Menyongsong Perbaikan Infrastruktur Telekomunikasi di Indonesia

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Sejak zaman Yunani dan Romawi kuno, perkembangan peradaban sangat dipengaruhi oleh corak pembangunan infrastruktur telekomunikasinya. Kenyataan ini sejalan dengan fungsi utama teknologi telekomunikasi yang memudahkan pengiriman infromasi dari satu tempat ke tempat lain secara efisien. Berbagai cara dikembangkan mulai dari penggunaan asap di ketinggian tebing-tebing atau lembah hingga pembangunan menara yang sangat tinggi untuk mengirim sinyal-sinyal mekanik.

Di era modern, telepon menjadi ujung tombak bagi pengembangan infrastruktur telekomunikasi. Pada awalnya telepon sangat terbatas daya jangkau dan konektivitasnya. Namun infrastruktur telepon dari waktu ke waktu terus-menerus disempurnakan dengan memanfaatkan gelombang mikro, satelit, dan transmisi sistem fiber-optik. Puncak dari pengembangan teknologi telepon saat ini adalah penemuan teknologi telepon bergerak yang melahirkan perangkat-perangkat populer seperti pager, mobile phone, dan telepon selular. Dalam perkembangan mutakhir, generasi kedua dari telepon seluler ini sepenuhnya menggunakan sitem digital. Bagaimana kebijakan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia?

Sejak Amerika Serikat meluncurkan ‘The National Infrastructure Information’-nya pada tahun 1991, banyak negara industri lain di dunia bergegas menyusul dengan meluncurkan kebijakan-kebijakan infrastruktur komunikasinya. Dalam kurun waktu lima tahun setelah itu, negara-negara Eropa seperti Perancis, Denmark, Inggris, Jerman, dan lainnya merancang dan mempublikasikan kebijakan-kebijakan superhighways informasi mereka. Inggris menamai programnya dengan ‘The Information Society Initiative’ dan Jerman ‘The Info 2000’. Di Asia, Jepang menampilkan kebijakan serupa pada tahun 1994.Tak lama kemudian, yakni tahun 1996, negara-negara di wilayah Asia Tenggara pun tidak mau ketinggalan meluncurkan kebijakan-kebijakan infrastruktur komunikasi- informasi mereka, seperti Filipina dengan ‘Tiger’, Malaysia dengan ‘Multimedia Super Coridor’ dan Singapura dengan ‘Singapore-ONE’.

Awal tahun 1997, Indonesia meluncurkan kebijakan infrastruktur superhighways informasi yang diberi nama ‘Nusantara 21’, yang selanjutnya dikuatkan dengan dikeluarkannya Keppres No. 30 tahun 1997 mengenai Pembentukan Tim Koordinasi Telematika Indonesia, yang bertugas mengkoordinasikan pengembangan pembangunan dan pemanfaatan telematika di Indonesia. Sayangnya, kebijakan infrastruktur dalam proyek ‘Nusantara 21’ masih kental dipengaruhi kepentingan pemerintah, seperti dicerminkan dari hubungannya dengan kebijakan pertahanan dan keamanan, persatuan dan kesatuan Indonesia, ketahanan nasional, dan Wawasan Nusantara. Begitu pula peran pemerintah masih sangat dominan melebihi pihak-pihak lain, misalnya swasta dan masyarakat, dengan adanya Tim Koordinasi Telematika Indonesia, berdasarkan Keputusan Presiden No.30/1997, yang melibatkan 14 menterinya, yaitu 1 menteri koordinator, 8 menteri departemen, dan 5 menteri negara, namun tidak melibatkan pihak-pihak di luar pemerintahan. Dengan demikian ‘Nusantara 21’ mencerminkan warna sentralisasi yang masih sangat kuat dan nuansa demokratisasi kurang diperhatikan. Akibatnya visi ‘Nusantara 21’ yang awalnya dikenalkan secara top down sebagai simbol yang mengemas kerangka pembangunan infrastruktur pemerintah Orde Baru tersebut lengser mengikuti lengsernya pemerintahan Orde Baru. Selain itu krisis ekonomi, sosial, dan politik pada tahun 1997 serta bangkitnya semangat otonomi daerah mengikis proyek ‘Nusantara 21’ yang dinilai sangat kental bernuansa sentralistik. Hingga beberapa waktu kemudian, ‘Nusantara 21’ pun tidak terdengar lagi gaungnya.

Kabar baik terdengar seiring munculnya teknologi broadband yang memudahkan masyarakat mengakses internet di mana saja dengan teknologi mobile. Bila teknologi generasi pertama/1G yaitu NMT (Nordic Mobile Telephony) dan AMPS (Advanced Mobile Phone System) yang muncul pada awal 1990-an sekadar melampaui keterbatasan fungsi telepon yang statis menjadi dinamis, serta hanya menampilkan suara, maka pada teknologi generasi kedua/2G, GSM (Global System for Mobile) yang bergerak pada pertengahan dekade 1990-an, teknologi seluler tidak hanya mampu menjadi wahana tukar informasi dalam bentuk suara, tetapi juga data yang berupa teks dan gambar (SMS dan MMS). Karena murah, akses teknologi mobile generasi kedua ini berkembang pesat di Indonesia, sehingga memasuki 2000-an, handphone menjadi perangkat hidup (gadget) sehari-hari.

Sejak tahun 2006, masyarakat di Indonesia sudah bisa menikmati layanan audio-visual yang lebih canggih dengan teknologi generasi ketiga (3G). Ada juga pilihan koneksi internet ke aplikasi seluler dengan sistem UMTS, WiFi, dan WiMAX (Worlwide interoperability for Microwave Access). Aplikasi teknologi terbaru berkaitan dengan kecepatan akses sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa jaringan operator seluler antara lain berupa jaringan cepat yang dikenal dengan High-Speed Downlik Packet Access (HSDPA) atau sering disebut dengan 3,5G; yaitu generasi yang merupakan penyempurnaan dari 3G. Terakhir, tidak lama lagi, vendor maupun operator seluler siap dengan teknologi Next Generation Network (NGN) atau 4G. Perkembangan lebih lanjut dari teknologi 4G ini adalah revolusi WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) menjadi LTE (Long Term Evolution) dan revolusi EV-DO (Evolution for Data Only) menjadi UMB (Ultra Mobile Broadband). Pada awalnya LTE dan UMB dijadwalkan masih cukup lama untukmmulai diimplementasikan, mungkin akan lebih cepat dengan kemunculan WiMAX (Worlwide interoperability for Microwave Access) yang memiliki kemampuan seperti halnya 4G.

Bagi teknologi 3G, WiMAX mobile bisa dikatakan sebagai suatu ancaman. Dengan kemampuan layanan komunikasi data yang lebih cepat dari 3G yang ada saat ini,  WiMAX mobile menawarkan kinerja yang lebih baik penggunanya. Di lain sisi jika layanan panggilan suara dengan teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol) diintegrasikan melalui WiMAX, diprediksi akan memicu persaingan ketat antara 3G dan WiMAX. Dalam ketersediaan teknologi, saat ini teknologi LTE maupun UMB –sebagai revolusi secara alamiah teknologi 3G—memiliki keterlambatan ketersediaan dibanding teknologi WiMAX.

Kemunculan WiMAX di Indonesia semakin dekat dengan ditandatanganinya peraturan mengenai aspek persyaratan teknis untuk sistem BWA di pita frekuensi 2,3 GHz oleh Dirjen Postel pada 26 Februari 2008. Peraturan ini tentunya akan menjadi acuan dalam dokumen lelang BWA yang dijadwalkan pada tahun 2008 ini. Meksipun tidak disebutkan secara spesifik bahwa pita frekuensi ini merupakan alokasi untuk teknologi WiMAX, namun dalam siaran pers disebutkan bahwa Dirjen Postel bersama-sama dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi membuat program penelitian perngkat radio WiMAX di frekuensi 2,3 GHz sehingga kemungkinan besar teknologi WiMAX akan diimplementasikan (Kompas, 7 April 2008).

WiMAX memiliki kemampuan memberikan layanan koneksi ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) seperti layanan Telkom Speedy, tetapi melalui jaringan nirkabel, sehingga berpotensi menjadi alternatif layanan bagi masyarakat dan bagi daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan telepon. Selain itu, WiMAX memiliki kemampuan seperti sistem seluler (mobility) sehingga dapat memberi layanan seperti 3G saat ini.

Di Indonesia bisnis telepon akan terus meningkat meningat penetrasi pasar masih sangat luas untuk dikembangkan. Dilihat dari data sampai akhir tahun 2007 misalnya, pertumbuhan penggunan selular (GSM) diperkirakan telah mencapai angka lebih dari 80 juta pelanggan, yang berarti baru sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia. Ini membuka peluang untuk bagi pemerintah dan pihak swasta untuk mengembangkan  terus-menerus infrastruktur telekomunikasi sebagai bagain dari investasi bangsa di bidang ekonomi, budaya, sekaligus pertahanan-keamanan. Tentunya jika dalam pembangunan infrastrktur ini mendayagunakan aset-aset nasional, bukan  modal asing.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s