Jurnalisme Sensitif Gender: Sekadar Wacana?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Isu gender merupakan persoalan krusial hampir di seluruh belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Istilah “gender” kemudian naik daun dan menjadi komoditas wacana yang selalu laku untuk diperbincangkan dalam berbagai forum media massa. Gender tak hanya menjadi tren wacana, melainkan sudah terejawantahkan menjadi semacam revolusi mind-set bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang concern dan memiliki komitmen dengan isu-isu perempuan.

Terlepas dari persoalan bahwa untuk memahami konsep gender, harus dibedakan terlebih dahulu antara kata “gender” dengan “seks”, dan sebagaimana diketahui bahwa gender tak hanya menyangkut masalah perempuan, sesungguhnya perbedaan gender (gender differences) lahir dari suatu proses pergumulan sosial, kultural, dan psikologis yang berlangsung dalam waktu yang lama. Proses tersebut terbentuk oleh banyak cara, diantaranya disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksikan secara sosial, kultural atau psikologis, melalui indoktrinasi ajaran agama,  pendidikan, tradisi, adat istiadat, maupun ideologi negara.

Dalam konteks itulah, media massa mengemuka dengan peran mediasinya, yaitu sebagai sarana sosialisasi dan penyampaian pesan. Lewat pesan-pesan yang disampaikan, persoalan gender dikondisikan oleh media massa. Sebagaimana dikemukakan oleh Marshal McLuhan the medium is the message, bahwa “apa yang dikatakan” lebih banyak ditentukan oleh “apa medianya”. Di balik pesan yang disampaikan lewat media senantiasa tersembunyi berbagai muatan ideologis yang menyuarakan kepentingan pihak-pihak tertentu yang memiliki “kuasa”, termasuk ideologi partriarkis yang cenderung tidak berpihak pada perempuan.

Bertolak dari persoalan di atas, dalam kajian tentang media massa, diperlukan suatu pendekatan holistik tentang kesadaran bahwa dalam pemberitaan lewat media harus mengusung prinsip bahwa di dalam realitas sosial pada dasarnya terdapat interaksi sosial yang sarat potensi lahirnya korban. Jurnalisme harus memegang prinsip-prinsip humanitarian yang berangkat dari sensitivitas pertanyaan etis, tentang kemanfataan dan kerugian pihak-pihak yang diberitakan, khususnya perempuan (Siregar, 2002). Di antara banyak tuntutan tersebut, muncul sebuah konsep jurnalisme yang diharapkan dapat menjawab persoalan, yaitu jurnalisme sensitif gender dalam pemberitaan media massa.

Di antara banyak persoalan media massa Indonesia yang tidak sensitif gender saat ini, setidaknya terdapat empat isu penting. Pertama, media massa masih memberi tempat bagi proses legitimasi bias gender, terutama dalam menampilkan representasi perempuan. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai citra dan teks pemberitaan, iklan, film, sinetron dan produk media massa lainnya. Yang ditampilkan adalah kondisi perempuan sebagai objek, dengan visualisasi dan identifikasi tubuh seperti molek, seronok, seksi, dan sejenisnya. Dalam pemberitaan kasus kriminal, perkosaan misalnya, perempuan juga sering digambarkan sebagai sosok yang seolah ikut andil sehingga meyebabkan kasus itu terjadi, bukan murni sebagai korban kejahatan kaum laki-laki. Di sisi lain penempatan (positioning) perempuan sebagai korban (survivor) atau saat menjadi pelaku/tersangka juga sarat dengan warna eksploitasi. Penggunaan kosakata masih berorientasi seksual (sex-oriented), seperti “dipaksa melayani nafsu”, “bertubuh molek”, dan sebagainya.

Kedua, dalam aktivitas jurnalisme sangat sedikit kaum perempuan terlibat menjadi pekerja media. Persoalan kuantitatif ini barangkali tidak terlalu parah bila di antara jumlah yang sedikit tersebut para jurnalis perempuan telah memiliki sensitifitas gender. Ironisnya, karena umumnya mereka masuk dalam dunia jurnalistik yang sangat maskulin, ukuran-ukuran pemberitaan yang digunakan masih menggunakan ukuran laki-laki sebagai pihak dominan dalam pengambilan keputusan. Tulisan-tulisan yang disajikan para jurnalis perempuan pun sudah dikondisikan dalam “pola laki-laki” (male patterns). Seandainya ada jurnalis perempuan yang concern terhadap sensitifitas gender, hanya menempati posisi yang kurang penting dalam jajaran dewan pengurus media. Bahkan dalam sejarah pers Indonesia, nama-nama tokoh pers pun cenderung dihegemoni nama “laki-laki”.

Ketiga, kepentingan ekonomi dan politik menuntut para pemilik media tunduk kepada industri atau pasar yang memang lebih permisif terhadap jurnalisme yang tidak sensitif gender. Perempuan dan segala stereotipe-nya dalam pandangan media massa adalah komoditas yang laku dijual. Media massa, di Indonesia, sebagai bagian dari lingkaran produksi yang berorientasi pasar menyadari adanya nilai jual yang dimiliki perempuan, terutama sebagai pasar potensial. Kondisi kultural ini didukung pula oleh permasalahan kultural di level organisasional media, terutama masalah coorporate culture yang masih sangat patriarkis.

Keempat, regulasi media yang ada saaat ini tidak sensitif gender, Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers misalnya, kurang memperhatikan masalah-masalah perempuan dan media. Ditambah lagi, aturan-aturan normatif lainnya yang selama ini sudah ada pun kurang atau bahkan tidak ditaati oleh para pekerja media.

Di tengah banyaknya tuntutan agar jurnalisme konvensional yang selama ini ada dirombak dan disesuaiakan dengan kebutuhan nilai-nilai kemanusiaan, maka muncullah konsep-konsep jurnalisme yang bermuatan humanitarian, seperti jurnalisme damai, jurnalisme multikultur, jurnalisme empati dan sebagainya. Jurnalisme sensitif gender termasuk salah satu pendekatan yang dipakai guna mengatasi bias gender dalam pemberitaan media.

Apa sebenarnya yang disebut jurnalisme berperspektif gender? Subono (2003) menyebutkan, jurnalisme berperspektif gender adalah kegiatan atau praktik jurnalistik yang selalu menginformasikan atau bahkan mempermasalahkan dan menggugat secara terus menerus, baik dalam media cetak maupun media elektronik adanya hubungan yang tidak setara atau ketimpangan realsi antara laki-laki dan perempuan.

Lalu bagaimana konsep-konsep jurnalisme sensitif gender diterapkan dalam praktik jurnalisme di Indonesia saat ini? Walaupun konsep tersebut telah menjadi kajian serius di beberapa institusi media massa, namun belum sepenuhnya menjadi prioritas, bahkan dalam tataran empiris seringkali menunjukkan kontradiksi. Beberapa media yang peduli isu gender pun kadang terlalu menonjolkan ekslusifitas perempuan dengan menuntut secara keras hak-hak emansipatifnya sehingga makin mempertajam perbedaan dengan kaum maskulin.

Memang, untuk menyimpulkan telah adanya kesadaran gender bisa dilihat dari hiruk-pikuk diskusi gender di ruang seminar dan media, adanya kesadaran menerapkan jurnalisme sensitif gender ataupun banyaknya aktivis feminis, baik dari kalangan publik figur ataupun masyarakat umum yang berani berbicara tentang ketidakadilan gender lewat pemberitaan media massa. Namun, kenyataan itu barulah sebatas tataran wacana dan kasus perkasus saja, bukan praktik umum di lapangan, yaitu pada level masyarakat dan seluruh media massa. Apalagi budaya partiarkis di Indonesia yang kadangkala diembel-embeli dengan dalih moral dan agama saat ini masih kokoh mendominasi ruang-ruang kebebasan publik.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

 

Tulisan ini dimuat di Harian Bernas, 21 Juni 2007.

One thought on “Jurnalisme Sensitif Gender: Sekadar Wacana?

  1. Menyaksikan bagaimana media massa menerjemahkan wacana gender membuat saya gelisah. Media sepertinya belum mau mengakui bahwa mengkritisi budaya patriarki juga menjadi tanggung jawabnya. Karena jika memang tanggung jawab ini harus disambut, maka media tak lagi bisa mengeksploitasi wanita – seperti yang Mas bilang: kecantikan, kemolekan tubuh, sampai ranah seksualitas. Padahal, justru dengan cara mengeksploitasi wanita ini lah media bisa menarik massa.
    Hingga saat ini baru sedikit media massa yang bisa membicarakan soal gender pada proporsi yang benar. Segelintir saja. Sementara, ada pula media massa yang mengaku sensitif gender tapi tak bisa menyampaikan pesan dengan baik. Sehingga para konsumen media memahami kesetaraan gender hanya sampai pada titik: “Oke, saya sebagai laki-laki mengakui emansipasi dan kesetaraan gender. Maka istriku, tolong kamu beresin genteng yang bocor itu dan pindahkan lemari ini ke kamar sebelah. Katanya perempuan juga bisa melakukan pekerjaan laki-laki, bukan?”
    Titik. Sampai di situ saja.
    Oh, ada lagi yang lebih meresahkan: wacana gender ini justru jadi barang jualan, jadi komoditi. Dengan menyebut diri “sensitif gender’, media justru memanfaatkannya untuk sekadar meraih perhatian konsumen. Miris sekali.
    Saya pernah wawancara seorang jurnalis wanita yang terkenal feminis dan rajin menyuarakan isu gender lewat media tempat ia bekerja. Bahkan ia sendiri mengakui, masih banyaaak sekali rekan kerja jurnalis yang belum mengerti bagaimana mempresentasi dan merepresentasikan kesetaraan gender dalam kegiatan jurnalistik. Padahal mereka bekerja di perusahaan suratkabar yang amat rajin mengangkat isu-isu perempuan.
    Jadi yah, mengangankan media massa benar-benar piawai bicara gender, memang pantas. Pantas menjadi angan-angan… :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s