Memenuhi Akurasi Berita, Sulitkah?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Dalam suatu diskusi dengan kawan pengelola televisi terkemuka di Indonesia, saya menyanggah keras sebuah tesis yang disampaikan bahwa televisi (berita) akan menang bersaing menarik minat penonton jika dalam menayangkan berita selalu berpedoman pada tiga hal: cepat, cepat, dan cepat!  Pengelola televisi itu menganggap bahwa dalam industri berita, kecepatan dan aktualitas adalah segalanya.

Menurut saya, seharusnya bukan prinsip “cepat, cepat, dan cepat”, melainkan “akurat, akurat, dan akurat!”. Memang jawaban saya mencerminkan kesetiaan pada kredo konvensional (kuno) dalam terminologi ilmu jurnalistik yang kala itu media cetak menjadi media mainstream. Tetapi saya tidak sedang membicarakan karakteristik jenis media tertentu bisa lebih cepat dibanding media lain. Dalam hal ini, saya selalu percaya, secepat apapun berita ditayangkan (bahkan dengan kecepatan real time seperti media online sekalipun), akurasi berita adalah hal utama dan pertama yang harus diperhatikan untuk membuat pengakses berita percaya terhadap kredibilitas media. Kecepatan yang tidak diimbangi akurasi hanya akan menjadikan media terburu-buru, kejar tayang, dan terjerumus ke dalam sensasi. Akhir yang paling fatal dari pengabaian akurasi adalah rekayasa fakta. Atau paling tidak, mengejar kecepatan akhirnya hanya akan melahirkan klaim-klaim eksklusifitas dan prestise, bukan kualitas pemberitaan.

Dalam sejarah media massa modern di Indonesia, terdapat beberapa kasus yang bisa menjadi bahan diskusi tentang akurasi. Pada tahun 80-an sebuah radio memberitakan kematian Sri Sultan Hamengkubuwono IX, padahal Sang Sultan dalam keadaan sehat. Belum lama, kabar meninggalnya seseorang seniman kondang, almarhum Gesang yang ternyata masih hidup juga disampaikan sebuah strasiun televisi. Saat itu, Gesang sedang dirawat intensif di sebuah rumah sakit. Masih seputar akurasi berita kematian, kasus lain adalah saat penggrebekan teroris di Temanggung. Dengan sangat yakin, reporter televisi mengatakan berkali-kali bahwa gembong teroris, Nurdin M Top “dipastikan” tewas dalam penyergapan itu, padahal nyata-nyata yang tewas saat itu adalah orang yang berbeda.

Kasus paling parah dalam sejarah akurasi pemberitaan adalah rekayasa yang disengaja oleh media. Setidaknya terdapat dua kasus yang menonjol. Pertama, rekayasa yang dilakukan oleh oknum sebuah harian terkemuka di Jawa Timur yang membuat wawancara imajiner dengan istri tersangka teroris, Dr.Azahari. Belakangan terkuak bahwa wawancara tersebut palsu karena setelah di-crosscheck ke Malaysia, istri Dr Azahari sudah lama berada dalam kondisi sakit. Fisiknya lemah dan tidak mampu berbicara (apalagi wawancara) karena penyakit tenggorokan akut yang dideritanya. Kedua, kasus kebebalan media terhadap akurasi mencapai puncaknya saat sebuah stasiun televisi terkuak menghadirkan makelar kasus “Markus” palsu. Ironisnya, awal ketika kasus markus palsu tersebut terbongkar, selain terekesan ditutup-tutupi, permintaan maaf pihak televisi bukan disampaikan kepada publik, melainkan permintaan maaf kepada pihak kepolisian. Mengapa ironis? Tanggung jawab media yang pertama dan utama sesungguhnya adalah kepada masyarakat luas yang dalam hal ini paling dirugikan karena “dibohongi”.

Membicarakan akurasi berita selalu mengingatkan saya terhadap dua judul film yang bercerita tentang kinerja wartawan dalam melaporkan fakta. Dalam kelas Jurnalistik, dua-duanya adalah film yang saya rekomendasikan untuk ditonton mahasiswa. Film pertama adalah Ressurecting the Champ (2007). Film ini menceritakan bagaimana dampak pemberitaan yang tidak akurat akhirnya menjadi blunder bagi kredibilitas seorang wartawan. Wartawan olahraga bernama Erik Kernan (Josh Harnett) itu baru menyadari ketidaktelitiannya setelah artikel tentang upaya membangkitkan seorang mantan petinju besar yang di masa tuanya hidup di jalanan yang ditulisnya, dituntut pembaca yang mengetahui fakta yang disampaikan sang wartawan ternyata keliru. Meski artikelnya sempat mengundang simpati luas publik, ternyata belakangan diketahui bahwa petinju jalanan yang diberitakannya selama ini hanyalah mantan petinju biasa yang memalsukan namanya dengan nama petinju lain yang pernah mengalami kejayaan pada masa lampau.

Titik ekstrim dari ketidakpatuhan terhadap akurasi tergambar dalam film Shattered Glass (2003). Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan bagaimana seorang wartawan bernama Stephen Glass (Hayden Cristensen) selama bertahun-tahun merekayasa berita demi berita demi membuat laporan yang menarik. Karya jurnalisitk fiktif yang dihasilkan itu bahkan diganjar berbagai penghargaan sebelum akhirnya terbongkar dan ia harus menyesalinya seumur hidup.

Jadi, Apa itu Akurasi?

Kembali pada bahasan mengenai akurasi, secara mendasar perlu dipahami bahwa akurasi mengindikasikan perlunya verifikasi terhadap fakta/informasi. Seluruh informasi yang diperoleh harus diverifikasi sebelum disajikan. Dari sejumlah parameter yang digunakan untuk mengukur akurasi, persoalan verifikasi terhadap fakta dan akurasi penyajian menjadi masalah utama di sejumlah media. Verifikasi terhadap fakta menyangkut sejauh mana berita yang ditampilkan berkorespondensi dengan fakta yang benar-benar terjadi di lapangan (McQuail, 1992: 207).

Persoalan akurasi bagi media menentukan kredibilitas di mata publik. Kasus akurasi yang banyak muncul di media saat ini disebabkan antara lain minimnya cek-ricek dan kelalaian (kesengajaan?) pencantuman sumber berita. Kelalaian pencantuman sumber berita dapat mengakibatkan berita yang disajikan tidak dapat diverifikasi di lapangan. Namun demikian, tidak semua yang diungkapkan narasumber benar, meskipun ada kredo: it is true that the source said this (menjadi benar apabila ada rujukan siapa yang mengatakan) (Mencher, 2000: 47-48).

Menyangkut akurasi penyajian, beberapa suratkabar memiliki kelemahan umum dalam hal teknik penulisan berita, termasuk di sini kesesuaian judul dengan isi berita, ejaan kata maupun tanda baca (Mancher, 2000: 38-60). Untuk itu, wartawan yang kemudian dilanjutkan oleh editor, perlu melakukan cek dan cek lagi, koreksi kesalahan tulis, dan meningkatkan kecermatan dalam penggunaan bahasa. Sekali lagi, indikator akurasi yang pokok adalah sumber berita yang jelas dan adanya data-data yang mendukung.

Macam-macam kesalahan akurasi antara lain: (1) omission (kelalaian/tidak mencantumkan sumber); (2) under/over emphasis (kurang/berlebihan dalam memberi perhatian atau tekanan); (3) misspelling; kesalahan eja; (4) faulty headlines (headline salah) atau inkonsistensi antara headline dan isi; (4) misquotes, incorrect age, name, date, and  locations: kesalahan  mengutip, penulisan umur, nama, tanggal, dan lokasi atau nama tempat (5) kesalahan menampilkan atribusi narasumber. Akurasi atribusi narasumber dilihat dari kesesuaian person/organisasi; siapa dia; apa keahliannya; dan sebagainya).

Terkait akurasi sumber informasi, repoter harus mengidentifikasi ulang sumber-sumber informasi sebelum menyajikan berita. Idealnya penyebutkan sumber harus menyebutkan nama, bukan anonim (tanpa nama). Menurut Mencher (2000: 47), ada 4 tipe atribusi (penyebutan sandangan nama) yaitu (a) on the records: seluruh statement dan atribusi dapat dikutip (perlu sebutkan nama dan titel yang memberikan statement); (b) on background: seluruh statement dapat dikutip tapi tidak untuk atribusi (narasumber tidak dapat disebutkan secara detil hanya disebutkan  misalnya: “A White House official”); (c) on deep background: apapun yang dikatakan oleh sumber tidak dapat dikutip langsung, begitu pula identitas narasumber sehingga jurnalis menulis sendiri kisah tersebut; (d) off the record: informasi hanya untuk pengetahuan reporter saja dan tidak dapat disebarluaskan. Informasi pun tidak dapat digunakan untuk mendapatkan konfirmasi dari narasumber yang lain

Sementara itu, Deborah Howel (dalam Kovach dan Rosenthiel, 2004: 113), menyebutkan aturan (baca: larangan) dalam penggunaan anonim:

  1. Jangan pernah menggunakan sumber anonim untuk memberi opini terhadap pembaca.
  2. Jangan pernah menggunakan sumber anonim sebagai kutipan pertama dalam tulisan.

Anonimitas sesungguhnya telah diatur dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ), bahkan menjadi hak wartawan, yang disebut sebagai Hak Tolak. Pada pasal 7 KEJ disebutkan:

“Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.”

Penafsiran dalam KEJ ditulis sebagai berikut:

  1. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.
  2. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.
  3. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.
  4. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

Penyalahgunaan hak tolak dengan dalih menjaga kerahasiaan dan demi kemanan narasumber seringkali menggiring wartawan yang tidak bertanggungjawab untuk membuat fakta rekayasa.

David Yarnold (dalam Kovach dan Rosenthiel, 2004: 109-110), redaktur eksekutif San Jose Mercury News, mengembangkan metode daftar pengecekan akurasi (accuracy checklist). Saat memeriksa tulisan, redaktur harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Apakah alinea pertama (lead) sudah cukup didukung oleh alinea-alinea sesudahnya?
  2. Adakah seseorang telah memeriksa ulang, mengkonfimasi, menelpon, atau menghubungi semua sumber, alamat rumah atau kantor, alamat situs web yang tercantum dalam berita? Bagaimana dengan penulisan nama dan gelar?
  3. Apakah materi latar belakang (background) diperlukan untuk memahami tulisan selengkapnya?
  4. Apakah semua pihak yang terlibat dalam tulisan sudah didentifikasi dan apakah wakil-wakil dari berbagai pihak tersebut sudah dihubungi dan diberi kesempatan bicara?
  5. Apakah tulisan memihak atau membuat penghaminan yang tidak kentara?
  6. Apakah ada sesuatu yang kurang?
  7. Apakah semua kutipan akurat dan sandangnya jelas, dan apakah kutipan-kutipan itu menangkap apa yang sesungguhnya dimaksudkan orang tersebut?

Menjaga dan memenuhui akurasi pemberitaan sesungguhnya bukanlah persoalan yang rumit karena bisa dicapai dengan ketelitian dan sedikit kesabaran. Memenuhi akurasi juga akan melindungi dua pihak: media itu sendiri dan yang terpenting adalah melindungi publik, baik pembaca, pendengar, penonton, pengakses berita.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

5 thoughts on “Memenuhi Akurasi Berita, Sulitkah?

  1. Benar, dalam kenyataannya bagi media di Indonesia, kecepatan berbanding terbalik dengan akurasi..padahal kl wartawan mau berjerih payah akurasi dan kecepatan bisa dikejar dalam waktu bersamaan..

  2. Setuju…tapi akurasi tidak identik dengan berjerih payah karena pemenuhan akurasi adalah hal mendasar dalam jurnalisme. Jadi sama sekli bukan untuk mempersulit wartawan…pandangan tersebut perlu diluruskan…
    Thx komentarnya anw…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s