Peneguhan Rasisme dan Groupthink Syndrome di Perguruan Tinggi (Resensi Film)

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Film ini dimulai dengan cerita tentang orang-orang yang memasuki lingkungan sosial yang baru dengan latar belakang berbeda kemudian timbul masalah ketika mereka harus menyesuaikan diri.

Jika dibandingakan dengan tema-tema sejenis, Higher Learning tidak termasuk kategori fenomenal, apalagi mencetak box office. Ledakan ide yang disajikan pun rasanya kurang menggigit. Cukup jauh bila harus menandingi “kegilaan”  Dead Poet Society (1989), film bertema kampus yang dibintangi aktor gaek, Robbin William.

Namun, ada proposisi yang menarik dari film bergenre remaja ini ketika berani menggagas hitam-putih bahwa dalam penyesuaian terhadap lingkungan, manusia memiliki proses berliku dengan segala konsekuensi yang berakhir pada jawaban “berhasil” atau “gagal”.

Ditambah lagi, setting film mengambil kehidupan di perguruan tinggi yang umumnya harus dilewati sebagian orang, terutama peralihan dari remaja menjadi dewasa. Kampus adalah perwujudan lingkungan sosial yang merefleksikan kompleksitas masyarakat dalam “dunia mini”. Fakta tersebut memunculkan kecenderungan, saat seseorang memasuki kampus untuk pertama kalinya ibarat lahir ke dunia baru yang sarat dinamika sosial. Transisi dan chaos menjadi sebentuk keniscayaan.

Penggambaran Colombus University (CU) dalam film arahan Sutradara John Sigleton ini cukup memikat. Dengan penjelasan bahwa kampus itu menampung 18.000 mahasiswa dari 32 kebangsaan dan 6 ras, memaksa kita untuk berpikir; pluralitas semacam itu ada di sekitar kita, di kampus kita.

Di lain sisi, konstruk dialog yang dibangun antara senior dan yunior mengingatkan kita tentang adanya indoktrinasi ideologi yang seringkali diterima mahasiswa saat mereka trerjun menjadi aktivis kampus. Pilihan terhadap ”nilai-nilai” akhirnya sangat ditentukan dari aktivitas apa yang dijalani di komunitasnya.

Tokoh-tokoh dengan peran karakter yang sangat berbeda satu sama lain  memperlihatkan pola-pola hubungan manusia yang bervariasi. Ini bisa dilihat dari tiga karakter sebagai tokoh sentralnya, yaitu Remy, Kristen dan Malik William yang semuanya mengusung  predikat  “krisis identitas”.

Remy (Michael Rapaport) adalah figur sosok yang selalu merasa kesepian, introvert kemudian terindoktrinasi oleh kelompok Neo Nazi hingga melakukan tindakan yang akhirnya sangat disesali dan dibayar mahal dengan bunuh diri. Dari kacamata psikologi, Remy adalah potret manusia yang gagal membunuh rasa kesepiannya dan menyalurkannya dengan cara yang tidak benar (pengertian “benar” di sini merujuk pada konstruksi normatif dalam pandangan masyarakat awam).

Menurut Jones (1982), ada perbedaan yang lebih halus antara tingkah laku mahasiswa yang mampu dan tidak mampu mengatasi kesepian. Jones mengamati bahwa mahasiwa yang kesepian berinteraksi dengan cara yang lebih terfokus pada diri sendiri dibandingkan apa yang dilakukan oleh mahasiswa yang tidak kesepian. Misalnya, dalam percakapan dengan seorang kenalan baru, mahasiswa yang kesepian mengajukan lebih sedikit pertanyaan tentang orang lain, membuat lebih sedikit pertanyaan mengenai tentang orang lain, dan memberikan respons yang lebih lambat untuk mengomentari kenalannya itu. Orang yang kesepian cenderung menjadi lebih negativistik dan sibuk dengan diri sendiri serta kurang responsif terhadap orang lain.

Penelitian lain (Solano, Batten, & Parish, 1982) menyatakan bahwa mahasiswa yang kesepian biasanya memiliki pola pengungkapan diri yang tidak wajar; mencurahkan isi hati kepada seseorang yang baru saja dikenal atau sebaliknya, mengungkapkan sangat sedikit hal tentang dirinya.

Dari analisis Jones maupun Solano, Batten dan Parish, terlihat jelas dari banyak tindakan yang dilakukan Remy. Seperti saat pertama kali menjadi mahasiswa di CU dan harus bersosialisasi dengan teman-temannya, ia terlihat begitu kesulitan menyesuaikan diri. Atau ketika ia tidak berdaya menghadapi gangguan teman-temannnya (c.q ”musuh?”) ras kulit hitam. Remy harus mengambil keputusan berdasarkan pandangan kelompoknya, Neo-Nazi. Remy benar-benar tidak memiliki inisiatif murni yang berasal dari pemikirannya.

Sementara itu, Kristen (Kristy Swanson), tokoh lain dari film ini adalah figur dengan latar belakang keluarga yang carut marut dari segi ekonomi. Dalam perkembangannya is mengalami efek traumatis perkosaan yang menyebabkan pandangannya seketika berubah tentang hubungan laki-laki dan perempuan.  Pandangannya menjadi sensitif-negatif terhadap banyak hal. Akhirnya ia terindoktrinasi oleh teman wanitanya yang memperjuangkan falsafah feminisme. Pendekatan interpersonal yang dilakukan temannya sangat efektif. Saking hebatnya pendekatan interpersonal yang dilakukan mampu membawa Kristen pada penyimpangan seksual, menjadi seorang biseks. Tapi di sisi lain, Kristen adalah sosok manusia yang mampu bangkit dari kegagalan walaupun harus melalui penguatan baru di lingkungan sosialnya.

Adalah Malik William (Omar Epps), tokoh ketiga dalam film ini, mahasiswa baru berkulit hitam yang mendapatkan beasiswa di Colombus University karena kemampuannya sebagai atlet lari (Barangkali jika dianalogikan dengan kampus Indonesia, semacam mahasiswa hasil seleksi atlet daerah yang berprestasi -PBUD). William mendapatkan indoktrinasi dari kakak kelasnya sesama kulit hitam tentang ketimpangan ras dan perlakuan tidak adil yang mereka terima dari orang-orang kulit putih.

Persoalan yang mengemuka dalam diri Malik sebenarnya berawal dari strereotipe yang terbangun tentang dirinya. Ia distigma kulit hitam yang dijadikan “budak” laksana kuda yang disuruh terus berlari oleh tuannya. Malik ingin menghilangkan kesan itu dan mulai banyak belajar tentang diri dan lingkungan dari orang disekitarnya. Sayangnya, pembelajaran yang diberikan teman-temannya mengarahkan Malik untuk menggunakan kekerasan sebagai kekuatan hidup. Di sudut lain pacar Malik adalah malaikat kebaikan yang selalu sabar menasihatinya. Akibatnya, Malik mengalami pertentangan dalam dirinya untuk menentukan mana yang harus didengar. Ironis, situasi memaksa Malik sering menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Berbagai karakter dan segala persoalan yang ditampilkan dalam film ini berhasil menggambarkan sedikit dari proses perjalanan hidup mahasiswa dalam menghadapi masalah yang akan terus dihadapinya di lingkungan kampus di tengan stereotipe dan konflik laten rasialisme. Barangkali kesimpulan sederhana yang bisa diambil dari film ini adalah penyadaran tentang adanya beragam bentuk efek interaksi manusia baik terhadap dirinya sendiri, maupun lingkungan sosial ketika memasuki sebuah lingkungan yang baru dengan berbagai resiko adanya groupthink syndrome.

Groupthink Syndrome sendiri adalah sebuah gejala yang mengindikasikan cara berpikir seseorang/sekelompok orang yang kohesif untuk selalu sepakat karena kebulatan suara mayoritas dan mengabaikan alternatif-alternatif tindakan yang realistis dan rasional (Mulyana, 1999: 113-114). Kesepakatan ini kadang menjadikan suatu paksaan bagi anggota kelompok (atau pimpinan kelompok) karena sebenarnya ia tidak setuju, namun karena mayoritas anggota kelompok terlalu loyal dan menjadikan dirinya seragam (conform) pada kelompoknya, akhirnya menciptakan tekanan-tekanan kelompok yang menyebabkan suatu tindakan atau kebijakan menjadi tidak bijak, serampangan, gebyah uyah (pukul rata), tidak produktif, tak jarang sampai mengabaikan nilai-nilai moral. Dalam groupthink syndrome, pemimpin kelompok berusaha meredam ketidaksepakatan angggotanya, meski sangat bertentangan dengan kata hatinya, bahkan ia tahu akan merugikan kepentingan yang lebih besar.

Kohesi menjadi prasayarat terciptanya groupthink. Kohesi adalah semangat kelompok yang tinggi, sebuah ikatan kedekatan dengan hubungan interpersonal yang akrab, kesetiakawanan, dan perasaan “ke-kita-an” yang sangat dalam (Rakhmat, 2002: 164). Menurut Bettinghaus (1973, dalam Rakhmat, 2002: 164), kohesi kelompok ditandai dengan beberapa gejala, satu di antaranya jika anggota kelompok yang berbeda/menyimpang (devian) akan ditentang keras. Pemimpin atau komunikator akan dengan mudah berhasil memperoleh dukungan kelompok jika gagasannnya sesuai dengan mayoritas anggota kelompok. Sebaliknya, ia akan gagal jika menjadi satu-satunya devian dalam kelompok.

Di sisi lain, film ini juga ingin mengajak kita untuk merefleksikan kenyataan bahwa selalu saja ada mahasiswa yang tidak paham untuk apa menjadi mahasiswa dan bagaimana seharusnya bertindak setelah menjadi seorang mahasiswa. Ada pesan moral berisi ajakan kepada mahasiswa baru untuk tidak tergagap melihat realitas kehidupan di perguruan tinggi yang “aneh-aneh”.

Jadi, buat siapa saja yang merasa dan ingin menjadi “mahasiswa baru”, dengan kebaruan wacana berfikir, rugi besar bila tidak menonton film ini. (Iwan Awaluddin Yusuf).

=======================================================

Judul : Higher Learning

Sutradara : John Singleton

Pemain: Kristy Swanson (Kristen Connor),  Michael Rapaport (Remy),  Jennifer Connelly (Taryn), Ice Cube (Fudge), Jason Wiles (Wayne),  Cole Hauser (Scott Moss), Laurence Fishburne (Professor Maurice Phipps).

Produksi : Columbia TriStar Motion Picture Group (1995)


1)  Dosen Ilmu Komunikasi UII, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s