Aku Share, Maka Aku Ada….

 

Social_media_fear

Sumber dan hak cipta foto: http://www.careerbuilder.ca

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Dulu Descartes pernah berseloroh ‘I think, therefore I am’. Seandainya ia hidup di era sekarang, melihat masyarakat gemar berbagi apapun tanpa berpikir panjang di media jejaring sosial dan internet, pasti ia akan merevisi ungkapan tersebut menjadi ‘I share, therefore I am.’ Ada semacam kredo, yang penting update, maka dunia akan tahu eksistensi kita. Akibat sharing apapun tanpa disaring inilah, internet kemudian menyebabkan terjadinya banjir data atau information overload, padahal tidak semua informasi itu dibutuhkan.

Motivasi awal untuk memiliki akun media sosial merupakan gejala wajar sebagai bentuk eksistensi dalam pergaulan. Kepemilikan media sosial adalah bagian dari cara manusia modern berkomunikasi dalam pola CMC atau Computer Mediated Communication. Dalam tahap lanjut, eksistensi ini kadang berubah menjadi wahana narsisme, bahkan dalam tahap akut menjurus pada perilaku eksebisionisme. Tanpa peduli jenis informasi berkategori privat atau publik, ditampilkan semuanya melalui media sosial.

Internet sebagai wujud konvergensi media, dan teknologi informasi telah memberi kemudahan dalam berbagai hal khususnya dalam menghubungkan manusia di muka bumi untuk saling tukar menukar informasi. Pada titik inilah media sosial menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam mengubah pola-pola komunikasi manusia, bahkan mengubah budaya dan entitas kehidupan seseorang dalam pergaulan.

Mengapa media sosial begitu fenomenal? Jawabannya sederhana, media sosial menawarkan sebuah arsitektur baru dalam kemudahan berkomunikasi yang rasanya mustahil dapat dilakukan di dunia nyata. Jika pola itu digambarkan secara sederhana dapat diumpamakan ketika seseorang berjumpa dengan seorang teman baru, ia hanya melihat sosok si teman semata secara individu. Nyaris tak pernah membayangkan, bahkan tidak tahu, siapa saja teman dari teman kita tersebut. Tak mungkin pula ia memetakan siapa teman dari teman kita. Di dalam media sosial, seseorang tidak hanya bisa berkomunikasi dengan sahabatnya, tetapi juga dengan teman dari sahabatnya itu, bahkan teman dari temannya sahabat, demikian seterusnya. Dari karakter inilah muncul perilaku stalking (kepo: istilah baru dalam bahasa pergaulan pengguna media sosial di Indonesia), yakni melihat aktivitas orang lain yang saling terhubung dan bagaimana mereka berkomunikasi. Di luar motivasi itu, banyak hal lain yang mendasari seseorang menggunakan sosial media, natara lain sebagai sarana komunikasi, sarana mengakses informasi, sarana hiburan, sarana eksistensi diri, stategis-produktif: branding, dagang, starter up, charity-filantropi, atau sekadar iseng dalam rangka menghabiskan waktu dan membunuh rasa kesepian.

Sekalipun banyak orang bilang internet adalah dunia tanpa batas, namun seperti halnya interaksi dalam dunia nyata, saat bersinggungan dengan orang lain maka sudah pasti ada aturan formal ataupun etika yang harus dipatuhi. Di dunia maya, seseorang tidak bisa bebas membagi (share) tanpa peduli kepentingan orang lain. Dalam kaitan ini, di luar hukum formal, terdapat panduan khusus yang dikenal sebagai “netiket”, singkatan dari “internet etiket”. Netiket atau Nettiquette adalah penerapan praktis prinsip-prinsip etika dalam berkomunikasi menggunakan internet. Netiket diterapkan pada one to one communications dan one to many communications.

Pepih Nugraha, salah seorang pegiat media jurnalisme warga (Kompasiana) pernah membuat 10 rumusan netiket dalam berinteraksi di dunia maya, yakni: Ingatlah orang lain; taat kepada standar prilaku online yang sama kita jalani dalam kehidupan nyata; ketahuilah dimana kita berada di ruang cyber; hormati waktu dan bandwith orang lain; buatlah diri kita kelihatan baik ber-online; bagilah ilmu dan keahlian; membantu agar konflik tidak semakin tersulut; hormati privasi orang lain; jangan menyalahgunakan kekuasaan; dan maafkanlah jika orang lain berbuat kesalahan.

Konsep netiket dapat diturunkan dari banyak sumber norma. Selain yang bersifat universal, netiket bermedia sosial dapat diturunkan dari perspektif budaya dan agama. Apapun sumbernya, sebelum membagi sesuatu yang terpenting adalah selalu mempertimbangkan dampak yanga akan terjadi berikutnya. Jika dalam keseharian dikenal ungkapan “mulutmu adalah harimaumu, maka dalam pergaulan melalui media sosial, kredo ini menjadi “sharingmu adalah harimaumu”. Untuk ituah konsep saring sebelum sharing mutlak diperlukan sehingga niat esksitensi tidak menimbulkan dampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain [Iwan Awaluddin Yusuf].

[1]Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Lembaga Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA), Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s