Bencana Tiba, Media Bisa Apa?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Bukan hanya kebetulan jika Indonesia berada di wilayah yang rentan bencana alam. Kondisi geologi yang labil serta perilaku masyarakat yang kurang memperhatikan konservasi lingkungan menyokong hal itu. Bagi media massa, bencana bisa menjadi peluang untuk dijadikan materi informasi yang tidak pernah kering, terutama karena kandungan nilai beritanya yang tinggi.

Terkait dengan liputan bencana, ada tiga fase pemberitaan yang dapat dieksplorasi media; prabencana, saat bencana terjadi, dan pascabencana. Jika diamati dari berbagai peristiwa bencana yang terjadi selama beberapa tahun terakhir, baru pada fase ketiga (pascabencana) media massa, khususnya televisi di Indonesia, memberikan perhatian penuh. Stasiun televisi beramai-ramai mengerahkan kru dengan personel ekstra beserta peralatan lengkap untuk diterjunkan langsung di lapangan, menyiarkan berita bencana dengan intensitas dan frekuensi yang tinggi.

Persoalanya, setiapkali menyaksikan liputan bencana di televisi, masyarakat lebih banyak disuguhi tayangan yang menampilkan sisi melodrama bencana. Mulai gambar-gambar isak tangis, ratapan, kepanikan, sampai ekspos besarnya angka-angka jumlah korban. Mayat yang ditemukan di tengah puing-puing gempa juga disorot sedemikian rupa dengan maksud untuk menguras rasa iba. Semua ini memberi kesan mencekam. Apalagi ditampilkan dengan jelas bagaimana penanganan yang lambat, spekulatif, bahkan amatiran. Media dalam posisi ini berpotensi menjadi pembawa teror informasi karena liputan yang disajikan menimbulkan rasa trauma bagi warga. Simaklah bagaimana kerapnya pemberitaan adanya isu bencana susulan atau bencana lebih besar yang berkembang di masyarakat tanpa melibatkan narasumber yang relevan.

Pada pemberitaan erupsi Gunung Merapi misalnya, apa yang dipraktikkan televisi justru oleh sebagian masyarakat dinilai meresahkan. Dramatisasi dan pengambilan gambar-gambar jarak dekat erupsi yang mengerikan di layar kaya melebihi citra sesungguhnya tentang Merapi di lokasi kejadian. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi yang semula tenang justru terprovokasi oleh informasi masyarakat di daerah lain yang panik menyaksikan tayangan televisi dan mengatakan betapa bahayanya Merapi sebagaimana citra yang mereka tangkap di layar kaya.

Ironisnya, seperti ambivalensi hitam dan putih, pada saat yang sama, televisi membawa nuansa yang berbeda dalam materi siaran, bahkan cenderung kontradiktif. Di saat suasana duka gempa di Yogyakarta dan sekitarnya belum sirna, masyarakat sudah dibombardir gemerlap tayangan pesta sepakbola Piala Dunia. Atau yang lebih soft misalnya, acara kuis berhadiah milyaran rupiah disiarkan secara langsung di lokasi bencana. Menakjubkan! Dengan dalih kegiatan amal, penyelenggaraan hingar bingar pesta tetap membahana di tengah kedukaan dan nestapa koban gempa yang masih telantar dan tidur di tenda-tenda.

Pada kondisi ini, media kita mengalami dualisme fungsi. Di satu sisi, menjadi mediator informasi duka, di satu sisi menjalankan fungsi sukacita. Ini memperlihatkan bagaimana di ranah sosial yang amat terbatas, kuasa modal bermain.

Jika demikian, apakah media harus mengalihkan perhatian dan memberitakan salah satu aspek saja, misalnya berita yang baik-baik saja untuk menghibur korban bencana? Tentu saja tidak. Pilihan-pilihan fokus berita tersebut adalah keniscayaan dalam dunia industri. Penayangan berita mana yang dipilih melibatkan banyak agenda. Mulai dari kepentingan bisnis murni (ekonomi) hingga demi kepentingan lain, seperti kedekatan politik atau sekadar pencitraan diri (image building) lembaga. Jika dipandang dari segi hak publik untuk memperoleh banyak informasi secara bebas, tentu sah-sah saja televisi memilih fokus pemberitaan seperti yang diinginkannya. Persoalannya orientasi kepada publik harus tetap dinomorsatukan, tentunya dengan mengindahkan norma dan etika penyiaran.

Pada aras regulasi sebenarnya telah digagas praktik penyiaran yang elegan dan tidak menimbulkan efek traumatik. Hal ini sudah diatur dalam Pedoman Perilaku dan Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS). Lembaga penyiaran wajib menghormati hak privasi (hak atas kehidupan pribadi dan ruang pribadi) subjek dan objek berita (Pasal 19). Guna melindungi privasi korban bencana, paling tidak lembaga penyiaran harus mempertimbangkan empat hal.

Pertama, peliputan subjek yang tertimpa musibah harus dilakukan dengan mempertimbangkan proses pemulihan korban dan keluarganya. Kedua, lembaga penyiaran tidak boleh menambah penderitaan orang yang sedang dalam kondisi gawat darurat, atau orang yang sedang berduka dengan cara memaksa untuk diwawancarai atau diambil gambarnya. Ketiga, gambar korban yang sedang dalam kondisi menderita hanya dibolehkan dalam konteks yang dapat mendukung tayangan. Keempat, lembaga penyiaran harus menghormati peraturan mengenai akses media yang dibuat oleh rumah sakit atau institusi medis lainnya.

Selain itu, dalam pemberitaan bencana, paling tidak wartawan harus memperhatikan beberapa hal, misalnya, apakah dalam liputan bencana tersebut disiratkan langkah-langkah antisipasi bencana berikutnya? Apakah ada upaya untuk memberikan kesan tenang namun tetap waspada? Apakah cukup suara-suara yang mewakili stakeholder utama, seperti BMG, BPPTK, pemerintah, atau masyarakat? dan sebagainya.

Tak kalah pentingnya, pada fase prabencana, televisi harus terus-menerus menyediakan informasi-informasi yang dapat menjadi pegangan masyarakat saat berhadapan dengan bencana alam. Informasi yang disediakan oleh televisi akan menjadi semacam peringatan dini bagi masyarakat, yang mengingatkan bahwa kita berada di wilayah yang rawan bencana, dan harus bersiap setiap saat untuk menghadapinya.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya (PKMBP).

Judul di atas terinspirasi dari sinisme seorang kawan (Zaki Habibi) saat mengomentari tayangan peliputan gempa SumBar di televisi. (Tulisan ini dimuat di Newsletter Polysemia Edisi 3/Tahun I, Juli  2006 dengan judul “Menyoal Liputan Bencana di Media”).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s