Menyelami Dunia Superhero Lewat Kajian Komunikasi

Gundala, Godam, dan Carok                             sumber gambar: http://savetha.wordpress.com/image/indonesian-superhero/

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Setiap generasi dari lintas zaman pasti memiliki figur superhero. Imaji superhero telah menjadi bagian dari perjalanan cerita hidup masyarakat di berbagai belahan dunia. Mitos dan legenda tentang manusia super sudah lama direproduksi secara tradisional melalui media tutur dan tulis. Pada era modern, dongeng superhero hadir melalui berbagai bentuk budaya populer. Dalam ranah fiksi, banyak cerita bertema superhero yang seolah-olah tak habis-habis diangkat ke dalam komik, film, sinetron, game, hingga teater. Mulai dari genre action, horor, drama, komedi, sampai film dewasa berkategori XXX dengan tema parodi tokoh superhero. Dengan berbagai lakon, secara konsisten superhero ditampilkan sebagai sosok klise manusia luar-biasa dengan berbagai kelebihan “supra human” yang mendukung tugasnya  “membela kebenaran”.

Kehadiran superhero terus berlanjut karena didukung oleh media yang sarat dengan inovasi teknologi. Inilah yang membuat superhero menjadi lebih hidup, lebih menarik, dan semakin membuka ruang berkesenian baru yang eksploratif karena sifatnya yang disenangi oleh semua kalangan. Namun, industrialisasi dan komersialisasi superhero sebagai produk budaya populer dituding membawa nilai-nilai buruk yang berupa kekerasan, pornografi, bahkan ideologi tertentu. Anggapan ini tidaklah berlebihan karena dalam visualisasi komik, kartun, game, atau film superhero nyaris tak pernah absen adegan perkelahian yang kadang ditampilkan sampai berdarah-darah. Belum lagi dialog yang diwarnai makian dan kata-kata kasar. Dalam beberapa cerita superhero juga kerap terpampang gambar adegan percintaan yang vulgar atau aneka kostum yang terlampau ketat .

Di sinilah superhero kemudian hadir sebagai arena yang lebih luas, tidak semata sebagai penyalur hasrat fantasi dan mimpi, melainkan membawa pemujanya ke dalam ruang-ruang imajinasi, ruang pembebasan dari dunia nyata yang penuh keterbatasan ke dalam dunia dan identitas baru yang nyaris tanpa batas tentang ide-ide kebebasan, keadilan, dan segala rupa bentuk hitam putih kebenaran dan kejahatan yang akhirnya kebenaran versi pencipta dan pemuja si superherolah yang selalu menang. Superhero akhirnya menjadi ruang aneka kepentingan, tak hanya imaji dan fantasi, melainkan ideologisasi nilai-nilai. Sebutlah tentang westernisasi, amerikanisasi, pemujaan maskulinitas, strereotip gender, dan berbagai propaganda lainnya yang menyertai sosok superhero, di balik nilai-nilai universal yang selalu ditonjolkan seperti  kebenaran akan selalu menang, kewajiban membela yang lemah, kekuatan/kekuasaaan besar memiliki tanggung jawab besar, dan lain-lain.

Dalam kajian komunikasi, eksistensi superhero sama tuanya dengan sejarah manusia dan ragam pesan komunikasi itu sendiri. Perubahan karakteristik media yang akhirnya membentuk dinamika superhero ke dalam aneka produk pesan dengan inti tujuan yang sama: menjual imaji dan fantasi. Berangkat dari titik ini, banyak dimensi yang bisa diangkat sebagai fokus kajian, misalnya tentang transformasi superhero komik yang kini banyak ditampilkan dalam sinema Hollywood. Di luar Amerika, muncul budaya tanding atas konspirasi kedigdayaan superhero Amerika. Superhero-superhero lokal pun bermunculan, sebagian lahir orisinil dari nilai lokal, sebagian lagi merupakan transformasi  mentah dari karakteristik superhero Amerika yang diadaptasi dengan citarasa lokal. Di Indonesia misalnya, Spiderman memunculkan banyak epigon. Paling terkenal adalah Laba-laba Merah, Kala Maut, dan Kawa Hijau. Tak hanya Spiderman, Spiderwoman megalami nasib serupa, bernama Laba-laba Mirah. Superman sebagai superhero sejuta umat dimodifikasi menjadi Godam, Wonderwoman diadaptasi menjadi Sri Asih, Flash menjadi Gundala, Batman menjadi Kalong, dan masih banyak lagi superhero lokal hasil modifikasi lainnya.

Kehadiran superhero juga bisa dilihat dari bermacam teori kontemporer seperti posmodernisme, psikoanalisis, relasi gender, politik identitas, dan sebagainya. Dari kajian ekonomi politik, diskusi tentang rahim superhero penguasa dunia seperti, Marvel, DC Comics, atau Disney menarik untuk dibedah sebagai bagian dari emporium superhero dunia.

Tokoh-tokoh dan karaketristik superhero pun bisa dilihat sebagai bagian dari perwujudan  dualitas ego, yakni identitas bertopeng/menyamar atau tanpa topeng/tidak menyamar. Misi pribadi  superhero umumnya klise, antara lain menuntut balas dengan dendam masa lalu yang kelam, atau menjadi superhero karena dikirim dari planet lain, dan banyak pula superhero yang lahir dari kecelakaan sehingga bermutasi memiliki kekuatan super.

Dari sisi audiens, bisa dikembangnkan berbagai macam kajian, seperti persepsi dan resepsi tentang superhero di mata pemujanya, dampak menonton tayangan superhero di kalangan anak-anak, dan sebagainya. Tingkah polah penggemar (fanboy) superhero sendiri juga dapat dielaborasi dari banyak sisi, misalnya bagaimana memorabilia superhero sebagai produk budaya populer begitu digemari sepanjang masa. Walhasil aneka merchandise dan action figures superhero terus diproduksi dan tentu saja mendatangkan keuntungan berlimpah bagi produsennya. Selain itu, banyak komunitas superhero yang umumnya beranggota orang-orang dewasa sehingga sekali lagi mematahkan mitos bahwa superhero adalah dunia anak-anak. Sekarang ini di Amerika bahkan muncul perkumpulan “real superhero” yang terobsesi dengan keheroan tokoh idolanya, lalu melakukan kegiatan sosial membantu sesama di dunia nyata sambil mengenakan kostum ala superhero. Menarik bukan?

Lalu bagaimana dengan kajian komunikasi superhero di Indonesia? Berbagai kajian bisa ditawarkan seperti genalogi pelacakan sejarah komik dan cerita silat Indonesia, yang banyak disinyalir bermuara dari legenda wayang. Awalnya, teknologi cetak sederhana  memunculkan tokoh-tokoh wayang melalui gambar umbul (gambar cap) yang kemudian dijadikan bonus dalam kotak rokok. Superhero lokal dengan karakter tokoh-tokoh pewayangan sangat digemari pada masa itu sampai akhirnya superhero luar masuk dan mengalahkan pamor superhero lokal. Superhero limpor yang lebih canggih diadaptasi mentah-mentah ke dalam versi lokal. Pada tahun 90-an muncul superhero seumur jagung yang sempat populer di televisi, seperti Saras 008 dan Panji Manusia Millenium. Berbagai upaya membumikan superhero lokal masa lalu tampaknya selalu berujung tiarap karena gempuran superhero impor sangat massif sehingga lebih melekat di benak anak-anak generasi sekarang.


1)  Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA), Yogyakarta.

One thought on “Menyelami Dunia Superhero Lewat Kajian Komunikasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s