolah yang selalu menang. Superhero akhirnya menjadi ruang aneka kepentingan, tak hanya imaji dan fantasi, melainkan ideologisasi nilai-nilai. Sebutlah tentang westernisasi, amerikanisasi, pemujaan maskulinitas, strereotip gender, dan berbagai propaganda lainnya yang menyertai sosok superhero, di balik nilai-nilai universal yang selalu ditonjolkan seperti  kebenaran akan selalu menang, kewajiban membela yang lemah, kekuatan/kekuasaaan besar memiliki tanggung jawab besar, dan lain-lain.

Dalam kajian komunikasi, eksistensi superhero sama tuanya dengan sejarah manusia dan ragam pesan komunikasi itu sendiri. Perubahan karakteristik media yang akhirnya membentuk dinamika superhero ke dalam aneka produk pesan dengan inti tujuan yang sama: menjual imaji dan fantasi. Berangkat dari titik ini, banyak dimensi yang bisa diangkat sebagai fokus kajian, misalnya tentang transformasi superhero komik yang kini banyak ditampilkan dalam sinema Hollywood. Di luar Amerika, muncul budaya tanding atas konspirasi kedigdayaan superhero Amerika. Superhero-superhero lokal pun bermunculan, sebagian lahir orisinil dari nilai lokal, sebagian lagi merupakan transformasi  mentah dari karakteristik superhero Amerika yang diadaptasi dengan citarasa lokal. Di Indonesia misalnya, Spiderman memunculkan banyak epigon. Paling terkenal adalah Laba-laba Merah, Kala Maut, dan Kawa Hijau. Tak hanya Spiderman, Spiderwoman megalami nasib serupa, bernama Laba-laba Mirah. Superman sebagai superhero sejuta umat dimodifikasi menjadi Godam, Wonderwoman diadaptasi menjadi Sri Asih, Flash menjadi Gundala, Batman menjadi Kalong, dan masih banyak lagi superhero lokal hasil modifikasi lainnya.

Kehadiran superhero juga bisa dilihat dari bermacam teori kontemporer seperti posmodernisme, psikoanalisis, relasi gender, politik identitas, dan sebagainya. Dari kajian ekonomi politik, diskusi tentang rahim superhero penguasa dunia seperti, Marvel, DC Comics, atau Disney menarik untuk dibedah sebagai bagian dari emporium superhero dunia.

Tokoh-tokoh dan karaketristik superhero pun bisa dilihat sebagai bagian dari perwujudan  dualitas ego, yakni identitas bertopeng/menyamar atau tanpa topeng/tidak menyamar. Misi pribadi  superhero umumnya klise, antara lain menuntut balas dengan dendam masa lalu yang kelam, atau menjadi superhero karena dikirim dari planet lain, dan banyak pula superhero yang lahir dari kecelakaan sehingga bermutasi memiliki kekuatan super.

Dari sisi audiens, bisa dikembangnkan berbagai macam kajian, seperti persepsi dan resepsi tentang superhero di mata pemujanya, dampak menonton tayangan superhero di kalangan anak-anak, dan sebagainya. Tingkah polah penggemar (fanboy) superhero sendiri juga dapat dielaborasi dari banyak sisi, misalnya bagaimana memorabilia superhero sebagai produk budaya populer begitu digemari sepanjang masa. Walhasil aneka merchandise dan action figures superhero terus diproduksi dan tentu saja mendatangkan keuntungan berlimpah bagi produsennya. Selain itu, banyak komunitas superhero yang umumnya beranggota orang-orang dewasa sehingga sekali lagi mematahkan mitos bahwa superhero adalah dunia anak-anak. Sekarang ini di Amerika bahkan muncul perkumpulan “real superhero” yang terobsesi dengan keheroan tokoh idolanya, lalu melakukan kegiatan sosial membantu sesama di dunia nyata sambil mengenakan kostum ala superhero. Menarik bukan?

Lalu bagaimana dengan kajian komunikasi superhero di Indonesia? Berbagai kajian bisa ditawarkan seperti genalogi pelacakan sejarah komik dan cerita silat Indonesia, yang banyak disinyalir bermuara dari legenda wayang. Awalnya, teknologi cetak sederhana  memunculkan tokoh-tokoh wayang melalui gambar umbul (gambar cap) yang kemudian dijadikan bonus dalam kotak rokok. Superhero lokal dengan karakter tokoh-tokoh pewayangan sangat digemari pada masa itu sampai akhirnya superhero luar masuk dan mengalahkan pamor superhero lokal. Superhero limpor yang lebih canggih diadaptasi mentah-mentah ke dalam versi lokal. Pada tahun 90-an muncul superhero seumur jagung yang sempat populer di televisi, seperti Saras 008 dan Panji Manusia Millenium. Berbagai upaya membumikan superhero lokal masa lalu tampaknya selalu berujung tiarap karena gempuran superhero impor sangat massif sehingga lebih melekat di benak anak-anak generasi sekarang.


1)  Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA), Yogyakarta.

Bahas Tuntas Langkah-Langkah Penelitian Survei

foto dipinjam dari: http://beta.matanews.com

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Follow me @IwanAwaluddin

A.“Kerancuan” Istilah dalam Survei

Penelitan survei sering rancu dengan sensus. Padahal perbedaannya cukup jelas. Penelitian survei adalah pengumpulan data dari suatu populasi dengan memilih sampel, sedangkan sensus adalah pengumpulan data terhadap seluruh anggota populasi. Survei tidak selalu identik dengan kuesioner (meski teknik pengumpulan data survei seringkali menggunakan kuesioner karena berhubungan dengan sampel berjumlah besar). Dalam praktiknya, terkadang pelaksanan survei tidak hanya menggunakan kuesioner atau angket, namun dilengkapi dengan wawancara atau observasi.

Ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan untuk melakukan penelitian survei, antara lain:

  1. Penelitian survei dapat digunakan untuk sampel yang besar.
  2. Penggunaan kuesioner dapat menghasilkan data/informasi yang beragam dari setiap responden/individu dengan variabel penelitian yang banyak.
  3. Data yang diperoleh dari sampel dapat digeneralisasikan pada populasi.

B. Jenis Survei

Ada beberapa kategori penelitian survei dilihat dari proses pelaksanaannya dan perlakuan terhadap sampel.

  1. Survei Sekali Waktu (Cross-sectional Survei). Data hanya dikumpulkan untuk waktu tertentu saja dengan tujuan menggambarkan kondisi populasi.
  2. Survei Rentang Waktu (Longitudinal Survei). Survei dilakukan berulang untuk mengetahui kecenderungan suatu fenomena dari waktu ke waktu.
  3. Survei Tracking/Trend. Survei dilakukan pada populasi yang sama namun dengan sampel berbeda untuk mengetahui kecenderungan suatu fenomena dari waktu ke waktu.
  4. Survei Panel. Survei dilakukan terhadap sampel yang sama untuk memahami suatu fenomena dari waktu ke waktu.
  5. Survei Cohort. Survei dilakukan pada sekelompok populasi yang spesifik untuk mengetahui perkembangan suatu fenomena dari waktu ke waktu.

C. Tahapan Survei

Secara umum survei dilakukan dalam beberapa tahapan, yakni: 1) Menentukan masalah penelitian ; 2) Membuat desain survei ; 3) Mengembangkan instrumen survei; 4) Menentukan sampel; 5) Melakukan pre-test; 6) Mengumpulkan data; 7) Memeriksa data (editing); 8) Mengkode data; 9) Data entry; 10) Pengolahan dan analisis data; 11) Interpretasi data; dan 12) Membuat kesimpulan serta rekomendasi.

Untuk memberikan gambaran lebih lengkap, masing-masing tahapan dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Menentukan Masalah Penelitian

Setiap penelitian diawali dari adanya “masalah”. Masalah Penelitian adalah konseptualisasi (pemakaian konsep) atas sebuah fenomena atau gejala sosial yang akan diteliti. Itu berarti, tidak semua masalah dapat dikatakan sebagai masalah penelitian. Lalu apakah perbedaan antara Masalah dengan Masalah Penelitian?

Masalah adalah gejala/fenomena/kasus yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Masalah Penelitian adalah konseptualisasi terhadap masalah sosial. Ada peranan teori dalam Masalah Penelitian.

Apakah setiap masalah sosial dapat dijadikan masalah penelitian? Jawabannya, tidak selalu. Tapi, satu masalah sosial dapat menjadi lebih dari satu masalah penelitian. Lantas bagaimana mengubah masalah sosial  menjadi masalah penelitian?

  1. Hubungkan masalah sosial dengan konsep (teori).
  2. Kaitkan dengan metode penelitian yang dipakai.
  3. Hubungkan dengan paradigma penelitian yang dipergunakan.
  4. Rumuskan dalam kalimat tanya.

Contoh Masalah Penelitian

1. Pertanyaan Profil Sosiodemografis Audiens:

Dalam survei sosiodemografis, variabel yang akan diketahui misalnya usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan agama. Rumusan masalah penelitian bisa disajikan dalam kalimat tanya sebagai berikut.

“Bagaimana karakteristik sosiodemografis pendengar RRI?”

2. Pertanyaan profil Psikografis Audiens:

Dalam survei psikografis, variabel yang akan diketahui adalah gaya hidup, perilaku sosial, kepribadian, aktivitas, ketertarikan, dan sebagainya. Rumusan masalah penelitian bisa disajikan dalam kalimat tanya sebagai berikut.

“Bagaimana karakteristik psikografis pendengar RRI?”

3. Pertanyaan Asosiatif (Hubungan Keterkaitan)

Masalah penelitian survei yang menggunakan hubungan keterkaitan disebut sebagai pertanyaan asosiatif. Contoh rumusan masalah penelitian survei dengan pertanyaan asosiatif disajikan dalam contoh berikut.

“Bagaimana hubungan antara siaran berita RRI dengan tingkat partisipasi dalam pilkada?”

4. Pertanyaan Komparatif (Perbandingan)

Masalah penelitian survei yang ingin mengetahui perbadingan disebut pertanyaan komparatif. Contoh rumusan masalah penelitian survei dengan pertanyaan komparatif antara lain adalah sebagai berikut.

“Bagaimana perbedaan tingkat kepuasan pendengar RRI di Jakarta dibandingkan/dengan pendengar RRI di Surabaya?”

Dalam praktiknya, variabel pertanyaan penelitian bisa berjumlah banyak. Variabel seperti ini disebut Multivariat. Berikut adalah contoh rumusan masalah penelitian dengan lebih dari dua variabel (digarisbawahi):

  1. Adakah Pengaruh Gaya Hidup terhadap Pemilihan dan Kepuasan Mendengarkan Radio?”
  2. “Sejauh Mana Pengaruh Reputasi Radio dan Citra Brand terhadap Keputusan Mendengarkan Radio?”

Dalam menyusun penelitian survei, ada kalanya peneliti membuat dugaan sementara atas jawaban pertanyaan penelitiannya. Proses ini disebut membuat hipotesis. Hipotesis artinya dugaan, asumsi, atau pernyataan sementara. Hipotesis adalah kesimpulan sementara yang harus diuji kebenarannya. Tidak semua penelitian survei harus ada hipotesisnya, penelitian survei yang sifatnya deskriptif (mengetahui gejala-gejala atau karakteristik data) umumnya tidak menggunakan hipotesis. Berbeda dengan penelitian survei eksplanatif (menjelaskan hubungan anatargejala), umumnya menggunakan hipotesis untuk selanjutnya diuji kebenarnnya. Dalam kaitan ini, survei eksplanatif dapat diidentifikasi dengan adanya pertanyaan asosiatif (hubungan keterkaitan) dan atau pertanyaan komparatif (perbandingan).

Berikut ini contoh hipotesis berdasarkan jenis pertanyaan penelitian.

  1. Asosiatif (hubungan keterkaitan).

Ada/tidak ada hubungan positif antara siaran berita RRI dengan tingkat partisipasi dalam pilkada

  1. Komparatif (Perbandingan)

Ada/tidak ada perbedaan tingkat kepuasan pendengar RRI di Jakarta dengan pendengar RRI di Surabaya

Dalam menyusun hipotesis, peneliti perlu memperhatikan tiga jenis hipotesis, yakni hipotesis teori, hipotesis riset, dan hipotesis statistik. Agar dapat dilakukan pengujian, hipotesis teori harus diturunkan ke dalam hipotesis riset dan hipotesis statistik. Hipotesis riset merupakan hipotesis yang bisa secara langsung diuji dalam penelitian. Hipotesis ini dirancang dengan menurunkan hipotesis teori berdasarkan kerangka operasional yang ditetapkan oleh peneliti. Untuk penelitian yang bermaksud menguji hipotesis secara kuantitatif, hipotesis riset diturunkan ke dalam dan hipotesis statistik yang bisa secara langsung menunjukkan alat statistik apa yang akan digunakan.

Berikut ini contoh pengembangan hipotesis berdasarkan jenis survei.

  • a. Survei Deskriptif

Masalah:

Berapakah rata-rata usia pendengar RRI?

Hipotesis Teori:

Tingkat usia audiens mempengaruhi minat mendengarkan RRI

Hipotesis Riset:

Semakin tinggi usia seseorang, semakin tinggi minat mendengarkan RRI

Hipotesis Statistik:

Rxy ≥ 0

  • b. Survei Eksplanatif

Masalah:

Apakah berita demo dan kekerasan di radio mempengaruhi tingkah laku agresif masyarakat?

Hipotesis Teori:

Terpaan berita demo dan kekerasan di radio mempengaruhi tingkah laku agresif masyarakat

Hipotesis Riset:

Jumlah berita demo dan kekerasan yang didengar masyarakat di radio berkorelasi positif dengan frekuensi  tindak  agresif masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Hipotesis Statistik:

Rxy ≥ 0

2. Membuat Desain Penelitian Survei

Tahap kedua dalam penelitian survei adalah membuat desain penelitian. Desain penelitian merupakan konseptualisasi atas sebuah fenomena atau gejala sosial yang akan diturunkan menjadi variabel-variabel penelitian sampai ke tingkat indikator. Jika digambarkan secara sistematis, maka desain penelitian survei tampak dalam hierarki sebagai berikut:

Teori

Konsep

Variabel

Dimensi

Indikator

Skala/Pengukuran

Pertanyaan

Tahapan pembuatan desain penelitian yang meliputi Teori, Konsep, Variabel, Dimensi, Indikator, Skala/Pengukuran, dan item-item Pertanyaan selanjutnya harus disederhanakan dalam bentuk isian matriks operasionalisasi survei seperti berikut.

Variabel Dimensi Indikator Skala

Contoh penerapan matriks operasionalisasi survei:

  • Judul Penelitian:

Pengaruh Reputasi Perusahaan dan Citra Merk terhadap Keputusan    Pembelian

  • Rumusan Masalah:
  1. Apakah ada pengaruh antara reputasi perusahaan terhadap keputusan pembelian?
  2. Apakah ada pengaruh antara citra merek terhadap keputusan pembelian?
  3. Apakah ada pengaruh antara reputasi perusahaan dan citra merek terhadap keputusan pembelian?
  • Teori yang digunakan:
  1.  Public Relations
  2. Perilaku Konsumen
  • Variabel

Reputasi Perusahaan, Citra Merk, Keputusan Pembelian

Selanjutnya untuk dimensi, indikator dan skala dapat dilihat pada matriks operasionalisasi survei berikut ini.

Variabel Dimensi Indikator Skala
Reputasi Perusahaan a.  Kepercayaan terhadap perusahaanb.  Tanggung jawab perusahaanc. Persepsi terhadap perusahaand.  Pengetahuan akan perusahaan a.  Seberapa besar kepercayaan responden terhadap perusahaan Unileverb. Bagaimana penilaian responden terhadap tanggung jawab perusahaanc.  Bagaimana responden memandang, memahami dan menerima perusahaan Unilever

d. Seberapa besar pengetahuan responden akan perusahaan Unilever

Ordinal
Citra Merk a.  Persepsi/kesan terhadap produkb.  Keuntungan/ manfaatc.  Gambaran terhadap produkd. Keyakinan terhadap produk

e.  Konsistensi produk

a.  Bagaimana konsumen memandang, memahami, dan menerima produk Pepsodentb.  Seberapa besar keuntungan/ manfaat yang diperoleh responden dari produk- Seberapa besar tingkat keinginan/ harapan yang dijanjikan oleh suatu brandc. Bagaimana konsumen melihat produk Pepsodentd. Seberapa besar konsumen meyakini produk Pepsodent

e. Seberapa jauh kesesuaian dari apa yang dijanjikan produk dengan apa yang didapat oleh konsumen dari produk tersebut.

Ordinal
Keputusan Pembelian a. Pengenalan masalah
b.  Pencarian informasi
c. Evaluasi alternatifd.  Keputusan pembelian
a. Seberapa jauh responden menyadari kebutuhannya terhadap suatu produk-  Seberapa jauh responden menyadari harapannya terhadap suatu produk b. – Seberapa besar tingkat intensitas responden dalam mencari informasi-  Seberapa jauh responden mendapatkan informasi yang dibutuhkan

- Apa saja media yang dijadikan sumber dalam proses pencarian informasi

c.  Seberapa jauh tingkat selectivity responden terkait alternatif produk, risiko kesalahan dalam memilih, kebutuhan, dan kemampuan responden

d. – Bagaimana keputusan responden mengenai jenis produk

- Bagaimana keputusan responden mengenai bentuk produk

- Bagaimana keputusan responden mengenai merek produk

- Bagaimana keputusan responden mengenai harga

- Bagaimana keputusan responden mengenai penjual

- Bagaimana keputusan responden mengenai kualitasnya

- Bagaimana keputusan responden mengenai waktu pembelian

Ordinal

Pada kolom terakhir matriks operasionalisasi penelitian survei di atas terdapat kolom “skala”. Skala diperlukan sebagai teknik pengukuran yang sejak awal dirancang dalam desain penelitian. Terdapat empat jenis skala dalam penelitian survei, yakni nominal, ordinal, interval, dan rasio. Masing-masing skala dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • Skala Nominal

Skala nominal membedakan satu kategori dengan kategori lainnya. Dasar perbedaannya adalah penggolongan yang tidak saling tumpang tindih antar kategori.

Contoh:

Jenis kelamin:

  1. a. pria      b. wanita

Status kepegawaian:

  1. a. Honorer    b. Tetap    c.Kontrak

Sumber informasi utama bagi Anda:

  1. a. Radio     b. Televisi    c. Koran    d. Internet

Stasiun radio yang Anda dengarkan:

a.   W FM    b. X FM     c. Y FM    d. Z FM

  • Skala Ordinal

Skala ordinal mempunyai sifat membedakan dan  mencerminkan adanya tingkatan dari tinggi ke rendah.

Contoh:

Jenjang Pendidikan:

  1. a. SD      b. SLTP     c. SMA     d. Sarjana

Tingkat kepuasan:

  1. a. Sangat Tidak Memuaskan    b. Cukup Memuaskan    c. Sangat Memuaskan

Kepangkatan dalam militer:

  1. a. Brigadir Jendral     b. Mayor  Jendral    c. Letnan  Jendral    d. Jendra
  • Skala Interval

Skala interval mempunyai sifat membedakan, mempunyai tingkatan, dan mempunyai jarak yang pasti antara satu kategori dengan kategori lainnya

Contoh:

Tingkat Penghasilan

  1. a. < 500.000    b. 500.000 – 999.000   c. 1000.000- 3.000.000   d. > 3 juta

Frekuensi Mendengarkan radio

  1. a. 1-5 jam = sangat rendah
  2. b. 6- 10 jam = cukup
  3. c. 11-15 jam = tinggi
  4. d. 16-20 jam = sangat tinggi
  • Skala Rasio

Skala rasio mempunyai sifat membedakan, mempunyai tingkatan dan jarak, dan setiap nilai variabel diukur dari suatu keadaan atau titik yang sama (titik nol mutlak).

Contoh:

Umur Manusia (0, 1, 2, 3 dst)

Berat badan dalam kg

Tinggi badan dalam cm,

dan sebagainya.

3. Mengembangkan Instrumen Survei  (Menyusun Kuesioner/Pertanyaan)

Tahap ketiga dari penelitian survei adalah mengembangkan isntrumen penelitian dari matriks menjadi daftar pertanyaan.

Dalam penelitian survei, data dapat diperoleh dengan berbagai alternatif cara pengumpulan data. Berikut adalah beberapa teknik pengumpulan data dalam survei.

  1. Kuesioner langsung
  2. Kuesioner via pos
  3. Wawancara tatap muka
  4. Wawancara via telepon
  5. Pengisian kuesioner via komputer
  6. Wawancara online (chatting, dsb)
  7. Polling

Dari sekian banyak teknik, kuesioner merupakan teknik yang dianggap paling efisien. Meski demikian, kuesioner memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan:

  •   Relatif hemat biaya dan waktu
  •   Anonimity (jaminan kerahasiaan)
  •   Keseragaman kata dan istilah
  •   Tidak ada bias pewawancara
  •   Menjangkau banyak responden

Kelemahan:

  •  Tidak fleksibel
  •  Tidak ada kendali atas urutan pertanyaan
  • Ada pertanyaan tidak terjawab
  • Respons rate rendah (terutama bila melalui pos)
  • Hanya perilaku verbal yang tercatat
  • Tidak bisa merekam jawaban spontan

Tahap akhir dalam menyusun desain penelitian survei dalah menurunkan matriks operasionalisasi ke dalam item-item pertanyaan. Pertanyaan survei yang baik dapat menjaring informasi yang lebih tepat. Berikut adalah ciri-ciri pertanyaan penelitian yang baik:

  1. Jelas dan menggunakan bahasa yang sederhana
  2. Padat
  3. Spesifik
  4. Bisa dijawab
  5. Memiliki relevansi dengan responden
  6. Tidak menggunakan kalimat negatif
  7. Hindari menggunakan terminology yang bias
  8. Hindari menanyakan dua hal sekaligus dalam suatu pertanyaan

Berikut ini beberapa bentuk kekeliruan yang disebabkan bias dalam menyusun pertanyaan.

  • 1. Double barreled question, ada lebih dari 1 pertanyaan dalam 1 item pertanyaan.

“Apakah Anda menyukai RRI dan gaya penyiarnya?”

  • 2. Ambiguous  question, yaitu penggunaan istilah yang rancu .

“Apakah Anda setuju atau tidak bahwa gaya penyiar itu cool?”

  • 3. Level of wording, penggunaan bahasa yang tidak  sesuai kemampuan responden.

“Apakah ada anggota keluarga Anda yang termasuk schizofrenia?”

  • 4. Leading of question, yakni penyusunan yang menggiring responden ke arah jawaban tertentu.

“Setujukah Anda dengan pendapat orang bahwa acara di RRI itu bagus?

  • 5. Abstract vs factual question, yaitu pertanyaan yang abstrak vs pertanyaan mengacu pada hal-hal konkret yang spesifik dan memiliki jawaban spesifik.

”Apakah Anda merasa sudah menjalani hidup yang seimbang?”

  • 6. Sensitive/threatening question, yaitu pertanyaan yang mengandung topik sensitif, sehingga cenderung menghasilkan jawaban normatif.

“Bagaimana pandangan Anda tentang ateisme ?”

“Bagaimana pandangan Anda tentang sex bebas? “

  • 7. Pertanyaan tidak lengkap

Salah: Jika acara kuis disiarkan hari ini, apakah Anda akan mengikut iatau tidak?

Benar: Jika acara kuis disiarkan RRI hari ini, apakah Anda akan mengikut atau tidak?

  • 8. Periode waktu tidak jelas

Salah: Dalam acara Dialog interaktif yang membahas pemilihan anggota DPRD Kabupaten Sleman yang lalu, apakah Ibu/Bapak ikut memilih atau tidak?

Benar: Dalam acara Dialog interaktif yang membahas pemilihan anggota DPRD Kabupaten Sleman Juni 2004 yang lalu, apakah Ibu/Bapak ikut memilih atau tidak?

  • 9. Aspek yang ditanyakan tidak spesifik

Salah: Dalam satu minggu terakhir, berapa kali Ibu/Bapak membaca suratkabar dan majalah?

Benar: Dalam satu minggu terakhir, berapa kali Ibu/Bapak membaca suratkabar?

  • 10. Pemakaian singkatan (akronim)

Salah: Bagaimana penilaian Ibu/Bapak atas kerja polisi dalam menangani kasus curanmor di DKI Jakarta?

Benar: Bagaimana penilaian Ibu/Bapak atas kerja polisi dalam menangani kasus pencurian kendaraan bermotor di DKI Jakarta?

  • 11. Kategori jawaban tumpang tindih

Salah: Berapa usia Ibu/Bapak saat ini? (a) 20-30 (b) 30-40 (c) 40-50 (d) 50-60 (e) Di atas 60 tahun

Benar: Berapa usia Ibu/Bapak saat ini? (a) 20-30 (b) 31-40 (c) 41-50 (d) 51-60 (e) Di atas 60 tahun

  • 12. Kategori jawaban tidak menampung semua kemungkinan

Salah: Apa pendidikan terakhir Ibu/bapak? (a) Lulus SD (b) Lulus SLTP (c) Lulus SLTA (d) Lulus Perguruan Tinggi atau lebih

Benar: Apa pendidikan terakhir Ibu/bapak? (a) Tidak sekolah/Tidak lulus SD (b) Lulus SD (c) Lulus SLTP (d) Lulus SLTA (e) Lulus Perguruan Tinggi atau lebih

  • 13. Pertanyaan tidak seimbang

Salah: Menurut Ibu/Bapak apakah Pemilu merupakan kewajiban yang harus diikuti oleh warga negara?

Benar: Ada yang berpendapat Pemilu adalah kewajiban warga negara. Tetapi ada yang mengatakan Pemilu merupakan hak. Menurut Ibu/Bapak, apakah Pemilu merupakan hak atau kewajiban?

  • 14. Alternatif jawaban tidak seimbang

Salah: Apakah Ibu/Bapak setuju jika pemerintah menaikkan harga minyak tanah?

Benar: Apakah Ibu/Bapak setuju atau tidak setuju jika pemerintah menaikkan harga minyak tanah?

  • 15. Pertanyaan Memihak

Salah: Apakah Ibu/bapak setuju atau tidak dengan pernyataan Amien Rais yang meminta Abdurrahman Wahid mundur sebagai presiden karena telah gagal menjalankan pemerintahan dengan benar?

Benar: Apakah Ibu/bapak setuju atau tidak dengan pernyataan Amien Rais yang meminta Abdurrahman Wahid mundur sebagai presiden?

  • 16. Pemakaian Bahasa Berlebihan (Disfemisme)

Salah: Apakah Ibu/Bapak setuju atau tidak jika penjajah Amerika Serikat secepatnya keluar dari wilayah Irak?

Benar: Apakah Ibu/Bapak setuju atau tidak jika Amerika Serikat secepatnya keluar dari wilayah Irak?

  • 17. Pemakaian Bahasa Penghalusan (Eufemisme)

Salah: Apakah Ibu/bapak setuju jika biaya pengurusan Surat Izin Mengemudi disesuaikan harganya?

Benar: Apakah Ibu/bapak setuju jika biaya pengurusan Surat Izin Mengemudi dinaikkan harganya dari harga resmi saat ini?

  • 18. Memakai Asumsi

Salah: Tindakan kejahatan apa yang Ibu/Bapak alami dalam satu bulan terakhir ini?

Benar: Q1. Dalam satu bulan terakhir ini, apakah Ibu/Bapak pernah menjadi korban tindakan kejahatan? Q2. Kalau ya, tindakan kejahatan apa yang Ibu/Bapak alami dalam satu bulan terakhir ini?

Salah: Program acara apa yang biasa Ibu/Bapak tonton di televisi seminggu ini?

Benar: Q1. Dalam seminggu ini, apakah Ibu/Bapak pernah menonton televisi? Q2. Kalau ya, program acara apa yang biasa Ibu/Bapak tonton di televisi seminggu ini?

4. Menentukan Sampel

Tahap keempat dalam penelitian survei adalah menentukan sampel. Menentukan sampel artinya memilih teknik dan metode yang akan digunakan untuk mengambil sampel yang didasarkan pada keadaan dan kebutuhan data penelitian.  Keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga untuk meneliti suatu populasi menyebabkan perlunya dilakukan penentuan sampel. Dalam hal ini, populasi adalah semua individu/unit-unit yang menjadi target penelitian. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih mengikuti prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya. Kerangka sampela dalah daftar anggota populasi (Purwanto dan Sulistyastuti, 2007: 37).

Secara umum ada dua macam teknik penentuan sampel, yakni random sampling atau probability sampling dan non-random sampling atau non probablity sampling.

Teknik Sampling

Sampling Techniques
Probability Sampling Non-Probability Sampling
Simple Random Sampling Systematic Random Sampling Stratified Random Sampling Cluster Sampling Accidental Sampling Judgement/Convenicence/PupsoiveSampling Quota Sampling Snowball Sampling

a. Sampel Probabilita

  • Penarikan sampel Secara Acak Sederhana (Simple Random Sampling)

Sampel acak sederhana adalah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga anggota populasi mempunyai kesempatan/peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel.

  • Penarikan Sampel Sistematis (Systematic Random Sampling)

Metode  pengambilan sampel di mana anggota sampel dipilih secara sistematis dari daftar populasi. Daftar populasi harus berada dalam keadaan acak atau membaur.

  • Penarikan Sampel Stratifikasi (Stratified Random Sampling)

Metode penarikan sampel berlapis atau berstrata. Suatu kriteria yang jelas harus ditetapkan untuk membatasi strata. Penarikan sampel dari setiap strata dapat dilakukan secara proporsional atau tidak proporsional.

  • Penarikan Sampel Secara Bergerombol (Cluster Sampling)

Dalam praktek seringkali kita tidak mempunyai daftar populasi yang lengkap.  Dalam kondisi seperti ini diperlukan “Populasi Mini” yang sifat dan karakternya sama dengan seluruh Populasi. Populasi mini seperti ini disebut Cluster atau Gerombol. Sete­lah cluster ditetapkan, barulah memilih sampel secara acak.  Kelemahan cara ini adalah sulit mengetahui bahwa setiap gerombol meng-gambarkan sifat populasi secara tuntas.

b. Sampel Tidak Probabilita

  • Penarikan Sampel Secara Kebetulan (Accidental Sampling)

Peneliti dapat memilih orang atau responden yang terdekat dengannya, atau yang pertama kali dijumpainya dan seterusnya.

  • Penarikan Sampel Secara Sengaja (Purposive Sampling)

Peneliti telah menentukan responden menjadi sampel penelitiannya dengan anggapan atau menurut pendapatnya sendiri degan suatu argumentasi.

  • Penarikan Sampel Jatah (Quota Sampling)

Populasi dibagi menjadi beberapa strata sesuai dengan fokus penelitian. Penarikan sampel jatah dilakukan kalau peneliti tidak mengetahui jumlah yang rinci dari  setiap strata populasi­nya. Dalam kondisi ini peneliti menentukan jatah untuk setiap strata yang kurang-lebih seimbang.

  • Penarikan Sampel Bola Salju (Snowball Sampling)

Bola salju dibuat dengan menggulung salju yang bertebaran di atas rumput, dari sedikit menjadi banyak dan besar. Pertama kali ditentukan  satu atau beberapa responden untuk diwawanca­rai, sehingga berperan sebagai  titik awal penarikan sampel. Responden selanjutnya ditetapkan berdasarkan petunjuk dari responden sebelumnya. Cara ini sering digunakan dalam peneli­tian-penelitian pemasaran.

c. Sampling Error (Tingkat Kesalahan yang Diinginkan) dan Tingkat Kepercayaan (Derajat Ketelitian)

Dalam penentuan sampel sering dikenal istilah sampling error dan Tingkat Kepercayaan (derajat ketelitian).

Sampling error menunjukkan tingkat presisi yang diinginkan oleh peneliti (berapa derajat perbedaan yang diinginkan antara hasil sampel dengan populasi). Sampling error adalah kesalahan (error) yang terjadi dari tahap kerangka sampel dan penarikan sampel. Kesalahan ini adalah kesalahan alamiah yang pasti terjadi karena peneliti menggunakan sampel dan tidak mewawancarai semua anggota populasi (Tim AROPI, 2007: 61).

Besar kecilnya sampling error sangat tergantung pada jumlah sampel yang dipakai. Jika peneliti ingin mendapatkan sampling error yang kecil, maka jumlah sampel harus ditambah. Sebaliknya, jika sampel yang dipakai kecil, sampling error akan besar.

d.  Menghitung Sampel dengan Rumus

Dalam menghitung sampel dapat digunakan beberapa rumus. Antara lain dengan rumus Slovin dan Yamane.

e. Menghitung Sampel dengan Tabel

Selain menggunakan rumus, menetukan jumlah sampel juga bisa dilakukan dengan melihat tabel penentuan jumlah sampel, misalnya:

Sumber: http://www.quirks.com/articles/2006/20061209.aspx?searchID=148999361&sort=9

5. Melakukan Pre-Test

Tahap kelima dari penelitian survei adalah melakukan tes pendahuluan pra riset (pre-test) .

Tujuan pre-test:

  1. Untuk mengetahui apakah ada beberapa pertanyaan yang perlu dihilangkan atau ditambah.
  2. Untuk mengetahui apakah ada pertanyaan yang sulit dipahami responden.
  3. Untuk mengetahui apakah susunan pertanyaan ada yang pertu diubah.
  4. Untuk mendeteksi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi satu kuesioner.

Test yang dilakukan meliputi:

  1. Jawaban yang salah
  2. Jawaban dengan pilihan lebih dari satu
  3. Jawaban lain-lain sebutkan
  4. Jawaban yang benar

Untuk format kuesioner termasuk: .

  1. Perintah pengisian
  2. Aliran pertanyaan
  3. Layout
Continue reading

Memahami Focus Group Discussion (FGD)

Iwan Awaluddin Yusuf[1]
Follow me @IwanAwaluddin

Istilah kelompok diskusi terarah atau dikenal sebagai Focus Group Discussion (FGD) saat ini sangat populer dan banyak digunakan sebagai metode pengumpulan data dalam penelitian sosial. Pengambilan data kualitatif melalui FGD dikenal luas karena kelebihannya dalam memberikan kemudahan dan peluang bagi peneliti untuk menjalin keterbukaan, kepercayaan, dan memahami persepsi, sikap, serta pengalaman yang dimiliki informan. FGD memungkinkan peneliti dan informan berdiskusi intensif dan tidak kaku dalam membahas isu-isu yang sangat spesifik. FGD juga memungkinkan  peneliti mengumpulkan informasi secara cepat dan konstruktif dari peserta yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Di samping itu, dinamika kelompok yang terjadi selama berlangsungnya proses diskusi seringkali memberikan informasi yang penting, menarik, bahkan kadang tidak terduga.

Hasil FGD tidak bisa dipakai untuk melakukan generalisasi karena FGD memang tidak bertujuan menggambarkan (representasi) suara masyarakat. Meski demikian, arti penting FGD bukan terletak pada hasil representasi populasi, tetapi pada kedalaman informasinya. Lewat FGD, peneliti bisa mengetahui alasan, motivasi, argumentasi atau dasar dari pendapat seseorang atau kelompok. FGD merupakan salah satu metode penelitian kualitatif yang secara teori mudah dijalankan, tetapi praktiknya membutuhkan ketrampilan teknis yang tinggi.

Tulisan ini merupakan panduan sederhana dalam menyelenggarakan FGD dengan menggabungkan pendekatan teoritis dan praktis. Pertama-tama akan diuraikan basis teoritis FGD, mulai dari penjelasan soal konsep FGD, teknik penentuan jumlah kelompok, tata ruang, membuat panduan diskusi, pelaksanaan, hingga analisis data dan penulisan laporan.

Pengertian FGD

FGD secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis dan terarah mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Irwanto (2006: 1-2) mendefinisikan FGD adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok.

Sesuai namanya, pengertian Focus Group Discussion mengandung tiga kata kunci: a. Diskusi (bukan wawancara atau obrolan); b. Kelompok (bukan individual); c. Terfokus/Terarah (bukan bebas). Artinya, walaupun hakikatnya adalah sebuah diskusi, FGD tidak sama dengan wawancara, rapat, atau obrolan beberapa orang di kafe-kafe. FGD bukan pula sekadar kumpul-kumpul beberapa orang untuk membicarakan suatu hal. Banyak orang berpendapat bahwa FGD dilakukan untuk mencari solusi atau menyelesaikan masalah. Artinya, diskusi yang dilakukan ditujukan untuk mencapai kesepakatan tertentu mengenai suatu permasalahan yang dihadapi oleh para peserta, padahal aktivitas tersebut bukanlah FGD, melainkan rapat biasa. FGD berbeda dengan arena yang semata-mata digelar untuk mencari konsensus.

Sebagai alat penelitian, FGD dapat digunakan sebagai metode primer maupun sekunder. FGD berfungsi sebagai metode primer jika digunakan sebagai satu-satunya metode penelitian atau metode utama (selain metode lainnya) pengumpulan data dalam suatu penelitian. FGD sebagai metode penelitian sekunder umumnya digunakan untuk melengkapi riset yang bersifat kuantitatif dan atau sebagai salah satu teknik triangulasi. Dalam kaitan ini, baik berkedudukan sebagai metode primer atau sekunder, data yang diperoleh dari FGD adalah data kualitatif.

Di luar fungsinya sebagai metode penelitian ilmiah, Krueger & Casey (2000: 12-18) menyebutkan, FGD pada dasarnya juga dapat digunakan dalam berbagai ranah dan tujuan, misalnya (1) pengambilan keputusan, (2) needs assesment, (3) pengembangan produk atau program, (4) mengetahui kepuasan pelanggan, dan sebagainya.

Kapan FGD Harus Digunakan?

FGD harus dipertimbangkan untuk digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:

  1. Peneliti ingin memperoleh informasi mendalam tentang tingkatan persepsi, sikap, dan pengalaman yang dimiliki informan.
  2. Peneliti ingin memahami lebih lanjut keragaman perspektif  di antara kelompok atau kategori masyarakat.
  3. Peneliti membutuhkan informasi tambahan berupa data kualitatif dari riset kuantitatif yang melibatkan persoalan masyarakat yang kompleks dan berimplikasi luas.
  4. Peneliti ingin memperoleh kepuasan dan nilai akurasi yang tinggi karena mendengar pendapat langsung dari subjek risetnya.

Kapan FGD Tidak Diperlukan?

FGD harus dipertimbangkan untuk tidak digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:

  1. Peneliti ingin memperoleh konsensus dari masyarakat/peserta
  2. Peneliti ingin mengajarkan sesuatu kepada peserta
  3. Peneliti akan mengajukan pertanyaan “sensitif” yang tidak akan bisa di-share dalam sebuah forum bersama kecuali jika pertanyaan tersebut diajukan secara personal antara peneliti dan informan.
  4. Peneliti tidak dapat meyakinkan atau menjamin kerahasiaan diri informan yang berkategori “sensitif”.
  5. Metode lain dapat menghasilkan kualitas informasi yang lebih baik
  6. Metode lain yang lebih ekonomis dapat menghasilkan informasi yang sama.

Meskipun terlihat sederhana, menyelenggarakan suatu FGD yang hanya berlangsung 1 -3 jam, memerlukan persiapan, kemampuan, dan keahlian khusus. Ada prosedur dan standar tertentu yang harus diikuti agar hasilnya benar dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Mengapa FGD?

Irwanto (2006: 3- 6) mengemukakan tiga alasan perlunya melakukan FGD, yaitu alasan filosofis, metodologis, dan praktis.

  1. Alasan Filosofis
  • Pengetahuan yang diperoleh dalam menggunakan sumber informasi dari berbagai latar belakang pengalaman tertentu dalam sebuah proses diskusi, memberikan perspektif yang berbeda dibanding pengetahuan yang diperoleh dari komunikasi searah antara peneliti dengan responden.
  • Penelitian tidak selalu terpisah dengan aksi. Diskusi sebagai proses pertemuan antarpribadi sudah merupakan bentuk aksi .
  1. Alasan Metodologis
  • Adanya keyakinan bahwa masalah yang diteliti tidak dapat dipahami dengan metode survei atau wawancara individu karena pendapat kelompok dinilai sangat penting.
  • Untuk memperoleh data kualitatif yang bermutu dalam waktu relatif singkat.
  • FGD dinilai paling tepat dalam menggali permasalahan yang bersifat spesifik, khas, dan lokal. FGD yang melibatkan masyarakat setempat dipandang sebagai pendekatan yang paling sesuai.
  1. Alasan Praktis

Penelitian yang bersifat aksi membutuhkan perasaan memiliki dari objek yang diteliti- sehingga pada saat peneliti memberikan rekomendasi dan aksi, dengan mudah objek penelitian bersedia menerima rekomendasi tersebut. Partisipasi dalam FGD memberikan kesempatan bagi tumbuhnya kedekatan dan perasaan memiliki.

Menurut Koentjoro (2005: 7), kegunaan FGD di samping sebagai alat pengumpul data adalah sebagai alat untuk meyakinkan pengumpul data (peneliti) sekaligus alat re-check terhadap berbagai keterangan/informasi yang didapat melalui berbagai metode penelitian yang digunakan atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, baik keterangan yang sejenis maupun yang bertentangan.

Dari berbagai keterangan di atas, dapat disimpulkan dalam kaitannya dengan penelitian, FGD berguna untuk:

a)      Memperoleh informasi yang banyak secara cepat;

b)      Mengidentifikasi dan menggali informasi mengenai kepercayaan, sikap dan perilaku  kelompok tertentu;

c)      Menghasilkan ide-ide untuk penelitian lebih mendalam; dan

d)     Cross-check data dari sumber lain atau dengan metode lain.

Persiapan dan Desain Rancangan FGD

Sebagai sebuah metode penelitian, pelaksanaan FGD memerlukan perencanaan matang dan tidak asal-asalan. Untuk diperlukan beberapa persiapan sebagai berikut: 1) Membentuk Tim; 2) Memilih Tempat dan Mengatur Tempat; 3) Menyiapkan Logistik; 4 Menentukan Jumlah Peserta; dan 5) Rekruitmen Peserta.

1) Membentuk Tim

Tim FGD umumnya mencakup:

  1. Moderator, yaitu fasilitator diskusi yang terlatih dan memahami masalah yang dibahas serta tujuan penelitian yang hendak dicapai (ketrampilan substantif), serta terampil mengelola diskusi (ketrampilan proses).
  2. Asisten Moderator/co-fasilitator, yaitu orang yang intensif mengamati jalannya FGD, dan ia membantu moderator mengenai: waktu, fokus diskusi (apakah tetap terarah atau keluar jalur), apakah masih ada pertanyaan penelitian yang belum terjawab, apakah ada peserta FGD yang terlalu pasif sehingga belum memperoleh kesempatan berpendapat.
  3. Pencatat Proses/Notulen, yaitu orang bertugas mencatat inti permasalahan yang didiskusikan serta dinamika kelompoknya. Umumnya dibantu dengan alat pencatatan berupa satu unit komputer atau laptop yang lebih fleksibel.
  4. Penghubung Peserta, yaitu orang yang mengenal (person, medan), menghubungi, dan memastikan partisipasi peserta. Biasanya disebut mitra kerja lokal di daerah penelitian.
  5. Penyedia Logistik, yaitu orang-orang yang membantu kelancaran FGD berkaitan dengan penyediaan transportasi, kebutuhan rehat, konsumsi, akomodasi (jika diperlukan), insentif (bisa uang atau barang/cinderamata), alat dokumentasi, dll.
  6. Dokumentasi, yaitu orang yang mendokumentasikan kegiatan dan dokumen FGD: memotret, merekam (audio/video), dan menjamin berjalannya alat-alat dokumentasi, terutama  perekam selama dan sesudah FGD berlangsung.
  7. Lain-lain jika diperlukan (tentatif), misalnya petugas antar-jemput, konsumsi, bloker (penjaga “keamanan” FGD, dari gangguan, misalnya anak kecil, preman, telepon yang selalu berdering, teman yang dibawa peserta, atasan yang datang mengawasi, dsb)

2) Memilih dan Mengatur Tempat

Pada prinsipnya, FGD dapat dilakukan di mana saja, namun seyogianya tempat FGD yang dipilih hendaknya merupakan tempat yang netral, nyaman, aman, tidak bising, berventilasi cukup, dan bebas dari gangguan yang diperkirakan bisa muncul (preman, pengamen, anak kecil, dsb). Selain itu tempat FGD juga harus memiliki ruang dan tempat duduk yang memadai (bisa lantai atau kursi). Posisi duduk peserta harus setengah atau tiga perempat lingkaran dengan posisi moderator sebagai fokusnya. Jika FGD dilakukan di sebuah ruang yang terdapat pintu masuk yang depannya ramai dilalui orang, maka hanya moderator yang boleh menghadap pintu tersebut, sehingga peserta tidak akan terganggu oleh berbagai “pemandangan” yang dapat dilihat diluar rumah.

Jika digambarkan, layout ruang diskusi dapat dilihat sebagai berikut:

(Irwanto, 2006: 68)

3) Menyiapkan Logistik

Logistik adalah berbagai keperluan teknis yang dipelukan sebelum, selama, dan sesudah FGD terselenggara. Umumnya meliputi peralatan tulis (ATK), dokumentasi (audio/video), dan kebutuhan-kebutuhan peserta FGD: seperti transportasi; properti rehat: alat ibadah, konsumsi (makanan kecil dan atau makan utama); insentif; akomodasi (jika diperlukan); dan lain sebagainya.

Insentif dalam penyelenggaraan FGD adalah suatu hal yang wajar diberikan. Selain sebagai strategi untuk menarik minat peserta, pemberian insentif juga merupakan bentuk ungkapan terimakasih peneliti karena peserta FGD bersedia meluangkan waktu dan pikiran untuk mencurahkan pendapatnya dalam FGD. Jika perlu, sejak awal, dicantumkan dalam undangan mengenai intensif apa yang akan mereka peroleh jika datang dan aktif dalam FGD. Mengenai bentuk dan jumlahnya tentu disesuaikan dengan sumberdaya yang dimiliki peneliti. Umumnya insentif dapat berupa sejumlah uang atau souvenir (cinderamata).

4). Jumlah Peserta

Dalam FGD, jumlah perserta menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan. Menurut beberapa literatur tentang FGD (lihat misalnya Sawson, Manderson & Tallo, 1993; Irwanto, 2006; dan Morgan D.L, 1998) jumlah yang ideal adalah 7 -11 orang, namun ada juga yang menyarankan jumlah peserta FGD lebih kecil, yaitu 4-7 orang (Koentjoro, 2005: 7) atau 6-8 orang (Krueger & Casey, 2000: 4). Terlalu sedikit tidak memberikan variasi yang menarik, dan terlalu banyak akan mengurangi kesempatan masing-masing peserta untuk memberikan sumbangan pikiran yang mendalam. Jumlah peserta dapat dikurangi atau ditambah tergantung dari tujuan penelitian dan fasilitas yang ada.

5). Rekruitmen Peserta: Homogen atau Heterogen?

Tekait dengan homogenitas atau heterogenitas peserta FGD, Irwanto (2006: 75-76) mengemukakan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Pemilihan derajat homogenitas atau heterogenitas peserta harus sesuai dengan  tujuan awal diadakannya FGD.
  2. Pertimbangan persoalan homogenitas atau heterogenitas ini melibatkan variabel tertentu yang diupayakan untuk heterogen atau homogen. Variabel sosio-ekonomi atau gender boleh heterogen, tetapi peserta itu harus memahami atau mengalami masalah yang didiskusikan. Dalam mempelajari persoalan makro seperti krisis ekonomi atau bencana alam besar, FGD dapat dilakukan dengan peserta yang bervariasi latar belakang sosial ekonominya, tetapi dalam persoalan spesifik, seperti perkosaan atau diskriminasi, sebaiknya peserta lebih homogen.
  3. Secara mendasar harus disadari bahwa semakin homogen sebenarnya semakin tidak perlu diadakan FGD karena dengan mewawancarai satu orang saja juga akan diperoleh hasil yang sama atau relatif sama.
  4. Semakin heterogen semakin sulit untuk menganalisis hasil FGD karena variasinya terlalu besar.
  5. Homogenitas-heterogenitas tergantung dari beberapa aspek. Jika jenis kelamin, status sosial ekonomi, latar belakang agama homogen, tetapi dalam melaksanakan usaha kecil heterogen, maka kelompok tersebut masih dapat berjalan dengan baik dan FGD masih dianggap perlu.
  6. Pertimbangan utama dalam menentukan homogenitas-heterogenitas adalah ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh heterogen dan ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh homogen.

Menyusun Pertanyaan  FGD

Kunci dalam membuat panduan diskusi yang terarah adalah membuat pertanyaan-pertanyaan kunci sebagai panduan diskusi. Untuk mengembangkan pertanyaan FGD, lakukan hal-hal berikut:

-          Baca lagi tujuan penelitian

-          Baca lagi tujuan FGD

-          Pahami jenis informasi seperti apa yang ingin Anda dapatkan dari FGD

-          Bagaimana Anda akan menggunakan informasi tersebut

-          Tulis pertanyaan umum ke khusus. Sebaiknya jangan lebih dari 5 (lima) pertanyaan inti.

-          Rumuskan pertanyaan dalam bahasa yang sederhana dan jelas. Hindari konsep besar yang kabur maknanya.

-          Uji pertanyaan-pertanyaan tersebut pada teman-teman dalam tim Anda.

Berbeda dengan wawancara, dalam FGD moderator tidaklah selalu bertanya. Bahkan semestinya tugas moderator bukan bertanya, melainkan mengemukakan suatu permasalahan, kasus, atau kejadian sebagai bahan pancingan diskusi. Dalam prosesnya memang ia sering bertanya, namun itu dilakukan hanya sebagai ketrampilan mengelola diskusi agar tidak didominasi oleh sebagian peserta atau agar diskusi tidak macet (Irwanto, 2006: 2)

Pelaksanaan FGD

Keberhasilan pelaksanaan FGD sangat ditentukan oleh kecakapan moderator sebagai “Sang Sutradara”. Peran Moderator dalam FGD dapat dilihat dari aktivitas utamanya, baik yang bersifat pokok (secara prosedural pasti dilakukan) maupun yang tentatif (hanya diperlukan jika memang situasi menghendaki demikian). Peran-peran  tersebut adalah (a) membuka FGD, (b) meminta klarifikasi, (c) melakukan refleksi, (d) memotivasi, (e) probing (penggalian lebih dalam), (f) melakukan blocking dan distribusi (mencegah ada peserta yang dominan dan memberi kesempatan yang lain untuk bersuara), (g) reframing, (h) refokus, (i) melerai perdebatan, (j) memanfaatkan jeda (pause), (k) menegosiasi waktu, dan (l) menutup FGD.

Dalam pelaksanaan FGD, kunci utama agar proses diskusi berjalan baik adalah permulaan. Untuk membuat suasana akrab, cair, namun tetap terarah, tugas awal moderator terkait dengan permulaan diskusi yaitu (1) mengucapkan selamat datang, (2) memaparkan singkat topik yang akan dibahas (overview), (3) membacakan aturan umum diskusi untuk disepakati bersama (atau hal-hal lain yang akan membuat diskusi berjalan mulus), dan (4) mengajukan pertanyaan pertama sebagai panduan awal diskusi. Untuk itu usahakan, baik pertanyaan maupun respon dari jawaban pertama tidak terlalu bertele-tele karena akan menjadi acuan bagi efisisensi proses diskusi tersebut.

Analisis Data dan Penyusunan Laporan FGD

Analisis data dan Penulisan Laporan FGD adalah tahap akhir dari kerja keras peneliti. Langkah-langkahnya dapat ditempuh sebagai berikut:

1.  Mendengarkan atau melihat kembali rekaman FGD

2.  Tulis kembali hasil rekaman secara utuh (membuat transkrip/verbatim)

3.  Baca kembali hasil transkrip

4.  Cari mana masalah-masalah (topik-topik) yang menonjol dan berulang-ulang muncul dalam transkrip, lalu kelompokan menurut masalah atau topik. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan oleh dua orang yang berbeda untuk mengurangi “bias” dan “subjektifitas”. Pengkategorian bisa juga dilakukan dengan mengikuti Topik-topik dan subtopik dalam Panduan diskusi. Jangan lupa merujuk catatan yang dibuat selama proses FGD berlangsung.

5.  Karena berhubungan dengan kelompok, data-data yang muncul dalam FGD biasanya mencakup:

a. Konsensus

b. Perbedaan Pendapat

c. Pengalaman yang Berbeda

d. Ide-ide inovatif yang muncul, dan sebagainya.

6. Buat koding dari hasil transkripsi menurut pengelompokan masalah/topik, misalnya  tentang Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja dibuat kode:

Kode 1 untuk perilaku seks remaja

Bisa dipecah lagi menjadi:

Kode 1a : aturan/nilai-nilai menyangkut perilaku seks remaja

Kode 1b : pengalaman seksual

Kode 2 untuk masalah kesehatan reproduksi remaja,

Bisa dipecah lagi:

Kode 2a : masalah tiadanya informasi kesehatan reproduksi

Kode 2b : masalah tidak adanya pelayanan untuk remaja, dst

Kode 3 untuk kebutuhan remaja

Menurut Irwanto (2006: 82-86), dalam melakukan analisis FGD, perlu diperhatikan hal-hal berikut:

  1. Periksa dahulu, apakah tujuan FGD tercapai—antara lain terlihat dari jumlah pertanyaan yang ditanyakan (dieksekusi) apakah sesuai dengan rencana awal?
  2. Adakah perubahan dalam tujuan FGD yang terjadi karena input dari peserta?
  3. Identifikasi masalah utama yang dikemukakan oleh peserta. Untuk itu perhatikan tema sentral dalam TOR FGD.
  4. Adakah variasi peserta dalam persoalan utama ini? Bagaimana variasinya? Mengapa? (Perbedaan-perbedaan yang muncul tersebut ada yang sangat ekstrim sampai yang hanya berbeda sedikit saja. Jika perbedaan ini timbul, keduanya harus disajikan dalam laporan.
  5. Selain persoalan utama itu, adakah persoalan lain (tema-tema lain) yang muncul dalam diskusi? Apa saja? Mana yang relevan dengan tujuan FGD?
  6. Buatlah suatu kerangka prioritas dari persoalan-persoalan yang muncul. Dengan melihat sumber daya peneliti dan stakeholders, pilihlah masalah-masalah apakah dapat diselesaikan dapat diselsaikan dalam jangka waktu pendek atau panjang. Selain itu coba dipilih persoalan yang tidak kunung selesai, misalnya yang menyangkut perubahan apda tingkat makro (terutama struktur ekonomi dan politik).
  7. Lakukan koding sesuai dengan faktor-faktor yang dikehendaki.

Setelah pekerjaan di atas selesai, baru hasilnya dituliskan atau dilaporkan dengan cara berikut:

  1. Tuliskan topik-topik/masalah-masalah yang ditemukan dari hasil FGD. Setelah itu tuliskan juga “kutipan-kutipan langsung” (apa kata orang yang berdiskusi) mengenai masalah tersebut
  2. Bahas topik-topik atau masalah-masalah yang diungkapkan bersama tim peneliti. Lakukan topik demi topik, sampai semua topik/masalah penting selesai dilaporkan dan dibahas.

Tidak boleh dilupakan, keseluruhan laporan FGD harus memuat poin-poin berikut ini: (a) identitas subjek (untuk kasus tertentu diperlukan deskripsi subjek, bisa ditulis dalam lampiran); (b) tujuan FGD; (c) bentuk FGD; (d) waktu FGD; (e) tempat berlangsungnya FGD; (f) alat bantu dalam FGD; (g) berapa kali dilakukan FGD; (h) tema-tema atau temuan penting dalam FGD, (i) kendala-kendala selama proses FGD; (j) pemahaman-pemaknaan FGD; dan (k) pembahasan hasil FGD.

Catatan Penting:

  1. Perlu diingat bahwa jika dalam sebuah wawancara pribadi, peneliti dihadapkan pada data individual—bukan sebuah proses kelompok—maka dalam FGD peneliti akan memperoleh data individu sekaligus kelompok.
  2. Semua pekerjaan, mulai dari mengumpulkan data, membahas hasil, mencari topik yang penting dalam transkrip, membahas kembali topik-topik itu, sampai menuliskan laporan harus dilakukan dengan tim atau paling tidak berpasangan untuk menghindari pendapat subjektif pribadi. Bila dilakukan dalam tim maka laporan bisa mendekati keutuhan karena berbagai pandangan saling melengkapi.

[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

Ketika Media Menjadi Alat Diskriminasi

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Sebelum reformasi tahun 1998, perkembangan media di Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika politik yang ada pada saat itu. Pengaruh terbesar yang berimplikasi langsung bagi media adalah cara pandang pemerintah terhadap media tersebut. Apakah media dinilai dapat membahayakan stabilitas politik atau mendukung berjalannya status quo. Penilaian inilah yang berekses pada pengontrolan yang ketat, atau sebaliknya, memberikan ruang kebebasan pada aktivitas dan isi media.

Pengekangan terhadap media ini berimbas terhadap kebijakan dan manjemen redaksional. Pada tataran praktis, media lebih memilih langkah aman dengan cara meminimalisasi pemberitaan yang dinggap berseberangan dengan politik pemerintah. Akibatnya, apa yang ditampilkan media selalu diusahakan sejalan dengan koridor mendukung kepentingan pemerintah yang telah dijabarkan melalui instrumen kekuasaannya, yaitu undang-undang. Media harus menyesuaikan ketentuan terhadap peraturan perundangan yang dibuat pemerintah.

Praktik ini berlangsung dalam waktu yang lama sehingga secara sadar atau tidak, media di Indonesia telah terbiasa melaksanakan kemauan polilik penguasa. Salah satunya adalah perlakuan diskriminatif terhadap golongan Tionghoa yang termanifestasikan dalam berbagai produk komunikasi yang disajikan media massa. Pembatasan-pembatasan ini semakin lengkap setelah dikeluarkan Surat Edaran No.02/SE/Ditjen/PPG/K/1978 tentang Larangan Penerbitan dan Percetakan Tulisan Iklan Beraksara dan Berbahasa Cina.

Beberapa penelitian terkait diskriminasi suratkabar terhadap masyarakat Tionghoa yang antara lain dilakukan oleh tim Kajian Informasi, Pendidikan, dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS) (2003),  penelitian Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta, serta penelitian yang dilakukan Agus Sudibyo, peneliti dari Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta. Ketiga penelitian itu menyimpulkan adanya beberapa pola yang dilakukan media dalam pemberitaan: Pertama, media memiliki kecenderungan membuat batasan bahwa warga etnik Tionghoa seolah sebagai warga asing yang berbeda dan terpisah dengan warga Indonesia lain. Diskriminasi itu dilakukan dengan cara memberikan sebutan-sebutan tertentu terhadap etnik Tionghoa yang tidak diberikan terhadap warga Indonesia yang berasal dari etnik lain. Sebutan tersebut antara lain WNI keturunan Tionghoa, WNI keturunan, warga keturunan, keturunan Cina, dan lain-lain.

Kedua, pers melakukan praktik diskriminasi etnik Tionghoa dengan cara menurunkan pemberitaan yang menguatkan label negatif pada etnik Tionghoa dalam pemberitaan  tindak kriminal atau hal-hal lain negatif lain yang melibatkan seseorang yang kebetulan berdarah Tionghoa. Sebagai contoh pemberitaan tentang Edi Tanzil sebagai seorang koruptor, media terus-menerus mem-blow up predikat Edi Tansil sebagai WNI keturunan Cina. Akibatnya, di alam bawah sadar, masyarakat menganggap bahwa semua orang Tionghoa bermental koruptor. Seorang Edi Tanzil menjadi koruptor, maka seluruh konglomerat etnik Tionghoa diberi label koruptor. Hal ini agaknya tidak jauh berbeda dengan pola pemberitaan yang dilakukan media Amerika Serikat terhadap pelaku teriorisme yang kebetulan beragama Islam.

Ketiga, media seringkali menulis pemberitaan mengenai etnik Tionghoa dengan memberi stereotip-stereotip negatif yang selama ini telah melekat pada diri etnik Tionghoa. Bahkan dengan penggambaran fisik; mata sipit, kulit putih dan sebagainya. Tindakan diskriminatif dalam pemberitaan media massa yang paling diskriminatif adalah pelabelan yang dilakukan tanpa mendasarkan bukti-bukti yang akurat. Misalnya, tentang “keeksklusifan” warga etnik Tionghoa. Sebenarnya sulit mengukur suatu keeksklusifan, tetapi banyak orang menggunakan kata tersebut untuk berbagai hal yang dianggap  “eksklusif” atas dasar penilaian pribadi.

Sebagai contoh, “keeksklusifan” dilihat dari “tidak mau bergaul”, “pagar yang tinggi”, “jaringan bisnis yang tertutup”, “tempat tinggal yang terkonsentrasi di satu wilayah tertentu”, “memakai bahasa yang tidak dimengerti orang lain”, dan sebagainya. Padahal jika dilogika, berbagai hal yang dinilai merupakan keeksklusifan orang Tionghoa tersebut ternyata bisa pula ditemukan pada etnik lainnya. Pilihan kata-kata yang dipakai dalam suatu berita bukanlah kebetulan, tetapi juga secara ideologis menunjukkan pemaknaan terhadap fakta atau realitas.

Keempat, pers Indonesia menggambarkan suatu peristiwa yang melibatkan warga Tionghoa, seperti dalam pemberitaan kerusuhan Mei 1998, dengan tidak mendasarkan pada investigasi mendalam (indepth reporting) dan berasal dari dua belah pihak (cover both sides). Wartawan mengunakan sumber berita yang kebanyakan berasal dari pemerintah dan kalangan militer. Peristiwa tragedi perkosaan Mei 1998 misalnya, seolah ditutup-tutupi dan tidak pernah diinvestigasi secara mendalam sehingga benar-benar komprehensif untuk kemudian diturunkan menjadi laporan berita investigatif.

Beruntung, setelah reformasi bergulir, ruang ekspersi bagi etnik Tionghoa dibuka kembali. Setidaknya, semangat kebebasan menampilkan kembali identitas dan wacana tentang budaya etnik Tionghoa dalam pers Indonesia telah terbuka lebar. Tak hanya surat kabar, media lain pun berlomba-lomba memanfaatkan momen kebebasan terserbut.

Di dunia pertelevisian, dengan cepat Metro TV merebut peluang pasar di kalangan Tionghoa totok dengan menayangkan acara berita Metro Xinwen yang berbahasa Mandarin. Selain televisi, radio pun mengambil program serupa. Sebutlah Cakrawala, stasiun radio komersial di Jakarta yang menyiarkan program-program acara dalam bahasa Mandarin.

Perkembangan pers Tionghoa di Indonesia yang mengalami pasang surut sejak awal era kemerdekaan, pada awal era reformasi juga mulai menunjukkan gregetnya. Kilas balik sejarah mencatat, pembreidelan-pembereidelan terhadap pers Tionghoa dilakukan silih berganti oleh pemerintah Orde Lama. Puncaknya, ketika Orde Baru berkuasa mengantikan Orde Lama, pers Tionghoa benar-benar dimatikan. Tiga puluh dua tahun berikutnya, ketika momentum reformasi membawa dampak positif bagi kehidupan pers di Indonesia. Pers Tionghoa kembali muncul ke permukaan dan meramaikan khazanah kehidupan pers di tanah air.

Beberapa nama yang mewakili pers Tionghoa yang hidup pada masa reformasi di antaranya adalah majalah “Sinergi”,  tabloid dwibahasa “Mandarin Pos”, majalah “Suara Baru, dan koran “Glodok Standart” yang akhirnya berubah menjadi “Sinar Glodok”. Sayangnya, dalam perkembangan berikutnya, satu persatu pers Tionghoa gulung tikar karena tidak dikelola secara profesional, bahkan terkesan hanya mengikuti euforia kebebasan bermedia.

Dalam kelahiran kembali itu, pers Tionghoa menunjukkan karakter sebagai pers budaya. Jika media lain pada umumnya berlomba-lomba menampilkan berita, gosip, analisis, atau opini politik, pers Tionghoa tetap berkutat pada problem-problem budaya. Hal itu tergambar dari konsistensi pers Tionghoa menurunkan berita-berita tentang pelestarian tradisi leluhur. Kian terkikisnya apresiasi generasi muda Tionghoa terhadap nilai-nilai tradisi lebih menarik untuk dibahas daripada konflik politik atau persoalan SARA yang lebih nyata dampaknya bagi kehidupan mereka (Sudibyo, 2003).

Pers Tionghoa belum menjadi sarana yang efektif untuk menuangkan aspirasi politik warga Tionghoa. Pers Tionghoa justru terkesan menjadi media reuni bagi mereka yang rindu pada tradisi-tradisi lama yang semakin luntur oleh terpaan tradisi-tradisi baru. Namun demikian, berita bercorak politis sesekali tetap ditampilkan saat pers Tionghoa mempersoalkan politik diskriminasi dan rasialisme pemerintah Orde Baru yang telah menyudutkan keberadan mereka di Indonesia (Sudibyo, 2003).

Namun, sesering apapun suatu identitas budaya minoritas ditampilkan dalam media massa yang hanya diakses oleh minoritas yang sama, dalam hal ini minoritas Tionghoa, maka perjuangan meneguhkan identitas tersebut tidak akan banyak memberikan hasil karena pihak mayoritas yang memiliki “kuasa” tidak mengakui representasinya.

Seperti dikatakan James Lull (1998: 83-85), representasi identitas budaya dijalankan melalui media massa ketika orang-orang menggunakan tampilan simbolik, termasuk asosiasi-asosiasi ideologis dan budaya. Struktur otoritas dan peraturan yang mendasarinya berada dalam kekuasaan budaya. Kekuasaan budaya mencerminkan bagaimana dalam kehidupan sehari-hari yang terkondisikan, individu-individu atau kelompok-kelompok membangun dan menyatakan identitas serta aktivitas budaya mereka, dan bagaimana ungkapan serta perilaku itu mempengaruhi yang lain. Lull menambahkan, citra-citra simbolik mula-mula dikuatkan secara budaya yang kemudian diorganisir dan disajikan melalui media massa.

Sebagaimana konsekuensi logis tentang politisasi yang senantiasa mewarnai proses pencarian identitas, hal yang sama juga berlangsung melalui media massa. Politisasi identitas budaya di media massa menjelaskan bagaimana suatu kelompok membangun imaji budayanya, bagaimana suatu kelompok menggunakan media untuk mempertahankan eksistensinya, dan menafikan eksistensi identitas budaya kelompok lain lewat media. Dari proses kemudian memunculkan imaji mayoritas dan minoritas.

Perlakuan terhadap minoritas di media massa ditandai beberapa gejala: keterbatasan penyajian secara simbolik, kesalahan penggambaran, stereotip yang berlebihan, dan berbagai bentuk ungkapan menyimpang tentang minoritas yang akhirnya menimbulkan prasangka dan perlakuan diskriminatif dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah contoh tentang perlakuan dan prasangka terhadap kalangan minoritas di media massa dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Bernard Berelson dan Patricia Salter mengenai representasi orang-orang Amerika mayoritas dan minoritas dalam cerita fiksi majalah, selama akhir tahun 1930-an hingga awal 1940-an. Kesimpulan yang didapat dari penelitian yang menggunakan metode analisis isi itu menyatakan bahwa pelaku yang terlibat dalam cerita didominasi orang-orang Amerika berkulit putih, beragama Protestan, dan tanpa penyebutan leluhur asing. Kurang dari satu dari sepuluh pelaku adalah minoritas dan orang-orang asing berasal dari Anglo-Saxon dan Skandinavia. Sekitar satu dari sepuluh adalah kelompok orang-orang Yunani, golongan kulit hitam, orang-orang Timur, serta golongan minoritas asing lainnya (Wright, 1985: 155).

Pelaku dari kalangan minoritas dalam cerita tersebut cenderung digambarkan dengan stereotipe negatif. Berelson dan Salter mencatat bahwa di dalam cerita, meskipun kaum minoritas tidak dipandang rendah secara terang-terangan, bentuk halus dari diskriminasi dimunculkan lewat pencitraan tentang “perbedaan kelas kewarganegaran”. Namun seiring perjalanan waktu, penelitian tersebut dinilai tidak lagi akurat mengingat pada perkembangan selanjutnya, anggota kelompok minoritas di Amerika justru banyak memainkan peran dalam industri media massa.

Condry dalam suatu penelitian lain menyimpulkan bahwa keberadaan etnik minoritas di Amerika Serikat secara historis sangat kurang terwakili, bahkan tidak terwakili di televisi. Karakter minoritas etnik—apakah orang kulit hitam, orang Asia, orang Hispanik, atau penduduk asli Amerika tradisional (Indian) dilihat sebagai kurang bermatabat dan kurang positif daripada karakter orang kulit putih (Santrock, 2002: 276). Pada investigasi lain, potret tokoh kaum minoritas etnik diuji selama jam sibuk menonton televisi (pada hari-hari kerja jam 4 – 6 sore dan jam 7 – 11 malam). Hasilnya, persentase karakter orang kulit putih jauh melebihi persentase aktual orang kulit putih di Amerika Serikat. Persentase tokoh-tokoh orang kulit hitam, orang Asia, dan orang Hispanik jauh di bawah statistik jumlah penduduk. Karakter orang Hispanik khususnya, sangat kurang terwakili oleh televisi, yaitu hanya 0,6 persen, padahal populasi orang Hispanik di Amerika Serikat sebanyak 6,4 persen dari total penduduk (Santrock, 2002: 276).

Hasil riset mengenai repersentasi ras dan kelas sosial di media massa, terutama televisi di Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh Media Tenor International tahun 2001 juga menunjukkan bahwa warga Amerika berkulit putih menempati 92 persen dari total isi media massa, kulit hitam 7 persen, Latin dan Arab-Amerika 0,6 persen, serta Asia-Amerika 0,2 persen. Sebagai cacatan sensus tahun 2000 di negeri Paman Sam itu menunjukkan angka populasi warga AS adalah 69 kulit putih non-hispanik, 13 persen kulit putih hispanik, 12 persen kulit hitam dan 4 persen Asia. Mayoritas program televisi Amerika terutama berita didominasi oleh sumber-sumber kulit putih dan melalui peliputan yang berorientasi pada kepentingan mereka. Studi lain yang dilakukan Power Source seperti dilaporkan Majalah FAIR 2002 menunjukkan bahwa pada Juni 2002 sumber berita mengenai isu-isu rasial yang ditayangkan televisi Amerika didominasi oleh kulit putih sebagaimana dapat dilihat dalam tabel 1 berikut.

Tabel 1.  Sumber Berita di Televisi Amerika Serikat Menurut Kategori Rasial

Stasiun TV Kulit Puith Kulit Hitam Latin/ 

Hispanik

Asian- Amerika Arab-Amerika
ABC 92% 7% 0,5% 0,3% 0,5%
CBS 92% 7% 0,7% 0,3% 0,7%
NBC 92% 7% 0,6% 0,2% 0,6%

Sumber : Majalah Fair, Juni 2002

Larry Gross (dalam Liebes & curran, 1998: 89) memberikan gambaran tentang pembentukan imaji identitas budaya minoritas oleh media masa sebagai upaya perlakuan yang berbeda-beda terhadap kelompok minoritas tertentu sehingga memberikan efek berbeda bagi kelompok minoritas yang lain. Gross mengatakan, kelompok mayoritas selalu memiliki akses terbesar dan dominan dalam mereprentasikan budaya mereka, sementara kelompok minoritas hanya menerima sedikit ruang yang direpresentasikan dalam media massa.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

Tulisan ini merupakan satu bagian dari buku penulis berjudul Media, Kematian, dan Identitas Budaya Minoritas (2005).

Mendiskusikan Dampak Media dan Teknologi

Teknik Pengutipan artikel ini:

Yusuf, Iwan Awaluddin. “Mendiskusikan Dampak Media dan Teknologi”.  http://bincangmedia.wordpress.com/2010/05/05/mendiskusikan-dampak-media-dan-teknologi/, Tanggal akses)

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Dampak media (media effects) adalah perubahan kesadaran, sikap, emosi, atau tingkah laku yang merupakan hasil dari interaksi dengan media. Istilah tersebut sering digunakan untuk menjelaskan perubahan individu atau masyarakat yang disebabkan oleh terpaan media.

Perkembangan pemikiran dan teori tentang dampak media mempunyai sejarah alamiah karena dipengaruhi oleh setting waktu, tempat, faktor lingkungan, perubahan teknologi, peristiwa-peristiwa sejarah, kegiatan kelompok-kelompok penekan, para propagandis, kecenderungan opini publik, serta beragam penemuan-penemuan dan kecenderungan yang berkembang dalam kajian ilmu-ilmu sosial.

McQuail (2000: 417-421) mememetakan perkembangan pengetahuan mengenai riset media ke dalam empat tahap. Tahap pertama, all-power media. Pada fase pertama ini, media diyakini mempunyai kekuatan yang sangat berpengaruh dalam menentukan opini dan keyakinan, mengubah kebiasaan hidup (habits of life) dan menentukan perilaku sebagaimana ditentukan oleh pengontrol pesan atau media. Pandangan-pandangan ini tidak didasarkan pada investigasi ilmiah, tetapi lebih didasarkan pada observasi tentang popularitas media seperti koran, radio, dan film dalam mengintervensi banyak aspek kehidupan manusia dalam hubungan-hubungan publik. Penggunaan media oleh para propangandis dalam Perang Dunia I yang disponsori  negara-negara diktator dan rezim revolusioner yang di Rusia semakin menegaskan kuatnya pengaruh media pada saat itu.

Tahap kedua, pengujian teori media powerfull. Transisi ke arah penelitian empiris telah mendorong munculnya tahap kedua yang mulai memikirkan tentang dampak media. Penelitian semacam ini dimulai oleh riset literatur yang dilakukan atas Paine Fund Studies di Amerika pada awal tahun 1930-an. Studi ini memfokuskan pada pengaruh film terhadap anak-anak dan remaja. Studi-studi terpisah lainnya menyangkut dampak tipe-tipe pesan dan media yang berbeda, khususnya film atau program-program aktivitas kampanye. Studi-studi pada era ini dikonsentrasikan pada kemungkinan penggunaan film dan media yang lain untuk melakukan aktivitas komunikasi persuasif. Pada tahap ini, penelitian-penelitian yang menggunakan metode eksperimental telah mulai dilakukan seperti penelitian Hovland et.al (1950), Hughes (1950), Lazarsfeld et. al (1944), dan Berelson et.al. (1954) (McQuail, 2000: 418). Penelitian-penelitian semacam ini terus berlanjut ke dalam kemungkinan dampak buruk media terhadap anak-anak pada era tahun 1950-an. Kesimpulan yang dapat diambil dari perubahan-perubahan penelitian pada tahapan ini adalah seiring perkembangan metode penelitian, fakta, dan teori menyarankan adanya sejumlah variabel-variabel baru yang seharusnya dipikirkan atau diperhitungkan dalam membahas dampak media. Para peneliti mulai membedakan kemungkinan-kemungkinan dampak yang berbeda menurut karakteristik sosial dan psikologis; mereka mulai memperkenalkan sejumlah faktor yang berhubungan dengan dampak pengantara seperti kontak personal dan lingkungan, dan tipe-tipe motif seseorang dalam mengakes media. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa media massa tidak mempunyai dampak sama sekali terhadap audience.

Tahap ketiga, penemuan kembali kekuatan dampak media. Pada tahap ini, kesimpulan tahap sebelumnya yang mengatakan bahwa media tidak mempunyai dampak terhadap audience atau mempunyai dampak minimal telah mendapatkan tantangan. Salah satu faktor yang menjadi penyebab penolakan mengenai teori dampak minimal adalah munculnya televisi pada era 1950-an dan 1960-an sebagai sebuah medium yang mempunyai kekuatan atraktif dan dampak besar dalam kehidupan sosial. Penelitian awal mulai menggunakan suatu model yang dipinjam dari displin ilmu psikologi yang berusaha mencari hubungan antara tingkat pajanan media (media exposure) dengan ukuran-ukuran perubahan atau variasinya dengan sikap, pendapat, informasi atau perilaku, dan sejumlah  variabel pengantara. Pada tahap ini, telah terjadi pergeseran perhatian ke arah perubahan-perubahan jangka panjang dan kognisi dibandingkan dengan sikap, dampak, dan ke arah fenomena kolektif seperti pendapat, struktur keyakinan, ideologi, pola-pola budaya dan bentuk-bentuk institusional media (McQuail, 2000: 420). Penelitian-penelitian berikutnya mulai menaruh perhatian pada bagaimana media memproses dan menentukan isi pesan sebelum disampaikan ke audience.

Tahap keempatnegotiated media influence. Pada akhir 1970-an, muncul suatu pendekatan baru yang lebih dikenal dengan pendekatan konstruksi sosial. Pada dasarnya, pendekatan ini melibatkan pandangan media yang mempunyai pengaruh signifikan melalui konstruksi makna. Pendekatan konstruksi sosial menawarkan suatu  pandangan bahwa pengaruh media terhadap audiens melalui proses negosiasi ke dalam struktur pemaknaan personal, yang seringkali ditentukan oleh identifikasi kolektif. Makna dikonstruksi oleh penerima pesan itu sendiri. Proses mediasi ini melibatkan konteks sosial penerima pesan.

Diskusi mengenai dampak merupakan akibat dari apa yang dilakukan media, baik secara sengaja atau tidak sengaja. Berkaitan dengan tingkat dan jenis efek media, Klapper (1960, dalam McQuail, 1997) membedakan efek media ke dalam tiga jenis: conversion, minor change, dan reinforcement, yang secara berturut-turut merepresentasikan perubahan pendapat atau keyakinan menurut maksud komunikator; perubahan dalam bentuk atau intensitas kesadaran, keyakinan atau perilaku; dan peneguhan atas keyakinan yang telah ada, pendapat, atau pola-pola perilaku. Selain itu, dampak media juga dapat dibedakan ke dalam dampak yang bersifat kognitif, afektif, dan perilaku (konatif/behavioural).

Dampak media juga dapat dibedakan ke dalam tingkatan individu, kelompok atau organisasi, institusi sosial, keseluruhan masyarakat, dan budaya (McQuail, 2000: 423). Lebih lanjut, McQuail (2000: 424) membedakan jenis-jenis perubahan yang dipengaruhi media adalah sebagai berikut: media menyebabkan perubahan yang disengaja, media dapat menyebabkan perubahan yang tidak disengaja, media dapat menyebabkan perubahan minor (bentuk atau intensitas), media dapat memfasilitasi perubahan (sengaja ataupun tidak), memperkuat yang sudah ada (tanpa perubahan), dan mencegah perubahan.

Dimensi lain diskusi mengenai dampak media adalah menyangkut dampak media dalam jangka pendek (short-term effect) dan dampak jangka panjang (long-Term Effect). Pandangan-pandangan mengenai dampak jangka pendek ini meliputi tipe-tipe sebagai berikut: respons dan reaksi individu (individual response and reaction), media dan kekerasan, model dampak perilaku (a model of behavioural effect), dampak reaksi kolektif (collective reaction effects), kampanye, dan propaganda.

Dalam kaitan ini, diantara isu-isu yang berkembang dalam riset dampak media, isu mengenai dampak media terhadap perilaku agresif atau dampak media yang berkenaan dengan kekerasan dan perilaku agresif telah menjadi objek banyak sekali penelitian (McQuail, 2007: 434). Menurut McQuail, keyakinan yang sangat kuat mengenai adanya korelasi antara kekerasan dalam layar kaca dengan kekerasan aktual yang terjadi dalam masyarakat telah menjadi objek ribuan studi, tetapi tidak terdapat kesepakatan mengenai derajat pengaruh kekerasan dalam layar kaca terhadap kekerasan aktual dalam masyarakat.

Penelitian yang dilakukan oleh US Surgeon General pada akhir 1960-an menyimpulkan sebagai berikut (Lowery and Defleur, 1995 seperti dikutip McQuail, 2000:  434). Pertama, muatan program televisi dipenuhi dengan kekerasan. Kedua, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu bersinggungan dengan program televisi yang mengandung kekerasan. Ketiga, di atas semuanya, bukti-bukti mendukung hipotesis bahwa menonton program-program hiburan yang berbau kekerasan mempunyai kemungkinan meningkatkan perilaku agresif. Sementara itu, dampak jangka panjang berangkat dari pandangan bahwa komunikasi dalam ranah ekonomi dan pembangunan, secara sadar dapat digunakan untuk mempromosikan perubahan jangka panjang. Banyak fakta yang mendukung upaya-upaya setelah Perang Dunia Kedua untuk menggunakan media sebagai alat kampanye kemajuan teknis di bidang kesehatan dan pendidikan di negara-negara sedang berkembang, yang sering mengikuti model-model yang dikembangkan di pedesaan Amerika Serikat (Katz et.al., 1963, seperti dikutif McQuail, 2000: 450).

Menurut McQuail (1997), model-model dampak media jangka panjang ini menyangkut model-model difusi, distribusi pengetahuan, persebaran berita dan proses belajar dari berita (news diffusion and learning from news), framing effects, agenda-setting, knowledge gaps, perubahan jangka panjang yang tidak direncanakan, sosialisasi, pengonstruksian dan pendefinisian realitas, the spiral of silence, penanaman, dan media dan perubahan budaya, dan lain sebagainya.

Dalam konteks teknologi, dengan hadirnya internet misalnya, ada beberapa dampak yang patut dicatat. Pertama, salah satu pengaruh yang amat kuat dari munculnya komunikasi melalui internet adalah hilangnya diferensiasi sosial dan dengan itu menjadi tidak relevan lagi berbagai hierarki sosial. Hubungan sosial semakin ditentukan oleh kebebasan dan kepercayaan dan bukannya oleh pengekangan dan ketundukan kepada kekuasaan. Kedua, dengan adanya arus lalu lintas informasi melalui information superhighway, hampir tidak mungkin pula mengawasi akses setiap orang kepada informasi mengenai apa saja (Abrar, 2003).

Pada tataran individu, orang yang menggunakan internet akan mengalami realitas di luar apa yang dijalaninya sehari-hari. Pada titik tertentu orang-orang yang mengakses teknologi informasi dengan fasilitas komunikasi via internet misalnya, menjadi tidak peduli dengan tatanan moral, sistem nilai dan norma yang telah disepakati dalam masyarakat selama berabad-abad. Intinya tidak lagi peduli pada aturan yang ada. Belum lagi sikap individualisme yang makin meninggi makin ditunjang dengan sifat internet sebagai komunikasi interaktif yang tidak mengharuskan komunikasi pertemuan “fisik”.

Sebaliknya, di sisi lain, sejarah juga mencatat kontribusi positif internet. Masuknya lembaga pers dalam memanfaatkan internet untuk jurnalisme misalnya, telah membantu masyarakat dalam memanfaatkan teknologi ini secara maksimal. Internet mampu mewadahi teknologi cetak, radio dan televisi. Saat meletus Perang Teluk II contohnya, orang tidak lagi menghabiskan waktunya untuk menonton televisi, tetapi cukup mengikutinya via internet. Informasi yang ditampilkan tidak saja di-update setiap saat, tetapi juga lebih menarik dan lengkap dengan format teks, audio, dan audiovisual (Yusuf dan Supriyanto, Jurnal Komunikasi, 2007: 101).

Dengan semakin bertambahnya kemampuan internet dalam menyajikan tampilan atraktif dan kecepatan yang semakin tinggi, semakin banyak orang menjadikan internet tidak hanya untuk mencari informasi tetapi juga berbagai keperluan lain. Dari mencari jodoh, teman kencan, pekerjaan, beasiswa, hingga transaksi barang-barang ilegal. Berdasarkan sebuah penelitian, hampir 90% mahasiswa di Amerika  mencari informasi yang berkaitan dengan studi mereka melalui internet. Kondisi demikian telah menjadikan internet sebagai media komunikasi antar manusia di seluruh planet bumi ini, sehingga memunculkan komunitas-komunitas maya yang dikenal dengan istilah netizen, warga negara dunia maya yang melakukan berbagai interaksi, komunikasi, dan transaksi secara online (Yusuf, 2007: 178).

Dari sisi ilmu pengetahuan, khsususnya terkait dengan riset ilmiah, internet memberikan sumbangan yang sangat besar, terutama berkaitan dengan pengurangan personel pengambilan data, biaya untuk mengurangi perjalanan fisik, dan penghematan waktu. Di samping server-server yang menyediakan data sekunder, komunitas-komunitas dunia maya merupakan sumber penyedia responden untuk mendapatkan data primer dengan lebih cepat, mudah, dan biaya lebih murah.

Anak-anak dan remaja di bawah umur adalah golongan netter yang paling dikhawatikan menjadi korban penyalahgunaan internet. Dari masalah-masalah sederhana sampai persoalan serius yang berimplikasi pidana. Remaja pengakses internet sangat dimungkinkan secara tidak sengaja tersesat masuk ke situs-situs ”berbahaya”. Mereka mudah mendapatkan atau menemukan (sengaja maupun tidak) materi-materi yang tidak layak diakses, misalnya pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, ataupun hal-hal lain yang sifatnya menghasut untuk melakukan aktivitas negatif-ilegal.

Internet juga mengundang bahaya karena giat menjajakan kekerasan. Situs-situs yang bernuansa gelap, sadis dan berhubungan dengan penyimpangan seksual betebaran di dunia maya. Kekerasan yang ditampilkan bersifat simbolik sampai fisik, seperti teks dan gambar dari skala no blood (kekerasan tanpa darah) hingga ke penyiksaan menuju kematian. Banyak homepage khusus penyedia tayangan video yang menampilkan adegan kekerasan dan pembunuhan menyimpang. Foto-foto yang berisi kematian dan pembunuhan akibat perang juga banyak dicari orang lewat internet. Di Indonesia misalnya, saat terjadi peristiwa kerusuhan di Sampit atau rentetan tragedi DOM Aceh, terdapat situs-situs yang khusus memperlihatkan foto kepala terpenggal, usus manusia terburai, tubuh membusuk dikerubungi lalat dan foto-foto mengerikan lainnya.

Selain kekerasan, bahaya yang paling sering dikahwatirkan adalah soal pornografi. Jumlah pengakses konten pornografi online di internet dari hari ke hari semakin meningkat. Parahnya, ini terjadi di kalangan anak dan remaja. Setidaknya demikian hasil studi yang terungkap di Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan University of New Hampshire untuk National Center for Missing and Exploited Children membandingkan jumlah dan perilaku pengakses pornografi online pada tahun 1999-2000 dengan jumlah dan perilaku pengakses pornografi online 2005. Menurut hasil studi, jumlah pengakses pornografi online di kalangan anak remaja berusia 10-17 tahun meningkat 25% dari sebelumnya (Ardhi, http: //detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/06/time/142552/idnews/716867/idkanal/398)). Kenaikan tersebut terjadi karena taktik bisnis pornografi makin agresif. Makin canggihnya performa kecepatan komputer dan koneksi Internet dalam menangani gambar juga salah satu faktor penyebab peningkatan angka tersebut.

Masalah pengintimidasian seksual di internet juga terbukti makin meningkat. Tercatat 1 dari 10 orang mengalami pelecehan seksual secara online. Jumlah predator seksual yang mencoba mengeksploitasi anak-anak terus menanjak. Meski jumlah pengakses pornografi meningkat, menurut studi University of New Hampshire tersebut, kewaspadaan remaja AS terhadap ancaman internet makin baik. Terbukti mereka kini lebih berhati-hati berinternet. Mereka juga lebih jarang mengunjungi chatroom atau ngobrol dengan orang yang tidak dikenal (Ardhi, Ibid).

Situs-situs jaringan pertemanan seperti Friendster, Facebook,  dan Myspace yang notabene sebagian besar penggunanya adalah anak muda, belakangan berkembang menjadi sarana kejahatan seksual yang melibatkan anak di bawah umur. Menurut Myspace, saat ini diperkirakan ada sekitar 550.000 profil yang telah melakukan registrasi yang disinyalir pelaku kejahatan seksual di Amerika. Sudah banyak pelaku memangsa korban dengan awalnya mengaku ingin menjadi teman mereka. Yang menjadi korban biasanya anak berusia belasan tahun. Tragisnya, ini tidak hanya menimpa anak perempuan saja, bocah lelaki juga dijadikan sasaran untuk melampiaskan penyimpangan hasrat seksual pelaku .

Gejala yang sama juga terjadi di Asia. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh ABAC Poll Research Centre dari Assumption University – Thailand terhadap  1.303 responden remaja menunjukkan, lebih dari 10 persen pernah berhubungan seksual dengan orang-orang yang mereka temui di Internet. Survei juga menyimpulkan bahwa dua dari tiga orang responden mengaku selalu mengakses situs-situs porno. Demikian hasil penelitian yang dilakukan kepada anak muda berusia 15 hingga 24 tahun, yang dilansir monstersandcritics.com dan dikutip detikINET, Senin (12/2/2007). Penelitian yang dilakukan pada awal Februari ini juga mengungkapkan, 30 persen responden telah berkencan dengan orang yang mereka kenal di Internet. Tak hanya itu, 80 persen responden juga mengaku melakukan chatting dengan orang-orang asing di Internet. Hasil dari jajak pendapat penelitian ini juga menemukan bahwa 11,5 persen responden mengaku memiliki hubungan yang menjurus pada perilaku seksual dengan orang yang mereka kenal di internet. Persentase tersebut meningkat dibanding tahun lalu yang hanya mencapai 8,9 persen (Yusuf, 2007: 178).

Di antara berbagai pilihan dan kemungkinan dampak yang ditimbulkan sebagaimana dipaparkan di atas, kehidupan masyarakat modern tidak bisa dipisahkan dari kehadiran internet. Disadari atau tidak, internet telah menciptakan sebuah bentuk ketergantungan bagi penggunanya. Sekadar ilustrasi, hampir setengah dari pengguna internet di Amerika Serikat (AS) mengaku bergantung pada internet saat harus membuat keputusan penting dalam hidupnya. Contohnya, mencari perguruan tinggi untuk anggota keluarga mereka atau mencari tempat tinggal baru untuk menetap. Demikian hasil studi yang dilakukan sebuah grup nirlaba, Pew Internet and American Life Project. Survei ini digelar tahun 2006 dengan sampel 2.201 orang dewasa. Survei menunjukkan bahwa peran internet kian penting bagi kehidupan sehari-hari. Kurang lebih 45 persen pemakai internet, atau kira-kira 60 juta orang Amerika, mengatakan internet membantu mereka dalam membuat keputusan besar atau dalam menghadapi momen penting dalam hidup mereka selama dua tahun belakangan ini (Yusuf, 2007: 180).

[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

Roland Barthes dan Pembebasan Makna

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Tidak ada pemahaman tunggal atas suatu teks”, “.. pemaknaan teks bersifat otonom merupakan inti dari kebebasan yang memberi tempat bagi siapa saja untuk bersuara”. Demikian aksioma yang sering mengemuka dalam diskusi mengenai “pembacaan” atas suatu pesan. Kehadiran konsep ini sendiri tidak dapat dilepaskan dari sumbangan pemikiran Roland Barthes, seorang intelektual yang pernah mengembara dalam alam pemikiran eksistensialis, marxis, strukturalis, hingga post-strukturalis

Pandangan Barthes terkenal dengan sifatnya yang dinamis. Berbagai pergolakan dan kematangan intelektual membuatnya tidak fanatik terhadap satu pendekatan. Pada awalnya ia dikenal dengan kecenderungan strukturalis yang melihat dunia dan realitas sebagai kategori yang tersusun ajeg dan tertata menurut sistem tertentu. Karya-karya Barthes banyak menganut pada paham arbiter (tanda) dari Ferdinand de Saussure. Sebagai ahli semiotik di era 50-an dan 60-an, ia sepaham dengan Saussure bahwa bahasa merupakan dasar untuk memahami struktur sosial dan kehidupan budaya. Namun menjelang akhir hidupnya ia cenderung masuk pada pandangan poststrukturalis yang lebih cair. Barthes memandang bahwa proses pemaknaan tidak ada pada teks, tetapi ada pada diri masing-masing pembaca. Dikatakan oleh Barthes dalam esainya The Death of The Author bahwa ketika pengarang menulis karyanya, maka sebenarnya ia (pengarang) telah mati. Ia terpisah dari teksnya. Teks tersebut menjadi bukan miliknya lagi.

Penghapusan sang pengarang dimaksudkan untuk membebaskan teks dari pengaruh pengarang. Ada jarak antara pengarang dengan teks. Ketika teks itu terlahir, maka teks tersebut sudah sepenuhnya terpisah dari pengarangnya. Ada sifat temporal yang melekat pada kehadiran teks. Kesatuan teks berada pada kondisi aslinya, bukan pada tujuan di balik pembuatan teks itu sendiri. Dalam kaitan ini, pembaca dinisbatkan sebagai bukan dirinya yang sebenarnya. Ia adalah orang yang tengah membaca teks yang entah siapa pengarangnya, seperti dalam kutipan:“…The reader is the space on which all the quotations that make up a writing are inscribed without any of them lost; a text’s unity lies on its origin but its destination.

Ketika pengarang dihapuskan, pemaknaan teks menjadi bebas. Menyerahkan teks pada pengarang hanya akan membatasi kebebasan teks. Karena teks bersifat tidak terikat. Dengan kata lain, ia hanya sederetan abjad, simbol, atau tanda kosong yang tak berarti apa-apa. Teks dalam pendekatan Barthes terbuka terhadap segala kemungkinan. Konsekuensinya, pembaca teks berhadapan dengan banyak alternatif. Dan pada titik inilah tafsir monolitik menjadi cara menafsir yang tidak komprehensif karena pembaca berhadapan dengan pluralitas signifikansi.

Riwayat dan Karya

Roland Barthes lahir pada 12 November 1915 di Kota Cherbourg, Normandy. Barthes berasal dari golongan keluarga menengah Protestan yang ditinggal mati ayahnya saat ia berusia satu tahun. Ayahnya,seorang perwira angkatan laut terbunuh dalam tugas di North Sea. Sejak itu Ibunya-Enriette Barthes-, bibinya, dan neneknya mengajak pindah ke kota Bayonne, sebuah kota kecil di dekat Pantai Atlantik, sebelah barat daya Perancis. Di sana ia pertama kali mendapat pelajaran soal kebudayaan. Barthes kecil juga giat bermain musik, terutama piano dari bibinya. Ketika berumur sembilan tahun, ia pindah ke kota Paris mengikuti ibunya yang bekerja sebagai penjilid buku dengan gaji kecil.

Sepanjang tahun 1934-1947, ia menderita TBC sehingga mengharuskannya berobat ke Pyrenees. Dalam proses penyembuhan itulah Barthes banyak menghabiskan waktu dengan membaca.  Pada tahun 1962, Barthes telah memperoleh posisi di Ecole Pratique de Hautes Etudes sebagai dosen reguler. Di bulan Februari 1980, saat ia menyeberang jalan setelah keluar dari pertemuan makan siang dengan para politisi dan intelektual sosialis, Barthes ditabrak truk binatu di depan College de France. Empat minggu kemudian, di masa penyembuhannya, ia meninggal dunia.

Barthes adalah sosok ilmuwan yang produktif menulis. Karya-karya Barthes mencakup banyak bidang, di antaranya teori-teori semiotik, esai-esai tentang kritik sastra, sejarah, catatan perjalanan, hingga psikobiografi. Berbagai buku dan kumpulan tulisan Barthes di antaranya: A Barthes Reader, Camera Lucida, Critical Essays, The Eiffel Tower and other Mythologies, Elements of Semiology, The Empire of the Signs, The Fashion System, The Grain of the Voice, Image-Music-Text, Incidents, A Lover’s Discourse, Mythologies, New Critical Essays, The Pleasure of the Text, The Responsibility of Forms, The Rustle of Language, Sade/Fourier/Loyola, The Semiotic Challenge, S/Z, Writing Degree Zero, Michelet par Lui-Meme (1952),The Photogrphic Message in Barthes (1971), The Rethoric of the Image in Barthes (1975), The Third Meaning in Barthes (1977), Roland Barthes par Roland Barthes (1975), Plaisir du Texte (1973), de I’Ecriture (1952), dan yang paling kontroversial hingga melambungkan namanya; Suracine (1963). Pada buku yang disebutkan terakhir inilah Barthes menggagas sebuah pendekatan baru yang diberi nama nouvelle critique (kritik sastra baru).


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia.

Tulisan ini dimuat di Newsletter Polysemia, Edisi 3/Tahun I, Juli  2006.