Menonton Kematian? Nyalakan Televisi!

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

“Anda Ingin Menyaksikan pembunuhan? Hidupkan Televisi: Pelayanan 24 Jam!”. Demikian ditulis Milton Chen dalam bukunya “Anak-Anak dan Televisi”. Pada bahasan tentang kekerasan di televisi, ia menulis judul yang sangat provokatif tentang bahaya media bernama televisi. Sedemikian parahkah? Kalimat Chen sengaja saya kutip untuk mengawali tulisan ini.

Dalam catatan sejarah, terbukti televisi tak ragu menyajikan citra kematian secara vulgar. Bahkan penonton diajak (baca: dipaksa) mengikuti peristiwa kematian secara langsung. Sebagai contoh, kegilaan televisi menayangkan peristiwa bunuh diri di depan kamera yang terjadi pada pagi hari, tanggal 15 Juli 1974 ketika Christine Chubbuk, seorang pembawa acara di sebuah TV lokal (WXLT-TV) bunuh diri saat membacakan berita. Ia menembak pelipisnya dengan pistol.

Cerita lain, pada tahun 1996, sebuah stasiun televisi Los Angeles menerima telepon dari seseorang yang bermaksud melakukan bunuh diri dan minta agar stasiun televisi meliputnya. Stasiun itu mengirim kru televisi untuk mendatangi sumber berita dengan peralatan lengkap. Bukannya mencegah orang tersebut melaksanakan niatnya, dengan memanggil polisi misalnya, kru televisi justru membuat liputan eksklusif. Mereka mempersiapkan liputan langsung, menunggu orang tersebut melaksanakan niatnya, dan merekam saat-saat ia menembak dirinya sendiri. Akhirnya orang itu benar-benar mati di depan kamera televisi. Live on air!

Peristiwa tersebut disusul oleh peristiwa-peristiwa sejenis di beberapa tempat di dunia. Sebutlah beberapa penayangan secara langsung eksekusi hukuman mati dengan senapan maupun kursi listrik. Televisi juga pernah menyiarkan secara langsung, peristiwa pemberian suntikan mati (euthanasia) yang dilakukan seorang dokter atas permintaan pasiennya. Pun di Indonesia, sejarah mencatat,  eksekusi “teroris” Amrozi dan Imam Samudra menjadi bahan jualan bagi salah satu stasiun televisi.

Di negeri ini, setidaknya tercatat empat peristiwa kematian yang secara spektakuler pernah ditayangkan di televisi. Pertama adalah meninggalnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX tahun 1988. TVRI Stasiun Yogyakarta meliput dan melaporkan peristiwa tersebut secara langsung, detail, terus-menerus, dan berlangsung selama beberapa hari. Mulai dari persiapan pemakaman, detik-detik pemakaman, hingga acara-acara ritual yang mengiringi kepergian Sang Raja dari Keraton Yogyakarta.

Kedua, saat meninggalnya Ibu Negara Tien Suharto, 28 April 1996. Semua televisi swasta (bahkan termasuk TVRI) melakukan siaran bersama (pool) secara nasional, diproduksi secara marathon, on-air tanpa henti. Berbagai program acara di semua stasiun televisi yang semula akan dijual untuk iklan, “dikorbankan” untuk menghormati kepergian Sang Ibu Negara. Setelah peristiwa itu, momen TV pool yang dapat “mempersatukan” seluruh stasiun TV swasta tidak pernah terjadi lagi.

Ketiga, kematian selalu menjadi bagian penting dari berita bencana, baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Besaran jumlah korban seolah menjadi daya tarik  bagi televisi untuk menyiarkan secara langsung dan sedekat mungkin dengan tempat kejadian atau korban. Sebutlah berita tsunami di Aceh, gempa Jogja, kecelakaan pesawat, kereta api, atau yang paling baru: korban bencana ledakan tabung gas!

Keempat, kematian tokoh-tokoh besar, seperti Mantan Presiden RI: Soeharto dan Gus Dur yang mendapat peliputan secara massif televisi Indonesia. Beberapa di antaranya menyiarkan secara langsung prosesi pemakaman hingga detail rangkaian acaranya.

Tak cukup hanya bersandar pada peristiwa atau nama besar, televisi  terus menerus mereproduksi citra kematian lewat berbagai program. Sebutlah dua jenis program acara yang saat ini sedang merarajela di dunia televisi; berita kriminal dan tayangan misteri. Dalam tayangan berita kriminal, penyajian berita aksi kejahatan bergeser dari sekadar menampilkan wawancara pelaku kejahatan atau korbannya berkembang menjadi adegan penggerebekan langsung. Kamera menjadi “mata” pemirsa, dan menangkap segala detil dari sebuah peristiwa kriminal. Kamera tak tanggung-tanggung menyorot adegan kekerasan mulai dari bagaimana polisi menangkap penjahat, memukuli bahkan menelanjanginya. Suara letusan pistol, tubuh yang menggelepar bermandi darah muncul secara gamblang dan menjadi tontonan keluarga di siang hari. Tak hanya itu, gambar mayat pencopet yang gosong tebakar setelah disiram bensin dan disulut api karena kemarahan massa menghiasi layar kaca.

Sepanjang tahun 2000an, berita kriminal menjadi primadona tayangan televisi Indonesia. Para produser berasumsi, tayangan seperti itu lebih laku ketimbang berita politik karena masyarakat telah jenuh menyaksikan carut marut peristiwa politik. Rating iklan pun terdongkrak tinggi jika pengelola televisi mampu menyuguhkan peristiwa kriminal yang sarat kekerasan sebagai sebuah entertainment. Masyarakat yang kesal dengan tindak kriminal yang semakin mejadi-jadi seolah terpuaskan ketika melihat tayangan seorang penodong yang mencoba melarikan diri dari penangkapan .ditembak kakinya oleh polisi.

Membicarakan genre berita kriminal tentu tak bisa dilepaskan dari kesuksesan acara Patroli di Indosiar yang menayangkan berita-berita kriminal secara langsung dari tempat kejadian. Acara ini awalnya diilhami oleh Cakrawala yang ditayangkan Anteve. Setelah Patroli sukses dengan rating dan pendapatan iklan yang tinggi, televisi lain berlomba-lomba membuat program acara serupa. RCTI membuat acara Sergap, Buser di SCTV, Kriminal di Trans TV, Peristiwa dan TKP di TV7, Brutal dan Tikam di Lativi (Sekarang TV One), Bidik di Metro TV, Sidik Jari di Anteve, dan Kanal 87 di Global TV.

Tak puas dengan berita kriminal yang sekilas menyajikan kasus kekerasan, kemudian dibuat acara bedah kasus yang berusaha mengungkap secara lengkap peristiwa-peristiwa kriminal berdasarkan tinjauan motif, latar belakang pelaku dan korban, kronologi peristiwa, proses hukum, hingga analisis dari kriminolog atau psikiater. Sebutlah Derap Hukum (SCTV), Fakta (ANTEVE), Lacak (Trans TV), Investigasi dan Korek Kasus (Lativi), Modus dan Sidik Kasus (TPI), Jejak Kasus (Indosiar), Modus (TV7), dan Lembar Hitam (Global TV).

Tingginya minat masyarakat terhadap tayangan kriminal sebenarnya berangkat dari keinginan menyaksikan kenyataan (reality show). Masyarakat tentu masih ingat peristiwa kanibalisme yang dilakukan Sumanto atau pembunuhan berantai oleh psikopat Ryan. Meski sebenarnya jijik, namun  mereka “tertantang” untuk tetap menyaksikan runtutan kejadiannya. Berbagai saksi disertakan sehingga terjalin cerita secara utuh. Rekonstruksi dilakukan untuk memberi gambaran peristiwa yang sebenarnya terjadi di lapangan sehingga benar-benar terlihat nyata.

Pada peristiwa lain di acara lain, penonton juga bisa menyaksikan kehebatan polisi mengejar bandar narkoba atau maling motor. Kamera menyorot polisi yang penuh semangat melakukan pengejaran sambil menggenggam pistol. Lalu penjahat yang ketakutan diberi tembakan peringatan, jika tetap melawan akan ditembak kakinya. Dan, lagi-lagi kamera merekam penjahat yang bersimbah luka tak berdaya.

Tontonan yang menyajikan seluk beluk dunia gaib, klenik, dan alam roh juga marak ditayangkan televisi. Diawali dari RCTI yang sukses menyiarkan Kisah-kisah Misteri (KISMIS) dan MITOS, acara serupa kemudian bermunculan di stasiun TV lain. Acarnya sendiri menampilkan wawancara dengan saksi yang pernah bertemu mahluk halus, kemudian hasil wawancara divisualkan lengkap dengan pemeran hantunya. Anteve juga getol membuat acara misteri dengan format sejenis. Sebutlah Misteri Kembali, Oh Seraam, Misteri Kisah Nyata, Saksi Misteri, Misteri Pesugihan, Pengalaman Gaib yang sebenarnya merupakan reformat dari Misteri, yang pernah populer beberapa tahun sebelumnya. TPI memiliki tontonan misteri dengan format sinetron, yaitu TV  Misteri.

Trans Tv membuat format berbeda dengan acara Dunia Lain yang mendatangi tempat-tempat angker dan berhantu, kemudian menantang orang untuk berdiam dan membuktikan keberadan adanya mahluk halus tersebut. Kini, setelah vakum cukup lama, Dunia Lain ditayangkan kembali oleh Trans 7. Acara serupa sebelumnya juga dimiliki Anteve dengan Percaya Nggak Percaya. Bedanya, kesaksian disampaikan oleh seorang paranormal yang memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib. Awalnya, acara tersebut ditayangkan seminggu sekali, namun karena tingginya permintan pasar, akhirnya ditayangkan semingu dua kali. TPI pun tak mau ketingalan, dibuatlah acara Gentayangan yang kadang disiarkan secara langsung. Stasiun itu juga membuat Gaib, Bantuan Gaib, Misteri Pesugihan, Legenda Misteri, dan Lingkar Dajjal. TV7 mengeskploitasi alam gaib lewat Ekspedisi Alam Gaib dan Misteri Bangunan Tua. Lativi kemudian menyusul dengan Rahasia Alam Gaib dan Pemburu Hantu.

Acara seputar dunia gaib dan mahluk halus juga yang dikemas dalam sinetron laga seperti: Misteri Gunung Merapi, Nyi Roro Kidul, Mandala dari Sungai Ular, Anglingdharma, Roro Mendut, Dendam Nyi Pelet, Pengantin Lembah Hantu, Misteri Siluman Kelabang, dan Santet. Dalam kemasan komedi dan drama; Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul, Mr Dower, Jadi Pocong, Ketawa Tengah Malam, Di Sini Ada Setan, Zahara Hantu Gaul, Jaelangkung, Kolor Ijo, Kisah Cinta Hantu Cantik, dan sebagainya. Ada pula program tayangan impor seperti serial Friday the 13th, Beyond Belief: Fact of Fiction, Misterius Ways, Nangnak, Charmed, Gangster Chronicles, Ruth Rendell Mystery, dan banyak lagi judul yang lain.

Walaupun format yang dibuat terkesan beragam, sebenarnya hanya berbeda per-mata acara. Ciri khas dan tema yang diangkat tetap sama; menjual dunia gaib dan kematian dengan segala fenomena yang menyertainya. Walaupun akhirnya acara-acara seperti itu banyak mengundang polemik dan kritik, pihak televisi sepertinya tetap memilih untuk terus menayangkan, meski beberapa stasiun cukup sadar diri dengan menggeser jam tayang lebih malam.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

Tulisan ini merupakan cuplikan/snapshot dari buku penulis berjudul Media, Kematian, dan Identitas Budaya Minoritas (2005)

Nasib Perempuan dalam Balutan Dramatisasi Berita

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

 

Berbicara tentang praktik ketidakadilan gender dalam masyarakat, peran media mau tidak mau menjadi sorotan. Dalam agenda media massa, teks-teks—yang kadang tampil dengan dukungan audio-visual—menyediakan semacam “peta” yang akan dibaca, didengar, dan dilihat oleh khalayak. Pembaca bebas memilih yang mana akan dipikirkannya atau dipakainya. Para redaktur media melalui proses gatekeeping akan memilah informasi tentang perempuan yang pada gilirannya diberi ruang yang besar, disembunyikan, ataupun dibuka secara jelas karena dianggap penting untuk diketahui khalayak.

Pertemuan sistematik antara agenda media dan agenda publik–yang ternyata sinkron–dengan apa yang disampaikan media tersebut menurut istilah lazimnya terkenal dengan “agenda setting”. Agenda setting menunjuk makna bahwa media memiliki kekuatan untuk menggerakkan perhatian pembaca terhadap isu-isu tertentu, termasuk bagaimana merepresentasikan perempuan sebagai korban kejahatan. Dengan kata lain, peranan pelaku media sangat penting dalam memainkan pemilihan dan pembentukan opini publik, tidak hanya menyampaikan fakta adanya perempuan yang menjadi korban kejahatan, melainkan bagaimana perempuan dicitrakan dan “diimajinasikan” oleh media. Oleh karena itu, berita tidak bisa lagi hanya dilihat sebagai alat untuk menyebarkan informasi, melainkan berita sebagai sebuah ritus, arena tempat imajinasi sosial selalu dikonstruksi, direkonstruksi, diproduksi, dan direproduksi oleh pekerja media.

Sebagai contoh, pemberitaan tentang perempuan yang menjadi korban kejahatan hampir selalu diwarnai dengan praktik dramatisasi. Dramatisasi berita dapat dipahami sebagai bentuk penyajian atau penulisan berita yang bersifat hiperbolik dan melebih-lebihkan fakta dengan maksud menimbulkan efek dramatis bagi pembacanya. Efek dramatis dapat membantu pembaca untuk lebih “mengalami” secara langsung peristiwa yang disajikan. Namun demikian, objektivitas pemberitaan menuntut suatu penyajian berita yang berhati-hati dan mengambil jarak dari fakta yang dilaporkan (McQuail, 1992; Tim Peneliti Dewan Pers, 2006).

Dalam pandangan Mencher (2000: 182), gaya penulisan berita dengan dramatisasi bagaikan penulisan cerita fiksi salah satunya disebabkan para jurnalis sering terjebak dalam gaya storytelling yang salah sehingga menghasilkan berita-berita dramatis. Storytelling merupakan gaya jurnalisme yang menampilkan berita secara naratif laiknya cerita fiksi. Ironisnya, banyak jurnalis menganggap hal itu merupakan keahlian mereka dan menjadikan laporan reportasenya menjadi alur cerita yang sangat mengesankan. Akibatnya, mereka memperpanjang berita seperti storytellers tanpa merasa ada kebohongan.

Dalam tulisan ini diambil contoh berita headline salah satu koran kuning yang cukup populer di Indonesia, yakni Lampu Merah[2]. Dramatisasi tentang perempuan sebagai korban kejahatan sering ditampilkan Lampu Merah dalam elemen judul, lead, dan body berita.

Dramatisasi yang ditampilkan pada judul headline Lampu Merah umumnya ditunjukkan dari cara penulisan judul yang menggunakan bahasa bernada vulgar dan hiperbolik. Terkadang kata tertentu sengaja dipilih semata-mata untuk membentuk persamaan bunyi (rima). Bentuk-bentuk dramatisasi judul Lampu Merah antara lain terlihat pada contoh berikut.

(1)  Burung Mau Matuk, Istri Ngantuk, Yang Punya Burung Ngamuk

(LM, 9 Agustus 2008)

(2)   Ustadz Liat Tetangga Montok, Angkat Sarung, Lepas Burung, Kepergok Suaminya Si Montok, Diarak Keliling Kampung

(LM, 20 Agustus 2008)

(3)  Pembantu Pengen Punya HP, Perawannya Diembat Majikan

(LM, 23 Agustus 2008)

Dramatisasi pada lead Lampu Merah seringkali ditampilkan dalam bentuk narasi hiperbolik (terkadang vulgar dan sadis) yang dilengkapi dengan tekstualisasi bunyi untuk menjelaskan peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh dramatisasi iniantara lain terlihat dalam lead berita yang ditulis sebagai berikut.

(1) Urusan nafsu emang cuma urusan burung. Nggak penting lagi, apa statusnya. Buktinya Saman pun tak mau ketinggalan jaman. Padahal, laki-laki 35 tahun ini ustadz. Tapi Saman tak bisa mengurus burungnya. Si burung keliaran tengah malam, nidurin istri tetangga. (LM, 20 Agustus 2008)

(2)   Si suami menyuruh si istri mandi. Lalu berdandan. Biar lebih caem, cakep, demplon, dan yaud. Agar pantas diajak kondangan. Tapi si istri males-malesan. Bukan hanya tak mau mandi. Si istri malah ngamuk. Membanting gelas dan menusuk suaminya. Cruss!”

(LM, 18 Agustus 2008)

Dalam body berita, bentuk dramatisasi umumnya juga tampak dari paparan atau narasi yang mengungkapkan detail peristiwa, situasi, atau karakter pelaku maupun korban kejahatan. Tujuannya untuk memberikan deskripsi lengkap sehingga menimbulkan sensasi bagi pembaca terhadap peristiwa yang dilaporkan. Namun demikian, detail tersebut sesungguhnya tidak memiliki signifikansi dengan pokok berita. Contohnya pada kutipan berita berjudul ”Cewek Disundutin Rokok, Disodomi, T’rus Dibunuh” yang ditulis:

 

Pada dubur perempuan itu keluar darah, dan sekitar kemaluannya ada cairan sperma…” (LM, 30 Agustus 2008)

Detail yang ditampilkan dengan pemilihan kata yang mengarah pada vulgarisme juga tampak jelas dari kutipan body berita berjudul ”Cowok Nembak, Ditolak, Yang Nolak Diemprut”. Dalam berita itu tertulis:

Bunga diseret ke kebun pisang. Dan di situ, Bunga dijejali pisang Heri yang jelas nggak kuning. Bermodal ancaman bakal membunuh, heri pun bisa bebas menikmati tubuh mulus Bunga, si kembang desa.

(LM, 7 Agustus 2008).

Selain perkosaan, dramatisasi yang ditampilkan Lampu Merah juga terlihat pada pemberian detail peristiwa kriminal lainnya yang ditulis layaknya narasi sebuah cerita fiksi. Contoh penulisan body berita berjudul “Burung Mau Matuk, Istri Ngantuk, Yang Punya Burung Ngamuk” berikut.

…Malam itu, Suminah sudah pulas tidur. Apalagi, seharian penuh mengurus rumah dan anak-anak…Suminah pun dibangunkan. Tapi karena sudah telanjur pulas, Suminah tak juga bangun. Padahal, malam itu Rahman sedang on alias sedang kepingin. Mungkin kalau Rahman itu Ahmad Dhani, dia tak ragu berteriak. “Aku sedang ingin bercinta!”.

Tapi Suminah sudah terlanjur malas. Rahman terus memaksa. Dan Suminah pun marah sambil menggerutu. Mendengar itu, rahman tak suka. Biarpun tengah malam, mereka cuek saka ribut mulut. Saling memaki dan makin lama suara mereka makin keras. Sampai akhirnya, “Plakkk!” Tangan Rahman sudah mendarat di pipi Suminah.

Kali ini Suminah tak bisa menahan air matanya. Melihat istrinya menangis. Rahman makin semangat. Dia terus memukuli Suminah seperti Mike Tyson memukuli lawan-lawannya yang gendut. Tak peduli Suminah menangis, rahman malah cuek saja memegangi tangan Suminah. Dan “Krakk” tangan Suminah pun dipelintir… (LM, 9 Agustus 2008)

Secara umum, bahasa dramatisasi pada headline Lampu Merah muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa kata, frasa, dan kalimat yang kebanyakan berbentuk struktur pasif. Kata-kata yang dipilih Lampu Merah untuk menonjolkan dramatisasi terhadap prempuan antara lain:

  1. Istilah perkosaan:

“dikeroyok”, “digilir”, “ditelanjangi”, “disetubuhi/menyetubuhi”, “disodomi”, “ditindih”, “dicabuli”, “diobok-obok”, “diembat”, “digilir”, “menggerayangi”, “ditiduri”

  1. Istilah berhubungan intim suami istri:

“ngemprut”, “nyebur ”, “matuk”

  1. Penggunaan senjata tajam pada korban:

“dibacokin””, “dibelah”, “dibabat”, “ditusuk”, “dipisau”, “digorok”

  1. Penganiayaan tanpa senjata/selain senjata tajam:

“diinjek”, “digebukin”, “digamparin”, “dipelintir”, “digetok”, “dialu”, “dicekik”

Sedangkan frasa yang digunakan Lampu Merah untuk menampilkan dramatisasi di antaranya:

  1. Istilah Perkosaan:

“digilir sampai jebol” (LM, 26 Agustus 2008), “perawannya diembat”, (LM, 23 Agustus 2008), “burung pun bicara” (LM, 7 Agustus 2008), “maling perawan” (LM, 28 Agustus 2008), “memaksa melayani” (LM, 8 Agustus 2008), “menyalurkan birahi” (LM, 8 Agustus 2008), “dijejali pisang” (LM, 7 Agustus 2008).

  1. Istilah berhubungan suami istri:

“nyetor burung” (16 Agustus 2008), “angkat sarung”  (LM, 20 Agustus 2008), “lepas burung” (LM, 20 Agustus 2008), “kebelet birahi” (LM, 13 Agustus 2008), “on alias sedang kepingin” (LM, 9 Agustus 2008).

  1. Penggambaran kondisi seseorang setelah menjadi korban kejahatan:

“bersimbah darah” (LM, 3 Agustus 2008), “usus terburai” (LM, 3 Agustus 2008), “tubuh terkulai” (LM, 4 Agustus 2008), “ambruk ke lantai” (LM, 2 Agustus 2008), “tubuh kelojotan” (LM, 2 Agustus 2008), “luka parah” (LM, 16 Agustus 2008).

Dalam pola kalimat, dramatisasi headline Lampu Merah muncul berupa kalimat panjang dan kalimat pendek. Umumnya, kalimat dinilai mengandung dramatisasi karena dalam susunanya terdapat pemberian detail, pemaparan vulgar, atau analogi yang tidak relevan dengan pokok berita. Contohnya tampak pada berita perkosaan sebagaimana kalimat (1),  (2), dan (3) berikut. Detail dan vulgar seharusnya tidak perlu dimunculkan:

(1)   Lucunya, karena sudah keburu nafsu, sebelum sempat beraksi, burung Rusmin keburu muntah, alias keluar sperma. Rusmin kecewa. Dia gagal merkosa. Lalu Fera pun disuruh pulang. Setibanya di rumah, Fera mengadu kalau baru saja ditindih Rusmin. Dan anunya belepotan muntahan burung Rusmin. (LM, 29 Agustus 2008).

(2)   Ditambahkan Neneng, anaknya dibawa ke toilet oleh Bahruddin. Rok Indah diangkat, dan celananya dibuka. Bukan itu saja, Bahruddin menciumi kemaluan Indah dan menyetubuhinya. Saat itu indah hanya bisa menangis dan merintih kesakitan. (LM, 6 Agustus 2008)

(2)   Setelah terus didesak, akhirnya Kiki mengakui perbuatannya. Ia juga mengatakan, saat melakukan pencabulan, kemaluannya sempat ’bangun’ dan ’tidur’ sebanyak empat kali.” (LM, 13 Agustus 2008)

Sedangkan dramatisasi yang ditulis dengan perumpaaan atau analogi terlihat dalam contoh kalimat berikut.

(1)   Tapi, biarpun orangtua tahu, cinta Recha dan Septio tak semulus tol Cipularang. (LM, 10 Agustus 2008)

(2)   Sejak pandangan pertama, Heri sudah jatuh cinta pada Bunga. Seperti ken Arok yang ngiler ngeliat betisnya Ken Dedes. (LM, 7 Agustus 2008)

 

Tingginya penggunaan bahasa sensasional dalam berita Koran Lampu Merah membuktikan bahwa strategi utama yang dilakukan koran kuning untuk menarik dan mempertahankan minat pembacanya sebagaimana diungkap Conboy (2003: 56) dan Hatchen (2005: 43) adalah mengeksploitasi unsur sensasi dari suatu peristiwa. Tak jarang dalam headline-nya, Lampu Merahmemberitakan isu-isu tertentu yang terbatas pada taraf pengungkapan eksploitasi tubuh perempuan (dan juga laki-laki) tanpa disertai fakta-fakta dan bukti pendukung yang relevan. Sebagaimana dikemukakan Ghimire (http://english.ohmynews.com/), kecenderungan pemberitaan yang bersifat negatif demikian disinyalir merupakan cara instan untuk memuaskan keinginan konsumen media (pembaca dan pengiklan) akan kehadiran berita-berita yang sensasional.

Temuan ini juga selaras dengan pandangan Fung (2006: 190) yang berteori bahwa bahasa sensasional kadang ditulis dengan tidak didasarkan pada nalar atau logika yang sehat karena semata-mata ditujukan untuk memicu rasa penasaran, emosi, empati, bahkan kesenangan sensual bagi pembacanya. Sekadar ilustrasi, kutipan dramatisasi berita dengan menonjolkan vulgarisme yang ditulis oleh Lampu Merah: “Pada dubur perempuan itu keluar darah, dan sekitar kemaluannya ada cairan sperma…” (Lampu Merah, 30 Agustus 2008) atau pada kutipan “Setibanya di rumah, Fera mengadu kalau baru saja ditindih Rusmin. Dan anunya belepotan muntahan burung Rusmin” (Lampu Merah, 29 Agustus 2008) sesungguhnya tak jauh berbeda dalam hal penggunaan kata-kata vulgar seperti penggambaran Shaw (1984; seperti dikutip Adhiyasasti dan Rianto, 2006: 114) untuk mencontohkan teknik dramatisasi yang disertai vulgarisme pada penulisan berita-berita kriminalitas dalam koran kuning di Amerika Serikat (1) “Park then inserted a bar of soap into her vagina…” (Park kemudian memasukkan sebatang sabun ke dalam vaginanya) (Koran Nashville Banner, tanpa keterangan waktu terbit)  (2) “[They]…sodomized her and forced her to commit oral copulation [and he] …urinated on her…” (Mereka menyodominya dan memaksanya melakukan oral seks lalu mengencinginya) (Koran Los Angeles Times, tanpa keterangan waktu terbit).

Kondisi ini jelas menyalahi aturan penulisan berita yang—secara teori—menghendaki penggunaan bahasa jurnalistik yang efisien, yakni sederhana, ringkas, padat, dan jelas (Fink, 1995 & 1998; Salzman, 1998; Mencher, 2000; Cappon, 2000; Burns, 2004; Newsom & Wollert, 1985; dan Dale & Pilgrim, 2005). Dalam praktiknya, sebagaimana tampak dari contoh yang ditampilkan dalam Lampu Merah, sensasionalisme ditampilkan koran kuning melalui penggunaan pola-pola sintakis pada level kata, frasa, dan kalimat yang akhrinya membentuk bahasa sensasional dengan menonjolkan dramatisasi.

Kondisi ini sejalan dengan pandangan DeFleur dan Ball-Rokeach (1989: 267) yang menyebutkan bahwa bagi media massa, keberadaan bahasa tidak lagi hanya sebagai alat untuk menggambarkan sebuah peristiwa, melainkan bisa membentuk citra yang akan muncul di benak khalayak, termasuk untuk menarik perhatian, membangkitkan perasaan dan emosi manusia sebagaimana tujuan sensasionalisme yang oleh Kusumaningrat dan Kusumaningrat (2005: 66-67) disebut “harus dapat meluapkan berbagai macam perasaan”.

Padahal, dalam prosedur kerja jurnalisme profesional, penyajian berita secara sensasional harus dihindari wartawan, sebagaimana padangan Fink (1995: 63-64) yang menyatakan bahwa sejak awal, etika penulisan berita berkaitan dengan pemilihan sumber berita dan cara pemilihan kutipannya. Sumber berita sangat berpengaruh pada terbentuknya opini publik. Sedangkan pemilihan kutipan oleh wartawan demi mengejar sensasi bisa menjadi “jebakan” tersendiri dan berpotensi untuk menyembunyikan opini-opini tertentu dari narasumber tertentu pula (the sin of disguised opinion). Melihat “bahaya” yang bisa dihasilkan oleh pemilihan kutipan yang dimuati sensasionalisme dari wartawan, seharusnya koran kuning bisa menjaga objektivitas. Objektivitas berkaitan dengan sikap netral media dalam memberitakan suatu isu. Memang harus diakui, mustahil pemberitaan media bisa seratus persen murni objektif dan netral. Meski demikian, media bisa berusaha optimal untuk mendekati sikap objektif tersebut. Lebih daripada itu, secara umum koran kuning tetap harus kembali kepada fungsi-fungsi dasarnya sebagai media massa. Seperti kata Robert F Kennedy (dalam Rivers, Jensen, & Peterson, 2003: 99), suratkabar sebanding dengan pengadilan–bahkan terkadang lebih–dalam melindungi hak-hak fundamental orang banyak, termasuk nasib perempuan yang sudah menjadi korban kejahatan lalu diperparah menjadi korban pemberitaan media.


[1]Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Sejak Minggu, 20 Oktober 2008 Lampu Merah berubah nama menjadi Lampu Hijau. Pada  pengantar edisi perdana Lampu Hijau ditulis dengan berganti nama baru, Lampu Merah ingin mengubah citranya menjadi koran yang lebih “teduh” sebagaimana filosofi warna hijau. Dalam praktiknya, perubahan ini hanya terlihat dari pengurangan materi seksualitas. Sebagai gantinya Lampu Hijau menambah materi berita-berita politik dan kriminalitas dengan teknik pengemasan dan penyajian yang sama dengan Lampu Merah.

Menyoal Sensasi Berita Kriminal di Media

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Dalam beberapa waktu terakhir, lewat pemberitaan di media massa, masyarakat dibombardir oleh berita mutilasi dan pembantaian berantai yang dilakukan oleh seorang tersangka psikopat bernama Ryan. Media silih berganti menyuguhkan fakta dan detail peristiwa dengan tujuan memberi gambaran secara gamblang peristiwa tersebut kepada publik. Ini dilakukan melalui berbagai macam cara dan teknik, baik verbal maupun visual.

Sebagai komoditas, peristiwa kriminal tentu menjadi berita yang biasa disajikan media untuk mempertahankan minat khalayaknya. Namun dengan melihat dari perspektif etis pemberitaan, perlu dipersoalkan lebih lanjut kehadiran berita-berita kriminal yang diberi sentuhan sesasi karena berdampak luas pada masyarakat.

Di Amerika Serikat, media dengan materi berita-berita kriminal telah berkembang sebelum tahun 1960-an sehingga mendorong banyak pihak melakukan riset efek media terhadap audiens. Hasilnya bervariasi, sebagian menunjukkan efek menguntungkan/positif (Berlo,1997; Surette,1998), namun sebagian besar penelitian menunjukkan berita kriminal berdampak merugikan/negatif bagi audiensnya (Berkowitz, (1967; Fesbach & Singer, 1967; J. Hoyt, 1967; Hicks, 1968; dan Gerbner, 1971)

Terlepas dari perdebatan apakah berita kriminal di media massa menguntungkan publik atau sebaliknya, merugikan masyarakat, penyajian berita kriminal di media cenderung dibumbui unsur dramatisasi dari wartawan. Padahal, tanpa harus didramatisasi, cerita kriminal pada umumnya sudah mengandung cerita human interest (drama). Day (2003: 93) dan Raney & Bryant (2002) menilai, dramatiasasi pada suatu peristiwa kriminal menghasilkan distrosi dan bias dari fakta-fakta yang sebenarnya terjadi sehingga menimblkan penilaian moral tertentu oleh masyarakat.

Cerita kriminal umumnya adalah hasil rekonstruksi. Jarang sekali wartawan melihat sendiri peristiwanya. Artinya, para wartawan tergantung pada sumber kedua atau ketiga (second dan third-hand sources). Karenanya, proses rekonstruksi dan verifikasi merupakan aspek paling penting dalam penulisan berita kriminal. Dengan kata lain, berita kriminal harus dibangun berdasarkan rekonstruksi yang akurat, setidaknya bisa dipertanggungjawabkan, tidak hanya berdasar keterangan satu sumber, dalam hal ini pihak kepolisian. Cerita kriminal kebanyakan hanya ditulis menyandarkan keterangan polisi (pernyataan, bukti yang mereka kumpulkan, hasil interogasi/berita acara pemeriksaan).

Dalam kondisi demikian, wartawan tidak bisa menghindari kutipan dari pihak berwajib, sebab mereka mewakili lembaga resmi dalam penyidikan kasus kriminal. Namun, wartawan dituntut memiliki kewaspadaan. Investigasi polisi memiliki keterbatasan. Lebih dari itu, pada kasus tertentu, polisi juga manusia bisa yang punya motif untuk menyelewengkan cerita, misalnya agar bisa terlihat berprestasi guna  promosi kenaikan pangkat karena berhasil tampil di media. Di Amerika Serikat sendiri, banyak wartawan yang dijuluki sebagai ”half cop-half reporter”, setengah polisi-setengah wartawan. Para wartawan membuntuti kegiatan polisi, dan polisi menjadi narasumber utama mereka. Dengan demikian keduanya saling mendapat keuntungan.

Cara menghindari ”skandal” pemberitaan seperti ini dapat dilakukan misalnya  dengan mendatangi tempat kejadian serta mewawancara sebanyak mungkin sumber yang relevan, untuk mengetahui sebanyak mungkin konteks keterlibatan subjek berita: tersangka, korban dan saksi. Wawancara langsung semacam ini merupakan keharusan, jika wartawan akan menulis berita kriminal yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kembali lagi soal berita kriminal dan pengaruhnya terhadap publik, jika asumsi Potter (2001) tentang bahaya jangka panjang dari terpaan berita kriminalitas menjadi kenyataan, maka dikhawatirkan pembaca–dengan tingkat media literacy belum memadai—yang terus menerus mengonsumsi berita kriminal akan memiliki kecenderungan memandang kekerasan adalah jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan persoalan.

Dalam kaitan ini, National Instituation of Health pernah melakukan penelitian pada tahun 1983. Hasilnya menunjukkan bahwa ada hubungan antara peristiwa kriminal dan kekerasan yang dimuat media massa dengan sikap agresif publik. Proses ini terjadi karena ada unsur imitasi. Tesisnya berbunyi: “Pemuatan berita tentang kriminalitas di media massa akan memberi dampak pada publik, yaitu publik akan berbuat kejahatan seperti halnya apa yang dimuat di media massa (Kurniawan, 2005: 98).

Dalam riset sebelumnya, yang dilakukan oleh Geen & Berkowitz. Disimpulkan bahwa publik akan merasakan frustrasi ketika melihat program-program dari televisi yang banyak menampilkan kekerasan dan kriminal. Kenyataan ini berangkat dari adanya gambaran tenatng dunia yang penuh kekerasan dan kriminal. Lebih jauh publik akan berasumsi bahwa lingkungan tempat mereka tinggal penuh dengan kejahatan seperti apa yang ada dalam pemberitaan media (Kurniawan, 2005: 98). Hasilnya adalah paranoia massal tentang kejahatan, yang puncak imbasnya berupa tindakan main hakim sendiri sebagai penolakan sistemik terhadap pelaku kejahatan. Harus diakui memang, dalam kondisi tertentu dan ditunjang faktor-faktor lain, media yang menampilkan citra kekerasan berpotensi membentuk perasaan takut (fear of crime).

Menyikapi polemik peliputan berita kriminal, wartawan dituntut untuk mampu mengakkan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Dalam kaitan ini, wartawan perlu menaati Kode Etik Jurnalistik sebagai panduan dalam menjalankan profesinya.

Jika dikaitkan dengan penilaian etik terhadap kinerja media massa terkait berita kriminal, terdapat beberapa pasal dengan penafsirannya yang kerapkali dilanggar atau setidaknya rawan pelanggaran. Pasal-pasal tersebut misalnya Pasal (1), Pasal (2), Pasal (3), Pasal (4), pasal (5), dan pasal (9).

Pada pasal 1, poin “…menghasilkan berita yang akurat…”. Tanpa bermaksud menggeneralisasi, media kerap melakukan pelanggaran terhadap akurasi berita dengan melihat banyaknya praktik dramatisasi, sensasi, dan penggunaan sumber anonim dalam pemberitaan kriminal. Pada pasal 2, sebagaimana penafsiran tentang cara-cara profesioal poin (d) dan (e) yang berbunyi “menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya” dan “rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang”. Saat ini pemberitaan berita kriminal masih banyak yang mengarah pada pelanggaran kode etik ini, misalnya penulisan berita dengan hanya mengutip dari satu sumber (one side). Kadang sumbernya pun tidak jelas sehingga membingungkan ketika dilakukan pengecekan ulang. Selain itu kerap dijumpai pemuatan foto tanpa sumber dan tanggal, serta pemberian efek tertentu (retouching) pada gambar atau foto yang ditampilkan untuk memberi kesan dramatis.

Pada pasal 3 berbunyi, “…selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah”. Berita-berita kriminal sebagian besar isinya mengandung pencampuran antara fakta dan opini wartawan, meski kadarnya tidak selalu besar. Terkait dengan larangan pemberian vonis oleh wartawan (trial by the press), ini juga menjadi kebiasaan yang sering dilakukan, misalnya dalam kasus korupsi, wartawan menggangap figur seseorang sebagai pelaku utama, walaupun statusnya baru tersangka dan belum dibuktikan oleh pengadilan.

Pada pasal 4 yang berbunyi: “…tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul”. Melihat berbagai keprihatinan dan reaksi masyarakat, serta pantauan media watch atas isi media yang menampilkan pornografi dan kekerasan, maka praktik ini mengarah pada pelanggaran hal-hal yang disebutkan dalam kode etik psal 4, utamanya penafsiran poin (c) dan (d), soal sadis dan cabul.

Pada pasal 5 yang berbunyi:  “…tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan”. Sejauh ini, wartawan baru peduli untk melindungi identitas yang menyangkut kasus-kasus perkosaan, sementara tema-tema lain belum banyak diperhatikan.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Tulisan ini dimuat di Harian Bernas Jogja, 2 Agustus 2008.