Agenda Penyiaran 2014: Stop Penyalahgunaan Frekuensi Publik!

whitespace_broadband-1

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Kemerdekaan pers menjadi tidak berarti jika media hanya dimiliki segelintir orang, lebih-lebih untuk media penyiaran yang menggunakan public domain berupa frekuensi milik publik yang sangat terbatas keberadaanya. Di sisi lain, kehidupan media yang demokratis senantiasa mempersyaratkan adanya keberagaman isi (diversity of content) dan keberagaman kepemilikan (diversity of ownership). Ironisnya banyak persoalan yang melingkupi media penyiaran di Indonesia saat ini yang menjauhkan dari keberpihakan terhadap publik. Setidaknya terdapat lima isu besar yang menonjol di tahun 2013 – 2014.

Pertama, monopoli dan pemusatan kepemilikan media semakin kuat. Sistem penyiaran Indonesia mengarah ke sistem sentralistik karena kepemilikan lembaga penyiaran swasta masih terpusat oleh beberapa individu dan kelompok saja.

Kedua, frekuensi milik lokal didominasi televisi “nasional berjaringan”. Televisi lokal seharusnya didirikan oleh dan untuk publik lokal, bukan “boneka” dari televisi “nasional berjaringan”.

Ketiga, politik redaksional bias pemilik. Media televisi dimanfaatkan secara masif untuk kepentingan pribadi pemilik atau kelompok, bukan kepentingan publik. Penyalahgunaan ini telah merampas hak publik untuk memperoleh informasi yang lebih beragam karena durasi yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk tayangan-tayangan yang mendidik dan menghibur justru diisi oleh wajah-wajah para pemilik stasiun TV dan kelompok kepentingan mereka. Bentuk lainnya, acara bermasalah memang tidak selalu yang berkaitan dengan “narsisme” pemilik media, namun siaran berisi joget-joget atau hipnotis juga jauh dari misi ideal mencerdaskan penonton atau setidaknya memberi tontonan yang kreatif.

Keempat, lemahnya lembaga penyiaran publik dan komunitas. Terlalu dominannya lembaga penyiaran swasta tidak baik bagi demokrasi, dan usaha membangun budaya sosial yang sehat. Oleh karena itu, lembaga penyiaran swasta memerlukan penyeimbang, yakni lembaga penyiaran publik dan komunitas.

Kelima, proyek digitalisasi televisi di Indonesia saat ini masih dipandang sebatas peralihan teknologi. Sedangkan, konsekuensi sosial-ekonomi-politik yang timbul seolah dilupakan. Dianggap selesai hanya dengan Iklan Layanan Masyarakat. Hal-hal mendasar seperti penjaminan keberagaman dan kemajemukan, serta pindah tangan dan jual-beli frekuensi tidak transparan. Digitalisasi yang demikian tidak menjamin memecahnya konsentrasi kepemilikan televisi karena pengelolaan penyiaran ternyata tetap diserahkan pada pengelola yang sudah eksis.

Dalam kaitan persoalan besar tersebut, agenda tahun 2014 di bidang penyiaran yang harus diprioritaskan para pengambil kebijakan adalah (1) Mendukung pembahasan undang-undang penyiaran dan undang-undang digitalisasi yang konsisten memperjuangkan keberagaman isi dan kepemilikan; (2) Perlu pembatasan tegas dan jelas dalam peraturan kepemilikan televisi “nasional” dan “nasional berjaringan” yang secara eksplisit dituangkan dalam undang-undang penyiaran; (3) Perlu pembatasan tegas dan jelas dalam undang-undang penyiaran megenai larangan intervensi pemilik serta kampanye politik dan pencitraan lberlebihan ewat media; (4) Negara harus membangun dan mendorong Lembaga Penyiaran Publik dan Lembaga Penyiaran Publik Komunitas yang kuat; dan (5) Digitalisasi penyiaran harus membangun sistem penyiaran yang demokratis sekaligus momentum memperbaiki sistem penyiaran di Indonesia.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

One thought on “Agenda Penyiaran 2014: Stop Penyalahgunaan Frekuensi Publik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s