Bahasa Jurnalistik: Berbahasa dengan Ekonomi Kata

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

“Keringkasan ialah daya tarik besar kefasihan lidah”

(Cicero)

“Keringkasan dan kepadatan isi ialah orangtua perbaikan”

 (Hosea Ballou)

“Makin banyak yang Anda katakan, makin kurang yang diingat orang. Makin sedikit perkataan, makin besar keuntungan”.

(Walt Whitman)

“Kalimat yang terbaik adalah kalimat yang terpendek”

(Gustave Flaubert)

 

Sebagai bagian dari karya jurnalistik, bahasa berita memiliki sedikit perbedaan dengan Bahasa Indonesia pada umumnya. Bahasa ini dikenal dengan sebutan Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik (BIRJ). Setidaknya ada empat karakteristik yang menyebabkan lahirnya Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik (Bachtiar, 2000). Pertama, pekerjaan wartawan dan redaksi selalu berpacu dengan waktu. Kedua, panjang tulisan/laporan jurnalistik dibatasi oleh halaman media cetak, durasi siaran media elektronik, atau lebar layar monitor pada media internet. Ketiga, jumlah media di Indonesia kini berjumlah ribuan sehingga persaingan antaramedia kian ketat, hanya laporan yang enak dibaca/didengar yang akan diakses khalayak. Keempat, tulisan jurnalistik berbahan baku fakta, sehingga jurnalis tak perlu menulis berita dengan bahasa yang muluk-muluk atau mendayu-dayu seperti pada cerita fiksi/karya sastra.

Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik sendiri merupakan bagian dari kategori karya tulis jurnalistik. Pembagian selengkapnya tentang tipologi karya tulis dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tipologi Karya Tulis

Karya Tulis Akademis

Karya Tulis Jurnalistik

Karya Tulis Sastrawi

Bahasa Indonesia Kaku dan Resmi, Sering Kaku Bahasa Indonesia Harus Baku tapi Fleksibel, Dituntut memikat Bahasa Indonesia Tidak Harus Baku dan Resmi, tapi Indah-Memikat
Bersifat Impersonal (Tidak Ada Lisensi Prosa/Poetika) Boleh Bersifat Personal dan Impersonal Bersifat Personal (Lisensi Prosa/Poetika Mutlak)
Memegang Asas Objektivitas Lebih Banyak yang Menganut Asas Objektivitas, tapi Mulai Banyak yang Subjektif Menuntut Subjektivitas Demi kekuatan Tulisan
Beredar di Kalangan Akademisi Dibaca oleh Khalayak Umum Dibaca oleh Khalayak Umum
Bentuk-bentuknya: Makalah, Laporan Riset, Skripsi, Tesis, Disertasi, Peraturan-peraturan, Naskah Pidato Resmi, dll. Ragam-ragamnya: Berita, Artikel, Esai, Feature, Laporan Wawancara, Pojok, dll. Jenis-jenisnya: Novel, Cerpen, Puisi, dll.
Faktual dan Analisis Faktual, Analisis, Subjektif, atau Menghibur Fiktif, Menghibur, Subjektif

Sumber: Adaptasi dari Stanley (1999), dalam  Makalah Hasan Bachtiar “Bahasa Bukanlah Penjara”, Diklat Jurnalistik Bulaksumur Pos , 18 November 2000.

 Aneka Ragam Bahasa Indonesia

Dasar Kategori

Nama Ragam

Suasana pemakaian Resmi
Tidak resmi/santai
Sarana pemakaian Lisan
Tulisan
Penutur/pemakai Inetelektual: pelajar, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dll.
Hukum: hakim, jaksa, pengacara, dll.
Pemerintahan: birokrat, politisi, dll.
Militer: tentara polisi, dll
Seniman: penyanyi, penari, pelukis, prosais, dll.
Rohaniwan: ulama, pendeta, biksu, pastur, dll
Kalangan bisnis: wiraswastawan, manajer, dll.
dsb.
Bidang pemakaian Dunia keilmuan
Kesusastraan dan kesenian
Perpolitikan, perundang-undangan
Media massa/jurnalisme
Bisnis, perekonomian
Keagamaan, spiritualitas
Keamanan, kemiliteran, kriminalitas,
dsb.
Wilayah pemakaian Dialek Minangkabau, Padang, Riau
Dialek Yogyakarta, Surabaya, Banyumas
Dialek Betawi, Sunda, Batak,
dsb.

Adaptasi: M. Ramlan, dkk. (1997); dalam Makalah Hasan Bachtiar  “Bahasa Bukanlah Penjara”, Diklat Jurnalistik Bulaksumur Pos, 18 November 2000.

Ekonomi Kata

Stanley, pengamat media dari ISAI menyimpulkan bahwa pada dasarnya bahasa jurnalistik dibangun berdasarkan kesadaran akan terbatasnya “ruang dan waktu”. Oleh karena itu, dalam menulis berita wartawan harus memegang prinsip “ekonomi kata”, yakni “efisiensi wacana” yang diikuti asas “hemat pangkal jelas”. Mengapa demikian? Tugas utama seorang jurnalis adalah membantu orang untuk mengerti apa yang terjadi di sekitar mereka dengan bahasa yang sederhana. Ia harus menyederhanakan bahasa untuk pembaca. Wartawan harus pandai memilah kejadian dan pokok permasalahan yang paling rumit sekalipun, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa yang mudah dimengerti. Zulkarnain (2002) mengemukakan tiga syarat menyederhakan  bahasa.

1.  Gunakan alimat pendek, tajam, dan jelas. Anda harus selalu memilih kata-kata dan kalimat yang memberi arti paling tepat dengan risiko membingungkan sekecil mungkin. Secara umum ini berarti pemilihan kata-kata dan kalimat pendek dan sederhana.

2.  Jaga panjang kalimat. Tidak ada satupun peraturan mengenai panjang kalimat dalam penulisan berita, tapi Anda harus menentukan sendiri untuk jumlah kata maksimum yang Anda gunakan. Misalnya tiap kalimat jangan sampai lebih dari 25 kata. Jika Anda mengikuti peraturan ini, kalimat menjadi lebih sederhana, sedikit ruang untuk kesalahan dan Anda lebih efisien menggunakan kata.

3. Gunakan kahasa yang hidup. Kata-kata yang Anda gunakan akan membantu membuat cerita Anda menjadi mudah dimengerti. Tetapi hati-hati jangan sampai mengobral kata-kata. Ekonomi kata adaah segalanya dalam penulisan berita

Untuk melihat cara kerja kalimat efektif, cermati kalimat berikut:

Orang itu berlari cepat menyeberangi jalan untuk menolong bocah lelaki tak berdaya yang sedang dipukuli secara brutal.

Hilangkan kata sifat dan keterangan yang dicetak tebal karena tidak diperlukan dan hanya memperlambat kalimat. Kata cepat tidak perlu karena orang biasanya tidak berlari pelan. Bocah lelaki pastilah tak berdaya, kalau tidak tentu saja ia tidak dipukuli. Dan kata secara brutal juga tidak perlu, karena kebanyakan pemukulan itu brutal. Kalimat itu sekarang menjadi lebih tajam.

Orang itu berlari menyeberangi jalan untuk menolong bocah lelaki yang sedang dipukuli.

Dalam praktiknya, penggunaan kalimat efektif dan ekonomi kata dapat dilakukan dalam dua level, yaitu unsur kata dan unsur kalimat.

A. Unsur Kata, antara lain:

Dilakukan dengan menghilangkan atau mempertimbangkan pemakaian kata tertentu, misalnya:

1. “bahwa”, contoh;

“Presiden SBY berkeyakinan bahwa sejumlah menteri di kabinetnya masih bisa diandalkan”.

Sebaiknya,

“Presiden SBY berkeyakinan, sejumlah menteri di kabinetnya masih bisa diandalkan”.

2. “adalah” contoh;

Adalah merupakan kenyataan, bahwa kenaikan harga BBM memberatkan rakyat miskin”.

Sebaiknya,

“Merupakan kenyataan, kenaikan harga BBM memberatkan rakyat miskin”.

3. “telah”, contoh;

“Kemarin Presiden SBY telah melantik kabinetnya di Istana Negara”.

Sebaiknya,

“Kemarin Presiden SBY melantik kabinetnya di Istana Negara”.

4. “untuk”, contoh;

“Gus Dur bermaksud untuk  membicarakan pencalonan dirinya

sebagai presiden”.

Sebaiknya,

“Gus Dur bermaksud membicarakan pencalonan dirinya sebagai presiden”.

5. “mengenai”, contoh;

“Gus Dur bermaksud membicarakan mengenai pencalonan dirinya

sebagai presiden”.

Sebaiknya,

“Gus Dur bermaksud membicarakan pencalonan dirinya sebagai presiden”.

6. “dari”/”daripada”, contoh;

“Sumanto adalah bapak dari/daripada anak ini”.

Sebaiknya,

“Sumanto bapak  anak ini”.

7. kata jamak, contoh;

semua pejabat-pejabat,  banyak gedung-gedung

Sebaiknya,

semua pejabat,  banyak gedung

8. kata-kata asing, contoh;

“Setelah score menjadi 1-1, pendukung PSS Sleman bersorak-sorai”

Sebaiknya,

“Setelah kedudukan menjadi 1-1, pendukung PSS Sleman bersorak-sorai”

9. akronim, contoh;

“Dephankam” sebaiknya “Departemen Pertahanan dan Kkemananan”

“Nekolim”sebaiknya“Neokolonialisme”

“Jagung”sebaiknya “ Jaksa Agung”

10. diksi, contoh;

“Postproklamasi” sebaiknya “pascaproklamasi”

“pascakolonial” sebaiknya “postkolonial”

”Mereka anggap semua pengeluaran ini sebagai infak di jalan Allah yang pahalanya tak ketulungan”.

Kesalahan yang terdapat pada kalimat di atas adalah pemilihan kata tak ketulungan yang tidak tepat. Kata tak ketulungan (bahasa Jawa) bermakna negatif yakni tak tertolong. Contohnya: Si Topan bandelnya tak ketulungan. Padahal, konteks kalimat bermakna positif, yakni pahalanya besar sekali. Perbaikan kalimat di atasn adalah sebagai berikut.

”Mereka anggap semua pengeluaran ini sebagai infak di jalan Allah yang pahalanya besar sekali”.

11. gejala hiperkorek, contoh;

“akhli” seharusnya “ahli”

“syurga” seharusnya “surga”

12. Kata baku/tidak baku, contoh:

“praktek” seharusnya “praktik”

“Nopember” seharusnya “November”

“Pebruari” seharusnya “Februari”

“resiko” seharusnya “risiko”

“sekedar” seharusnya “sekadar”

“olah raga” seharusnya “olahraga”

B. Unsur Kalimat, antara lain:

1. Kerancuan (kontaminasi)

“Tulisan-tulisan Bung Hatta yang selama ini berserakan berhasil dikumpulkan dalam sembilan jilid besar”.

Struktur kalimat tersebut rancu. Sebenarnya bentuk kalimat itu adalah kalimat pasif jika dilihat dari predikatnya dikumpulkan. Tetapi, karena disisipi predikat lain yaitu berhasil, kalimat tersebut tidak jelas, apakah pasif atau aktif. Berhasil merupakan penanda predikat kalimat aktif, seperti halnya bermain, bertemu, berkelahi.

Kalimat yang benar adalah sebagai berikut.

”Tulisan-tulisan Bung Hatta yang selama ini berserakan dikumpulkan dalam   sembilan jilid besar”.

2. Kejenuhan, contoh;

“dalam rangka”, “sementara itu”, “dapat ditambahkan”

3. Subjek Tidak Jelas, contoh;

Dengan ranking itu, maka nenempatkan Indoensia sebagai negara paling korup di dunia”

Sebaiknya,

“Ranking itu nenempatkan Indoensia sebagai negara paling korup di dunia”

4. Penyatuan Bentuk Aktif dan Pasif, contoh;

“Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Senin kemarin memulai rapat kerjanya di Hotel Mercure Jakarta, dibuka oleh Ketua KPK, Bagir Manan”.

Sebaiknya,

“Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Senin kemarin memulai rapat kerjanya di Hotel Mercure Jakarta. Rapat itu dibuka oleh Ketua KPK, Bagir Manan”.

Demikian antara lain contoh penggunaan Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik dalam penulisan berita. Meskipun demikian, prinsip ekonomi kata sesungguhnya dapat diterapkan dalam berbagai bidang yang lain, seperti public speaking dan penulisan jenis laporan lainnya.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

tr/td/em

One thought on “Bahasa Jurnalistik: Berbahasa dengan Ekonomi Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s