Menyikapi “Jurnalisme Kuning”

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Potret kehidupan bermedia di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir menunjukkan perkembangan dinamis. Salah satunya ditandai dengan munculnya berbagai wacana baru dalam pemberitaan. Diskursus tentang adopsi konsep jurnalisme fakta vis a vis jurnalisme makna dalam pemberitaan melahirkan pendekatan jurnalisme ke dalam dua kutub-dikotomis; konvensional dan kontemporer. Jurnalisme konvensional menempatkan ideologi “objektivitas” sebagai landasan utama dalam beroperasi. Tolok ukurnya adalah dua dimensi: “faktualitas” (factuality) dan “imparsialitas” (impartiality).

Sementara, new journalism sebagai respon global mengusung kritik tajam atas klaim objektivitas-positivisme sehingga memunculkan genre baru dalam jurnalisme. Sebutlah jurnalisme publik, jurnalisme damai, jurnalisme patriotik, jurnalisme populer, jurnalisme sensitif gender, dan sebagainya. Bentuk “penolakan” atas kemapanan jurnalisme profesional ini tampak jelas dari maraknya penerbitan di tanah air yang mengusung atribusi pers kuning (yellow press) atau pers populer (popular press).

Cikal-bakal munculnya jurnalisme sebenarnya sudah dimulai sejak era kejayaan Penny Press. Istilah “Penny Press” muncul pertama kali bersamaan dengan hadirnya penny newspaper, yakni suratkabar murah yang dijual hanya seharga satu penny. Murahnya harga koran ini merupakan “perlawanan” terhadap koran-koran mainstream yang hanya mampu diakses golongan ekonomi mapan dengan cara berlangganan.

Penny newspaper atau penny press pertama kali diterbitkan oleh Benjamin Henry Day pada tanggal 3 September 1833 di New York dan diberi nama New York Sun. Dalam pemberitaannya, New York Sun banyak meliput berita-berita seputar kehidupan sehari-hari pembacanya. Pembaca New York Sun menikmati berbagai berita dalam koran ini karena disajikan layaknya sebuah cerita kehidupan (dokudarama). Terlebih lagi beritanya disampaikan melalui bahasa sehari-hari yang akrab dengan keseharian publiknya.

Jika di Jepang, era keemasan koran kuning terjadi di awal abad ke-20 hingga berakhirnya Perang Dunia I tahun 1918, maka di Indonesia, sejak reformasi 1998 menggulirkan kebebasan bermedia, koran-koran kuning bermunculan dengan berbagai bentuk. Mulai dari bulletin, tabloid, majalah hingga stensilan yang dekade-dekade sebelumnya sudah lebih dahulu populer lewat ekspos pornografi.

Ironisnya, setelah melihat tingginya permintaan pasar, koran-koran yang semula termasuk koran berkualitas akhirnya mendirikan koran baru sebagai diversifikasi produk dengan menyajikan berita khusus kriminal. Tabloid berisi klenik dan supranatural lainnya terus bermunculan, disusul pula tabloid kriminal yang mengumbar peristiwa-peristiwa kekerasan dengan menampilkan foto-foto korban yang sangat frontal dan penuh darah. Gambar mayat misalnya diekspos secara frontal di halaman muka lewat space yang cukup besar. Teknik penekanan gambar atau foto dengan zoom, close up, dan full colour secara terang-terangan mengeksploitasi tubuh mayat, layaknya gejala fethisisme. Dalam hal ini, koran kuning telah memanfaatkan kematian sebagi komoditas.

Suratkabar kuning adalah media yang kurang mengindahkan kaidah jurnalistik yang umum berlaku. Media jenis ini dikenal sebagai koran yang menjual sensasionalisme dan dramatisasi. Begitu kuatnya elemen sensasionalisme dan dramatisasi dalam pemberitaannya hingga kedua elemen tersebut dikenal sebagai ciri khas dari jurnalisme kuning (Conboy, 2003: 56).

Selain unsur tersebut, ciri lainnya dari koran kuning adalah penggunaan aspek visual yang cenderung berlebihan, bahkan terkesan lebih dominan daripada teks beritanya. Aspek visual yang digunakan oleh koran kuning antara lain adalah: (1) scare-heads; headline yang memberi efek ketakutan, ditulis dalam ukuran font yang sangat besar, dicetak dengan warna hitam atau merah. Seringkali materinya berisi berita-berita yang tidak penting; (2) penggunaan foto dan gambar yang berlebihan. Sebagian besar di antaranya tidak penting (3) berbagai jenis peniruan dan penipuan, misalnya cerita dan wawancara palsu, judul yang menyesatkan, pseudo-science, dan judul-judul penuh kebohongan; (4) suplemen pada hari minggu, yang berisi komik berwarna dan artikel-artikel sepele (Conboy, 2003: 57). Semua aspek di atas–sensasionalisme, dramatisasi, dan penggunaan teknik visual–digunakan oleh suratkabar kuning untuk menarik minat pembaca.

Menurut Adhiyasasti dan Rianto (2006), karakteristik koran kuning di Indonesia terfokus pada halaman pertama. Terkait dengan halaman ini, setidaknya ada empat ciri yang menonjol. Pertama, pemasangan foto peristiwa kriminal dan foto perempuan dengan penekanan seksualitas tubuh. Kedua, headline berukuran besar dengan warna-warni yang mencolok, misalnya merah, biru, kuning, dan hijau. Ketiga, banyaknya judul berita di halaman muka. Jika bisanya koran umum memasang 5 hingga 8 item berita, jumlah berita yang ditampilkan di halaman depan koran kuning berkisar antara 10 sampai 25 berita. Formatnya berupa berita yang sangat singkat, bahkan kadang hanya berupa judul dan lead kemudian bersambung ke halaman dalam. Uniknya, tidak sedikit judul dicetak sedemikian besar hingga ukurannya melebihi isi berita itu sendiri. Keempat, dilihat dari iklan yang dimuat, koran kuning di Indonesia umumnya menampilkan iklan-iklan yang tergolong vulgar. Iklan tersebut pada umumnya berbau seksual dan supranatural (klenik), contohnya iklan pembesar alat vital laki-laki atau payudara wanita, layanan telepon seks, mainan seks (sex toys), paranormal, hingga penyembuhan alternatif. Semuanya dilengkapi dengan foto, gambar, atau kata-kata sensasional. Pada beberapa koran kuning, ciri-ciri di atas tidak hanya terlihat di halaman depan, namun juga berlaku untuk halaman belakang, bahkan kadang di halaman dalam.

Menyikapi fenomena jurnalisme di Indonesia kuning bukan dengan penghakiman benar atau salah pada eksistensi jurnalisme kuning itu sendiri karena fenomena ini merupakan realitas bermedia yang memang menjadi bagian dari dinamika industri dan sejarah jurnalisme. Pun disadari, perkembangan awal jurnalisme di negeri pengusungnya (Amerika Serikat dan Inggris) tidak bisa menafikan kontribusi koran kuning dalam mempertahanknan minat pembaca untuk membeli suratkabar, terutama saat bisnis media cetak mengalami depresi besar-besaran di negara itu. Yang diperlukan tentunya suatu upaya untuk menyikapi kehadiran jurnalisme kuning ini secara jernih dan komprehensif sebagai konsekuensi logis dari kebebasan informasi yang bersinergi dengan sistem demokrasi dan mekanisme pasar bebas. Masyarakat tidak dibenarkan melakukan pelarangan sepihak atas terbitnya koran-koran kuning. Karena dalam negara demokrasi yang menjamin kebebasan pers, baik koran umum ataupun koran kuning memiliki hak hidup yang sama.

Dalam kondisi dilematis seperti ini, untuk menghadapi maraknya koran kuning diperlukan beberapa strategi. Pertama, bagi pembacanya (masyarakat) hendaknya meningkatkan literasi bermedia sehingga memiliki preferensi yang cukup dalam berinteraksi dengan media; Kedua, bagi pengelolanya, khususnya wartawan dan jajaran redaksi dituntut mengindahkan penerapan kode etik jurnalistik secara konsisten. Ketiga, stakeholder media yang lain, terutama pihak yang berkompeten menyusun regulasi, hendaknya memikirkan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif jurnalisme kuning. Penyusunan undang-undang atau peraturan distribusi (distribution law) misalnya, diperlukan agar jangan sampai koran kuning dan media-media sejenis merugikan masyarakat, khususnya anak-anak dan publik yang belum memiliki kecukupan literasi media. Keempat, peran lembaga pemantau media (media watch), perlu dioptimalkan sebagai mitra yang setia mengingatkan media jika bertindak kebablasan.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

Tulisan ini dimuat di Harian Bernas Jogja, 3 Mei 2007.

One thought on “Menyikapi “Jurnalisme Kuning”

  1. Pingback: Revealing the Bitter Truth: How to Deal with the Existence of Yellow Journalism in Indonesia « -Hamemayu-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s