Gadget-mu: Surga atau Neraka-mu?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]


Kemarin saya diwawancarai Suara Merdeka tentang tren penggunaan gadget di kalangan remaja. Hari ini, Minggu, 29 November 2009, hasil wawancara tersebut dimuat-lengkap dengan foto narsisnya :). Namun bukan itu yang hendak saya bahas sekarang. Diskusi tentang bahaya atau manfaat teknologi komunikasi ternyata sejauh ini masih berkutat pada pandangan pro dan kontra yang dilihat secara sepotong-sepotong alias parsial. Mencermati berbagai fenomena terakhir terkait teknologi komunikasi sebenarnya sederhana jika dirunut dari kacamata yang digunakan dalam melihat kehadiran teknologi. Ya, ini soal kacamata.

Dalam kaitan perbedaan kacamata ini, paling tidak ada tiga pendekatan untuk memahami akses teknologi (Wilhelm, 2000). Pertama, pendekatan Dystopian. Kelompok ini seolah paranoid dengan teknologi. Mereka sangat hati-hati tehadap penerapan teknologi komunikasi sebab dampak yang ditimbulkan dari teknologi bisa mengacaukan kehidupan. Di antara tokoh pendukung  Dystopian  adalah  Edmund Husserl, Heidegger, dan Hanna Arendt. Barangkali MUI yang ketakutan dan ujug-ujug melarang (mengharamkan) Facebook masuk kategori ini.

Pandangan kedua, berasal dari kaum Neo Futuris. Mereka berpandangan optimis dengan menyatakan bahwa kehadiran IT harus diterima sebagai bentuk kemajuan dan kreativitas manusia. Mereka yakin, teknologi dalam kecepatan tinggi adalah kekuatan yang menggilas semua yang dilewati, dan akan membangun masa depan yang penuh harapan. Neo Futuris menolak kaum Dystopian yang lebih banyak bernostalgia dan menganggap kemajuan teknologi yang tidak terkontrol bisa mengancam eksistensi manusia. Kelompok ini didukung oleh John Naisbitt, Alvin Toffler, dan Nicholas Negroponte.

Pandangan ketiga adalah Teknorealis. Pendekatan ini lahir untuk menjadi juru damai (kompromi) antara pandangan Dystopian dan Neo Futuris. Kaum Teknorealis berpendapat dengan mengambil jalan tengah bahwa teknologi tidaklah netral. Mereka menyadari, bahwa saat ini telah terjadi ironi kemajuan teknologi yang banyak berakhir dengan memperalat manusia dalam kehidupannya. Padahal sejak awal, teknologi dimaksudkan sebagai alat mengontrol ruang dan waktu bagi kepentingan manusia. Bukan justru sebaliknya. Kelompok Teknorealis banyak dipelopori oleh kaum profesional, termasuk sejumlah jurnalis dan akademisi yang bergerak dalam kajian teknologi media.

Kembali soal penggunaan internet, gadget, dan fasilitas turunannya seperti situs jejaring sosial yang menjadi salah satu must have fashion dan harus selalu di-up date, sementara beberapa tahun lalu kita tidak sebegitunya tergila-gila gadget. Mengapa sekarang kita harus punya hp, laptop, mp3 player, kamera digital, atau punya situs jaringan sosial (Facebook, Fs, Twitter, Linked In, dsb), blog, dan sebagainya jika tidak ingin tersisih dalam pergaulan?

Pertama-tama harus diakui, aktivitas bergadget menjadi sebuah keharusan untuk menjawab kebutuhan dalam pergaulan global. Datangnya produk gadget di sekitar kita adalah sebuah konsekuensi dari kapitalisme (industri dan pasar) serta terpaan gejala modernitas yang difasilitasi oleh perkembangan pesat teknologi komunikasi.

Selain itu, penggunaan gadget dilatarbelakangi oleh motivasi, baik internal (dalam diri  sendiri) maupun eksternal (di luar diri, misalnya lingkungan pergaulan, keluarga, iklan, dsb). Motivasi ini bertingkat, dari motivasi iseng, coba-coba, kebutuhan pergaulan, aktualisasi diri, sampai motivasi untuk memenuhi kecanduan (addicted) yang dalam tahap-tahap tertentu menjurus pada kelainan psikologis.

Penyakit berteknologi, khsusnya internet, menurut mingguan New Scientist sebagaimana dikutip Wicaksono Hidayat – detikInet (http://detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/20/time/094054/idnews/722230/idkanal/398), antara lain berbentuk:

(1) Egosurfing: Terobsesi dengan reputasi diri di internet sedemikian rupa sehingga menghabiskan waktu online untuk melakukan pencarian namanya sendiri di situs pencari seperti Google atau Yahoo. Penderita juga kerap mengecek ranking blognya di Technorati dan Google Page-rank;

(2) Blogsibisionis: Penderita sangat senang dan bangga menampilkan informasi pribadinya via blog atau situs pertemanan. Bahkan informasi-informasi bersifat pribadi yang seharusnya tidak diketahui oleh orang lain dengan mudahnya diekspos di hadapan publik;

(3) Gilaberry: Gejalanya adalah tidak bisa melewati satu detik pun tanpa mengecek e-mail di perangkat genggam Blackberry-nya. Jika sudah parah, penderita akan mengecek e-mail bahkan di saat-saat genting, misalnya ketika gempa;

(4) Detektif Google: Melakukan pencarian terus-menerus dengan mesin pencari “Google” untuk menyelidiki teman lama, cinta pertama, mantan pacar, atau sekadar gebetan;

(5) Cyberkondria: Setelah melakukan riset di internet mengenai gejala-gejala penyakit tertentu, atau menerima e-mail mengenai penyakit tertentu, penderita akan merasa dirinya menderita sakit tersebut;

(6) Photolurking: Gemar melihat-lihat foto dari album online milik seseorang yang tidak dikenalnya;

(7) Wikipediholik: Sangat berdedikasi untuk mengisi dan menyunting situs ensiklopedia kolaboratif Wikipedia;

(8) Cheesepodding: Gemar mendownload lagu-lagu yang cheesy (“norak”, basi atau ketinggalan zaman), misalnya, lagu-lagu yang pernah hits di masa lalu, seperti dari era 60-70an.

Terjangkiti yang manakah Anda? :)

Remaja dan  Internet

Terkait dengan remaja yang disinyalir menjadi pengikut tren teknologi komunikasi, perlu dilihat bahwa remaja sekarang ini adalah Generasi Y (Gen-Y). Mereka adalah generasi yang melek dan sudah terbiasa bersentuhan dengan teknologi terupdate, terutama di bidang teknologi  komunikasi, mulai dari handphone sampai internet. Dalam urusan teknologi, bisa dibilang bahwa Gerenasi Y adalah pengguna aktif dan tidak bisa hidup jauh dari teknologi-teknologi yang ada tersebut. Teknologi adalah identitas mereka. Jika digunakan tolok ukur usia, maka Generation Y ini adalah  mereka yang lahir pada kisaran tahun 1979 sampai dengan 1995. Ada juga yang menyebutkan bahwa Generation Y adalah mereka yang lahir pada kisaran tahun 1976 sampai tahun 2001. Sementara orang tua mereka adalah generasi X atau baby boomers. Sekadar perbandingan Gen-Y jauh lebih nyaman menggunakan teks dan jaringan sosial, sementara generasi lama mungkin bukan hanya tidak nyaman dengan komunikasi digital, mereka bahkan merasa terganggu dengan kurangnya interaksi bertatap muka.

Mengapa teknologi gadget dan internet begitu fenomenal bagi remaja? Jawabannya sederhana, gadget menawarkan fasilitas lengkap, fashionable, mudah digunakan, dan fungsional. Terutama dalam hal berkomunikasi dua arah yang sangat interaktif.

Jauh-jauh hari pada generasi sebelumnya, tingkah polah bergadget ria tentu tidak terbayangkan bakal terjadi.  Sebutlah duapuluh tahun lalu, saat remaja tanah air gandrung dengan interkom atau sepuluh tahun berikutnya, era singkat keemasan penyeranta (pager). Meskipun keduanya menjawab kebutuhan komunikasi dua arah, gadget dengan segala sisi interaktifnya menghadirkan konvergensi media baru yang sangat berbeda karakteristiknya dari media komunikasi yang sudah ada sebelumnya.

Di Indonesia, munculnya teknologi broadband juga memudahkan orang mengakses internet di mana saja dengan teknologi mobile. Bila teknologi AMPS (generasi pertama/1G) yang muncul pada awal 1990an sekadar melampaui keterbatasan fungsi telepon yang statis menjadi dinamis, serta hanya menampilkan suara, maka pada teknologi GSM (generasi kedua/2G) yang bergerak pada pertengahan dekade 1990-an, teknologi seluler tidak hanya mampu menjadi wahana tukar informasi dalam bentuk suara tetapi juga data, berupa teks dan gambar (SMS dan MMS). Karena murah, akses teknologi mobile generasi kedua ini berkembang pesat di Indonesia, sehingga memasuki 2000-an, handphone menjadi perangkat hidup (gadget) sehari-hari.

Sejak tahun 2006, masyarakat di Indonesia sudah bisa menikmati layanan audio-visual yang lebih canggih dengan teknologi generasi ketiga (3G). Ada juga pilihan koneksi internet ke aplikasi seluler dengan sistem UMTS, WiFi, dan WiMax. Kabar terbaru berkaitan dengan kecepatan akses, beberapa jaringan operator seluler sudah memiliki jaringan paling cepat yang dikenal dengan high-speed downlik packet access (HSDPA) atau yang sering disebut dengan 3,5G, yaitu generasi yang merupakan penyempurnaan dari 3G. Terakhir, tidak lama lagi, vendor maupun operator seluler siap dengan teknologi next generation network (NGN) atau 4G.

Namun demikian, di samping kemudahan, kecanggihan, dan keasyikan yang ditawarkan, pada saat yang sama gadget juga memunculkan berbagai kekhawatiran karena berbagai dampak negatif yang dibawanya. Untuk menyikapi kondisi ini diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai teknologi yang digunakan beserta konsukuensi dari penggunaannya. Singkat kata, wajar ikut tren tapi jangan sampai jadi korban tren teknologi.

Melalui teknologi orang bisa seolah-olah naik derajatnya. Social climber sendiri adalah sebutan buat orang-orang yang berusaha bersikap  high-class dengan tujuan biar mereka juga dianggap sebagai orang-orang high-class. Social Climber itu berusaha menjadi kaum yang berada di atasnya dengan menggunakan katakanlah gadget, pakaian dsb, meskipun barang-barang tersebut aspal, tapi yang penting mreka memiliki dan merknya sama atau mirip.

Contoh saat demam Blackberry mewabah, banyak masyarakat yang ikut-ikutan membeli sekadar biar gaya atau bahkan dianggap mirip artis. Ketika ditanya berapa nomor PIN BB-nya malah bingung. Atau bisa dilihat pula banyak remaja yang punya HP mewah dan terbaru generasi smartphone, tapi ternyata tidak punya pulsa. Nah lho..

Berkaitan dengan dampak nagatif internet, remaja di bawah umur adalah golongan netter yang paling rawan menjadi korban penyalahgunaan internet. Dari masalah-masalah sederhana sampai persoalan serius yang berimplikasi pidana. Remaja pengakses internet sangat dimungkinkan secara tidak sengaja tersesat masuk ke situs-situs ”berbahaya”. Mereka mudah mendapatkan atau menemukan (sengaja maupun tidak) materi-materi yang tidak layak diakses, misalnya pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, ataupun hal-hal lain yang sifatnya menghasut untuk melakukan aktivitas negatif-ilegal.

Internet juga mengundang bahaya karena giat menjajakan kekerasan. Situs-situs yang bernuansa gelap, sadis dan berhubungan dengan penyimpangan seksual betebaran di dunia maya. Kekerasan yang ditampilkan bersifat simbolik sampai fisik, seperti teks dan gambar dari skala no blood (kekerasan tanpa darah) hingga ke penyiksaan menuju kematian. Banyak homepage khusus penyedia tayangan video yang menampilkan adegan kekerasan dan pembunuhan menyimpang. Foto-foto yang berisi kematian dan pembunuhan akibat perang juga banyak dicari orang lewat internet. Di Indonesia misalnya, saat terjadi peristiwa kerusuhan di Sampit atau rentetan tragedi DOM Aceh, terdapat situs-situs yang khusus memperlihatkan foto kepala terpenggal, usus manusia terburai, tubuh membusuk dikerubungi lalat dan foto-foto mengerikan lainnya.

Selain kekerasan, bahaya yang paling sering dikahwatirkan adalah soal pornografi. Jumlah pengakses konten pornografi online di internet dari hari ke hari semakin meningkat. Parahnya, ini terjadi di kalangan anak dan remaja. Setidaknya demikian hasil studi yang terungkap di Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan University of New Hampshire untuk National Center for Missing and Exploited Children membandingkan jumlah dan perilaku pengakses pornografi online pada tahun 1999-2000 dengan jumlah dan perilaku pengakses pornografi online 2005. Menurut hasil studi, jumlah pengakses pornografi online di kalangan anak remaja berusia 10-17 tahun meningkat 25% dari sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi karena taktik bisnis pornografi makin agresif. Makin canggihnya performa kecepatan komputer dan koneksi Internet dalam menangani gambar juga salah satu faktor penyebab peningkatan angka tersebut (Ardhi, http: //detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/06/time/142552/idnews/716867/idkanal/398)).

Masalah pengintimidasian seksual di internet juga terbukti makin meningkat. Tercatat 1 dari 10 orang mengalami pelecehan seksual secara online. Jumlah predator seksual yang mencoba mengeksploitasi anak-anak terus menanjak. Meski jumlah pengakses pornografi meningkat, menurut studi University of New Hampshire tersebut, kewaspadaan remaja AS terhadap ancaman internet makin baik. Terbukti mereka kini lebih berhati-hati berinternet. Mereka juga lebih jarang mengunjungi chatroom atau ngobrol dengan orang yang tidak dikenal (Ardhi, Ibid).

Situs-situs jaringan pertemanan seperti Friendster dan Myspace yang notabene sebagian besar penggunanya adalah anak muda, belakangan berkembang menjadi sarana kejahatan seksual yang melibatkan anak di bawah umur. Menurut Myspace, saat ini diperkirakan ada sekitar 550.000 profil yang telah melakukan registrasi yang disinyalir pelaku kejahatan seksual di Amerika. Sudah banyak pelaku memangsa korban dengan awalnya mengaku ingin menjadi teman mereka. Yang menjadi korban biasanya anak berusia belasan tahun. Tragisnya, ini tidak hanya menimpa anak perempuan saja, bocah lelaki juga dijadikan sasaran untuk melampiaskan penyimpangan hasrat seksual pelaku .

Gejala yang sama juga terjadi di Asia. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh ABAC Poll Research Centre dari Assumption University – Thailand terhadap  1.303 responden remaja menunjukkan, lebih dari 10 persen pernah berhubungan seksual dengan orang-orang yang mereka temui di Internet. Survei juga menyimpulkan bahwa dua dari tiga orang responden mengaku selalu mengakses situs-situs porno. Demikian hasil penelitian yang dilakukan kepada anak muda berusia 15 hingga 24 tahun, yang dilansir monstersandcritics.com dan dikutip detikINET, Senin (12/2/2007). Penelitian yang dilakukan pada awal Februari ini juga mengungkapkan, 30 persen responden telah berkencan dengan orang yang mereka kenal di Internet. Tak hanya itu, 80 persen responden juga mengaku melakukan chatting dengan orang-orang asing di Internet. Hasil dari jajak pendapat penelitian ini juga menemukan bahwa 11,5 persen responden mengaku memiliki hubungan yang menjurus pada perilaku seksual dengan orang yang mereka kenal di internet. Persentase tersebut meningkat dibanding tahun lalu yang hanya mencapai 8,9 persen (Yusuf, 2007: 178).

Sebaliknya, di sisi lain, sejarah juga mencatat kontribusi positif internet. Masuknya lembaga pers dalam memanfaatkan internet untuk jurnalisme misalnya, telah membantu masyarakat dalam memanfaatkan teknologi ini secara maksimal. Internet mampu mewadahi teknologi cetak, radio dan televisi. Saat meletus Perang Teluk II contohnya, orang tidak lagi menghabiskan waktunya untuk menonton televisi, tetapi cukup mengikutinya via internet. Informasi yang ditampilkan tidak saja di-update setiap saat, tetapi juga lebih menarik dan lengkap dengan format teks, audio, dan audiovisual (Yusuf dan Supriyanto, Jurnal Komunikasi, 2007: 101).

Dengan semakin bertambahnya kemampuan internet dalam menyajikan tampilan atraktif dan kecepatan yang semakin tinggi, semakin banyak orang menjadikan internet tidak hanya untuk mencari informasi tetapi juga berbagai keperluan lain. Dari mencari jodoh, teman kencan, pekerjaan, beasiswa, hingga transaksi barang-barang ilegal. Berdasarkan sebuah penelitian, hampir 90% mahasiswa di Amerika  mencari informasi yang berkaitan dengan studi mereka melalui internet. Kondisi demikian telah menjadikan internet sebagai media komunikasi antar manusia di seluruh planet bumi ini, sehingga memunculkan komunitas-komunitas maya yang dikenal dengan istilah netizen, warga negara dunia maya yang melakukan berbagai interaksi, komunikasi, dan transaksi secara online (Yusuf, 2007: 178).

Dari sisi ilmu pengetahuan, khususnya terkait dengan riset ilmiah, internet memberikan sumbangan yang sangat besar, terutama berkaitan dengan pengurangan personel pengambilan data, biaya untuk mengurangi perjalanan fisik, dan penghematan waktu. Di samping server-server yang menyediakan data sekunder, komunitas-komunitas dunia maya merupakan sumber penyedia responden untuk mendapatkan data primer dengan lebih cepat, mudah, dan biaya lebih murah.

Di antara berbagai pilihan dan kemungkinan dampak yang ditimbulkan sebagaimana dipaparkan di atas, kehidupan masyarakat modern tidak bisa dipisahkan dari kehadiran internet. Disadari atau tidak, internet telah menciptakan sebuah bentuk ketergantungan bagi penggunanya. Sekadar ilustrasi, hampir setengah dari pengguna internet di Amerika Serikat (AS) mengaku bergantung pada internet saat harus membuat keputusan penting dalam hidupnya. Contohnya, mencari perguruan tinggi untuk anggota keluarga mereka atau mencari tempat tinggal baru untuk menetap. Demikian hasil studi yang dilakukan sebuah grup nirlaba, Pew Internet and American Life Project. Survei ini digelar tahun 2006 dengan sampel 2.201 orang dewasa. Survei menunjukkan bahwa peran internet kian penting bagi kehidupan sehari-hari. Kurang lebih 45 persen pemakai internet, atau kira-kira 60 juta orang Amerika, mengatakan internet membantu mereka dalam membuat keputusan besar atau dalam menghadapi momen penting dalam hidup mereka (Yusuf, 2007: 180).

Ya, akhirnya dengan melihat dua sisi (ternyata saya masuk pada kacamata teknorealis), kita tinggal bertanya saja: Facebook dan gadget-mu: Surga atau Neraka-mu?


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

 

One thought on “Gadget-mu: Surga atau Neraka-mu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s