Menyelami Dunia Superhero Lewat Kajian Komunikasi

Gundala, Godam, dan Carok                             sumber gambar: http://savetha.wordpress.com/image/indonesian-superhero/

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Setiap generasi dari lintas zaman pasti memiliki figur superhero. Imaji superhero telah menjadi bagian dari perjalanan cerita hidup masyarakat di berbagai belahan dunia. Mitos dan legenda tentang manusia super sudah lama direproduksi secara tradisional melalui media tutur dan tulis. Pada era modern, dongeng superhero hadir melalui berbagai bentuk budaya populer. Dalam ranah fiksi, banyak cerita bertema superhero yang seolah-olah tak habis-habis diangkat ke dalam komik, film, sinetron, game, hingga teater. Mulai dari genre action, horor, drama, komedi, sampai film dewasa berkategori XXX dengan tema parodi tokoh superhero. Dengan berbagai lakon, secara konsisten superhero ditampilkan sebagai sosok klise manusia luar-biasa dengan berbagai kelebihan “supra human” yang mendukung tugasnya  “membela kebenaran”.

Kehadiran superhero terus berlanjut karena didukung oleh media yang sarat dengan inovasi teknologi. Inilah yang membuat superhero menjadi lebih hidup, lebih menarik, dan semakin membuka ruang berkesenian baru yang eksploratif karena sifatnya yang disenangi oleh semua kalangan. Namun, industrialisasi dan komersialisasi superhero sebagai produk budaya populer dituding membawa nilai-nilai buruk yang berupa kekerasan, pornografi, bahkan ideologi tertentu. Anggapan ini tidaklah berlebihan karena dalam visualisasi komik, kartun, game, atau film superhero nyaris tak pernah absen adegan perkelahian yang kadang ditampilkan sampai berdarah-darah. Belum lagi dialog yang diwarnai makian dan kata-kata kasar. Dalam beberapa cerita superhero juga kerap terpampang gambar adegan percintaan yang vulgar atau aneka kostum yang terlampau ketat .

Di sinilah superhero kemudian hadir sebagai arena yang lebih luas, tidak semata sebagai penyalur hasrat fantasi dan mimpi, melainkan membawa pemujanya ke dalam ruang-ruang imajinasi, ruang pembebasan dari dunia nyata yang penuh keterbatasan ke dalam dunia dan identitas baru yang nyaris tanpa batas tentang ide-ide kebebasan, keadilan, dan segala rupa bentuk hitam putih kebenaran dan kejahatan yang akhirnya kebenaran versi pencipta dan pemuja si superherolah yang selalu menang. Superhero akhirnya menjadi ruang aneka kepentingan, tak hanya imaji dan fantasi, melainkan ideologisasi nilai-nilai. Sebutlah tentang westernisasi, amerikanisasi, pemujaan maskulinitas, strereotip gender, dan berbagai propaganda lainnya yang menyertai sosok superhero, di balik nilai-nilai universal yang selalu ditonjolkan seperti  kebenaran akan selalu menang, kewajiban membela yang lemah, kekuatan/kekuasaaan besar memiliki tanggung jawab besar, dan lain-lain.

Dalam kajian komunikasi, eksistensi superhero sama tuanya dengan sejarah manusia dan ragam pesan komunikasi itu sendiri. Perubahan karakteristik media yang akhirnya membentuk dinamika superhero ke dalam aneka produk pesan dengan inti tujuan yang sama: menjual imaji dan fantasi. Berangkat dari titik ini, banyak dimensi yang bisa diangkat sebagai fokus kajian, misalnya tentang transformasi superhero komik yang kini banyak ditampilkan dalam sinema Hollywood. Di luar Amerika, muncul budaya tanding atas konspirasi kedigdayaan superhero Amerika. Superhero-superhero lokal pun bermunculan, sebagian lahir orisinil dari nilai lokal, sebagian lagi merupakan transformasi  mentah dari karakteristik superhero Amerika yang diadaptasi dengan citarasa lokal. Di Indonesia misalnya, Spiderman memunculkan banyak epigon. Paling terkenal adalah Laba-laba Merah, Kala Maut, dan Kawa Hijau. Tak hanya Spiderman, Spiderwoman megalami nasib serupa, bernama Laba-laba Mirah. Superman sebagai superhero sejuta umat dimodifikasi menjadi Godam, Wonderwoman diadaptasi menjadi Sri Asih, Flash menjadi Gundala, Batman menjadi Kalong, dan masih banyak lagi superhero lokal hasil modifikasi lainnya.

Kehadiran superhero juga bisa dilihat dari bermacam teori kontemporer seperti posmodernisme, psikoanalisis, relasi gender, politik identitas, dan sebagainya. Dari kajian ekonomi politik, diskusi tentang rahim superhero penguasa dunia seperti, Marvel, DC Comics, atau Disney menarik untuk dibedah sebagai bagian dari emporium superhero dunia.

Tokoh-tokoh dan karaketristik superhero pun bisa dilihat sebagai bagian dari perwujudan  dualitas ego, yakni identitas bertopeng/menyamar atau tanpa topeng/tidak menyamar. Misi pribadi  superhero umumnya klise, antara lain menuntut balas dengan dendam masa lalu yang kelam, atau menjadi superhero karena dikirim dari planet lain, dan banyak pula superhero yang lahir dari kecelakaan sehingga bermutasi memiliki kekuatan super.

Dari sisi audiens, bisa dikembangnkan berbagai macam kajian, seperti persepsi dan resepsi tentang superhero di mata pemujanya, dampak menonton tayangan superhero di kalangan anak-anak, dan sebagainya. Tingkah polah penggemar (fanboy) superhero sendiri juga dapat dielaborasi dari banyak sisi, misalnya bagaimana memorabilia superhero sebagai produk budaya populer begitu digemari sepanjang masa. Walhasil aneka merchandise dan action figures superhero terus diproduksi dan tentu saja mendatangkan keuntungan berlimpah bagi produsennya. Selain itu, banyak komunitas superhero yang umumnya beranggota orang-orang dewasa sehingga sekali lagi mematahkan mitos bahwa superhero adalah dunia anak-anak. Sekarang ini di Amerika bahkan muncul perkumpulan “real superhero” yang terobsesi dengan keheroan tokoh idolanya, lalu melakukan kegiatan sosial membantu sesama di dunia nyata sambil mengenakan kostum ala superhero. Menarik bukan?

Lalu bagaimana dengan kajian komunikasi superhero di Indonesia? Berbagai kajian bisa ditawarkan seperti genalogi pelacakan sejarah komik dan cerita silat Indonesia, yang banyak disinyalir bermuara dari legenda wayang. Awalnya, teknologi cetak sederhana  memunculkan tokoh-tokoh wayang melalui gambar umbul (gambar cap) yang kemudian dijadikan bonus dalam kotak rokok. Superhero lokal dengan karakter tokoh-tokoh pewayangan sangat digemari pada masa itu sampai akhirnya superhero luar masuk dan mengalahkan pamor superhero lokal. Superhero limpor yang lebih canggih diadaptasi mentah-mentah ke dalam versi lokal. Pada tahun 90-an muncul superhero seumur jagung yang sempat populer di televisi, seperti Saras 008 dan Panji Manusia Millenium. Berbagai upaya membumikan superhero lokal masa lalu tampaknya selalu berujung tiarap karena gempuran superhero impor sangat massif sehingga lebih melekat di benak anak-anak generasi sekarang.


1)  Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA), Yogyakarta.

Titik Balik Era Telekomunikasi Modern

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Era keemasan telekomunikasi tradisional yang ditandai penggunaan asap, lampu, surat/pos, bahkan kentongan berakhir ketika pada 24 Mei 1844 F.B Morse berhasil mengirimkan pesannya dari Baltimore ke Washington DC melalui telegraf. Periode ini  menandai oleh apa yang disebut Everett M Rogers (1986: 25) sebagai Era Telekomunikasi. Sebelumnya, pesan semacam ini selalu dibawa oleh kurir yang kecepatannya sangat tergantung pada kendaraan yang ditumpangi. Penemuan ini semakin berkembang saat Alexander Graham Bell secara tidak sengaja berhasil membuat eksperimen pengiriman suara dari satu ruangan ke ruangan lain di laboratorium pada 1876.

Keberhasilkan Morse dan Graham Bell diikuti penemuan telegraf oleh Guiglielmo Marconi pada 1896. Pada tanggal 21 Desember 1901, Marconi berhasil mengirimkan pesan gelombanng radio melintasi Lautan Atlantik. Digabungkan dengan penemuan telegraf yang memanfaatkan gelombang radio dan kode morse, teknologi komunikasi banyak digunakan di lingkungan kelautan (maritim), terutama untuk mengirimkan pesan antara kapal yang berada di laut dan saluran komunikasi di pantai/darat. Teknologi dasar telegraf dengan kode morse ini kemudian terus dikembangkan lebih lanjut dan pada gilirnnya nanti menjadi cikal bakal penemuan telepon, radio, bahkan internet.

Telepon menjadi ujung tombak bagi pengembangan infrastruktur telekomunikasi. Awalnya telepon sangat terbatas daya jangkau, konektivitasnya, serta tidak mudah dioperasikan. Infrastruktur telepon yang kompleks dan rumit ini dari waktu ke waktu terus-menerus dikembangkan dengan memanfaatkan gelombang mikro, satelit, dan transmisi sistem fiber-optik. Puncak dari pengembangan teknologi telepon di abad 19 adalah penemuan sistem digital dan pengembangan teknologi telepon bergerak /mobile yang melahirkan perangkat-perangkat digital seperti mobile phone, pager, dan telepon selular. Dalam perkembangan mutakhir, generasi kedua dari telepon seluler ini sudah sepenuhnya menggunakan sitem digital.

Sementara itu, untuk infrastruktur internet, penemuan TCP (Transfer Communication Protocol) dan IP (Internet Protocol) sebagai protokol standar resmi memungkinkan pengembangan lebih lanjut internet dan teknologi yang mendukungnya. Tahun 1984, jumlah host pada jaringan internet mencapai lebih dari 1.000 titik. Host-pun berkembang menjadi DNS (Domain Name Sytem) sebagai standardisasi nama domain dan menggantikan fungsi tabel host. Jumlah di atas pun terus berkembang sehingga pada tahun 1987 telah melewati 10.000 titik jaringan (Wahyono, 2006: 133). Sebelumnya, pada periode tahun 70-an, jaringan komputer biasanya hanya terdapat di perusahaan-perusahaan besar. Jaringan komputer tersebut saling menghubungkan setiap departemendan setiap cabang ke sebuah pusat pengendalian (central control point). Pada masa itu pengertian network security juga sudah ada, namun fokus utamanya hanya untuk kebutuhan para user di dalam network itu sendiri (intranet) guna meminimalkan tingkat risiko pengamanan (security risk).

Dengan melihat platform infrastruktur komunikasi, sistem informasi yang berbasis teknologi komputer (computer based information system), maka infrastruktur komunikasi pada hakekatnya mempunyai fungsi-fungsi Input, Process, Output, dan Strorage, yang paling tidak terdiri atas 5 komponen penting, yakni; hardware, software, procedure, brainware dan content dari informasi. Semua komponen itu harus berkerja dengan baik itu dan saling terintegrasi agar dapat melakukan fungsi-fungsi sebagaimana yang diharapkan. Data sebagai input untuk menghasilkan suatu informasi yang berdaya guna ditentukan oleh kehandalan brainware dalam menciptakan prosedur yang selanjutnya akan dikonkritkan dengan kehadiran software yang sesuai agar hardware dapat bekerja untuk mengolah dan menampilkan informasi sebagaimana yang ditentukan atau diharapkan (Wahyono, 2006: 133).

Selanjutnya agar dapat berkomunikasi dengan komputer yang lain, maka harus berbentuk satu bahasa yang pembangunan jaringan kerjanya harus sesuai dengan protokol komunikasi yang dipakai oleh semua pihak, seperti Electronic Data Interchange/EDI (proprietary system) dan Internet protocol (open system). Karena sistem tersebut saling terintegrasi dan terhubung secara online, maka hubungan komunikasinya menjadi bersifat real-time dan interaktif (Wahyono, 2006: 134).

Teknologi Telekomunikasi di Indonesia

Sejak Amerika Serikat meluncurkan ‘The National Infrastructure Information’-nya pada tahun 1991, banyak negara industri lain di dunia bergegas menyusul dengan meluncurkan kebijakan-kebijakan infrastruktur komunikasinya. Dalam kurun waktu lima tahun setelah itu, negara-negara Eropa seperti Perancis, Denmark, Inggris, Jerman, dan lainnya merancang dan mempublikasikan kebijakan-kebijakan superhighways informasi mereka. Inggris menamai programnya dengan ‘The Information Society Initiative’ dan Jerman ‘The Info 2000’. Di Asia, Jepang menampilkan kebijakan serupa pada tahun 1994 (Yuliar, dkk, 2001: 162-163).

Tak lama kemudian, yakni tahun 1996, negara-negara di wilayah Asia Tenggara pun tidak mau ketinggalan meluncurkan kebijakan-kebijakan infrastruktur komunikasi- informasi mereka, seperti Filipina dengan ‘Tiger’, Malaysia dengan ‘Multimedia Super Coridor’ dan Singapura dengan ‘Singapore-ONE’. Pada awal tahun 1997, Indonesia meluncurkan kebijakan infrastruktur superhighways informasi yang diberi nama ‘Nusantara 21’, yang selanjutnya dikuatkan dengan dikeluarkannya Keppres No. 30 tahun 1997 mengenai Pembentukan Tim Koordinasi Telematika Indonesia, yang bertugas mengkoordinasikan pengembangan pembangunan dan pemanfaatan telematika di Indonesia (Yuliar, dkk, 2001: 162-163)

Namun demikian, menurut Yuliar, dkk (2001: 172), kebijakan infrastruktur dalam proyek ‘Nusantara 21’ masih dipengaruhi kepentingan pemerintah, seperti dicerminkan dari hubungannya dengan kebijakan pertahanan dan keamanan, persatuan dan kesatuan Indonesia, ketahanan nasional, dan Wawasan Nusantara. Begitu pula peran pemerintah masih sangat dominan melebihi pihak-pihak lain, misalnya swasta dan masyarakat, dengan adanya Tim Koordinasi Telematika Indonesia, berdasarkan Keputusan Presiden No.30/1997, yang melibatkan 14 menterinya, yaitu 1 menteri koordinator, 8 menteri departemen, dan 5 menteri negara, namun tidak melibatkan pihak-pihak di luar pemerintahan. Dengan demikian ‘Nusantara 21’ mencerminkan warna sentralisasi yang masih sangat kuat dan nuansa demokratisasi kurang diperhatikan. Akibatnya visi ‘Nusantara 21’ yang awalnya dikenalkan secara top down sebagai simbol yang mengemas kerangka pembangunan infrastruktur pemerintah Orde Baru tersebut lengser mengikuti lengsernya pemerintahan Orde Baru. Selain itu krisis ekonomi, sosial, dan politik pada tahun 1997 serta bangkitnya semangat otonomi daerah mengikis proyek ‘Nusantara 21’ yang dinilai sangat kental bernuansa sentralistik.

Secara konseptual, ‘Nusantara 21’ adalah sebuah visi nasional yang memperjuangakan bsnagsa Indonesia untuk memasuki kancah persaingan ekonomi global di abad 21. Sebagai kebijakan, infrastruktur informasi ‘Nusantara 21’ tidak telepas dari visi Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, serta pertahanan dan keamanan, yang telah muncul sejak adanya konsep satelit telekomunikasi Palapa 16 Agustus 1976. Bahkan ‘Nusantara 21’ lebih terlihat sebagai pemutakhiran dari proyek Palapa, dengan tetap menggunakan pendekatan pada nilai-nilai pemersatuan seluruh Nusantara sebagai negara kepulauan. Dengan demikian, secara paradigmatis, tidak ada sesuatu yang relatif baru dari proyek ‘Nusantara 21’ bagi pembangunan infrastruktur komunikasi Indonesia dibanding proyek satelit palapa sebelumnya.

Dari sisi teknologi, sebelum satelit Palapa mengorbit, Indonesia hanya mengenal telekomunikasi yang bersifat teresterial, yakni yang jangkauannya masih dibatasi oleh lautan. Telekomunikasi seperti ini tidak bisa menjangkau pulau-pulau, kecuali melalui penggunaan SKKL (Saluran Komunikasi Kabel Laut). Tetapi sistem SKKL itupun masih mahal dan sulit untuk dipergunakan. Setelah satelit Palapa mengorbit, jangkauan telekomunikasi Indonesia dapat menjangkau seluruh nusantara, kecuali beberapa daerah blank spot. Satelit Palapa yang diluncurkan waktu itu tidak hanya dapat digunakan untuk telepon, namun juga dapat dimanfaatkan untuk pengiriman faksimili, telex, telegram, videotext, dan berbagai informasi dalam bentuk lain, termasuk di bidang penyiaran (broadcasting), serta sistem cetak jarak jauh bagi suratkabar. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang dimuali dari peluncuran Satelit Palapa berdampak positif  bagi penanaman investasi asing. Sebelumnya pada inverstor enggan melirik Indonesia karena buruknya infrastruktur telekomunikasi yang ada di tanah air.

Satelit-satelit Komunikasi Indonesia

No

Nama

Waktu Peluncuran

Jumlah Transponder

 Pesawat Luncur

Perkiraan Usia (Tahun)

1.

Palapa A-1

08-07-1976

12

Delta 2914

7

2.

Palapa A-2

10-03-1977

12

Delta 2914

7

3.

Palapa B-1

19-06-1983

24

Challenger

8

4.

Palapa B-2

06-02-1984

24

Challenger

8

5.

Palapa B-2P

20-03-1990

24

Delta 3920

8

6.

Palapa B-2R

20-03-1990

24

Delta 6925-8

8

7.

Palapa B-4

07-05-1992

24

Delta 7925

11

8.

Palapa C-1

01-02-1996

34

Atlas 2 AS

14

9.

Palapa C-2

15-05-1996

36

Ariane 144 L

14

10.

Palapa D-1

31-08-2009

40

Chinese long march 3B

10*

11.

Telkom-1

13-08-1999

36

Ariane

15

12.

Telkom-2

17-11-2005

24

Ariane 5

15

sumber: http://masdiisya.wordpress.com diolah dr berbagai sumber

Di berbagai belahan dunia, munculnya teknologi broadband memudahkan orang mengakses internet di mana saja dengan teknologi mobile. Bila teknologi generasi pertama/1G yaitu NMT (Nordic Mobile Telephony) dan AMPS (Advanced Mobile Phone System) yang muncul pada awal 1990-an sekadar melampaui keterbatasan fungsi telepon yang statis menjadi dinamis, serta hanya menampilkan suara, maka pada teknologi generasi kedua/2G, GSM  (Global System for Mobile) yang bergerak pada pertengahan dekade 1990-an, teknologi seluler tidak hanya mampu menjadi wahana tukar informasi dalam bentuk suara, tetapi juga data yang berupa teks dan gambar (SMS dan MMS). Karena murah, akses teknologi mobile generasi kedua ini berkembang pesat di Indonesia, sehingga memasuki 2000-an, handphone menjadi perangkat hidup (gadget) sehari-hari.

Sejak tahun 2006, masyarakat di Indonesia sudah bisa menikmati layanan audio-visual yang lebih canggih dengan teknologi generasi ketiga (3G). Ada juga pilihan koneksi internet ke aplikasi seluler dengan sistem UMTS, WiFi, dan WiMAX (Worlwide interoperability for Microwave Access). Aplikasi teknologi terbaru berkaitan dengan kecepatan akses sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa jaringan operator seluler antara lain berupa jaringan cepat yang dikenal dengan High-Speed Downlik Packet Access (HSDPA) atau sering disebut dengan 3,5G; yaitu generasi yang merupakan penyempurnaan dari 3G. Terakhir, tidak lama lagi, vendor maupun operator seluler siap dengan teknologi Next Generation Network (NGN) atau 4G. Pada babakan inilah apa yang disebut konvergensi media akan mencapai titik maksimal. Lewat segenggam handset, orang di berbagai penjuru dunia bisa mengakses informasi secara cepat dan lengkap sesuai kebutuhan (Yusuf dan Supriyanto, Jurnal Komunikasi UII, Volume 1, No. 2, April 2007).

Perkembangan lebih lanjut dari teknologi 4G ini adalah revolusi WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) menjadi LTE (Long Term Evolution) dan revolusi EV-DO (Evolution for Data Only) menjadi UMB (Ultra Mobile Broadband). Pada awalnya LTE dan UMB dijadwalkan masih cukup lama untukmmulai diimplementasikan, mungkin akan lebih cepat dengan kemunculan WiMAX (Worlwide interoperability for Microwave Access) yang memiliki kemampuan seperti halnya 4G (Djamili, Kompas, 7 April 2008).

Bagi teknologi 3G, WiMAX mobile bisa dikatakan sebagai suatu ancaman. Dengan kemampuan layanan komunikasi data yang lebih cepat dari 3G yang ada saat ini,  WiMAX mobile menawarkan kinerja yang lebih baik penggunanya. Di lain sisi jika layanan panggilan suara dengan teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol) diintegrasikan melalui WiMAX, diprediksi akan memicu persaingan ketat antara 3G dan WiMAX. Dalam ketersediaan teknologi, saat ini teknologi LTE maupun UMB –sebagai revolusi secara alamiah teknologi 3G—memiliki keterlambatan ketersediaan dibanding teknologi WiMAX (Djamili, Kompas, 7 April 2008).

Menurut Djamili (Kompas, 7 April 2008) Kemunculan WiMAX di Indonesia semakin dekat dengan ditandatanganinya peraturan mengenai aspek persyaratan teknis untuk sistem BWA di pita frekuensi 2,3 GHz oleh Dirjen Postel pada 26 Februari 2008. Peraturan ini tentunya akan menjadi acuan dalam dokumen lelang BWA yang dijadwalkan pada tahun 2008 ini. Meksipun tidak disebutkan secara spesifik bahwa pita frekuensi ini merupakan alokasi untuk teknologi WiMAX, namun dalam siaran pers disebutkan bahwa Dirjen Postel bersama-sama dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi membuat program penelitian perngkat radio WiMAX di frekuensi 2,3 GHz sehingga kemungkinan besar teknologi WiMAX akan diimplementasikan.

Lebih lanjut, Djamili (Kompas, 7 April 2008) menyebutkan, WiMAX memiliki kemampuan memberikan layanan koneksi ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) seperti layanan Telkom Speedy tetapi melalui jaringan nirkabel, sehingga berpotensi menjadi alternatif layanan bagi masyarakat dan bagi daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan telepon. Selain itu, WiMAX memiliki kemampuan seperti sistem seluler (mobility) sehingga dapat memberi layanan seperti 3G saat ini.

Operator Telekomunikasi di Indonesia

Di Indonesia bisnis telepon akan terus meningkat meningat penetrasi pasar masih sangat luas untuk dikembangkan. Pertumbuhan penggunan selular (GSM) diperkirakan telah mencapai angka lebih dari 150 juta pelanggan, yang berarti setengah dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 240 juta. Hingga saat ini, pemain-pemain industri selular terus bertambah banyak jumlahnya, meskipun masih dimonopoli oleh operator besar, seperti PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Excelcomindo Pratama (XL), PT Telekomunikasi Indonesia Seluler (Telkomsel), PT Indosat, PT Bakrie Telecom, PT Hutchinson, PT Mobile-8, dan PT Smart Telecom. Di tengah persaingan ketat, mereka tidak hanya memberi layanan yang menjawab kebutuhan berkomunikasi, namun mulai merambah ke bisnis content (isi), seperti ringtone, I-ring, wallpaper, game, dan sebagainya. [Iwan Awaluddin Yusuf]


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta

Memotret Sejarah Industri Musik Rekaman

sumber gambar: http://www.m.usik.us

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Fakta sejarah mencatat, pada awalnya musik berkembang melalui upacara adat/keagamaan sebagai instrumen latar dalam proses ritual. Drum yang kita kenal dan dijual bebas saat ini awalnya adalah salah satu alat yang digunakan dalam ritual keagamaan di Afrika. Dalam perkembangannya industrialiasi musik mengubah fungsi musik menjadi panggung hiburan dengan segala hiruk-pikuk dan ornamennya.

Perkembangan industri musik di kawasan Eropa dan Amerika sebenarnya dimulai dari penjualan tulisan lirik lagu dan pencetakan sheet musik (notasi). Perusahaan paling tersohor kala itu adalah ”Tin Pan Alley” yang memproduksi notasi musik untuk konsumsi para musisi dan penyanyi terkenal.

Selama akhir tahun 1800-an sampai dengan awal tahun 1900-an, berkembang aktivitas re-produced music dengan menggunakan perlengkapan mekanik berbentuk music box/Nickelodeons untuk konsumsi publik. Pada tahun 1877 Thomas Edison menemukan teknologi rekaman akustik. Ia berhasil membuat phonograf (terbuat dari silinder yang diputar) dan berfungsi sebagai alat untuk memainkan musik rekaman. Beberapa tahun kemudian, yakni tahun 1882, Emile Berliner menyempurnakannya dengan model baru yang diberinama gramophone (seperti halnya phonograf tapi berbentuk flatdisk). Pada tahun 1890 Lippincot memulai penggunaan koin untuk mengoperasikan phonograf di Penny Arcades (sebuah arena hiburan komersial).

Tahun 1906 Victor Talking Machine Company memperkenalkan phonograf yang lebih sederhana sehingga dapat dinikmati di rumah-rumah. Salah satu merek phonograf yang paling populer kala itu adalah “Victrola”. Phonograf berkembang pesat dan menjadi produk massal. Pada akhir Perang Dunia II, lebih dari 2 juta phonograf jenis ini laku setiap tahun. Rekor penjualan terjadi pada kurun waktu 5 tahun, yakni tahun 1914 dengan penjualan 23 juta unit menjadi 107 juta unit pada tahun 1919.

Setelah Perang Dunia II, industri musik Amerika diramaikan jenis kelahiran musik baru yang sangat berpengaruh, yakni musik rock. Rock merupakan musik populer di Amerika yang merefleksikan pencampuran budaya di negara itu. Rock, khususnya jenis rock ‘n roll dianggap mampu menekan perbedaan/kesenjangan selera muda dan tua (isu di tahun 1950-an). Rock adalah musik yang menyatukan berbagai genre musik sebelumnya, yakni: Rhytm & Blues (R&B) yang dikenal sebagai musik rakyat, musiknya orang kulit hitam, dan kental akan isu ras; Country & Western (C&W) yang berbasis pada gitar dengan topik lagu berkisar pada kmiskinan, kerasnya hidup, cerita tentang kesedihan, dan sebagainya; White Popular (POP) dicirikan oleh musik/lirik yang sentimental. Musik POP seringkali diidentifikasikan dengan simbol sex, uang, kekuasaaan, status, dsb; serta Jazz yang dikenal sebagai musik dengan bercitarasa tinggi dan kaya akan improvisasi.

Jika dipetakan, perkembangan dan kemajuan yang mendorong tumbuhnya industri musik di Amerika dapat disederhanakan dengan titik tonggak sejarah penting sebagai berikut:

Pertama, masa penemuan, eksperimentasi dan eksploitasi, yang berlangsung pada akhir tahun 1800-an sampai Awal tahun 1900-an. Ditandai dengan beberapa persitiwa:

  • Penemuan awal yang menjadi cikal bakal recorded music. Di antaranya phonograf, monograf, gramofon, dsb. Temuan ini kemudian diproduksi massal dan menjadi konsumsi publik.
  • Ditemukannya electriomagnetic recording dan diproduksi secara massal oleh Minnesota Mining and Manufacturing Company (3M).
  • Dikembangkan record & record player. Dalam hal ini Peter Goldmark memperkenalkan microgroove 33 1/3 rpm long playrecord yang mampu menyajikan musik selama 25 menit.
  • Dikenalnya marketing procedur. Di masa ini dikenal adanya konsep straight line marketing system yang merangkaikan kepentingan manufaktur ,distributor, retailer, dan consumer. Di era ini pun semakin disadari pentingnya kontrol sehubungan dengan penyanyi, musisi, studio, dan manufaktur untuk menghasilkan rekaman yang berkualitas.
  • Lahirnya aliran musik rock yang sangat luas dinimkati masyarakat, menyebabkan animo terhadap industri rekaman semakin besar.

Kedua, pada pertengahan tahun 1960-an, industri musik pun masih cukup melambung tinggi. Hal ini didukung oleh beberapa faktor:

  • Penemuan FM Radio menyebabkan kualitas dan daya jangkau pemutaran musik semakin luas. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya penjualan kaset.
  • Keuntungan yang besar dalam bisnis musik menyebabkan pengusaha rekaman berlomba-lomba menciptakan “bintang” dengan suatu rekayasa kerjasama.
  • Perkembangan musik kala itu bermakna lebih dalam karena menyangkut keterlibatan sikap budaya (cultural involvement). Contoh: musik rock merupakan bagian yang cukup vital dalam menyampaikan opini tentang anti perang dan merefleksikan realitas politik/penyimpangan budaya.

Ketiga, Pada tahun 1970-an saat Amerika dilanda krisis ekonomi, perkembangan bisnis musik pun mengalami berbagai hambatan. Semuanya dapat berjalan normal kembali karena terobosan, kreativitas, dan teknologi yang dikembangkan dalam industri rekaman. Salah satu yang menonjol adalah Music Video yang berkembang di tahun 1983. Michael Jackson menjadi ikon perkembangan industri musik kala itu. Kehadiran Music Television (MTV) yang dirilis pada tahun 1981 juga telah membawa pengaruh besar pada perkembangan music recording dewasa ini. Pengaruh MTV sebagai barometer musik dunia mau tak mau mempengaruhi tren musik bagi masyarkat, terutama kaum muda.

Perkembangan Musik di Indonesia

Di luar akar budaya musik tradisonal Indonesia yang telah terbentuk selama ratusan tahun, pada abad XX, perubahan dalam teknologi rekaman dan praktik pemasaran ala Barat mempengaruhi pola produksi dan konsumsi musik di Indonesia. Menurut Sen dan Hill (2001:194-195), alat musik gramofon buatan Amerika diimpor ke Hindia Belanda pada awal tahun 1900-an. Saat itu, menurut catatan sejarah, terdapat tiga perusahaan rekaman milik orang Cina, dua antaranya berada di Batavia dan satu berada di Surabaya. Perusahaan rekaman milik orang Cina ini beroperasi melayani permintaan pasar kecil di kalangan elit perkotaan (Ensikopedi Musik, 1992: 237-238).

Pada tahun 1951, sebuah perusahaan pribumi bernama IRAMA mulai memproduksi rekaman piringan hitam. Pada 1954 perusahaan rekaman REMACO dan DIMITA juga melakukan hal serupa. LOKANANTA, perusahaan rekaman milik negara yang didirikan di Solo tahun 1955 segera mendominasi industri rekaman dalam negeri dan berfokus pada musik-musik Jawa. Dominasinya berlangsung singkat kerena perubahan teknologi pada tahun 1960-an mengakibatkan masuknya perusahaan serta teknik produksi yang baru dalam industri musik di seluruh dunia, termasuk Indonesia (Sen dan Hill, 2001: 195).

Tanggal 17 Agustus 1959 saat Presiden Soekarno membacakan pidato Manifesto Politik, mendesak anak-anak muda untuk melawan kebudayaan dari negara-negara nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialis Barat) termasuk musik-musik ala Barat yang dianggap ngak-ngik-ngok. Kritik ini melahirkan tumbuhnya musik pop Indonesia yang lebih nasionalistis (Sen dan Hill, 2001: 195). Selain itu juga terjadi pelarangan pemutaran musik-musik barat, dan pembakaran kaset yang dinilai mengusung semangat Amerikanisasi dan westernisasi.

Perubahan politik dari Orde Lama ke Orde Baru pada 1965-1966 membuka kembali pasar musik Indonesia bagi produk Barat dan mendorong tumbuhnya berbagai kelompok band pop baru. Lagu-lagu yang sebelumnya dilarang digabungkan dengan aliran musik pop mereka. Lagu-lagu dari grup band Barat seperti Rolling Stone dan Deep Purple, atau dari Indonesia seperti Rollies dan God Bless terus-menerus dimainkan di stasiun-stasiun radio amatir dan pertunjukan konser musik rock di berbagai kota besar di Indonesia selalu dipenuhi penonton (Hatley, dalam Sen dan Hill, 2001: 197).

Pada tahun 1990-an industri musik Indonesia berjaya di Asia Tenggara. Menurut data yang dihimpun Sen dan Hill (2001: 199) dari Euromonitor, International Marketing Data and Statistics (1997), industri musik Indonesia termasuk kecil di dunia, namun tergolong paling besar di Asia Tenggara. Angka resmi tahun 1995 (tidak termasuk bajakan) menunjukkan bahwa total eceran musik rekaman di indonesia mencapai hampir US$ 290 juta, kurang dari US$ 12880 juta angka penjualan di Amerika. Sebagai perbandingan, angka penjualan musik di Filipina hanya 16% dari penjualan di Indonesia, di Singapura hanya 31%, Malaysia 50%, dan Thailand 65%.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA), Yogyakarta.

Radio: Riwayatmu Kini

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Dari mana riwayat radio bermula? Bisa dikatakan, setelah penemuan telegraf yang memanfaatkan gelombang radio dan kode morse oleh Guilelmo Marconi, teknologi radio banyak digunakan di lingkungan kelautan (maritim), terutama untuk mengirimkan pesan antara kapal yang berada di laut dan saluran komunikasi di pantai/darat. Salah satu pengguna awal radio misalnya Angkatan Laut Jepang. Tujuannya memata-matai armada Rusia pada saat Perang Tsushima tahun 1901. Dalam kaitannya dengan pengunaan radio di lingkungan kapal ini, salah satu momentum yang paling dikenang adalah pada saat tenggelamnya kapal Titanic pada 1912, termasuk komunikasi antara operator di kapal yang tenggelam dan kapal terdekat. Teknologi dasar radio dengan kode morse ini kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan tabung sehingga memungkinkan pengiriman suara.

Teknologi menyalurkan suara melalui gelombang elektromagnetik dengan cepat diterapkan di wilayah Hindia Belanda karena aplikasi komersial dan politisnya yang sangat strategis. Radio siaran pertama yang mengudara pada 1911 di Hindia lewat sebuah radio komunikasi angkatan laut di Sabang. Hingga akhir perang Dunia I, mendengarkan sinyal radio selain untuk kepentingan militer dianggap legal. Setelah PD I, saat peraturan-peraturan mulai longgar, para broadcaster amatir membangun Batavia Radio Society, yang mulai melakukan siaran tetap pada 1925. Sejak tahun 1927, militer Belanda secara berkala melakukan transmisi radio gelombang pendek  ke negara jajahan mereka di Hindia Timur, termasuk mengudarakan pidato Ratu Wilhelmina (Sen dan Hill, 2001: 197).

Pada tahun 1934, sebuah masyarakat radio komunitas Belanda terbentuk dan diberi nama Netherlandsche-Indische Radio Omroep Maataschappij (NIROM). NIROM diberi izin pemerintah untuk mendanai operasinya di seluruh Jawa dengan memungut pajak radio melalui kantor pos dan telegraf. Pada tahun 1937 jaringan radio pribumi pertama, Perikatan Perekumpulan Radio Ketimuran (PPRK) diberi izin terbatas untuk menyiarkan informasi mengenai kebudayaan atau sosial (Sen dan Hill, 2001: 94).

Menurut Sudibyo (2004: 161), selama masa Orde Baru, perkembangan industri radio swasta di Indonesia dimulai sejak dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 1970 tentang “Radio Siaran Non Pemerintah”. Awalnya, banyaknya radio amatir mendorong pemerintah menertibkan dan mengeluarkan Surat Keputusan No 25 Tahun 1971 untuk mengatur pembagian frekuensi. Tahun 1977 anggota PRSSNI mencapai 366 radio. Pada tahun 1999 pemerintah mengeluarkan 1070 izin penyelengaraan siaran radio, meskipun banyak yang akhirnya mati. Sampai tahun 2003 anggota PRSSNI tercatat 801 yang tersebar di seluruh tanah air (Sudibyo, 2004: 161). Pada tahun 1999 juga ditandai dengan dikeluarnya kebijakan Presiden B.J Habibie soal siaran relay berita RRI dari 14 kali menjadi 3 kali sehari juga memberi ruang kreativitas baru bagi radio-radio daerah untuk menciptakan dan menyiarkan berbagai variasi program acara.

Berdasarkan sistem manajemen dan operasionalisasinya, radio digolongkan berdasarkan beberapa tipe, yaitu radio lokal, radio sindikasi, dan radio jaringan. Local Radio adalah stasiun radio yang melakukan produksi program sendiri dan menyiarkan sendiri program tersebut. Prerecorded/Syndicated Radio adalah stasiun radio yang mendapatkan program siarannya melalui beberapa sumber, misalnya supplier program, pengiklan, produser program atau dari stasiun lainnya. Network Radio adalah radio sistem jaringan, memiliki pola yang mirip prerecorded/syndicated radio, namun dengan jadwal program dan format siarannya yang tetap terkontrol dengan baik.

Berdasarakan frekuensinya, gelombang radio digolongkan dalam dua jenis, yakni: AM dan FM. Pertama, AM (Amplitude Modulation) yakni informasi suara dibawa dalam berbagai amplitudo dan ketinggian yang beragam. Dalam sistem ini, sinyal elektrik yang datang dari sebuah alat perekam elektronik (mikrofon) dikombinasikan dengan pembawa sinyal elektromagnet berfrekuensi tinggi dan menghubungkannya dengan saluran radio tertentu. Di Indonesia radio AM sempat berjaya hingga akhir tahun 1980-an.Waktu itu program sandiwara radio menjadi acara unggulan yang paling diminati masyarakat.

Kedua, FM (Frequency Modulation), yang artinya informasi suara dibawa melalui beberapa frekuensi yang berbeda dari sebuah gelombang radio menuju ke pusat frekuensi. Frekuensi ini dikembangkan oleh Howard Amstrong pada tahun 1933.FM mempunyai rentang frekuensi yang lebih besar dan lebih dinamis dibandingkan AM. Ini menyebabkan suara radio dengan frekeuansi FM lebih jernih dan mudah ditangkap oleh antenna radio. Sejak awal tahun 1990-an radio berfrekuensi FM menjadi primadona siaran radio di Indonesia.

Seiring perkembangan teknologi, radio juga bermetamorfosis dan mengalami konvergensi dengan media-media baru. Bentuk konvergensi ini antara lain ditunjukkan dengan adanya teknologi High Definition Radio, Teknologi Radio Satelit, Teknologi Radio Internet, dan Webcast.

High Definition Radio (Digital Audio Broadcasting-Sistem Siaran Radio Digital) adalah  Radio digital yang mentransmisikan audio yang telah diubah menjadi data komputer seperti menduplikasi data audio ke dalam sebuah CD yang menghasilkan suara yang jernih dengan kualitas seperti mendengarkan CD aslinya.

Teknologi Radio Satelit adalah metode transmisi suara, terutama musik melalui satelit sehingga dapat dinikmati oleh pendengar melalui antena radio, di posisi manapun dengan jangkauan wilayah yang lebih luas. Di Amerika Teknologi Radio Satelit ditransmisikan melalui Radio XM dan Sirius sebagai radio satelit yang sangat terkenal.

Teknologi Radio Internet mulai dikenalkan pada sebuah percobaan pada tahun 1993 dengan teknologi IP di jaringan internet, misalnya MBONE (Multicast Backbone). Secara penuh, teknologi model MBONE ini beroperasi pada 1995. Stasiun radio internet biasanya menempatkan sinyal mereka melalui website, sampai akhirnya hubungan internet tanpa kabel mulai bisa digunakan. Metode siaran ini memudahkan seseorang untuk menerima siaran radio dari stasiun radio manapun melalui internet tanpa menggunakan kabel.

Webcast, yakni teknologi siaran radio dengan sistem streaming. Teknologi ini antara lain dikembangkan oleh RealNetworks, tapi seiring perkembangan zaman, web radio didistribusikan melalui teknologi MP3, yang menggunakan berformat standar MP3 pada musik. Beberapa player yang dapat digunakan untuk mengakses radio ini misalnya Winamp pada sistem operasi Windows dan iTunes untuk Macintosh.

Dalam praktiknya, setiap radio memilih program berdasarkan format stasiun radionya. Dua di antara format umum stasiun radio yang populer adalah Format Musik (Hiburan) dan Format Informasi (Dominick, Messere, Sherman, 2004: 90-96).

Pemilihan Program Stasiun Format Musik biasanya berisi Contemporary Hits Radio, Adult Contemporary, Oldies, Country, Dangdut, dll. Penentuan style musik sangat dipengaruhi oleh toleransi dan kesukaan audiens dalam mendengarkan jenis-jenis musik.  Hal ini selanjutnya akan mempengaruhi: pemilihan variasi genre, tempo, tahun release, kecepatan sirkulasi musik, dan sebagainya.

Sementara itu, pemilihan Program Stasiun Format informasi ada yang menggunakan Format semua berita (news), talk, dan  kombinasi antara berita dan talk (news/talk). Isi siaran radio format informasi ini bisanya berbagai jenis program berita, termasuk feature. Tema-tema yang diangkat berkisar pada empat masalah pokok yaitu ekonomi (meliputi masalah perdagangan, perbangkan, industri, dan pasar); politik (meliputi birokrasi, parlemen, eksekutif, partai, demonstrasi); hukum (meliputi pengadilan, perceraian, HAM), serta masalah sosial budaya (meliputi peristiwa alam, kesenian, olahraga, prestasi, dan segala hal yang berdimensi human interest). (Iwan Awaluddin Yusuf).


1)  Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

Mendiskusikan “Netralitas” Teknologi

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Apakah teknologi bersifat netral? Jika dilihat dari fungsi dasar mesin dan prinsip-prinsip kerjanya, maka jawabannya mungkin iya. Namun jika ditelusuri dari relasinya yang kompleks dengan aktivitas manusia di balik teknologi tersebut, maka jawabannya: teknologi tidaklah netral. Sebab, di belakangnya menyangkut sistem dan seperangkat nilai yang dianut masyarakat. Kehadiran teknologi tidak bisa dilihat sebagai entitas yang terpisah dari realitas hidup manusia. Dilihat dari kehidupan sehari-hari di sekitar kita, teknologi merupakan bagian penting dalam praksis kehidupan manusia. Sebagai contoh; teknologi bisa berada “di dalam” tubuh manusia (teknologi medis, teknologi pangan); “di samping” (telepon, faks, hp, komputer); dan “di luar” (satelit). Kedekatan manusia dan teknologi juga tampak dari fungsi teknologi yang menjadi tempat tinggal (misalnya ruangan ber AC, kapal selam) dan kepanjangan indera manusia (kacamata, alat bantu dengar).

Relasi manusia dan teknologi bersifat mutual. Teknologi digunakan oleh manusia, pada saat yang sama ia menggunakan manusia. Relasi mutualisme itu bersifat kompleks. Relasi tersebut dalam ilmu bio-filsafat dianalogikan sebagai Jaringan Rizhomatic, yaitu jaringan percabangan yang sedemikian rumit sehingga mana sebab dan mana akibat menjadi tidak jelas lagi. Dalam kaitan ini, segala hal bisa menjadi penyebab sekaligus akibat.

Tiga bidang besar dalam praksis kehidupan modern; sains, teknologi, dan budaya tidak bisa dilihat sebagai entitas-entitas yang mandiri. Sains dibentuk oleh teknologi dan budaya; teknologi dibentuk oleh kultur dan sains; kultur dibentuk oleh sains dan teknologi. Jadi masing-masing saling membentuk dan dibentuk oleh yang lainnya. Kultur sudah menjadi tekno-kultur, sains menjadi tekno-sains, dan sebagainya.

Walapun ada keterkaitan yang sangat kuat, mendefinisikan teknologi bukanlah perkara mudah. Teknologi adalah sistem aplikasi atau pengetahuan yang tertata, yang berguna untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan praktis. Dari definisi ini menyiratkan tiga aspek, yaitu: aspek budaya, aspek organisasi, dan aspek teknis.

Aspek budaya mencakup pengertian epistemologis tentang teknologi dilihat dari tujuan penciptaannya, nilai-nilai dan aturan main penggunaan teknologi tersebut, serta kesadaran akan inovasi dan kreativitas yang menyertai kehadiran suatui teknologi. Aspek organisasi meliputi aktivitas ekonomi dan industri, perilaku profesional di bidang teknologi, pelaku-pelaku di balik pembuiatan teknologi, seperti perancang, teknisi, pekerja produksi, sampai pada pengguna (users) atau pembeli (consumers).

Sementara itu, aspek teknis teknologi menyangkut operational-literacy seperti pengetahuan tentang cara penggunaan, cara perawatan, kemampuan dan ketrampilan mengoperasikan, serta perangkat-perangkat teknis, seperti alat (tools/harrdware), bahan baku, bahan kimia, limbah yang ditimbulkan, peralatan yang sudah tidak terpakai, dan sebagainya.

Berangkat dari argumen di atas, maka dapat dismpulkan bahwa esensi dari konsep teknologi adalah: 1. Teknologi adalah alat;  2. Teknologi dilahirkan oleh sebuah struktur ekonomi, sosial dan politik;   3. Teknologi membawa nilai-nilai yang berasal dari struktur ekonomi,  sosial, dan politik tertentu.

Kembali pada pertanyaan awal, apakah teknologi bersifat netral? Menjawab pertanyaan tersebut, Pacey (2003) memaparkan sejarah kelahiran dan perkembangan teknologi kendaraan salju (snowmobile) di Amerika Utara dan berbagai tempat lain, serta mengaitkannya dengan berbagai konteks yang melingkupinya, baik dengan melihat latar belakang alam, budaya, ekonomi, bahkan politik.

Pada awalnya, kesuksesan penjualan snowmobile terjadi karena berhasil menjawab kebutuhan masyarakat di Amerika Utara yang menjadikan jenis kendaraan itu sebagai sarana vital transportasi yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas di wilayah bersalju. Namun pada perkembangan selanjutnya, kehadiran snowmobile mulai dipertanyakan karena dalam praktiknya, di tempat-tempat tertentu, kendaraan ini oleh sebagian penggunanya hanya digunakan sebagai simbol idenditas, gaya hidup, sarana rekreasi, bahkan peralatan olahraga salju yang berpotensi merusak lingkungan, termasuk sumber polusi.

Pro-kontra dalam menyikapi kehadiran sonwmobile apakah menguntungkan atau merugikan, sesungguhnya merupakan contoh adanya perdebatan panjang mengenai entitas teknologi: netralkah teknologi praktis—semacam snowmobile ini? Atau kehadirannya merupakan manifestasi dari berbagai kepentingan dan nilai-nilai tertentu? Terlepas dari perbedaan cara pandang dan argumentasi yang kemudian mengemuka, pada dasarnya objek perdebatannya tetap menyangkut satu teknologi yang sama, yaitu snowmobile.

Snowmobile yang dikenalkan pada pesta olahraga musim dingin tahun 1960-an adalah contoh kesuksesan satu bentuk teknologi yang laris di pasaran masyarakat di Canada dan utara Amerika Serikat sebagai alat mobilitas selama musim dingin. Sebagai barang komoditas, setiap tahunnya angka penjualan snowmobile meningkat dua kali lipat dan booming pada tahun 1970-1971. Saat itu snowmobile terjual hampir setengah juta unit. Tren tingginya angka penjualan ini selama beberapa waktu tetap stabil meski kondisi ekonomi Amerika sempat melemah.

Dengan demikian terlihat jelas bahwa teknologi yang bernama snowmobile merupakan bagian dari nilai-nilai ekonomi dan budaya masyarakat sehingga kehadirannya bukanlah sesuatu yang netral datang dari ruang hampa. Ilustrasi snowmobile tentunya dapat diganti dengan berbagai teknologi lainnya yang ada di sekitar kita. (Iwan Awaluddin Yusuf )


1  Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

Memahami Televisi = Memahami Perkembangan Teknologi, Regulasi, dan Tuntutan Industri

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Jika saat ini berbagai jenis televisi hadir menawarkan kecangihan teknologi dan fitur-fitur terbaru, sejarah tidak akan pernah lupa mencatat bahwa usaha perintisan bagi terciptanya pesawat televisi sesungguhnya menemukan titik balik ketika Philo Farnsworth berhasil membuat prototipe televisi sederhana pada tahun 1922. Ia mengembangkan hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831). Berikutnya, dengan menggunakan peralatan tradisonal, Charles Jenkins dari AS dan John Logie Bird dari Inggris Raya melanjutkan eksperimen di bidang pertelevisian. Hasilnya, eksperimen tahun 1925 itu mampu mengirim transmisi pertama. Selanjutnya The British Broadcasting Corporation memulai layanan siaran televisi di Inggris tahun 1936. Kesuksesan siaran di Inggris ini kemudian dikenalkan ke Amerika Serikat tiga tahun berikutnya, yakni pada 1939. Inilah era yang menandai lahirnya siaran televisi massif-komersial pertama di dunia.

Tahun 1941, standardisasi format televisi hitam putih dikelurkan secara resmi oleh National Television System Commite (NTSC). Isi dari standarisasi NTSC ini adalah  penyeragaman teknologi pesawat televisi hitam putih dengan format 525 baris perframe dan 30 frame perdetik. Resolusi yang mengindikasikan jumlah baris setiap frame yang dipindai oleh sinar elektron. Penembakan elektron dalam bentuk titik ke dalam layar berasal dari sebuah tabung gambar atau tabung sinar katoda. Titik tersebut bercahaya dengan variasi dan intensitas yang beragam untuk mencitptakan citra atau gambar. Sinar ini menyebabkan perpindahan energi yang kemudian mengubah menjadi variasi voltase listrik. Dalam kaitan ini, medan elektromagnet digunakan untuk mengatur sinar elektron agar membentuk gambar yang sama sebagaimana pola yang dibuat oleh kamera televisi.

Teknologi televisi berkembang seiring perkembangan teknologi kamera. Kualitas kamera televisi yang semakin meningkat, bentuknya yang semakin kecil, dan fleksibilitasnya mudah dibawa kemana-mana memberikan pengaruh pada televisi. Bahkan, teknologi digital secara revolusioner mulai menggusur siaran analog dan menggantikannya dengan teknologi digital beresolusi tinggi yang biasa disebut High Definition Television (HDTV). HDTV mampu menampilkan gambar yang jauh lebih tajam, jelas, dan berkualitas. Standard baru yakni SDTV (standard definition television) akan diberlakukan sebagai digital adapter pada penerima yang masih berformat NTSC. HDTV mulai populer sejalan dengan menigkatnya penjualan pesawat televisi teknologi baru seperti Liquid Crystal Display (LCD) dan Televisi Plasma dengan berbagai ukuran, cenderung berlayar lebar (widescreen) dan memiliki ketebalan yang tipis, berbobot ringan sehingga mudah dipindahkan (portable). Saat ini televisi dengan format 3D, LED, DLP, dan OLED juga populer di kalangan penikmat tontonan film.

Tren terbaru dari teknologi televisi adalah Integrated Services television (ISTV) atau sering disebut televisi interaktif.  ISTV bisa menerima siaran TV dan HDTV digital, semua siaran televisi konvensional, berita utama suratkabar, dan terhubung ke internet. Lewat ISTV pemirsa bisa mengetahui informasi yang terakhir yang diperbarui secara otomatis; mampu menggabungkan bebereapa informasi yang berasal dari berbagai media; serta dapat menjadikan televisi sebagai media yang lebih “pintar”. Selain itu terdapat pula teknologi TV Resolusi Tinggi (High Definition TV, HDTV), Video Resolusi Ultra Tinggi (Ultra High Definition Video, UHDV), Direct Broadcast Satellite TV (DBS), Pay Per View,Televisi internet,TV Web, dan sebagainya.

Dari sisi pengelolaan program acara, televisi saat ini berlomba-lomba untuk menarik perhatian pemirsanya demi mencapai perolehan iklan yang tinggi. Banyak stasiun televisi mengikuti niche programming dan strategi narrowcasting, yakni menjadwalkan program dengan jenis yang sama atau yang ditujukan untuk target spesifik dan segmen pemirsa yang sama. Dalam hal ini, rating menentukan nilai jual program kepada para pengiklan. Semakin tinggi rating sebuah acara, semakin besar pula minat para pengiklan untuk mensponsori acara meskipun dengan harga yang tinggi. Akibatnya, semua stasiun televisi berusaha membuat acara semenarik mungkin dan bisa menyedot sebanyak mungkin pengiklan.

Mengapa televisi sedemikian takluk pada rating? Tidak sama dengan media cetak atau medium interaktif (internet), televisi memiliki potensial viewer yang sangat besar. Di luar ketegori televisi berlangganan atau televisi kabel, nyaris tidak ada biaya (uang) yang dikeluarkan seseorang untuk menonton televisi sehingga penonton televisi cenderung memilih mengonsumsi media televisi, dibanding media lainnya. Dalam Media Scene tahun 2005-2006 misalnya, disebutkan jumlah total penduduk Indonesia adalah 219.898.300 jiwa, sedangkan jumah penduduk di daerah yang terjangkau siaran televisi mencapai 175.296.231 (Amir Effendi Siregar: 2007: 35-36). Angka ini tentu menjadi lahan yang sangat subur bagi produsen untuk mempromosikan produknya lewat televisi berapapun biaya yang harus dikeluarkan.

Fakta di atas didukung pula oleh kekuatan televisi sebagai media penyampai iklan dengan berbagai kelebihan, terutama kemampuan menggabungkan citra verbal dan nonverbal dalam format audio visual yang mudah diakses sulit ditandingi media manapun. Tak heran bila belanja iklan di televisi jauh mengungguli media lainnya. Pengiklan sangat berkepentingan dengan kemampuan menjangkau jumlah pemirsa sebanyak mungkin terhadap materi iklannya yang disiarkan melalui acara TV, sehingga biaya promosi yang dikeluarkan itu (cost) berpotensi balik dengan jumlah keuntungan (benefit) yang jauh lebih tinggi.

Hasrat beriklan ini mencapai puncaknya pada acara-acara yang berkategori tayang prime time. Menurut Nielsen Media Research (NMR), prime time adalah waktu ketika semua orang sudah pulang ke rumah dan menonton televisi. Terletak antara pukul 19.00 – 21.00 malam. Prime time dipercaya akan menghasilkan rating yang lebih tinggi dibanding waktu lain. Pemahaman ini membuat acara yang tayang pada waktu tersebut menjadi lebih mahal harganya (Panjaitan & Iqbal, 2006: 42). Momen istimewa prime time digunakan televisi untuk menayangkan program acara (sebutlah sinetron) yang isinya kurang lebih sama. Akibatnya, publik yang ingin mencari alternatif tayangan lain seolah tidak diberi kesempatan. Hak publik untuk memperoleh keragaman materi produksi televisi (diversity of content) pada jam-jam tersebut tampaknya diabaikan begitu saja oleh pengelola stasiun televisi.

Manajemen Siaran Televisi

Secara umum, program acara di stasiun televisi dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasar materi program, format siaran, dan muatan isinya (Dominick; Messere; dan Sherman, 2004). Berdasarkan produksi materi program, program acara yang ditayangkan televisi bisa berupa In-house Program (program acara yang diproduksi sendiri /intern oleh stasiun televisi);  Can Program (program acara yang dibeli dari pihak lain, misal dari Production House); dan dapat berupa gabungan keduanya atau lazim disebut Mixing Program. Menurut format siarannya, program acara televisi dapat disirakan secara langsung (live) ataupun taping (recording). Sedangkan menurut jenis isinya, program acara televisi dapat dibagi menjadi program drama, non drama, dan news. Program acara yang termasuk kategori non drama dapat dipecah lagi menjadi program variety show, feature, infotainment, sport, musik, tv magazine, kuis, dll.

Sistematika produksi program acara televisi merupakan suatu runutan proses yang terdiri dari tiga bagian: pra-produksi, produksi, dan post-produksi. Pada tahapan pra-produksi, dilakukan dilakukan tiga hal utama yaitu: penemuan ide dan konsep (brainstorming), perencanaan, dan persiapan. Setelah ide dan konsep acara didapat dan disetujui secara bersama oleh personel team program, maka selanjutnya dilakukan perencanaan yang meliputi: time sceduling, penyempurnaan naskah, pemilihan artis, penulisan rundown, lokasi, crew, dan biaya. Tahapan persiapan dilakukan dengan pemberesan semua urusan administratif: kontrak perizinan, surat menyurat dll. Persiapan ini juga meliputi latihan para artis, pembuatan set, serta cek dan ricek semua kelengkapan peralatan.

Tahapan produksi, berarti pelaksanaan apa yang telah dituliskan dan direncanakan sebelumnya. Tahapan produksi ini lazim disebut sebagai shooting, baik EFP (Electronic Field Production: “shooting lapangan”) maupun di studio. Produksi dilakukan dengan mengikuti beberapa standar teknis dan waktu yang sangat ketat. Penataan audio dan lighting harus tepat dan harus sesuai dengan yang diinginkan. Untuk program acara yang tayang secara live, tantangan jauh lebih besar. Karena dilakukan produksi sekaligus dilakukan penyiaran ke pada pemirsa. Sehingga diperlukan ketepatan eksekusi dan juga ketepatan waktu sesuai yang telah ditentukan sebelumnya.

Pada tahapan post-produksi dilakukan tiga hal yaitu: editing off-line, editing On-line, dan mixing. Editing Off-line diartikan sebagai proses pemilihan / pemotongan materi produksi (gambar dan suara) secara cut-to-cut dengan mesin VTR. Editing Online berarti dilakukan penyempurnaan dari hasil edit off-line tersebut, misalnya: dilakukan penyesuaian waktu, penambahan dan penyempurnaan gambar, penambahan animasi, titling, framing dll. Hasilnya, adalah sebuah materi yang sudah jadi, dan tinggal diberi sentuhan akhir pada sisi audio-nya. Proses Mixing, yaitu proses adjusment dan penambahan audio (suara dan musik) pada materi hasil editing On-line. Setelah mixing, maka suatu materi produksi menajdi siap tayang.

Pada acara yang berbentuk tayangan dengan format taping sistematika produksi berjalan berurutan dari mulai pra produksi, produksi dan post-produksi dengan batas-batas yang jelas. Pada program dengan format tayang secara live, tahapan-tahapan produksi itu berjalan dengan cara yang berbeda. Produksi bisa berupa produksi awal (misal: pembuatan Video Taping) dan berakhir pada saat produksi live.

Di Amerika Serikat, perusahaan televisi yang didominasi oleh stasiun tertentu, seperti ABC, CBS, FOX, NBC Universal, Time Warner, Viascom, Disney, News Corp mendominasi produksi jaringan televisi dan acara televisi kabel, distribusi dan gabungan program, serta sindikasi siaran. Kebijakan TV berjaringan dimaksudkan untuk membuka peluang yang lebih menguntungkan bagi para pemodal. Pola TV berjaringan memungkinkan pebisnis TV meraih jumlah penonton yang lebih luas dan melebihi radius jangkauan siarannya. Hal ini juga menjadikan munculnya peluang bisnis dan harapan besar bagi para pemodal lokal untuk bisa menyelenggarakan usaha TV komersial di daerahnya.

Secara umum TV berjaringan memiliki empat pengertian (Susan TE, Sydney WH, Lewis K, 1989):  (1) TV yang berjaringan dalam sistem telekomunikasi dan berafiliasi kepemilikan kepada pusatnya; (2) TV berbentuk “rap network”, hanya berjaringan dalam pemasaran program; (3) TV yang berjaringan dalam sindikasi program yang dibuat bersama atau dibuat salah satu pihak; dan (5) TV yang berjaringan dalam semua aspek di atas.

Perkembangan Televisi di Indonesia

Penyelenggaraan siaran televisi di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan. Sebut saja UU No.32 Tahun 2002 tentang  Penyiaran, UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, UU No.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, UU No.22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Ada pula Peraturan Menteri Perhubungan No.76 Tahun 2003 tentang Penataan Penggunaan Frekuensi Radio untuk Televisi Siaran Terestrial di Indonesia, PP No.50 Tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran Swasta, serta beberapa ketentuan yang secara langsung terkait dengan lembaga penyiaran seperti UU tentang HAKI, UU tentang HAM,  UU tentang Monopoli Usaha, KUH Perdata, KUH Pidana, UU Pers, dan lain-lain. Dalam UU di atas, diatur pula mengenai lembaga penyiaran. Dalam UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, misalnya, bentuk lembaga penyiaran yang diperbolehkan menyelenggarakan siaran TV adalah yang berbentuk Lembaga Penyiaran Publik, Lembaga Penyiaran Komersial, Lembaga Penyiaran Komunitas, serta Lembaga Penyiaran Berlangganan.

Selanjutnya, untuk mengelola sebuah lembaga penyiaran, harus dilandasi prinsip-prinsip usaha dengan mengedepankan nilai-nilai keragaman (diversitas) kepemilikan dan penguasaan lembaga penyiaran, diversitas bentuk dan isi siaran, dan lokalisme dan otonomi khalayak. Prinsip-prinsip ini di kalangan pelaku media dikenal dengan konsep diversity of ownership dan diversity of content. Dua prinsip ini umumnya diwujudkan dalam bentuk lembaga penyiaran komunitas dan lokal.

Isu yang kini kerap mengemuka soal lembaga penyiaran adalah ketentuan pemerintah yang mewajibkan stasiun TV untuk melakukan pola berjaringan. Menurut pemerintah, kebijakan ini dikeluarkan dengan maksud memudahkan para pelaku bisnis TV. Sebab, dengan melakukan pola TV berjaringan, pebisnis TV dapat meraih jumlah penonton yang lebih luas dan melebihi radius jangkauan siarannya. Hal ini juga menjadikan munculnya peluang bisnis dan harapan besar bagi para pemodal lokal untuk bisa menyelenggarakan usaha TV komersial di daerahnya.

Saat ini industri TV sudah kian dekat dengan realisasi kebijakan ini. Kondisi ini, secara langsung maupun tak langsung, menjadi tantangan besar bagi stasiun TV lokal. Bagaimanapun, meski mengusung lokalitas dari sebuah daerah, TV berjaringan tetap menjadi ”saingan” terberat dalam memenangkan hati pemirsa. Sebab TV berjaringan tentu memiliki modal, kualitas tampilan, dan teknologi yang lebih mapan. Selain itu, cakupan informasi yang dapat diberikan oleh TV berjaringan juga lebih luas.

Sekitar tahun 1974, ketika tuntutan politik luar negeri mengharuskan berdirinya TVRI untuk mendukung penyelenggaraan sebuah event olahraga Sea Games di Jakarta, pada saat itu pula iklim pertelevisian Indonesia mulai berhembus (Kitley, 2001: 25-26). Di tingkat dunia sendiri, TV sudah digunakan sebagai sarana propaganda politik dan melanggengkan kekuasaan di era pasca perang dunia II. Di tahun 2000-an, TV dimanfaatkan sebagai sarana propaganda demokratisasi, liberalisasi, dan globalisasi dunia. Kini, TV juga menjadi media promosi utama (Above the line promotion) yang sangat penting dan mampu menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.

Di era globalisasi seperti saat ini, ketika konvergensi informasi dan teknologi telah mempercepat masuknya arus informasi di masyarakat, paradigma dan cara pandang orang terhadap TV mulai berubah. Saat ini TV siaran bagaimanapun juga merupakan media penyiaran yang paling sering ditonton dan dibutuhkan masyarakat. TV bisa menjadi media yang sangat mempengaruhi perilaku dan kebiasaan hidup masyarakat Indonesia. Jangkauan siaran yang meliputi hampir sebagian besar wilayah Indonesia dan harga pesawat televisi yang semakin murah memungkinkan masyarakat melek informasi sekaligus mendapatkan hiburan yang murah meriah.

Sebagai media yang berjalan di ranah bisnis dan industri, sejarah pertumbuhan TV terestrial komersil di Indonesia menunjukkan perkembangan yang luar biasa di era tahun 2000-an. Keputusan Menteri Penerangan RI Nomor : 190 A/ Kep/ Menpen/ 1987 tentang siaran saluran terbatas, yang membuka peluang bagi televisi swasta untuk beroperasi. Seiring dengan keluarnya Kepmen tersebut, pada tanggal 24 agustus 1989 televisi swasta, RCTI, resmi mengudara, dan tahun-tahun berikutnya bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta baru, berturut-turut adalah SCTV ( 24/8/90 ), TPI ( 23/1/1991 ), Anteve ( 7/3/1993 ), Indosiar ( 11/1/1995 ), Metro TV ( 25/11/2000 ), TV7 (22/3/2000), Trans TV (25/11/2001 ), dan Lativi ( 17/1/2002 ). Angka tersebut boleh dibilang sedikit jika dibandingkan dengan saat ini, ketika stasiun TV terestrial diperkirakan sudah lebih dari 50. Dan di masa mendatang angak ini akan terus bertambah.

Bisnis TV siaran di Indonesia saat ini memiliki beberapa ciri dominan: padat modal, perkembangan teknologi yang sangat cepat, ajang pemasaran produk, urban segmented, marketing rules the show, konsep rating/share, dan pendekatan memuaskan pendengar (uses and gratification). Dari ciri-ciri tersebut, terlihat jelas bahwa sisi pasar memainkan peran yang besar dalam bisnis TV siaran. Maka wajar jika kemudian para pelaku bisnis TV akan melakukan apa saja agar bisa meraih pasar dan menangguk iklan yang banyak.

Data Media Scene Magazine di akhir tahun 2007 menunjukkan hasil riset Nielsen Media Research-Advertising Information Services. Lembaga ini merilis data pertumbuhan belanja iklan tahun 2007 mencapai Rp 37 triliun dan setiap tahun diperkirakan tumbuh 10-15%. Dari jumlah tersebut, belanja iklan di TV sejak tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 masih stabil pada kisaran angka 60-70%. Hal inilah yang menjadikan bisnis penyelenggaraan TV siaran menjadi menarik dan menggiurkan bagi para pemodal. Apalagi, besarnya peluang berbisnis di industri pertelevisian berdampak terhadap terciptanya peluang usaha yang cukup besar bagi para pelaku usaha-usaha yang mendukung bisnis TV siaran seperti rumah produksi, agensi periklanan, penyedia alat-alat siaran, hingga perusahaan jasa konsultan, jasa outsourcing (alihdaya) SDM, perusahaan katering, perias, wardrobe, dan tata busana, dan lain-lain. Maka tak berlebihan jika banyak orang membangun kerajaan bisnis di kancah ini.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

Buku…Riwayatmu Dulu, Kini, (dan Nanti…)

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Orang boleh berkoar-koar apa saja tentang kehebatan new media dengan segala sisi interaktif dan fungsi konvergensinya. Namun kemajuan peradaban yang sangat pesat dalam satu abad terakhir tetap tidak bisa menafikan satu instrumen penting bernama “buku”. Di tengah pergulatan media-media baru yang lekat dengan kecanggihan teknologi, buku tetap dipercaya mampu meniupkan ruh pengetahuan lewat lembar-lembaran kertas berisi tulisan. Dari benda kecil inilah peradaban dunia ber-evolusi.

Sejarah mencatat, diawali dari buku pertama bergenre sastra berjudul Odyssey (Homer, 800 SM), dunia percetakan mencari bentuknya. Sejarah percetakan tidak terlepas dari penemuan kertas dan perkembangan teknologi sistem cetak-mencetak di Cina dan Timur Tengah. Teknologi ini mulai mendunia ketika dikenalkan oleh orang-orang Arab yang berdagang ke Barat. Sejak dinasti T’ang di Cina, buku berkembang lewat kertas kayu dan lempengan besi yang terpisah-pisah (618-906 M). Metode Ini berlangsung hingga tahun 1455 M, saat Johannes Gutenberg dari Jerman merancang kembali mesin cetak yang fleksibel dan dapat dipindahkan (movable type).

Inovasi Gutenberg ini berpengaruh secara massif bagi penyebaran agama yang ditunjukkan dengan penggandaan Injil sejak tahun 1455. Dari kesuksesan pencetakan Injil, buku-buku lainnya terus diciptakan. Konon, pada tahun 1700-an, jumlah buku di seluruh dunia mencapai 2 juta judul. Berkembang 8 juta pada tahun 1800-an, dan terus meningkat pesat hingga saat ini.

Di Amerika Serikat, sejarah perkembangan cetak-mencetak diawali dari penggandaan buku-buku keagamaan. The Bay Psalm Book adalah buku pertama yang diterbitkan di Amerika pada tahun 1640 oleh kaum misionaris ortodok di Massachusetts. Selain buku, pada awal perkembangan cetak mencetak di Amerika juga berhasil dilakukan pencetakan koran (di Boston, New York, dan Philadelphia), majalah, dan buku-buku nonkeagamaan, seperti Almanack.

Pada tahun 1732, Benjamin Franklin (seorang inovator di bidang percetakan, ilmu pengetahuan ilmiah, politik, dan penemuan-penemuan praktis) menerbitkan Poor Richards Almanak yang akhirnya menjadi buku terlaris—selain kategori buku keagamaan. Buku itu berisi nasihat-nasihat moral, tips pertanian, dan berbagai informasi berguna lainnya. Buku tersebut menginsiprasi terbitnya buku-buku motivasi yang lain, seperti Common Sense (1776) karangan Thomas Paine yang disinyalir ikut mendorong kemerdekaan rakyat Amerika dari Inggris Raya. Buku ini terjual 100.000 copy dalam waktu 10 minggu. Puncaknya terjadi saat Harriet Beecher Stowes menulis novel Uncle Tom’s Cabin (1852) yang terjual 100.000 copy selama satu bulan dan mencapai angka penjualan 300.000 copy selama setahun. Hingga saat ini, novel Uncle Tom’s Cabin terjual tak kurang dari 7 juta copy di seluruh dunia (Albarran, 1998: 71).

Setelah era Guttenberg serta kemunculan new media, kini buku mengalami konvergensi bentuk. Yang paling menonjol adalah kemunculan e-book, digital book, dan segala variannya. Demikian pula dengan perpustakaan tempat menyimpan buku juga mengalami perubahan, yakni tidak hanya mengoleksi buku konvensional/cetak, melainkan juga menangani koleksi sumber lain yang biasa disebut multimedia. Satu dasawarsa terakhir ini, kebiasaan membaca juga telah mengalami pergeseran seiring menjamurnya media-media elektronik dengan ragam variasi dan format, seperti digital library, virtual library, online library, dan sebagainya.

Dari sisi lain, masih tentang produksi buku, jika dikaitkan dengan konteks Indonesia, jika diukur dari jumlah produksi buku tiap tahunnya, negara kita sangat tertinggal. Malaysia misalnya, setiap tahunnya mampu mengeluarkan lebih dari 10.000 judul buku. Sementara di Indonesia, untuk mencapai 6.000 judul saja sudah merupakan prestasi yang luar biasa. Jika kita bandingkan jumlah penduduk Malaysia yang hanya sepersepuluh dari penduduk Indonesia, sangat jelas kita jauh tertinggal. Angka itu akan semakin terlihat memprihatinkan bila dibanding Jepang yang mampu menerbitkan 44.000 judul buku setiap tahun, Inggris 61.000, dan Amerika serikat 100.000 judul buku pertahun (Kompas, 31 Mei 1997).

Padahal, menurut data (sekali lagi, data lama) yang dikemukakan Jane E Campbell, penduduk Indonesia yang  “melek huruf” mencapai sekitar 87% (Campbell dalam Ratnaningsih, 1998: 296).  Sebagai pembanding data dari BPS  (2004) menyebutkan, tinggal 15,4 juta penduduk Indonesia yang mengalami buta huruf. Ironis memang, meskipun persentase “bisa baca” tersebut tergolong tinggi, ternyata minat baca masyarakat masih sangat rendah. Fakta di lapangan menunjukkan, sebagian besar masyarakat—terkecuali kalangan tertentu, seperti cendekiawan, kaum inteklektual dan mereka yang karena kedudukan dan tugasnya harus bergelut dengan dunia buku—jarang sekali mengunjungi perpustakaan atau membeli buku sebagai kebutuhan pokok mereka.

kalau sudah begini, mau tak mau urusan krisis ekonomi dibawa-bawa dan dituding turut memberi kontribusi nyata dalam proses disvolusi budaya baca di negara kita. Persoalan-persoalan mendasar seperti urusan perut, sandang dan papan tampaknya lebih mendominasi prioritas kebutuhan. Di mata masyarakat, buku dan perpustakaan adalah kebutuhan dengan nomor urut kesekian, jauh di bawah kebutuhan-kebutuhan pokok yang lain. Stigma yang terbangun sedemikian rupa ini lambat laun mengkondisikan merosotnya minat baca di kalangan masyarakat. Di sisi lain, perubahan gaya hidup seiring gempuran informasi yang deras melalui media elektronik, remaja kita saat ini lebih suka menghabiskan waktu di mal, kafe, daripada mengunjungi perpustakaan sebagai bagian dari gaya hidup mereka .

Di Indonesia yang konon hanya mampu memproduksi buku sekitar 7.000 judul pertahun, untuk dapat disebut meledak di pasaran (best seller) memang masih beragam ukurannya. Sebabnya antara lain: faktor minat baca yang dianggap belum tinggui, masih rendahnya daya serap pasar, jumlah sekali cetak buku rendah (non fiksi 2.000-6.000 dan fiksi 5.000 sampai 10.000), serta belum adanya data yang akurat mengenai angka-angka penjualan buku (Zaqeus: 2008).

Bahkan, sebagian penerbit menganggap, kalau satu judul buku mengalami cetak ulang—tak peduli berapa banyak dicetak dan berapa lama habis terjual—itu sudah diklaim sebagai best seller. Penerbit lainnya menganggap sebuah buku dinyatakan best seller jika cetakan pertamanya (3.000-5.000 eksemplar) habis terjual dalam waktu kurang dari enam bulan. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menetapkan standard bestseller jika terjual lebih dari 5.000 eksemplar.

Di Indonesia, buku-buku nonfiksi (tabel 1) dan fiksi (tabel 2) yang mencapai best seller sampai pertengahan tahun 2008 dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel.1 Buku Nonfiksi Terlaris di Indonesia

No JUDUL BUKU NONFIKSI PENULIS JUMLAH EKSEMPLAR
1. ESQ Ary Ginandjar 455.000
2. Jakarta Undercover Moammar Emka 200.000
3. La Tahzan Aidh Al Qarni 150.000
4. Aa Gym Apa Adanya Aaa Gym 140.000
5. Kupinang Engkau dengan Hamdalah M. Fauzil Adhim Di atas 120.000
Mencapai Pernikahan Barakah M. Fauzil Adhim
Rich Dad Poor Dad Robert T Kiyosaki

Sumber: Edy Zaqeus (2008)

Tabel.2 Buku Fiksi Terlaris di Indonesia

No JUDUL BUKU FIKSI PENULIS JUMLAH EKSEMPLAR
1. Laskar Pelangi Andrea Hirata 200.000
2. Sang Pemimpi Andrea Hirata 120.000
3. Fairish Esti Kinasih 66.000
4. Dealova Dyan Nuranindya 60.000
5. Supernova Dewi Lestari Di atas 50.000
Saman Ayu Utami
Edensor Andrea Hirata

Sumber: Edy Zaqeus (2008)

Walaupun jelas data tabel di atas sudah layaknya diupdate, paling tidak bisa memberi gambaran sederhana tentang kondisi perbukuan di tanah air.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia – Yogyakarta.