Telaah Historis Asal Mula Istilah “Koran Kuning”

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Istilah jurnalisme kuning atau yellow journalism berasal dari nama tokoh komik berwarna Hogan’s Alley yang muncul dalam suratkabar Sunday World. Richard F. Outcault–kartunis komik ini–menggambarkan kehidupan penghuni rumah petak di New York dengan figur sentral seorang anak ompong-bergigi kelinci yang selalu menyeringai. Ketika gambar anak gundul ini tampil dengan baju terusan berwarna kuning yang kemudian menjadi ciri khasnya, ia dijuluki “The Yellow Kid”. Begitu populernya komik ini sehingga setiap suratkabar yang memakai komik strip untuk menarik pembaca akhirnya diberi label “Yellow Journalism”.

Setting sosial dari kehadiran jurnalisme kuning adalah depresi ekonomi yang melanda Amerika Serikat pada tahun 1893 hingga akhir abad ke-19. Depresi ekonomi ini memaksa para pemilik suratkabar mengevaluasi kinerja suratkabar mereka guna menjaga minat baca masyarakat dan mempertahankan daya beli konsumennya, di samping untuk mengimbangi persaingan ketat dengan majalah. Oleh karena itu diupayakan suatu cara untuk mempertahankan jumlah pembaca suratkabar. Strategi yang ditempuh oleh pemilik koran terbesar saat itu, Joseph Pulitzer (New York World) dan William Randolph Hearst (New York Journal) seringkali tidak mematuhi kaidah jurnalistik dan kode etik yang berlaku. Keduanya dilukiskan terlibat dalam “persaingan menyajikan berita-berita yang membangkitkan sensasi”.

New York World pada masa itu merupakan koran dengan sirkulasi besar dan memiliki karakteristik khusus yang menjadi kunci keberhasilannya, yaitu headline besar dicetak dengan huruf  tebal dengan tinta warna-warni. Pulitzer mengambil kebijakan redaksional berupa liputan atas berita-berita yang menarik minat publik dan menyajikannya secara dramatis dengan headline sensasional. Kesuksesannya membuat beberapa orang tertarik untuk membuat koran serupa, salah satunya adalah Hearst. Ia mendirikan New York Journal pada tahun 1895 dan membuatnya persis seperti New York World. Bahkan, Richard F.Outcault, sang pembuat komik strip Hogan`s Alley, berhasil dibujuknya untuk pindah ke New York Journal dan membuat komik yang sama di koran itu. Tidak tinggal diam, Pulitzer lantas mencari pengganti untuk pembuat komik stripnya, yaitu George Luks. Persaingan antara Yellow Kid di New York World dan New York Journal pun terjadi. Sedangkan Hearst tidak cukup hanya membajak komik dan pembuatnya yang menjadi ciri khas New York World, ia juga membajak beberapa jurnalis yang bekerja di koran tersebut.

Ekses negatif dari persaingan sengit antara Herst dan Pulitzer yang paling menonjol adalah kontribusinya “mempertajam” konflik Amerika-Spanyol. Kedua suratkabar tersebut berlomba-lomba menampilkan berita-berita (yang akurasinya diragukan) mengenai sepak terjang tentara Spanyol di Kuba. Di bawah pimpinan Jenderal Valeriano Weyler, tentara Spanyol digambarkan membunuh, memerkosa, dan menyiksa rakyat Kuba. Berita-berita yang disajikan itu sebelumnya telah dibumbui dramatisasi. Untuk menambah unsur sensasionalisme, kedua suratkabar tersebut menggunakan gambar ilustrasi fiktif yang menggambarkan kekejaman tentara Spanyol di Kuba. Tujuannya tak lain membangkitkan empati nasional dan penolakan terhadap bangsa asing (Conboy, 2003: 58; Hatchen, 2005: 43). Bahkan, seperti dipaparkan Mott (dalam Rivers, Jensen, & Peterson, 2003: 55), awalnya Hearst sengaja mengirim reporternya, Frederich Remington, ke Kuba untuk memperoleh gambar-gambar peperangan. Tak lama kemudian Remington mengirim telegram yang bunyinya: “Di sini tenang-tenang saja. Tidak akan ada perang.” Hearst membalas: “Tetap di sana. Siapkan foto-foto yang menarik, aku akan menyiapkan perangnya!”

Cikal-bakal munculnya jurnalisme kuning sebenarnya sudah dimulai sejak era kejayaan Penny Press. Istilah “Penny Press” muncul pertama kali bersamaan dengan hadirnya penny newspaper, yakni suratkabar murah yang dijual hanya seharga satu penny. Murahnya harga koran ini merupakan “perlawanan” terhadap koran-koran umum (mainstream) yang hanya mampu diakses golongan ekonomi mapan dengan cara berlangganan. Di Amerika, Penny newspaper atau penny press pertama kali diterbitkan oleh Benjamin Henry Day pada tanggal 3 September 1833 di New York dan diberi nama New York Sun (Conboy, 2003: 44). Dalam pemberitaannya, New York Sun banyak meliput berita-berita di seputar lingkungan pembacanya. Suratkabar tersebut sering mengangkat peristiwa tindak kejahatan dengan mengambil sumber berita dari detail penyelidikan kepolisian. Pembaca New York Sun menikmati berbagai berita dalam koran ini karena disajikan layaknya sebuah cerita kehidupan (dokudrama). Terlebih lagi beritanya disampaikan melalui bahasa sehari-hari yang akrab dengan keseharian mereka. Tidak diragukan, sukses New York Sun sebagai koran populer sangat ditentukan oleh gaya jurnalismenya yang “cair”, terutama saat berkomunikasi dengan publiknya.

Namun demikian, New York Sun bukanlah satu-satunya suratkabar yang mendorong keterlibatan publik pembacanya. James Gordon Bennet meluncurkan suratkabar New York Morning Herald pada tahun 1835 dengan isinya yang berupa kombinasi dari bisnis, berita, kriminal, dan olahraga. Morning Herald sengaja dihadirkan oleh Bennet sebagai kompetitor dari New York Sun yang dimiliki oleh Day. Seperti halnya Day, Bennet percaya pada kekuatan wacana populer yang diusung oleh suratkabarnya. Bennet bahkan mengatakan bahwa seorang jurnalis tidak perlu takut lagi apabila telah bekerja mewakili rakyat: “An editor must always be with the people–think with them–feel with them–and he need fear nothing, he will always be right–always be strong–always popular–always free” (Conboy, 2003).

Sesuai dengan  karakter Penny Press, Morning Herald aktif meliput isu-isu lokal yang memiliki kedekatan dengan pembacanya (proximity). Bennet aktif mengkampanyekan persoalan-persoalan warga kota New York dan mengajak partisipasi pembacanya dengan cara memberi gambaran tentang lingkungan mereka sehari-hari: “a correct picture of the world–in Wall Street–in the Exchange–in the Police Office–at the Theatre–in the Opera–in short, wherever human nature and real life best display their freaks and vagaries’ had been kept” (Conboy, 2003: 47-48). Dari kutipan pernyataan Bennet tersebut, terlihat bahwa salah satu karakteristik yang menonjol dari suratkabar Penny Press adalah unsur lokalitas. Unsur lokalitas pada masa awal perkembangan jurnalisme populer lebih banyak berupa gaya penggunaan bahasa sehari-hari. Seperti halnya materi suratkabar New York Sun, isu-isu yang diangkat Morning Herald antara lain berita kriminal, peliputan sidang, bisnis, olahraga dan gosip.

Gosip dalam hal ini juga merupakan salah satu unsur budaya populer yang dieksploitasi dalam jurnalisme kuning. Di tangan pemiliki kedua suratkabar tersebut, gosip menjadi salah satu menu utama yang penting disajikan. Suratkabar milik Bennet, Morning Herald, bahkan disebut-sebut sebagai suratkabar pertama yang membangun peliputan masyarakat yang kelak akan menjadi pendahulu dari berita selebritis (Conboy, 2003: 49). Lebih lanjut menurut Conboy (2003: 50), Penny Press melihat gosip selain berfungsi sebagai sajian hiburan bagi pembaca, juga memiliki fungsi lain yang tak kalah penting, yakni menjadi alat bagi Penny Press untuk mengalihkan perhatian publik pada isu-isu politik yang lebih besar. Akibatnya, persoalan-persoalan ekonomi dan politik yang hadir di tengah masyarakat tidak dibicarakan secara serius. Perdebatan isu-isu publik pun menjadi relatif konservatif dan tidak menghadirkan solusi atas persoalan yang terjadi.

Hadirnya pola pikir konservatif dalam penanganan persoalan-persoalan publik ini tidak terlepas dari ideologi yang dianut oleh bangsa Amerika pada masa itu, yakni kapitalisme. Independensi ekonomi dari Inggris, pembukaan wilayah baru, dan kedatangan imigran merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ekonomi kapitalis Amerika. Para imigran yang datang ke Amerika memiliki impian yang sering disebut sebagai American Dream, yakni datang ke tanah impian Amerika dan menjadi orang yang sukses secara ekonomi di sana. Kisah kerja keras para pionir yang membuahkan sukses inilah yang membangun kepercayaan diri bangsa Amerika. Mereka percaya bisa meraih sukses karena meyakini Amerika merupakan tanah air harapan (the land of possibility). Ideologi semacam inilah yang sering direproduksi oleh Penny Press melalui pemuatan berita-berita selebritas dan gosip dalam suratkabar mereka.

Lain di Amerika, lain pula di Inggris. Sejarah koran kuning di Inggris dikukuhkan oleh The Daily Mirror yang didirikan Alfred Harmsworth (yang kemudian menjadi Lord Northcliffe) pada tahun 1903. Awalnya koran ini hadir dengan strategi diferensiasi, yakni ditulis semata-mata oleh kaum wanita dan ditujukan untuk segmen khusus wanita. Eksperimen segmentasi tersebut tidak berhasil dan Northcliffe kemudian memecat semua wartawatinya. Tahun berikutnya, Mirror diubah menjadi koran populer untuk pembaca umum dengan menghadirkan berita-berita sensasional dan gosip berformat features (Anwar, 2000: 22-24).

Dalam buku yang ditulis oleh wartawan Hugh Cudlipp berjudul “Publish and be Damned” (1953) yang menceritakan koran The Daily Mirror saat  memperingati ulang tahunnya yang ke-50 pada tahun 1953, The Daily Mirror mencapai tiras terbesar di Inggris waktu itu, yakni di atas 4 juta eksemplar tiap hari. Tak heran bila dalam usianya yang setengah abad itu, The Daily Mirror membuat slogan di halaman depannya: “The Biggest daily sale on earth forward with the people” (Koran harian dengan penjualan terbesar di dunia dan maju bersama masyarakat). Menurut Anwar (2000: 24), dalam buku Cudlipp diceritakan bahwa The Daily Mirror sangat jujur dalam mengangkat peristiwa sehari-hari. Silvester Bolam, pemimpin redaksi dari tahun 1948-1953 mengakui: “The Daily Mirror adalah sebuah koran sensasi. Kami tidak meminta maaf untuk hal itu. Sensasioanlisme tidak berarti memperkosa kebenaran”. Menurut Bolam, sensasionalisme dalam The Daily Mirror dilakukan dengan mendramatisasi kejadian supaya berdampak kuat pada benak pembaca. Tekniknya dengan membuat judul besar, gaya penulisan dalam bahasa sehari-hari, dan penggunaan ilustrasi berupa karikatur dan foto (Anwar, 2000: 24).

Dalam perkembangan mutakhir, ketika kapitalisme menyetir pola kehidupan masyarakat dunia, jurnalisme kuning semakin diminati. Terbukti dari perkembangan produksi koran-koran kuning yang terus meningkat di berbagai belahan dunia. Sementara itu, koran berkualitas (quality newspaper) tetap bertahan, namun sebagian tidak mau kalah menampilkan isi pokok dari koran-koran populer, yakni berita kriminal dan sensasi, yang kemudian diberi kualifikasi lebih elegan sebagai berita human interest.

Kehadiran koran-koran kuning yang kian diminati masyarakat juga memunculkan bentuk kemasan baru, yaitu tabloid. Format tabloid menggejala pada 1920-an dengan mengandalkan menu utama pemberitaan aneka gosip, skandal dan pornografi. Tak berlebihan jika ada yang mengistilahkan praktik ini sebagai “dosa yang dijual seharga dua sen setiap pagi” (Rivers, Jensen, & Peterson, 2003: 55).


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

2 thoughts on “Telaah Historis Asal Mula Istilah “Koran Kuning”

  1. Mhn maaf, referensi daftar pustaka memang tidak sy tulis, hanya sy tuliskan bodynotenya. Salahj satu alasannya untuk menghindari duplikasi/copy paste utuh tanpa tanggung jawab hehe..
    Tulisan tsb sy kutip dr Rosihan Anwar. 2000. “Pos Kota sebagai City Paper”. Dalam Soebekti, Encub; Saiful Rahim; dan Zulkarimein Nasution (eds). Pos Kota, 30 Tahun Melayani Pembaca. Jakarta: Litbang Grup Pos Kota.
    semoga membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s