Menonton Kematian? Nyalakan Televisi!

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

“Anda Ingin Menyaksikan pembunuhan? Hidupkan Televisi: Pelayanan 24 Jam!”. Demikian ditulis Milton Chen dalam bukunya “Anak-Anak dan Televisi”. Pada bahasan tentang kekerasan di televisi, ia menulis judul yang sangat provokatif tentang bahaya media bernama televisi. Sedemikian parahkah? Kalimat Chen sengaja saya kutip untuk mengawali tulisan ini.

Dalam catatan sejarah, terbukti televisi tak ragu menyajikan citra kematian secara vulgar. Bahkan penonton diajak (baca: dipaksa) mengikuti peristiwa kematian secara langsung. Sebagai contoh, kegilaan televisi menayangkan peristiwa bunuh diri di depan kamera yang terjadi pada pagi hari, tanggal 15 Juli 1974 ketika Christine Chubbuk, seorang pembawa acara di sebuah TV lokal (WXLT-TV) bunuh diri saat membacakan berita. Ia menembak pelipisnya dengan pistol.

Cerita lain, pada tahun 1996, sebuah stasiun televisi Los Angeles menerima telepon dari seseorang yang bermaksud melakukan bunuh diri dan minta agar stasiun televisi meliputnya. Stasiun itu mengirim kru televisi untuk mendatangi sumber berita dengan peralatan lengkap. Bukannya mencegah orang tersebut melaksanakan niatnya, dengan memanggil polisi misalnya, kru televisi justru membuat liputan eksklusif. Mereka mempersiapkan liputan langsung, menunggu orang tersebut melaksanakan niatnya, dan merekam saat-saat ia menembak dirinya sendiri. Akhirnya orang itu benar-benar mati di depan kamera televisi. Live on air!

Peristiwa tersebut disusul oleh peristiwa-peristiwa sejenis di beberapa tempat di dunia. Sebutlah beberapa penayangan secara langsung eksekusi hukuman mati dengan senapan maupun kursi listrik. Televisi juga pernah menyiarkan secara langsung, peristiwa pemberian suntikan mati (euthanasia) yang dilakukan seorang dokter atas permintaan pasiennya. Pun di Indonesia, sejarah mencatat,  eksekusi “teroris” Amrozi dan Imam Samudra menjadi bahan jualan bagi salah satu stasiun televisi.

Di negeri ini, setidaknya tercatat empat peristiwa kematian yang secara spektakuler pernah ditayangkan di televisi. Pertama adalah meninggalnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX tahun 1988. TVRI Stasiun Yogyakarta meliput dan melaporkan peristiwa tersebut secara langsung, detail, terus-menerus, dan berlangsung selama beberapa hari. Mulai dari persiapan pemakaman, detik-detik pemakaman, hingga acara-acara ritual yang mengiringi kepergian Sang Raja dari Keraton Yogyakarta.

Kedua, saat meninggalnya Ibu Negara Tien Suharto, 28 April 1996. Semua televisi swasta (bahkan termasuk TVRI) melakukan siaran bersama (pool) secara nasional, diproduksi secara marathon, on-air tanpa henti. Berbagai program acara di semua stasiun televisi yang semula akan dijual untuk iklan, “dikorbankan” untuk menghormati kepergian Sang Ibu Negara. Setelah peristiwa itu, momen TV pool yang dapat “mempersatukan” seluruh stasiun TV swasta tidak pernah terjadi lagi.

Ketiga, kematian selalu menjadi bagian penting dari berita bencana, baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Besaran jumlah korban seolah menjadi daya tarik  bagi televisi untuk menyiarkan secara langsung dan sedekat mungkin dengan tempat kejadian atau korban. Sebutlah berita tsunami di Aceh, gempa Jogja, kecelakaan pesawat, kereta api, atau yang paling baru: korban bencana ledakan tabung gas!

Keempat, kematian tokoh-tokoh besar, seperti Mantan Presiden RI: Soeharto dan Gus Dur yang mendapat peliputan secara massif televisi Indonesia. Beberapa di antaranya menyiarkan secara langsung prosesi pemakaman hingga detail rangkaian acaranya.

Tak cukup hanya bersandar pada peristiwa atau nama besar, televisi  terus menerus mereproduksi citra kematian lewat berbagai program. Sebutlah dua jenis program acara yang saat ini sedang merarajela di dunia televisi; berita kriminal dan tayangan misteri. Dalam tayangan berita kriminal, penyajian berita aksi kejahatan bergeser dari sekadar menampilkan wawancara pelaku kejahatan atau korbannya berkembang menjadi adegan penggerebekan langsung. Kamera menjadi “mata” pemirsa, dan menangkap segala detil dari sebuah peristiwa kriminal. Kamera tak tanggung-tanggung menyorot adegan kekerasan mulai dari bagaimana polisi menangkap penjahat, memukuli bahkan menelanjanginya. Suara letusan pistol, tubuh yang menggelepar bermandi darah muncul secara gamblang dan menjadi tontonan keluarga di siang hari. Tak hanya itu, gambar mayat pencopet yang gosong tebakar setelah disiram bensin dan disulut api karena kemarahan massa menghiasi layar kaca.

Sepanjang tahun 2000an, berita kriminal menjadi primadona tayangan televisi Indonesia. Para produser berasumsi, tayangan seperti itu lebih laku ketimbang berita politik karena masyarakat telah jenuh menyaksikan carut marut peristiwa politik. Rating iklan pun terdongkrak tinggi jika pengelola televisi mampu menyuguhkan peristiwa kriminal yang sarat kekerasan sebagai sebuah entertainment. Masyarakat yang kesal dengan tindak kriminal yang semakin mejadi-jadi seolah terpuaskan ketika melihat tayangan seorang penodong yang mencoba melarikan diri dari penangkapan .ditembak kakinya oleh polisi.

Membicarakan genre berita kriminal tentu tak bisa dilepaskan dari kesuksesan acara Patroli di Indosiar yang menayangkan berita-berita kriminal secara langsung dari tempat kejadian. Acara ini awalnya diilhami oleh Cakrawala yang ditayangkan Anteve. Setelah Patroli sukses dengan rating dan pendapatan iklan yang tinggi, televisi lain berlomba-lomba membuat program acara serupa. RCTI membuat acara Sergap, Buser di SCTV, Kriminal di Trans TV, Peristiwa dan TKP di TV7, Brutal dan Tikam di Lativi (Sekarang TV One), Bidik di Metro TV, Sidik Jari di Anteve, dan Kanal 87 di Global TV.

Tak puas dengan berita kriminal yang sekilas menyajikan kasus kekerasan, kemudian dibuat acara bedah kasus yang berusaha mengungkap secara lengkap peristiwa-peristiwa kriminal berdasarkan tinjauan motif, latar belakang pelaku dan korban, kronologi peristiwa, proses hukum, hingga analisis dari kriminolog atau psikiater. Sebutlah Derap Hukum (SCTV), Fakta (ANTEVE), Lacak (Trans TV), Investigasi dan Korek Kasus (Lativi), Modus dan Sidik Kasus (TPI), Jejak Kasus (Indosiar), Modus (TV7), dan Lembar Hitam (Global TV).

Tingginya minat masyarakat terhadap tayangan kriminal sebenarnya berangkat dari keinginan menyaksikan kenyataan (reality show). Masyarakat tentu masih ingat peristiwa kanibalisme yang dilakukan Sumanto atau pembunuhan berantai oleh psikopat Ryan. Meski sebenarnya jijik, namun  mereka “tertantang” untuk tetap menyaksikan runtutan kejadiannya. Berbagai saksi disertakan sehingga terjalin cerita secara utuh. Rekonstruksi dilakukan untuk memberi gambaran peristiwa yang sebenarnya terjadi di lapangan sehingga benar-benar terlihat nyata.

Pada peristiwa lain di acara lain, penonton juga bisa menyaksikan kehebatan polisi mengejar bandar narkoba atau maling motor. Kamera menyorot polisi yang penuh semangat melakukan pengejaran sambil menggenggam pistol. Lalu penjahat yang ketakutan diberi tembakan peringatan, jika tetap melawan akan ditembak kakinya. Dan, lagi-lagi kamera merekam penjahat yang bersimbah luka tak berdaya.

Tontonan yang menyajikan seluk beluk dunia gaib, klenik, dan alam roh juga marak ditayangkan televisi. Diawali dari RCTI yang sukses menyiarkan Kisah-kisah Misteri (KISMIS) dan MITOS, acara serupa kemudian bermunculan di stasiun TV lain. Acarnya sendiri menampilkan wawancara dengan saksi yang pernah bertemu mahluk halus, kemudian hasil wawancara divisualkan lengkap dengan pemeran hantunya. Anteve juga getol membuat acara misteri dengan format sejenis. Sebutlah Misteri Kembali, Oh Seraam, Misteri Kisah Nyata, Saksi Misteri, Misteri Pesugihan, Pengalaman Gaib yang sebenarnya merupakan reformat dari Misteri, yang pernah populer beberapa tahun sebelumnya. TPI memiliki tontonan misteri dengan format sinetron, yaitu TV  Misteri.

Trans Tv membuat format berbeda dengan acara Dunia Lain yang mendatangi tempat-tempat angker dan berhantu, kemudian menantang orang untuk berdiam dan membuktikan keberadan adanya mahluk halus tersebut. Kini, setelah vakum cukup lama, Dunia Lain ditayangkan kembali oleh Trans 7. Acara serupa sebelumnya juga dimiliki Anteve dengan Percaya Nggak Percaya. Bedanya, kesaksian disampaikan oleh seorang paranormal yang memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib. Awalnya, acara tersebut ditayangkan seminggu sekali, namun karena tingginya permintan pasar, akhirnya ditayangkan semingu dua kali. TPI pun tak mau ketingalan, dibuatlah acara Gentayangan yang kadang disiarkan secara langsung. Stasiun itu juga membuat Gaib, Bantuan Gaib, Misteri Pesugihan, Legenda Misteri, dan Lingkar Dajjal. TV7 mengeskploitasi alam gaib lewat Ekspedisi Alam Gaib dan Misteri Bangunan Tua. Lativi kemudian menyusul dengan Rahasia Alam Gaib dan Pemburu Hantu.

Acara seputar dunia gaib dan mahluk halus juga yang dikemas dalam sinetron laga seperti: Misteri Gunung Merapi, Nyi Roro Kidul, Mandala dari Sungai Ular, Anglingdharma, Roro Mendut, Dendam Nyi Pelet, Pengantin Lembah Hantu, Misteri Siluman Kelabang, dan Santet. Dalam kemasan komedi dan drama; Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul, Mr Dower, Jadi Pocong, Ketawa Tengah Malam, Di Sini Ada Setan, Zahara Hantu Gaul, Jaelangkung, Kolor Ijo, Kisah Cinta Hantu Cantik, dan sebagainya. Ada pula program tayangan impor seperti serial Friday the 13th, Beyond Belief: Fact of Fiction, Misterius Ways, Nangnak, Charmed, Gangster Chronicles, Ruth Rendell Mystery, dan banyak lagi judul yang lain.

Walaupun format yang dibuat terkesan beragam, sebenarnya hanya berbeda per-mata acara. Ciri khas dan tema yang diangkat tetap sama; menjual dunia gaib dan kematian dengan segala fenomena yang menyertainya. Walaupun akhirnya acara-acara seperti itu banyak mengundang polemik dan kritik, pihak televisi sepertinya tetap memilih untuk terus menayangkan, meski beberapa stasiun cukup sadar diri dengan menggeser jam tayang lebih malam.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

Tulisan ini merupakan cuplikan/snapshot dari buku penulis berjudul Media, Kematian, dan Identitas Budaya Minoritas (2005)

6 thoughts on “Menonton Kematian? Nyalakan Televisi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s