Nasib Perempuan dalam Balutan Dramatisasi Berita

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

 

Berbicara tentang praktik ketidakadilan gender dalam masyarakat, peran media mau tidak mau menjadi sorotan. Dalam agenda media massa, teks-teks—yang kadang tampil dengan dukungan audio-visual—menyediakan semacam “peta” yang akan dibaca, didengar, dan dilihat oleh khalayak. Pembaca bebas memilih yang mana akan dipikirkannya atau dipakainya. Para redaktur media melalui proses gatekeeping akan memilah informasi tentang perempuan yang pada gilirannya diberi ruang yang besar, disembunyikan, ataupun dibuka secara jelas karena dianggap penting untuk diketahui khalayak.

Pertemuan sistematik antara agenda media dan agenda publik–yang ternyata sinkron–dengan apa yang disampaikan media tersebut menurut istilah lazimnya terkenal dengan “agenda setting”. Agenda setting menunjuk makna bahwa media memiliki kekuatan untuk menggerakkan perhatian pembaca terhadap isu-isu tertentu, termasuk bagaimana merepresentasikan perempuan sebagai korban kejahatan. Dengan kata lain, peranan pelaku media sangat penting dalam memainkan pemilihan dan pembentukan opini publik, tidak hanya menyampaikan fakta adanya perempuan yang menjadi korban kejahatan, melainkan bagaimana perempuan dicitrakan dan “diimajinasikan” oleh media. Oleh karena itu, berita tidak bisa lagi hanya dilihat sebagai alat untuk menyebarkan informasi, melainkan berita sebagai sebuah ritus, arena tempat imajinasi sosial selalu dikonstruksi, direkonstruksi, diproduksi, dan direproduksi oleh pekerja media.

Sebagai contoh, pemberitaan tentang perempuan yang menjadi korban kejahatan hampir selalu diwarnai dengan praktik dramatisasi. Dramatisasi berita dapat dipahami sebagai bentuk penyajian atau penulisan berita yang bersifat hiperbolik dan melebih-lebihkan fakta dengan maksud menimbulkan efek dramatis bagi pembacanya. Efek dramatis dapat membantu pembaca untuk lebih “mengalami” secara langsung peristiwa yang disajikan. Namun demikian, objektivitas pemberitaan menuntut suatu penyajian berita yang berhati-hati dan mengambil jarak dari fakta yang dilaporkan (McQuail, 1992; Tim Peneliti Dewan Pers, 2006).

Dalam pandangan Mencher (2000: 182), gaya penulisan berita dengan dramatisasi bagaikan penulisan cerita fiksi salah satunya disebabkan para jurnalis sering terjebak dalam gaya storytelling yang salah sehingga menghasilkan berita-berita dramatis. Storytelling merupakan gaya jurnalisme yang menampilkan berita secara naratif laiknya cerita fiksi. Ironisnya, banyak jurnalis menganggap hal itu merupakan keahlian mereka dan menjadikan laporan reportasenya menjadi alur cerita yang sangat mengesankan. Akibatnya, mereka memperpanjang berita seperti storytellers tanpa merasa ada kebohongan.

Dalam tulisan ini diambil contoh berita headline salah satu koran kuning yang cukup populer di Indonesia, yakni Lampu Merah[2]. Dramatisasi tentang perempuan sebagai korban kejahatan sering ditampilkan Lampu Merah dalam elemen judul, lead, dan body berita.

Dramatisasi yang ditampilkan pada judul headline Lampu Merah umumnya ditunjukkan dari cara penulisan judul yang menggunakan bahasa bernada vulgar dan hiperbolik. Terkadang kata tertentu sengaja dipilih semata-mata untuk membentuk persamaan bunyi (rima). Bentuk-bentuk dramatisasi judul Lampu Merah antara lain terlihat pada contoh berikut.

(1)  Burung Mau Matuk, Istri Ngantuk, Yang Punya Burung Ngamuk

(LM, 9 Agustus 2008)

(2)   Ustadz Liat Tetangga Montok, Angkat Sarung, Lepas Burung, Kepergok Suaminya Si Montok, Diarak Keliling Kampung

(LM, 20 Agustus 2008)

(3)  Pembantu Pengen Punya HP, Perawannya Diembat Majikan

(LM, 23 Agustus 2008)

Dramatisasi pada lead Lampu Merah seringkali ditampilkan dalam bentuk narasi hiperbolik (terkadang vulgar dan sadis) yang dilengkapi dengan tekstualisasi bunyi untuk menjelaskan peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh dramatisasi iniantara lain terlihat dalam lead berita yang ditulis sebagai berikut.

(1) Urusan nafsu emang cuma urusan burung. Nggak penting lagi, apa statusnya. Buktinya Saman pun tak mau ketinggalan jaman. Padahal, laki-laki 35 tahun ini ustadz. Tapi Saman tak bisa mengurus burungnya. Si burung keliaran tengah malam, nidurin istri tetangga. (LM, 20 Agustus 2008)

(2)   Si suami menyuruh si istri mandi. Lalu berdandan. Biar lebih caem, cakep, demplon, dan yaud. Agar pantas diajak kondangan. Tapi si istri males-malesan. Bukan hanya tak mau mandi. Si istri malah ngamuk. Membanting gelas dan menusuk suaminya. Cruss!”

(LM, 18 Agustus 2008)

Dalam body berita, bentuk dramatisasi umumnya juga tampak dari paparan atau narasi yang mengungkapkan detail peristiwa, situasi, atau karakter pelaku maupun korban kejahatan. Tujuannya untuk memberikan deskripsi lengkap sehingga menimbulkan sensasi bagi pembaca terhadap peristiwa yang dilaporkan. Namun demikian, detail tersebut sesungguhnya tidak memiliki signifikansi dengan pokok berita. Contohnya pada kutipan berita berjudul ”Cewek Disundutin Rokok, Disodomi, T’rus Dibunuh” yang ditulis:

 

Pada dubur perempuan itu keluar darah, dan sekitar kemaluannya ada cairan sperma…” (LM, 30 Agustus 2008)

Detail yang ditampilkan dengan pemilihan kata yang mengarah pada vulgarisme juga tampak jelas dari kutipan body berita berjudul ”Cowok Nembak, Ditolak, Yang Nolak Diemprut”. Dalam berita itu tertulis:

Bunga diseret ke kebun pisang. Dan di situ, Bunga dijejali pisang Heri yang jelas nggak kuning. Bermodal ancaman bakal membunuh, heri pun bisa bebas menikmati tubuh mulus Bunga, si kembang desa.

(LM, 7 Agustus 2008).

Selain perkosaan, dramatisasi yang ditampilkan Lampu Merah juga terlihat pada pemberian detail peristiwa kriminal lainnya yang ditulis layaknya narasi sebuah cerita fiksi. Contoh penulisan body berita berjudul “Burung Mau Matuk, Istri Ngantuk, Yang Punya Burung Ngamuk” berikut.

…Malam itu, Suminah sudah pulas tidur. Apalagi, seharian penuh mengurus rumah dan anak-anak…Suminah pun dibangunkan. Tapi karena sudah telanjur pulas, Suminah tak juga bangun. Padahal, malam itu Rahman sedang on alias sedang kepingin. Mungkin kalau Rahman itu Ahmad Dhani, dia tak ragu berteriak. “Aku sedang ingin bercinta!”.

Tapi Suminah sudah terlanjur malas. Rahman terus memaksa. Dan Suminah pun marah sambil menggerutu. Mendengar itu, rahman tak suka. Biarpun tengah malam, mereka cuek saka ribut mulut. Saling memaki dan makin lama suara mereka makin keras. Sampai akhirnya, “Plakkk!” Tangan Rahman sudah mendarat di pipi Suminah.

Kali ini Suminah tak bisa menahan air matanya. Melihat istrinya menangis. Rahman makin semangat. Dia terus memukuli Suminah seperti Mike Tyson memukuli lawan-lawannya yang gendut. Tak peduli Suminah menangis, rahman malah cuek saja memegangi tangan Suminah. Dan “Krakk” tangan Suminah pun dipelintir… (LM, 9 Agustus 2008)

Secara umum, bahasa dramatisasi pada headline Lampu Merah muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa kata, frasa, dan kalimat yang kebanyakan berbentuk struktur pasif. Kata-kata yang dipilih Lampu Merah untuk menonjolkan dramatisasi terhadap prempuan antara lain:

  1. Istilah perkosaan:

“dikeroyok”, “digilir”, “ditelanjangi”, “disetubuhi/menyetubuhi”, “disodomi”, “ditindih”, “dicabuli”, “diobok-obok”, “diembat”, “digilir”, “menggerayangi”, “ditiduri”

  1. Istilah berhubungan intim suami istri:

“ngemprut”, “nyebur ”, “matuk”

  1. Penggunaan senjata tajam pada korban:

“dibacokin””, “dibelah”, “dibabat”, “ditusuk”, “dipisau”, “digorok”

  1. Penganiayaan tanpa senjata/selain senjata tajam:

“diinjek”, “digebukin”, “digamparin”, “dipelintir”, “digetok”, “dialu”, “dicekik”

Sedangkan frasa yang digunakan Lampu Merah untuk menampilkan dramatisasi di antaranya:

  1. Istilah Perkosaan:

“digilir sampai jebol” (LM, 26 Agustus 2008), “perawannya diembat”, (LM, 23 Agustus 2008), “burung pun bicara” (LM, 7 Agustus 2008), “maling perawan” (LM, 28 Agustus 2008), “memaksa melayani” (LM, 8 Agustus 2008), “menyalurkan birahi” (LM, 8 Agustus 2008), “dijejali pisang” (LM, 7 Agustus 2008).

  1. Istilah berhubungan suami istri:

“nyetor burung” (16 Agustus 2008), “angkat sarung”  (LM, 20 Agustus 2008), “lepas burung” (LM, 20 Agustus 2008), “kebelet birahi” (LM, 13 Agustus 2008), “on alias sedang kepingin” (LM, 9 Agustus 2008).

  1. Penggambaran kondisi seseorang setelah menjadi korban kejahatan:

“bersimbah darah” (LM, 3 Agustus 2008), “usus terburai” (LM, 3 Agustus 2008), “tubuh terkulai” (LM, 4 Agustus 2008), “ambruk ke lantai” (LM, 2 Agustus 2008), “tubuh kelojotan” (LM, 2 Agustus 2008), “luka parah” (LM, 16 Agustus 2008).

Dalam pola kalimat, dramatisasi headline Lampu Merah muncul berupa kalimat panjang dan kalimat pendek. Umumnya, kalimat dinilai mengandung dramatisasi karena dalam susunanya terdapat pemberian detail, pemaparan vulgar, atau analogi yang tidak relevan dengan pokok berita. Contohnya tampak pada berita perkosaan sebagaimana kalimat (1),  (2), dan (3) berikut. Detail dan vulgar seharusnya tidak perlu dimunculkan:

(1)   Lucunya, karena sudah keburu nafsu, sebelum sempat beraksi, burung Rusmin keburu muntah, alias keluar sperma. Rusmin kecewa. Dia gagal merkosa. Lalu Fera pun disuruh pulang. Setibanya di rumah, Fera mengadu kalau baru saja ditindih Rusmin. Dan anunya belepotan muntahan burung Rusmin. (LM, 29 Agustus 2008).

(2)   Ditambahkan Neneng, anaknya dibawa ke toilet oleh Bahruddin. Rok Indah diangkat, dan celananya dibuka. Bukan itu saja, Bahruddin menciumi kemaluan Indah dan menyetubuhinya. Saat itu indah hanya bisa menangis dan merintih kesakitan. (LM, 6 Agustus 2008)

(2)   Setelah terus didesak, akhirnya Kiki mengakui perbuatannya. Ia juga mengatakan, saat melakukan pencabulan, kemaluannya sempat ’bangun’ dan ’tidur’ sebanyak empat kali.” (LM, 13 Agustus 2008)

Sedangkan dramatisasi yang ditulis dengan perumpaaan atau analogi terlihat dalam contoh kalimat berikut.

(1)   Tapi, biarpun orangtua tahu, cinta Recha dan Septio tak semulus tol Cipularang. (LM, 10 Agustus 2008)

(2)   Sejak pandangan pertama, Heri sudah jatuh cinta pada Bunga. Seperti ken Arok yang ngiler ngeliat betisnya Ken Dedes. (LM, 7 Agustus 2008)

 

Tingginya penggunaan bahasa sensasional dalam berita Koran Lampu Merah membuktikan bahwa strategi utama yang dilakukan koran kuning untuk menarik dan mempertahankan minat pembacanya sebagaimana diungkap Conboy (2003: 56) dan Hatchen (2005: 43) adalah mengeksploitasi unsur sensasi dari suatu peristiwa. Tak jarang dalam headline-nya, Lampu Merahmemberitakan isu-isu tertentu yang terbatas pada taraf pengungkapan eksploitasi tubuh perempuan (dan juga laki-laki) tanpa disertai fakta-fakta dan bukti pendukung yang relevan. Sebagaimana dikemukakan Ghimire (http://english.ohmynews.com/), kecenderungan pemberitaan yang bersifat negatif demikian disinyalir merupakan cara instan untuk memuaskan keinginan konsumen media (pembaca dan pengiklan) akan kehadiran berita-berita yang sensasional.

Temuan ini juga selaras dengan pandangan Fung (2006: 190) yang berteori bahwa bahasa sensasional kadang ditulis dengan tidak didasarkan pada nalar atau logika yang sehat karena semata-mata ditujukan untuk memicu rasa penasaran, emosi, empati, bahkan kesenangan sensual bagi pembacanya. Sekadar ilustrasi, kutipan dramatisasi berita dengan menonjolkan vulgarisme yang ditulis oleh Lampu Merah: “Pada dubur perempuan itu keluar darah, dan sekitar kemaluannya ada cairan sperma…” (Lampu Merah, 30 Agustus 2008) atau pada kutipan “Setibanya di rumah, Fera mengadu kalau baru saja ditindih Rusmin. Dan anunya belepotan muntahan burung Rusmin” (Lampu Merah, 29 Agustus 2008) sesungguhnya tak jauh berbeda dalam hal penggunaan kata-kata vulgar seperti penggambaran Shaw (1984; seperti dikutip Adhiyasasti dan Rianto, 2006: 114) untuk mencontohkan teknik dramatisasi yang disertai vulgarisme pada penulisan berita-berita kriminalitas dalam koran kuning di Amerika Serikat (1) “Park then inserted a bar of soap into her vagina…” (Park kemudian memasukkan sebatang sabun ke dalam vaginanya) (Koran Nashville Banner, tanpa keterangan waktu terbit)  (2) “[They]…sodomized her and forced her to commit oral copulation [and he] …urinated on her…” (Mereka menyodominya dan memaksanya melakukan oral seks lalu mengencinginya) (Koran Los Angeles Times, tanpa keterangan waktu terbit).

Kondisi ini jelas menyalahi aturan penulisan berita yang—secara teori—menghendaki penggunaan bahasa jurnalistik yang efisien, yakni sederhana, ringkas, padat, dan jelas (Fink, 1995 & 1998; Salzman, 1998; Mencher, 2000; Cappon, 2000; Burns, 2004; Newsom & Wollert, 1985; dan Dale & Pilgrim, 2005). Dalam praktiknya, sebagaimana tampak dari contoh yang ditampilkan dalam Lampu Merah, sensasionalisme ditampilkan koran kuning melalui penggunaan pola-pola sintakis pada level kata, frasa, dan kalimat yang akhrinya membentuk bahasa sensasional dengan menonjolkan dramatisasi.

Kondisi ini sejalan dengan pandangan DeFleur dan Ball-Rokeach (1989: 267) yang menyebutkan bahwa bagi media massa, keberadaan bahasa tidak lagi hanya sebagai alat untuk menggambarkan sebuah peristiwa, melainkan bisa membentuk citra yang akan muncul di benak khalayak, termasuk untuk menarik perhatian, membangkitkan perasaan dan emosi manusia sebagaimana tujuan sensasionalisme yang oleh Kusumaningrat dan Kusumaningrat (2005: 66-67) disebut “harus dapat meluapkan berbagai macam perasaan”.

Padahal, dalam prosedur kerja jurnalisme profesional, penyajian berita secara sensasional harus dihindari wartawan, sebagaimana padangan Fink (1995: 63-64) yang menyatakan bahwa sejak awal, etika penulisan berita berkaitan dengan pemilihan sumber berita dan cara pemilihan kutipannya. Sumber berita sangat berpengaruh pada terbentuknya opini publik. Sedangkan pemilihan kutipan oleh wartawan demi mengejar sensasi bisa menjadi “jebakan” tersendiri dan berpotensi untuk menyembunyikan opini-opini tertentu dari narasumber tertentu pula (the sin of disguised opinion). Melihat “bahaya” yang bisa dihasilkan oleh pemilihan kutipan yang dimuati sensasionalisme dari wartawan, seharusnya koran kuning bisa menjaga objektivitas. Objektivitas berkaitan dengan sikap netral media dalam memberitakan suatu isu. Memang harus diakui, mustahil pemberitaan media bisa seratus persen murni objektif dan netral. Meski demikian, media bisa berusaha optimal untuk mendekati sikap objektif tersebut. Lebih daripada itu, secara umum koran kuning tetap harus kembali kepada fungsi-fungsi dasarnya sebagai media massa. Seperti kata Robert F Kennedy (dalam Rivers, Jensen, & Peterson, 2003: 99), suratkabar sebanding dengan pengadilan–bahkan terkadang lebih–dalam melindungi hak-hak fundamental orang banyak, termasuk nasib perempuan yang sudah menjadi korban kejahatan lalu diperparah menjadi korban pemberitaan media.


[1]Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Sejak Minggu, 20 Oktober 2008 Lampu Merah berubah nama menjadi Lampu Hijau. Pada  pengantar edisi perdana Lampu Hijau ditulis dengan berganti nama baru, Lampu Merah ingin mengubah citranya menjadi koran yang lebih “teduh” sebagaimana filosofi warna hijau. Dalam praktiknya, perubahan ini hanya terlihat dari pengurangan materi seksualitas. Sebagai gantinya Lampu Hijau menambah materi berita-berita politik dan kriminalitas dengan teknik pengemasan dan penyajian yang sama dengan Lampu Merah.

4 thoughts on “Nasib Perempuan dalam Balutan Dramatisasi Berita

  1. Hasil kebebasan pers yang sangat tidak bertanggung jawab, selama ini kirain koran kuning itu cuma isi beritanya aja yg kacau, tapi kalo liat dari contoh diatas kok bahasanya vulgar banget ya.

    Mungkin juga karena selama ini yang aq baca masih sebatas koran2 kuning DIY Jateng aja. baru tahu ini kalo Lampu Merah itu bahasanya over vulgar hehehehe

    Thanks bwat tambahan ilmuny mas Iwan……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s