Mengingat Kembali Kejayaan Sang Raja Singa (Beberapa Catatan Film Lion King)

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Beberapa hari lalu secara tidak sengaja saya berkesempatan menonton lagi film kartun Lion King. Tak tanggung-tanggung, tiga sekuel sekaligus: The Lion King (1994), The Simba’s Pride (1998), dan Lion King 1 ½ – Hakuna Matata (2004). Membicarakan film Lion King selalu mengingatkan saya beberapa tahun silam pernah menulis sebuah resensi sederhana tentang film yang mengguncang Hollywood termasuk Indonesia itu. Berikut ini beberapa catatan saya:

Pertama, secara materi, film yang menurut MPAA memiliki rating G (segala usia ini), tidaklah sepenuhnya mencerminkan “bahasa” nalar anak-anak. Bahkan boleh dikatakan penonjolan aspek politik dengan berbagai konstelasinya memberi warna utama yang terlalu membebani cara pandang anak-anak terhadap realitas keseharian mereka. Misalnya, bagaimana terjadi perebutan kekuasaan, kudeta, bahkan kaukus yang notabene ditampilkan secara eksplisit. Simaklah dari bagaimana cerita dijalin dari keberadaan Mufasa, Ayah Simba, seekor singa yang merupakan raja di raja dari seluruh binatang di tempat itu. Scar, adik Mufasa, iri dengan posisi Simba sebagai pewaris tahta, kemudian ia bekerja sama (berkoalisi) bersama hyena untuk menyingkirkan simba.

Singkat cerita, Scar berhasil menjebak dan mencelakakan Simba dalam kejaran wildebeest. Walaupun akhirnya Simba tertolong oleh ayahnya, Mufasa sendiri meninggal karena dijatuhkan oleh Scar dari tebing ke dalam kejaran binatang tersebut. Simba pun memilih kabur karena Scar menyuruh para hyena membunuh dirinya. Ia kemudian pingsan di gurun dan diselamatkan oleh seekor binatang meerkat bernama Timon dan temannya, Pumbaa. Kedua binatang itu merawatnya di hutan tempat mereka tinggal. Simba tumbuh dewasa bersama Timon dan Pumba.  Suatu ketika Simba  bertemu dengan seekor singa temannya, Nala, yang memintanya untuk kembali ke kerajaan koloni singa dan mengusir Scar yang memerintah layaknya tiran di kalangan singa. Dalam keraguan, ia bertanya pada Rafiki, penasihat spiritual ayahnya. Dengan kewaskitaannya, Rafiki menunjukkan bahwa jiwa pemimpin Mufasa ada dalam diri Simba.

Simba pun memutuskan kembali ke kerajaanya. Saat tiba, ia melihat kerajaanya menjadi hancur di bawah kepemimpinan Scar. Dimotori Simba, para singa pun berontak bertarung melawan Scar dan hyena. Dalam pertarungan, Scar mengakui bahwa dirinyalah penyebab Mufasa terbunuh. Pertarungan sengit pun terjadi antara kejahatan dan kebaikan.  Scar versus Simba. Scar akhirnya kalah dan diusir dari kerajaan. Seperti dugaan penonton, selanjutnya Simba ditasbihkan menjadi raja. Sedikit poin positif dari adegan ini adalah bagaimana sutradara menunjukkan Simba tidak membunuh Scar dalam pertarungan. Dari sini mengusung pesan bahwa balas dendam dan mencari kemenangan bukanlah jalan penyelesaian terbaik.

Catatan kedua, dari sisi logika alamiah, terjadi kesalahkaprahan (yang lumayan parah!) tentang peran pejantan yang menetukan kehidupan koloni singa seperti ditunjukkan dalam Lion King. Secara alamiah yang menjadi penentu keberlangsungan hidup mamalia ini adalah betina, yang memiliki kemampuan menyediakan makanan bagi ”raja” karena kemampuannya mencari mangsa. Inilah bentuk kekuasaan alam yang sesungguhnya, bertahan hidup lewat rantai makanan dan siklus kehidupan (circle of life). Sementara pejantan, termasuk raja, hanya bertugas menjaga wilayah, dan tak lebih dari simbol belaka, layaknya raja di negara modern yang menganut sistem kerajaan. Singa jantan, dalam hal ini, memiliki kepala yang besar dan berat sehingga tidak mampu untuk berlari kencang menangkap mangsa. Kegunaan singa jantan hanyalah untuk bertarung, dan tentu saja tidak setiap saat terjadi pertarungan. Jadi, bila kita sedikit berani berkesimpulan, sebenarnya penokohan kekuasaan pejantan pada film Lion King berawal dari asumsi bahwa pejantan atau laki-laki adalah mahluk ”kuat” sementara betina atau perempuan berkecenderungan ”lemah”, suatu gambaran stereotip yang mungkin masih dianut oleh sebagian besar masyarakat. C’mon!

Ketiga, Lion King menjadi terobosan baru yang mendobrak tradisi film-film Disney pada umumnya sebelum tahun 1994 yang lebih banyak mengangkat cerita anak-anak atau legenda dari kisah nyata. Lion King murni cerita fiksi yang diadaptasikan ke dalam sinema. Tema-tema klise seperti kekuatan cinta yang menaklukan semua hal atau pesan moral bagaimana berusaha keras mampu menciptakan mimpi menjadi kenyataan tidak lagi diobral dalam film ini. Pesan utama adalah “hakuna matata”:“jangan khawatir”, terutama dalam menatap masa depan, serta jangan terjebak pada masa lalu. Sebuah pesan menarik dan fresh dengan jargon yang mudah diingat anak-anak.

Keempat, sebagaimana tradisi Disney pula yang selalu menciptakan badut konyol sebagai tempelan dalam film-filmnya guna mendampingi tokoh utama, porsi badut dalam Lion King nyaris tidak ada. Inilah yang justru menjadi daya tarik sendiri, karena memperlihatkan bahwa film ini adalah film yang benar-benar serius dengan tema ”politik” yang diangkatnya. Agaknya kritik inilah yang sepuluh tahun berikutnya memunculkan sisi lain dari epic Sang Raja Singa dengan gaya yang lebih menghibur dengan karakter utama badut Timon dan Pumbaa dalam Lion King 1 ½ Hakuna Matata (2004). Harus diakui pada film ketiga inilah nilai-nilai persahabatan dan perjuangan ditampilkan dengan ringan, namun tetap apik dan menghibur.

Tentang “The Lion King”

The Lion King adalah film animasi dua dimensi (2D) produksi Walt Disney yang ke-32 dalam jajaran Disney animated feature. Awalnya, film ini hanya dirilis di beberapa kota oleh Walt Disney Pictures dan Buena Vista Distributions pada 15 Juni 1994. Secara resmi baru dirilis untuk publik pada 24 Juni 1994. Delapan tahun kemudian, versi baru dengan sentuhan sinematografi digital dan dibuat dalam format IMAX  dirilis pada 25 Desember 2002 (www.wikipedia.com).

Film musikal dengan lagu garapan Elton John dan Tim Rice serta musik dari Hans Zimmer ini menorehkan diri sebagai salah satu film animasi yang paling sukses sepanjang sejarah perfilman Hollywood. Di Amerika Serikat, film yang diproduksi dengan modal USD 79.300.000 ini memberi pemasukan bagi Disney sebesar USD 328.541.776 dan USD 783.841.776 di seluruh dunia .(www.wikipedia.com). Padahal, sebagaimana ditulis dalam situs wikipedia, para animator Disney sebelumnya lebih berkonsentrasi pada Pocahontas karena mereka mengira bahwa film itulah yang akan lebih populer sampai saat mereka melepas teaser dan The Lion King ternyata mendapat sambutan yang lebih baik.

Tak hanya itu, kesuksesan The Lion King telah diadaptasikan menjadi sandiwara musikal Broadway yang rutin digelar sejak tahun 1997. Demikian pula, sebagaimana tradisi film Hollywood yang menganut prinsip ritualisme produksi ulang film box office, berikutnya diproduksi sekuel kedua Lion King, The Simba’s Pride (1998) dan Lion King 1 ½ – Hakuna Matata (2004) yang juga terbilang sukses, meski secara finansial tidak mampu mengalahkan pundi-pundi dolar yang diraup The Lion King. Ritualisme sendiri seperti pernah diungkapkan oleh Robert Merton awalnya dilakukan para sineas Hollywood untuk mengatasi ancaman ketidakpastian (gambling) reaksi pasar dengan film-film baru sehingga mereka mengambil langkah aman dengan pengulangan tema, aksi, bintang, sekuel, atau prekuel. (Sama seperti sinetron Tersanjung dan Cinta Fitri di Indonesia).

Sudahlah..memang begitulah kelakuan Hollywood.

Kita dendangkan saja lagunya.

Hakuna Matata! What a wonderful phrase
Hakuna Matata! Ain’t no passing craze
It means no worries for the rest of your days
It’s our problem-free philosophy
Hakuna Matata!


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

4 thoughts on “Mengingat Kembali Kejayaan Sang Raja Singa (Beberapa Catatan Film Lion King)

  1. Wah mas, teliti sekali menelaah seri Simba… d^_^b
    I love the first and the last. Episode Hakuna Matata cukup menyenangkan, sementara The Lion King cukup kuat dalam penggambaran watak. Tapi iya, jadi teringat kalo The Lion King gak ada “badut”-nya… padahal yang paling saya tunggu dalam animasi Disney adalah si badut ini.
    Over all, like your note number 2… *biasa, sadar gender mode activated ;)*

  2. sedikit kritikku dalam film ini ya mas….:)
    istilah ‘hakuna matata’ yang berarti jangan khawatir menimbulkan sedikit kekahwatiran tersendiri.
    Simba yang notabene masih anak-anak diajarkan untuk melupakan masa lalunya menjadikan ia melepas tanggung jawab apa yang seharusnya ia lakukan dalam pembelaan kerajaannya.
    jadi kira-kira sedikit banyak ajaran ‘hakuna matata’ mampu membuat orang -khususnya anak-anak- meremehkan masalah, tidak bertanggung jawab, masa bodoh, dan sebagainya :D
    namun sepanjang ada sebuah posisi dalam masyarakat -dalam film ini, singa betina pasangan Simba, aahh saya lupa namanya- yang mengingatkan dan memberikan pelajaran baik, bisa menjadi penyeimbang atas sifat-sifat masa bodoh tadi.

  3. Hai Tom, Wah makasih atas tambahan opininya…
    Si singa betina namanya Nala…
    Barangkali pesan moral dari film ini ingin bilang, jgn terlalu terlalu terpaku pada masa lalu sehingga tidak optimis menatap masa depan. bukan untuk pesimis dan nglokro, tapi untuk lebih baik memperbaiki keadaan.

    Tapi sepakat bgt dg Tommy, seperti kata Bung Karno “Jasmerah” : jangan pernah melupakan sejarah..sebagai pembelajaran hidup tentunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s