Mendiskusikan “Netralitas” Teknologi

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Apakah teknologi bersifat netral? Jika dilihat dari fungsi dasar mesin dan prinsip-prinsip kerjanya, maka jawabannya mungkin iya. Namun jika ditelusuri dari relasinya yang kompleks dengan aktivitas manusia di balik teknologi tersebut, maka jawabannya: teknologi tidaklah netral. Sebab, di belakangnya menyangkut sistem dan seperangkat nilai yang dianut masyarakat. Kehadiran teknologi tidak bisa dilihat sebagai entitas yang terpisah dari realitas hidup manusia. Dilihat dari kehidupan sehari-hari di sekitar kita, teknologi merupakan bagian penting dalam praksis kehidupan manusia. Sebagai contoh; teknologi bisa berada “di dalam” tubuh manusia (teknologi medis, teknologi pangan); “di samping” (telepon, faks, hp, komputer); dan “di luar” (satelit). Kedekatan manusia dan teknologi juga tampak dari fungsi teknologi yang menjadi tempat tinggal (misalnya ruangan ber AC, kapal selam) dan kepanjangan indera manusia (kacamata, alat bantu dengar).

Relasi manusia dan teknologi bersifat mutual. Teknologi digunakan oleh manusia, pada saat yang sama ia menggunakan manusia. Relasi mutualisme itu bersifat kompleks. Relasi tersebut dalam ilmu bio-filsafat dianalogikan sebagai Jaringan Rizhomatic, yaitu jaringan percabangan yang sedemikian rumit sehingga mana sebab dan mana akibat menjadi tidak jelas lagi. Dalam kaitan ini, segala hal bisa menjadi penyebab sekaligus akibat.

Tiga bidang besar dalam praksis kehidupan modern; sains, teknologi, dan budaya tidak bisa dilihat sebagai entitas-entitas yang mandiri. Sains dibentuk oleh teknologi dan budaya; teknologi dibentuk oleh kultur dan sains; kultur dibentuk oleh sains dan teknologi. Jadi masing-masing saling membentuk dan dibentuk oleh yang lainnya. Kultur sudah menjadi tekno-kultur, sains menjadi tekno-sains, dan sebagainya.

Walapun ada keterkaitan yang sangat kuat, mendefinisikan teknologi bukanlah perkara mudah. Teknologi adalah sistem aplikasi atau pengetahuan yang tertata, yang berguna untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan praktis. Dari definisi ini menyiratkan tiga aspek, yaitu: aspek budaya, aspek organisasi, dan aspek teknis.

Aspek budaya mencakup pengertian epistemologis tentang teknologi dilihat dari tujuan penciptaannya, nilai-nilai dan aturan main penggunaan teknologi tersebut, serta kesadaran akan inovasi dan kreativitas yang menyertai kehadiran suatui teknologi. Aspek organisasi meliputi aktivitas ekonomi dan industri, perilaku profesional di bidang teknologi, pelaku-pelaku di balik pembuiatan teknologi, seperti perancang, teknisi, pekerja produksi, sampai pada pengguna (users) atau pembeli (consumers).

Sementara itu, aspek teknis teknologi menyangkut operational-literacy seperti pengetahuan tentang cara penggunaan, cara perawatan, kemampuan dan ketrampilan mengoperasikan, serta perangkat-perangkat teknis, seperti alat (tools/harrdware), bahan baku, bahan kimia, limbah yang ditimbulkan, peralatan yang sudah tidak terpakai, dan sebagainya.

Berangkat dari argumen di atas, maka dapat dismpulkan bahwa esensi dari konsep teknologi adalah: 1. Teknologi adalah alat;  2. Teknologi dilahirkan oleh sebuah struktur ekonomi, sosial dan politik;   3. Teknologi membawa nilai-nilai yang berasal dari struktur ekonomi,  sosial, dan politik tertentu.

Kembali pada pertanyaan awal, apakah teknologi bersifat netral? Menjawab pertanyaan tersebut, Pacey (2003) memaparkan sejarah kelahiran dan perkembangan teknologi kendaraan salju (snowmobile) di Amerika Utara dan berbagai tempat lain, serta mengaitkannya dengan berbagai konteks yang melingkupinya, baik dengan melihat latar belakang alam, budaya, ekonomi, bahkan politik.

Pada awalnya, kesuksesan penjualan snowmobile terjadi karena berhasil menjawab kebutuhan masyarakat di Amerika Utara yang menjadikan jenis kendaraan itu sebagai sarana vital transportasi yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas di wilayah bersalju. Namun pada perkembangan selanjutnya, kehadiran snowmobile mulai dipertanyakan karena dalam praktiknya, di tempat-tempat tertentu, kendaraan ini oleh sebagian penggunanya hanya digunakan sebagai simbol idenditas, gaya hidup, sarana rekreasi, bahkan peralatan olahraga salju yang berpotensi merusak lingkungan, termasuk sumber polusi.

Pro-kontra dalam menyikapi kehadiran sonwmobile apakah menguntungkan atau merugikan, sesungguhnya merupakan contoh adanya perdebatan panjang mengenai entitas teknologi: netralkah teknologi praktis—semacam snowmobile ini? Atau kehadirannya merupakan manifestasi dari berbagai kepentingan dan nilai-nilai tertentu? Terlepas dari perbedaan cara pandang dan argumentasi yang kemudian mengemuka, pada dasarnya objek perdebatannya tetap menyangkut satu teknologi yang sama, yaitu snowmobile.

Snowmobile yang dikenalkan pada pesta olahraga musim dingin tahun 1960-an adalah contoh kesuksesan satu bentuk teknologi yang laris di pasaran masyarakat di Canada dan utara Amerika Serikat sebagai alat mobilitas selama musim dingin. Sebagai barang komoditas, setiap tahunnya angka penjualan snowmobile meningkat dua kali lipat dan booming pada tahun 1970-1971. Saat itu snowmobile terjual hampir setengah juta unit. Tren tingginya angka penjualan ini selama beberapa waktu tetap stabil meski kondisi ekonomi Amerika sempat melemah.

Dengan demikian terlihat jelas bahwa teknologi yang bernama snowmobile merupakan bagian dari nilai-nilai ekonomi dan budaya masyarakat sehingga kehadirannya bukanlah sesuatu yang netral datang dari ruang hampa. Ilustrasi snowmobile tentunya dapat diganti dengan berbagai teknologi lainnya yang ada di sekitar kita. (Iwan Awaluddin Yusuf )


1  Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s