Sekali Lagi Tentang Tayangan TV Berlabel Ramadhan

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Akmal Nasery Basral, rekan Facebook saya, yang juga penulis buku dan skenario film, beberapa waktu lalu menulis lewat status Facebooknya:

Tayangan sahur di Trans TV (live). Pelawak Olga didudukkan di atas es balok dengan kaki selunjur. Wajahnya panik betulan, karena tangan dan kakinya dipegangi 4-5 penampil lain (termasuk Raffi Ahmad). “Aduh, ini dingin banget. Demi Tuhan,” keluhnya. Kamera close up ke wajahnya. Terlihat air matanya menitik. Raffi meledek, “Yeee.. Olga nangis.” Seorang penampil lain terus bertanya, “Sebutkan nama pahlawan Aceh?” Berulang-ulang tanpa jawaban, karena Olga terus mengeluhkan dingin nya es balok. Masih menangis. Lalu jawabannya keluar, “Cut Keke!”. Penampil lain tertawa ngakak. Lalu seorang penampil duduk di atas tulang kering Olga, yang terus mengeluhkan dinginnya es. Entah apa maksud “tayangan sahur” di kepala para pembuat program itu.

Berikutnya kejengkelan-kejengkelan permirsa televisi selama bulan Ramadhan 2013 ini terus bertambah. Seperti yang lagi-lagi disuarakan oleh Akmal Nasery Basral lewat status Facebooknya.

Adakah acara TV yang lebih sampah dari komedi slapstick yang marak jelang sahur dan buka puasa? Ada! Tragisnya, justru pada acara kultum (ceramah singkat) jelang buka puasa. Baru di hari pertama Ramadhan, sebuah acara kultum oleh ustadz yang cukup berbobot, langsung ditunggangi kampanye gamblang (bukan terselubung lagi) sebuah pasangan yang baru saja mendeklarasikan diri sebagai Capres dan Cawapres 2014. Tanpa malu, keduanya mengucapkan “selamat buka puasa” lengkap dengan status mereka sebagai Capres dan Cawapres 2014 tertulis di layar kaca! Sungguh pencurian start kampanye yang kampungan, apalagi terjadi di jaringan TV yang, konon, terbesar di Asia Tenggara.

Acara kontroversial lainnya yang menjadi sorotan publik saat bulan puasa juga ditunjukkan dalam program “Hafidz Indonesia” pada salah satu episodenya yang ditayangkan stasiun RCTI pada tanggal 9 Juli 2013 pada pukul 14.54 WIB. Pelanggaran yang dilakukan program Hafidz Indonesia berupa penayangan secara close up seorang anak yang tampak buang air kecil saat ia menjadi peserta program tersebut. Kamera menyorot celana anak tersebut yang tampak basah. Selain masalah etika penyiaran, jenis pelanggaran ini juga dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap perlindungan anak dan norma kesopanan.

Sudahlah, terlalu banyak daftar jika membahas keanehan-keanehan televisi Jakarta yang sedemikian tunduk pada nafsu rating atau sekadar pencitraan pemilik modal. Tak terkecuali pada saat umat Islam seharusnya menggali ilmu agama yang barangkali (meski jangan berharap banyak) akan ditawarkan oleh televisi. Faktanya, yang justru banyak tersaji malah: pelawak, bencong, dan sekarang ditambah model baru=dukun! Ya dukun berbentuk “ustad” yang menyembuhnya berbagai ragam penyakit, dari penyakit ringan sampai kronis dengan cukup mengosokkan tangan untuk “menimbulkan elektromagnet” dan menempelkan di bagian yang sakit. Tidak ada satu kalipun sang ustad menyarankan pasien konsultasi ke dokter atau bertanya apa yang sudah didiagnosis oleh dokter. Luar biasa bukan?

Apa yang terjadi dengan televisi kita? Selama bulan puasa, tayangan makin tinggi nilai jualnya ketika menggunakan label-label agama. Production House (PH) atau pihak televisi yang memproduksi acara mampu mengubah tayangan komersial-kapitalis menjadi tayangan yang terlihat religius. Religiusitas yang diciptakan oleh televisi menjadi religiusitas semu tanpa makna. Fenomena komodifikasi agama yang dilakukan oleh media massa selama Ramadhan, tanpa disadari berpotensi menyebabkan degradasi spiritualitas. Tesis ini tidaklah berlebihan mengingat agama bukan lagi ditempatkan sebagai norma bermakna yang mengatur sendi kehidupan manusia, tetapi agama justru dipinjam sebagai sarana meraup profit sebanyak-banyaknya.

Bukan rahasia, bulan Ramadhan bagi stasiun televisi swasta adalah masa panen iklan karena permintaan terhadap tayangan-tayangan religius mencapai puncaknya. Setidaknya terlihat dari pergeseran prime time televisi, yakni dari waktu normal untuk acara unggulan pukul 18.00 – 21.00 WIB berubah menjelang waktu sahur dan berbuka. Stasiun televisi bermai-ramai mengusung label Gebyar Ramadhan, Semarak Ramadhan, Edisi Ramadhan, Spesial Ramadhan, Berkah Ramadan sebagai tema tayangan di bulan puasa.

Acara yang disajikan selama Ramadhan cenderung seragam. Satu model program “religius” laris dengan rating tinggi, televisi yang lain berlomba-lomba mengikutinya. Sayangnya, program-program yang ditayangkan pada umumnya belum layak dikategorikan sebagai program yang berkualitas. Itu saja.

—————————————————————————————————-

[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

3 thoughts on “Sekali Lagi Tentang Tayangan TV Berlabel Ramadhan

  1. Menyebalkan memang. Aku sdh bertahun2 melatih diri untuk tidak menonton TV sepanjang tahun, pun terpaksa ‘menikmati’ kebodohan2 itu.
    Trims tulisannya, Wan!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s