Blog, Jurnalisme Warga, dan Tantangan Konvergensi Media

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Perkembangan teknologi media yang cepat dengan kemampuan konvergensinya atas media-media yang sudah ada sebelumnya, secara perlahan tapi pasti berdampak pada praktik jurnalisme. Jurnalisme warga (citizen journalism) sebagai sebuah genre baru dalam kajian jurnalistik lahir berkat adanya teknologi internet yang kemudian menghadirkan weblog (biasa disingkat blog), yaitu satu jenis web yang berisi tulisan, catatan, video, audio, komentar, atau informasi tentang topik tertentu seperti politik, berita daerah, hobi, kisah keseharian, dan beberapa data diri pemilik blog. Penggunaan blog yang awalnya sekadar untuk memenuhi kepuasan diri akhirnya berkembang menjadi aktivitas rutin untuk saling bertukar informasi di kalangan blogger.

Menyadari besarnya potensi blog untuk menjalin komunikasi secara lebih luas, maka motivasi para blogger akhirnya mengalami pergeseran dari orientasi pemuasan diri kemudian berkembang ke arah fungsi sosial yang lebih luas dengan cara saling melakukan tukar menukar informasi. Aktivitas ini kemudian menjadi awal berkembangnya jurnalisme warga yang memiliki karakter berbeda dengan jenis jurnalisme online yang telah lahir sebelumnya. Perubahan fungsi itu terjadi karena keberadaan blog didukung oleh infrastruktur yang memungkinkan adanya interkoneksi antar blog dalam cakupan global, terutama perkembangan web generasi 2.0.

Dibandingkan jurnalisme mainstream yang memaknai berita sebagai konstruksi atas realitas sosial yang dianggap penting dan menarik bagi banyak pembaca, jurnalisme warga menekankan pada aspek participation (partisipasi), proximity (kedekatan), dan humanity (kemanusiaan). Jurnalisme warga adalah proses pengumpulan data, penulisan, penyuntingan, dan penyebarluasan informasi oleh warga secara mandiri, nonprofit, merupakan ekspresi jati diri reporter maupun kebudayaan masyarakat sekitar. Praktik penyelenggaraan jurnalisme warga tidak dikendalikan oleh pihak manapun sehingga mereka memperoleh kebebasan penuh dan sangat independen. Oleh karena itu prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dibangun oleh jurnalisme warga dapat menjadi antitesis dari jurnalisme mainstream (Darmanto, 2007).

Dari sejumlah prinsip di atas, ciri yang paling menonjol adalah adanya keterlibatan atau partisipasi penuh dari warga sehingga mereka tidak hanya menjadi objek atas produk jurnalisme, tetapi sekaligus sebagai subjek allias pelaku jurnalisme. Dalam istilah yang dikembangkan oleh situs OhMyNews, “Every Citizen is a Reporter,” sebuah semboyan yang sangat radikal dan dapat menjungkir-balikkan pandangan konvensional tentang jurnalisme. Dengan kata lain, siapapun bisa menjadi dan diakui sebagai wartawan, tidak perlu lagi institusi resmi atau memiliki kartu pers. Karena sifat partisipasinya yang penuh, maka tidak ada klaim dari manapun yang merasa sebagai pihak paling bertanggung jawab, sehingga tidak berhak mendikte, mengarahkan, dan menentukan jenis berita atau informasi yang akan ditulis oleh para reporter sebagaimana lazimnya terjadi dalam media mainstream.

Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber dapat diketahui bahwa perubahan pola penggunaan blog dari yang sifatnya pribadi ke arah fungsi jurnalisme dimulai tahun 1988 ketika berlangsung pemilihan Presiden di Amerika Serikat. Jay Rosen dari University of New York disebut-sebut sebagai salah satu pelopor bangkitnya situs-situs jurnalisme warga. Kini sudah cukup banyak blog yang menjadi situs jurnalisme warga.  Di Korea Selatan, seorang yang bernama  Oh Yeon-Ho pada 22 Februari 2000 berhasil membangun situs jurnalisme warga yang diberi nama “OhMyNews.” Situsweb berbasis citizen journalism bertajuk OhMyNews (ohmynews.com atau english.ohmynews.com) dari Korea Selatan menjadi contoh kekuatan baru di era informasi global saat ini. Situs tersebut  sekarang mempunyai 42 ribu kontributor (dan terus bertambah) yang tersebar di berbagai negara.

Dalam kaitan ini, tidak heran jika majalah TIME edisi 25 Desember 2006 lalu menutup edisi tahun tersebut dengan memilih “Person of The Year 2006” adalah “Anda”. Ya, Anda. Siapapun orang di muka bumi yang pernah berinteraksi dalam dunia maya. TIME mencatat bahwa tahun 2006 adalah tahun penanda peradaban masyarakat informasi. Tidak hanya di AS, tetapi di belahan bumi manapun dari Inggris di Eropa, Korea Selatan di Asia, hingga Maroko di Afrika.

Dalam konteks di Indonesia, situs yang populer melakukan aktivitas jurnalisme warga antara lain halamansatu.net, wikimu.com, panyingkul.com, dan jalinmerapi/suara komunitas. Ditilik dari sejarahnya, cikal bakal jurnalisme warga di tanah air bermula dari ketertutupun politik sebelum Reformasi menyebabkan hadirnya berbagai portal dan milis (beberapa yang terkenal misalnya Indonesia-1/Apakabar, dan Joyonews) yang membahas isu-isu politik dan dimotori oleh mahasiswa-mashasiwa Indonesia di luar negeri. Di sisi lain, sejarah juga mencatat peran internet yang bisa dimanfaatkan oleh para aktivis anti-Soeharto secara efektif memunculkan gagasan reformasi dan menggerakkan mahasiswa yang berujung pada tumbangnya Orde Baru pada 21 Mei 1998. Saat ini jumlah blog di Indonesia mencapai ratusan ribu dan terus lahir setiap harinya (Tempo, 6 Agustus 2006). Meskipun blog tidak selalu identik dengan jurnalisme warga, namun angka tersebut cukuplah membuka mata untuk mengakui eksistensi jurnalisme warga.

Kehadiran jurnalisme warga yang dainggap sebagai era baru demokratisasi dan keterbukaan informasi ternyata menimbulkan kontroversi. Setidaknya ada tiga kelompok menyikapi jurnalisme warga. Pertama, dapat menerima secara penuh dan memberikan penguatan. Kedua, menerima dengan berbagai catatan, umumnya terkait dengan prosedur kerja jurnalisme konvensional yang tidak bisa dilepaskan begitu saja seperti kaidah 5W+1H atau nilai berita. Ketiga, pihak yang mengkritik, bahkan bersikap skeptis. Pihak yang kontra ini bahkan mempersoalkan keabsahan penggunaan istilah “jurnalisme” karena secara metodologis rasanya tidak tepat jika kegiatan yang hanya sekadar menulis dan mengirimkannya ke blog itu disebut sebagai jurnalisme atau altivitas jurnalistik.

Dalam kajian hukum formal, bahkan jurnalisme warga belum mendapat perlindungan sebagaimana profesi wartawan pada umumnya. Hukum jurnalisme warga misalnya dapat dilihat pada tanya jawab di situs hukumonline.com yang penulis kutip sebagai berikut (http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4fd971d99ca5d/hukum-jurnalisme-warga):

Pertanyaan:
Hukum Jurnalisme Warga

Misal, kejadiannya saya melihat ada sebuah mobil plat merah yang sedang mengisi premium di sebuah SPBU, kemudian saya berniat mengambil gambar kejadian itu untuk kemudian dipublikasikan melalui media sosial (social media) atau media mainstream. Apabila oknum plat merah tersebut melarang atau marah dengan perbuatan saya, apakah saya dapat membela diri dengan alasan demokrasi jurnalisme warga? Adakah peraturan hukum yang menjelaskan hal tersebut? Terima kasih.

Jawaban:
Ilman Hadi (Pakar Hukum)

Pada dasarnya, di Indonesia belum ada peraturan perundang-undangan yang secara spesifik mengatur tentang jurnalisme warga (citizen journalism).

Kegiatan jurnalistik untuk diberitakan adalah pekerjaan dari wartawan sebagai pekerja jurnalistik. Menurut Pasal 1 angka 4 UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers (“UU Pers”), wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik. Dalam pembuatan berita sendiri, wartawan memiliki pedoman yang salah satunya adalah setiap berita harus melalui verifikasi. Dan dalam menjalankan tugasnya, wartawan mendapat perlindungan hukum (Pasal 8 UU Pers).

Walaupun Saudara menjalankan praktik jurnalistik, tetapi jika Saudara bukanlah wartawan, Saudara tidak mendapatkan perlindungan hukum sebagai wartawan atas tindakan pengambilan dan penyebarluasan gambar tersebut. Tindakan Saudara memiliki risiko untuk dapat dituntut atas dasar pencemaran nama baik sesuai Pasal 310 ayat (1) dan ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”).

Akan tetapi, menurut Pasal 310 ayat (3) KUHP, perbuatan seseorang bisa tidak dikategorikan sebagai tindak pidana pencemaran nama baik bila dilakukan untuk membela kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri.

Dalam artikel Ancaman Pencemaran Nama Baik Mengintai, Prof. Muladi berpendapat bahwa tetap ada pembelaan bagi pihak yang dituduh melakukan pencemaran nama baik apabila menyampaikan suatu informasi ke publik. Pertama, penyampaian informasi itu ditujukan untuk kepentingan umum. Kedua, untuk membela diri. Ketiga, untuk mengungkapkan kebenaran.

Di sisi lain, jika foto tersebut disebarluaskan ke media sosial di internet, ketentuan dalam Pasal 27 ayat (3) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UUITE”) juga dapat diberlakukan:

“Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

Pelanggaran atas pasal ini diancam dengan Pasal 45 ayat (1) UUITE yakni pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.

Bisa dilihat bahwa tindak pidana pencemaran nama baik yang diatur dalam UU ITE tidak memiliki pengecualian seperti dalam KUHP. Pengaturan dalam UU ITE memang lebih tegas dan strict.  Namun, tindak pidana pencemaran nama baik ini merupakan delik aduan (Pasal 319 KUHP) yakni, hanya bisa diproses ketika ada pengaduan dari orang yang merasa dicemarkan nama baiknya.

Meskipun pendapat hukum di atas tidaklah final sebagai sebuah putusan, setidaknya perlu dikaji bagaimana jurnalisme warga bisa menjadi alternatif sumber informasi yang  bebas dan mencerdaskan tanpa emberl-embel ancaman hukuman yang menyeramkan jika terjadi malpraktik. Setidaknya hak koreksi dan hak jawab mengacu pada UU Pers.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

5 thoughts on “Blog, Jurnalisme Warga, dan Tantangan Konvergensi Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s