Sulitnya Mewujudkan Jurnalisme Sadar Gender

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Dalam tulisannya di Jurnal Perempuan beberapa tahun lalu, yang membahas perjuangan tokoh-tokoh feminis luar negeri, Iswara dan Pratiwi (2003) menengarai bahwa Inggris, Amerika serikat, dan Australia yang disebut-sebut sebagai negara paling keras memperjuangkan falsafah feminisme lewat media massa, kerapkali merasa kesulitan ketika harus berhadapan dengan pandangan patriarkis yang masih dianut sebagaian masyarakat dan industri media di sana.

Media massa dalam kaitan ini menjadi tempat pertempuran memperebutkan wacana tentang gender. Siapa pun yang memenangkan pertempuran bisa mendominasi dan melakukan hegemoni. Dalam konteks ini, media kemudian menjadi pengidentifikasi, pembaca, penerjemah, dan pendistribusi realitas. Ketika media menyampaikan informasi sesuai dengan kepentingan kekuasaan  yang patriarkis, maka hasilnya bisa ditebak: keberadaan media tak lebih dari perpanjangan tangan sebuah sistem kekuasaan patriarki. Di sini media menjadi corong sempurna untuk memperluas gagasan ideologi dominan. Selanjutnya, ketika media berfungsi sebagai instrumen patriarki, maka segala hal yang direpresentasikan oleh media mengenai pesan gender akan terkonstruksi dalam benak khalayak.

Bertolak dari hipotesis tersebut, maka dalam kajian tentang media massa, diperlukan suatu kesadaran bahwa dalam pemberitaan media harus mengusung prinsip: “Dalam realitas sosial pada dasarnya terdapat interaksi sosial yang di dalamnya sarat potensi lahirnya korban. Jurnalisme harus memegang prinsip-prinsip humanitarian yang berangkat dari sensitivitas pertanyaan etis tentang kemanfataan dan kerugian pihak-pihak yang diberitakan, khususnya perempuan” (Siregar, 2002).

Di antara tuntutan tersebut, muncul sebuah konsep jurnalisme yang diharapkan dapat menjawab persoalan, yaitu penggunaan Jurnalisme Sadar Gender. Mengapa harus jurnalisme sadar gender? Untuk mengetahui secara mendalam bagaimana konsep operasionalisasi jurnalisme sadar gender dan bagaimana kemungkinanya diterapkan di negara kita yang sangat kental menganut sistem patriarki, maka tulisan ini mencoba mengelaborasinya.

Jurnalisme Sadar Gender: Ketika Media Tidak Menghargai Perempuan

Apa sebenarnya jurnalisme sadar gender (gender perspective in juornalism)? Subono (2003) menyebutkan, jurnalisme berperspektif gender dapat diartikan sebagai kegiatan atau praktik jurnalistik yang selalu menginformasikan atau bahkan mempermasalahkan, dan menggugat secara terus menerus, baik dalam media cetak (seperti dalam majalah, surat kabar dan tabliod maupun media elektronik (seperti dalam televisi dan radio) adanya hubungan yang tidak setara atau ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan (Jurnal Perempuan No. 28, Maret 2003).

Jurnalisme sadar gender muncul  ketika isu gender mengemuka dan dunia jurnalistik konvensional yang ada masih berpegang pada dalih-dalih prinsip “netral”, “objektif”, dan “apa adanya” dianggap ikut bertanggung jawab terhadap berabagai ketidakadilan yang dialami perempuan.

Di antara banyaknya persoalan, setidaknya terdapat lima hal penting berkaiatan dengan fenomena sensitif gender, khususnya terhadap subordinasi perempuan di media. Pertama, media massa masih memberi tempat bagi proses legitimasi bias gender, terutama dalam menampilkan representasi perempuan. Dapat diamati dari berbagai pemberitaan, iklan, film, sinetron, kuis, dan sebagainya. Yang ditampilkan adalah kondisi perempuan sebagai objek dengan visualisasi dan identifikasi tubuh; seronok, seksi, dan vulgar. Dalam pemberitaan kasus kriminal, perkosaan misalnya, perempuan juga sering digambarkan sebagai sosok yang seolah ikut andil sehingga menyebabkan kasus itu terjadi, bukan murni sebagai korban. Di sisi lain penempatan (positioning) perempuan sebagai korban (survivor) atau saat menjadi pelaku/tersangka juga sarat dengan warna eksploitasi. Seperti penyebutan yang berlebihan, misalnya “janda muda”, “gadis ingusan”, dan sebagainya. Sedikit sekali media massa yang menampilkan representasi perempuan berdasarkan perspektif perempuan. Bahkan pemberitaan tentang perempuan masih sangat fenomenal seperti ketika ada pemberitaan tentang Hari Ibu atau Hari Kartini. Itupun hanya terbatas pada acara-acara seremonial.

Kedua, dalam aktivitas jurnalisme, sangat sedikit kaum perempuan terlibat menjadi insan pers. Merujuk pada catatan PWI tahun 1998, sekitar 4.687 jurnalis laki-laki dan hanya 461 perempauan (Jurnal Perempuan No. 28, Maret 2003 hal. 57). Data kuantitatif ini barangkali tidak terlalu parah bila menafikan bahwa di antara jumlah yang sedikit tersebut,  para jurnalis perempuan juga banyak yang kurang sensitif gender karena umumnya mereka masuk dalam dunia jurnalistik yang sangat maskulin. Akibatnya, ukuran-ukuran pemberitaan yang digunakan masih menggunakan ukuran laki-laki sebagai pihak dominan dalam pengambilan keputusan. Tulisan-tulisan yang disajikan para jurnalis perempuan pun sudah dikondisikan dalam “pola laki-laki” (male patterns). Seandainya ada jurnalis perempuan yang concern terhadap sensitifitas gender, hanya menempati posisi yang kurang penting dalam jajaran dewan pengurus media. Bahkan dalam dunia pers Indonesia, nama-nama tokoh pers pun semuanya didominasi “laki-laki”. Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Jacob Oetama  dianggap sebagai tokoh pers. Jarang sekali nama Roehanna Koeddoes, Herawati Diah, atau Toeti Azis disebut-sebut sebagai tokoh pers nasional.

Ketiga, kepentingan ekonomi dan politik menuntut para pemilik media tunduk kepada industri atau pasar yang memang lebih permisif terhadap jurnalisme yang tidak sensitif gender. Perempuan dan segala stereotipe-nya dalam pandangan media massa adalah komoditas yang laku dijual. Media massa sebagai bagian dari lingkaran produksi yang berorientasi pasar menyadari adanya nilai jual yang dimiliki perempuan, terutama sebagai pasar potensial. Kondisi kultural ini didukung pula oleh permasalahan kultural di level orgasisasional pers, terutama masalah coorporate culture yang masih sangat patriarkis,  seperti pemilihan kameramen yang umumnya laki-laki, sementara perempuan  menjadi presenter yang disorot kamera.

Keempat, regulasi media yang ada saaat ini tidak sensitif gender, Kode Etik PWI dan UU Pers misalnya, kurang memperhatikan masalah-masalah perempuan. Ditambah lagi, aturan-aturan normatif lainnya yang selama ini sudah ada pun tidak banyak ditaati oleh para pekerja media.

Kelima, penggunaan kosa-kata di media massa masih sangat seksis. Bila ditarik lebih jauh ke belakang, sejak dulu pun, perempuan tidak banyak dilibatkan dalam proses pembentukan bahasa. Semua bahasa di dunia berisifat patriarki. Di Indonesia, banyak sekali istilah-istilah yang mensubordinasikan perempuan. May Lan (2002)  menyebutkan, ada banyak bentuk seksisme bahasa, seperti makna peyoratif, aturan semantik dan penamaan. Misalnya kata memperkosa disinonimkan dengan menggagahi. Sangat bias, apakah sebuah perkosaan diartikan bahwa pealakunya adalah orang yang gagah atau sosok yang lebih gagah? Begitulah, telah terjadi distorsi, penurunan makna dari fakta yang diangkat.

Dua Kutub Jurnalisme

Di tengah banyaknya tuntutan agar jurnalisme konvensional yang selama ini ada dirombak dan disesuaiakan dengan kebutuhan nilai-nilai kemanusiaan,  muncul konsep-konsep jurnalisme yang bermuatan humanitarian, seperti jurnalisme damai, jurnalisme multikultur, jurnalisme empati, dan sebagainya. Jurnalisme sadar gender termasuk salah satu pendekatan yang dipakai guna mengatasi bias gender dalam pemberitaan media.

Konsep baru ini muncul setelah jurnalisme konvensional dalam pemberitaannya terlalu menonjolkan objektivitas dan tidak mempertimbangkan aspek-aspek gender. Subono, merujuk pada Eriyanto (2001) menempatkan empat variabel utama yang membedakan antara jurnalisme konvensional dan jurnalisme sadar gender, yaitu (1) fakta; (2) posisi media; (3) posisi jurnalis; (4) hasil peliputan atau pemberitaan.

Keempat variabel tersebut dapat digambarkan dalam kema sebagai berikut:

Skema I

Fakta
Jurnalisme Konvensional Jurnalisme Sadar Gender
Terdapat fakta-fakta yang nyata dan diatur oleh hukum-hukum/kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal Fakta yang ada pada dasaranya merupakan hasil dari ketidaksetaraan dan ketidakailan gender, dan ini berkaitan dengan dominasi kekuatan ekonomi–politik dan sosial budaya yang ada dalam masyarakat
Berita adalah refleksi dari realitas sosial yang ada. Karenanya berita harus bisa mencerminkan realitas sosial yang diberitakan Berita yang terbentuk merupakan refleksi dari kepentingan kekuatan dominan yang telah menciptakan ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender

Skema II

Posisi Media
Jurnalisme Konvensional Jurnalisme Sadar Gender
Media adalah sarana di mana semua anggota masyarakat dapat berkomunikasi dan berdiskusi dengan bebas, netra, dan setara Mengingat bahwa media pada umumnya dikuasai kepentingan dominan (patriarki) maka media seharusnya  menjadi sarana untuk membebaskan dan memberdayakan kelompok-kelompok yang marginal (khususnya perempuan)
Media adalah sarana yang menampilkan semua pembicaraan dan kejadian yang ada dalam masyarakat secara apa adaya Media adalah alat yang harus dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok marginal (terutama perempuan) untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender

Skema III

Posisi Jurnalis
Jurnalisme Konvensional Jurnalisme Sadar Gender
Nilai atau ideologi jurnalis berada di “luar” proses peliputan atau pelaporan berita/peristiwa Nilai atau ideologi jurnalis tidak dapat dipisahkan dari proses peliputan atau pelaporan berita/peristiwa
Jurnalis memiliki peran sebagai pelapor yang nonpartisan dari kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat Jurnalis memiliki peran sebagai aktivis atau partisipan dari kelompok-kelompok marginal (khususnya perempuan ) yang ada dalam masyarakat
Landasan moral (etis) Landasan ideologis
Profesionalisme sebagai keuntungan Profesionalisme sebagai kontrol
Tujuan peliputan dan penulisan: pemaparan dan penjelasan adapa adanya Tujuan peliputan dan penulisan: Pemihakan dan pemberdayaan kepada  kelompok-kelompok marginal, terutama perempuan
Jurnalis sebagai bagian dari tim untuk mencari kebenaran Jurnalis sebagai pekerja yang memilki proses berbeda dalam kelas-kelas sosial

Skema IV

Hasil Peliputan/ Pemberitaan
Jurnalisme Konvensional Jurnalisme Sadar  Gender
Hasil liputan bersifat dua sisi atau dua pihak secara seimbang- netral gender Hasil liputan merefleksikan ideologi jurnalis
“objektif”- netral, tidak memasukkan opini atau pandangan subjektif “Subjektif” karena merupakan bagian dari kelompok-kelompok marginal yang diperjuangkan
Memakai bahasa yang “baku” yang tidak banyak menimbulkan banyak penafsiran Memakai bahasa yang sensitif gender dengan pemihakan yang jelas
Hasil peliputan bersifat eksplanasi, prediksi dan kontrol Hasil peliputan bersifat kritis, transformatif, emansipatif, dan pemberdayaan sosial.

Sumber: Subono (2003)

Lalu bagaimana kemungkinan konsep-konsep jurnalisme sadar gender diterapkan dalam praktik jurnalisme di Indonesia? Walaupun konsep tersebut telah menjadi kajian serius di beberapa institusi media massa, rasanya belum sepenuhnya menjadi prioritas, bahkan dalam tataran empiris seringkali menunjukkan kontradiksi. Jurnal Perempuan atau Kompas sendiri misalnya, sebagai media percontohan kadang terlalu menonjolkan eksklusifitas perempuan dengan hak-hak emansipatifnya sehingga makin mempertajam perbedaan dengan kaum maskulin. Kenyataan seperti itu disinyalir terjadi akibat konsep jurnalisme di negara kita selama ini hidup di bawah tekanan rezim yang sangat partiarkis. Mental kritis-mandiri permempuan tidak pernah tidak pernah diberdayakan dalam media. Begitu kebebasan menjadi euforia, media massa langsung bebas melesat tanpa kendali.

Memang, untuk menyimpulkan telah adanya kesadaran gender setelah reformasi bergulir bisa dilihat dari hiruk-pikuk diskusi gender di ruang seminar dan media. Selain itu juga terlihat mulai munculnya kesadaran menerapkan jurnalisme sadar gender ataupun banyaknya aktivis feminis dari kalangan publik figur ataupun masyarakat umum yang berani berbicara tentang ketidakadilan gender dalam pemberitaan media massa. Sayangnya, kenyataan itu baru sebatas kasus per kasus saja, bukan praktik pada umum di lapangan, yaitu dalam masyarakat dan di seluruh media. Apalagi budaya partiarkis di Indonesia yang kadangkala diembel-embeli dengan dalih moral saat ini masih mendominasi ruang-ruang publik. Jadi bisa dikatakan bahwa  jurnalisme sadar gender di Indonesia saat ini masih menjadi mimpi yang sangat sulit diwujudkan.

Tapi bagaimanapun tidak ada kata pesimis jika semua stakeholders media mau terus-menerus mengkampanyekan penghapusan stigmatisasi dan diskriminasi gender melalui media massa, tentunya disertai tindakan nyata.

Penutup

Sebagai bagian dari instrumen beroperasinya media, gender merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam aktivitas jurnalisme. Untuk itulah, konsep jurnalisme sadar gender menjadi penting diterapkan mengingat persoalan-persoalan gender dalam media massa yang semakin mengemuka di Indonesia membutuhkan suatu solusi. Di satu sisi, evaluasi tentang berhasil tidaknya media massa Indonesia dalam mempraktikkan  jurnalisme sadar gender akan terus menjadi dialektika yang tidak usang, bukan hanya dalam pencarian jawaban “berhasil” atau “tidak, tetapi berhasilnya jurnalisme sadar gender yang peka terhadap isu-isu gender pada konteks saat ini sebenarnya lebih pada upaya awal yang strategis, yaitu terus menerus mencegah terjadinya bias pemberitaan gender lebih banyak lagi di media massa. Dengan catatan bahwa untuk mewujudkan harapan-harapan tersebut memang tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu usaha keras dan dorongan dari semua pihak/stakeholder yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia. Jika tidak, gembar-gembor tentang penghapusan stigmatisasi dan diskriminasi gender dalam praktik bermedia hanya berhenti pada tataran konsep, slogan, bahkan jargon semata.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s