Menelisik Sejarah Koran Kuning di Indonesia

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Berbeda dengan cerita kelahiran koran kuning di Eropa dan Amerika, koran kuning di Asia pertama kali berkembang secara populer di Jepang, yakni pada awal abad ke-20 hingga berakhirnya Perang Dunia I tahun 1918. Rakyat Jepang yang mengalamai pembaharuan atau Restorasi Meiji sejak tahun 1857 dikenalkan berbagai bentuk pendidikan politik, terutama ajaran demokrasi barat. Salah satu cara yang paling efektif untuk menyampaikan misi ini adalah melalui suratkabar populer (Anwar, 2000: 30). Kondisi ini menggejala di berbagai wilayah Asia seiring dengan propaganda Jepang atas wilayah koloninya.

Sementara itu, di Indonesia, sejak reformasi tahun 1998 menggulirkan kebebasan bermedia, koran-koran kuning bermunculan dengan berbagai bentuk. Mulai dari bulletin, tabloid, majalah hingga stensilan yang dekade-dekade sebelumnya sudah lebih dahulu populer lewat ekspos pornografi.

Ironisnya, setelah melihat tingginya permintaan pasar, koran-koran yang semula termasuk koran berkualitas akhirnya mendirikan koran populer sebagai strategi diversifikasi produk. Selain itu, pada saat yang sama, tabloid berisi klenik (tahayul) dan supranatural lainnya terus bermunculan, disusul pula koran kriminal yang mengumbar peristiwa-peristiwa kekerasan dan kecelakaan dengan menampilkan foto-foto korban secara vulgar dan penuh darah. Gambar mayat misalnya diekspos secara frontal di halaman muka dalam space berwarna yang cukup besar. Teknik penekanan gambar atau foto dengan zoom, close up, dan full colour secara terang-terangan mengeksploitasi tubuh mayat, layaknya gejala fethisisme. Dalam hal ini, koran kuning telah memanfaatkan kematian sebagi komoditas (Yusuf: 2005: 91-92).

Praktik koran kuning jika dilihat dari karakteristik dan ciri-ciri yang melekat pada yellow journalism sebenarnya sudah dimulai sejak lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Namun tonggak utama perjalanan koran kuning di Indonesia pada era modern dimulai dari kelahiran Pos Kota tahun 1970. Pos Kota yang dimotori Harmoko dan kawan-kawan hadir sebagai koran populer yang “melawan arus” media mainstream dan budaya massa saat itu. Keberanian tampil beda justru menjadikan Pos Kota berhasil dalam persaingan bisnis suratkabar.

Saat pertama kali terbit, oplah Pos Kota hanya 3.500 eksemplar. Ternyata perlahan-lahan pembaca di Jakarta dapat menerima kehadiran koran ini. Penerimaan tersebut dirasakan sebagai modal utama sehingga dalam waktu tidak terlalu lama, oplah meningkat menjadi 30-60 ribu eksemplar. Dalam beberapa bulan, Pos Kota sudah bisa membayar kertas dan ongkos percetakan (Ghazali dan Nasution, 2000: 8).

Seminggu setelah terbit, banyak tanggapan mengenai Pos Kota. Kalangan pers mempertanyakan, “Ini jurnalisme apa?”. Bahkan Menteri Penerangan (waktu itu) Budiarjo juga berkomentar sama. Harmoko menjawab: “Pokoknya kalau bukan golongan menengah ke bawah, lebih baik jangan baca.” (Ghazali dan Nasution, 2000: 8). Pada awal beroperasinya, masyarakat umumnya bersikap sinis terhadap penampilan Pos Kota. Ada kecenderungan kuat yang memasukkan harian ini sebagai suratkabar porno, koran tukang becak, koran cabul, dan di kalangan pers sendiri, harian ini dianggap kurang intelektual (Ghazali dan Nasution, 2000: 8).

Berbagai momentum seperti mencuatnya kasus “bayi ajaib” yang bisa bicara dalam perut Cut Zahara Fona dan wafatnya proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia, Soekarno, adalah salah satu pemicu (trigger) kejayaan Pos Kota. Dari kedua persitiwa menghebohkan itulah, Pos Kota memperoleh predikat dari PK Ojong sebagai “koran ajaib”. Utamanya karena kegigihan dan kelengkapannya menampilkan berita tentang “bayi ajaib”. Walaupun kemudian terbukti bahwa Cut Zahara Fona melakukan penipuan karena menyimpan tape recorder kecil yang disetel untuk mengeluarkan suara tertentu seperti suara bayi mengaji di balik stagen dalam gaun yang dipakainya. Heboh cerita bayi ajaib ini mendongkrak tiras Pos Kota di tahun pertama penerbitannya.

Membicarakan Pos Kota tentu tidak bisa menafikan keberadaan komik-komik bergambar (strip comics) sebagai salah satu kekuatan untuk mempertahankan minat pembaca setianya. Menurut Wirosardjono (2000: 57), komik Si John, Doyok, Ali Oncom, dan komik lain pada lembar bergambar (Lembergar) di Pos Kota dinilai oleh kalangan ahli dan peneliti ilmu-ilmu sosial di luar negeri sebagai bahan studi yang bisa merefleksikan denyut sosial masyarakat perkotaan lapis bawah di Indonesia. Pada Pusat Studi Indonesia di University British Columbia (Canada) dan di Universitas Cornell (AS) misalnya, Pos Kota termasuk salah satu koran yang dirujuk sebagai referensi.

Dilihat dari angka statistik, kesuksesan koran kuning dibuktikan oleh Pos Kota yang berhasil merebut minat penduduk Jakarta untuk mengakses berita-berita kriminal setiap pagi sebagai kebutuhan pokok sebelum beraktivitas. Pos Kota juga sangat populer di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Pada tahun 1983 misalnya, tiras Pos Kota mencapai 200.000 eksemplar (Rahzen et al., 2007: 300) Sebuah angka sirkulasi suratkabar yang fantastis kala itu. Menurut data SPS, pada tahun 2005, di tengah persaingan dengan media-media sensasional lainnya, oplah Pos Kota masih menunjukkan gregetnya, menempati urutan kedua (200.000 eksemplar) di bawah Kompas dengan oplah 509.000 eksemplar (Wikan, 2005).

Dari segi jumlah pembaca, menurut survei Media SPS pada tahun 2000, pembaca Pos Kota di Jabotabek mencapai 2.304.000 orang, jauh mengungguli Kompas yang memiliki jumlah pembaca di Jabotabek sebanyak 1.521.000 orang (Media SPS, Edisi 02/Tahun I, November-Desember 2000). Demikian juga pada tahun 2007, berdasarkan data Nielsen Media Research, di Jabotabek jumlah pembaca Pos Kota sampai bulan November 2007 tetap menempati posisi kedua dengan 1.199.000 pembaca, setelah Kompas sebanyak 1.337.000 pembaca.

Selama Orde Baru, Pos Kota berjaya sebagai pemain tunggal yang mengisi ceruk pasar koran bergenre kriminal di ibukota. Beberapa koran kuning di daerah yang berdiri dan mencoba peruntungan dengan mengusung genre ala Pos Kota ini juga bermuculan. Sebutlah yang paling populer Memorandum yang beredar di Surabaya dan wilayah Jawa Timur pada umumnya. Koran yang konon awalnya termasuk quality newspaper dan didirikan oleh pegiat pers mahasiswa di kampus-kampus sebelum menjadi koran kuning ini, setiap harinya dicetak hingga mencapai tiras di atas 100.000 eksemplar.

Selain Pos Kota dan Memorandum, dalam artikel Metamorfosa Pers Indonesia yang ditulis oleh Agus Sopiann (http://pwirjabar.4t.com/ metapers.html), disebutkan bahwa pada masa Orde Baru (tanpa menyebutkan tahun secara spesifik) terdapat dua media cetak cukup besar yang disebut-sebut sebagai “yellow paper” alias koran kuning, yaitu Gala dan Bandung Pos. Gala, suratkabar asuhan Media Indonesia yang terbit di Bandung, pada awalnya dikategorikan yellow paper, namun perlahan-lahan berubah menjadi quality paper, atau setidaknya popular paper. Sedangkan Bandung Pos, yang merupakan “anak” dari Pikiran Rakyat, adalah tabloid harian pertama di Indonesia. saat itu, oplahnya mencapai 60.000 eksemplar tiap hari. Sopian menilai, kunci sukses Bandung Pos barangkali terletak pada kebijakan redaksionalnya yang secara telak mengikis brand image “buletin Pemda”. Di sini berita-berita kriminal, baik trend news maupun spot news, diberi porsi lebih banyak. Sementara porsi berita tentang pemerintahan daerah dikurangi (Sopiann, http://pwirjabar.4t.com/metapers.html). Strategi lain yang dilakukan Bandung Pos adalah menampilkan dua halaman tengah secara full color berhiaskan foto-foto wanita cantik yang untuk ukuran saat itu tergolong “aduhai” (Sopiann, http://pwirjabar.4t.com/metapers.html).

Dalam perkembangan selanjutnya, iklim reformasi melahirkan banyak koran baru yang diantaranya dapat dikategorikan sebagai koran kuning[2], antara lain Lampu Merah dan Non Stop yang terbit di Jakarta, Meteor yang terbit di Semarang, Posko yang terbit di Manado, Pos Metro yang terbit di tiga kota sekaligus (Bogor, Medan, Batam), dan Merapi yang terbit di Yogyakarta. Nama-nama ini adalah beberapa contoh koran kuning yang terbit belakangan namun mampu menarik perhatian masyarakat karena berita-berita sensasional yang ditampilkan.

Sejak Minggu, 20 Oktober 2008 Lampu Merah berubah nama menjadi Lampu Hijau. Pada  pengantar edisi perdana Lampu Hijau ditulis dengan berganti nama baru, Lampu Merah ingin mengubah citranya menjadi koran yang lebih “teduh” sebagaimana filosofi warna hijau. Dalam praktiknya, perubahan ini hanya terlihat dari pengurangan materi seksualitas. Sebagai gantinya Lampu Hijau menambah materi berita-berita politik dan kriminalitas dengan teknik pengemasan dan penyajian yang sama dengan Lampu Merah.

Lampu Merah adalah fenomena kesuksesan korang kuning di Indonesia yang terbit setelah masa reformasi. Koran tersebut dalam waktu yang cukup singkat sejak berdiri 26 November 2001 berhasil menjaring pembaca sebanyak 1,3 juta pada tahun 2004 dan mencapai BEP (break even point) kurang dari satu tahun (http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=135908). Pada awal penerbitan Lampu Merah, edisi pertama diterbitkan 12 halaman dan dicetak sebanyak 40 ribu eksemplar. Sampai bulan keenam—yang biasanya disebut sebagai masa mencari jati diri dan oplah yang biasanya turun sampai batas sesungguhnya, Lampu Merah justru mengalami peningkatan hingga 100 ribu eksemplar. Peningkatan ini kemudian membawa Lampu Merah mencapai BEP pada umur kurang dari satu tahun, menjadikannya satu fenomena yang menarik di industri media cetak. Tahun 2005, Lampu Merah memasuki tahun keempat dan telah melalui oplah fantastis sebanyak 225 ribu eksemplar. Namun setelah terjadi beberapa kali kenaikan BBM, oplah menurun menjadi sekitar 125 ribu eksemplar (http://forum.kafegaul.com/ showthread.php?t=135908).

Awal mula berdirinya Lampu Merah adalah inisiatif Direksi Group Rakyat Merdeka untuk membuat satu koran yang berfokus pada masalah kriminal. Dipilihnya Gatot Wahyu (yang sekarang menjabat Ketua Komisi Pengembangan) bersama beberapa rekannya untuk merintis koran tersebut adalah karena latar belakangnya sebagai wartawan kriminal pada saat masih di harian Rakyat Merdeka. Tidak banyak arahan yang diberikan Direksi mengenai konten dan desain Lampu Merah karena karyawan diberikan kebebasan berkreasi. Dalam artikel di http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=135908 berjudul “Strategi Bisnis Lampu Merah” tertulis:

Konsep yang diangkat Lampu Merah adalah bagaimana semua aspek diberitakan dari perspektif kriminalitas, misalnya berita politik dikaitkan  dengan korupsi, berita olahraga yang terjadi perkelahian, atau berita artis yang saling menipu dan sebagainya. Gaya bahasa yang digunakan adalah trend, nyantai dan relax atau istilah lainnya “bahasa pasar” sehingga menghasilkan berita yang tidak kaku namun seperti bercerita/novel. Konsep bahasa yang nyantai diharapkan akan meningkatkan frekuensi pembaca dibandingkan dengan bahasa yang serius. Lampu Merah juga menampilkan beberapa foto/parade foto untuk satu peristiwa guna lebih menarik perhatian pembaca.

Dibanding koran kuning lainnya, penulisan judul headline Lampu Merah memiliki kekhasan berupa kalimat panjang terdiri dari 10-20 kata. Judul ini umumnya ditulis dalam ukuran besar dengan huruf kapital, namun pada edisi tertentu memiliki anak judul yang ditulis lebih kecil yang ditempatkan di atas atau di bawah judul besar (utama). Judul Lampu Merah yang tergolong panjang misalnya ”Ngakunya Orang Pintar, Bisa Negluarin Jin Jahat yang Ngeganggu, DUKUN MERKOSA 20 SISWI SMP, ADA YANG DISODOMI JUGA LHO” (Lampu Merah, 24 Agustus 2008). Judul pendek yang ditampilkan Lampu Merah misalnya ”CEWEK DISUNDUTIN ROKOK, DISODOMI, T’RUS DIBUNUH” (Lampu Merah, 30 Agustus 2008).

Panjang berita headline Lampu Merah berkisar antara 6–10 paragraf (termasuk lead). Penulisan lead tidak selalu dicetak dengan ukuran huruf yang lebih besar dibanding huruf body berita sebagaimana lazimnya penulisan lead suratkabar. Meskipun demikian, kebanyakan lead yang diposisikan pada awal berita ditulis dengan ukuran huruf yang berbeda dengan ukuran huruf body berita, yakni sedikit lebih besar, tebal, dan renggang.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Mengkategorikan sebuah suratkabar sebagai “koran kuning” tentu bukan persoalan mudah karena pemberian label tersebut umumnya selalu ditentang oleh pengelola media yang bersangkutan dengan alasan berpretensi memberi kesan negatif dan menyudutkan.

10 thoughts on “Menelisik Sejarah Koran Kuning di Indonesia

  1. Raditya :
    Lampu Hijau sama parahnya dengan Lampu Merah…!

    Hehe..ada indikasi penggantian nama Lampu Merah menjadi Lampu Hijau waktu itu dalam rangka mengantisipasi UU APP dan potensi ” kue berita” untuk kampanye Pilpres 2009.

  2. Asslmkm,

    Mas saya Anton mahasiswa indo yang sedang study mass comm di Griffith Uni Australia. Saya sangat tertarik dengan tulisan mas tentang yellow journalism di Indonesia. Kebetulan saat ini saya sedang research tentang yellow journalism. Saya mohon bantuan mas mengirimkan tulisan mas khusus ttg yellow journalism dan daftar referensinya sebagai bahan tambahan buat research saya.Mohon dikirim ke imel saya antoni.tsaputra@griffithuni.edu.au , Terima kasih banyak mas atas bantuannya.

    Wass
    Antoni

  3. mas, saya anita seorang mahasiswi..
    saya tertarik dengan tulisan mas, apalagi say sekarang sedang mengerjakan skripsi. boleh minta tolong gak mas? untuk kirimin judul buku Ghazali dan nasution tahun 2000 dan juga bukunya Wikan tahun 2005.. saya ingin membaca bukunya.. terima kasih =)
    tolong dibales secepatnya yah mas

  4. ga boleh tau ya mas judul bukunya? soalnya saya mau baca untuk referensi buku di penelitian saya. terima kasih sebelumnya =)

  5. To Anita: Maaf baru balas. Dua tulisan tsb bukan buku utuh tapi artikel/sub bab dalam buku yang diterbitkan koran Pos Kota.
    1. Ghazali, Zulfikar dan Zulkarimein Nasution. “Lintasan Sejarah kelahiran Pos Kota Kota”. Dalam Soebekti, Encub; Saiful Rahim; dan Zulkarimein Nasution (eds). Pos Kota, 30 Tahun Melayani Pembaca. Jakarta: Litbang Grup Pos Kota. jadi silakan kontak Pos Kota siapa tahu menjual bukunya.

    2. Demikian juga dengan punya Asmono Wikan.
    Wikan, Asmono. 2006. “Prospek Iklan dan Pembaca Suratkabar 2005-2006: Optimisme yang Menyisakan Sedikit Pekerjaan Rumah”. Dalam Tim SPS Pusat. Media Directory Pers Indonesia 2006. Jakarta: Serikat Penerbit Suratkabar Pusat.
    Silakan kontak SPS jakarta.

    Semoga membantu. Salam.

  6. Beberapa tahun lau Pos Kota punya toko buku dan penerbitan Gria Media. Buku 30 Tahun Pos Kota Melayani Pembaca juga dijual di situ. Tokonya sudah nutup kayaknya, tapi penerbitan masih jalan. Coba Hubungi aja Pak Bekti di Harian Terbit atau Pos Kota. Salam.

  7. Pos Kontrak :

    Beberapa tahun lau Pos Kota punya toko buku dan penerbitan Gria Media. Buku 30 Tahun Pos Kota Melayani Pembaca juga dijual di situ. Tokonya sudah nutup kayaknya, tapi penerbitan masih jalan. Coba Hubungi aja Pak Bekti di Harian Terbit atau Pos Kota. Salam.

    Terima kasih info tambahannya…
    Salam :)

  8. Mas saya Icha dari Surabaya, saya juga sedang research ttg wartawan kriminal. Keberatan nggak Mas kalau nantinya saya banyak berdiskusi lewat telepon maupun email? Terima kasih sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s