Peneguhan Rasisme dan Groupthink Syndrome di Perguruan Tinggi (Resensi Film)

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Film ini dimulai dengan cerita tentang orang-orang yang memasuki lingkungan sosial yang baru dengan latar belakang berbeda kemudian timbul masalah ketika mereka harus menyesuaikan diri.

Jika dibandingakan dengan tema-tema sejenis, Higher Learning tidak termasuk kategori fenomenal, apalagi mencetak box office. Ledakan ide yang disajikan pun rasanya kurang menggigit. Cukup jauh bila harus menandingi “kegilaan”  Dead Poet Society (1989), film bertema kampus yang dibintangi aktor gaek, Robbin William.

Namun, ada proposisi yang menarik dari film bergenre remaja ini ketika berani menggagas hitam-putih bahwa dalam penyesuaian terhadap lingkungan, manusia memiliki proses berliku dengan segala konsekuensi yang berakhir pada jawaban “berhasil” atau “gagal”.

Ditambah lagi, setting film mengambil kehidupan di perguruan tinggi yang umumnya harus dilewati sebagian orang, terutama peralihan dari remaja menjadi dewasa. Kampus adalah perwujudan lingkungan sosial yang merefleksikan kompleksitas masyarakat dalam “dunia mini”. Fakta tersebut memunculkan kecenderungan, saat seseorang memasuki kampus untuk pertama kalinya ibarat lahir ke dunia baru yang sarat dinamika sosial. Transisi dan chaos menjadi sebentuk keniscayaan.

Penggambaran Colombus University (CU) dalam film arahan Sutradara John Sigleton ini cukup memikat. Dengan penjelasan bahwa kampus itu menampung 18.000 mahasiswa dari 32 kebangsaan dan 6 ras, memaksa kita untuk berpikir; pluralitas semacam itu ada di sekitar kita, di kampus kita.

Di lain sisi, konstruk dialog yang dibangun antara senior dan yunior mengingatkan kita tentang adanya indoktrinasi ideologi yang seringkali diterima mahasiswa saat mereka trerjun menjadi aktivis kampus. Pilihan terhadap ”nilai-nilai” akhirnya sangat ditentukan dari aktivitas apa yang dijalani di komunitasnya.

Tokoh-tokoh dengan peran karakter yang sangat berbeda satu sama lain  memperlihatkan pola-pola hubungan manusia yang bervariasi. Ini bisa dilihat dari tiga karakter sebagai tokoh sentralnya, yaitu Remy, Kristen dan Malik William yang semuanya mengusung  predikat  “krisis identitas”.

Remy (Michael Rapaport) adalah figur sosok yang selalu merasa kesepian, introvert kemudian terindoktrinasi oleh kelompok Neo Nazi hingga melakukan tindakan yang akhirnya sangat disesali dan dibayar mahal dengan bunuh diri. Dari kacamata psikologi, Remy adalah potret manusia yang gagal membunuh rasa kesepiannya dan menyalurkannya dengan cara yang tidak benar (pengertian “benar” di sini merujuk pada konstruksi normatif dalam pandangan masyarakat awam).

Menurut Jones (1982), ada perbedaan yang lebih halus antara tingkah laku mahasiswa yang mampu dan tidak mampu mengatasi kesepian. Jones mengamati bahwa mahasiwa yang kesepian berinteraksi dengan cara yang lebih terfokus pada diri sendiri dibandingkan apa yang dilakukan oleh mahasiswa yang tidak kesepian. Misalnya, dalam percakapan dengan seorang kenalan baru, mahasiswa yang kesepian mengajukan lebih sedikit pertanyaan tentang orang lain, membuat lebih sedikit pertanyaan mengenai tentang orang lain, dan memberikan respons yang lebih lambat untuk mengomentari kenalannya itu. Orang yang kesepian cenderung menjadi lebih negativistik dan sibuk dengan diri sendiri serta kurang responsif terhadap orang lain.

Penelitian lain (Solano, Batten, & Parish, 1982) menyatakan bahwa mahasiswa yang kesepian biasanya memiliki pola pengungkapan diri yang tidak wajar; mencurahkan isi hati kepada seseorang yang baru saja dikenal atau sebaliknya, mengungkapkan sangat sedikit hal tentang dirinya.

Dari analisis Jones maupun Solano, Batten dan Parish, terlihat jelas dari banyak tindakan yang dilakukan Remy. Seperti saat pertama kali menjadi mahasiswa di CU dan harus bersosialisasi dengan teman-temannya, ia terlihat begitu kesulitan menyesuaikan diri. Atau ketika ia tidak berdaya menghadapi gangguan teman-temannnya (c.q ”musuh?”) ras kulit hitam. Remy harus mengambil keputusan berdasarkan pandangan kelompoknya, Neo-Nazi. Remy benar-benar tidak memiliki inisiatif murni yang berasal dari pemikirannya.

Sementara itu, Kristen (Kristy Swanson), tokoh lain dari film ini adalah figur dengan latar belakang keluarga yang carut marut dari segi ekonomi. Dalam perkembangannya is mengalami efek traumatis perkosaan yang menyebabkan pandangannya seketika berubah tentang hubungan laki-laki dan perempuan.  Pandangannya menjadi sensitif-negatif terhadap banyak hal. Akhirnya ia terindoktrinasi oleh teman wanitanya yang memperjuangkan falsafah feminisme. Pendekatan interpersonal yang dilakukan temannya sangat efektif. Saking hebatnya pendekatan interpersonal yang dilakukan mampu membawa Kristen pada penyimpangan seksual, menjadi seorang biseks. Tapi di sisi lain, Kristen adalah sosok manusia yang mampu bangkit dari kegagalan walaupun harus melalui penguatan baru di lingkungan sosialnya.

Adalah Malik William (Omar Epps), tokoh ketiga dalam film ini, mahasiswa baru berkulit hitam yang mendapatkan beasiswa di Colombus University karena kemampuannya sebagai atlet lari (Barangkali jika dianalogikan dengan kampus Indonesia, semacam mahasiswa hasil seleksi atlet daerah yang berprestasi -PBUD). William mendapatkan indoktrinasi dari kakak kelasnya sesama kulit hitam tentang ketimpangan ras dan perlakuan tidak adil yang mereka terima dari orang-orang kulit putih.

Persoalan yang mengemuka dalam diri Malik sebenarnya berawal dari strereotipe yang terbangun tentang dirinya. Ia distigma kulit hitam yang dijadikan “budak” laksana kuda yang disuruh terus berlari oleh tuannya. Malik ingin menghilangkan kesan itu dan mulai banyak belajar tentang diri dan lingkungan dari orang disekitarnya. Sayangnya, pembelajaran yang diberikan teman-temannya mengarahkan Malik untuk menggunakan kekerasan sebagai kekuatan hidup. Di sudut lain pacar Malik adalah malaikat kebaikan yang selalu sabar menasihatinya. Akibatnya, Malik mengalami pertentangan dalam dirinya untuk menentukan mana yang harus didengar. Ironis, situasi memaksa Malik sering menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Berbagai karakter dan segala persoalan yang ditampilkan dalam film ini berhasil menggambarkan sedikit dari proses perjalanan hidup mahasiswa dalam menghadapi masalah yang akan terus dihadapinya di lingkungan kampus di tengan stereotipe dan konflik laten rasialisme. Barangkali kesimpulan sederhana yang bisa diambil dari film ini adalah penyadaran tentang adanya beragam bentuk efek interaksi manusia baik terhadap dirinya sendiri, maupun lingkungan sosial ketika memasuki sebuah lingkungan yang baru dengan berbagai resiko adanya groupthink syndrome.

Groupthink Syndrome sendiri adalah sebuah gejala yang mengindikasikan cara berpikir seseorang/sekelompok orang yang kohesif untuk selalu sepakat karena kebulatan suara mayoritas dan mengabaikan alternatif-alternatif tindakan yang realistis dan rasional (Mulyana, 1999: 113-114). Kesepakatan ini kadang menjadikan suatu paksaan bagi anggota kelompok (atau pimpinan kelompok) karena sebenarnya ia tidak setuju, namun karena mayoritas anggota kelompok terlalu loyal dan menjadikan dirinya seragam (conform) pada kelompoknya, akhirnya menciptakan tekanan-tekanan kelompok yang menyebabkan suatu tindakan atau kebijakan menjadi tidak bijak, serampangan, gebyah uyah (pukul rata), tidak produktif, tak jarang sampai mengabaikan nilai-nilai moral. Dalam groupthink syndrome, pemimpin kelompok berusaha meredam ketidaksepakatan angggotanya, meski sangat bertentangan dengan kata hatinya, bahkan ia tahu akan merugikan kepentingan yang lebih besar.

Kohesi menjadi prasayarat terciptanya groupthink. Kohesi adalah semangat kelompok yang tinggi, sebuah ikatan kedekatan dengan hubungan interpersonal yang akrab, kesetiakawanan, dan perasaan “ke-kita-an” yang sangat dalam (Rakhmat, 2002: 164). Menurut Bettinghaus (1973, dalam Rakhmat, 2002: 164), kohesi kelompok ditandai dengan beberapa gejala, satu di antaranya jika anggota kelompok yang berbeda/menyimpang (devian) akan ditentang keras. Pemimpin atau komunikator akan dengan mudah berhasil memperoleh dukungan kelompok jika gagasannnya sesuai dengan mayoritas anggota kelompok. Sebaliknya, ia akan gagal jika menjadi satu-satunya devian dalam kelompok.

Di sisi lain, film ini juga ingin mengajak kita untuk merefleksikan kenyataan bahwa selalu saja ada mahasiswa yang tidak paham untuk apa menjadi mahasiswa dan bagaimana seharusnya bertindak setelah menjadi seorang mahasiswa. Ada pesan moral berisi ajakan kepada mahasiswa baru untuk tidak tergagap melihat realitas kehidupan di perguruan tinggi yang “aneh-aneh”.

Jadi, buat siapa saja yang merasa dan ingin menjadi “mahasiswa baru”, dengan kebaruan wacana berfikir, rugi besar bila tidak menonton film ini. (Iwan Awaluddin Yusuf).

=======================================================

Judul : Higher Learning

Sutradara : John Singleton

Pemain: Kristy Swanson (Kristen Connor),  Michael Rapaport (Remy),  Jennifer Connelly (Taryn), Ice Cube (Fudge), Jason Wiles (Wayne),  Cole Hauser (Scott Moss), Laurence Fishburne (Professor Maurice Phipps).

Produksi : Columbia TriStar Motion Picture Group (1995)


1)  Dosen Ilmu Komunikasi UII, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

“Tafsir” Foto Profil Pecandu Facebook

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Jika sebelumnya Bincangmedia menampilkan “tafsir” berbagai bentuk STATUS pengguna Facebook, kali ini saya akan mencoba menafsirkan arti FOTO PROFIL yang ditampilkan para Facebooker sebagai bagian dari ekses fenomena kecanduaan media sosial. Bagi yang merasa memiliki satu atau beberapa kesamaan dalam kategori ini, jangan ge-er atau tersinggung ya karena sedang diomongin hehe…

Nah ini kategorinya:

1. Foto Ababil a.k.a Abege Labil a.k.a Alay

Fotonya diambil sendiri dari angle atas dengan ekspresi standar: bibir mecucu, mata melirik ke atas. Ekspresi lain: muka sok centil dengan lidah ditekuk keluar disertai mata kiri kedip genit. Variasi lainnya, motret diri sendiri di depan cermin pakai kamera HP. Biasanya para ABG yang suka menampilkan jenis foto ini. Jika Anda merasa bukan ABG, tapi masih suka menampilkan foto beginian, saatnya ingat umur!

2. Foto-Shop

Ini bukan nama software olah digital atau program editing gambar, tapi jenis foto Facebooker yang hobinya jualan barang lewat FB. Kl yang dijual baju batik ya foto profilnya baju batik (masak pajang foto termos hehe). Jika komoditas jualannya HP/laptop, foto profilnya tak jauh dari gambar-gambar barang elektronik, khususnya HP/laptop tipe high end dengan tulisan “Shap Shop Bla Bla”, “Embuh Elektronik”, dsb.

3. Foto “I Was Here”

Biasanya tipe ini menampilkan foto Facebooker dengan backgound Landmark kota atau objek populer tertentu. Jika orangnya banyak duit dan suka plesir ke luar negeri, yang ditampilkan foto background Menara Eiffel, Patung Singa Merlin di Singapur,  atau Sidney Opera House. Sementara itu, kalau budget jalan-jalannya pas-pasan ya latar belakangnya Merapi, Pura di Bali, Pantai-pantai lokal, atau cukup Tugu Jogja hehe…

4. Foto Editan

Boleh dibilang foto jenis ini adalah foto Facebooker yang “kurang PD” atau ingin “menipu publik”.. Menyulap wajah alaminya yang jujur dan apa adanya diedit menjadi sangat mulus dan bebas jerawat. Atau yang aslinya agak gemukan jadi mendadak langsing lengkap dengan muka tirusnya.

5. Foto Bawa Properti Andalan

Facebooker menampilkan jenis foto ini untuk memenuhi hasrat pamer atau paling tidak menunjukkan kebanggaan yang begitu besar dengan barang kesayangnnya. Yang baru beli kamera DSLR tiba-tiba tampil menenteng kamera, lengkap dengan lensa telenya. Yang sukses membeli motor gede/moto sporty dengan bangga foto berpose naik motornya. Yang abis beli IPAD menampilan foto sedang browsing dengan IPAD baru.Yang abis kredit Jazz, foto di samping Jazznya..Tak selalu yang barang-barang mahal dan mewah, kadang yang diajak foto adalah vespa butut kesayangan atau action figure hasil menang lelang hehe…:p

6. Foto Nebeng Properti Orang

Kebalikan dari jenis foto di atas, Facebooker jenis ini menampilkan foto dirinya dengan barang milik orang lain. Alasanya disamping pengen beli tapi belum kebeli, bisa jadi karena ia sangat mengagumi dan kebetulan dapet kesempatan foto bersama. Contohnya foto di samping Harley Davidson orang atau foto dekat mobil sport di parkiran mall.

7. Foto “Kami Makan Bersama”

Foto ini menampilkan Facebooker sedang heboh makan bersama dengan teman-temannya. Fotonya diambil pas reunian, buka bersama, atau sekadar makan siang bareng. Di depan mereka terhampar makanan dan minuman di atas meja. (Padahal banyak saudara-saudara di Somalia yang belum makan 3 hari).

8. Foto Keluarga

Ini tipe Facebooker yang sayang atau sedang kangen dengan keluarga. Yang dipajang sebagai foto profil adalah foto bersama waktu lebaran atau foto keluarga di studio beberapa tahun lalu. Jika yang dipajang adalah foto keluarga kecilnya (istri/suami+anak) fotonya ingin menyimbolkan keluarga bahagia sesuai anjuran pemerintah: Dua Anak Cukup!

9. Foto Bareng Pacar

Yang menampilkan foto ini biasanya baru jadian. Kadang foto seperti ini juga menegaskan: “gw udah punya pacar!” (baca: gw udah laku!). Pada tahap yang lebih parah, foto jenis ini kadang menampilan public display of affection (PDA or PDOA=the physical demonstration of affection) alias di mesra-mesraan di muka umum. Hati-hati…bisa digrebeg karena masuk kategori pornoaksi!

10. Foto Box

Foto jenis ini biasanya diambil di mall bersama pacar atau teman dekat. Karena ruangan/gerai boxnya sempit, jadinya semua orang dipaksakan masuk semua dalam frame.  Walhasil kepalanya terlihat gede-gede dan berjejal-jejalan.

11. Foto Anak

Bisanya keluarga yang baru punya momongan atau ibu yang baru melahirkan senang sekali menjadikan foto juniornya sebagai foto profilnya. Yang pasti semua orangtua menganggap anaknya paling cakep sedunia. Kadang tampil foto seorang bapak baru menggendong anak bayinya, meski gayanya agak kaku..hehe.

12. Foto Masa Kecil/Masa Muda

Orang yang suka menampilkan foto masa lalunya termasuk jenis manusia nostalgila karena menampilkan citra identitas dirinya di masa lalu. Bapak-bapak yang sudah ubanan memasang foto jadulnya waktu masih kuliah dengan foto gondrong hitam putihnya. ABG memasang foto imutnya waktu masih balita. Biar dikira tetep imut kali ya meski aslinya sudah amit-amit.

13. Foto Artis Idola

Sering lihat foto profil FB gambarnya artis korea atau artis Holiwud? Pasti pemilik akunnya penggemar selebritis itu. Semacam fans atau grupees lah.  Karena tidak pede dengan fotonya yang pasti kalah cakep dengan artis idolanya, maka yang diupload adalah foto-foto sang artis.

14. Foto Bersama Artis/Tokoh

Kalau ini foto kebanggaan karena berhasil mejeng dengan tokoh/artis yang dikaguminya. Seolah dunia harus tahu foto itu. Padahal cuma ambil gambar sebentar doang. Artisnya juga sudah lupa siapa dia hehe…

15. Foto Pemandangan

Awalnya kita berpikiran ini adalah orang yang sangat mengagumi ciptaan Tuhan, betapa indah ciptaanNya. Lama-lama kita jadi paham, ternyata dia pakai foto pemandangan karena tidak pede/tidak enak mau pakai foto orang lain disangka akun palsu.

16. Foto/Gambar Kartun

Awalnya kita berpikiran ini adalah orang yang sangat mengagumi karakter tokoh kartun atau penggemar film/komiknya. Lama-lama kita jadi paham, ternyata dia pakai foto/ gambar kartun karena tidak pede/tidak enak mau pakai foto orang lain disangka akun palsu.

17. Foto Wisuda/Foto Pernikahan

Sangat wajar jika ada moment-moment spesial seseorang menampilkan foto istimewanya di FB, apalagi wisuda dan pernikahan adalah moment sakral. Tapi jika dari tahun ke tahun, yang dipajang fotonya cuma foto wisuda atau foto nikahannya yang itu-itu saja kayaknya hidupnya monoton sekali ya…

18. Foto Logo/Banner

“Dukung A, bebaskan dari hukuman ”, “I Love Indonesia”, “Sehari tanpa TV”, begitu antara lain bunyi gambar profil jenis foto ini..biasanya diupload pada moment-moment atau event tertentu. Orangnya biasanya aktivis sosial atau sukarelawan. Tapiiii…kadang-kadang beberapa orang jenis ini energinya berlebih dan agak kurang kerjaan..(Piss.. just for fun hehe)..

19. Foto Ehmm…Part 1

Foto ini menampilkan seorang laki-laki dengan gaya dan tatapan mata khas, kadang baju atasnya dibuka, memperlihatkan foto body dan perut sixpacknya hasil ngegym berbulan-bulan..(selanjutnya silakan diteruskan sendiri). Pokoknya kalau saya direquest orang foto seperti ini biasanya langsung tidak sy confirm haha..

20. Foto Ehmm…Part 2

Foto ini menampilkan seorang perempuan dengan gaya dan tatapan mata khas, kadang baju atas/bawahnyanya sedikit kekurangan bahan, memperlihatkan bagian-bagian yang agak menonjol…(selanjutnya silakan diteruskan sendiri). Pokoknya kalau saya direquest foto seperti ini, biasanya dilihat-lihat dulu apakah perlu diconfirm atau tidak haha..just kidding.

21. Foto Formal

Ini foto diri sendiri sendiri..tipe orang yang serius biasanya menampilkan gaya formal, entah itu pasfoto 3 x4 atau foto pakai baju dinas di kantor. Beberapa orang sepertinya bangga sekali dengan pakaian jas atau baju “non-sipilnya”.

22. Foto Sendiri (Dari Santai Sampai Ancur)

Ini juga foto diri sendiri, biasanya bergaya santai sesantai di pantai. Pokoknya free style. Yang pasti biasanya orang jenis ini cenderung percaya diri dan sering bergonta ganti foto profilnya. Ada juga yang bergaya bebas sebebas bebasnya dan tak kenal jaim. Pokoknya all out. Kadang muka jeleknya sengaja ditampilkan sedemikian rupa, mukanya sengaja ditekuk-tekuk biar terlihat lucu, foto bangun tidur juga oke. Yang pasti, biasanya orang jenis ini cenderung over percaya diri dan sangat sangat ekpresif (Serta tak tahu malu).

23. Foto Pesta/Kondangan

Jarang berdandan, sekali dandan menghadiri acara mantenan mendadak jadi senang banget difoto. Setelah difoto, langsung diupload. Sendiri atau ramai-ramai tak jadi soal, yang penting kostum batik barunya atau busana andalan bisa tampil di FB.

24. Fotonya Ngga Pernah Diganti

Fotonya diganti setahun sekali setiap malam 1 suro. Ada tiga kemungkinan orang yang tidak pernah ganti foto profil FBnya. Pertama, orang seperti ini tidak begitu peduli dan sangat jarang membuka dan update Facebooknya. Kedua, orang ini merasa fotonya itu yang terbaik tiada banding dengan foto dia yang lain. Ketiga, Dia tidak punya stok foto lain. Kasiiian.

25. Busyet dah dibaca sampai selesai? Alamaaak kurang kerjaan sekali Anda ini..saya aja yang menulis ini merasa sangat-sangat kurang kerjaan..hehe…


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta dan Pemantau Regulasi dan Yegulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

“Tafsir” Arti Status Pecandu Facebook

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Saat ini, aktivitas berFacebook ria sudah menjadi sebuah kensicayaan masyarakat dalam menjawab kebutuhan pergaulan sosial yang semakin mengglobal. Berbagai motivasi melatarbelakangi perilaku seseorang dalam berFacebook, dari sekadar kebutuhan berkategori wants: sekadar memenuhi keinginan bersenang-senang dan rasa ingin tahu; sampai pada kategori needs: menjadikan Facebook sebagai kebutuhan yang mau tidak mau harus dipenuhi untuk bisa “survive” terhadap nilai-nilai yang dianut. Singkat kata, Facebook adalah sebuah konsekuensi logis dari gejala modernisme yang difasilitasi teknologi.

Kali ini Bincangmedia menampilkan sisi lain dari kecanduan Facebook , bukan dari perspektif media atau penggunanya, melainkan tafsir sederhana tentang arti status seseorang yang diposting melalui akun Facebooknya. “Kajian” ini bukan orisinal dari saya. Saya menemukannya di internet (lupa link aslinya) dan memposting ulang dengan mengedit  serta menambahkan informasinya.  Silakan disimak!

1. MANUSIA SUPER UPDATE

Kapanpun dan dimanapun selalu update status. Statusnya tidak terlalu panjang tapi membuat risih karena hal-hal yang tidak terlalu penting juga dipublikasikan.

Contoh:

“Lagi makan di restoran A..”, “Saatnya nonton OVJ”, “Dalam perjalanan menuju neraka..”,  dan sebagainya.

2. MANUSIA MELOW/MELANKOLIS

Biasanya selalu curhat lewat status. Entah karena ingin banyak dikomentari teman-temannya atau hanya sekadar menuangkan unek-uneknya ke Facebook. Biasanya orang tipe ini menceritakan kisahnya dan terkadang menanyakan solusi yang terbaik kepada yang lain.

Contoh:

“Kamu sakitin aku..lebih baik aku cari yang lain..”, “Cuma kamu yang terbaik buat aku..terima kasih kamu sudah sayang ama aku selama ini..”.

3. MANUSIA TUKANG NGELUH

Pagi, siang, malam, semuanya selalu ada aja yang dikeluhkan lewat statusnya.

Contoh:

“Jogja panas bangeeet”,

“Jakarta maceeet..!!

“Aaaargh ujan, padahal baru nyuci mobil..sialan. .!!”,

“Males ngapa2in.. cape hati gara2 si doi..” .

4. MANUSIA SOMBONG

Mungkin beberapa dari mereka nggak berniat menyombongkan diri, tapi terkadang orang yang melihatnya, yang notabene tidak bisa seberuntung dia, merasa kalo statusnya itu kelewat sombong, dan malah bikin sebel.

Contoh: “Otw ke Paris ..!!”, “BMW ku sayang, saatnya kamu mandi..aku mandiin ya sayang..”, 2 “Duh, murah-murah banget belanja di Singapur, bow,”

5. MANUSIA PUITIS

Statusnya selalu diisi dengan kata-kata mutiara, tapi kurang jelas apa maksudnya. Bisanya orang jatuh cinta atau putus cinta yang jago membuat status jenis ini.

Contoh:

“Kita adalah malaikat bersayap satu. Dan hanya bisa terbang bila saling berpelukan”,

“Mencintai dan dicintai adalah seperti merasakan sinar matahari dari kedua sisi”,

“Jika kau hidup sampai seratus tahun, aku ingin hidup seratus tahun kurang sehari, agar aku tidak pernah hidup tanpamu”.

6. MANUSIA IN ENGLISH

Tipe manusianya bisa seperti apa saja, apakah melankolis, puitis, sombong dan sebagainya. Tapi dia berusaha lebih keren dengan mengatakannya dalam bahasa Inggwis Gicyu Low…

Contoh:

“I can tooth, you pink sun..” dsb…

7. MANUSIA LEBAY

Updatenya selalu bertema ‘gaul’ dengan menggunakan bahasa dewa.. ejaan yang dilebay-lebaykan.

Contoh:

“met moulnin all.. pagiiieh yg cewrah… xixiixi”

8. MANUSIA ALAY

Ini adalah teman dekatnya si Lebay. Ada berbagai macam versi, dari tulisannya yang aneh, atau tulisannya biasa aja, hanya saja kosakatanya nggak lazim seperti bahasa alien.

Contoh:

Alay 1 : “DucH Gw4 5aYan9 b6t s4ma Lo..7aNgaN tin69aL!n akYu ya B3!bh..!!”

Alay 2 : “km mugh kog gag pernach ngabwarin aq lagee seech? kmuw maseeh saiangs sama aq gag seech sebenernywa? “

Alay 3 : “Ouh mY 9oD..!! kYknY4w c gW k3ReNz 48ee5h d3ch..!!”

9. MANUSIA TEROBSESI

Mengharap tapi nggak kesampaian.. misalnya pengen jadi artis nggak dapat-dapat.

Contoh:

“duwh… sesi pemotretan lagi! cape…“

10. MANUSIA SOK TAHU

Bahasa gaulnya disebut Sotoy. Padahal dia sendiri tidak tahu apa yang ditulisnya.

Contoh:

“Pemerintah selalu memanjakan rakyatnya.. bla..bla…bla,”

“Nazaruddin akhirnya tertangkap bla bla bla (pdahal sudah kemarin-kemarin tertangkap)

11. BIOSKOP MANIA

Update film yang abis ditonton dan kasih comment.

Contoh:

“Harpot oh Harpot…I Luv U Snape”

“Transformers 3 mantab euy..“

“Ketemu Pocong ..Recommended! ,

12. MUSIC MANIA

Update lagu yang sedang didengarkan. Kadang juga upload link videonya di Youtube.

Contoh:

“Begadang..by Rhoma Irama….”

“Iridescent..Linkin Park”

13. MANUSIA PEDAGANG

Yang ini nyebelin karena suka uplaod foto juga dan main tag sembarangan

Contoh:

 “jual sepatu bla bla bla“

 “BU ..jual tas cantik bla bla”

 “Murah..Arloji KW bergaransi..bla bla..”

14. MANUSIA PENYULUH MASYARAKAT

Tipe ini seperti Pak RT padahal bukan siapa-siapa

Contoh:

“jangan lupa dateng ke TPS, 5 menit untuk 5 tahun bla..bla“

“jangan lupa nanti kumpul bareng bukber ya”

 15. TIPE HIDDEN MESSAGE

Tipe ini biasanya tidak to the point, tapi tentunya punya niat biar orang yang dituju membacanya. (Bagus kalau baca..Jika tidak? kelamaan nunggunya) padahal kan bisa langsung aja sms ya..

Contoh:

“For you my M***, I can’ t live without you..you are my bla bla bla..”,

“Heh, cewe ..ngapain lo deket2in co gw?! kyk ga laku aja lo..” <<< (padahal ce tersebut tidak ada dalam jaringannya.. mana bisa baca…)

16. MANUSIA PENDOA

 Tipe ini menganggap Tuhan rutin baca status Facebook. Mengumbar doa di muka umum.

Contoh:

“Ya Tuhan…sukseskanlah PILKADA..”
“Tuhanku…berilah aku kekuatan menghadapi dia yang begitu membenciku”
“Aku pasrah ya Allah….”

 17. MANUSIA SOK MISTERIUS

Tipe yang biasanya bikin banyak orang bertanya-tanya atas apa maksud dari status orang tersebut. Biasanya dalam suatu kalimat membutuhkan Subjek + Predikat + Objek + Keterangan. Tapi orang tipe ini mungkin hanya mengambil beberapa atau malah hanya 1 saja.

Contoh:

“Sudahlah..” , “Telah berakhir..” <<< (apanya??), “Termenung..” <<< (so what?), “Mencoba bertahan..”, atau kadang nulis statusnya cuma “……” (titik titik…) <<< (parahnya ada yang nge-like!),

So, Bagaimana dengan status Anda? Termasuk tipe manakah? :)

Jangan lupa baca juga: “Tafsir” Foto Profil Pecandu Facebook :)

Menyoal Dakwahtainment di Televisi

Iwan Awaluddin Yusuf[1] 

Dakwah Entertainment selalu menguat setiap kali datang bulan Ramadhan. Fenomena ini sesungghnya menjawab kebutuhan relasi komoditas, yakni peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap siraman rohani saat bulan Ramadhan. Kebutuhan ini disadari oleh pengelola stasiun televisi yang jika dipenuhi dapat menaikkan jumlah penonton, selanjutnya menaikkan rating sebuah acara, dan pada gilirannya meningkatkan iklan.  Kegairahan masyarakat terhadap tayangan-tayangan religius dan siaran dakwah lewat televisi pada bulan Ramadhan sebenarnya merupakan indikasi positif seandainya berlanjut pada bulan-bulan setelah Ramadhan. Namun, kesadaran yang muncul karena tren mengikuti arus selera massa tak lain adalah bentuk strategi budaya populer yang mendasarkan pada hubungan transaksional antara pembuat produk dan penikmatnya.

Harus diakui, konsep program acara religi yang ada saat ini lebih banyak yang kurang tepat. Selama bulan puasa, sebuah tayangan makin tinggi nilai jualnya ketika menggunakan label-label agama. Beramai-ramai televisi mengusung label Gebyar Ramadhan, Semarak Ramadhan, Edisi Ramadhan, Spesial Ramadhan, Berkah Ramadhan sebagai tema tayangan. Pihak televisi atau Production House (PH) yang memproduksi acara mampu menyulap tayangan komersial menjadi tayangan yang terlihat religius. Religiusitas yang diciptakan oleh televisi menjadi religiusitas semu tanpa makna. Kadang simbol-simbol agama, berupa pakaian (sorban dan jilbab) atau ritual (salat, ucapan salam, adegan doa) dihadirkan tanpa konteks yang mendukung pesan moral, sekadar tempelan.

Di Indonesia, meski mayoritas penduduknya muslim, kecuali pada bulan Ramadhan, televisi tidak banyak menayangkan acara yang bernuansa dakwah. Hal ini berbeda dengan televisi di negara yang mayoritas muslim lainnya, sebutlah televisi di wilayah Timur Tengah. Mayoritas tayangan acaranya tak jauh dari siaran rohani tak hanya pada bulan Ramadhan. Bahkan tak sedikit televisi di sana menyiarkan tayangan tartil dan qiraatul Quran setiap harinya. Di Indonesia jaringan televisi kabel juga strategis sebagai sarana berdakwah terutama pada stasiun televisi yang mengkhususkan segmen religi. Sedangkan untuk media digital, yang menarik saat ini, da’i-da’i di berbagai negara barat justru banyak berdakwah lewat internet. Sebagai contoh tasawufon-line yang dikembangkan Syeh Kabbani di Amerika Serikat tergoglong sukses, bahkan berhasil menjaring puluhan ribu orang memeluk agama Islam.

Jika diajukan satu pertanyaan, apakah maraknya tayangan dakwah entertainment di TV dapat menjadi ukuran keberhasilan dakwah yang sesungguhnya? Sebagian kalangan berpendapat maraknya tayangan dakwah entertainment di TV merupakan kondisi yang positif karena banyak metode dalam berdakwah. Dan dakwah gaul di televisi salah satu strateginya. Sering diistilahkan dengan “dakwah bilTivi”. Namun, jika ditilik dari misi sesungguhnya dari “dakwah” gaya televisi itu tentu kita boleh curiga (suudzon), niatan religius yang dominan dengan muatan bisnis semata justru bisa mengarah pada kemunduran dakwah itu sendiri. Artinya, semakin banyak yang menonton bukan semakin berhasil misi religiusnya, namun semakin banyak keuntungan finansial yang diraup. Sebuah ironi ketika agama memuat ajaran-ajaran yang berlawanan dengan nilai kapitalisme, tetapi justru agama dijadikan alat mencapai mencapai tujuan kapital. Itu baru  satu aspek saja.

Pesan-pesan agama yang disajikan televisi telah disederhanakan bentuknya atau bahkan dijadikan bahan sensasi yang semuanya tergantung dari perolehan iklan. Ini terjadi karena program religius yang ditayangkan secara ideal tanpa bumbu komodifikasi, jarang memperoleh iklan. Pada akhirnya, penayangan program religius di televisi seolah-olah hanya menjadi bentuk pelayanan publik semata, demi menghindari tuntutan kelompok masyarakat  yang skeptis terhadap kehadiran televisi.

Dalam kaitan ini, apa yang perlu dilakukan, oleh pemirsa maupun pengisi acara TV?Ada beberapa strategi menghadapi situasi ini. Pertama, bagi pemirsa (masyarakat) hendaknya meningkatkan literasi bermedia (istilah lainnya melek media) sehingga memiliki preferensi yang cukup dalam berinteraksi dengan media. Ingat bahwa dalam tayangan apapun di televisi terdapat keterlibatan unsur penyutradaraan dan rekayasa penyiaran. Kualitas sutradara dan pemahaman penulis skenario terhadap agama juga tidak sama; apalagi yang hanya bertujuan jualan program agama kepada pengiklan. Kedua, bagi pengelola televisi secara umum dituntut mengindahkan penerapan Kode Etik Jurnalistik serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) secara konsisten, terutama berkaitan dengan tayangan religi. Keempat, peran masyarakat dan lembaga pemantau media (media watch) perlu dioptimalkan sebagai mitra yang setia mengingatkan media jika bertindak kebablasan dalam cara berdakwah. Banyak saluran untuk menyuarakan hak keberatan masyarakat seperti menggunakan Hak Jawab, mengadu ke KPI, Dewan Pers, ombudsman media bersangkutan, dan sebagainya.


[1]Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

Menakar Biaya dan Manfaat Ekonomi atas Pembatasan Monopoli, Konglomerasi, dan Kepemilikan Silang Industri Media Penyiaran

 

sumber gambar: hm.indymedia.org

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Di Indonesia, liberalisasi media sejak reformasi 1998 telah membawa pengaruh yang sangat penting dalam proses demokratisasi. Perkembangan yang signifikan adalah dipertegasnya kebebasan pers dalam konstitusi (UUD 1945) dan Undang-undang Pers, serta semakin kokohnya liberalisasi ekonomi. Kebebasan atau liberalisasi media juga memberikan keleluasaan dalam pemilikan media yang oleh pemodal kesempatan tersebut bergegas dimanfaatkan karena menjadi bagian dari strategi bisnis yang sangat menguntungkan.

Kondisi di atas merupakan perkembangan yang menarik dan menguntungkan untuk para pebisnis, tetapi apakah hal yang sama akan dirasakan bagi perkembangan demokrasi yang bermuara pada kemanfaatan publik? Perkembangan konsentrasi media belum tentu juga berdampak sama bagi kehidupan masyarakat lainnya. Untuk itu diperlukan regulasi yang dapat mengatur atau membatasi pemusatan kepimilikan media massa, khususnya penyiaran yang menggunakan ranah publik (public domain). Terutama untuk menjamin adanya keragaman kepemilikan (diversity of ownership), keragaman isi (diversity of ownership), dan kebergaman pendapat di media (diversity of voice).

Kebijakan soal pembatasan Monopoli, Konglomerasi, dan Kepemilikan Silang (Media Penyiaran) sesungguhnya terlah diatur dalam peraturan hukum, yakni UU Penyiaran nomor 32 tahun 2002 ayat 1, pasal 18. Di sana disebutkan:

“Pemusatan kepemilikan dan penguasaan lembaga penyiaran swasta oleh satu orang atau satu badan hukum, baik di satu wilayah siar maupun beberapa wilayah siar, dibatasi”.

Selanjutnya Peraturan Pemerintah nomor  50 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta menyebutkan tentang pembatasan kepemilikan dan pen­guasaan atas jasa penyiaran radio dan televisi dikatakan :

 Pasal 31

(1)  Pemusatan kepemilikan dan penguasaan Lembaga Penyiaran Swasta jasa penyiaran radio oleh 1 (satu) orang atau 1 (satu) badan hukum, baik di satu wilayah siaran maupun di beberapa wilayah siaran, di seluruh wilayah Indonesia dibatasi sebagai berikut:

  1. 1 (satu) badan hukum hanya boleh memiliki 1 (satu) izin penyelenggaraan penyiaran jasa penyiaran ra­dio;
  2. paling banyak memiliki saham sebesar 100% (se­ratus perseratus) pada badan hukum ke-1 (kesatu) sampai dengan ke-7 (ketujuh);
  3. paling banyak memiliki saham sebesar 49% (empat puluh sembilan perseratus) pada badan hukum ke-8 (kedelapan) sampai dengan ke-14 (keempat belas);
  4. paling banyak memiliki saham sebesar 20% (dua puluh perseratus) pada badan hukum ke-15 (kelima belas) sampai dengan ke-21 (keduapuluh satu)
  5. paling banyak memiliki saham sebesar 5% (lima perseratus) pada badan hukum ke-22 (ke dua puluh dua) dan seterusnya).
  6. badan hukum sebagaimana dimaksud pada huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, berlokasi di beberapa wilayah kabupaten/kota yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

(2)  Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, huruf d, dan huruf e, memungkinkan kepemilikan saham sebesar 100% (seratus perseratus) untuk Lembaga Penyiaran Swasta jasa penyiaran radio yang berada di daerah perbatasan wilayah nasional dan/atau daerah terpencil.

(2)  Kepemilikan

1) Kepemilikan badan hukum sebagaimana dimak­sud pada ayat (1) berupa saham yang dimiliki oleh paling sedikit 2 (dua) orang sesuai dengan keten­tuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan informasi masyarakat.

Paragraf 2

Jasa Penyiaran Televisi

Pasal 32

 (1) Pemusatan kepemilikan dan penguasaan Lembaga Penyiaran Swasta jasa penyiaran televisi oleh 1 (satu) orang atau 1 (satu) badan hukum, baik di satu wilayah siaran maupun di beberapa wilayah siaran, di seluruh wilayah Indonesia dibatasi sebagai berikut:

  1. 1 (satu) badan hukum paling banyak memiliki 2 (dua) izin penyelenggaraan penyiaran jasa penyiaran televisi, yang berlokasi di 2 (dua) provinsi yang ber­beda;
  2. paling banyak memiliki saham sebesar 100% (sera‑
    tus perseratus) pada badan hukum ke-1 (kesatu);
  3. paling banyak memiliki saham sebesar 49% (empat puluh sembilan perseratus) pada badan hukum ke-2 (kedua);
  4. paling banyak memiliki saham sebesar 20% (dua puluh perseratus) pada badan hukum ke-3 (ketiga);
  5. paling banyak memiliki saham sebesar 5% (lima perseratus) pada badan hukum ke-4. (keempat) dan seterusnya;
  6. badan hukum sebagaimana dimaksud pada huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, berlokasi di beberapa wilayah provinsi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

(2)  Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, huruf d, dan huruf e, memungkinkan kepemilikan saham lebih dari 49% (empat puluh sembilan perseratus) dan paling banyak 90% (sembilan puluh perseratus) pada badan hukum ke-2 (kedua) dan seterusnya hanya untuk Lembaga Penyiaran Swasta yang telah mengoperasikan sampai dengan jumlah stasiun relai yang dimilikinya sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini.

(3)    Kepemilikan

(4) Kepemilikan Lembaga Penyiaran Swasta seba­gaimana dimaksud pada ayat (1) berupa saham yang dimiliki oleh paling sedikit 2 (dua) prang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(5)  Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditinjau kembali untuk disesuaikan  dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan informasi masyarakat.

Bagian Kedua

Pembatasan Kepemilikan Silang

Pasal 33

Kepemilikan silang antara Lembaga Penyiaran Swasta, perusahaan media cetak, dan Lembaga Penyiaran Berlangganan balk langsung maupun tidak langsung dibatasi sebagai berikut:

  1. 1 (satu) Lembaga Penyiaran Swasta jasa penyiaran radio dan 1 (satu) Lembaga Penyiaran Berlangganan dengan 1 (satu) perusahaan media cetak di wilayah yang sama; atau
  2. 1 (satu) Lembaga Penyiaran Swasta jasa penyiaran televisi dan 1 (satu) Lembaga Penyiaran Berlang­ganan dengan 1 (satu) perusahaan media cetak di wilayah yang sama; atau
  3. 1 (satu) Lembaga Penyiaran Swasta jasa penyiaran radio dan 1 (satu) Lembaga Penyiaran Swasta jasa penyiaran televisi dengan 1 (satu) Lembaga Penyi­aran Berlangganan di wilayah yang sama.

Biaya dan Manfaat Ekonomi

Mengatur atau membatasi pemusatan kepimilikan media massa, khususnya penyiaran yang menggunakan ranah publik (public domain) perlau dilakukan untuk menjamin adanya keragaman kepemilikan (diversity of ownership), keragaman isi (diversity of ownership), dan kebergaman pendapat di media (diversity of voice), namun demikian ada biaya yang harus dibayar oleh pebisnis media, yakni:

Pertama, Investor/pemodal yang memiliki modal besar, baik dari dalam mapun luar negeri tidak leluasa mengembangkan bisnisnya (dalam industri media) di Indonesia.

Kedua, Monopoli atau oligopoli adalah kecenderungan alamiah dari sistem ekonomi kapitalis, yang sekaligus merupakan hasil dari kesuksesan pasar atau kesuksesan komersial. Dengan adanya peraturan soal pembatasan monopoli, konglomerasi, dan kepemilikan silang bagi media penyiaran, hukum pasar dalam industri media tidak berjalan/dibatasi sebagaimana prinsip alamiahnya.

Biaya ekonomi ini sebenarnya tidak seberapa dibanding manfaat ekonomi yang akan diperoleh jika pemerintah mempertegas kebijakan pembatasan monopoli, konglomerasi, dan kepemilikan silang (media penyiaran), yakni:

Pertama, Konsolidasi produksi tidak hanya berada di tangan sejumlah pihak perusahaan yang mengambil manfaat dari skala dan skup ekonomi (economic of scale) yang membuat adanya pengurangan biaya dari barang dan jasa kepada konsumen.

Kedua, Terjadi kompetisi di antara media akan menghasilkan media-media penyiaran yang sehat secara bisnis dengan menonjolkan inovasi dalam persaingan merebut minat khalayak.

Ketiga, Kuantitas dan kualitas produksi media penyiaran meningkat karena kompetisi yang fair.

Di Indonesia, peraturan hukum tentang anti monopoli, pemusatan, dan kepemilikan silang media penyiaran sudah ada dan jelas berlaku sejak diundangkan, namun dalam praktiknya hingga saat ini, indsutri media penyiaran masih dikuasai kelompok tertentu. Dengan kata lain, penegakan hukum (law inforcement) tidak berjalan dengan baik, dan “kebijakan” penegakan hukum inilah yang perlu diprioritaskan oleh pemerintah dalam rangka menciptakan industri penyiaran yang demokratis.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

Blog, Jurnalisme Warga, dan Tantangan Konvergensi Media

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Perkembangan teknologi media yang cepat dengan kemampuan konvergensinya atas media-media yang sudah ada sebelumnya, secara perlahan tapi pasti berdampak pada praktik jurnalisme. Jurnalisme warga (citizen journalism) sebagai sebuah genre baru dalam kajian jurnalistik lahir berkat adanya teknologi internet yang kemudian menghadirkan weblog (biasa disingkat blog), yaitu satu jenis web yang berisi tulisan, catatan, video, audio, komentar, atau informasi tentang topik tertentu seperti politik, berita daerah, hobi, kisah keseharian, dan beberapa data diri pemilik blog. Penggunaan blog yang awalnya sekadar untuk memenuhi kepuasan diri akhirnya berkembang menjadi aktivitas rutin untuk saling bertukar informasi di kalangan blogger.

Menyadari besarnya potensi blog untuk menjalin komunikasi secara lebih luas, maka motivasi para blogger akhirnya mengalami pergeseran dari orientasi pemuasan diri kemudian berkembang ke arah fungsi sosial yang lebih luas dengan cara saling melakukan tukar menukar informasi. Aktivitas ini kemudian menjadi awal berkembangnya jurnalisme warga yang memiliki karakter berbeda dengan jenis jurnalisme online yang telah lahir sebelumnya. Perubahan fungsi itu terjadi karena keberadaan blog didukung oleh infrastruktur yang memungkinkan adanya interkoneksi antar blog dalam cakupan global, terutama perkembangan web generasi 2.0.

Dibandingkan jurnalisme mainstream yang memaknai berita sebagai konstruksi atas realitas sosial yang dianggap penting dan menarik bagi banyak pembaca, jurnalisme warga menekankan pada aspek participation (partisipasi), proximity (kedekatan), dan humanity (kemanusiaan). Jurnalisme warga adalah proses pengumpulan data, penulisan, penyuntingan, dan penyebarluasan informasi oleh warga secara mandiri, nonprofit, merupakan ekspresi jati diri reporter maupun kebudayaan masyarakat sekitar. Praktik penyelenggaraan jurnalisme warga tidak dikendalikan oleh pihak manapun sehingga mereka memperoleh kebebasan penuh dan sangat independen. Oleh karena itu prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dibangun oleh jurnalisme warga dapat menjadi antitesis dari jurnalisme mainstream (Darmanto, 2007).

Dari sejumlah prinsip di atas, ciri yang paling menonjol adalah adanya keterlibatan atau partisipasi penuh dari warga sehingga mereka tidak hanya menjadi objek atas produk jurnalisme, tetapi sekaligus sebagai subjek allias pelaku jurnalisme. Dalam istilah yang dikembangkan oleh situs OhMyNews, “Every Citizen is a Reporter,” sebuah semboyan yang sangat radikal dan dapat menjungkir-balikkan pandangan konvensional tentang jurnalisme. Dengan kata lain, siapapun bisa menjadi dan diakui sebagai wartawan, tidak perlu lagi institusi resmi atau memiliki kartu pers. Karena sifat partisipasinya yang penuh, maka tidak ada klaim dari manapun yang merasa sebagai pihak paling bertanggung jawab, sehingga tidak berhak mendikte, mengarahkan, dan menentukan jenis berita atau informasi yang akan ditulis oleh para reporter sebagaimana lazimnya terjadi dalam media mainstream.

Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber dapat diketahui bahwa perubahan pola penggunaan blog dari yang sifatnya pribadi ke arah fungsi jurnalisme dimulai tahun 1988 ketika berlangsung pemilihan Presiden di Amerika Serikat. Jay Rosen dari University of New York disebut-sebut sebagai salah satu pelopor bangkitnya situs-situs jurnalisme warga. Kini sudah cukup banyak blog yang menjadi situs jurnalisme warga.  Di Korea Selatan, seorang yang bernama  Oh Yeon-Ho pada 22 Februari 2000 berhasil membangun situs jurnalisme warga yang diberi nama “OhMyNews.” Situsweb berbasis citizen journalism bertajuk OhMyNews (ohmynews.com atau english.ohmynews.com) dari Korea Selatan menjadi contoh kekuatan baru di era informasi global saat ini. Situs tersebut  sekarang mempunyai 42 ribu kontributor (dan terus bertambah) yang tersebar di berbagai negara.

Dalam kaitan ini, tidak heran jika majalah TIME edisi 25 Desember 2006 lalu menutup edisi tahun tersebut dengan memilih “Person of The Year 2006” adalah “Anda”. Ya, Anda. Siapapun orang di muka bumi yang pernah berinteraksi dalam dunia maya. TIME mencatat bahwa tahun 2006 adalah tahun penanda peradaban masyarakat informasi. Tidak hanya di AS, tetapi di belahan bumi manapun dari Inggris di Eropa, Korea Selatan di Asia, hingga Maroko di Afrika.

Dalam konteks di Indonesia, situs yang populer melakukan aktivitas jurnalisme warga antara lain halamansatu.net, wikimu.com, panyingkul.com, dan jalinmerapi/suara komunitas. Ditilik dari sejarahnya, cikal bakal jurnalisme warga di tanah air bermula dari ketertutupun politik sebelum Reformasi menyebabkan hadirnya berbagai portal dan milis (beberapa yang terkenal misalnya Indonesia-1/Apakabar, dan Joyonews) yang membahas isu-isu politik dan dimotori oleh mahasiswa-mashasiwa Indonesia di luar negeri. Di sisi lain, sejarah juga mencatat peran internet yang bisa dimanfaatkan oleh para aktivis anti-Soeharto secara efektif memunculkan gagasan reformasi dan menggerakkan mahasiswa yang berujung pada tumbangnya Orde Baru pada 21 Mei 1998. Saat ini jumlah blog di Indonesia mencapai ratusan ribu dan terus lahir setiap harinya (Tempo, 6 Agustus 2006). Meskipun blog tidak selalu identik dengan jurnalisme warga, namun angka tersebut cukuplah membuka mata untuk mengakui eksistensi jurnalisme warga.

Kehadiran jurnalisme warga yang dainggap sebagai era baru demokratisasi dan keterbukaan informasi ternyata menimbulkan kontroversi. Setidaknya ada tiga kelompok menyikapi jurnalisme warga. Pertama, dapat menerima secara penuh dan memberikan penguatan. Kedua, menerima dengan berbagai catatan, umumnya terkait dengan prosedur kerja jurnalisme konvensional yang tidak bisa dilepaskan begitu saja seperti kaidah 5W+1H atau nilai berita. Ketiga, pihak yang mengkritik, bahkan bersikap skeptis. Pihak yang kontra ini bahkan mempersoalkan keabsahan penggunaan istilah “jurnalisme” karena secara metodologis rasanya tidak tepat jika kegiatan yang hanya sekadar menulis dan mengirimkannya ke blog itu disebut sebagai jurnalisme atau altivitas jurnalistik.

Dalam kajian hukum formal, bahkan jurnalisme warga belum mendapat perlindungan sebagaimana profesi wartawan pada umumnya. Hukum jurnalisme warga misalnya dapat dilihat pada tanya jawab di situs hukumonline.com yang penulis kutip sebagai berikut (http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4fd971d99ca5d/hukum-jurnalisme-warga):

Pertanyaan:
Hukum Jurnalisme Warga

Misal, kejadiannya saya melihat ada sebuah mobil plat merah yang sedang mengisi premium di sebuah SPBU, kemudian saya berniat mengambil gambar kejadian itu untuk kemudian dipublikasikan melalui media sosial (social media) atau media mainstream. Apabila oknum plat merah tersebut melarang atau marah dengan perbuatan saya, apakah saya dapat membela diri dengan alasan demokrasi jurnalisme warga? Adakah peraturan hukum yang menjelaskan hal tersebut? Terima kasih.

Jawaban:
Ilman Hadi (Pakar Hukum)

Pada dasarnya, di Indonesia belum ada peraturan perundang-undangan yang secara spesifik mengatur tentang jurnalisme warga (citizen journalism).

Kegiatan jurnalistik untuk diberitakan adalah pekerjaan dari wartawan sebagai pekerja jurnalistik. Menurut Pasal 1 angka 4 UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers (“UU Pers”), wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik. Dalam pembuatan berita sendiri, wartawan memiliki pedoman yang salah satunya adalah setiap berita harus melalui verifikasi. Dan dalam menjalankan tugasnya, wartawan mendapat perlindungan hukum (Pasal 8 UU Pers).

Walaupun Saudara menjalankan praktik jurnalistik, tetapi jika Saudara bukanlah wartawan, Saudara tidak mendapatkan perlindungan hukum sebagai wartawan atas tindakan pengambilan dan penyebarluasan gambar tersebut. Tindakan Saudara memiliki risiko untuk dapat dituntut atas dasar pencemaran nama baik sesuai Pasal 310 ayat (1) dan ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”).

Akan tetapi, menurut Pasal 310 ayat (3) KUHP, perbuatan seseorang bisa tidak dikategorikan sebagai tindak pidana pencemaran nama baik bila dilakukan untuk membela kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri.

Dalam artikel Ancaman Pencemaran Nama Baik Mengintai, Prof. Muladi berpendapat bahwa tetap ada pembelaan bagi pihak yang dituduh melakukan pencemaran nama baik apabila menyampaikan suatu informasi ke publik. Pertama, penyampaian informasi itu ditujukan untuk kepentingan umum. Kedua, untuk membela diri. Ketiga, untuk mengungkapkan kebenaran.

Di sisi lain, jika foto tersebut disebarluaskan ke media sosial di internet, ketentuan dalam Pasal 27 ayat (3) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UUITE”) juga dapat diberlakukan:

“Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

Pelanggaran atas pasal ini diancam dengan Pasal 45 ayat (1) UUITE yakni pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.

Bisa dilihat bahwa tindak pidana pencemaran nama baik yang diatur dalam UU ITE tidak memiliki pengecualian seperti dalam KUHP. Pengaturan dalam UU ITE memang lebih tegas dan strict.  Namun, tindak pidana pencemaran nama baik ini merupakan delik aduan (Pasal 319 KUHP) yakni, hanya bisa diproses ketika ada pengaduan dari orang yang merasa dicemarkan nama baiknya.

Meskipun pendapat hukum di atas tidaklah final sebagai sebuah putusan, setidaknya perlu dikaji bagaimana jurnalisme warga bisa menjadi alternatif sumber informasi yang  bebas dan mencerdaskan tanpa emberl-embel ancaman hukuman yang menyeramkan jika terjadi malpraktik. Setidaknya hak koreksi dan hak jawab mengacu pada UU Pers.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.