Mencari Format Tayangan Ramadhan (yang Religius) di Televisi

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Bulan Ramadhan bagi stasiun televisi swasta adalah masa panen iklan karena permintaan terhadap tayangan-tayangan religius mencapai puncaknya. Setidaknya terlihat dari pergeseran prime time televisi, yakni dari waktu normal untuk acara unggulan pukul 18.00 – 21.00 WIB berubah menjelang waktu sahur dan berbuka. Stasiun televisi bermai-ramai mengusung label Gebyar Ramadhan, Semarak Ramadhan, Edisi Ramadhan, Spesial Ramadhan, Berkah Ramadhan sebagai tema tayangan di bulan puasa.

Acara yang disajikan selama Ramadhan cenderung seragam. Satu model program “religius” laris dengan rating tinggi, televisi yang lain berlomba-lomba mengikutinya. Sayangnya, program-program yang ditayangkan pada umumnya belum layak dikategorikan sebagai program yang berkualitas. Sebutlah jenis program acara yang saat ini sedang merarajela di dunia televisi: sinetron, komedi, dan reality show berlabel agama.

Reality show misalnya, meskipun dikemas dengan konsep yang konon-religius, tetap saja materi bergeser, dari potret peserta yang frustrasi karena berbagai masalah kehidupan, belakangan menjurus pada tren yang sama: bermasalah karena berhubungan dengan dunia gaib dan mahluk halus. Dalam sinetron religius juga masih dimunculkan stereotipe kiyai yang suka berpoligami, ustad yang jago silat melawan preman atau orang kesurupan, bahkan potret gadis berjilbab yang selalu menangis karena teraniaya berpotensi memberikan kesan yang menyesatkan. Hal yang sama juga terjadi pada acara humor yang dibawakan komedian, tidak lebih dari lawakan dan banyolan konyol tanpa pesan-pesan agama.

Selama bulan puasa, sebuah tayangan makin tinggi nilai jualnya ketika menggunakan label-label agama. Production House (PH) atau pihak televisi yang memproduksi acara mampu mengubah tayangan komersial-kapitalis menjadi tayangan yang terlihat religius. Religiusitas yang diciptakan oleh televisi menjadi religiusitas semu tanpa makna. Simbol-simbol agama, berupa pakaian (sorban dan jilbab) atau ritual (salat, ucapan salam, adegan doa) dihadirkan tanpa konteks yang mendukung pesan moral.

Ironisnya, kemasan hiburan berkedok agama ini seolah tidak disadari oleh umat sendiri. Sebagan besar terpukau dengan simbol-simbol agama yang cenderung terlihat religius. Semuanya telah lebur dalam arena industri karena pengelola televisi berlomba-lomba meng-agamis-kan produk mereka (Suciati, 2005). Masyarakat seolah kehilangan daya kritisnya, apalagi kemampuan korektifnya. Banyak orang terkagum-kagum menyaksikan tayangan-tayangan yang seolah religius seakan-akan percaya saja bahwa media berniat baik untuk meningkatkan syi’ar agama.

Fenomena komodifikasi agama yang dilakukan oleh media massa selama Ramadhan, tanpa disadari berpotensi menyebabkan degradasi spiritualitas. Tesis ini tidaklah berlebihan mengingat agama bukan lagi ditempatkan sebagai norma bermakna yang mengatur sendi kehidupan manusia, tetapi agama justru dipinjam sebagai sarana meraup profit sebanyak-banyaknya. Kemunduran agama dalam konteks ini bukan pada kuantitas, melainkan justru pada hal yang pokok, kualitas.

Lain lagi dengan John Naisbitt dan Huntington. Kedua tokoh ini justru mengatakan bahwa abad ini adalah abad kebangkitan agama (Islam). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa agama memiliki wajah ganda. Di satu sisi, diharapkan agama dapat membendung aspek destruktif dari globalisasi, kapitalisme dan industrialisasi, namun di sisi lain agama mempunyai ketakutan sendiri terhadap gelombang globalisasi, kapitalisme dan industrialisasi. Dalam konteks komersialisasi berbagai tayangan gaib dengan mengusung nilai-nlai agama, fenomena ini menjadi ironi, agama dijadikan sebagai alat kapitalis. Dengan kata lain, melalui globalisasi informasi yang dipelopori media, agama dikhawatirkan menjadi terkikis dan berubah fungsi dari subjek menjadi objek.

Pendapat di atas paralel dengan pemikiran Jurgen Habermas yang mengatakan bahwa media massa memiliki peran ideologis untuk bermain dalam modernitas. Dalam hal ini media mampu melakukan hegemoni. Di balik kepentingan-kepentingan tersebut, media mampu melumpuhkan kesadaran pemirsanya, sehingga mereka menerima dengan “ikhlas” apa yang dimaui media tanpa merasa dipaksa. Konsekuensinya, jika media berusaha membangun sebuah nilai yang dikemas melalui acaranya, diharapkan tidak akan ada kritik kepadanya, dan bahkan diharapkan pemirsanya akan selalu mengangguk dan setuju (Suciati, 2005).

Dalam koridor kapitalisme, fungsi televisi tak ubahnya “etalase toko”. Penyajian media yang mengikuti produk-produk kapitalis mempengaruhi masyarakat terhadap nilai guna suatu produk. Salah satunya adalah komodifikasi tayangan religius dengan segala fenomena yang menyertainya. Strategi yang dilakukan televisi dalam menyajikan tayangan religius musiman dapat dipahami sebagai komunikasi inter-relasi. Yakni komunikasi yang terjadi antara pengelola televisi (gateekeeper) dengan penonton (audiens) melalui relasi komoditas. Artinya, jika yang ditampilkan media mendukung apa yang dibutuhkan khalayak, maka khalayak akan memenuhi kebutuhan media, yaitu tindakan untuk mengkonsumsi media tersebut dengan memberikan imbalan tertentu, dalam hal ini rating yang selanjutnya meningkatkan perolehan iklan.

Jika proposisi ini dapat menjadi dakwaan terhadap televisi, maka kesalahan pihak televisi sebenarnya tidak saja pada proses degradasi spiritualitas, tetapi juga pada pemirsa, terutama karena niatan religius yang semata-mata muatan bisnis mengarah pada pembodohan massal. Artinya, bahwa semakin banyak yang menonton bukan semakin berhasil misi religiusnya, namun semakin banyak keuntungan finansial yang diraupnya. Sebuah ironi ketika agama memuat ajaran-ajaran yang berlawanan dengan nilai kapitalisme, tetapi justru agama dijadikan alat mencapai mencapai tujuan kapital.

Di lain sisi memang ada pendapat bahwa kemunculan tayangan religius tidak menjadi persoalan karena banyak metode dalam berdakwah. Yang terpenting adalah sikap pemirsa televisi yang dituntut harus tetap rasional mengingat dalam komedi, film, sinetron, bahkan reality show, terdapat keterlibatan unsur imajinasi dan penyutradaraan. Selain itu, kualitas sutradara dan pemahaman penulis skenario terhadap agama juga tidak sama.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

[2] Artkel ini dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin, 23 Agustus 2010.

2 thoughts on “Mencari Format Tayangan Ramadhan (yang Religius) di Televisi

  1. Insan pertelevisian (baik pihak stasiun TV maupun PH) mestinya menyadari bahwa pemirsa televisi tidak “sebodoh” yang mereka bayangkan. Pemirsa ini – yang mungkin masih sering dianggap sebagai audiens pasif – memiliki pemikiran kritis dan berkeinginan untuk menikmati tayangan bermutu. Sayangnya ketika bertemu program-program TV, pemirsa tak punya banyak pilihan.
    Dalam konteks sinetron religi, jika memang ada pihak yang berargumen bahwa sinetron bisa menjadi sarana dakwah, maka eksekusinya harus senafas dengan syariat. Tak perlu terlalu banyak ikon maupun pencitraan. Tapi syi’ar Islam semestinyalah dapat mencerahkan, menenangkan, dan tidak menyesatkan.

  2. Sayang…kenyataannya audiens pasif jumlahnya lebih banyak..sementara audiens aktif jarang unjuk suara (kurang terdengar) mengkritik tayangan semacam itu…
    gerakan matikan tivi atau tolak acara tivi tak mendidik masih dimonopoli aktivis dan akademisi..belum menjadi gerakan sosial untuk masyarakat luas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s