Menyoal Sinetron Sampah di Televisi

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Sinetron atau sinema elektronik menjadi primadona hiburan masyarakat sejak kondisi perfilman nasional mengalami ketepurukan pada dekade 1990-an. Seiring booming industri pertelevisian dan menjamurnya era selebriti instan bentukan televisi, sinetron merajai program layar kaca. Pengertian sinetron sendiri, jika ditilik dari konsep yang sederhana bisa didefinisikan sebagai sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasiun televisi. Di Indonesia, istilah ini pertama kali dicetuskan oleh pengarang dan penulis skenario Arswendo Atmowiloto. Jadi, penyebutan “sinetron” sesungguhnya khas istilah Indonesia karena dalam bahasa Inggris, sinetron disebut opera sabun (soap opera), sedangkan dalam bahasa Spanyol disebut telenovela.

Namun apa yang bisa disimpulkan dari kondisi sinetron Indonesia saat ini? Memprihatinkan! Ya, kata “memprihatinkan” rasanya tepat digunakan untuk mewakili rentetan ungkapan “kegelisahan” lain yang kurang lebih sama maknanya, seperti “menyedihkan”, “keterlaluan”, “mengerikan”, “merusak”, “tidak mendidik”, “tidak kreatif’, atau bahkan “kurang ajar”. Separah itukah sinetron kita? Diakui atau tidak, memang demikian adanya. Tentu saja pernyataan umum ini harus terlebih dahulu mengabaikan beberapa gelintir sinetron bermutu yang pernah tampil di layar kaca, sebutlah Kiamat Sudah Dekat, Si Doel Anak Sekolahan, Keluarga Cemara, Bajaj Bajuri, Jendela Rumah Kita, Sayekti-Hanafi, Rumah Masa Depan, Losmen, Sartika, dan beberapa judul lain yang bisa dihitung dengan jari.

Selain judul-judul di atas, serbuan sinetron di hampir semua stasiun televisi swasta Indonesia tidak beranjak dari tayangan yang menjual mimpi, konflik, kekerasan, mistik, skandal, selingkuh, rebutan harta, kekuasaan, termasuk rebutan pacar. Sinetron Indonesia jarang bercerita soal perjuangan, kerja keras, etos belajar, kesetiakawanan, toleransi, dan nilai-nilai positif kehidupan sehari-hari. Setinggnya pun disajikan monoton, tak jauh dari ngobrol di meja makan, jalan-jalan dan pacaran di mall, menyetir mobil, berkomunikasi lewat handphone, suasana dugem di diskotik dan café-café. Kapan belajar, kerja, beramal, beribadah, berprestasi, dan etos-etos positif lainnya, tak pernah digagas.

Lihatlah gambaran yang sangat akrab di mata pemirsa televisi: Tokoh-tokoh yang cantik dan tampan selalu muncul dengan rumah mewah, mobil bagus, baju berganti-ganti, dan segala sesuatu yang serba “glamor”, mencitrakan gaya hidup hedonis, khas kaum kelas atas (borjuis). Anehnya, tak pernah dijelaskan atau digambarkan bagaimana tokoh-tokoh tersebut berkerja dan berusaha mencapai tingkat kehidupan yang sedemikian sukses. Dalam cerita sinetron, semua disajikan serba instan, tak perlu ada penggambaran proses perjuangan hidup yang nyata dan jerih payah apapun. Jika ada, perubahan hidup ditampilkan secara tidak wajar, adakalanya melibatkan aspek kebetulan yang berlebihan disertai mitos-mitos khayali (delusion).

Belum lagi, kekerasan—dengan segala bentuk dan cara—ditempuh untuk mencapai tujuan. Sikap-sikap keseharian yang ditampilkan juga jauh dari kewajaran, misalnya tokoh antagonis yang ditampilkan dengan senyum menyeringai, sering marah-marah sampai matanya mendelik, gigi gemerutuk atau mengerat kaku, seolah menghasut publik akan eksistensi manusia jahat dalam bentuk ekspresi ekstrim. Tak ketinggalan, potret anak kecil yang ditampilkan punya sifat dendam berlebihan—tidak masuk akal untuk anak seusianya— dengan melakukan siksaan atau makian kepada orang lain yang dianggap musuh. Sinetron-sinetron remaja yang berlatar sekolah dan kampus pun sama sekali tidak bernuansa akademis karena yang ditampilkan juga hanya urusan pacaran, percintaan naif, kehidupan malam, transaksi narkoba, penunjukan kekuatan super, kehidupan dugem, pakaian-pakaian seksi, dan remeh temeh banalitas kehidupan lainnya.

Dalam perspektif lain, bisa jadi memang begitulah cerminan selera (rendah) penonton sinetron kita. Paling tidak, asumsi ini menunjukkan, tayangan yang ingin ditonton justru sesuatu yang berada di luar keseharian mereka. Sesuatu yang berada di awang-awang, terbenam dalam ranah khayali yang membebaskan dari kondisi tertekan berbagai persoalan hidup sehari-hari, terutama kondisi ekonomi yang tidak kunjung membaik di tengah lilitan tuntutan kebutuhan hidup terus yang mencekik. Logika sederhananya, kehadiran sinetron penjual mimpilah yang bisa menjadi placebo, obat sementara untuk melupakan rasa muak atas kondisi kehidupan yang morat-marit. Jika benar demikian, inilah akar persoalan dan pemahaman yang paling berbahaya. Ibarat pembunuhan berencana, secara perlahan-lahan pemirsa disuguhi racun, sementara televisi menuai madunya. Melalui penayangan sinetron “sampah” semacam ini, seolah ada upaya untuk membiarkan masyarkat “hanyut” dalam kehidupan bawah sadar, utopis, dan terjebak dalam angan-angan semu, sebagaimana yang diungkapkan Prisgunanto (2004: 241), mereka diajak untuk berada dalam wilayah antah berantah, di bawah indahnya awan biru, tempat bunga-bunga bermekaran, burung-burung bernyanyi, semua hidup tenang dan serba berkecukupan.

Dalam posisi demikian, sulit diharapkan media menjadi bagian dari pembentuk karakter bangsa yang sehat karena institusi media lebih memilih—meminjam istilah Ashadi Siregar—semata-mata menjadi pemasok industri kultural. Dalam industri kultural, produk yang diciptakan selalu berorientasi pada pada konsumsi massa. Proses produksinya senantiasa mempertimbangkan kepentingan material (modal-uang) dan hiburan (kesenangan). Tester (1994: 40) menyindir kondisi itu sebagai komersialisasi “sampah” yang berbahaya karena berdampak serius pada kualitas hidup manusia.

Praktik-praktik industri sinetron Indonesia, jika ditilik di luar konteks makro, yakni dari aspek internal produksi dan kebijakan pengelola televisi sendiri, menunjukkan beberapa “penyakit” yang kontraproduktif bagi sebuah karya seni. Ironisnya, praktk-praktik ini justru mewabah. Jika dirunut sederhana, penyakit itu antara lain tampak dari hal-hal sebagai berikut: epigon (mengekor), jiplakan, episode yang dipanjang-panjangkan, sekuel yang dipaksakan berlanjut, skenario monoton, adopsi mentah dari luar, menjual wajah tampan/cantik, berkedok religius meski sebenarnya mengarah pada kesyirikan, memaksakan lagu hits menjadi tema/daya tarik sinetron sinetron, banyaknya hal-hal klise ditampilkan, jam tayang yang cenderung seragam,  menampilkan unsur sara, di luar daftar di atas masih banyak kenaifan lain dalam industri sinetron Indonesia yang bisa ditambahkan, sebutlah misalnya Jakartasentris, bias gender, stereotipe yang berlebihan, iklan yang mendominasi durasi tayang, mengumbar makian dan umpatan, eksploitasi tubuh perempuan, kekerasan, sadistis, mistik, dan hal-hal negatif lainnya. (Silakan Anda tambahkan sendiri…)


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

Tulisan ini dimuat di Harian Bernas Jogja, 4 Oktober 2007.

5 thoughts on “Menyoal Sinetron Sampah di Televisi

  1. Hello clever points.. now why did not i think of these? Off subject slightly, is this page sample merely from an ordinary set up or else do you employ a customized template. I take advantage of a webpage i’m in search of to enhance and effectively the visuals is likely one of the key things to finish on my list.

  2. A large percentage of of whatever you mention happens to be astonishingly appropriate and that makes me wonder why I hadn’t looked at this in this light before. Your piece truly did switch the light on for me personally as far as this particular subject matter goes. However at this time there is 1 position I am not necessarily too comfy with so whilst I make an effort to reconcile that with the main theme of your issue, allow me see just what all the rest of the subscribers have to say.Very well done.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s