Menyoal Dakwahtainment di Televisi

Iwan Awaluddin Yusuf[1] 

Dakwah Entertainment selalu menguat setiap kali datang bulan Ramadhan. Fenomena ini sesungghnya menjawab kebutuhan relasi komoditas, yakni peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap siraman rohani saat bulan Ramadhan. Kebutuhan ini disadari oleh pengelola stasiun televisi yang jika dipenuhi dapat menaikkan jumlah penonton, selanjutnya menaikkan rating sebuah acara, dan pada gilirannya meningkatkan iklan.  Kegairahan masyarakat terhadap tayangan-tayangan religius dan siaran dakwah lewat televisi pada bulan Ramadhan sebenarnya merupakan indikasi positif seandainya berlanjut pada bulan-bulan setelah Ramadhan. Namun, kesadaran yang muncul karena tren mengikuti arus selera massa tak lain adalah bentuk strategi budaya populer yang mendasarkan pada hubungan transaksional antara pembuat produk dan penikmatnya.

Harus diakui, konsep program acara religi yang ada saat ini lebih banyak yang kurang tepat. Selama bulan puasa, sebuah tayangan makin tinggi nilai jualnya ketika menggunakan label-label agama. Beramai-ramai televisi mengusung label Gebyar Ramadhan, Semarak Ramadhan, Edisi Ramadhan, Spesial Ramadhan, Berkah Ramadhan sebagai tema tayangan. Pihak televisi atau Production House (PH) yang memproduksi acara mampu menyulap tayangan komersial menjadi tayangan yang terlihat religius. Religiusitas yang diciptakan oleh televisi menjadi religiusitas semu tanpa makna. Kadang simbol-simbol agama, berupa pakaian (sorban dan jilbab) atau ritual (salat, ucapan salam, adegan doa) dihadirkan tanpa konteks yang mendukung pesan moral, sekadar tempelan.

Di Indonesia, meski mayoritas penduduknya muslim, kecuali pada bulan Ramadhan, televisi tidak banyak menayangkan acara yang bernuansa dakwah. Hal ini berbeda dengan televisi di negara yang mayoritas muslim lainnya, sebutlah televisi di wilayah Timur Tengah. Mayoritas tayangan acaranya tak jauh dari siaran rohani tak hanya pada bulan Ramadhan. Bahkan tak sedikit televisi di sana menyiarkan tayangan tartil dan qiraatul Quran setiap harinya. Di Indonesia jaringan televisi kabel juga strategis sebagai sarana berdakwah terutama pada stasiun televisi yang mengkhususkan segmen religi. Sedangkan untuk media digital, yang menarik saat ini, da’i-da’i di berbagai negara barat justru banyak berdakwah lewat internet. Sebagai contoh tasawufon-line yang dikembangkan Syeh Kabbani di Amerika Serikat tergoglong sukses, bahkan berhasil menjaring puluhan ribu orang memeluk agama Islam.

Jika diajukan satu pertanyaan, apakah maraknya tayangan dakwah entertainment di TV dapat menjadi ukuran keberhasilan dakwah yang sesungguhnya? Sebagian kalangan berpendapat maraknya tayangan dakwah entertainment di TV merupakan kondisi yang positif karena banyak metode dalam berdakwah. Dan dakwah gaul di televisi salah satu strateginya. Sering diistilahkan dengan “dakwah bilTivi”. Namun, jika ditilik dari misi sesungguhnya dari “dakwah” gaya televisi itu tentu kita boleh curiga (suudzon), niatan religius yang dominan dengan muatan bisnis semata justru bisa mengarah pada kemunduran dakwah itu sendiri. Artinya, semakin banyak yang menonton bukan semakin berhasil misi religiusnya, namun semakin banyak keuntungan finansial yang diraup. Sebuah ironi ketika agama memuat ajaran-ajaran yang berlawanan dengan nilai kapitalisme, tetapi justru agama dijadikan alat mencapai mencapai tujuan kapital. Itu baru  satu aspek saja.

Pesan-pesan agama yang disajikan televisi telah disederhanakan bentuknya atau bahkan dijadikan bahan sensasi yang semuanya tergantung dari perolehan iklan. Ini terjadi karena program religius yang ditayangkan secara ideal tanpa bumbu komodifikasi, jarang memperoleh iklan. Pada akhirnya, penayangan program religius di televisi seolah-olah hanya menjadi bentuk pelayanan publik semata, demi menghindari tuntutan kelompok masyarakat  yang skeptis terhadap kehadiran televisi.

Dalam kaitan ini, apa yang perlu dilakukan, oleh pemirsa maupun pengisi acara TV?Ada beberapa strategi menghadapi situasi ini. Pertama, bagi pemirsa (masyarakat) hendaknya meningkatkan literasi bermedia (istilah lainnya melek media) sehingga memiliki preferensi yang cukup dalam berinteraksi dengan media. Ingat bahwa dalam tayangan apapun di televisi terdapat keterlibatan unsur penyutradaraan dan rekayasa penyiaran. Kualitas sutradara dan pemahaman penulis skenario terhadap agama juga tidak sama; apalagi yang hanya bertujuan jualan program agama kepada pengiklan. Kedua, bagi pengelola televisi secara umum dituntut mengindahkan penerapan Kode Etik Jurnalistik serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) secara konsisten, terutama berkaitan dengan tayangan religi. Keempat, peran masyarakat dan lembaga pemantau media (media watch) perlu dioptimalkan sebagai mitra yang setia mengingatkan media jika bertindak kebablasan dalam cara berdakwah. Banyak saluran untuk menyuarakan hak keberatan masyarakat seperti menggunakan Hak Jawab, mengadu ke KPI, Dewan Pers, ombudsman media bersangkutan, dan sebagainya.


[1]Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

3 thoughts on “Menyoal Dakwahtainment di Televisi

  1. Pingback: Menyoal Dakwahtainment di Televisi « Rizqisme

  2. Televisi untuk mencerdaskan bangsa, kita sedang berpropaganda atau apa. Tidak suka dengan televisi matikan saja benda itu. Jangan paksa televisi menangani urusan yang semestinya diawali dari keluarga dan sekolahan. Kalau sekarang sekolahan dikomersialisasi, apa televisi tidak boleh menikmati hal itu. Semua boleh dijual di televisi, dari produk barang, jasa, buah dada, politik sampai agama. Tidak ada urusan sama yang namanya kecerdasan bangsa. Seharusnya kita yang mulai membiasakan diri mematikan televisi. Kalau tidak doyan dengan jualan televisi, jangan beli sekalian. Mau lebih naif salahkan saja pencipta televisi atau Tuhan yang menganugerahi manusia kemampuan membuat televisi.

  3. Semangat yang bagus, Bung kupretist. Mematikan tivi adalah salah satu strategi yg efektif. Tapi persoalannya, televisi itu menggunakan udara kita bung (frekuensi elektromagnetik yg sangat terbatas), jadi tidak serta merta kita membiarkannya penyalahgunaanya begitu saja. Selengkapnya sila baca postingan sy yang membahas pengaturan televisi yang menggunakan public domain-frekuensi publik.
    https://bincangmedia.wordpress.com/2011/11/24/tak-cukup-hanya-memindah-channel-dan-mematikan-tv/
    Thx.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s