Apa Jadinya Bila “Emosi” Dijadikan Bumbu Berita?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Walaupun emosi dapat meng“hidup”kan sebuah berita, aspek netralitas dan objektivitas pemberitaan menuntut sebuah penyajian berita yang dituturkan dengan logika rasional dan terkendali. Penonjolan emosi di dalam berita menjadikan objektivitas berita tergerus. Sebutlah contoh dua judul berita berikut: “Indonesia Menangisi Kekalahan Taufik Hidayat” atau “Pertahankan Ambalat, Ganyang Malaysia!”. Alih-alih menyampaikan fakta, judul berita di atas menonjolkan sisi emosional berkaitan dengan rasa nasionalisme atau patriotisme sesaat, bukan nalar jernih dan berpikir rasional sang jurnalis.

Emosi yang kita bahas kali ini dapat diartikan sebagai penonjolan aspek emosional (suka, benci, sedih, gembira, marah, putus asa, dan sebagainya) dibandingkan aspek logis rasional di dalam penyajian sebuah berita. Selain itu, ciri lain dari emosionalisme adalah pemberian tanda baca atau huruf tertentu seperti tanda seru [!], tanda tanya [?], titik tiga […], atau kombinasi ketiganya, serta penggunaan huruf tertentu secara rangkap dalam struktur kata yang semestinya tidak ditulis demikian. Contohnya  dapat dijumpai pada judul “Mana Tahannn…” (Merapi, 21 Agustus 2004) atau pada kalimat “…Petugas Polres Sleman menembaknya. Door! Dor! Si Maling Bandel ini dibedil kakinya sampek dlosor. Kapok ra! (Meteor, 10 Juli 2004).

Emosionalisme juga tampak dari adanya kontras, yakni menyandingkan dua fakta yang berbeda namun tidak berkaitan langsung dengan maksud menimbulkan efek ironis sehingga menambah kesan tertentu yang membangkitkan sisi emosional. Contohnya terlihat dari paragraf berikut.

Urusan nafsu emang cuma urusan burung. Nggak penting lagi, apa statusnya. Buktinya Saman pun tak mau ketinggalan jaman. Padahal, laki-laki 35 tahun ini ustadz. Tapi Saman tak bisa mengurus burungnya. Si burung keliaran tengah malam, nidurin istri tetangga.” (Lampu Merah, 20 Agustus 2008).

Pola-pola emosionalisme seringkali ditampilkan oleh suratkbar yang bisa dikategorikan sebagai ”koran kuning”. Nuansa emosi bahkan menjadi menu wajib dalam menyajikan berita. Sebutlah dua nama mainstream koran yang mewakili  genre koran kuning di Indonesia saat ini: Lampu Merah (LM, sekarang berganti nama menjadi Lampu Hijau) dan Pos Kota (PK).

Kita mulai dengan emosi yang ditampilkan Lampu Merah. Kesan pertama yang muncul ketika membaca Lampu Merah adalah luapan emosi judul beritanya. Emosionalisme yang ditampilkan dalam judul headline koran ini umumnya terlihat dari teknik penulisan dengan tanda baca tertentu yang semestinya tidak perlu digunakan. Bentuk-bentuk emosionalisme yang ditampilkan pada judul Lampu Merah antara lain dapat dilihat dalam contoh berikut.

(1)  Anak Durhaka, Nggak tahu Diri! Ibu lagi Tidur, Eh…Digamparin (LM, 21 Agustus 2008)

(2)  Ibu dan Anak, Nggak Akur Banget, Cekcok Mulu, Anak Dituduh Nuker Parfum Gondok Banget, Ibu Dipisau (LM, 11 Agustus 2008)

(3) Disuruh Mandi, Dandan Biar Cakep, Eh Males-Malesan. Diajak  Kondangan, Ogah, Bini Ngamuk, Suami Ditusuk (LM, 18 Agustus 2008)

Seperti halnya pada judul, emosionalisme dalam lead pemberitaan Lampu Merah juga sering ditampilkan dalam bentuk kalimat yang berisi luapan emosi, seperti hujatan, simpati, kerterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam lead berita Lampu Merah yang ditulis berikut ini:

(1)   Gafura (73 tahun) terus-terusan nangis, menahan sakit di tangannya. Selain sakit pada fisik, gafura juga sakit hati atas apa yang dilakukan Saidah (46 tahun); anak kandungnya. Gafura tidak tahan, karena sering dianiaya oleh Saidah. Karena tidak betah, Gafura; janda kelahiran Pakistan ini melapor ke Mapolres Jakarta Pusat. (LM, 21 Agustus 2008)

(2)   Dia boleh jago ngelurusin urat yang bengkok. Tapi uratnya sendiri, benar-benar nggak keurus. Buktinya saat urat burungnya tegang, si tukang pijet ini tak pilih-pilih lagi. Pelanggan pijetnya, yang sudah keriput, diembat juga. Malah, si nenek diperkosa setelah jadi mayat. Ya, kepala si nenek dibekap kantong kresek sampai mati. Lalu diperkosa! Hahh?” (LM, 5 Agustus 2008)

Dalam body berita, bentuk emosionalisme juga tampak dari paparan atau narasi yang mengungkapkan luapan emosi  wartawan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam body berita Lampu Merah yang ditulis sebagai berikut.

(1)   Sumartini atau biasa disapa Tini (29) ini jelas sedih, bagaimana tidak? Deni Kurniawan (19), suaminya ternyata selingkuh. Bahkan selingkuh dengan laki-laki”. Malah, karena malu kepergok, Deni pun membacoki Tini. Karuan, warga Desa Sutawinangun Gg. Tawekal Kabupaten Cirebon luka parah (LM, 16 Agustus 2008).

(2)   Ratusan warga itu mendatangi sekolahan Indah dan mencari Bahruddin. Emosi dan benci sepertinya sudah berkecamuk...Saat mau dievakuasi dari sekolahan, Bahruddin sempat menerima pukulan dari warga yang marah atas tindakannya. (LM, 6 Agustus 2008)

Secara umum, emosionalisme pada headline Lampu Merah muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa kata, frasa, dan kalimat. Kata yang dipilih untuk merepresentasikan emosionalisme antara lain:

1. Reaksi warga melihat peristiwa kriminalitas:

“heboh”, “geger”, “riuh”, “gempar”, “dikagetkan”

2. Kata penghubung:

“lucunya”, “anehnya”, “uniknya”, “karuan”, “parahnya”

3. Kata seru:

“hahh”, “eh…”, “lho”, “dah”, “ya”, “lah”.

4. Penggunaan kata yang memberi penekanan atau penyangatan (superlative):

“cuma”, “banget”, “bahkan”, “benar-benar”, “parah”, “berkecamuk”

5. Penggunaan kata-kata yang menonjolkan sisi emosi pelaku/aktor peristiwa:

“malu”, “marah”, “ngamuk”, “kalap”, “sedih”, “kesal”, “sesal”, “trauma”, “menangis”, “merintih”, “cuek”, “ngelunjak”, “gondok”, “biadab”

Sedangkan frasa yang digunakan Lampu Merah untuk menampilkan emosionalisme antara lain: “sudah tidak tahan”, “anak durhaka”, “jelas sedih”, “pastinya kecewa”, “hanya bisa menangis”, “tidak peduli”, “penuh emosi”, “kesal bukan main”, “capek juga”, “kelakuan bejat”, “adem-adem aja”, dan “perampokan/pembunuhan/perkosaan biadab”. Seringkali frasa ditulis dengan memberi tanda baca, misalnya tanda seru, tanda tanya, atau tanda baca lainnya. Contoh: “nggak tahu diri!” (LM, 13 Agustus 2008).

Emosionalisme pada headline Lampu Merah yang ditulis dalam bentuk kalimat panjang umumnya berupa pola kalimat sebab-akibat atau pemberian keterangan tambahan (apositif) yang dikaitkan dengan konteks, situasi, atau setting kejadian, misalnya:

Warga pun mendatangi rumah Apan. Di sana mereka kaget. Sebab menurut Tika (45), istri Apan, malingnya justru si badut yang kabur tadi. Dia baru saja memperkosa Juwita, si bungsu berusia 7 tahun. Penuh emosi, warga pun kembali mengejar si badut……Melihat ini, si burung badut endut-endutan. Si badut langsung nyelonong masuk masuk kamar Juwita. Karena rumah sepi, si badut pun dengan santai memperkosa Juwita. (LM, 28 Agustus 2008)

Sementara emosionalisme pada headline Lampu Merah yang ditulis dalam bentuk kalimat pendek umumnya berupa pola kalimat sederhana yang diberi tanda baca tertentu guna membangkitkan emosi pembaca. Contoh: “Ini si pemerkosa mayat!” (LM, 5 Agustus 2008).

Tak jauh beda dengan Lampu Merah, pola-pola emosionalisme yang ditampilkan pada judul headline Pos Kota umumnya diperlihatkan dari pilihan kata, frasa, dan kalimat yang bernada emosional dalam bentuk hujatan, himbauan, ajakan, simpati, kerterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Bentuk-bentuk emosionalisme yang ditampilkan pada judul Pos Kota antara lain dapat dilihat dalam contoh berikut.

(1) Jelang Ramadhan Rakyat Sengsara (PK, 28 Agustus 2008)

(2) Tembak Mati Koruptor (PK, 9Agustus 2008)

(3) DKI Tak Gentar Digertak KPK (PK, 14 Agustus 2008)

Seperti halnya pada judul, emosionalisme dalam lead pemberitaan Pos Kota juga sering ditampilkan dalam bentuk kalimat yang berisi hujatan, simpati, kerterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam lead berita Pos Kota yang ditulis sebagai berikut.

(1)   Sadis. Itulah kata yang tepat untuk Teguh Santosa, 35, warga Dusun Kedaung Rejo, Kecamatan Wonopringgo, Pekalongan. Ayah durjana ini tak sekadar tega mencekik anak kandungnya, Amat Bahar, 6, tapi setelah itu leher anak diikat dan digantung di atas pohon mangga depan rumah hingga tewas. (PK, 12 Agustus 2008)

(2)  Emosi warga Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Jombang, sudah tidak bisa dibendung. Jumat (1/8) pagi, puluhan warga mendatangi Kepala Dusin Waijo, Mahmud. Mereka keluarkan ultimatum agar orangtua Ryan diusir dari desa. (PK, 2 Agustus 2008)

(3)   Lengkap sudah penderitaan rakyat. Menjelang Ramadhan, kehidupannya sengsara karena minyak tanah menghilang, harga elpiji naik terus, harga sembako melambung tiada henti, dan cari duit makin susah. (PK, 28 Agustus 2008)

Dalam body berita, bentuk emosionalisme juga tampak dari paparan atau narasi yang mengungkapkan penonjolan emosi terhadap peristiwa, situasi, maupun karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam body berita Pos Kota yang ditulis sebagai berikut.

(1)   Di kamar yang kumuh itu, petugas menemukan pemandangan yang menyayat hati. Puluhan cewek ABG berusia 13 hingga 16 tahun dalam kondisi mengenaskan. Wajah mereka pucat pasi. (PK, 15 Agustus 2008)

(2)  Kekesalan warga terutama warga Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelan, Jombang, terhadap Ryan, sang penjagal, sepertinya tak bisa dibendung lagi. Kata-kata umpatan bahkan sumpah serapah terus dilontarkan kepada Ryan. Mereka pun mengaitkan kasus Ryan dengan kehidupan keluarganya selama ini, khususnya kehidupan pribadi Ny.Sriatun” (PK, 1 Agustus 2008).

(3) Kebiadaban sang ayah terhadap murid Taman Kanak-Kanak (TK) Getas Pekalongan ini, pertama kali diketahui Kus, warga setempat, Senin (11/8) pukul 06:00. (PK, 12 Agustus 2008)

Secara umum, emosionalisme pada headline Pos Kota muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa kata, frasa, dan kalimat yang dipakai untuk menonjolkan sisi emosi pelaku/aktor peristiwa atau penilaian sifat seseorang. Kata-kata yang dipilih Pos Kota untuk merepresentasikan emosionalisme ditunjukkan dari penggunaan kata seperti “kejengkelan”, “kebiadaban”, “ketakutan”, “sadis”, “durjana”, “jahat”, “histeris”, “sengsara”, “ironis”, “tragis”, “kaget”, “kesal”, “lega”, “sedih”, “loyonya”, “kecewa”, “bingung”, “puas”, “takut”, “beruntung”, “shock”, “terpukul”, “prihatin”, “gempar”, dan “menyeramkan”.

Sedangkan frasa bernuansa emosional yang digunakan Pos Kota untuk menampilkan sensasionalisme antara lain: “menyambut gembira”, “menyayat hati”, “tangisan histeris”, “berteriak ketakutan”, “mengelus dada”, “tak tahu balas budi”, “janji tinggal janji”, “tak peduli”, “tak gentar”, “tidak menggertak”, “alibi jahat”, “tidak menggubris”, “kecewa berat”, “mengaku lega”, dan “sumpah serapah”.

Emosionalisme pada headline Pos Kota yang ditulis dalam bentuk kalimat panjang umumnya berupa pola kalimat sebab-akibat atau pemberian keterangan tambahan (apositif) yang dikaitkan dengan konteks, situasi, atau setting kejadian, misalnya:

(1)   Tewasnya Ahmad membuat Ny. Siti komariah, 52, sang istri pingsan. Hingga Minggu malam. Ibu satu anak ini terlihat shock meratapi kematian suaminya. Begitu juga dengan anaknya, Komaruddin, 17, mengaku sangat terpukul karena kehilangan orang yang dikasihi. (PK, 18 Agustus 2008)

(2)   Loyonya badan penyelenggaraan Transjakarta belakangan ini, justru berakibat menyeramkan lantaran sering terjadi kecelakaan menelan korban jiwa. (PK, 11 Agustus 2008).

Sementara emosionalisme pada headline Pos Kota yang ditulis dalam bentuk kalimat pendek umumnya berupa kalimat perintah, namun tidak disertai tanda baca. Contoh: “Tembak Mati Koruptor” (PK, 9Agustus 2008), “Awas, Bulan Puasa Maling Merajalela” (PK, 30 Agustus 2008), “Stop Pungutan di Sekolah” (PK, 16 Agustus 2008).


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

Koran Kuning, Jurnalisme atau Bukan?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Secara singkat dapat dirumuskan bahwa koran kuning adalah suratkabar yang kurang atau cenderung tidak mengindahkan kaidah jurnalistik yang umum berlaku (Conboy, 2003: 56). Pemberitaan koran kuning yang berpijak pada ilusi, imajinasi, dan fantasi membuatnya dikenal sebagai jurnalisme yang menjual sensasi. Begitu kuatnya unsur sensasionalisme dalam berita, menjadikan elemen tersebut dikenal sebagai ciri khas dari jurnalisme kuning (Conboy, 2003: 56; Yusuf, 2006: 6; 2007; Adhiyasasti & Riyanto, 2006 118; Sumadiria, 2005: 40).

Selain unsur sensasionalisme dan dramatisasi dalam penulisan berita, ciri utama lainnya dari koran kuning adalah penggunaan aspek visual yang cenderung berlebihan, bahkan terkesan lebih dominan daripada teks beritanya. Aspek visual yang digunakan oleh koran kuning antara lain berupa: (1) scare-heads; headline yang memberi efek ketakutan, ditulis dalam ukuran font yang sangat besar, dicetak dengan warna hitam atau merah. Seringkali materinya berisi berita-berita yang tidak penting; (2) penggunaan foto dan gambar yang berlebihan; dan (3) suplemen pada hari minggu, yang berisi komik berwarna dan artikel-artikel sepele (Conboy, 2003: 57).  Conboy  (2003: 57) juga menambahkan adanya teknik verbal yang melekat pada koran kuning, yakni berbagai jenis peniruan dan penipuan, misalnya cerita dan wawancara palsu, judul yang menyesatkan, pseudo-science[2], dan bahkan judul-judul penuh kebohongan.

Di samping menggunakan teknik-teknik di atas, koran kuning juga memfokuskan pemberitaannya pada isu-isu kontroversial yang mampu memancing perdebatan dan gosip. Isu-isu kontroversial ini sengaja diangkat untuk menarik perhatian pembaca sebanyak-banyaknya, terutama pembaca yang berasal dari kalangan kelas menegah ke bawah di perkotaan. Isu-isu yang sering memancing kontroversi ini, antara lain isu yang berkaitan dengan unsur sex, conflict, and crime (seks, konflik, dan kriminal) atau sebagian kalangan menyebutnya HVS-9g –dibaca: ha-vi-es sembilan gram, plesetan dari horror, violence, sex, ghost, glamour atau HVSGG (Hamad, 2007: 202). Emery dan Emery (dalam Conboy, 2003: 56) mengomentari jurnalisme kuning sebagai jurnalisme tanpa jiwa: “Yellow journalism, at it worst, was the new journalism without a soul … This turned the high drama of life into a cheap melodrama … instead of giving effective leadership, yellow journalism offered a palliative of sin, sex, and violence”. Nilai berita yang mendasar seperti significance, prominence, dan magnitude, cenderung diabaikan. Karena jurnalisme kuning menonjolkan sensasionalime daripada berita (fakta) itu sendiri, maka beritanya menjadi tidak penting atau oleh sebagian pihak yang menentang kehadiran koran kuning ini disebut sebagai “berita sampah”. Di Amerika koran-koran semacam ini juga memiliki beragam julukan, antara lain jazz papers (koran hura-hura), boulevard papers (koran pinggir jalan), dan gutter papers (koran got).

Menurut Adhiyasasti & Rianto (2006, 116-117), karakteristik koran kuning di Indonesia terfokus pada halaman pertama. Terkait dengan halaman ini, setidaknya ada empat ciri yang menonjol. Pertama, pemasangan foto peristiwa kriminal dan foto perempuan dengan penekanan seksualitas tubuh perempuan. Kedua, headline berukuran besar dengan warna-warni yang mencolok, misalnya merah, biru, kuning, dan hijau. Ketiga, banyaknya item berita di halaman muka. Jika biasanya koran umum memasang 5 hingga 8 item berita, jumlah berita yang ditampilkan di halaman depan koran kuning berkisar antara 10 sampai 25 item berita. Formatnya berupa berita yang sangat singkat, bahkan kerap hanya berupa judul dan lead kemudian bersambung ke halaman dalam. Uniknya, tidak sedikit judul dicetak sedemikian besar hingga ukurannya melebihi isi berita itu sendiri. Keempat, dilihat dari iklan yang dimuat, koran kuning di Indonesia umumnya menampilkan berbagai bentuk iklan yang tergolong vulgar, kadang dilengkapi dengan foto, gambar, atau kata-kata sensasional. Iklan tersebut pada umumnya berbau seksual dan supranatural (klenik), contohnya iklan pembesar alat vital laki-laki atau payudara wanita, layanan telepon seks, pijat (message), mainan seks (sex toys), paranormal, hingga penyembuhan alternatif. Pada beberapa koran kuning, ciri-ciri di atas tidak hanya terlihat di halaman depan, namun juga berlaku untuk halaman belakang, bahkan di halaman dalam.

Sementara itu, Sumadiria (2005: 40) menyatakan, salah satu ciri dari koran kuning adalah menggunakan pendekatan jurnalistik yang menekankan pada unsur seks, konflik, dan kriminal. Ketiga tema berita tersebut sering muncul menghiasi halaman-halaman koran kuning. Sumadiria menambahkan, media ini hanya mengangkat persoalan dan gambar berselera rendah. Selain itu, pers kuning juga tidak dapat dipercaya karena opini dan fakta sering disatukan, dibaurkan, dikaburkan, atau bahkan diputarbalikkan. Kaidah baku jurnalistik tidak diperlukan; berita tak harus berpijak pada fakta, tetapi bisa saja didasari ilusi, imajinasi, dan fantasi. Sumadiria menyebut beberapa kriteria layout yang umum dilakukan oleh koran kuning dalam, antara lain: penyajian yang banyak mengeksploitasi warna; segala macam warna ditampilkan untuk mengundang perhatian; penataan judul yang tak beraturan dan tumpang-tindih; pilihan kata tidak diperlukan, karena pers kuning tidak menganut pola penulisan judul dan pemakaian kata yang benar dan baik; apapun bisa dipakai dan dicoba.

Menurut Ashadi Siregar dalam sebuah diskusi publik bertajuk “Menyingkap Profesionalisme Kinerja Suratkabar” di Yogyakarta, pada 25 Febuari 2006; untuk mengkaji koran kuning perlu dibedakan secara epsitemologis antara “jurnalisme” dengan “jurnalistik”. “Jurnalisme” selamanya berkenaan dengan kepentingan publik, sedangkan “jurnalistik” merupakan keseluruhan dari aktivitas mencari, mengumpulkan, menyimpan, mengolah, dan menyebarkan berita. Sesuatu yang lazim dilakukan oleh wartawan. Dengan demikian, menurut Siregar, tidak semua produk jurnalistik merupakan hasil kerja jurnalisme karena fakta dalam jurnalisme selalu berhubungan dengan fakta publik.

Dalam kaitan ini, untuk sekadar memenuhi kategori jurnalistik, paling tidak ada tiga syarat yang harus terpenuhi:

  1. Jurnalistik merupakan proses/kegiatan pengkomunikasian informasi/berita, mulai dari mencari, memilih, mengumpulkan, menulis, dan mengedit informasi.
  2. Hasil olahan informasi berwujud produk mikro pemberitaan (straight news, soft news, feature, foto, gambar, visual, rekaman suara, dsb).
  3. Informasi yang telah diolah itu disiarkan secepat-cepatnya melalui media massa seperti surat kabar, majalah, tabloid, bulletin, newsletter, internet, televisi, radio, dsb.

Lebih lanjut, Siregar (2000: 173) memandang, pemilahan secara tajam media massa di antara media jurnalisme dengan media jurnalistik yang melahirkan media hiburan ini menjadi landasan dalam melihat hubungan antara kebebasan pers dan kepentingan publik. Kebebasan pers terkait dengan hak masyarakat untuk memperoleh kebenaran atas fakta yang menjadi ruang hidup bagi media jurnalisme. Karenanya, kata kunci dalam kebebasan pers adalah kebenaran (truth), suatu istilah yang sarat makna dalam filsafat sosial. Sementara media hiburan yang berfungsi untuk mengisi ruang psikologis yang bersifat personal, tidak harus dihadapkan dengan kebenaran faktual. Ukuran dalam media hiburan dengan sendirinya berbeda dari media jurnalisme karena selalu dilihat dalam kerangka estetis, bukan kebenaran (Siregar, 2000: 173).

Apa yang disampaikan Siregar ini sebenarnya telah dikemukakan oleh McQuail (2000) dan Dennis & Merril (1991) ketika mengatakan bahwa jurnalisme senantiasa berkenaan dengan kepentingan publik. Pikiran ini juga senada dengan paparan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku The Elements of Jornalism: What Newspeople Sholud Know and the Public Should Expect (2001) yang kemudian diterjemahkan ke dalam dua buku berbahasa Indonesia dengan judul Elemen-Elemen Jurnalisme (2003) dan Sembilan Elemen Jurnalisme (2006). Kovach dan Rosenstiel mengemukakan adanya sembilan elemen jurnalisme yang berorientasi profesionalisme, akuntabilitas, dan pertanggungjawaban kepada publik. Sembilan elemen tersebut yakni:

  1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
  2. Loyalitas pertama jurnalisme kepada warga
  3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi
  4. Para praktisinya harus menjaga independensi terhadap sumber berita
  5. Jurnalisme harus berlaku sebagai pemantau kekuasaan
  6. Jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik ataupun dukungan warga
  7. Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting, menarik, dan relevan
  8. Jurnalisme harus menjaga agar berita komprehensif dan proporsional
  9. Para praktisinya harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka

Dengan melihat definisi dan ciri-ciri di atas, jika melihat koran kuning dari kacamata jurnalisme, maka dapat digarisbawahi  bahwa koran kuning berseberangan dengan standard jurnalisme profesional, yakni jurnalisme yang menjunjung tinggi objektivitas. Jurnalisme profesional atau sering disebut sebagai jurnalisme ideal yang cenderung beraliran positivistik mempersyaratkan adanya objektivitas dalam penulisan berita. Prinsip ojektivitas harus dipenuhi agar suatu berita dapat dipertanggungjwabkan.

Syarat-syarat objektivitas sebagaimana dipaparkan (McQuail, 1992: 196-204) adalah (i) Factualness, yaitu tingkat kebenaran berita berdasarkan fakta atau sesuai dengan kenyataan. Termasuk dalam kualitas factualness adalah nilai informasi, readability, dan checkability; (ii) Akurasi, yaitu seberapa tepat data yang disampaikan dalam berita. Akurasi mengharuskan adanya verifikasi fakta, relevansi sumber berita, dan akurasi penyajian lewat data-data yang kuat, didukung foto, tabel, atau bukti fakta lainnya; (iii) Completeness, yaitu kelengkapan unsur pokok berita, yakni 5W+1H (what/peristiwa apa yang terjadi, who/siapa yang terlibat, when/kapan terjadinya, where/di mana terjadinya, why/mengapa terjadi, dan how/bagaimana kejadiannya); (iv) Relevance, yaitu kriteria yang menentukan berita tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat, bisa dilihat dari keberadaan nilai-nilai berita (news values) dan relevansi isi yang diberitakan dengan tujuan berita yang disampaikan; (v) Balance, yaitu keseimbangan dalam pemberitaan, diukur dari ada tidaknya bias penampilan satu sisi dalam berita (source bias); dan (vi) Neutrality, artinya berita yang dilaporkan bersifat netral, ada pemisahan tegas antara fakta dengan opini. Netralitas juga menghendaki tidak adanya sensasionalisme, stereotip, dan prasangka dalam pemberitaan.

Dalam pemahaman ini, tentu saja dapat menjadi perdebatan: apakah berita dalam koran kuning merupakan produk jurnalisme ataukah semata-mata produk jurnalistik? Atau bahkan bukan keduanya? Tentunya, pengategorian dan sudut pandang semacam ini mempunyai implikasi terhadap pendekatan teoritik dan analisis yang dibangun. Jika berita dalam koran kuning dinggap sebagai, misalnya, semata-mata produk jurnalistik dan tidak menggunakan standar jurnalisme profesional, maka tidak banyak kritik yang bisa diajukan.

Namun, jika berita pada koran kuning dianggap sebagai produk jurnalisme dan juga berpijak pada jurnalisme profesional, maka, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menemukan relevansinya. Argumentasi ini penting dikemukakan karena dalam beberapa pandangan, terdapat pihak yang secara ekstrim mengkategorikan koran kuning dengan segala produk turunannya cenderung bukan sebagai produk pers, melainkan industri percetakan yang dalam beberapa kasus bahkan tidak bisa dilihat dari kacamata pers. Perdebatan ini senada dengan kontroversi yang pernah mengemuka di kalangan wartawan terkait pengketegorian program “infotainment” di televisi: apakah “berita”nya termasuk produk jurnalistik atau tidak; apakah “wartawan”nya termasuk jurnalis profesional atau tidak.

Sekadar contoh, dalam menyikapi desakan masyarakat untuk memberangus produk turunan koran kuning, yakni majalah dan tabloid—yang dinilai sebagian masyarakat sebagai majalah dan tabloid porno, Dewan Pers memberikan pandangan bahwa media-media dengan muatan pornografi bukan termasuk pers, melainkan industri pornografi yang delik kasusnya harus diproses secara hukum, bukan ranah pers.

Berikut ini adalah contoh pandangan pro-kontra dari perspektif wartawan terhadap kehadiran koran kuning, khusunya Lampu Merah. Perdebatan ini mengemuka dalam mailing list (milis) jurnalisme@yahoogropus.com, yang mayoritas anggotanya adalah jurnalis dan pengamat media. Posting pertama dikirim pada 30 Juni 2008 oleh anggota milis <tengkudhanixxxxx@ yahoo.com>. Ia menulis:

Kawan-kawan, lihatlah koran Lampu Merah, Minggu, 29 Juni 2008, halaman 5. Judulnya “Noni si Nona Nikmat Menghilangkan Penat di Otakku”. Koran ini telah menuliskan sebuah tulisan cabul yang, bagi saya, sangat memalukan dan merendahkan jurnalistik!

Pertanyaannya, apa yang bisa diperbuat Dewan Pers dan organisasi profesi? Apa yang harus dilakukan komunitas pers (andai komunitas ini bukan sebuah komunitas imajiner yang hanya bertugas mencatat pelanggaran). Saya tidak tahu, apakah koran ini memang begini adanya atau tidak.

Tulisan ini memancing berbagai pendapat, Berikut ini dua di antaranya, mewakili pandangan yang berbeda.

Pendapat pertama, ditulis oleh <itexxx@yahoo.com>:

Dewan Pers dan organisasi jurnalis tidak langsung menanggapi yellow paper seperti Lampu Merah karena menganggap penerbitan seperti itu bukan sepenuhnya produk pers. Mereka berharap aparat hukum (polisi dan jaksa) pro-aktif melindungi publik dari terbitan-terbitan sampah seperti itu. Sangat jelas, isi publikasi semacam itu bukan produk pers dan hanya mengumbar kecabulan—dan biasanya sadisme.

Contoh “Lampu Merah” yang Anda gambarkan adalah ekses dari kebebasan pers yang tidak bermanfaat bagi pers dan publik. Dia punya hak hidup, tapi tak perlu ditangisi jika dia MATI. Konsekuensinya, dia tak perlu dibela dari gugatan hukum pihak-pihak yang keberatan, apakah publik ataupun aparat hukum. Saya yakin 100 persen pengelola penerbitan itu bukan anggota organisasi jurnalis yang beres.

Sejujurnya saya belum pernah baca Lampu Merah secara utuh dan sengaja. Meski begitu, naluri saya langsung menyimpulkan media seperti ini SAMPAH dan TIDAK LAYAK DIBACA. Yang terbaik ialah mengkampanyekan agar publik tidak membeli koran itu sehingga dia tidak laku dan akhirnya mati sendiri.Analoginya: sebuah kendaraan nyelonong di tengah lalu lintas, berjalan zig zag, melanggar traffic light, tidak mengindahkan aturan dan membahayakan pemakai jalan lain, maka jangan salahkan siapa-siapa jika dia tersenggol, tertabrak, atau bahkan terlindas truk tronton.

Bagi pembaca yang terganggu dengan isi publikasi Lampu Merah, SILAKAN LAPOR ke Dewan Pers atau langsung ke polisi. Bahkan LKM Media Watch bisa langsung memperkarakan mereka secara hukum. Jika mereka mengaku korannya itu produk pers, mereka bisa dijerat pasal 5 ayat (1) UU Pers Nomor 40/1999 dengan hukuman denda 500 juta rupiah. Jika mereka berkelit penerbitannya bukan produk pers, pasal kesusilaan KUHP bisa dikenakan, yang memungkinkan pengelolanya masuk penjara.

Pendapat kedua, ditulis oleh <faridxxxxx@yahoo.com>:

Maaf, saya tidak sependapat. Lampu Merah itu jelas sebuah koran, sebuah pers. Sebagai wartawan, kita tidak perlu malu untuk mengakui bahwa memang ada pers baik dan pers buruk. Kita tidak bisa berargumen pers buruk itu bukan pers.

Argumen seperti ini, jika ada, mencerminkan upaya sebuah cuci tangan yang tidak bertanggungjawab. Menjadi tanggung jawab kita semua kalangan wartawan untuk mengutuk praktek buruk pers, praktek teman-teman kita sendiri di Lampu Merah dan di produk-produk infotainment (yang juga bentuk produk pers).

Berbagai kontroversi di atas perlu diajukan karena di satu sisi, saat ini lanskap perkembangan jurnalisme di Indonesia juga menunjukkan perkembangan dinamis sejalan dengan berhembusnya iklim kemerdekaan pers sejak era reformasi. Diskursus tentang adopsi konsep jurnalisme fakta vis a vis jurnalisme makna dalam pemberitaan misalnya, melahirkan pendekatan jurnalisme ke dalam dua kutub-dikotomis; konvensional dan kontemporer. Jurnalisme konvensional menempatkan ideologi “objektivitas” sebagai landasan utama dalam beroperasi. Tolok ukurnya adalah dua dimensi: “faktualitas” (factuality) dan “imparsialitas” (impartiality) (McQuail, 1992). Sementara, new journalism atau advocacy journalism sebagai respon global mengusung kritik tajam atas klaim objektivitas-positivisme sehingga memunculkan genre baru dalam jurnalisme. Sebutlah jurnalisme publik, jurnalisme damai, jurnalisme patriotik, jurnalisme populer, jurnalisme sensitif gender, dan sebagainya (Santana, 2005;  Kovach & Rosenstiel, 2004; Charity, 1995; Emka, 2005). Jika koran kuning mengambil bagian dalam wacana baru ini, barangkali eksistensinya bisa dimasukkan dalam kategori “genre” new journalism, yakni junalisme populer atau menurut istilah Kasman (2004) sebagai jazz journalism.


[1]Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Argumen-argumen kuasi-ilmiah yang diklaim ilmiah namun tidak didasarkan pada penelitian dan metode yang dapat dipertanggunggjawabkan secara ilmiah.

Menelisik Sejarah Koran Kuning di Indonesia

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Berbeda dengan cerita kelahiran koran kuning di Eropa dan Amerika, koran kuning di Asia pertama kali berkembang secara populer di Jepang, yakni pada awal abad ke-20 hingga berakhirnya Perang Dunia I tahun 1918. Rakyat Jepang yang mengalamai pembaharuan atau Restorasi Meiji sejak tahun 1857 dikenalkan berbagai bentuk pendidikan politik, terutama ajaran demokrasi barat. Salah satu cara yang paling efektif untuk menyampaikan misi ini adalah melalui suratkabar populer (Anwar, 2000: 30). Kondisi ini menggejala di berbagai wilayah Asia seiring dengan propaganda Jepang atas wilayah koloninya.

Sementara itu, di Indonesia, sejak reformasi tahun 1998 menggulirkan kebebasan bermedia, koran-koran kuning bermunculan dengan berbagai bentuk. Mulai dari bulletin, tabloid, majalah hingga stensilan yang dekade-dekade sebelumnya sudah lebih dahulu populer lewat ekspos pornografi.

Ironisnya, setelah melihat tingginya permintaan pasar, koran-koran yang semula termasuk koran berkualitas akhirnya mendirikan koran populer sebagai strategi diversifikasi produk. Selain itu, pada saat yang sama, tabloid berisi klenik (tahayul) dan supranatural lainnya terus bermunculan, disusul pula koran kriminal yang mengumbar peristiwa-peristiwa kekerasan dan kecelakaan dengan menampilkan foto-foto korban secara vulgar dan penuh darah. Gambar mayat misalnya diekspos secara frontal di halaman muka dalam space berwarna yang cukup besar. Teknik penekanan gambar atau foto dengan zoom, close up, dan full colour secara terang-terangan mengeksploitasi tubuh mayat, layaknya gejala fethisisme. Dalam hal ini, koran kuning telah memanfaatkan kematian sebagi komoditas (Yusuf: 2005: 91-92).

Praktik koran kuning jika dilihat dari karakteristik dan ciri-ciri yang melekat pada yellow journalism sebenarnya sudah dimulai sejak lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Namun tonggak utama perjalanan koran kuning di Indonesia pada era modern dimulai dari kelahiran Pos Kota tahun 1970. Pos Kota yang dimotori Harmoko dan kawan-kawan hadir sebagai koran populer yang “melawan arus” media mainstream dan budaya massa saat itu. Keberanian tampil beda justru menjadikan Pos Kota berhasil dalam persaingan bisnis suratkabar.

Saat pertama kali terbit, oplah Pos Kota hanya 3.500 eksemplar. Ternyata perlahan-lahan pembaca di Jakarta dapat menerima kehadiran koran ini. Penerimaan tersebut dirasakan sebagai modal utama sehingga dalam waktu tidak terlalu lama, oplah meningkat menjadi 30-60 ribu eksemplar. Dalam beberapa bulan, Pos Kota sudah bisa membayar kertas dan ongkos percetakan (Ghazali dan Nasution, 2000: 8).

Seminggu setelah terbit, banyak tanggapan mengenai Pos Kota. Kalangan pers mempertanyakan, “Ini jurnalisme apa?”. Bahkan Menteri Penerangan (waktu itu) Budiarjo juga berkomentar sama. Harmoko menjawab: “Pokoknya kalau bukan golongan menengah ke bawah, lebih baik jangan baca.” (Ghazali dan Nasution, 2000: 8). Pada awal beroperasinya, masyarakat umumnya bersikap sinis terhadap penampilan Pos Kota. Ada kecenderungan kuat yang memasukkan harian ini sebagai suratkabar porno, koran tukang becak, koran cabul, dan di kalangan pers sendiri, harian ini dianggap kurang intelektual (Ghazali dan Nasution, 2000: 8).

Berbagai momentum seperti mencuatnya kasus “bayi ajaib” yang bisa bicara dalam perut Cut Zahara Fona dan wafatnya proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia, Soekarno, adalah salah satu pemicu (trigger) kejayaan Pos Kota. Dari kedua persitiwa menghebohkan itulah, Pos Kota memperoleh predikat dari PK Ojong sebagai “koran ajaib”. Utamanya karena kegigihan dan kelengkapannya menampilkan berita tentang “bayi ajaib”. Walaupun kemudian terbukti bahwa Cut Zahara Fona melakukan penipuan karena menyimpan tape recorder kecil yang disetel untuk mengeluarkan suara tertentu seperti suara bayi mengaji di balik stagen dalam gaun yang dipakainya. Heboh cerita bayi ajaib ini mendongkrak tiras Pos Kota di tahun pertama penerbitannya.

Membicarakan Pos Kota tentu tidak bisa menafikan keberadaan komik-komik bergambar (strip comics) sebagai salah satu kekuatan untuk mempertahankan minat pembaca setianya. Menurut Wirosardjono (2000: 57), komik Si John, Doyok, Ali Oncom, dan komik lain pada lembar bergambar (Lembergar) di Pos Kota dinilai oleh kalangan ahli dan peneliti ilmu-ilmu sosial di luar negeri sebagai bahan studi yang bisa merefleksikan denyut sosial masyarakat perkotaan lapis bawah di Indonesia. Pada Pusat Studi Indonesia di University British Columbia (Canada) dan di Universitas Cornell (AS) misalnya, Pos Kota termasuk salah satu koran yang dirujuk sebagai referensi.

Dilihat dari angka statistik, kesuksesan koran kuning dibuktikan oleh Pos Kota yang berhasil merebut minat penduduk Jakarta untuk mengakses berita-berita kriminal setiap pagi sebagai kebutuhan pokok sebelum beraktivitas. Pos Kota juga sangat populer di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Pada tahun 1983 misalnya, tiras Pos Kota mencapai 200.000 eksemplar (Rahzen et al., 2007: 300) Sebuah angka sirkulasi suratkabar yang fantastis kala itu. Menurut data SPS, pada tahun 2005, di tengah persaingan dengan media-media sensasional lainnya, oplah Pos Kota masih menunjukkan gregetnya, menempati urutan kedua (200.000 eksemplar) di bawah Kompas dengan oplah 509.000 eksemplar (Wikan, 2005).

Dari segi jumlah pembaca, menurut survei Media SPS pada tahun 2000, pembaca Pos Kota di Jabotabek mencapai 2.304.000 orang, jauh mengungguli Kompas yang memiliki jumlah pembaca di Jabotabek sebanyak 1.521.000 orang (Media SPS, Edisi 02/Tahun I, November-Desember 2000). Demikian juga pada tahun 2007, berdasarkan data Nielsen Media Research, di Jabotabek jumlah pembaca Pos Kota sampai bulan November 2007 tetap menempati posisi kedua dengan 1.199.000 pembaca, setelah Kompas sebanyak 1.337.000 pembaca.

Selama Orde Baru, Pos Kota berjaya sebagai pemain tunggal yang mengisi ceruk pasar koran bergenre kriminal di ibukota. Beberapa koran kuning di daerah yang berdiri dan mencoba peruntungan dengan mengusung genre ala Pos Kota ini juga bermuculan. Sebutlah yang paling populer Memorandum yang beredar di Surabaya dan wilayah Jawa Timur pada umumnya. Koran yang konon awalnya termasuk quality newspaper dan didirikan oleh pegiat pers mahasiswa di kampus-kampus sebelum menjadi koran kuning ini, setiap harinya dicetak hingga mencapai tiras di atas 100.000 eksemplar.

Selain Pos Kota dan Memorandum, dalam artikel Metamorfosa Pers Indonesia yang ditulis oleh Agus Sopiann (http://pwirjabar.4t.com/ metapers.html), disebutkan bahwa pada masa Orde Baru (tanpa menyebutkan tahun secara spesifik) terdapat dua media cetak cukup besar yang disebut-sebut sebagai “yellow paper” alias koran kuning, yaitu Gala dan Bandung Pos. Gala, suratkabar asuhan Media Indonesia yang terbit di Bandung, pada awalnya dikategorikan yellow paper, namun perlahan-lahan berubah menjadi quality paper, atau setidaknya popular paper. Sedangkan Bandung Pos, yang merupakan “anak” dari Pikiran Rakyat, adalah tabloid harian pertama di Indonesia. saat itu, oplahnya mencapai 60.000 eksemplar tiap hari. Sopian menilai, kunci sukses Bandung Pos barangkali terletak pada kebijakan redaksionalnya yang secara telak mengikis brand image “buletin Pemda”. Di sini berita-berita kriminal, baik trend news maupun spot news, diberi porsi lebih banyak. Sementara porsi berita tentang pemerintahan daerah dikurangi (Sopiann, http://pwirjabar.4t.com/metapers.html). Strategi lain yang dilakukan Bandung Pos adalah menampilkan dua halaman tengah secara full color berhiaskan foto-foto wanita cantik yang untuk ukuran saat itu tergolong “aduhai” (Sopiann, http://pwirjabar.4t.com/metapers.html).

Dalam perkembangan selanjutnya, iklim reformasi melahirkan banyak koran baru yang diantaranya dapat dikategorikan sebagai koran kuning[2], antara lain Lampu Merah dan Non Stop yang terbit di Jakarta, Meteor yang terbit di Semarang, Posko yang terbit di Manado, Pos Metro yang terbit di tiga kota sekaligus (Bogor, Medan, Batam), dan Merapi yang terbit di Yogyakarta. Nama-nama ini adalah beberapa contoh koran kuning yang terbit belakangan namun mampu menarik perhatian masyarakat karena berita-berita sensasional yang ditampilkan.

Sejak Minggu, 20 Oktober 2008 Lampu Merah berubah nama menjadi Lampu Hijau. Pada  pengantar edisi perdana Lampu Hijau ditulis dengan berganti nama baru, Lampu Merah ingin mengubah citranya menjadi koran yang lebih “teduh” sebagaimana filosofi warna hijau. Dalam praktiknya, perubahan ini hanya terlihat dari pengurangan materi seksualitas. Sebagai gantinya Lampu Hijau menambah materi berita-berita politik dan kriminalitas dengan teknik pengemasan dan penyajian yang sama dengan Lampu Merah.

Lampu Merah adalah fenomena kesuksesan korang kuning di Indonesia yang terbit setelah masa reformasi. Koran tersebut dalam waktu yang cukup singkat sejak berdiri 26 November 2001 berhasil menjaring pembaca sebanyak 1,3 juta pada tahun 2004 dan mencapai BEP (break even point) kurang dari satu tahun (http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=135908). Pada awal penerbitan Lampu Merah, edisi pertama diterbitkan 12 halaman dan dicetak sebanyak 40 ribu eksemplar. Sampai bulan keenam—yang biasanya disebut sebagai masa mencari jati diri dan oplah yang biasanya turun sampai batas sesungguhnya, Lampu Merah justru mengalami peningkatan hingga 100 ribu eksemplar. Peningkatan ini kemudian membawa Lampu Merah mencapai BEP pada umur kurang dari satu tahun, menjadikannya satu fenomena yang menarik di industri media cetak. Tahun 2005, Lampu Merah memasuki tahun keempat dan telah melalui oplah fantastis sebanyak 225 ribu eksemplar. Namun setelah terjadi beberapa kali kenaikan BBM, oplah menurun menjadi sekitar 125 ribu eksemplar (http://forum.kafegaul.com/ showthread.php?t=135908).

Awal mula berdirinya Lampu Merah adalah inisiatif Direksi Group Rakyat Merdeka untuk membuat satu koran yang berfokus pada masalah kriminal. Dipilihnya Gatot Wahyu (yang sekarang menjabat Ketua Komisi Pengembangan) bersama beberapa rekannya untuk merintis koran tersebut adalah karena latar belakangnya sebagai wartawan kriminal pada saat masih di harian Rakyat Merdeka. Tidak banyak arahan yang diberikan Direksi mengenai konten dan desain Lampu Merah karena karyawan diberikan kebebasan berkreasi. Dalam artikel di http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=135908 berjudul “Strategi Bisnis Lampu Merah” tertulis:

Konsep yang diangkat Lampu Merah adalah bagaimana semua aspek diberitakan dari perspektif kriminalitas, misalnya berita politik dikaitkan  dengan korupsi, berita olahraga yang terjadi perkelahian, atau berita artis yang saling menipu dan sebagainya. Gaya bahasa yang digunakan adalah trend, nyantai dan relax atau istilah lainnya “bahasa pasar” sehingga menghasilkan berita yang tidak kaku namun seperti bercerita/novel. Konsep bahasa yang nyantai diharapkan akan meningkatkan frekuensi pembaca dibandingkan dengan bahasa yang serius. Lampu Merah juga menampilkan beberapa foto/parade foto untuk satu peristiwa guna lebih menarik perhatian pembaca.

Dibanding koran kuning lainnya, penulisan judul headline Lampu Merah memiliki kekhasan berupa kalimat panjang terdiri dari 10-20 kata. Judul ini umumnya ditulis dalam ukuran besar dengan huruf kapital, namun pada edisi tertentu memiliki anak judul yang ditulis lebih kecil yang ditempatkan di atas atau di bawah judul besar (utama). Judul Lampu Merah yang tergolong panjang misalnya ”Ngakunya Orang Pintar, Bisa Negluarin Jin Jahat yang Ngeganggu, DUKUN MERKOSA 20 SISWI SMP, ADA YANG DISODOMI JUGA LHO” (Lampu Merah, 24 Agustus 2008). Judul pendek yang ditampilkan Lampu Merah misalnya ”CEWEK DISUNDUTIN ROKOK, DISODOMI, T’RUS DIBUNUH” (Lampu Merah, 30 Agustus 2008).

Panjang berita headline Lampu Merah berkisar antara 6–10 paragraf (termasuk lead). Penulisan lead tidak selalu dicetak dengan ukuran huruf yang lebih besar dibanding huruf body berita sebagaimana lazimnya penulisan lead suratkabar. Meskipun demikian, kebanyakan lead yang diposisikan pada awal berita ditulis dengan ukuran huruf yang berbeda dengan ukuran huruf body berita, yakni sedikit lebih besar, tebal, dan renggang.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Mengkategorikan sebuah suratkabar sebagai “koran kuning” tentu bukan persoalan mudah karena pemberian label tersebut umumnya selalu ditentang oleh pengelola media yang bersangkutan dengan alasan berpretensi memberi kesan negatif dan menyudutkan.