Media Sensitif Gender: Sekadar Wacana?

Ilustrasi: Cover Buku “Media dan Gender”. Karya Mahasiswa Komunikasi UII.

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Di antara banyak persoalan media massa Indonesia yang tidak sensitif gender saat ini, setidaknya terdapat empat isu penting. Pertama, media massa masih memberi tempat bagi proses legitimasi bias gender, terutama dalam menampilkan representasi perempuan. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai citra dan teks pemberitaan, iklan, film, sinetron dan produk media massa lainnya. Yang ditampilkan adalah kondisi perempuan sebagai objek, dengan visualisasi dan identifikasi tubuh seperti molek, seronok, seksi, dan sejenisnya. Dalam pemberitaan kasus kriminal, perkosaan misalnya, perempuan juga sering digambarkan sebagai sosok yang seolah ikut andil sehingga meyebabkan kasus itu terjadi, bukan murni sebagai korban kejahatan kaum laki-laki. Di sisi lain penempatan (positioning) perempuan sebagai korban (survivor) atau saat menjadi pelaku/tersangka juga sarat dengan warna eksploitasi. Penggunaan kosakata masih berorientasi seksual (sex-oriented), seperti “dipaksa melayani nafsu”, “bertubuh molek”, dan sebagainya.

Kedua, dalam aktivitas media sangat sedikit kaum perempuan terlibat menjadi pekerja media. Persoalan kuantitatif ini barangkali tidak terlalu parah bila di antara jumlah yang sedikit tersebut para jurnalis perempuan telah memiliki sensitifitas gender. Ironisnya, karena umumnya mereka masuk dalam dunia jurnalistik yang sangat maskulin, ukuran-ukuran pemberitaan yang digunakan masih menggunakan ukuran laki-laki sebagai pihak dominan dalam pengambilan keputusan. Tulisan-tulisan yang disajikan para jurnalis perempuan pun sudah dikondisikan dalam “pola laki-laki” (male patterns). Seandainya ada jurnalis perempuan yang concern terhadap sensitifitas gender, hanya menempati posisi yang kurang penting dalam jajaran dewan pengurus media. Bahkan dalam sejarah pers Indonesia, nama-nama tokoh pers pun cenderung dihegemoni nama “laki-laki”.

Ketiga, kepentingan ekonomi dan politik menuntut para pemilik media tunduk kepada industri atau pasar yang memang lebih permisif terhadap jurnalisme yang tidak sensitif gender. Perempuan dan segala stereotipe-nya dalam pandangan media massa adalah komoditas yang laku dijual. Media massa, di Indonesia, sebagai bagian dari lingkaran produksi yang berorientasi pasar menyadari adanya nilai jual yang dimiliki perempuan, terutama sebagai pasar potensial. Kondisi kultural ini didukung pula oleh permasalahan kultural di level organisasional media, terutama masalah coorporate culture yang masih sangat patriarkis.

Keempat, regulasi media yang ada saaat ini tidak sensitif gender, Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers misalnya, kurang memperhatikan masalah-masalah perempuan dan media. Ditambah lagi, aturan-aturan normatif lainnya yang selama ini sudah ada pun kurang atau bahkan tidak ditaati oleh para pekerja media.

Di tengah banyaknya tuntutan agar jurnalisme konvensional yang selama ini ada dirombak dan disesuaiakan dengan kebutuhan nilai-nilai kemanusiaan, maka muncullah konsep-konsep jurnalisme yang bermuatan humanitarian, seperti jurnalisme damai, jurnalisme multikultur, jurnalisme empati dan sebagainya. Jurnalisme sensitif gender termasuk salah satu pendekatan yang dipakai guna mengatasi bias gender dalam pemberitaan media.

Apa sebenarnya yang disebut jurnalisme berperspektif gender? Subono (2003) menyebutkan, jurnalisme berperspektif gender adalah kegiatan atau praktik jurnalistik yang selalu menginformasikan atau bahkan mempermasalahkan dan menggugat secara terus menerus, baik dalam media cetak maupun media elektronik adanya hubungan yang tidak setara atau ketimpangan realsi antara laki-laki dan perempuan.

Lalu bagaimana konsep-konsep jurnalisme sensitif gender diterapkan dalam praktik jurnalisme di Indonesia saat ini? Walaupun konsep tersebut telah menjadi kajian serius di beberapa institusi media massa, namun belum sepenuhnya menjadi prioritas, bahkan dalam tataran empiris seringkali menunjukkan kontradiksi. Beberapa media yang peduli isu gender pun kadang terlalu menonjolkan ekslusifitas perempuan dengan menuntut secara keras hak-hak emansipatifnya sehingga makin mempertajam perbedaan dengan kaum maskulin.

Di sisi lain, untuk menyimpulkan telah adanya kesadaran gender bisa dilihat dari hiruk-pikuk diskusi gender di ruang seminar dan media, adanya kesadaran menerapkan jurnalisme sensitif gender ataupun banyaknya aktivis feminis, baik dari kalangan publik figur ataupun masyarakat umum yang berani berbicara tentang ketidakadilan gender lewat pemberitaan media massa. Namun, kenyataan itu barulah sebatas tataran wacana dan kasus perkasus saja, bukan praktik umum di lapangan, yaitu pada level masyarakat dan seluruh media massa. Apalagi budaya partiarkis di Indonesia yang kadangkala diembel-embeli dengan dalih moral dan agama saat ini masih kokoh mendominasi ruang-ruang kebebasan publik.

Apa yang diuraikan dalam buku “Relasi Gender Antara Kepercayaan dan Keniscayaan” ini pada dasarnya ingin menggugah kembali, ketika berbicara tentang ketidakadilan gender maka peran media tidak terpisahkan. Dalam agenda media, teks-teks—yang kadang tampil dengan dukungan audio-visual—menyediakan semacam “peta” yang akan dibaca, didengar, dan dilihat oleh khalayak. Pembaca bebas memilih yang mana akan dipikirkannya atau dipakainya. Para redaktur media melalui proses gatekeeping akan memilah informasi mana yang diberi ruang yang besar, disembunyikan, ataupun dibuka secara jelas karena dianggap penting untuk diketahui khalayak. Pertemuan sistematik antara agenda media dan agenda publik–yang ternyata sinkron–dengan apa yang disampaikan media tersebut menurut istilah lazimnya terkenal dengan “agenda setting”. Agenda setting menunjuk makna bahwa media memiliki kekuatan uuntuk menggerakkan perhatian orang-orang  terhadap isu-isu tertentu. Dengan kata lain, peranan pelaku media sangat penting dalam memainkan pemilihan dan pembentukan opini publik.

Di sinilah perlu dipahami kompleksitas persoalan ketidakadilan gender akhirnya tidak semata-mata harus selalu dikait-kaitkan budaya patriarki, namun meliputi pelik kelindan masalah ekonomi, politik, sosial, dan budaya, bahkan agama. Aspek tersebut menyelimuti praktik kerja media pada tataran makro, meso, dan ujungnya bisa dipotret lewat produk akhir media (mikro). Oleh karena itu, media tidak bisa lagi hanya dilihat sebagai alat untuk menyebarkan informasi, melainkan sebagai sebuah ritus, tempat imajinasi sosial selalu dikonstruksi, direkonstruksi, diproduksi, dan direproduksi. Pernyataan-pernyataan  itulah yang tampaknya dilirik dan digelegarkan lagi melalui berbagai mozaik tulisan bertema “relasi gender”. Tulisan yang lahir dari kegelisahan dan perspektif anak-anak muda. Mereka yang mulai sadar bahkan muak atas ketidakadilan gender yang dipraktikkan media.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s