Media dan Etika Pemberitaan HIV/AIDS

sumber gambar: primaironline.com

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Fenomena HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang ditemukan lebih dari dua setengah dasawarsa lalu, tepatnya di Copenhagen, Denmark tahun 1979 disusul beberapa kasus serupa di San Francisco, Los Angeles, dan New York tahun 1981 terus mengalir menjadi bahan diskursus publik. Epidemi HIV/AIDS diposisikan sebagai salah satu malapetaka terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini. Secara global, lebih dari 65 juta orang telah terinfeksi virus HIV.

Di belahan dunia manapun, penyakit AIDS banyak dikonferensikan, diseminarkan, dan dipublikasikan di ribuan jurnal maupun penerbitan populer. Demikian halnya dengan media massa, begitu gencar memberitakan tentang penyakit menular ini, sehingga tidak berlebihan jika kemudian muncul kredo “Tiada hari tanpa berita AIDS”.

Berita sebagai bagian dari aktivitas jurnalisme pada dasarnya berurusan dengan fakta yang digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi kepada publik. Dalam konsepsi dasar jurnalisme, suatu fakta layak diberitakan biasanya dilihat dari nilai beritanya, antara lain penting dan menarik. Menurut Siregar (dalam Julianto, 2002; xxxi), fakta dipandang penting jika dapat memenuhi motivasi pragmatis sosial bagi publik, yaitu bermanfaat dalam kehidupan sosial. Sedang suatu fakta dipandang menarik karena memenuhi kebutuhan psikis, artinya menyenangkan bagi publik media. Tapi dalam praktiknya, dua hal itu bermuara kembali pada kepentingan media, yaitu komodifikasi fakta menjadi berita sesuai dengan framing media yang bersangkutan. Terkait pemberitaan tentang HIV/AIDS, nilai penting dan menarik ini dalam komodifikasi media dapat berubah sifat. Dinamika dari suatu fakta bergerak meninggalkan realitas sosial menjadi realitas media yang lebih banyak berkiblat pada nilai jual media semata. Lalu muncullah pemberitaan sensasional dan bombastis tentang HIV/AIDS .

Ironisnya berita seperti ini seringkali ditujukan kepada khalayak media yang disumsikan sebagai suporter yang mendukung salah satu pihak. Karenanya, dinggap sah untuk menggugah sensasi masing-masing suporter agar tertarik kepada berita yang disajikan. Media kemudian telah menempatkan informasi sebagai komoditas bisnis tanpa menghiraukan sisi kemanfaatan atas diri penderita HIV/AIDS (Siregar, ibid).

Terbukti sejak awal kemunculannya, AIDS telah menimbulkan histeria massa yang diakui atau tidak merupakan akibat langsung dari proses blow-up media. Media telah menempatkan informasi sebagai komoditas bisnis tanpa menghiraukan sisi kemanfaatan atas diri penderita HIV/AIDS. Padahal dalam konsep etis, sisi humanitarian seharusnya dikembangkan dalam memberitakan realitas sosial. Pendekatan demikian sering disebut sebagai “jurnalisme empati”, yaitu prinsip metode jurnalisme yang membawa konsekuensi cara pandang bahwa di dalam realitas sosial selalu melibatkan interaksi antarmanusia, dan dalam setiap interaksi sosial pada dasarnya secara potensial terdapat korban. Korban adalah person yang kalah atau tidak berdaya manakala berhadapan dengan pihak lainnya dalam interaksi sosial.

Dalam konteks pemberitaan HIV/AIDS, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sering diposisikan sebagai korban bersalah atas masa lalunya yang kotor, kelam dan banyak dosa. Padahal yang diperlukan adalah pemahaman masyarakat bahwa HIV dan AIDS dapat menjangkiti siapa saja. Mulai dari diri kita sendiri, suami, istri, anak, ayah, ibu, kerabat, dan sahabat kita. Dari sini tentu akan melahirkan kesadaran bahwa AIDS adalah masalah bersama umat manusia bukan kutukan Tuhan.

Paradigma yang seharusnya dikembangkan dalam memberitakan AIDS adalah kesadaran bahwa persoalan HIV/AIDS bukan semata-mata persoalan moral, persoalan perilaku, atau masalah kesehatan masyarakat. AIDS merupakan masalah kemanusiaan yang harus ditangani bersama dengan menggunakan berbagai pendekatan. Tidak cukup hanya menggunakan pendekatan medis atau agama saja. Kedua-duanya harus digunakan secara sinergis dan berkesinambungan.

Inilah yang umumnya luput dari perhatian media massa di Indonesia, khususnya media cetak. Proses pemberitaan yang tidak komprehensif seperti ini berlangsung terus menerus seiring dengan belum terbentuknya kesadaran masyarakat dalam menerima “realitas media” yang notabene berbeda dengan “realitas sosial”.

Akibatnya, secara perlahan-lahan terjadi stigmatisasi dan diskriminasi di kalangan masyarakat dengan melahirkan pemetaan manusia ke dalam kutub yang memisahkan manusia menjadi dua golongan. Pertama adalah “kita”, golongan manusia yang bersih, beriman, beragama, terjaga, bermoral, dan suci. Kedua adalah “mereka” para ODHA, yaitu golongan manusia yang kotor, tidak beriman, tidak beragama, tidak terjaga, amoral, dan pendosa. Pendeknya, klaim-klaim tersebut sangat segregatif dan judgmental. Bahkan sebelum HIV benar-benar terbukti bersarang di dalam tubuh seseorang sekalipun.

Dilihat dari kacamata psikologis, tindakan stigmatisasi dan diskriminasi  bagi ODHA sesungguhnya telah menjadi bagian dari tindakan membunuh penderita dengan cara-cara yang lebih keji daripada “daya bunuh” penyakit AIDS itu sendiri. Bagaimana tidak, ODHA dibunuh dengan rasa bersalah, takut dan malu. Akibatnya selama bertahun-tahun mereka tidak berani keluar rumah hingga kematiannya. Dari situlah jelas sekali bahwa telah terjadi tindakan nyata yang menjurus pada pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Bahkan tak hanya bagi ODHA, perlakuan tidak adil itu kadang juga dialami para anggota keluarga, kerabat, dan sahabat dekat ODHA.

Kembali lagi pada konteks pemberitaan yang ditulis di media massa cetak yang cenderung menimbulkan persepsi negatif masyarakat terjahadap ODHA sebenarnya menyangkut penerimaan audiens lewat bahasa tulisan atau teks yang ditampilkan kemudian diterima baik secara kognitif (inderawi), afektif (perasaan), maupun behavioral (perilaku). Dari sini selalu memunculkan reaksi, baik di tengah maupun setelah proses “pembacaan” berita. Bisa saja berupa empati, dukungan, sinis, emosi, dan sebagainya.

Contohnya adalah pemberitaan tentang HIV/AIDS banyak diekspos oleh media cetak, seperti pemberitaan yang terjadi pada akhir tahun 1991. “Kasus Dolly” adalah pemberitaan media tentang sorang wanita muda pekerja seks di kompleks pelacuran Dolly Surabaya yang terdeteksi HIV positif ketika telah pindah dari Doly. Ia pun kemudian dicari-cari pejabat dan petugas setempat untuk diisolasi. Kasus tersebut menjadi bahan pembicaraan menghebohkan di kalangan masyarakat. Bahkan kompleks Dolly sempat sepi dari pengunjung. Akhirnya wanita berhasil “diamankan” kemudian diisolasi di kantor petugas keamanan Kecamatan Sawahan Surabaya (Julianto, 2002: 331).

Dari pemberitaan awal yang menghebohkan tersebut, serta merta masyarakat Indonesia memberi label/cap buruk kepada semua penderita HIV/AIDS. Lebih-lebih saat itu pemberitaan media tidak secara komprehensif memberitahu masyarakat bagaimana sebenarnya penularan HIV bisa terjadi. Hasilnya, masyarakat menganggap penularan HIV/AIDS semata-mata lebih disebabkan karena perilaku seks menyimpang. Apalagi saat itu penggunaan narkoba dengan medium jarum suntik belum populer.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

Tulisan ini dimuat di Harian Bernas Jogja, 15 Februari 2007.