Bagaimana Koran Kuning Mencampuradukkan Fakta dan Opini?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Opinisasi adalah memasukkan pendapat pribadi wartawan ke dalam sebuah berita, alih-alih memaparkan fakta. Opinisasi juga berarti pencampuran antara fakta dan pendapat wartawan sehingga mengaburkan fakta jurnalistik yang sebenarnya. Dalam konsepsi baku jurnalisme, pemberian opini merupakan hal yang dilarang karena tugas wartawan pada dasarnya hanyalah melaporkan fakta. Interpretasi berbeda dengan opinisasi. Interpretasi menggunakan logika, penalaran, bahkan metodologi, sementara opinisasi terjadi karena kebiasaan memberikan penilaian, menghakimi, keinginan untuk membela kepentingan tertentu, sampai opini yang sengaja dimunculkan untuk membumbui sebuah cerita menjadi sensasional.

Praktik opinisasi sering dijumpai pada berita-berita yang ditampilkan dalam koran kuning. Contoh opinisasi dalam koran kuning dapat dilihat dari kutipan: “Malang nian nasib janda tua ini. Saat merebus mie di rumahnya…ia terjatuh lalu menyenggol kompor hingga tubuhnya terbakar, dst” (Pos Kota, 27 Juli 2004). Kalimat pertama jelas merupakan opini wartawan. Fakta baru dipaparkan pada kalimat kedua dan seterusnya. Contoh serupa juga terdapat berita Meteor,1 Agustus 2008 berjudul “Saatnya Anggota DPR Mandi Junub, Hartanya Najis Hidupnya pun Najis” dengan lead sebagai berikut. “Skandal korupsi berjamaah yang melibatkan seluruh anggota Komisi IX DPR periode 1994-2004 benar-benar menjijikkan. Anggota DPR sudah coreng moreng dengan korupsi. Main perempuan dari korupsi. Badannya pun najis. Karena itu, sudah saaatnya mereka mandi junub”. Judul dan lead berita tersebut jelas merupakan opini yang berasal wartawan. Dalam kasus ini seharusnya wartawan tidak perlu berpendapat  atau “menjadi juru dakwah” terlebih dulu, tetapi tugasnya adalah melaporkan fakta, bukan menulis opini.

Praktik pencampuran fakta dan opini dalam berita dapat dijumpai pada judul, lead, dan body berita. Tulisan ini memaprkan contoh-contoh pencampuran fakta dan opini pada dua koran kuning yang menjadi market leader di Indonesia, yakni Lampu Merah (kini Lampu Hijau) dan Poskota.

Opinisasi yang ditampilkan pada judul headline Lampu Merah (LM) umumnya terlihat dari cara penulisan judul yang disertai opini pribadi dari wartawan/editor. Terkadang juga tampak dari adanya pencampuran antara fakta dan opini sehingga mengaburkan fakta yang sebenarnya ingin diberitakan. Bentuk-bentuk opinisasi judul Lampu Merah antara lain terlihat dalam contoh berikut.

Jangan Nongkrong Sendirian di Lapangan Mega Kuningan. Cewek Diajak Minum AO, Udah Beler, digilir 5 Kuli (LM, 4 Agustus 2008)

4 Tahun Kerja, Malah Kelilit Utang Rp. 2,5 Juta. Linmas Kelurahan Menteng Ngerampok, Bunuh 3 Orang (LM, 3 Agustus 2008)

Cowok Kelamaam Gak di Rumah, Jadi Gampang Greng. Udah Tau Cewek O’on Diperkosa Ampe Hamil (LM, 19 Agustus 2008)

Modalnya Cuma Gondrong Doang, Macari Pembantu. Pembantu Jarang Dijajanin Minta Putus, Eh…Diperkosa (LM, 12 Agustus 2008)

Opinisasi dalam lead Lampu Merah seringkali ditampilkan dalam bentuk generalisasi, yaitu penyimpulan gejala tertentu secara umum (proposisi) tanpa disertai bukti-bukti pendukung (premis-premis) yang relevan. Terkadang opini dibuat seolah-olah mewakili pendapat atau pikiran aktor/subjek berita. Contoh opinisasi ini antara terlihat dalam lead berita yang ditulis sebagai berikut.

Si cowok benar-benar nggak modal. Kecuali rambut gondrongnya. Dia pikir, dengan rambut gondrongnya, si pembantu yang dipacarinya bakal senang. Ternyata tidak. Lama-lama, si pembantu capek juga harus membayari jajan setiap kali kencan. Dan si pembantu pun pacaran lagi. Si gondrong diputusin. Tapi si gondrong marah. Si pembantu pun diperkosa! (LM, 12 Agustus 2008)

Ini memang cuma masalah burung. Yang kepengen matuk. Tapi jadi persoalan serius karena yang mau dipatuk terlanjur ngantuk. Dan acara matuk pun batal. Karuan, yang punya burung ngamuk. Dan malam itu, istri yang ngantuk pun diamuk. Tangannya dipelintir. (LM, 9 Agustus 2008).

DS (25 tahun) warga Kampung Sasak, Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor mendapat julukan raja tega. Bagaimana tidak? Cowok itu telah mencabuli cewek 10 tahun. Sebut saja Melati. Ironisnya, si cewek itu keponakannya sendiri. Orangtua Melati pastinya kecewa. Mereka melaporkan DS ke kantor polisi. (LM, 8 Agustus 2008).

Dalam body berita Lampu Merah, bentuk opinisasi umumnya juga tampak dari adanya pencampuran antara fakta dan opini dalam berita sehingga mengaburkan fakta pokok yang ingin disampaikan. Selain itu, opinisasi juga ditandai adanya generalisasi, yaitu penyimpulan gejala tertentu secara umum (proposisi) tanpa disertai bukti-bukti pendukung (premis-premis) yang relevan, termasuk menyebutkan keseluruhan untuk mengganti sebagian (totem pro parte). Contohnya pada paragraf body berita Lampu Merah berikut.

Dan mungkin, Raden Ihlas Radesa (34), sudah katagihan microphone. Hingga akhirnya mencari ’microphone’ lain milik murid-muridnya. Tapi lucunya, meski kasus asusila ini sempat ditangani aparat kepolisian, tapi Ihlas Radesa tidak ditahan. (LM, 1 Agustus 2008)

Penarikan kesimpulan yang terburu-buru dan mengaburkan motif sebenarnya dari pelaku kriminal yang ditampilkan dengan teknik generalisasi juga tampak jelas dari kutipan body berita Lampu Merah berikut.

Aksi nekat yang dilakukan DS dipicu karena kegemarannya nonton film porno. Saat gairah melanda otak dan pikiran, DS tidak tahu kemana harus menyalurkannya. Saat DS pusing, dia melihat Melati baru keluar dari rumahnya. Otak DS langsung ngeres. (LM, 8 Agustus 2008)

Secara umum, opinisasi pada headline Lampu Merah muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa pemilihan kata, frasa, dan kalimat bernuansa opinisasi. Kata-kata yang dipilih Lampu Merah untuk menonjolkan opinisasi antara lain: “mungkin”, “maklum”, “entah”, “memang”, “rupanya”, “sepertinya”, “agaknya”,  dan “karuan”.  Sedangkan frasa yang digunakan Lampu Merah untuk menampilkan opinisasi di antaranya: “bagaimana tidak?”, “mau gimana lagi?”, dan “antara percaya dan tidak”.

Dalam pola kalimat, opinisasi headline Lampu Merah muncul baik berupa kalimat panjang dan kalimat pendek yang berada dalam struktur paragraf. Umumnya, kalimat dinilai mengandung opinisasi karena adanya generalisasi, yaitu penyimpulan gejala tertentu secara umum (proposisi) tanpa disertai bukti-bukti pendukung (premis-premis) yang relevan. Pola pemberian opini yang terlihat jelas biasanya muncul pada kalimat di awal paragraf lead mampun body berita. Contoh pemberian opini sekaligus penyimpulan yang seharusnya tidak perlu dimunculkan tampak dalam paragraf berikut.

Minggu dinihari kemarin tak akan pernah dilupakan Este (nama samaran). Gadis 19 tahun itu dicekoki minuman keras sampai teler. Setelah itu, Este digilir lima cowok di sebuah lapangan di daerah Mega Kuningan, Setiabudi Jakarta Selatan. Este lemes. Ia terkulai, ditinggal begitu saja oleh cowok yang menggilirnya. (LM, 4 Agustus 2008)

Berakhir sudah petualangan dukun cabul bernama Darsipan (45 tahun), warga Kasmaran, Kecamatan Wisdasari. Darsipan ditangkap polisi, saat tidur pulas di rumahnya. Darsipan dilaporkan ke polisi karena telah melakukan pencabulan. (LM, 24 Agustus 2008)

Dia boleh jago ngelurusin urat yang bengkok. Tapi uratnya sendiri, benar-benar nggak keurus. Buktinya saat urat burungnya tegang, si tukang pijet ini tak pilih-pilih lagi. Pelanggan pijetnya, yang sudah keriput, diembat juga. Malah, si nenek diperkosa setelah jadi mayat. Ya, kepala si nenek dibekap kantong kresek sampai mati. Lalu diperkosa! Hahh? (LM, 5 Agustus 2008)

Selain Lampu Merah, berita di harian Poskota (PK) juga diwarnai dengan opinisasi. Opinisasi dalam lead Pos Kota seringkali juga ditampilkan dalam bentuk generalisasi. Contoh opinisasi ini antara terlihat dalam lead berita yang ditulis sebagai berikut.

Menjadi bom seks tampaknya menjadi pilihan bagi sejumlah selebritis kita yang menyandang status janda. Mereka melihat film dengan buka aurat merupakan bagian dari profresionalisme memenuhi tuntutan skenario. (PK, 10 Agustus 2008)

Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah ini pantas diberikan kepada Ny.Sriatun dan Ryan, anaknya. Ketika diperiksa di Polres Jombang, Ny.Sriatun, yang bekerja sebagai pedagang kain, bersikeras bahwa ia jarang di rumah. (PK, 1 Agustus 2008)

Kejahatan di Ibukota jakarta dan sekitarnya sudah tak pandang bulu. Korban kebiadaban mereka banyak dijumpai orang lanjut usia (lansia) kaya. Selain dibantai, harta bendanya disikat. Bahkan tak sedikit pula pelakunya adalah orang yang dikenal korban. (PK, 9 Agustus 2008).

Dalam body berita Pos Kota, bentuk opinisasi umumnya juga tampak dari adanya pencampuran antara fakta dan opini dalam berita sehingga mengaburkan inti fakta yang akan disampaikan. Contohnya pada paragraf pertama body berita Pos Kota berikut.

Kemunduran perekonomian yang sedang terjadi di Indonesia berimplikasi luas dan dalam. Implikasi tergolong tragis adalah banyak orang menempuh jalan pintas dengan cara membunuh dengan maksud mendapatkan harta. Banyak pula yang harapannya mentok, lalu bunuh diri. (PK, 12 Agustus 2008)

Penarikan kesimpulan yang terburu-buru dalam penyampaian berita karena keinginan untuk beropini layaknya “juru dakwah”, akhirnya mengabaikan sejumlah fakta penting dari rangkaian peristiwa. Contoh pola ini tampak jelas dari kutipan body berita Pos Kota berikut.

Sejumlah proyek pembangunan mandeg karena dikabarkan pejabat pelaksanaannya takut salah dalam bekerja. Ketakutan seperti itu tidak perlu terjadi bila yang bersangkutan tidak memiliki kepentingan pribadi kecuali melaksanakan tugas. Kesan yang muncul, tanpa korupsi atau cincai-cincai, proyek pembangunan tidak bisa berjalan. Ironis. (PK, 13 Agustus 2008)

Secara umum, opinisasi pada headline Pos Kota muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa pemilihan kata, frasa, dan kalimat bernuansa opini. Kata-kata yang dipilih Pos Kota untuk menonjolkan opinisasi dalam penulisan headline antara lain: “tampaknya”, “kesannya”, “dikabarkan”, “pantas saja”, “sepertinya”, “tentu”. Sedangkan frasa yang digunakan Pos Kota untuk menampilkan opinisasi di antaranya: “kesan yang muncul”, “tentu saja”, “boleh dibilang”, “bisa dibilang”, “tidak mengherankan”.

Dalam pola kalimat, opinisasi headline Pos Kota muncul baik berupa kalimat panjang dan kalimat pendek yang berada dalam struktur paragraf. Umumnya, kalimat dinilai mengandung opinisasi karena adanya generalisasi, yaitu penyimpulan gejala tertentu secara umum (proposisi) tanpa disertai bukti-bukti pendukung (premis-premis) yang relevan. Kadang diimbuhi pepatah atau peribahasa yang seharusnya tidak perlu dimunculkan dalam penulisan berita. Pola kalimat bernuansa opini tampak pada contoh paragraf berikut.

Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah ini pantas diberikan kepada Ny.Sriatun dan Ryan, anaknya. Ketika diperiksa di Polres Jombang, Ny.Sriatun, yang bekerja sebagai pedagang kain, bersikeras bahwa ia jarang di rumah. (PK, 1 Agustus 2008)

Pasangan suami istri ditemukan tak bernyawa di rumahnya, Perumahan Cipta Graha Blok C No.6 Gunung Batu, Pasteur Bandung, Jawa Brata, Sabtu (30/8) malam. Kedua korban Ronal Alimuddin, 50, dan sang istri, Sri Magdalena, 45, dibunuh dengan cara sadis. Tentu saja peristiwa tersebut membuat geger kota Bandung. (PK, 4 Agustus 2008)

Praktik penyimpangan seks sesama lelaki bukan cuma dijumpai di kalangan usia dewasa, tapi sudah merambah kalangan remaja. Sebagian di antaranya dari keluarga miskin. Remaja keluarga miskin itu di antaranya menjadi joki 3 in 1 (three in one) dan anak jalanan (anjal). Boleh dibilang, remaja tersebut cuma menjadi korban pelampiasan nafsu pria dewasa sebagai gay. (PK, 6 Agustus 2008).


1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA), Yogyakarta.

Apa Jadinya Bila “Emosi” Dijadikan Bumbu Berita?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Walaupun emosi dapat meng“hidup”kan sebuah berita, aspek netralitas dan objektivitas pemberitaan menuntut sebuah penyajian berita yang dituturkan dengan logika rasional dan terkendali. Penonjolan emosi di dalam berita menjadikan objektivitas berita tergerus. Sebutlah contoh dua judul berita berikut: “Indonesia Menangisi Kekalahan Taufik Hidayat” atau “Pertahankan Ambalat, Ganyang Malaysia!”. Alih-alih menyampaikan fakta, judul berita di atas menonjolkan sisi emosional berkaitan dengan rasa nasionalisme atau patriotisme sesaat, bukan nalar jernih dan berpikir rasional sang jurnalis.

Emosi yang kita bahas kali ini dapat diartikan sebagai penonjolan aspek emosional (suka, benci, sedih, gembira, marah, putus asa, dan sebagainya) dibandingkan aspek logis rasional di dalam penyajian sebuah berita. Selain itu, ciri lain dari emosionalisme adalah pemberian tanda baca atau huruf tertentu seperti tanda seru [!], tanda tanya [?], titik tiga […], atau kombinasi ketiganya, serta penggunaan huruf tertentu secara rangkap dalam struktur kata yang semestinya tidak ditulis demikian. Contohnya  dapat dijumpai pada judul “Mana Tahannn…” (Merapi, 21 Agustus 2004) atau pada kalimat “…Petugas Polres Sleman menembaknya. Door! Dor! Si Maling Bandel ini dibedil kakinya sampek dlosor. Kapok ra! (Meteor, 10 Juli 2004).

Emosionalisme juga tampak dari adanya kontras, yakni menyandingkan dua fakta yang berbeda namun tidak berkaitan langsung dengan maksud menimbulkan efek ironis sehingga menambah kesan tertentu yang membangkitkan sisi emosional. Contohnya terlihat dari paragraf berikut.

Urusan nafsu emang cuma urusan burung. Nggak penting lagi, apa statusnya. Buktinya Saman pun tak mau ketinggalan jaman. Padahal, laki-laki 35 tahun ini ustadz. Tapi Saman tak bisa mengurus burungnya. Si burung keliaran tengah malam, nidurin istri tetangga.” (Lampu Merah, 20 Agustus 2008).

Pola-pola emosionalisme seringkali ditampilkan oleh suratkbar yang bisa dikategorikan sebagai ”koran kuning”. Nuansa emosi bahkan menjadi menu wajib dalam menyajikan berita. Sebutlah dua nama mainstream koran yang mewakili  genre koran kuning di Indonesia saat ini: Lampu Merah (LM, sekarang berganti nama menjadi Lampu Hijau) dan Pos Kota (PK).

Kita mulai dengan emosi yang ditampilkan Lampu Merah. Kesan pertama yang muncul ketika membaca Lampu Merah adalah luapan emosi judul beritanya. Emosionalisme yang ditampilkan dalam judul headline koran ini umumnya terlihat dari teknik penulisan dengan tanda baca tertentu yang semestinya tidak perlu digunakan. Bentuk-bentuk emosionalisme yang ditampilkan pada judul Lampu Merah antara lain dapat dilihat dalam contoh berikut.

(1)  Anak Durhaka, Nggak tahu Diri! Ibu lagi Tidur, Eh…Digamparin (LM, 21 Agustus 2008)

(2)  Ibu dan Anak, Nggak Akur Banget, Cekcok Mulu, Anak Dituduh Nuker Parfum Gondok Banget, Ibu Dipisau (LM, 11 Agustus 2008)

(3) Disuruh Mandi, Dandan Biar Cakep, Eh Males-Malesan. Diajak  Kondangan, Ogah, Bini Ngamuk, Suami Ditusuk (LM, 18 Agustus 2008)

Seperti halnya pada judul, emosionalisme dalam lead pemberitaan Lampu Merah juga sering ditampilkan dalam bentuk kalimat yang berisi luapan emosi, seperti hujatan, simpati, kerterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam lead berita Lampu Merah yang ditulis berikut ini:

(1)   Gafura (73 tahun) terus-terusan nangis, menahan sakit di tangannya. Selain sakit pada fisik, gafura juga sakit hati atas apa yang dilakukan Saidah (46 tahun); anak kandungnya. Gafura tidak tahan, karena sering dianiaya oleh Saidah. Karena tidak betah, Gafura; janda kelahiran Pakistan ini melapor ke Mapolres Jakarta Pusat. (LM, 21 Agustus 2008)

(2)   Dia boleh jago ngelurusin urat yang bengkok. Tapi uratnya sendiri, benar-benar nggak keurus. Buktinya saat urat burungnya tegang, si tukang pijet ini tak pilih-pilih lagi. Pelanggan pijetnya, yang sudah keriput, diembat juga. Malah, si nenek diperkosa setelah jadi mayat. Ya, kepala si nenek dibekap kantong kresek sampai mati. Lalu diperkosa! Hahh?” (LM, 5 Agustus 2008)

Dalam body berita, bentuk emosionalisme juga tampak dari paparan atau narasi yang mengungkapkan luapan emosi  wartawan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam body berita Lampu Merah yang ditulis sebagai berikut.

(1)   Sumartini atau biasa disapa Tini (29) ini jelas sedih, bagaimana tidak? Deni Kurniawan (19), suaminya ternyata selingkuh. Bahkan selingkuh dengan laki-laki”. Malah, karena malu kepergok, Deni pun membacoki Tini. Karuan, warga Desa Sutawinangun Gg. Tawekal Kabupaten Cirebon luka parah (LM, 16 Agustus 2008).

(2)   Ratusan warga itu mendatangi sekolahan Indah dan mencari Bahruddin. Emosi dan benci sepertinya sudah berkecamuk...Saat mau dievakuasi dari sekolahan, Bahruddin sempat menerima pukulan dari warga yang marah atas tindakannya. (LM, 6 Agustus 2008)

Secara umum, emosionalisme pada headline Lampu Merah muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa kata, frasa, dan kalimat. Kata yang dipilih untuk merepresentasikan emosionalisme antara lain:

1. Reaksi warga melihat peristiwa kriminalitas:

“heboh”, “geger”, “riuh”, “gempar”, “dikagetkan”

2. Kata penghubung:

“lucunya”, “anehnya”, “uniknya”, “karuan”, “parahnya”

3. Kata seru:

“hahh”, “eh…”, “lho”, “dah”, “ya”, “lah”.

4. Penggunaan kata yang memberi penekanan atau penyangatan (superlative):

“cuma”, “banget”, “bahkan”, “benar-benar”, “parah”, “berkecamuk”

5. Penggunaan kata-kata yang menonjolkan sisi emosi pelaku/aktor peristiwa:

“malu”, “marah”, “ngamuk”, “kalap”, “sedih”, “kesal”, “sesal”, “trauma”, “menangis”, “merintih”, “cuek”, “ngelunjak”, “gondok”, “biadab”

Sedangkan frasa yang digunakan Lampu Merah untuk menampilkan emosionalisme antara lain: “sudah tidak tahan”, “anak durhaka”, “jelas sedih”, “pastinya kecewa”, “hanya bisa menangis”, “tidak peduli”, “penuh emosi”, “kesal bukan main”, “capek juga”, “kelakuan bejat”, “adem-adem aja”, dan “perampokan/pembunuhan/perkosaan biadab”. Seringkali frasa ditulis dengan memberi tanda baca, misalnya tanda seru, tanda tanya, atau tanda baca lainnya. Contoh: “nggak tahu diri!” (LM, 13 Agustus 2008).

Emosionalisme pada headline Lampu Merah yang ditulis dalam bentuk kalimat panjang umumnya berupa pola kalimat sebab-akibat atau pemberian keterangan tambahan (apositif) yang dikaitkan dengan konteks, situasi, atau setting kejadian, misalnya:

Warga pun mendatangi rumah Apan. Di sana mereka kaget. Sebab menurut Tika (45), istri Apan, malingnya justru si badut yang kabur tadi. Dia baru saja memperkosa Juwita, si bungsu berusia 7 tahun. Penuh emosi, warga pun kembali mengejar si badut……Melihat ini, si burung badut endut-endutan. Si badut langsung nyelonong masuk masuk kamar Juwita. Karena rumah sepi, si badut pun dengan santai memperkosa Juwita. (LM, 28 Agustus 2008)

Sementara emosionalisme pada headline Lampu Merah yang ditulis dalam bentuk kalimat pendek umumnya berupa pola kalimat sederhana yang diberi tanda baca tertentu guna membangkitkan emosi pembaca. Contoh: “Ini si pemerkosa mayat!” (LM, 5 Agustus 2008).

Tak jauh beda dengan Lampu Merah, pola-pola emosionalisme yang ditampilkan pada judul headline Pos Kota umumnya diperlihatkan dari pilihan kata, frasa, dan kalimat yang bernada emosional dalam bentuk hujatan, himbauan, ajakan, simpati, kerterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Bentuk-bentuk emosionalisme yang ditampilkan pada judul Pos Kota antara lain dapat dilihat dalam contoh berikut.

(1) Jelang Ramadhan Rakyat Sengsara (PK, 28 Agustus 2008)

(2) Tembak Mati Koruptor (PK, 9Agustus 2008)

(3) DKI Tak Gentar Digertak KPK (PK, 14 Agustus 2008)

Seperti halnya pada judul, emosionalisme dalam lead pemberitaan Pos Kota juga sering ditampilkan dalam bentuk kalimat yang berisi hujatan, simpati, kerterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam lead berita Pos Kota yang ditulis sebagai berikut.

(1)   Sadis. Itulah kata yang tepat untuk Teguh Santosa, 35, warga Dusun Kedaung Rejo, Kecamatan Wonopringgo, Pekalongan. Ayah durjana ini tak sekadar tega mencekik anak kandungnya, Amat Bahar, 6, tapi setelah itu leher anak diikat dan digantung di atas pohon mangga depan rumah hingga tewas. (PK, 12 Agustus 2008)

(2)  Emosi warga Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Jombang, sudah tidak bisa dibendung. Jumat (1/8) pagi, puluhan warga mendatangi Kepala Dusin Waijo, Mahmud. Mereka keluarkan ultimatum agar orangtua Ryan diusir dari desa. (PK, 2 Agustus 2008)

(3)   Lengkap sudah penderitaan rakyat. Menjelang Ramadhan, kehidupannya sengsara karena minyak tanah menghilang, harga elpiji naik terus, harga sembako melambung tiada henti, dan cari duit makin susah. (PK, 28 Agustus 2008)

Dalam body berita, bentuk emosionalisme juga tampak dari paparan atau narasi yang mengungkapkan penonjolan emosi terhadap peristiwa, situasi, maupun karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam body berita Pos Kota yang ditulis sebagai berikut.

(1)   Di kamar yang kumuh itu, petugas menemukan pemandangan yang menyayat hati. Puluhan cewek ABG berusia 13 hingga 16 tahun dalam kondisi mengenaskan. Wajah mereka pucat pasi. (PK, 15 Agustus 2008)

(2)  Kekesalan warga terutama warga Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelan, Jombang, terhadap Ryan, sang penjagal, sepertinya tak bisa dibendung lagi. Kata-kata umpatan bahkan sumpah serapah terus dilontarkan kepada Ryan. Mereka pun mengaitkan kasus Ryan dengan kehidupan keluarganya selama ini, khususnya kehidupan pribadi Ny.Sriatun” (PK, 1 Agustus 2008).

(3) Kebiadaban sang ayah terhadap murid Taman Kanak-Kanak (TK) Getas Pekalongan ini, pertama kali diketahui Kus, warga setempat, Senin (11/8) pukul 06:00. (PK, 12 Agustus 2008)

Secara umum, emosionalisme pada headline Pos Kota muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa kata, frasa, dan kalimat yang dipakai untuk menonjolkan sisi emosi pelaku/aktor peristiwa atau penilaian sifat seseorang. Kata-kata yang dipilih Pos Kota untuk merepresentasikan emosionalisme ditunjukkan dari penggunaan kata seperti “kejengkelan”, “kebiadaban”, “ketakutan”, “sadis”, “durjana”, “jahat”, “histeris”, “sengsara”, “ironis”, “tragis”, “kaget”, “kesal”, “lega”, “sedih”, “loyonya”, “kecewa”, “bingung”, “puas”, “takut”, “beruntung”, “shock”, “terpukul”, “prihatin”, “gempar”, dan “menyeramkan”.

Sedangkan frasa bernuansa emosional yang digunakan Pos Kota untuk menampilkan sensasionalisme antara lain: “menyambut gembira”, “menyayat hati”, “tangisan histeris”, “berteriak ketakutan”, “mengelus dada”, “tak tahu balas budi”, “janji tinggal janji”, “tak peduli”, “tak gentar”, “tidak menggertak”, “alibi jahat”, “tidak menggubris”, “kecewa berat”, “mengaku lega”, dan “sumpah serapah”.

Emosionalisme pada headline Pos Kota yang ditulis dalam bentuk kalimat panjang umumnya berupa pola kalimat sebab-akibat atau pemberian keterangan tambahan (apositif) yang dikaitkan dengan konteks, situasi, atau setting kejadian, misalnya:

(1)   Tewasnya Ahmad membuat Ny. Siti komariah, 52, sang istri pingsan. Hingga Minggu malam. Ibu satu anak ini terlihat shock meratapi kematian suaminya. Begitu juga dengan anaknya, Komaruddin, 17, mengaku sangat terpukul karena kehilangan orang yang dikasihi. (PK, 18 Agustus 2008)

(2)   Loyonya badan penyelenggaraan Transjakarta belakangan ini, justru berakibat menyeramkan lantaran sering terjadi kecelakaan menelan korban jiwa. (PK, 11 Agustus 2008).

Sementara emosionalisme pada headline Pos Kota yang ditulis dalam bentuk kalimat pendek umumnya berupa kalimat perintah, namun tidak disertai tanda baca. Contoh: “Tembak Mati Koruptor” (PK, 9Agustus 2008), “Awas, Bulan Puasa Maling Merajalela” (PK, 30 Agustus 2008), “Stop Pungutan di Sekolah” (PK, 16 Agustus 2008).


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

Nasib Perempuan dalam Balutan Dramatisasi Berita

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

 

Berbicara tentang praktik ketidakadilan gender dalam masyarakat, peran media mau tidak mau menjadi sorotan. Dalam agenda media massa, teks-teks—yang kadang tampil dengan dukungan audio-visual—menyediakan semacam “peta” yang akan dibaca, didengar, dan dilihat oleh khalayak. Pembaca bebas memilih yang mana akan dipikirkannya atau dipakainya. Para redaktur media melalui proses gatekeeping akan memilah informasi tentang perempuan yang pada gilirannya diberi ruang yang besar, disembunyikan, ataupun dibuka secara jelas karena dianggap penting untuk diketahui khalayak.

Pertemuan sistematik antara agenda media dan agenda publik–yang ternyata sinkron–dengan apa yang disampaikan media tersebut menurut istilah lazimnya terkenal dengan “agenda setting”. Agenda setting menunjuk makna bahwa media memiliki kekuatan untuk menggerakkan perhatian pembaca terhadap isu-isu tertentu, termasuk bagaimana merepresentasikan perempuan sebagai korban kejahatan. Dengan kata lain, peranan pelaku media sangat penting dalam memainkan pemilihan dan pembentukan opini publik, tidak hanya menyampaikan fakta adanya perempuan yang menjadi korban kejahatan, melainkan bagaimana perempuan dicitrakan dan “diimajinasikan” oleh media. Oleh karena itu, berita tidak bisa lagi hanya dilihat sebagai alat untuk menyebarkan informasi, melainkan berita sebagai sebuah ritus, arena tempat imajinasi sosial selalu dikonstruksi, direkonstruksi, diproduksi, dan direproduksi oleh pekerja media.

Sebagai contoh, pemberitaan tentang perempuan yang menjadi korban kejahatan hampir selalu diwarnai dengan praktik dramatisasi. Dramatisasi berita dapat dipahami sebagai bentuk penyajian atau penulisan berita yang bersifat hiperbolik dan melebih-lebihkan fakta dengan maksud menimbulkan efek dramatis bagi pembacanya. Efek dramatis dapat membantu pembaca untuk lebih “mengalami” secara langsung peristiwa yang disajikan. Namun demikian, objektivitas pemberitaan menuntut suatu penyajian berita yang berhati-hati dan mengambil jarak dari fakta yang dilaporkan (McQuail, 1992; Tim Peneliti Dewan Pers, 2006).

Dalam pandangan Mencher (2000: 182), gaya penulisan berita dengan dramatisasi bagaikan penulisan cerita fiksi salah satunya disebabkan para jurnalis sering terjebak dalam gaya storytelling yang salah sehingga menghasilkan berita-berita dramatis. Storytelling merupakan gaya jurnalisme yang menampilkan berita secara naratif laiknya cerita fiksi. Ironisnya, banyak jurnalis menganggap hal itu merupakan keahlian mereka dan menjadikan laporan reportasenya menjadi alur cerita yang sangat mengesankan. Akibatnya, mereka memperpanjang berita seperti storytellers tanpa merasa ada kebohongan.

Dalam tulisan ini diambil contoh berita headline salah satu koran kuning yang cukup populer di Indonesia, yakni Lampu Merah[2]. Dramatisasi tentang perempuan sebagai korban kejahatan sering ditampilkan Lampu Merah dalam elemen judul, lead, dan body berita.

Dramatisasi yang ditampilkan pada judul headline Lampu Merah umumnya ditunjukkan dari cara penulisan judul yang menggunakan bahasa bernada vulgar dan hiperbolik. Terkadang kata tertentu sengaja dipilih semata-mata untuk membentuk persamaan bunyi (rima). Bentuk-bentuk dramatisasi judul Lampu Merah antara lain terlihat pada contoh berikut.

(1)  Burung Mau Matuk, Istri Ngantuk, Yang Punya Burung Ngamuk

(LM, 9 Agustus 2008)

(2)   Ustadz Liat Tetangga Montok, Angkat Sarung, Lepas Burung, Kepergok Suaminya Si Montok, Diarak Keliling Kampung

(LM, 20 Agustus 2008)

(3)  Pembantu Pengen Punya HP, Perawannya Diembat Majikan

(LM, 23 Agustus 2008)

Dramatisasi pada lead Lampu Merah seringkali ditampilkan dalam bentuk narasi hiperbolik (terkadang vulgar dan sadis) yang dilengkapi dengan tekstualisasi bunyi untuk menjelaskan peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh dramatisasi iniantara lain terlihat dalam lead berita yang ditulis sebagai berikut.

(1) Urusan nafsu emang cuma urusan burung. Nggak penting lagi, apa statusnya. Buktinya Saman pun tak mau ketinggalan jaman. Padahal, laki-laki 35 tahun ini ustadz. Tapi Saman tak bisa mengurus burungnya. Si burung keliaran tengah malam, nidurin istri tetangga. (LM, 20 Agustus 2008)

(2)   Si suami menyuruh si istri mandi. Lalu berdandan. Biar lebih caem, cakep, demplon, dan yaud. Agar pantas diajak kondangan. Tapi si istri males-malesan. Bukan hanya tak mau mandi. Si istri malah ngamuk. Membanting gelas dan menusuk suaminya. Cruss!”

(LM, 18 Agustus 2008)

Dalam body berita, bentuk dramatisasi umumnya juga tampak dari paparan atau narasi yang mengungkapkan detail peristiwa, situasi, atau karakter pelaku maupun korban kejahatan. Tujuannya untuk memberikan deskripsi lengkap sehingga menimbulkan sensasi bagi pembaca terhadap peristiwa yang dilaporkan. Namun demikian, detail tersebut sesungguhnya tidak memiliki signifikansi dengan pokok berita. Contohnya pada kutipan berita berjudul ”Cewek Disundutin Rokok, Disodomi, T’rus Dibunuh” yang ditulis:

 

Pada dubur perempuan itu keluar darah, dan sekitar kemaluannya ada cairan sperma…” (LM, 30 Agustus 2008)

Detail yang ditampilkan dengan pemilihan kata yang mengarah pada vulgarisme juga tampak jelas dari kutipan body berita berjudul ”Cowok Nembak, Ditolak, Yang Nolak Diemprut”. Dalam berita itu tertulis:

Bunga diseret ke kebun pisang. Dan di situ, Bunga dijejali pisang Heri yang jelas nggak kuning. Bermodal ancaman bakal membunuh, heri pun bisa bebas menikmati tubuh mulus Bunga, si kembang desa.

(LM, 7 Agustus 2008).

Selain perkosaan, dramatisasi yang ditampilkan Lampu Merah juga terlihat pada pemberian detail peristiwa kriminal lainnya yang ditulis layaknya narasi sebuah cerita fiksi. Contoh penulisan body berita berjudul “Burung Mau Matuk, Istri Ngantuk, Yang Punya Burung Ngamuk” berikut.

…Malam itu, Suminah sudah pulas tidur. Apalagi, seharian penuh mengurus rumah dan anak-anak…Suminah pun dibangunkan. Tapi karena sudah telanjur pulas, Suminah tak juga bangun. Padahal, malam itu Rahman sedang on alias sedang kepingin. Mungkin kalau Rahman itu Ahmad Dhani, dia tak ragu berteriak. “Aku sedang ingin bercinta!”.

Tapi Suminah sudah terlanjur malas. Rahman terus memaksa. Dan Suminah pun marah sambil menggerutu. Mendengar itu, rahman tak suka. Biarpun tengah malam, mereka cuek saka ribut mulut. Saling memaki dan makin lama suara mereka makin keras. Sampai akhirnya, “Plakkk!” Tangan Rahman sudah mendarat di pipi Suminah.

Kali ini Suminah tak bisa menahan air matanya. Melihat istrinya menangis. Rahman makin semangat. Dia terus memukuli Suminah seperti Mike Tyson memukuli lawan-lawannya yang gendut. Tak peduli Suminah menangis, rahman malah cuek saja memegangi tangan Suminah. Dan “Krakk” tangan Suminah pun dipelintir… (LM, 9 Agustus 2008)

Secara umum, bahasa dramatisasi pada headline Lampu Merah muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa kata, frasa, dan kalimat yang kebanyakan berbentuk struktur pasif. Kata-kata yang dipilih Lampu Merah untuk menonjolkan dramatisasi terhadap prempuan antara lain:

  1. Istilah perkosaan:

“dikeroyok”, “digilir”, “ditelanjangi”, “disetubuhi/menyetubuhi”, “disodomi”, “ditindih”, “dicabuli”, “diobok-obok”, “diembat”, “digilir”, “menggerayangi”, “ditiduri”

  1. Istilah berhubungan intim suami istri:

“ngemprut”, “nyebur ”, “matuk”

  1. Penggunaan senjata tajam pada korban:

“dibacokin””, “dibelah”, “dibabat”, “ditusuk”, “dipisau”, “digorok”

  1. Penganiayaan tanpa senjata/selain senjata tajam:

“diinjek”, “digebukin”, “digamparin”, “dipelintir”, “digetok”, “dialu”, “dicekik”

Sedangkan frasa yang digunakan Lampu Merah untuk menampilkan dramatisasi di antaranya:

  1. Istilah Perkosaan:

“digilir sampai jebol” (LM, 26 Agustus 2008), “perawannya diembat”, (LM, 23 Agustus 2008), “burung pun bicara” (LM, 7 Agustus 2008), “maling perawan” (LM, 28 Agustus 2008), “memaksa melayani” (LM, 8 Agustus 2008), “menyalurkan birahi” (LM, 8 Agustus 2008), “dijejali pisang” (LM, 7 Agustus 2008).

  1. Istilah berhubungan suami istri:

“nyetor burung” (16 Agustus 2008), “angkat sarung”  (LM, 20 Agustus 2008), “lepas burung” (LM, 20 Agustus 2008), “kebelet birahi” (LM, 13 Agustus 2008), “on alias sedang kepingin” (LM, 9 Agustus 2008).

  1. Penggambaran kondisi seseorang setelah menjadi korban kejahatan:

“bersimbah darah” (LM, 3 Agustus 2008), “usus terburai” (LM, 3 Agustus 2008), “tubuh terkulai” (LM, 4 Agustus 2008), “ambruk ke lantai” (LM, 2 Agustus 2008), “tubuh kelojotan” (LM, 2 Agustus 2008), “luka parah” (LM, 16 Agustus 2008).

Dalam pola kalimat, dramatisasi headline Lampu Merah muncul berupa kalimat panjang dan kalimat pendek. Umumnya, kalimat dinilai mengandung dramatisasi karena dalam susunanya terdapat pemberian detail, pemaparan vulgar, atau analogi yang tidak relevan dengan pokok berita. Contohnya tampak pada berita perkosaan sebagaimana kalimat (1),  (2), dan (3) berikut. Detail dan vulgar seharusnya tidak perlu dimunculkan:

(1)   Lucunya, karena sudah keburu nafsu, sebelum sempat beraksi, burung Rusmin keburu muntah, alias keluar sperma. Rusmin kecewa. Dia gagal merkosa. Lalu Fera pun disuruh pulang. Setibanya di rumah, Fera mengadu kalau baru saja ditindih Rusmin. Dan anunya belepotan muntahan burung Rusmin. (LM, 29 Agustus 2008).

(2)   Ditambahkan Neneng, anaknya dibawa ke toilet oleh Bahruddin. Rok Indah diangkat, dan celananya dibuka. Bukan itu saja, Bahruddin menciumi kemaluan Indah dan menyetubuhinya. Saat itu indah hanya bisa menangis dan merintih kesakitan. (LM, 6 Agustus 2008)

(2)   Setelah terus didesak, akhirnya Kiki mengakui perbuatannya. Ia juga mengatakan, saat melakukan pencabulan, kemaluannya sempat ’bangun’ dan ’tidur’ sebanyak empat kali.” (LM, 13 Agustus 2008)

Sedangkan dramatisasi yang ditulis dengan perumpaaan atau analogi terlihat dalam contoh kalimat berikut.

(1)   Tapi, biarpun orangtua tahu, cinta Recha dan Septio tak semulus tol Cipularang. (LM, 10 Agustus 2008)

(2)   Sejak pandangan pertama, Heri sudah jatuh cinta pada Bunga. Seperti ken Arok yang ngiler ngeliat betisnya Ken Dedes. (LM, 7 Agustus 2008)

 

Tingginya penggunaan bahasa sensasional dalam berita Koran Lampu Merah membuktikan bahwa strategi utama yang dilakukan koran kuning untuk menarik dan mempertahankan minat pembacanya sebagaimana diungkap Conboy (2003: 56) dan Hatchen (2005: 43) adalah mengeksploitasi unsur sensasi dari suatu peristiwa. Tak jarang dalam headline-nya, Lampu Merahmemberitakan isu-isu tertentu yang terbatas pada taraf pengungkapan eksploitasi tubuh perempuan (dan juga laki-laki) tanpa disertai fakta-fakta dan bukti pendukung yang relevan. Sebagaimana dikemukakan Ghimire (http://english.ohmynews.com/), kecenderungan pemberitaan yang bersifat negatif demikian disinyalir merupakan cara instan untuk memuaskan keinginan konsumen media (pembaca dan pengiklan) akan kehadiran berita-berita yang sensasional.

Temuan ini juga selaras dengan pandangan Fung (2006: 190) yang berteori bahwa bahasa sensasional kadang ditulis dengan tidak didasarkan pada nalar atau logika yang sehat karena semata-mata ditujukan untuk memicu rasa penasaran, emosi, empati, bahkan kesenangan sensual bagi pembacanya. Sekadar ilustrasi, kutipan dramatisasi berita dengan menonjolkan vulgarisme yang ditulis oleh Lampu Merah: “Pada dubur perempuan itu keluar darah, dan sekitar kemaluannya ada cairan sperma…” (Lampu Merah, 30 Agustus 2008) atau pada kutipan “Setibanya di rumah, Fera mengadu kalau baru saja ditindih Rusmin. Dan anunya belepotan muntahan burung Rusmin” (Lampu Merah, 29 Agustus 2008) sesungguhnya tak jauh berbeda dalam hal penggunaan kata-kata vulgar seperti penggambaran Shaw (1984; seperti dikutip Adhiyasasti dan Rianto, 2006: 114) untuk mencontohkan teknik dramatisasi yang disertai vulgarisme pada penulisan berita-berita kriminalitas dalam koran kuning di Amerika Serikat (1) “Park then inserted a bar of soap into her vagina…” (Park kemudian memasukkan sebatang sabun ke dalam vaginanya) (Koran Nashville Banner, tanpa keterangan waktu terbit)  (2) “[They]…sodomized her and forced her to commit oral copulation [and he] …urinated on her…” (Mereka menyodominya dan memaksanya melakukan oral seks lalu mengencinginya) (Koran Los Angeles Times, tanpa keterangan waktu terbit).

Kondisi ini jelas menyalahi aturan penulisan berita yang—secara teori—menghendaki penggunaan bahasa jurnalistik yang efisien, yakni sederhana, ringkas, padat, dan jelas (Fink, 1995 & 1998; Salzman, 1998; Mencher, 2000; Cappon, 2000; Burns, 2004; Newsom & Wollert, 1985; dan Dale & Pilgrim, 2005). Dalam praktiknya, sebagaimana tampak dari contoh yang ditampilkan dalam Lampu Merah, sensasionalisme ditampilkan koran kuning melalui penggunaan pola-pola sintakis pada level kata, frasa, dan kalimat yang akhrinya membentuk bahasa sensasional dengan menonjolkan dramatisasi.

Kondisi ini sejalan dengan pandangan DeFleur dan Ball-Rokeach (1989: 267) yang menyebutkan bahwa bagi media massa, keberadaan bahasa tidak lagi hanya sebagai alat untuk menggambarkan sebuah peristiwa, melainkan bisa membentuk citra yang akan muncul di benak khalayak, termasuk untuk menarik perhatian, membangkitkan perasaan dan emosi manusia sebagaimana tujuan sensasionalisme yang oleh Kusumaningrat dan Kusumaningrat (2005: 66-67) disebut “harus dapat meluapkan berbagai macam perasaan”.

Padahal, dalam prosedur kerja jurnalisme profesional, penyajian berita secara sensasional harus dihindari wartawan, sebagaimana padangan Fink (1995: 63-64) yang menyatakan bahwa sejak awal, etika penulisan berita berkaitan dengan pemilihan sumber berita dan cara pemilihan kutipannya. Sumber berita sangat berpengaruh pada terbentuknya opini publik. Sedangkan pemilihan kutipan oleh wartawan demi mengejar sensasi bisa menjadi “jebakan” tersendiri dan berpotensi untuk menyembunyikan opini-opini tertentu dari narasumber tertentu pula (the sin of disguised opinion). Melihat “bahaya” yang bisa dihasilkan oleh pemilihan kutipan yang dimuati sensasionalisme dari wartawan, seharusnya koran kuning bisa menjaga objektivitas. Objektivitas berkaitan dengan sikap netral media dalam memberitakan suatu isu. Memang harus diakui, mustahil pemberitaan media bisa seratus persen murni objektif dan netral. Meski demikian, media bisa berusaha optimal untuk mendekati sikap objektif tersebut. Lebih daripada itu, secara umum koran kuning tetap harus kembali kepada fungsi-fungsi dasarnya sebagai media massa. Seperti kata Robert F Kennedy (dalam Rivers, Jensen, & Peterson, 2003: 99), suratkabar sebanding dengan pengadilan–bahkan terkadang lebih–dalam melindungi hak-hak fundamental orang banyak, termasuk nasib perempuan yang sudah menjadi korban kejahatan lalu diperparah menjadi korban pemberitaan media.


[1]Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Sejak Minggu, 20 Oktober 2008 Lampu Merah berubah nama menjadi Lampu Hijau. Pada  pengantar edisi perdana Lampu Hijau ditulis dengan berganti nama baru, Lampu Merah ingin mengubah citranya menjadi koran yang lebih “teduh” sebagaimana filosofi warna hijau. Dalam praktiknya, perubahan ini hanya terlihat dari pengurangan materi seksualitas. Sebagai gantinya Lampu Hijau menambah materi berita-berita politik dan kriminalitas dengan teknik pengemasan dan penyajian yang sama dengan Lampu Merah.

Menelisik Sejarah Koran Kuning di Indonesia

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Berbeda dengan cerita kelahiran koran kuning di Eropa dan Amerika, koran kuning di Asia pertama kali berkembang secara populer di Jepang, yakni pada awal abad ke-20 hingga berakhirnya Perang Dunia I tahun 1918. Rakyat Jepang yang mengalamai pembaharuan atau Restorasi Meiji sejak tahun 1857 dikenalkan berbagai bentuk pendidikan politik, terutama ajaran demokrasi barat. Salah satu cara yang paling efektif untuk menyampaikan misi ini adalah melalui suratkabar populer (Anwar, 2000: 30). Kondisi ini menggejala di berbagai wilayah Asia seiring dengan propaganda Jepang atas wilayah koloninya.

Sementara itu, di Indonesia, sejak reformasi tahun 1998 menggulirkan kebebasan bermedia, koran-koran kuning bermunculan dengan berbagai bentuk. Mulai dari bulletin, tabloid, majalah hingga stensilan yang dekade-dekade sebelumnya sudah lebih dahulu populer lewat ekspos pornografi.

Ironisnya, setelah melihat tingginya permintaan pasar, koran-koran yang semula termasuk koran berkualitas akhirnya mendirikan koran populer sebagai strategi diversifikasi produk. Selain itu, pada saat yang sama, tabloid berisi klenik (tahayul) dan supranatural lainnya terus bermunculan, disusul pula koran kriminal yang mengumbar peristiwa-peristiwa kekerasan dan kecelakaan dengan menampilkan foto-foto korban secara vulgar dan penuh darah. Gambar mayat misalnya diekspos secara frontal di halaman muka dalam space berwarna yang cukup besar. Teknik penekanan gambar atau foto dengan zoom, close up, dan full colour secara terang-terangan mengeksploitasi tubuh mayat, layaknya gejala fethisisme. Dalam hal ini, koran kuning telah memanfaatkan kematian sebagi komoditas (Yusuf: 2005: 91-92).

Praktik koran kuning jika dilihat dari karakteristik dan ciri-ciri yang melekat pada yellow journalism sebenarnya sudah dimulai sejak lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Namun tonggak utama perjalanan koran kuning di Indonesia pada era modern dimulai dari kelahiran Pos Kota tahun 1970. Pos Kota yang dimotori Harmoko dan kawan-kawan hadir sebagai koran populer yang “melawan arus” media mainstream dan budaya massa saat itu. Keberanian tampil beda justru menjadikan Pos Kota berhasil dalam persaingan bisnis suratkabar.

Saat pertama kali terbit, oplah Pos Kota hanya 3.500 eksemplar. Ternyata perlahan-lahan pembaca di Jakarta dapat menerima kehadiran koran ini. Penerimaan tersebut dirasakan sebagai modal utama sehingga dalam waktu tidak terlalu lama, oplah meningkat menjadi 30-60 ribu eksemplar. Dalam beberapa bulan, Pos Kota sudah bisa membayar kertas dan ongkos percetakan (Ghazali dan Nasution, 2000: 8).

Seminggu setelah terbit, banyak tanggapan mengenai Pos Kota. Kalangan pers mempertanyakan, “Ini jurnalisme apa?”. Bahkan Menteri Penerangan (waktu itu) Budiarjo juga berkomentar sama. Harmoko menjawab: “Pokoknya kalau bukan golongan menengah ke bawah, lebih baik jangan baca.” (Ghazali dan Nasution, 2000: 8). Pada awal beroperasinya, masyarakat umumnya bersikap sinis terhadap penampilan Pos Kota. Ada kecenderungan kuat yang memasukkan harian ini sebagai suratkabar porno, koran tukang becak, koran cabul, dan di kalangan pers sendiri, harian ini dianggap kurang intelektual (Ghazali dan Nasution, 2000: 8).

Berbagai momentum seperti mencuatnya kasus “bayi ajaib” yang bisa bicara dalam perut Cut Zahara Fona dan wafatnya proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia, Soekarno, adalah salah satu pemicu (trigger) kejayaan Pos Kota. Dari kedua persitiwa menghebohkan itulah, Pos Kota memperoleh predikat dari PK Ojong sebagai “koran ajaib”. Utamanya karena kegigihan dan kelengkapannya menampilkan berita tentang “bayi ajaib”. Walaupun kemudian terbukti bahwa Cut Zahara Fona melakukan penipuan karena menyimpan tape recorder kecil yang disetel untuk mengeluarkan suara tertentu seperti suara bayi mengaji di balik stagen dalam gaun yang dipakainya. Heboh cerita bayi ajaib ini mendongkrak tiras Pos Kota di tahun pertama penerbitannya.

Membicarakan Pos Kota tentu tidak bisa menafikan keberadaan komik-komik bergambar (strip comics) sebagai salah satu kekuatan untuk mempertahankan minat pembaca setianya. Menurut Wirosardjono (2000: 57), komik Si John, Doyok, Ali Oncom, dan komik lain pada lembar bergambar (Lembergar) di Pos Kota dinilai oleh kalangan ahli dan peneliti ilmu-ilmu sosial di luar negeri sebagai bahan studi yang bisa merefleksikan denyut sosial masyarakat perkotaan lapis bawah di Indonesia. Pada Pusat Studi Indonesia di University British Columbia (Canada) dan di Universitas Cornell (AS) misalnya, Pos Kota termasuk salah satu koran yang dirujuk sebagai referensi.

Dilihat dari angka statistik, kesuksesan koran kuning dibuktikan oleh Pos Kota yang berhasil merebut minat penduduk Jakarta untuk mengakses berita-berita kriminal setiap pagi sebagai kebutuhan pokok sebelum beraktivitas. Pos Kota juga sangat populer di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Pada tahun 1983 misalnya, tiras Pos Kota mencapai 200.000 eksemplar (Rahzen et al., 2007: 300) Sebuah angka sirkulasi suratkabar yang fantastis kala itu. Menurut data SPS, pada tahun 2005, di tengah persaingan dengan media-media sensasional lainnya, oplah Pos Kota masih menunjukkan gregetnya, menempati urutan kedua (200.000 eksemplar) di bawah Kompas dengan oplah 509.000 eksemplar (Wikan, 2005).

Dari segi jumlah pembaca, menurut survei Media SPS pada tahun 2000, pembaca Pos Kota di Jabotabek mencapai 2.304.000 orang, jauh mengungguli Kompas yang memiliki jumlah pembaca di Jabotabek sebanyak 1.521.000 orang (Media SPS, Edisi 02/Tahun I, November-Desember 2000). Demikian juga pada tahun 2007, berdasarkan data Nielsen Media Research, di Jabotabek jumlah pembaca Pos Kota sampai bulan November 2007 tetap menempati posisi kedua dengan 1.199.000 pembaca, setelah Kompas sebanyak 1.337.000 pembaca.

Selama Orde Baru, Pos Kota berjaya sebagai pemain tunggal yang mengisi ceruk pasar koran bergenre kriminal di ibukota. Beberapa koran kuning di daerah yang berdiri dan mencoba peruntungan dengan mengusung genre ala Pos Kota ini juga bermuculan. Sebutlah yang paling populer Memorandum yang beredar di Surabaya dan wilayah Jawa Timur pada umumnya. Koran yang konon awalnya termasuk quality newspaper dan didirikan oleh pegiat pers mahasiswa di kampus-kampus sebelum menjadi koran kuning ini, setiap harinya dicetak hingga mencapai tiras di atas 100.000 eksemplar.

Selain Pos Kota dan Memorandum, dalam artikel Metamorfosa Pers Indonesia yang ditulis oleh Agus Sopiann (http://pwirjabar.4t.com/ metapers.html), disebutkan bahwa pada masa Orde Baru (tanpa menyebutkan tahun secara spesifik) terdapat dua media cetak cukup besar yang disebut-sebut sebagai “yellow paper” alias koran kuning, yaitu Gala dan Bandung Pos. Gala, suratkabar asuhan Media Indonesia yang terbit di Bandung, pada awalnya dikategorikan yellow paper, namun perlahan-lahan berubah menjadi quality paper, atau setidaknya popular paper. Sedangkan Bandung Pos, yang merupakan “anak” dari Pikiran Rakyat, adalah tabloid harian pertama di Indonesia. saat itu, oplahnya mencapai 60.000 eksemplar tiap hari. Sopian menilai, kunci sukses Bandung Pos barangkali terletak pada kebijakan redaksionalnya yang secara telak mengikis brand image “buletin Pemda”. Di sini berita-berita kriminal, baik trend news maupun spot news, diberi porsi lebih banyak. Sementara porsi berita tentang pemerintahan daerah dikurangi (Sopiann, http://pwirjabar.4t.com/metapers.html). Strategi lain yang dilakukan Bandung Pos adalah menampilkan dua halaman tengah secara full color berhiaskan foto-foto wanita cantik yang untuk ukuran saat itu tergolong “aduhai” (Sopiann, http://pwirjabar.4t.com/metapers.html).

Dalam perkembangan selanjutnya, iklim reformasi melahirkan banyak koran baru yang diantaranya dapat dikategorikan sebagai koran kuning[2], antara lain Lampu Merah dan Non Stop yang terbit di Jakarta, Meteor yang terbit di Semarang, Posko yang terbit di Manado, Pos Metro yang terbit di tiga kota sekaligus (Bogor, Medan, Batam), dan Merapi yang terbit di Yogyakarta. Nama-nama ini adalah beberapa contoh koran kuning yang terbit belakangan namun mampu menarik perhatian masyarakat karena berita-berita sensasional yang ditampilkan.

Sejak Minggu, 20 Oktober 2008 Lampu Merah berubah nama menjadi Lampu Hijau. Pada  pengantar edisi perdana Lampu Hijau ditulis dengan berganti nama baru, Lampu Merah ingin mengubah citranya menjadi koran yang lebih “teduh” sebagaimana filosofi warna hijau. Dalam praktiknya, perubahan ini hanya terlihat dari pengurangan materi seksualitas. Sebagai gantinya Lampu Hijau menambah materi berita-berita politik dan kriminalitas dengan teknik pengemasan dan penyajian yang sama dengan Lampu Merah.

Lampu Merah adalah fenomena kesuksesan korang kuning di Indonesia yang terbit setelah masa reformasi. Koran tersebut dalam waktu yang cukup singkat sejak berdiri 26 November 2001 berhasil menjaring pembaca sebanyak 1,3 juta pada tahun 2004 dan mencapai BEP (break even point) kurang dari satu tahun (http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=135908). Pada awal penerbitan Lampu Merah, edisi pertama diterbitkan 12 halaman dan dicetak sebanyak 40 ribu eksemplar. Sampai bulan keenam—yang biasanya disebut sebagai masa mencari jati diri dan oplah yang biasanya turun sampai batas sesungguhnya, Lampu Merah justru mengalami peningkatan hingga 100 ribu eksemplar. Peningkatan ini kemudian membawa Lampu Merah mencapai BEP pada umur kurang dari satu tahun, menjadikannya satu fenomena yang menarik di industri media cetak. Tahun 2005, Lampu Merah memasuki tahun keempat dan telah melalui oplah fantastis sebanyak 225 ribu eksemplar. Namun setelah terjadi beberapa kali kenaikan BBM, oplah menurun menjadi sekitar 125 ribu eksemplar (http://forum.kafegaul.com/ showthread.php?t=135908).

Awal mula berdirinya Lampu Merah adalah inisiatif Direksi Group Rakyat Merdeka untuk membuat satu koran yang berfokus pada masalah kriminal. Dipilihnya Gatot Wahyu (yang sekarang menjabat Ketua Komisi Pengembangan) bersama beberapa rekannya untuk merintis koran tersebut adalah karena latar belakangnya sebagai wartawan kriminal pada saat masih di harian Rakyat Merdeka. Tidak banyak arahan yang diberikan Direksi mengenai konten dan desain Lampu Merah karena karyawan diberikan kebebasan berkreasi. Dalam artikel di http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=135908 berjudul “Strategi Bisnis Lampu Merah” tertulis:

Konsep yang diangkat Lampu Merah adalah bagaimana semua aspek diberitakan dari perspektif kriminalitas, misalnya berita politik dikaitkan  dengan korupsi, berita olahraga yang terjadi perkelahian, atau berita artis yang saling menipu dan sebagainya. Gaya bahasa yang digunakan adalah trend, nyantai dan relax atau istilah lainnya “bahasa pasar” sehingga menghasilkan berita yang tidak kaku namun seperti bercerita/novel. Konsep bahasa yang nyantai diharapkan akan meningkatkan frekuensi pembaca dibandingkan dengan bahasa yang serius. Lampu Merah juga menampilkan beberapa foto/parade foto untuk satu peristiwa guna lebih menarik perhatian pembaca.

Dibanding koran kuning lainnya, penulisan judul headline Lampu Merah memiliki kekhasan berupa kalimat panjang terdiri dari 10-20 kata. Judul ini umumnya ditulis dalam ukuran besar dengan huruf kapital, namun pada edisi tertentu memiliki anak judul yang ditulis lebih kecil yang ditempatkan di atas atau di bawah judul besar (utama). Judul Lampu Merah yang tergolong panjang misalnya ”Ngakunya Orang Pintar, Bisa Negluarin Jin Jahat yang Ngeganggu, DUKUN MERKOSA 20 SISWI SMP, ADA YANG DISODOMI JUGA LHO” (Lampu Merah, 24 Agustus 2008). Judul pendek yang ditampilkan Lampu Merah misalnya ”CEWEK DISUNDUTIN ROKOK, DISODOMI, T’RUS DIBUNUH” (Lampu Merah, 30 Agustus 2008).

Panjang berita headline Lampu Merah berkisar antara 6–10 paragraf (termasuk lead). Penulisan lead tidak selalu dicetak dengan ukuran huruf yang lebih besar dibanding huruf body berita sebagaimana lazimnya penulisan lead suratkabar. Meskipun demikian, kebanyakan lead yang diposisikan pada awal berita ditulis dengan ukuran huruf yang berbeda dengan ukuran huruf body berita, yakni sedikit lebih besar, tebal, dan renggang.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Mengkategorikan sebuah suratkabar sebagai “koran kuning” tentu bukan persoalan mudah karena pemberian label tersebut umumnya selalu ditentang oleh pengelola media yang bersangkutan dengan alasan berpretensi memberi kesan negatif dan menyudutkan.