Roland Barthes dan Pembebasan Makna

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Tidak ada pemahaman tunggal atas suatu teks”, “.. pemaknaan teks bersifat otonom merupakan inti dari kebebasan yang memberi tempat bagi siapa saja untuk bersuara”. Demikian aksioma yang sering mengemuka dalam diskusi mengenai “pembacaan” atas suatu pesan. Kehadiran konsep ini sendiri tidak dapat dilepaskan dari sumbangan pemikiran Roland Barthes, seorang intelektual yang pernah mengembara dalam alam pemikiran eksistensialis, marxis, strukturalis, hingga post-strukturalis

Pandangan Barthes terkenal dengan sifatnya yang dinamis. Berbagai pergolakan dan kematangan intelektual membuatnya tidak fanatik terhadap satu pendekatan. Pada awalnya ia dikenal dengan kecenderungan strukturalis yang melihat dunia dan realitas sebagai kategori yang tersusun ajeg dan tertata menurut sistem tertentu. Karya-karya Barthes banyak menganut pada paham arbiter (tanda) dari Ferdinand de Saussure. Sebagai ahli semiotik di era 50-an dan 60-an, ia sepaham dengan Saussure bahwa bahasa merupakan dasar untuk memahami struktur sosial dan kehidupan budaya. Namun menjelang akhir hidupnya ia cenderung masuk pada pandangan poststrukturalis yang lebih cair. Barthes memandang bahwa proses pemaknaan tidak ada pada teks, tetapi ada pada diri masing-masing pembaca. Dikatakan oleh Barthes dalam esainya The Death of The Author bahwa ketika pengarang menulis karyanya, maka sebenarnya ia (pengarang) telah mati. Ia terpisah dari teksnya. Teks tersebut menjadi bukan miliknya lagi.

Penghapusan sang pengarang dimaksudkan untuk membebaskan teks dari pengaruh pengarang. Ada jarak antara pengarang dengan teks. Ketika teks itu terlahir, maka teks tersebut sudah sepenuhnya terpisah dari pengarangnya. Ada sifat temporal yang melekat pada kehadiran teks. Kesatuan teks berada pada kondisi aslinya, bukan pada tujuan di balik pembuatan teks itu sendiri. Dalam kaitan ini, pembaca dinisbatkan sebagai bukan dirinya yang sebenarnya. Ia adalah orang yang tengah membaca teks yang entah siapa pengarangnya, seperti dalam kutipan:“…The reader is the space on which all the quotations that make up a writing are inscribed without any of them lost; a text’s unity lies on its origin but its destination.

Ketika pengarang dihapuskan, pemaknaan teks menjadi bebas. Menyerahkan teks pada pengarang hanya akan membatasi kebebasan teks. Karena teks bersifat tidak terikat. Dengan kata lain, ia hanya sederetan abjad, simbol, atau tanda kosong yang tak berarti apa-apa. Teks dalam pendekatan Barthes terbuka terhadap segala kemungkinan. Konsekuensinya, pembaca teks berhadapan dengan banyak alternatif. Dan pada titik inilah tafsir monolitik menjadi cara menafsir yang tidak komprehensif karena pembaca berhadapan dengan pluralitas signifikansi.

Riwayat dan Karya

Roland Barthes lahir pada 12 November 1915 di Kota Cherbourg, Normandy. Barthes berasal dari golongan keluarga menengah Protestan yang ditinggal mati ayahnya saat ia berusia satu tahun. Ayahnya,seorang perwira angkatan laut terbunuh dalam tugas di North Sea. Sejak itu Ibunya-Enriette Barthes-, bibinya, dan neneknya mengajak pindah ke kota Bayonne, sebuah kota kecil di dekat Pantai Atlantik, sebelah barat daya Perancis. Di sana ia pertama kali mendapat pelajaran soal kebudayaan. Barthes kecil juga giat bermain musik, terutama piano dari bibinya. Ketika berumur sembilan tahun, ia pindah ke kota Paris mengikuti ibunya yang bekerja sebagai penjilid buku dengan gaji kecil.

Sepanjang tahun 1934-1947, ia menderita TBC sehingga mengharuskannya berobat ke Pyrenees. Dalam proses penyembuhan itulah Barthes banyak menghabiskan waktu dengan membaca.  Pada tahun 1962, Barthes telah memperoleh posisi di Ecole Pratique de Hautes Etudes sebagai dosen reguler. Di bulan Februari 1980, saat ia menyeberang jalan setelah keluar dari pertemuan makan siang dengan para politisi dan intelektual sosialis, Barthes ditabrak truk binatu di depan College de France. Empat minggu kemudian, di masa penyembuhannya, ia meninggal dunia.

Barthes adalah sosok ilmuwan yang produktif menulis. Karya-karya Barthes mencakup banyak bidang, di antaranya teori-teori semiotik, esai-esai tentang kritik sastra, sejarah, catatan perjalanan, hingga psikobiografi. Berbagai buku dan kumpulan tulisan Barthes di antaranya: A Barthes Reader, Camera Lucida, Critical Essays, The Eiffel Tower and other Mythologies, Elements of Semiology, The Empire of the Signs, The Fashion System, The Grain of the Voice, Image-Music-Text, Incidents, A Lover’s Discourse, Mythologies, New Critical Essays, The Pleasure of the Text, The Responsibility of Forms, The Rustle of Language, Sade/Fourier/Loyola, The Semiotic Challenge, S/Z, Writing Degree Zero, Michelet par Lui-Meme (1952),The Photogrphic Message in Barthes (1971), The Rethoric of the Image in Barthes (1975), The Third Meaning in Barthes (1977), Roland Barthes par Roland Barthes (1975), Plaisir du Texte (1973), de I’Ecriture (1952), dan yang paling kontroversial hingga melambungkan namanya; Suracine (1963). Pada buku yang disebutkan terakhir inilah Barthes menggagas sebuah pendekatan baru yang diberi nama nouvelle critique (kritik sastra baru).


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia.

Tulisan ini dimuat di Newsletter Polysemia, Edisi 3/Tahun I, Juli  2006.

2 thoughts on “Roland Barthes dan Pembebasan Makna

  1. saya mau tanya kalau meneliti dari sebuah autobiografi menggunakan teori semiotik roland barthes,,apakah bisa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s