Memahami Paradigma Penelitian Teknologi Komunikasi

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Penelitian di bidang teknologi komunikasi umumnya mengacu kepada dua area penelitian. Pertama, penelitian dititikberatkan kepada bagaimana inovasi diadopsi dan diimplementasikan oleh penggunanya. Kedua, penelitian diarahkan kepada dampak yang terjadi setelah adopsi terhadap teknologi komunikasi dilakukan. Kedua area penelitian itu didasarkan atas diffusion of innovations theory (teori difusi inovasi) yang diperkenalkan oleh Rogers (1986). Teori difusi inovasi mencoba menjelaskan bagaimana sebuah inovasi (teknologi) dapat diterima ke dalam masyarakat. Menurutnya, para pengguna teknologi terbagi ke dalam kategori innovators, early adopters, early majority,  late majority dan laggards. Kaum early adopters akan menggunakan teknologi yang dimaksud terlebih dahulu, diikuti oleh kaum majority sampai teknologi atau inovasi itu menjadi umum penggunaannya dimana kemudian masyarakat yang menentukan apakah teknologi itu akan melakukan reinvention atau bahkan mati (Livingstone, 2002: 31-33; Straubhaar dan LaRose, 2004: 57).

Selain teori difusi inovasi, setidaknya terdapat lima teori lainnya yang dapat dipakai untuk mengamati teknologi komunikasi, yaitu: domestication of technology theory (teori domestikasi teknologi), social shaping theory (teori pembentukan sosial), constructivism, apparatgeist theory, dan social structure and global system theory (Zhao, 2005).

Teori-teori tersebut dibingkai ke dalam dua pandangan utama yang saling berlawanan, yaitu technological determinism dan  social constructivism (Straubhaar dan LaRose, 2004: 26-28). Pandangan technological determinism menganggap bahwa teknologi merupakan prima causa terhadap perkembangan sosial di dalam masyarakat, termasuk mempengaruhi bagaimana masyarakat memandang dan menggunakan teknologi, karena tatanan sosial tumbuh mengikuti perkembangan teknologi (Campbell dan Russo, 2003). Teori domestikasi teknologi dan social structure and global system theory, misalnya, merupakan teori yang didasarkan atas pandangan ini.

Pandangan lain, social constructivism, menganggap bahwa masyarakat-lah yang membentuk teknologi, bukan sebaliknya. Seperti yang dikatakan Fischer (dalam Campbell dan Russo, 2003: 317), alat-alat mekanis tidak dapat menentukan perkembangan dan penggunaan inovasi. Sebaliknya, perlawanan dan negosiasi (dari masyarakat) yang merupakan faktor pembentuknya. Social shaping theory dan  constructivism,  misalnya, memandang inovasi teknologi sebagai sekadar fenomena yang dikonstruksi secara sosial dimana budaya dan konteks sosial lebih berperan penting dalam perkembangan teknologi tersebut (Zhao, 2005: 10). Teori apparatgeist pun dapat digunakan untuk memahami peran teknologi komunikasi personal dalam kehidupan masyarakat, dengan logika bahwa penggunaan perangkat teknologi membawa konsekuensi sosial dan kultural tertentu sebagai dinamika interaksi manusia dengan teknologi (Zhao, 2005: 12). Neologisme apparatgeist sendiri berasal dari dua kata, yaitu ”apparat” (yang berarti mesin atau peralatan, dalam bahasa Latin) dan ”geist” (yang berarti jiwa atau semangat, dalam bahasa Jerman). Istilah ini mengandung makna bahwa situasi budaya dan teknologi yang ada merupakan faktor penentu perilaku individu yang juga berlangsung secara kolektif (Seta, 2006: 12). Berbeda dengan pandangan technological determinism, teori ini tidak menganggap bahwa teknologi sebagai penentu perilaku individu belaka melainkan berperan sebagai sarana berperilaku ditengah keterbatasan teknologi itu sendiri (Katz dan Aakhus, dalam Seta, 2006).

Dalam pandangan lain, ada tiga pendekatan untuk memahami akses teknologi (Wilhelm, 2000). Pertama, pendekatan Dystopian. Kelompok ini seolah paranoid dengan teknologi. Mereka sangat hati-hati tehadap penerapan teknologi komunikasi sebab dampak yang ditimbulkan dari teknologi bisa mengacaukan kehidupan. Di antara tokoh pendukung  Dystopian  adalah  Edmund Husserl, Heidegger, dan Hanna Arendt.

Pandangan kedua, berasal dari kaum Neo Futuris. Mereka berpandangan optimis dengan menyatakan bahwa kehadiran IT harus diterima sebagai bentuk kemajuan dan kreativitas manusia. Mereka yakin, teknologi dalam kecepatan tinggi adalah kekuatan yang menggilas semua yang dilewati, dan akan membangun masa depan yang penuh harapan. Neo Futuris menolak kaum Dystopian yang lebih banyak bernostalgia dan menganggap kemajuan teknologi yang tidak terkontrol bisa mengancam eksistensi manusia. Kelompok ini didukung oleh John Naisbitt, Alvin Toffler, dan Nicholas Negroponte.

Pandangan ketiga adalah Teknorealis. Pendekatan ini lahir untuk menjadi juru damai (kompromi) antara pandangan Dystopian dan Neo Futuris. Kaum Teknorealis berpendapat dengan mengambil jalan tengah bahwa teknologi tidaklah netral. Mereka menyadari, bahwa saat ini telah terjadi ironi kemajuan teknologi yang banyak berakhir dengan memperalat manusia dalam kehidupannya. Padahal sejak awal, teknologi dimaksudkan sebagai alat mengontrol ruang dan waktu bagi kepentingan manusia. Bukan justru sebaliknya. Kelompok Teknorealis banyak dipelopori oleh kaum profesional, termasuk sejumlah jurnalis dan akademisi yang bergerak dalam kajian teknologi media.

Perspektif Difusi dan Inovasi

Semakin pesatnya perkembangan teknologi komunikasi massa dan komunikasi interaktif, membuat para peneliti kajian teknologi komunikasi merasa tertantang dengan tema-tema penelitian seputar adopsi dan penggunaan komputer pribadi (personal computer), permainan video (video games), perekam video (video recorder), internet, dan yang paling mutakhir, telepon seluler (Seta, 2006: 11). Masuknya teknologi ke dalam diskusi ilmu komunikasi sendiri bukanlah tanpa sebab, disiplin ilmu ini dianggap memiliki kontribusi besar dalam memahami dampak dari teknologi baru (Rogers, 1986) melalui difusi dan inovasi. Difusi adalah proses inovasi yang dikomunikasikan melalui saluran-saluran tertentu pada suatu jangka waktu tertentu dalam sistem sosial (Rogers, 1995: 5-6). Yang menjadi ciri komunikasi ini adalah pesan yang disebarluaskan berisi ide-ide, atau praktik yang bersifat baru atau dianggap baru. Itulah sebabnya dalam proses difusi melibatkan banyak aspek, yang dalam komunikasi biasa, aspek tersebut tidak ada. Lebih jelasnya, difusi merupakan medium inovasi yang digunakan sebagai change agent ketika berupaya membujuk seseorang agar mengadopsi suatu inovasi. Sehingga dapat disebut, difusi adalah tipe khusus dari komunikasi, yang isinya pesan tentang ide baru (Kurniawan, 2003: 45).

Lebih lanjut, Rogers (1995: 10) memaparkan, difusi inovasi dipengaruhi 4 elemen pokok,”: inovasi itu sendiri, saluran komunikasi, waktu, dan sistem sosial. Keempat elemen tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Inovasi adalah ide, praktik atau objek yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau oleh unit yang mengadopsinya. Kebaruan suatu inovasi tak tergantung pada pengertian yang benar-benar baru secara objektif, namun jika suatu ide tampak baru bagi seseorang maka hal tersebut adalah inovasi. Seseorang dapat mengetahui tentang inovasi beberapa saat sebelumnya, namun  ia belum menentukan sikap: tidak mendukungnya, tidak mengadopsinya atau menolaknya. Ini artinya, inovasi tidak dibatasi hanya pada pengetahuan yang benar-benar baru bagi seseorang. Dalam pengertian lain, inovasi tak lain adalah teknologi, sehingga penggunaan kata inovasi dengan teknologi sering dianggap setara dan dapat dipertukarkan. Kesetaraan terjadi, sebab suatu teknologi dirancang bertujuan untuk mengurangi ketidakpastian. Kemampuan ini ditimbulkan oleh karakteristik inovasi: memiliki keunggulan relatif lebih tinggi, memiliki banyak kesesuaian, memiliki kompleksitas tinggi, dapat diujicobakan pada skala terbatas dan dapat diamati hasilnya. Namun demikian,tidak selamanya inovasi selalu disukai oleh suatu sistem sosial. Sejumlah studi menunjukkan, ada inovasi yang justru menimbulkan keborosan atau menjadi penyebab kecelakaan.

b. Saluran Komunikasi. Difusi sebagaimana pengertian di atas, merupakan komunikasi dalam bentuk khusus. Isi pesan yang dipertukarkan mengandung ide baru. Inti dari proses difusi adalah mempertukarkan informasi dan seseorang kepada orang lain, tentang ide baru. Dalam difusi diperlukan adanya saluran komunikasi.

c. Waktu, dalam inovasi berarti periodeyang dibutuhkan untuk mengadopsi suatu inovasi, termasuk didalamnya:

- Waktu dalam memutuskan suatu inovasi sejak seseorang mengetahui inovasi, hingga ia menerima atau menolaknya.

- Cepat atau lambatnya proses adopsi inovasi, jika dibandingkan dengan individu atau unit lain yang mengadopsi suatu inovasi.

- Tingkat adopsi dalam sistem, biasanya dihitung sebagai jumlah anggota di dalam sistem yang mengadopsi inovasi pada waktu tertentu.

d.    Sistem sosial tempat terjadinya difusi inovasi adalah seperangkat unit yang saling berhubungan dalam upaya memecahkan masalah dan mencapai tujuan tertentu. Anggota atau unit dari sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi atau suatu subsistem. Walaupun setiap unit dalam suatu sistem sosial dapat dibedakan dari unit-unit yang lainnya, namun kesamaan tujuan dalam sistem sosial itu mengikat suatu sistem untuk tetap bersama (Rogers, 1971; dalam Kurniawan, 2003: 45). Menurut Rogers (1995: 6), perubahan sosial adalah proses terjadinya perubahan pada struktur dan fungsi dari suatu sistem sosial. Proses terjadinya perubahan sosial umumnya  berjalan melalui tiga langkah yang berurutan, yakni: 1) Invensi, proses penciptaan atau pengembangan ide-ide; 2) Difusi, proses pengkomunikasian ide baru kepada pars anggota suatu sistem sosial; dan 3) Konsekuensi, perubahan yang terjadi bila penggunaan suatu ide baru atau penolakannya mempunyai suatu efek tertentu.

Menurut Kurniawan (2003: 45), dalam proses perubahan, komunikasi memegang peran penting, walaupun komunikasi tidak identik dengan perubahan sosial. namun elemen ini sangat mempengaruhi keberterimaan atau penolakan suatu inovasi. Berbeda dengan komunikasi biasa, dalam difusi inovasi, komunikasi berfokus pada perubahan pengetahuan dan sikap anggota sistem sosial yang menjadi sasaran inovasi.

Lebih lanjut Lebih lanjut menurut Firman Kurniawan (2003: 45), ketepatan memiliki saluran komunikasi, sangat mempengaruhi tercapainya tujuan difusi inovasi. Pengertian saluran komunikasi adalah alat dimana pesan dapat sampai dari seseorang ke orang yang lain. Sifat pertukaran informasi antara pelaku komunikasi maupun saluran komunikasi yang digunakan, menentukan sampai tidaknya inovasi kepada individu atau unit adopsi yang dituju. Untuk keperluan membangkitkan pemahaman pada khalayak yang luas dapat digunakan media massa seperti radio, televisi, koran dan lainnya. Sedangkan untuk mempengaruhi individu agar menerima ide baru, penggunaan saluran interpersonal, dipandang efektif. Terlebih jika yang digunakan adalah saluran interpersonal Yang memiliki status sosial ekonomi maupun pendidikan yang setara. Yang dimaksud sebagai saluran interpersonal adalah pertukaran secara tatap muka antara dua individu atau lebih.

Proses keputusan adopsi inovasi adalah proses ketika individu atau unit adopsi yang lain, selanjutnya disebut adopter, menempuh tahapan sejak mengetahui pertama kali inovasi diperkenalkan, diikuti implementasi ide-ide baru dan pemastian keputusan, menerima atau menolaknya (Rogers, 1995: 171). Ada dua model yang biasa digunakan dalam dalam menjelaskan proses keputusan adopsi-inovasi (Idris, 2002; dalam Kurniawan, 2003: 46). Pertama, model klasik (clas­sical model) yang dikemukakan oleh ahli sosiologi pedesaan yang membagi proses tersebut dalam lima tahap, yaitu tahap kesadaran (seseorang belajar tentang ide baru, tetapi masih kurang informasi tentang ide tersebut), tahap perhatian (seseorang menaruh perhatian terhadap inovasi dan mencari informasi tambahan), tahap pertimbangan (seseorang melakukan aphkasi secara mental ide baru tersebut pada keadaan sekarang dan membuat pengharapan untuk mass yang akan datang dan kemudian memutuskan untuk menentukan kegunaannya dalam situasi yang bersangkutan), tahap percobaan (penggunaan inovasi secara terbatas) dan tahap adopsi (seseorang menggunakan ide barn secara terns menerus cara menyeluruh). Kedua adalah model adopsi dari Rogers dan Shoemaker (dalam Kurniawan, 2003: 46), yang mengemukakan lima tahap dalam proses keputusan inovasi. Tahap pertama adalah pengetahuan, yang merupakan gabungan dari model klasik. Tahap kedua adalah persuasi yang merupakan tahap pertimbangan dari model klasik. Tahap ketiga adalah keputusan yang merupakan tahap percobaan dari model klasik. Tahap keempat implementasi dan Tahap kelima adalah konfirmasi sebagai tindak lanjut dari tahap adopsi model klasik.

Kurniawan (1003: 46-47) memaparkan tahapan model kedua dengan penjelasan sebagai berikut: Pengetahuan terjadi ketika adopter, diterpa adanya inovasi dan memperoleh sejumlah pengetahuan tentang fungsi inovasi tertentu. kesadaran membangkitkan munculnya kebutuhan, sehingga individu atau unit adopsi mencari informasi, yang diikuti dengan proses pengolahan informasi, untuk memasuki tahap awal penyeimbangan kebutuhannya Pada tahap ini, saluran komunikasi yang bersifat massal dapat dengan efektif memenuhi kebutuhan tersebut. Sedang untuk masuk pada tahap persuasi, saluran yang bersifat lebih interpersonal yang lebih dibutuhkan. Pada tahap keputusan, individu atau unit adopsi, mencari informasi tentang inovasi dalam rangka mengurangi ketidakpastian mengenai konsekuensi yang timbul dari adopsi inovasi. Dari sini diketahui kelebihan dan kekurangan suatu inovasi. Proses keputusan adopsi inovasi berakhir pada tahap implementasi, yaitu keputusan untuk menggunakan sepenuhnya suatu inovasi sebagai cara yang paling baik dari alternatif yang ada, atau penolakan yaitu keputusan untuk tidak mengadopsi inovasi. Umumnya setelah proses-proses tersebut dilalui, maka diikuti tahap konfirmasi, yaitu menilai keputusan adopsi yang dipilih sudah tepat atau belum. Jika tepat tak tertutup kemungkinan mengimplementasikan inovasi lebih intensif,  bahkan menyebarkan pada adopter lain. Sebaliknya jika keputusan dianggap salah, maka akan terjadi penghentian implementasi inovasi (Kurniawan, 2003: 46-47). Suatu proses pengambilan keputusan yang rumit termasuk dalam kaitannya dengan penerimaan teknologi, selalu mensyaratkan pilihan di antara beberapa perilaku yang berbeda. Pada proses selanjutnya diikuti dengan dipilihnya satu keputusan, termasuk keputusan untuk tidak memilih. Pada alternatif yang sesuai, pilihan dijatuhkan.

Pada proses akhir, terdapat aktivitas evaluasi yang tujuannya mengkonfirmasi apakah keputusan yang dipilih tepat atau tidak. Kondisi ini penting karena bagi setiap individu yang menerima ide, konsep, produk maupun jasanya berusaha mengurangi kekhawatiran akibat tidak terpuaskannya keinginan. Individu yang terpuaskan, akan setia (loyal) pada produk dan menjadi lebih senang menggunakan produk yang sama lagi jika membutuhkan (Smith, 1999: 84).


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.