Era Koran Tanpa Kertas Sudah Dimulai

Sumber foto: collings.co.za

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Pada tahun 1990, Bill Gates pernah meramalkan, 10 tahun lagi (tahun 2000) suratkabar cetak akan mati digantikan oleh teknologi suratkabar baru yang berbasis teks elektronik. Setelah sepuluh tahun berselang, pendiri Microsoft tersebut, merevisi prediksinya, yakni sekitar 50 tahun lagi ke depan, ramalannya baru akan terwujud.

Prediksi yang dikemukakan Gates memang tidak terbukti tepat waktu, namun terlepas dari perdebatan apakah benar saat ini suratkabar elektronik akan mematikan suratkabar cetak, sekadar menggantikan, atau bahkan menyempurnakannya, teknologi selalu menjadi bagian terpenting dari perkembangan suatu jenis media massa. Kenyataan tersebut sejalan dengan teori konvergensi media yang menyatakan bahwa berbagai perkembangan bentuk media massa terus terjadi sejak awal penemuannya. Setiap model media terbaru cenderung menjadi perpanjangan atau evolusi dari model-model pendahulunya. Hukum teknologi berkembang berdasarkan deret ukur, melampaui deret hitung. Jika media konvensional tidak melakukan penyesuaian, akan tertinggal jauh. Demikianlah sifat perubahan dan penetrasi teknologi komunikasi terhadap media massa.

Di Indonesia, Semakin bergesernya budaya membaca ke budaya menonton, serta pesatnya perkembangan teknologi multimedia membuat oplah suratkabar terus menurun. Asmono Wikan, Direktur Eksekutif Eksekutif Serikat Penerbit Suratkabar Pusat (SPS) pada sebuah seminar belum lama ini mengatakan, dalam satu tahun terakhir setidaknya terjadi penurunan oplah sekitar satu juta eksemplar. Wikan juga mengatakan bahwa di Indonesia, secara umum jumlah terbitan secara nasional stagnan pada angka 17 juta eksemplar, namun khusus untuk suratkabar turun sekitar 1 juta eksemplar. Penambahan terjadi pada majalah-majalah waralaba (franchise). Wikan mensinyalir, berkurangnya oplah suratkabar karena kebiasaan masyarakat yang lebih menyukai informasi melalui tayangan televisi. Tontonan televisi dianggap lebih menarik karena disajikan dalam bentuk gambar bergerak, sementara suratkabar lebih banyak menampilkan kata-kata yang harus dibaca jika ingin mengetahui isinya. Selain budaya menonton, gencarnya perkembangan multimedia melalui situs-situs portal di internet dan jaringan seluler juga turut mempengaruhi penurunan oplah suratkabar.

Mengapa peran teknologi, terutama internet sedemikian besar? Secara sederhana, internet bisa dipahami sebagai sebuah cara atau metode untuk mentransmisikan bit-bit data atau informasi dari satu komputer ke komputer yang lain, dari satu lokasi ke lokasi yang lain di seluruh dunia. Kelebihan teknologi yang mulai marak penggunannya pada tahun 1990an ini adalah kemampuannya menjangkau seluruh penjuru dunia dalam waktu yang serentak. Internet juga memberikan ruang yang nyaris tak terbatas bagi setiap orang untuk menyimpan, mengirimkan, atau membuka akses informasi tersebut kepada siapa saja. Apalagi dengan dikenalkannya teknologi World Wide Web (WWW) oleh Tim Berners-Lee, internet dapat menampilkan “halaman-halaman” yang tidak hanya berisi teks, tetapi juga gambar, grafik, animasi, dan suara yang menarik serta penuh warna sehingga mampu menampilkan layanan multimedia yang bersifat audio-visual (data, citra, dan suara). Internet tidak saja dapat menyajikan data yang bersifat teks dan gambar, tetapi juga sinergi audio dan visual. Sifatnya yang dinamis dan interaktif membuatnya lebih menarik dibanding sumber media informasi lainnya.

Perubahan lain dari koran konvensional yang sudah terjadi saat ini adalah sistem distribusi. Selain cetak jarak jauh yang lebih dulu dikenal, teknologi “koran satelit” saat ini sudah mulai diterapkan di Indonesia. Teknologi satelit untuk mencetak koran-semacam telecopier-ini dikembangkan oleh sebuah perusahaan bernama SATELLiTE Newspapers, yang dikendalikan di kantor pusatnya di Zug, Swiss. Diperkirakan, perusahaan ini telah memiliki klien sebanyak 175 koran yang tersebar di seluruh dunia, termasuk beberapa koran di Indonesia. Unit pertama di negara tujuan dari pencetakan koran ini disebut SATELLiTE Newspapers Kiosk. Pembangunan jaringan beserta softwarenya sudah dimulai sejak Desember 1999.

Keuntungan penggunaan teknologi ini adalah penyebarannya yang luas layaknya mesin ATM. Sistem pembayarannya pun sangat mudah. Pembacanya hanya membayar dengan kartu kredit saja. Dari sisi pengoperasian, mesin pencetak dirancang sederhana dengan konsep userfriendly operation. Bahkan untuk mengoperasikannya hanya perlu menekan menu perintah yang muncul di tampilan layar monitor. Tahapan untuk memperoleh koran satelit melalui Kiosk ini juga tidak terlalu panjang. Diperkirakan, keseluruhan proses hanya memakan waktu delapan menit. Menu yang dipilih pertama-tama adalah pilihan benua, lalu negara, kemudian select your newspaper. Langkah selanjutnya tinggal memasukkan kartu kredit dan suratkabar pun keluar dari mesin print. Lama waktu kerja mesin ini diklaim oleh pihak pembuat mesin hanya membutuhkan waktu dua menit saja.

Dari sisi tampilan, tidak ada yang berbeda antara hasil print dan koran aslinya. Tampilan koran yang dicetak serupa dengan koran aslinya. Para penggunanya diperbolehkan memilih halaman tertentu saja untuk dicetak. Tetapi mesin print masih memliliki kelemahan, terutama pada hasil printnya yang masih hitam putih (M.Ali, 2006; dalam Media Directory Pers Indonesia 2006). Selain mampu menerima file yang dikirimkan melalui satelit, Kiosk juga memungkinkan pelanggannya untuk mencetak koran langsung dari mesinnya. Untuk memudahkan pengoperasiannya, mesin Kiosk menyediakan menu pilihan bahasa yang digunakan oleh penggunanya. Pembayaran transaksinya masih dilakukan melalui mesin yang sama dan dengan kartu kredit. Kartu kredit yang digunakan juga beragam. Selain itu juga disediakan kartu khusus untuk mengoperasikan mesin Kiosk (Ali, 2006).

Dengan adanya teknologi ini, warganegara yang sedang berkunjung di negara lain tetap bisa memperoleh informasi yang berkembang di negaranya. Ia juga bisa terus menerus mengikuti edisi koran yang telah beredar di negaranya. Selain mencetak koran yang berasal dari berbagai negara, mesin Kiosk yang jumlahnya di seluruh dunia kini mencapai 125 buah, juga tidak melupakan arti pentingnya informasi lokal masing-masing negara. Karenanya, selain koran dari berbagai negara tersebut, mesin Kiosk juga mampu mencetak koran-koran yang beredar di kawasan nasional. Menurut Ali (2006), di Indonesia, Kiosk bisa ditemui di sejumlah hotel di Bali. Antara lain Bali Hyatt, Grand Hyatt Bali, Intercontinental Resort, Nusa Dua Hotel Beach & Spa, dan Radisson Hotel.

Menyikapi berbagai perubahan yang sedemikian cepat ini, industri suratkabar yang selama ini hanya berbasis pada bahan baku kertas dapat memperoleh keuntungan jika melakukan konvergensi. Perkembangan teknologi informasi membuat konvergensi media tak terhindarkan. Dalam jangka panjang, suara, gambar, dan data menajdi jadi satu kesatuan. Informasi kelak tak lagi mengarah ke satu bentuk media, melainkan dalam bentuk  multimedia.  Meski demikian, inti perubahan bukanlah terletak pada substansi koran sebagai media penyebar informasi dan hiburan, melainkan model produksi dan perangkatnya.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

Tulisan ini dimuat di Koran Bernas Jogja, 3 Juli 2008.

3 thoughts on “Era Koran Tanpa Kertas Sudah Dimulai

  1. Teknologi paperless saat ini memang belum begitu populer mengingat kultur membaca kertas (memegang sesuatu) dan kebanyakan orang tidak mau ribet dengan membawa gadget kemana2, membaca dengan monitor juga membuat mata cepat lelah.

  2. Betul Mas Sigit..
    Tapi menurut sy cuma persoalan waktu sj hingga akhirnya semua (dg beberapa pengecualian) setiap hari membaca koran seperti memelototi hp/monitor (esp. Fcabeook)…Koran kertas sendiri mulai bermetamorfosis dengan memperkecil ukuran dan membuat versi e-papernya.

    Trims kunjungannya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s