Buku…Riwayatmu Dulu, Kini, (dan Nanti…)

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Orang boleh berkoar-koar apa saja tentang kehebatan new media dengan segala sisi interaktif dan fungsi konvergensinya. Namun kemajuan peradaban yang sangat pesat dalam satu abad terakhir tetap tidak bisa menafikan satu instrumen penting bernama “buku”. Di tengah pergulatan media-media baru yang lekat dengan kecanggihan teknologi, buku tetap dipercaya mampu meniupkan ruh pengetahuan lewat lembar-lembaran kertas berisi tulisan. Dari benda kecil inilah peradaban dunia ber-evolusi.

Sejarah mencatat, diawali dari buku pertama bergenre sastra berjudul Odyssey (Homer, 800 SM), dunia percetakan mencari bentuknya. Sejarah percetakan tidak terlepas dari penemuan kertas dan perkembangan teknologi sistem cetak-mencetak di Cina dan Timur Tengah. Teknologi ini mulai mendunia ketika dikenalkan oleh orang-orang Arab yang berdagang ke Barat. Sejak dinasti T’ang di Cina, buku berkembang lewat kertas kayu dan lempengan besi yang terpisah-pisah (618-906 M). Metode Ini berlangsung hingga tahun 1455 M, saat Johannes Gutenberg dari Jerman merancang kembali mesin cetak yang fleksibel dan dapat dipindahkan (movable type).

Inovasi Gutenberg ini berpengaruh secara massif bagi penyebaran agama yang ditunjukkan dengan penggandaan Injil sejak tahun 1455. Dari kesuksesan pencetakan Injil, buku-buku lainnya terus diciptakan. Konon, pada tahun 1700-an, jumlah buku di seluruh dunia mencapai 2 juta judul. Berkembang 8 juta pada tahun 1800-an, dan terus meningkat pesat hingga saat ini.

Di Amerika Serikat, sejarah perkembangan cetak-mencetak diawali dari penggandaan buku-buku keagamaan. The Bay Psalm Book adalah buku pertama yang diterbitkan di Amerika pada tahun 1640 oleh kaum misionaris ortodok di Massachusetts. Selain buku, pada awal perkembangan cetak mencetak di Amerika juga berhasil dilakukan pencetakan koran (di Boston, New York, dan Philadelphia), majalah, dan buku-buku nonkeagamaan, seperti Almanack.

Pada tahun 1732, Benjamin Franklin (seorang inovator di bidang percetakan, ilmu pengetahuan ilmiah, politik, dan penemuan-penemuan praktis) menerbitkan Poor Richards Almanak yang akhirnya menjadi buku terlaris—selain kategori buku keagamaan. Buku itu berisi nasihat-nasihat moral, tips pertanian, dan berbagai informasi berguna lainnya. Buku tersebut menginsiprasi terbitnya buku-buku motivasi yang lain, seperti Common Sense (1776) karangan Thomas Paine yang disinyalir ikut mendorong kemerdekaan rakyat Amerika dari Inggris Raya. Buku ini terjual 100.000 copy dalam waktu 10 minggu. Puncaknya terjadi saat Harriet Beecher Stowes menulis novel Uncle Tom’s Cabin (1852) yang terjual 100.000 copy selama satu bulan dan mencapai angka penjualan 300.000 copy selama setahun. Hingga saat ini, novel Uncle Tom’s Cabin terjual tak kurang dari 7 juta copy di seluruh dunia (Albarran, 1998: 71).

Setelah era Guttenberg serta kemunculan new media, kini buku mengalami konvergensi bentuk. Yang paling menonjol adalah kemunculan e-book, digital book, dan segala variannya. Demikian pula dengan perpustakaan tempat menyimpan buku juga mengalami perubahan, yakni tidak hanya mengoleksi buku konvensional/cetak, melainkan juga menangani koleksi sumber lain yang biasa disebut multimedia. Satu dasawarsa terakhir ini, kebiasaan membaca juga telah mengalami pergeseran seiring menjamurnya media-media elektronik dengan ragam variasi dan format, seperti digital library, virtual library, online library, dan sebagainya.

Dari sisi lain, masih tentang produksi buku, jika dikaitkan dengan konteks Indonesia, jika diukur dari jumlah produksi buku tiap tahunnya, negara kita sangat tertinggal. Malaysia misalnya, setiap tahunnya mampu mengeluarkan lebih dari 10.000 judul buku. Sementara di Indonesia, untuk mencapai 6.000 judul saja sudah merupakan prestasi yang luar biasa. Jika kita bandingkan jumlah penduduk Malaysia yang hanya sepersepuluh dari penduduk Indonesia, sangat jelas kita jauh tertinggal. Angka itu akan semakin terlihat memprihatinkan bila dibanding Jepang yang mampu menerbitkan 44.000 judul buku setiap tahun, Inggris 61.000, dan Amerika serikat 100.000 judul buku pertahun (Kompas, 31 Mei 1997).

Padahal, menurut data (sekali lagi, data lama) yang dikemukakan Jane E Campbell, penduduk Indonesia yang  “melek huruf” mencapai sekitar 87% (Campbell dalam Ratnaningsih, 1998: 296).  Sebagai pembanding data dari BPS  (2004) menyebutkan, tinggal 15,4 juta penduduk Indonesia yang mengalami buta huruf. Ironis memang, meskipun persentase “bisa baca” tersebut tergolong tinggi, ternyata minat baca masyarakat masih sangat rendah. Fakta di lapangan menunjukkan, sebagian besar masyarakat—terkecuali kalangan tertentu, seperti cendekiawan, kaum inteklektual dan mereka yang karena kedudukan dan tugasnya harus bergelut dengan dunia buku—jarang sekali mengunjungi perpustakaan atau membeli buku sebagai kebutuhan pokok mereka.

kalau sudah begini, mau tak mau urusan krisis ekonomi dibawa-bawa dan dituding turut memberi kontribusi nyata dalam proses disvolusi budaya baca di negara kita. Persoalan-persoalan mendasar seperti urusan perut, sandang dan papan tampaknya lebih mendominasi prioritas kebutuhan. Di mata masyarakat, buku dan perpustakaan adalah kebutuhan dengan nomor urut kesekian, jauh di bawah kebutuhan-kebutuhan pokok yang lain. Stigma yang terbangun sedemikian rupa ini lambat laun mengkondisikan merosotnya minat baca di kalangan masyarakat. Di sisi lain, perubahan gaya hidup seiring gempuran informasi yang deras melalui media elektronik, remaja kita saat ini lebih suka menghabiskan waktu di mal, kafe, daripada mengunjungi perpustakaan sebagai bagian dari gaya hidup mereka .

Di Indonesia yang konon hanya mampu memproduksi buku sekitar 7.000 judul pertahun, untuk dapat disebut meledak di pasaran (best seller) memang masih beragam ukurannya. Sebabnya antara lain: faktor minat baca yang dianggap belum tinggui, masih rendahnya daya serap pasar, jumlah sekali cetak buku rendah (non fiksi 2.000-6.000 dan fiksi 5.000 sampai 10.000), serta belum adanya data yang akurat mengenai angka-angka penjualan buku (Zaqeus: 2008).

Bahkan, sebagian penerbit menganggap, kalau satu judul buku mengalami cetak ulang—tak peduli berapa banyak dicetak dan berapa lama habis terjual—itu sudah diklaim sebagai best seller. Penerbit lainnya menganggap sebuah buku dinyatakan best seller jika cetakan pertamanya (3.000-5.000 eksemplar) habis terjual dalam waktu kurang dari enam bulan. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menetapkan standard bestseller jika terjual lebih dari 5.000 eksemplar.

Di Indonesia, buku-buku nonfiksi (tabel 1) dan fiksi (tabel 2) yang mencapai best seller sampai pertengahan tahun 2008 dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel.1 Buku Nonfiksi Terlaris di Indonesia

No JUDUL BUKU NONFIKSI PENULIS JUMLAH EKSEMPLAR
1. ESQ Ary Ginandjar 455.000
2. Jakarta Undercover Moammar Emka 200.000
3. La Tahzan Aidh Al Qarni 150.000
4. Aa Gym Apa Adanya Aaa Gym 140.000
5. Kupinang Engkau dengan Hamdalah M. Fauzil Adhim Di atas 120.000
Mencapai Pernikahan Barakah M. Fauzil Adhim
Rich Dad Poor Dad Robert T Kiyosaki

Sumber: Edy Zaqeus (2008)

Tabel.2 Buku Fiksi Terlaris di Indonesia

No JUDUL BUKU FIKSI PENULIS JUMLAH EKSEMPLAR
1. Laskar Pelangi Andrea Hirata 200.000
2. Sang Pemimpi Andrea Hirata 120.000
3. Fairish Esti Kinasih 66.000
4. Dealova Dyan Nuranindya 60.000
5. Supernova Dewi Lestari Di atas 50.000
Saman Ayu Utami
Edensor Andrea Hirata

Sumber: Edy Zaqeus (2008)

Walaupun jelas data tabel di atas sudah layaknya diupdate, paling tidak bisa memberi gambaran sederhana tentang kondisi perbukuan di tanah air.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia – Yogyakarta.

3 thoughts on “Buku…Riwayatmu Dulu, Kini, (dan Nanti…)

  1. A person essentially assist to make significantly posts I might state.
    That is the first time I frequented your web page and up to now?
    I surprised with the research you made to create this actual publish amazing.
    Magnificent task!

  2. Add even more fun with the long list of GTA codes that you can use to acquire weapons,
    cars and evade the police. How can the three-year rule be avoided for an existing life insurance
    policy. Golden keys are required to open a special loot chest inside the game’s city of Sanctuary which is guaranteed to have rare gear inside.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s