Koran Kuning, Jurnalisme atau Bukan?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Secara singkat dapat dirumuskan bahwa koran kuning adalah suratkabar yang kurang atau cenderung tidak mengindahkan kaidah jurnalistik yang umum berlaku (Conboy, 2003: 56). Pemberitaan koran kuning yang berpijak pada ilusi, imajinasi, dan fantasi membuatnya dikenal sebagai jurnalisme yang menjual sensasi. Begitu kuatnya unsur sensasionalisme dalam berita, menjadikan elemen tersebut dikenal sebagai ciri khas dari jurnalisme kuning (Conboy, 2003: 56; Yusuf, 2006: 6; 2007; Adhiyasasti & Riyanto, 2006 118; Sumadiria, 2005: 40).

Selain unsur sensasionalisme dan dramatisasi dalam penulisan berita, ciri utama lainnya dari koran kuning adalah penggunaan aspek visual yang cenderung berlebihan, bahkan terkesan lebih dominan daripada teks beritanya. Aspek visual yang digunakan oleh koran kuning antara lain berupa: (1) scare-heads; headline yang memberi efek ketakutan, ditulis dalam ukuran font yang sangat besar, dicetak dengan warna hitam atau merah. Seringkali materinya berisi berita-berita yang tidak penting; (2) penggunaan foto dan gambar yang berlebihan; dan (3) suplemen pada hari minggu, yang berisi komik berwarna dan artikel-artikel sepele (Conboy, 2003: 57).  Conboy  (2003: 57) juga menambahkan adanya teknik verbal yang melekat pada koran kuning, yakni berbagai jenis peniruan dan penipuan, misalnya cerita dan wawancara palsu, judul yang menyesatkan, pseudo-science[2], dan bahkan judul-judul penuh kebohongan.

Di samping menggunakan teknik-teknik di atas, koran kuning juga memfokuskan pemberitaannya pada isu-isu kontroversial yang mampu memancing perdebatan dan gosip. Isu-isu kontroversial ini sengaja diangkat untuk menarik perhatian pembaca sebanyak-banyaknya, terutama pembaca yang berasal dari kalangan kelas menegah ke bawah di perkotaan. Isu-isu yang sering memancing kontroversi ini, antara lain isu yang berkaitan dengan unsur sex, conflict, and crime (seks, konflik, dan kriminal) atau sebagian kalangan menyebutnya HVS-9g –dibaca: ha-vi-es sembilan gram, plesetan dari horror, violence, sex, ghost, glamour atau HVSGG (Hamad, 2007: 202). Emery dan Emery (dalam Conboy, 2003: 56) mengomentari jurnalisme kuning sebagai jurnalisme tanpa jiwa: “Yellow journalism, at it worst, was the new journalism without a soul … This turned the high drama of life into a cheap melodrama … instead of giving effective leadership, yellow journalism offered a palliative of sin, sex, and violence”. Nilai berita yang mendasar seperti significance, prominence, dan magnitude, cenderung diabaikan. Karena jurnalisme kuning menonjolkan sensasionalime daripada berita (fakta) itu sendiri, maka beritanya menjadi tidak penting atau oleh sebagian pihak yang menentang kehadiran koran kuning ini disebut sebagai “berita sampah”. Di Amerika koran-koran semacam ini juga memiliki beragam julukan, antara lain jazz papers (koran hura-hura), boulevard papers (koran pinggir jalan), dan gutter papers (koran got).

Menurut Adhiyasasti & Rianto (2006, 116-117), karakteristik koran kuning di Indonesia terfokus pada halaman pertama. Terkait dengan halaman ini, setidaknya ada empat ciri yang menonjol. Pertama, pemasangan foto peristiwa kriminal dan foto perempuan dengan penekanan seksualitas tubuh perempuan. Kedua, headline berukuran besar dengan warna-warni yang mencolok, misalnya merah, biru, kuning, dan hijau. Ketiga, banyaknya item berita di halaman muka. Jika biasanya koran umum memasang 5 hingga 8 item berita, jumlah berita yang ditampilkan di halaman depan koran kuning berkisar antara 10 sampai 25 item berita. Formatnya berupa berita yang sangat singkat, bahkan kerap hanya berupa judul dan lead kemudian bersambung ke halaman dalam. Uniknya, tidak sedikit judul dicetak sedemikian besar hingga ukurannya melebihi isi berita itu sendiri. Keempat, dilihat dari iklan yang dimuat, koran kuning di Indonesia umumnya menampilkan berbagai bentuk iklan yang tergolong vulgar, kadang dilengkapi dengan foto, gambar, atau kata-kata sensasional. Iklan tersebut pada umumnya berbau seksual dan supranatural (klenik), contohnya iklan pembesar alat vital laki-laki atau payudara wanita, layanan telepon seks, pijat (message), mainan seks (sex toys), paranormal, hingga penyembuhan alternatif. Pada beberapa koran kuning, ciri-ciri di atas tidak hanya terlihat di halaman depan, namun juga berlaku untuk halaman belakang, bahkan di halaman dalam.

Sementara itu, Sumadiria (2005: 40) menyatakan, salah satu ciri dari koran kuning adalah menggunakan pendekatan jurnalistik yang menekankan pada unsur seks, konflik, dan kriminal. Ketiga tema berita tersebut sering muncul menghiasi halaman-halaman koran kuning. Sumadiria menambahkan, media ini hanya mengangkat persoalan dan gambar berselera rendah. Selain itu, pers kuning juga tidak dapat dipercaya karena opini dan fakta sering disatukan, dibaurkan, dikaburkan, atau bahkan diputarbalikkan. Kaidah baku jurnalistik tidak diperlukan; berita tak harus berpijak pada fakta, tetapi bisa saja didasari ilusi, imajinasi, dan fantasi. Sumadiria menyebut beberapa kriteria layout yang umum dilakukan oleh koran kuning dalam, antara lain: penyajian yang banyak mengeksploitasi warna; segala macam warna ditampilkan untuk mengundang perhatian; penataan judul yang tak beraturan dan tumpang-tindih; pilihan kata tidak diperlukan, karena pers kuning tidak menganut pola penulisan judul dan pemakaian kata yang benar dan baik; apapun bisa dipakai dan dicoba.

Menurut Ashadi Siregar dalam sebuah diskusi publik bertajuk “Menyingkap Profesionalisme Kinerja Suratkabar” di Yogyakarta, pada 25 Febuari 2006; untuk mengkaji koran kuning perlu dibedakan secara epsitemologis antara “jurnalisme” dengan “jurnalistik”. “Jurnalisme” selamanya berkenaan dengan kepentingan publik, sedangkan “jurnalistik” merupakan keseluruhan dari aktivitas mencari, mengumpulkan, menyimpan, mengolah, dan menyebarkan berita. Sesuatu yang lazim dilakukan oleh wartawan. Dengan demikian, menurut Siregar, tidak semua produk jurnalistik merupakan hasil kerja jurnalisme karena fakta dalam jurnalisme selalu berhubungan dengan fakta publik.

Dalam kaitan ini, untuk sekadar memenuhi kategori jurnalistik, paling tidak ada tiga syarat yang harus terpenuhi:

  1. Jurnalistik merupakan proses/kegiatan pengkomunikasian informasi/berita, mulai dari mencari, memilih, mengumpulkan, menulis, dan mengedit informasi.
  2. Hasil olahan informasi berwujud produk mikro pemberitaan (straight news, soft news, feature, foto, gambar, visual, rekaman suara, dsb).
  3. Informasi yang telah diolah itu disiarkan secepat-cepatnya melalui media massa seperti surat kabar, majalah, tabloid, bulletin, newsletter, internet, televisi, radio, dsb.

Lebih lanjut, Siregar (2000: 173) memandang, pemilahan secara tajam media massa di antara media jurnalisme dengan media jurnalistik yang melahirkan media hiburan ini menjadi landasan dalam melihat hubungan antara kebebasan pers dan kepentingan publik. Kebebasan pers terkait dengan hak masyarakat untuk memperoleh kebenaran atas fakta yang menjadi ruang hidup bagi media jurnalisme. Karenanya, kata kunci dalam kebebasan pers adalah kebenaran (truth), suatu istilah yang sarat makna dalam filsafat sosial. Sementara media hiburan yang berfungsi untuk mengisi ruang psikologis yang bersifat personal, tidak harus dihadapkan dengan kebenaran faktual. Ukuran dalam media hiburan dengan sendirinya berbeda dari media jurnalisme karena selalu dilihat dalam kerangka estetis, bukan kebenaran (Siregar, 2000: 173).

Apa yang disampaikan Siregar ini sebenarnya telah dikemukakan oleh McQuail (2000) dan Dennis & Merril (1991) ketika mengatakan bahwa jurnalisme senantiasa berkenaan dengan kepentingan publik. Pikiran ini juga senada dengan paparan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku The Elements of Jornalism: What Newspeople Sholud Know and the Public Should Expect (2001) yang kemudian diterjemahkan ke dalam dua buku berbahasa Indonesia dengan judul Elemen-Elemen Jurnalisme (2003) dan Sembilan Elemen Jurnalisme (2006). Kovach dan Rosenstiel mengemukakan adanya sembilan elemen jurnalisme yang berorientasi profesionalisme, akuntabilitas, dan pertanggungjawaban kepada publik. Sembilan elemen tersebut yakni:

  1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
  2. Loyalitas pertama jurnalisme kepada warga
  3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi
  4. Para praktisinya harus menjaga independensi terhadap sumber berita
  5. Jurnalisme harus berlaku sebagai pemantau kekuasaan
  6. Jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik ataupun dukungan warga
  7. Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting, menarik, dan relevan
  8. Jurnalisme harus menjaga agar berita komprehensif dan proporsional
  9. Para praktisinya harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka

Dengan melihat definisi dan ciri-ciri di atas, jika melihat koran kuning dari kacamata jurnalisme, maka dapat digarisbawahi  bahwa koran kuning berseberangan dengan standard jurnalisme profesional, yakni jurnalisme yang menjunjung tinggi objektivitas. Jurnalisme profesional atau sering disebut sebagai jurnalisme ideal yang cenderung beraliran positivistik mempersyaratkan adanya objektivitas dalam penulisan berita. Prinsip ojektivitas harus dipenuhi agar suatu berita dapat dipertanggungjwabkan.

Syarat-syarat objektivitas sebagaimana dipaparkan (McQuail, 1992: 196-204) adalah (i) Factualness, yaitu tingkat kebenaran berita berdasarkan fakta atau sesuai dengan kenyataan. Termasuk dalam kualitas factualness adalah nilai informasi, readability, dan checkability; (ii) Akurasi, yaitu seberapa tepat data yang disampaikan dalam berita. Akurasi mengharuskan adanya verifikasi fakta, relevansi sumber berita, dan akurasi penyajian lewat data-data yang kuat, didukung foto, tabel, atau bukti fakta lainnya; (iii) Completeness, yaitu kelengkapan unsur pokok berita, yakni 5W+1H (what/peristiwa apa yang terjadi, who/siapa yang terlibat, when/kapan terjadinya, where/di mana terjadinya, why/mengapa terjadi, dan how/bagaimana kejadiannya); (iv) Relevance, yaitu kriteria yang menentukan berita tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat, bisa dilihat dari keberadaan nilai-nilai berita (news values) dan relevansi isi yang diberitakan dengan tujuan berita yang disampaikan; (v) Balance, yaitu keseimbangan dalam pemberitaan, diukur dari ada tidaknya bias penampilan satu sisi dalam berita (source bias); dan (vi) Neutrality, artinya berita yang dilaporkan bersifat netral, ada pemisahan tegas antara fakta dengan opini. Netralitas juga menghendaki tidak adanya sensasionalisme, stereotip, dan prasangka dalam pemberitaan.

Dalam pemahaman ini, tentu saja dapat menjadi perdebatan: apakah berita dalam koran kuning merupakan produk jurnalisme ataukah semata-mata produk jurnalistik? Atau bahkan bukan keduanya? Tentunya, pengategorian dan sudut pandang semacam ini mempunyai implikasi terhadap pendekatan teoritik dan analisis yang dibangun. Jika berita dalam koran kuning dinggap sebagai, misalnya, semata-mata produk jurnalistik dan tidak menggunakan standar jurnalisme profesional, maka tidak banyak kritik yang bisa diajukan.

Namun, jika berita pada koran kuning dianggap sebagai produk jurnalisme dan juga berpijak pada jurnalisme profesional, maka, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menemukan relevansinya. Argumentasi ini penting dikemukakan karena dalam beberapa pandangan, terdapat pihak yang secara ekstrim mengkategorikan koran kuning dengan segala produk turunannya cenderung bukan sebagai produk pers, melainkan industri percetakan yang dalam beberapa kasus bahkan tidak bisa dilihat dari kacamata pers. Perdebatan ini senada dengan kontroversi yang pernah mengemuka di kalangan wartawan terkait pengketegorian program “infotainment” di televisi: apakah “berita”nya termasuk produk jurnalistik atau tidak; apakah “wartawan”nya termasuk jurnalis profesional atau tidak.

Sekadar contoh, dalam menyikapi desakan masyarakat untuk memberangus produk turunan koran kuning, yakni majalah dan tabloid—yang dinilai sebagian masyarakat sebagai majalah dan tabloid porno, Dewan Pers memberikan pandangan bahwa media-media dengan muatan pornografi bukan termasuk pers, melainkan industri pornografi yang delik kasusnya harus diproses secara hukum, bukan ranah pers.

Berikut ini adalah contoh pandangan pro-kontra dari perspektif wartawan terhadap kehadiran koran kuning, khusunya Lampu Merah. Perdebatan ini mengemuka dalam mailing list (milis) jurnalisme@yahoogropus.com, yang mayoritas anggotanya adalah jurnalis dan pengamat media. Posting pertama dikirim pada 30 Juni 2008 oleh anggota milis <tengkudhanixxxxx@ yahoo.com>. Ia menulis:

Kawan-kawan, lihatlah koran Lampu Merah, Minggu, 29 Juni 2008, halaman 5. Judulnya “Noni si Nona Nikmat Menghilangkan Penat di Otakku”. Koran ini telah menuliskan sebuah tulisan cabul yang, bagi saya, sangat memalukan dan merendahkan jurnalistik!

Pertanyaannya, apa yang bisa diperbuat Dewan Pers dan organisasi profesi? Apa yang harus dilakukan komunitas pers (andai komunitas ini bukan sebuah komunitas imajiner yang hanya bertugas mencatat pelanggaran). Saya tidak tahu, apakah koran ini memang begini adanya atau tidak.

Tulisan ini memancing berbagai pendapat, Berikut ini dua di antaranya, mewakili pandangan yang berbeda.

Pendapat pertama, ditulis oleh <itexxx@yahoo.com>:

Dewan Pers dan organisasi jurnalis tidak langsung menanggapi yellow paper seperti Lampu Merah karena menganggap penerbitan seperti itu bukan sepenuhnya produk pers. Mereka berharap aparat hukum (polisi dan jaksa) pro-aktif melindungi publik dari terbitan-terbitan sampah seperti itu. Sangat jelas, isi publikasi semacam itu bukan produk pers dan hanya mengumbar kecabulan—dan biasanya sadisme.

Contoh “Lampu Merah” yang Anda gambarkan adalah ekses dari kebebasan pers yang tidak bermanfaat bagi pers dan publik. Dia punya hak hidup, tapi tak perlu ditangisi jika dia MATI. Konsekuensinya, dia tak perlu dibela dari gugatan hukum pihak-pihak yang keberatan, apakah publik ataupun aparat hukum. Saya yakin 100 persen pengelola penerbitan itu bukan anggota organisasi jurnalis yang beres.

Sejujurnya saya belum pernah baca Lampu Merah secara utuh dan sengaja. Meski begitu, naluri saya langsung menyimpulkan media seperti ini SAMPAH dan TIDAK LAYAK DIBACA. Yang terbaik ialah mengkampanyekan agar publik tidak membeli koran itu sehingga dia tidak laku dan akhirnya mati sendiri.Analoginya: sebuah kendaraan nyelonong di tengah lalu lintas, berjalan zig zag, melanggar traffic light, tidak mengindahkan aturan dan membahayakan pemakai jalan lain, maka jangan salahkan siapa-siapa jika dia tersenggol, tertabrak, atau bahkan terlindas truk tronton.

Bagi pembaca yang terganggu dengan isi publikasi Lampu Merah, SILAKAN LAPOR ke Dewan Pers atau langsung ke polisi. Bahkan LKM Media Watch bisa langsung memperkarakan mereka secara hukum. Jika mereka mengaku korannya itu produk pers, mereka bisa dijerat pasal 5 ayat (1) UU Pers Nomor 40/1999 dengan hukuman denda 500 juta rupiah. Jika mereka berkelit penerbitannya bukan produk pers, pasal kesusilaan KUHP bisa dikenakan, yang memungkinkan pengelolanya masuk penjara.

Pendapat kedua, ditulis oleh <faridxxxxx@yahoo.com>:

Maaf, saya tidak sependapat. Lampu Merah itu jelas sebuah koran, sebuah pers. Sebagai wartawan, kita tidak perlu malu untuk mengakui bahwa memang ada pers baik dan pers buruk. Kita tidak bisa berargumen pers buruk itu bukan pers.

Argumen seperti ini, jika ada, mencerminkan upaya sebuah cuci tangan yang tidak bertanggungjawab. Menjadi tanggung jawab kita semua kalangan wartawan untuk mengutuk praktek buruk pers, praktek teman-teman kita sendiri di Lampu Merah dan di produk-produk infotainment (yang juga bentuk produk pers).

Berbagai kontroversi di atas perlu diajukan karena di satu sisi, saat ini lanskap perkembangan jurnalisme di Indonesia juga menunjukkan perkembangan dinamis sejalan dengan berhembusnya iklim kemerdekaan pers sejak era reformasi. Diskursus tentang adopsi konsep jurnalisme fakta vis a vis jurnalisme makna dalam pemberitaan misalnya, melahirkan pendekatan jurnalisme ke dalam dua kutub-dikotomis; konvensional dan kontemporer. Jurnalisme konvensional menempatkan ideologi “objektivitas” sebagai landasan utama dalam beroperasi. Tolok ukurnya adalah dua dimensi: “faktualitas” (factuality) dan “imparsialitas” (impartiality) (McQuail, 1992). Sementara, new journalism atau advocacy journalism sebagai respon global mengusung kritik tajam atas klaim objektivitas-positivisme sehingga memunculkan genre baru dalam jurnalisme. Sebutlah jurnalisme publik, jurnalisme damai, jurnalisme patriotik, jurnalisme populer, jurnalisme sensitif gender, dan sebagainya (Santana, 2005;  Kovach & Rosenstiel, 2004; Charity, 1995; Emka, 2005). Jika koran kuning mengambil bagian dalam wacana baru ini, barangkali eksistensinya bisa dimasukkan dalam kategori “genre” new journalism, yakni junalisme populer atau menurut istilah Kasman (2004) sebagai jazz journalism.


[1]Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Argumen-argumen kuasi-ilmiah yang diklaim ilmiah namun tidak didasarkan pada penelitian dan metode yang dapat dipertanggunggjawabkan secara ilmiah.

4 thoughts on “Koran Kuning, Jurnalisme atau Bukan?

  1. Koran kuning, jurnalisme atau bukan?
    Bagi saya, bukan. Tak ada satupun aktivitas-nya yang menunjukkan kesesuaian dengan apa yang dinamakan “jurnalisme”.
    Sungguh saya mendambakan tumbuhnya masyarakat yang benar-benar melek media. Yang benar-benar tak mau mengonsumsi bacaan macam koran-koran yang dicontohkan di atas. Kalau sudah begitu, apa para pegiat media kuning itu masih bisa berdalih “kami melakukan jurnalisme kuning karena pasar memintanya”…
    Ngomong-ngomong, usul nih mas… bikin ulasan tentang tayangan infotainment (yang suka ngaku-ngaku sebagai berita) dong. Ditunggu ya! :)

  2. Barangkali sekadar aktivitas “jurnalistik”, tapi kalau dikategorikan “jurnalisme”?Hmm…nanti dulu deh.
    Oke, insyaAllah kapan2 ditulis ttg infotainment…

    Btw penggemar infotainment ya? (atau sebaliknya?)hehe…:)

  3. Oh, maaf… saya sama sekali bukan penggemar infotainment. Sekali-kali tidak, mas… Saya cuman pengen tau gimana info terakhir kasus Krisdayanti vs istrinya Raul Lemos dan kabar kalau Dian Sastro mo nikah sama konglomerat muda… *ups! hehe*
    Nggak ding, saya benar-benar ingin melihat bagaimana pandangan mas Iwan mengenai infotainment di ranah kajian media. Semangat menulis! :)

  4. wah mas, tulisannya bagus sekali. boleh saya pakai sebagai sumber refrensi? saya akan cantumkan blognya.

    sekalian mau tanya untuk daftar pustaka dari Adhiyasasti & Rianto, sumadira, dan siregar. terimakasih banyak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s