Menulis (Berita) = Bercumbu dengan Data

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Salah satu aspek penting dalam penulisan berita adalah ketersediaan data. Setiap hari seorang jurnalis akan selalu “bercumbu” dengan data yang diramu dalam tautan kata, frasa, kalimat, dan paragraf. Tanpa sajian data, dapat dipastikan banyak hal yang tidak terinformasikan kepada pembaca. Penyajian berita yang sarat data memiliki keistimewaan dibandingkan tulisan yang hanya dituturkan semata-mata berdasarkan opini, kutipan mentah dari narasumber, atau pemikiran penulis. Dengan adanya data, jurnalis mampu menerobos alam pikirannya secara imajiner dan reflektif, sekaligus mencoba menempatkan dirinya ke dalam alam pikiran pembaca secara sesuai dengan kebutuhan dan tujuan (agenda setting) pemberitaan.

Lebih dari sekadar berita, dalam penulisan fiksi sekalipun, banyak imajinasi yang disajikan tidak bisa asal tulis. Jika seorang penulis membuat cerita fiksi berlatar sejarah, geografi, atau astronomi, kehadiran data menjadi kunci akurasi dan memberi daya tarik tersendiri. Di dunia kepenulisan fiksi, sebutlah nama pengarang Dan Brown, John Grisham, Leon Uris, Umberto Eco, Albert Camus, dan JJ Tolkien. Imajinasi yang dibalut dengan data aktual yang mereka sajikan dalam setiap karyanya mampu mengantarkan pembacanya terbuai dalam dunia petualangan yang nyaris menyerupai tour di dunia nyata, bak membaca reportase investigasi a la CNN atau National Gegraphic. Di dalam negeri, kita juga memiliki banyak pengarang yang rajin menyampaikan data dalam karya fiksinya, sebutlah Andrea Hirata, Habiburrahman Al-Shirazy, atau Pramudya Ananta Tour. Bahkan lewat karyanya, nama terakhir kerap dianggap sebagai alternatif rujukan sejarah di Indonesia, selain buku-buku sejarah yang telah beredar secara resmi di pasaran.

Dalam kaitan ini, manfaat dari penyajian data terutama untuk memperkuat berita agar lebih bernilai informatif. Bagi sebagaian penulis, data mungkin sering dianggap merepotkan, terutama saat harus mendapatkan dan mengelolahnya. Padahal kehadiran data sesungguhnya menjadi strategi dan modal pokok bagi keberhasilan seorang penulis, terutama penulis berita yang setiapkali begelut dengan reportase inverstigasi. Menulis berita investigasi dimulai dengan pemaparan fakta sebagai data dari apa yang akan ditulisnya. Dari data yang ada, penulis kemudian memberikan pendapat, pandangan, gagasan, bahkan interpretasi.

Di sini akan jelas terlihat bagaimana tingkat kreativitas penulis dalam membuka wacana pengetahuan para pembacanya melalui pemaparan data. Di satu sisi, penyajian data yang kaku seringkali terasa membosankan bagi orang yang membaca, namun dengan penjelasan yang ringan tapi berbobot menjadikan pembaca enggan untuk meninggalkan berita yang dinikmatinya. Pada titik inilah keahlian seorang penulis dapat dibuktikan.

Namun demikian, kesibukan mencari dan mengelola data penunjang bisa saja membuat jurnalis justru lupa untuk segera mulai menulis, atau karena disibukkan hal-hal teknis berkaitan dengan pengumpulan dan pengolahan data, jurnalis akhirnya gagal menghasilkan sebuah berita yang ringan namun tetap informatif.

Mendefinisikan Data

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dikacaukan dengan istilah data dan informasi. Kedua istilah tersebut kerapkali digunakan secara bersamaan, meski memiliki pengertian yang berbeda.

Secara definitif[2], data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti “sesuatu yang diberikan”. Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra. Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data (http://id.wikipedia.org/wiki/Data). Sebagaimana dikutip dari http: //t3nj0m4y4. blogspot.com/2007/07/pengertian-data-informasi-dan-teknologi.html perbedaan data dan informasi tampak sebagai berikut:

Data

  1. Data adalah fakta berupa angka, karakter, simbol, gambar, tanda-tanda, isyarat, tulisan, suara, bunyi yang merepresentasikan keadaan sebenarnya yang selanjutnya digunakan sebagai suatu informasi.
  2. Data adalah deskripsi dari sesuatu dan kejadian yang kita hadapi (data is the description of things and events that we face).
  3. Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata.
  4. Data adalah bahan yang akan diolah/diproses berupa angka-angka, huruf-huruf, simbol-simbol, kata-kata yang akan menunjukkan situasi dan lain lain yang berdiri sendiri.
  5. Dalam bahasa sehari-hari data adalah fakta tersurat (dalam bentuk catatan atau tulisan) tentang suatu objek.
  6. Dalam dunia komputer data adalah segala sesuatu yang dapat disimpan dalam memori menurut format tertentu.
  7. Data adalah fakta yang sudah ditulis dalam bentuk catatan atau direkam ke dalam berbagai bentuk media. Data merupakan komponen dasar dari informasi yang akan diproses lebih lanjut untuk menghasilkan informasi.

Informasi

  1. Informasi adalah data hasil pengolahan data yang bermanfaat bagi penggunanya.
  2. Infomasi adalah hasil proses atau hasil pengolahan data.
  3. Informasi adalah fakta tersembunyi dibalik himpunan fakta yang sudah dicatat, dan baru diketemukan sesudah diolah atau dicerna.
  4. Informasi adalah fakta tersirat yang muncul dalam benak teknisi itu sesudah mencermati dan mengolahnya dengan tertib, berdasarkan model yang diyakini sebagai hal yang benar ada dalam keseluruhan persoalan tersebut.
  5. Informasi adalah segala sesuatu yang ditampilkan oleh komputer dalam sebuah media penampil tersebut diatas, biasanya sebagai hasil dari sebuah proses komputasi.

Pemahaman terhadap pengertian “data” (dengan tanda kutip) sebagai bahan baku penulisan tidak dapat dilihat secara tunggal (monosemik), melainkan sejak awal dibedakan dari pendekatan yang digunakan. Secara teknis operasional “data” dapat dilihat dan diperlakukan sebagai berikut:

 1. Data Ilmiah/Akademis  (Statistik)

2. Data Jurnalistik  (Interpretatif)

3. Data Gabungan/Ilmiah-Populer (Fleksibel)

4. Data Fiksi (Fiksi Ilmiah/Imajinatif)

Pedoman yang perlu dijadikan sebagai patokan dalam proses pengumpulan atau pencarian data setelah outline tulisan dibuat adalah “Jangan tenggelam dalam pengumpulan data”. Kadang jurnalis merasa data yang dikumpulkan belum cukup sehingga timbul perasaan bersalah karena “tidak cukup tahu”. Jika dalam pencarian, data yang dikumpulkan masih kurang dan justru menemukan hal-hal lain yang sepertinya belum sesuai fokus outline, data semacam ini bisa disimpan untuk sementara waktu dengan pertimbangan siapa tahu data tersebut dapat dikembangkan di kemudian hari dalam bentuk tulisan dengan angle berbeda, atau dengan informasi lebih baru. Data yang AKURAT, TERPERCAYA, dan UP TO DATE bisa dikumpulkan dari berbagai sumber: digital dan nondigital.

Dalam pemngolah data, tahapan  yang dilakukan adalah memperoleh data utuh (verbatim), lalu pembersihan data (data cleaning), reduksi data atau mengambil data-data yang penting, mengklasifikasi data sesuai kebutuhan reportase, menarik kesimpulan dari data, dan terakhir penyajian data dalam komposisi utuh berita, bentuknya bisa terintegrasi dalam narasi, deksripsi, gambar, infografik, foto, dan atau beragam format lainnya.

Dalam memperlakukan data ini seringkali jurnalis dihadapkan pada persoalan-persoalan umum, misalnya relevansi data; kemubaziran data; keterbatasan variasi data; ketidakonsistenan dan kurangnya integritas data/sumber data/ wartawan sendiri; ketidakluwesan data (terutama dalam hal pengembangan dan penguubahan); dan yang terakhir, persoalan yang sering muncul adalah kelalaian pencantuman sumber data. [Iwan Awaluddin Yusuf]


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

[2] Catatan: memberikan definisi ibarat dengan sengaja membatasi kreativitas. Definisi “data”  yang muncul dalam tulisan ini semata-mata ditampilkan untuk memberikan kesepahaman atas sebuah pengertian dasar.