Tentang Judul Itu… (Menyoal “Matinya” Ilmu Komunikasi)


Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Judul Buku : Matinya Ilmu Komunikasi
Penulis : St Tri Guntur Narwaya,
Tahun terbit : 2006.
Penerbit : Resist Book,Yogyakarta
Jumlah Halaman : 230 + xv.

Benarkah ilmu komunikasi telah mati? Pertanyaan sederhana ini akan mengantar kita pada diskusi panjang yang pasti tidak akan mudah menghasilkan satu kesimpulan akhir. Argumentasi banal dan eksperimentatif tidak cukup diajukan karena menyangkut “vonis” hidup-mati bagi eksistensi suatu ilmu, jika tidak mau dikatakan judgement tergesa atau bahkan sekadar kritik klise. Pertanyaan tentang masa depan ilmu komunikasi mengingatkan pada sebuah buku yang diterbitkan tahun 2006 karya St Tri Guntur Nurwaya berjudul ”Matinya Ilmu Komunikasi”.

Membaca buku karya Narwaya yang menggunkan kata “sihir” the death of… (matinya…) atau the end of… (berakhirnya…), mau tidak mau mengajak kita untuk membandingkan—paling tidak mengingat—buku-buku serupa yang lahir pada generasi awal seperti The End of History and the Last Man (1991) karya Francis Fukuyama atau The Death of Economics (1997) karya Paul Ormerod. Harus diakui, elaborasi kerangka teoretik dan data praksis buku-buku yang lahir pada generasi awal tersebut memang matang sehingga menjadi sumber rujukan ilmiah yang mumpuni, sekaligus secara industri laris di pasaran. Kesuksesan penjualannya mengilhami kelahiran buku-buku dengan instrumen judul serupa. Sayangnya, tak sedikit buku-buku yang lahir setelah kedua buku itu hanya menjadi epigon dengan pemikiran yang tidak tereksplorasi dengan baik.[2] Sekadar gambaran, pada generasi berikutnya, pakar PR sekelas Al Rise yang “hanya” menggunakan frasa The Fall of Advertising, The Rise of PR (2002) -belum sampai “maqom” the death of…- juga harus rela menghadapi gugatan paradigmatis serupa dari kalangan ilmuwan dan praktisi periklanan, meski fakta empiris berbicara, buku itu menjadi best seller dan tak sedikit yang mendukung argumentasinya.

Melihat kenyataan bahwa buku ”Matinya Ilmu Komunikasi” dikembangkan dari skripsi penulisnya, maka saya meyakini (dan berharap) penggunaan kata “matinya” pada sampul buku “Matinya Ilmu Komunikasi” hanyalah sebagai strategi marketing dalam konteks bisnis perbukuan guna menarik perhatian pembeli, tidak berpretensi untuk menyamai tesis “akhir sejarah” Fukuyama atau “kematian ilmu ekonomi”nya Ormerod (nama terakhir kerap disebut penulis dalam buku ini).

Sebelumnya, ada hal yang patut diapresiasi positif dari buku ini. Pertama, buku ini termasuk karya yang berani karena ditulis oleh seseorang yang kritis menggugat ilmu yang ditekuninya. Sebuah kondisi yang jarang ditemui karena kecenderungan yang ghalib berlaku, seseorang akan membela ilmu yang dipelajarinya, bahkan kadang dengan pembelaan yang membabi-buta. Kedua, ada gejala sangat positif ketika seorang pembelajar ilmu komunikasi pada level sarjana strata satu peduli dengan bangunan filsafat teoretik keilmuan yang kemudian ditelaah secara mendalam dalam skripsinya. Setidaknya ini membuktikan, tidak semua mahasiwa lebih tertarik meneliti dunia komunikasi dalam dimensi praktis-teknis (misalnya menyoroti aspek mikro media massa: news, views, advertising) dengan tujuan pragmatis: mempercepat kelulusan atau mengkaji sesuatu yang berpotensi menopang karirnya di industri komunikasi kelak setelah mereka lulus. Ketiga, nilai lebih berikutnya adalah sejarah penulisan buku ini yang konon lahir dari kegelisahan penulis terhadap anasir-anasir kemampanan. Ilmu komunikasi dinilai penulis merefleksikan kemapanan yang arogan. Ya, kemapanan sendiri seperti kata Kris Budiman (2003), mengukuhkan kekurang-ajaran karena selalu mengandung kepentingan bagi siapapun yang diuntungkannya.[3]

Namun, keberanian saja tidak cukup karena beban yang dipikul penulis dengan mengusung judul “matinya” tidaklah ringan. Terutama bagaimana penulis harus mendedah kronologi kematian ilmu komunikasi dalam rentang ruang dan waktu disertai pembuktian-pembuktian rasio yang memadai, sekaligus memberikan eksplanasi mendalam pada area atau lokus yang dijadikan topik buku (ilmu komunikasi).

Dengan membaca keseluruhan argumentasi penulis dan pemaparan bab demi bab dalam buku ini, justru terbersit sebuah kritik sederhana: judul Matinya Ilmu Komunikasi lebih sinkron seandainya diberi judul “Matinya Positivisme dalam Ilmu Komunikasi…..”—terlepas dari ranah ilmu komunikasi sendiri yang justru tidak banyak diulas—. Pun jika (sayangnya belum) materi tentang ilmu komunikasi dielaborasi lebih banyak dalam buku ini, tidak bisa begitu saja menafikan perkembangan kontemporer dunia komunikasi yang ada saat ini, baik sebagai kajian (art) maupun ilmu (science). Elaborasi ini sangat perlu mengingat di berbagai belahan dunia (yang merdeka mengembangkan paradigma keilmuan secara dinamis dan terbuka), ilmu komunikasi justru sedang mengalami perkembangan, terutama jika dilihat dari objek formal dan objek materialnya yang kian meluas dan variatif. Jadi rasanya kurang pas jika ilmu komunikasi saat ini dianggap mapan, apalagi stagnan pada pijakan paradigma positivisme.

Sebuah pertanyaan lain yang menggelitik kemudian muncul: Apa salahnya dengan positivisme sebagai paradigma? Tidak ada bantahan memang bahwa dalam sejarahnya, dosa terbesar positivisme adalah kontribusinya memacetkan ilmu sosial. Namun perlu disadari juga bahwa suatu teori atau perspektif hanya menangkap kebenaran atas fenomena secara parsial dengan terlebih dulu mengabaikan kebenaran lainnya. Littlejohn (2003) misalnya menegaskan, studi ilmiah (positivisme) dan studi humanistik (fenomenologis-kritis) tidaklah saling meniadakan, namun seharusnya saling melengkapi.

Jika kita mendudukkan paradigma dalam kerangka egalitarian dan tidak hegemonik, semua paradima memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apalagi jika ditelisik dari konteks sejarah kelahiran paradigma, tentu suatu paradigma mewakili zaman keemasan masing-masing. Paparan komprehensif seperti inilah yang tidak dijumpai dalam bukui ini. Paradigma kritis dan konstruktivis yang dalam pandangan penulis menjadi dewa penyelamat dari kematian ilmu komunikasi, seolah tanpa cacat dan cela, apalagi kelemahan.

Kelemahan Argumentasi

Jika dipetakan secara kasar, argumentasi penulis untuk mendukung tesisnya atas kematian ilmu komunikasi yang ada dalam buku ini dapat dirinci sebagai berikut:

1. Dosa-dosa Positivisme

Kritik dan hujatan terhadap positivisme mendominasi uraian dalam buku ini. Bab I (bagian akhir), Bab II, bab III, dan bab IV dipenuhi dengan analisis atas kemacetan ilmu-ilmu sosial akibat berpijak pada positivisme. Menjadi agak klise ketika positivisme secara membabi buta disalahkan dalam konteks penbicaraan ilmu-ilmu sosial saat ini, karena sejak lama pun pemerhati ilmuwan sosial sudah mengendusnya. Harno Hardt adalah salah satu ilmuwan yang resah atas dominasi tradisi positivisme dalam penelitian ilmu sosial (Hardt, 1979).[4]

Di barat, positivisme mulai surut setelah mencapai zaman keemasannya tahun 1970-an, digantikan oleh pendekatan-pendekatan alternatif yang humanistik, seperti fenomenologi, etnometodologi, interaksionisme simbolik, dramaturgi, hermeneutika, semiotika, historis, teori feminis, Marxisme Sartian, kritis, konstruktivisme, dsb. Di Indonesia, sejak era reformasi membawa kebebasan berpikir dan berkespresi, paradigma positivisme mulai ditinggalkan dan diganti dengan paradigma alternatif kontemporer yang dapat dilihat dari penelitian-penelitian mahasiswa di berbagai jurusan komunikasi di tanah air.[5]

Terlepas dari dosa-dosa positivisme, ancaman serius bagi ilmu sosial, baik ancaman kemandegan ataupun kematian, menurut saya terletak pada tiga hal, pertama; krisis ilmu sosialnya sendiri, kedua; pada krisis ilmuwan sosialnya, ketiga: kemanfaatan emansipatoris ilmu itu bagi masyarakat dalam menjelaskan fenomena kehidupan mereka sehari-hari. Simplifikasinya, ketika ilmu tersebut dan ilmuwan sosialnya memiliki keterbukaan terhadap alternatif paradigma lain dan mensinergikan berbagai paradigma yang baru serta relevan dengan kebutuhan mencerdaskan masyarakat, maka selesailah krisis itu.

2. Stagnasi Metodologi

Tak bisa dimungkiri, jka kita melihat relitas penelitian komunikasi yang berkembang di Indoensia lebih banyak diwarnai dengan campur tangan pendidik, dalam hal ini dosen. Pilihan metode penelitian komunikasi tidak banyak bersumber dari kebutuhan untuk menjawab masalah penelitian, namun lebih banyak ditentukan oleh pengarahan dosen ketika membimbing skripsi, sesuai dengan kadar keilmuan yang dimilikinya, celakanya dosen-dosen yang tergolong konservatif menkankan pentingnya paradigma positivisme digunakan dalam penelitian, sebagaimana yang mereka peroleh sewaktu kuliah zaman lampau.

Andre Hardjana melihat pendidikan komunikasi di Indonesia terjebak dalam proses inbreeding. Para dosen larut iklim akademik yang kaku dan cenderung mengajarkan apa yang sudah dipelajari dalam iklim yang sama. Perkembangan-perkembangan baru, baik dalam teori dan metodologi ilmu komunikasi kurang diperhatikan.[6]

Saya melihat gejala itu sudah jauh berbeda saat ini. Tidak sedikit (Untuk tidak menyebut banyak) pendekatan-pendekatan alternatif-humanistik (terutama fenomenologis dan kritis)  dijadikan metode standar dalam penelitian komunikasi. Sudah jauh berkurang pendekatan kuantitatif murni dengan rumus-rumus statistik yang terkesan kaku .

Sekadar bukti, seorang teman dosen di sebuah PT di Yogyakarta bercerita, ia merasa jenuh membimbing skripsi mahasiswanya yang selama lima tahun terakhir seragam mengunakan pendekatan kritis, terutama semiotika dan wacana kritis. Ia menyebutnya sebagai tren dan zaman keemasan paradigma kritis. Ia pun tidak yakin ke depan tren ini akan terus bertahan.

Gejala di sebuah PT di Lampung justru menunjukkan keunikan, mahasiswa di sana mulai jenuh dengan metode kauntitatif dengan mereka tertarik menggunakan metode-metode baru yang tergolong kritis, buku-buku tenatng analisis wacana, framing, semiotika, pun laris di sana. Walhasil kelompok dosen yang dinamis pun berusaha untuk mengikuti kemauan mahasiswa dan tidak ingin ketinggalan mengikuti perkembangan teraktual motode-metode kritis tersebut lengkap dengan varian-varian barunya .

Satu hal yang patut dicatat adalah keterbukaan ilmu komunikasi terhadap ilmu-ilmu lain. Dalam ilmu komunikasi tidak dikenal, meminjam istilah Immanuel Wallerstein kompatremenisasi (pengotak-kotakan) ilmu sosial. Riset mahasiswa komunikasi tak lagi aneh ketika menggunakan psikoanalisis, analisis arkeologi, atau etnografi. Lagi-lagi kuncinya ada di keterbukaan dosen pembimbingnya.

3. Kesenjangan Teori-Praktik dan Ketertundukan pada Ideologi Pasar

Di Indonesia, gejala kerapuhan ilmu di bawah bayang-bayang ideologi pasar hampir terjadi di semua disiplin ilmu. Dunia kampus sejak lama disinyalir menjadi menara gading yang hanya memberi sentuhan apresiasi akuarium kaca bagi pembelajarnya, tanpa bisa menyentuh langsung kehidupan ikan-ikan di dalamnya.

Ideologi pasar di mata penulis buku ini juga dianggap turut membunuh ilmu komunikasi karena ideologi itulah yang di“imani” mahasiswa ketika belajar ilmu komunikasi. Padahal dengan melihat tren pendidikan ilmu komunikasi yang ada di Indonesia saat ini, kita bisa memetakan orientasinya: apakah praktis, teroitis, atau setengah-setengah (gabungan keduanya). Terlepas dari lembaga pendidikan yang dalam praktiknya tidak konsisten, ada determinasi yang jelas ketika mahasiswa belajar di jurusan komunikasi dengan jenjang DI, DII, DIII, S1 dst.

Saya tidak ingin terjebak pada dikotomi teori dan praktik ke dalam dua kutub, karena dua-duanya bisa saling melengkapi. Soal mana yang mendominasi, tentu menjadi persoalan lain dengan melihat kepentingan dan aktor di baliknya. Prinsipnya, semua berangkat dari pilihan individu pembelajarnya. Meski sejauh ini harus diakui janji-janji pasar tetap menjadi pertimbangan utama yang diikuti kebanyakan mahasiswa.

Realitas terkini menunjukkan, di beberapa kampus, terutama kampus negeri, sudah mulai memperjelas kurikulum pendidikan komunikasi yang ditujukan untuk menjembatani kebutuhan mahasiswa, apakah mereka memilih hendak menjadi praktisi yang “lebih banyak bisa” atau menjadi akademisi yang “lebih banyak tahu”. Sekadar contoh, di Jurusan Komunikasi UGM misalnya, sejak tahun 2002, mahasiswa bisa memilih untuk mendalami konsentrasi media, perspektif media, atau supporting media. Pilihan ini berimplikasi pada bobot teori dan praktik yang diberikan.

4. Kepentingan Tersembunyi

Di bab I buku ini banyak diulas mengenai peran kekuasaan dalam mencemari ilmu pengetahuan. Kepentingan kekuasaan dan ideologi di balik ilmu pengetahuan ini disinyalir penulis berkontribusi menghegomi sampai tataran sublim (ruang-rung ketidaksadaran) manusia (hal. 11).

Dalam konteks keilmuan komunikasi, lagi-lagi penulis berargumentasi dengan sesuatu yang sebenarnya sudah lazim diketahui oleh pembelajar komunikasi yang mendalami studi teks, bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya ditunggangi oleh banyak kepentingan. Judgement inilah yang kiranya belum memberikan kebaruan proposisi sampai pada konklusi kematian ilmu komunikasi.

5. Kemandegan Perkembangan Ilmu Komunikasi

Objek formal dan material ilmu komunikasi terus berkembang karena  kompartemensiasi (pengotak-kotakan ilmu) sudah lama ditinggalkan. Sebenarnya kisah ilmu sosial yang sok ekslusif semacam itu boleh dikatakan sisa-sisa warisan dari apa yang terjadi di Eropa pada paruh kedua abad XIX, yakni gugatan terhadap ilmu–ilmu sosial yang kemudian meniadakan pembedaan ilmu-ilmu sosial dan humaniora dalam labelisasi disiplin ilmu-ilmu tertentu.

Awalnya kajian ekonomi-politik, sosiologi politik, sosiologi historis misalnya, ditolak sebagai disiplin ilmu, dengan argumentasi bahwa negara dan pasar beroperasi dengan logikanya sendiri-sendiri yang memang berbeda dan tidak dapat dipertemuikan secara konseptual karena perbedaan frame perspektif. Untunglah, keadaan tersebut hanya bertahan hingga kurun waktu tahun 1945an. Seiring dengan adanya berbagai perubahan perubahan masayarakat secara mondial, ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang tersekat-sekat itu semakin kurang mampu menjelaskan berbagai gejala yang ada. Muncullah kajian-kajian yang bukan sekadar melibatkan berbagai disiplin ilmu/multidisipliner, tetapi juga lintas disiplin/interdisipliner, sebutlah kajian wilayah (area studies), kajian perempuan (women studies), kajian kebudayaan (cultural studies), kajian hak asasi manusia (human rights stuidies) dan sebagainya. Pendeknya, jika  sebelum tahun 1945 terjadi divergensi ilmu-ilmu sosial dan humaniora, kini terjadi konvergensi.

Tentunya munculnya disiplin ilmu-ilmu yang pernah tersekat-sekat secara kaku, namun semakin bersinggungan satu-sama lain dalam bentuk kajian atas subject matter tertentu, tidaklah lepas dari berbagai fenomena yang ada di dalam masyarakat yang terus berubah. Dalam konteks ilmu komunikasi, pendidikan jurnalisme misalnya, yang awalnya menggelorakan pentingnya jurnalisme profesional pada perkembangannya dinilai terlaku kaku dan tidak berpihak pada kepentingan publik yang tertindas sehingga melahirkan konsepsi new journalism, dengan berbagai pendekatan baru, misalnya jurnalisme damai, jurnalisme sensitif gender, jurnlisme publik, dan lain-lain yang menolak klaim objektivitas sebagaim satu-satunya kebenaran.

Munculnya new media juga menyebabkan perlunya ilmu ”baru” komunikasi untuk melihat gejala apa yang sebenarnya terjadi. New media dan cyberspace menjadi objek baru dalam kajian komunikasi yang sekali lagi menjauhkan ilmu komunikasi dari stagnasi.

Beberapa Catatan

Selain beberapa kelemahan argumentasi di atas, terdapat beberapa kekurangan lain dalam buku ini, menyangkut beberapa poin, di antaranya:

1. Taksonomi

Pembahasan tentang sejarah kelahiran komunikasi dan bagaimana perkembangan ilmunya yang sejak awal justru bercampur aduk dengan disiplin ilmu-ilmu lain juga tidak dibahas dalam buku ini. Penulis lebih banyak berputar-putar dengan sejarah positivisme. Seharusnya, penulis menampilkan dialektika bagaimana ilmu komuniaksi sebenarnya lahir dan tumbuh sebagai ilmu yang masih “muda” dan diturunkan dari berbagai disiplin ilmu yang lain, sebutlah psikologi, sosoiologi, filsafat, ekonomi, bahkan matematika. Dan bagaimana para pencetus kelahirannya menggabungkan berbagai pendekatan. Dari perspektif lain, bisa juga dilihat ketidakpercayaan diri ilmu komunikasi yang gersang akan teori karena tidak memliki grand theories, melainkan teori-teori yang parsial dan partikularistik sesuai dengan realitas komunikasi yang sangat rumit.[7]

Penulis lebih banyak mendudukkan ilmu komunikasi pararel dengan ilmu sosial. Singkat kata fokus yang menukik pada pembahasan ranah keilmuan komunikasi boleh dikatakan terlalu sedikit. Pembahasan pada bab IV misalnya, dengan panjang lebar menelaah paradigma ilmu pengetahuan, namun tidak menjelaskan dengan gamblang hubungan paradigma dan kematian ilmu komunikasi.

2. Setting ruang-waktu

Dalam paparan penulis, belum jelas yang dimaksudkan kematian ilmu komunikasi (kalau ilmu komunikasi benar-benar mati) yang ada dimana dan kapan. Sedikit sekali bahasan mengenai lokus keilmuan komunikasi yang berkembang dalam tradisi Eropa maupun Amerika, juga perkembangan kontemporer di Asia atau Australia yang juga sedang booming.

Kalau kita bicara mengenai Indonesia saja, misalnya ada perbedaan yang cukup signifikan bagi ilmu komunikasi pada awal perkembangannya pada masa Orde Baru dan pascareformasi. Konstelasi politik mewarnai dinamika pendidikan komunikasi di tanah air. Di masa kejayaan Orde Baru, sikap kritis sebagai ciri khas intelektual telah hilang. Dosen seolah tidak mampu lagi meluruskan das sein (kenyataan) yang melenceng dari das sollen (keseharusan). Bahkan ada kecenderungan memanipulasi das sollen untuk melegitimasi das sein. Sklaven mentalitat telah mengubah tradisi akademisi kritis menjadi tradisi akademisi developmentalism. Kalangan ilmuwan sosial berhenti berpikir dan berdebat kritis. Mereka mengalami kemandegan dan statisme karena tenggelam dalam derap pembangunan yang gegap gempita.

Idy Subandy Ibrahim melihat riset-riset komunikasi pada zaman Orde Baru  lebih banyak berkutat pada pendekatan “kuno” dengan pendekatan linear. Tak jarang penelitian merupakan pesanan untuk menjustifikasi terhadap pesan-pesan pembangunan (developmentalism) yang menyokong keberlangsngan status quo. [8]

3.   Teknis

Dari aspek teknis kelemahan yang mencolok dari buku ini adalah sama sekali tidak adanya penyebutan sumber dari foto atau gambar yang ditampilkan. Saya mencatat, semua ilustrasi dalam buku ini, yang berjumlah buah 7 tidak disertai penulisan sumber/pemiliknya. Meskipun terkesan sepele, dalam tradisi akademik hal ini mengindikasikan kurangnya apresiasi terhadap sumber atau pemilik gambar/foto, apalagi jika mengambil dari internet. Pnecantuman sumber akan menunjukkan seberapa ingin kita mengapresiasi milik orang lain dan berapa besar kita menghargai pemikiran akademis.[9] Semoga di edisi mendatang, catatan ini menjadi bahan perbaikan.

Sekadar Kesimpulan

“Berputar-putar pada eksplanasi kegagalan positivisme memberi ruh pada ilmu-ilmu sosial”, inilah catatan utama yang menurut pengamatan saya menjadikan buku yang ditulis St Tri Guntur Nurwaya kurang sinkron antara judul dengan isinya. Saya pun merasa tetap perlu bertanya sekali lagi meski telah selesai membaca buku ini sampai tuntas; apakah benar ilmu komunikasi sudah mati? Saya kurang yakin…

Terlepas dari beberapa kekurangnnya, buku ini sangat layak dibaca oleh siapapun, terutama untuk memperkaya wacana kritis pembacanya. Lebih-lebih sebagaimana harapan penulis dalam pengantar bukunya: menyadarkan kita untuk selalu membangunkan “ilmu pengetahuan” dari mimpi-mimpi absolutnya yang semakin mapan. Semoga.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Lihat Wisnu Martha Adiputra , “Mempertanyakan ‘Matinya’ Ilmu Komunikasi”, Buletin Polysemia, Edisi 3, Juli 2006, hal. 11.
[3] Kris Budiman, Semiotika Visual (Yogyakarta: Penerbit Buku Baik dan YSC, 2003).
[4] Lihat Idi Subandy Ibrahim, “Matinya Ilmu Komunikasi”, Jurnal ISKI, Volume III, April 1999, hal. 4.
[5] Penggunaan pendekatan alternatif-humanis dalam penelitian komunikasi belum merata di semua juusan ilmu Komunikasi di Indonesia, meski demikian tren penelitian komunikasi linear sudah mulai ditinggalkan karena terkesan kuno dan kerap menyuguhkan hipotesis yang jenuh dan repetitif (pernah diteliti sebelumnya).
[6] Lihat Andre Hardjana, “Perkembangan Penelitian Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi: Catatan Pendahuluan”, Jurnal ISKI Volume III, April 1999, hal. 9.
[7] Dance (dalam Tucker, et. Al., 1981: 278), sebagaimana dikutip Mulyana, Op. Cit., hal. 23.
[8] Ibrahim, Op. Cit., hal. 2-3.
[9] Soal tidak adanya pencantuman sumber foto, catatan yang sama juga ditulis oleh Adiputra ketika meresensi buku “Matinya Ilmu Komunikasi”. Lihat Adiputra, Op. Cit., hal. 11.

One thought on “Tentang Judul Itu… (Menyoal “Matinya” Ilmu Komunikasi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s