Bagaimana Koran Kuning Mencampuradukkan Fakta dan Opini?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Opinisasi adalah memasukkan pendapat pribadi wartawan ke dalam sebuah berita, alih-alih memaparkan fakta. Opinisasi juga berarti pencampuran antara fakta dan pendapat wartawan sehingga mengaburkan fakta jurnalistik yang sebenarnya. Dalam konsepsi baku jurnalisme, pemberian opini merupakan hal yang dilarang karena tugas wartawan pada dasarnya hanyalah melaporkan fakta. Interpretasi berbeda dengan opinisasi. Interpretasi menggunakan logika, penalaran, bahkan metodologi, sementara opinisasi terjadi karena kebiasaan memberikan penilaian, menghakimi, keinginan untuk membela kepentingan tertentu, sampai opini yang sengaja dimunculkan untuk membumbui sebuah cerita menjadi sensasional.

Praktik opinisasi sering dijumpai pada berita-berita yang ditampilkan dalam koran kuning. Contoh opinisasi dalam koran kuning dapat dilihat dari kutipan: “Malang nian nasib janda tua ini. Saat merebus mie di rumahnya…ia terjatuh lalu menyenggol kompor hingga tubuhnya terbakar, dst” (Pos Kota, 27 Juli 2004). Kalimat pertama jelas merupakan opini wartawan. Fakta baru dipaparkan pada kalimat kedua dan seterusnya. Contoh serupa juga terdapat berita Meteor,1 Agustus 2008 berjudul “Saatnya Anggota DPR Mandi Junub, Hartanya Najis Hidupnya pun Najis” dengan lead sebagai berikut. “Skandal korupsi berjamaah yang melibatkan seluruh anggota Komisi IX DPR periode 1994-2004 benar-benar menjijikkan. Anggota DPR sudah coreng moreng dengan korupsi. Main perempuan dari korupsi. Badannya pun najis. Karena itu, sudah saaatnya mereka mandi junub”. Judul dan lead berita tersebut jelas merupakan opini yang berasal wartawan. Dalam kasus ini seharusnya wartawan tidak perlu berpendapat  atau “menjadi juru dakwah” terlebih dulu, tetapi tugasnya adalah melaporkan fakta, bukan menulis opini.

Praktik pencampuran fakta dan opini dalam berita dapat dijumpai pada judul, lead, dan body berita. Tulisan ini memaprkan contoh-contoh pencampuran fakta dan opini pada dua koran kuning yang menjadi market leader di Indonesia, yakni Lampu Merah (kini Lampu Hijau) dan Poskota.

Opinisasi yang ditampilkan pada judul headline Lampu Merah (LM) umumnya terlihat dari cara penulisan judul yang disertai opini pribadi dari wartawan/editor. Terkadang juga tampak dari adanya pencampuran antara fakta dan opini sehingga mengaburkan fakta yang sebenarnya ingin diberitakan. Bentuk-bentuk opinisasi judul Lampu Merah antara lain terlihat dalam contoh berikut.

Jangan Nongkrong Sendirian di Lapangan Mega Kuningan. Cewek Diajak Minum AO, Udah Beler, digilir 5 Kuli (LM, 4 Agustus 2008)

4 Tahun Kerja, Malah Kelilit Utang Rp. 2,5 Juta. Linmas Kelurahan Menteng Ngerampok, Bunuh 3 Orang (LM, 3 Agustus 2008)

Cowok Kelamaam Gak di Rumah, Jadi Gampang Greng. Udah Tau Cewek O’on Diperkosa Ampe Hamil (LM, 19 Agustus 2008)

Modalnya Cuma Gondrong Doang, Macari Pembantu. Pembantu Jarang Dijajanin Minta Putus, Eh…Diperkosa (LM, 12 Agustus 2008)

Opinisasi dalam lead Lampu Merah seringkali ditampilkan dalam bentuk generalisasi, yaitu penyimpulan gejala tertentu secara umum (proposisi) tanpa disertai bukti-bukti pendukung (premis-premis) yang relevan. Terkadang opini dibuat seolah-olah mewakili pendapat atau pikiran aktor/subjek berita. Contoh opinisasi ini antara terlihat dalam lead berita yang ditulis sebagai berikut.

Si cowok benar-benar nggak modal. Kecuali rambut gondrongnya. Dia pikir, dengan rambut gondrongnya, si pembantu yang dipacarinya bakal senang. Ternyata tidak. Lama-lama, si pembantu capek juga harus membayari jajan setiap kali kencan. Dan si pembantu pun pacaran lagi. Si gondrong diputusin. Tapi si gondrong marah. Si pembantu pun diperkosa! (LM, 12 Agustus 2008)

Ini memang cuma masalah burung. Yang kepengen matuk. Tapi jadi persoalan serius karena yang mau dipatuk terlanjur ngantuk. Dan acara matuk pun batal. Karuan, yang punya burung ngamuk. Dan malam itu, istri yang ngantuk pun diamuk. Tangannya dipelintir. (LM, 9 Agustus 2008).

DS (25 tahun) warga Kampung Sasak, Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor mendapat julukan raja tega. Bagaimana tidak? Cowok itu telah mencabuli cewek 10 tahun. Sebut saja Melati. Ironisnya, si cewek itu keponakannya sendiri. Orangtua Melati pastinya kecewa. Mereka melaporkan DS ke kantor polisi. (LM, 8 Agustus 2008).

Dalam body berita Lampu Merah, bentuk opinisasi umumnya juga tampak dari adanya pencampuran antara fakta dan opini dalam berita sehingga mengaburkan fakta pokok yang ingin disampaikan. Selain itu, opinisasi juga ditandai adanya generalisasi, yaitu penyimpulan gejala tertentu secara umum (proposisi) tanpa disertai bukti-bukti pendukung (premis-premis) yang relevan, termasuk menyebutkan keseluruhan untuk mengganti sebagian (totem pro parte). Contohnya pada paragraf body berita Lampu Merah berikut.

Dan mungkin, Raden Ihlas Radesa (34), sudah katagihan microphone. Hingga akhirnya mencari ’microphone’ lain milik murid-muridnya. Tapi lucunya, meski kasus asusila ini sempat ditangani aparat kepolisian, tapi Ihlas Radesa tidak ditahan. (LM, 1 Agustus 2008)

Penarikan kesimpulan yang terburu-buru dan mengaburkan motif sebenarnya dari pelaku kriminal yang ditampilkan dengan teknik generalisasi juga tampak jelas dari kutipan body berita Lampu Merah berikut.

Aksi nekat yang dilakukan DS dipicu karena kegemarannya nonton film porno. Saat gairah melanda otak dan pikiran, DS tidak tahu kemana harus menyalurkannya. Saat DS pusing, dia melihat Melati baru keluar dari rumahnya. Otak DS langsung ngeres. (LM, 8 Agustus 2008)

Secara umum, opinisasi pada headline Lampu Merah muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa pemilihan kata, frasa, dan kalimat bernuansa opinisasi. Kata-kata yang dipilih Lampu Merah untuk menonjolkan opinisasi antara lain: “mungkin”, “maklum”, “entah”, “memang”, “rupanya”, “sepertinya”, “agaknya”,  dan “karuan”.  Sedangkan frasa yang digunakan Lampu Merah untuk menampilkan opinisasi di antaranya: “bagaimana tidak?”, “mau gimana lagi?”, dan “antara percaya dan tidak”.

Dalam pola kalimat, opinisasi headline Lampu Merah muncul baik berupa kalimat panjang dan kalimat pendek yang berada dalam struktur paragraf. Umumnya, kalimat dinilai mengandung opinisasi karena adanya generalisasi, yaitu penyimpulan gejala tertentu secara umum (proposisi) tanpa disertai bukti-bukti pendukung (premis-premis) yang relevan. Pola pemberian opini yang terlihat jelas biasanya muncul pada kalimat di awal paragraf lead mampun body berita. Contoh pemberian opini sekaligus penyimpulan yang seharusnya tidak perlu dimunculkan tampak dalam paragraf berikut.

Minggu dinihari kemarin tak akan pernah dilupakan Este (nama samaran). Gadis 19 tahun itu dicekoki minuman keras sampai teler. Setelah itu, Este digilir lima cowok di sebuah lapangan di daerah Mega Kuningan, Setiabudi Jakarta Selatan. Este lemes. Ia terkulai, ditinggal begitu saja oleh cowok yang menggilirnya. (LM, 4 Agustus 2008)

Berakhir sudah petualangan dukun cabul bernama Darsipan (45 tahun), warga Kasmaran, Kecamatan Wisdasari. Darsipan ditangkap polisi, saat tidur pulas di rumahnya. Darsipan dilaporkan ke polisi karena telah melakukan pencabulan. (LM, 24 Agustus 2008)

Dia boleh jago ngelurusin urat yang bengkok. Tapi uratnya sendiri, benar-benar nggak keurus. Buktinya saat urat burungnya tegang, si tukang pijet ini tak pilih-pilih lagi. Pelanggan pijetnya, yang sudah keriput, diembat juga. Malah, si nenek diperkosa setelah jadi mayat. Ya, kepala si nenek dibekap kantong kresek sampai mati. Lalu diperkosa! Hahh? (LM, 5 Agustus 2008)

Selain Lampu Merah, berita di harian Poskota (PK) juga diwarnai dengan opinisasi. Opinisasi dalam lead Pos Kota seringkali juga ditampilkan dalam bentuk generalisasi. Contoh opinisasi ini antara terlihat dalam lead berita yang ditulis sebagai berikut.

Menjadi bom seks tampaknya menjadi pilihan bagi sejumlah selebritis kita yang menyandang status janda. Mereka melihat film dengan buka aurat merupakan bagian dari profresionalisme memenuhi tuntutan skenario. (PK, 10 Agustus 2008)

Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah ini pantas diberikan kepada Ny.Sriatun dan Ryan, anaknya. Ketika diperiksa di Polres Jombang, Ny.Sriatun, yang bekerja sebagai pedagang kain, bersikeras bahwa ia jarang di rumah. (PK, 1 Agustus 2008)

Kejahatan di Ibukota jakarta dan sekitarnya sudah tak pandang bulu. Korban kebiadaban mereka banyak dijumpai orang lanjut usia (lansia) kaya. Selain dibantai, harta bendanya disikat. Bahkan tak sedikit pula pelakunya adalah orang yang dikenal korban. (PK, 9 Agustus 2008).

Dalam body berita Pos Kota, bentuk opinisasi umumnya juga tampak dari adanya pencampuran antara fakta dan opini dalam berita sehingga mengaburkan inti fakta yang akan disampaikan. Contohnya pada paragraf pertama body berita Pos Kota berikut.

Kemunduran perekonomian yang sedang terjadi di Indonesia berimplikasi luas dan dalam. Implikasi tergolong tragis adalah banyak orang menempuh jalan pintas dengan cara membunuh dengan maksud mendapatkan harta. Banyak pula yang harapannya mentok, lalu bunuh diri. (PK, 12 Agustus 2008)

Penarikan kesimpulan yang terburu-buru dalam penyampaian berita karena keinginan untuk beropini layaknya “juru dakwah”, akhirnya mengabaikan sejumlah fakta penting dari rangkaian peristiwa. Contoh pola ini tampak jelas dari kutipan body berita Pos Kota berikut.

Sejumlah proyek pembangunan mandeg karena dikabarkan pejabat pelaksanaannya takut salah dalam bekerja. Ketakutan seperti itu tidak perlu terjadi bila yang bersangkutan tidak memiliki kepentingan pribadi kecuali melaksanakan tugas. Kesan yang muncul, tanpa korupsi atau cincai-cincai, proyek pembangunan tidak bisa berjalan. Ironis. (PK, 13 Agustus 2008)

Secara umum, opinisasi pada headline Pos Kota muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa pemilihan kata, frasa, dan kalimat bernuansa opini. Kata-kata yang dipilih Pos Kota untuk menonjolkan opinisasi dalam penulisan headline antara lain: “tampaknya”, “kesannya”, “dikabarkan”, “pantas saja”, “sepertinya”, “tentu”. Sedangkan frasa yang digunakan Pos Kota untuk menampilkan opinisasi di antaranya: “kesan yang muncul”, “tentu saja”, “boleh dibilang”, “bisa dibilang”, “tidak mengherankan”.

Dalam pola kalimat, opinisasi headline Pos Kota muncul baik berupa kalimat panjang dan kalimat pendek yang berada dalam struktur paragraf. Umumnya, kalimat dinilai mengandung opinisasi karena adanya generalisasi, yaitu penyimpulan gejala tertentu secara umum (proposisi) tanpa disertai bukti-bukti pendukung (premis-premis) yang relevan. Kadang diimbuhi pepatah atau peribahasa yang seharusnya tidak perlu dimunculkan dalam penulisan berita. Pola kalimat bernuansa opini tampak pada contoh paragraf berikut.

Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah ini pantas diberikan kepada Ny.Sriatun dan Ryan, anaknya. Ketika diperiksa di Polres Jombang, Ny.Sriatun, yang bekerja sebagai pedagang kain, bersikeras bahwa ia jarang di rumah. (PK, 1 Agustus 2008)

Pasangan suami istri ditemukan tak bernyawa di rumahnya, Perumahan Cipta Graha Blok C No.6 Gunung Batu, Pasteur Bandung, Jawa Brata, Sabtu (30/8) malam. Kedua korban Ronal Alimuddin, 50, dan sang istri, Sri Magdalena, 45, dibunuh dengan cara sadis. Tentu saja peristiwa tersebut membuat geger kota Bandung. (PK, 4 Agustus 2008)

Praktik penyimpangan seks sesama lelaki bukan cuma dijumpai di kalangan usia dewasa, tapi sudah merambah kalangan remaja. Sebagian di antaranya dari keluarga miskin. Remaja keluarga miskin itu di antaranya menjadi joki 3 in 1 (three in one) dan anak jalanan (anjal). Boleh dibilang, remaja tersebut cuma menjadi korban pelampiasan nafsu pria dewasa sebagai gay. (PK, 6 Agustus 2008).


1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, peneliti di Pusat Kajian Media & Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta, dan aktivis Pemantau Regulasi dan Regulator media (PR2MEDIA), Yogyakarta.

Apa Jadinya Bila “Emosi” Dijadikan Bumbu Berita?

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Walaupun emosi dapat meng“hidup”kan sebuah berita, aspek netralitas dan objektivitas pemberitaan menuntut sebuah penyajian berita yang dituturkan dengan logika rasional dan terkendali. Penonjolan emosi di dalam berita menjadikan objektivitas berita tergerus. Sebutlah contoh dua judul berita berikut: “Indonesia Menangisi Kekalahan Taufik Hidayat” atau “Pertahankan Ambalat, Ganyang Malaysia!”. Alih-alih menyampaikan fakta, judul berita di atas menonjolkan sisi emosional berkaitan dengan rasa nasionalisme atau patriotisme sesaat, bukan nalar jernih dan berpikir rasional sang jurnalis.

Emosi yang kita bahas kali ini dapat diartikan sebagai penonjolan aspek emosional (suka, benci, sedih, gembira, marah, putus asa, dan sebagainya) dibandingkan aspek logis rasional di dalam penyajian sebuah berita. Selain itu, ciri lain dari emosionalisme adalah pemberian tanda baca atau huruf tertentu seperti tanda seru [!], tanda tanya [?], titik tiga […], atau kombinasi ketiganya, serta penggunaan huruf tertentu secara rangkap dalam struktur kata yang semestinya tidak ditulis demikian. Contohnya  dapat dijumpai pada judul “Mana Tahannn…” (Merapi, 21 Agustus 2004) atau pada kalimat “…Petugas Polres Sleman menembaknya. Door! Dor! Si Maling Bandel ini dibedil kakinya sampek dlosor. Kapok ra! (Meteor, 10 Juli 2004).

Emosionalisme juga tampak dari adanya kontras, yakni menyandingkan dua fakta yang berbeda namun tidak berkaitan langsung dengan maksud menimbulkan efek ironis sehingga menambah kesan tertentu yang membangkitkan sisi emosional. Contohnya terlihat dari paragraf berikut.

Urusan nafsu emang cuma urusan burung. Nggak penting lagi, apa statusnya. Buktinya Saman pun tak mau ketinggalan jaman. Padahal, laki-laki 35 tahun ini ustadz. Tapi Saman tak bisa mengurus burungnya. Si burung keliaran tengah malam, nidurin istri tetangga.” (Lampu Merah, 20 Agustus 2008).

Pola-pola emosionalisme seringkali ditampilkan oleh suratkbar yang bisa dikategorikan sebagai ”koran kuning”. Nuansa emosi bahkan menjadi menu wajib dalam menyajikan berita. Sebutlah dua nama mainstream koran yang mewakili  genre koran kuning di Indonesia saat ini: Lampu Merah (LM, sekarang berganti nama menjadi Lampu Hijau) dan Pos Kota (PK).

Kita mulai dengan emosi yang ditampilkan Lampu Merah. Kesan pertama yang muncul ketika membaca Lampu Merah adalah luapan emosi judul beritanya. Emosionalisme yang ditampilkan dalam judul headline koran ini umumnya terlihat dari teknik penulisan dengan tanda baca tertentu yang semestinya tidak perlu digunakan. Bentuk-bentuk emosionalisme yang ditampilkan pada judul Lampu Merah antara lain dapat dilihat dalam contoh berikut.

(1)  Anak Durhaka, Nggak tahu Diri! Ibu lagi Tidur, Eh…Digamparin (LM, 21 Agustus 2008)

(2)  Ibu dan Anak, Nggak Akur Banget, Cekcok Mulu, Anak Dituduh Nuker Parfum Gondok Banget, Ibu Dipisau (LM, 11 Agustus 2008)

(3) Disuruh Mandi, Dandan Biar Cakep, Eh Males-Malesan. Diajak  Kondangan, Ogah, Bini Ngamuk, Suami Ditusuk (LM, 18 Agustus 2008)

Seperti halnya pada judul, emosionalisme dalam lead pemberitaan Lampu Merah juga sering ditampilkan dalam bentuk kalimat yang berisi luapan emosi, seperti hujatan, simpati, kerterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam lead berita Lampu Merah yang ditulis berikut ini:

(1)   Gafura (73 tahun) terus-terusan nangis, menahan sakit di tangannya. Selain sakit pada fisik, gafura juga sakit hati atas apa yang dilakukan Saidah (46 tahun); anak kandungnya. Gafura tidak tahan, karena sering dianiaya oleh Saidah. Karena tidak betah, Gafura; janda kelahiran Pakistan ini melapor ke Mapolres Jakarta Pusat. (LM, 21 Agustus 2008)

(2)   Dia boleh jago ngelurusin urat yang bengkok. Tapi uratnya sendiri, benar-benar nggak keurus. Buktinya saat urat burungnya tegang, si tukang pijet ini tak pilih-pilih lagi. Pelanggan pijetnya, yang sudah keriput, diembat juga. Malah, si nenek diperkosa setelah jadi mayat. Ya, kepala si nenek dibekap kantong kresek sampai mati. Lalu diperkosa! Hahh?” (LM, 5 Agustus 2008)

Dalam body berita, bentuk emosionalisme juga tampak dari paparan atau narasi yang mengungkapkan luapan emosi  wartawan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam body berita Lampu Merah yang ditulis sebagai berikut.

(1)   Sumartini atau biasa disapa Tini (29) ini jelas sedih, bagaimana tidak? Deni Kurniawan (19), suaminya ternyata selingkuh. Bahkan selingkuh dengan laki-laki”. Malah, karena malu kepergok, Deni pun membacoki Tini. Karuan, warga Desa Sutawinangun Gg. Tawekal Kabupaten Cirebon luka parah (LM, 16 Agustus 2008).

(2)   Ratusan warga itu mendatangi sekolahan Indah dan mencari Bahruddin. Emosi dan benci sepertinya sudah berkecamuk...Saat mau dievakuasi dari sekolahan, Bahruddin sempat menerima pukulan dari warga yang marah atas tindakannya. (LM, 6 Agustus 2008)

Secara umum, emosionalisme pada headline Lampu Merah muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa kata, frasa, dan kalimat. Kata yang dipilih untuk merepresentasikan emosionalisme antara lain:

1. Reaksi warga melihat peristiwa kriminalitas:

“heboh”, “geger”, “riuh”, “gempar”, “dikagetkan”

2. Kata penghubung:

“lucunya”, “anehnya”, “uniknya”, “karuan”, “parahnya”

3. Kata seru:

“hahh”, “eh…”, “lho”, “dah”, “ya”, “lah”.

4. Penggunaan kata yang memberi penekanan atau penyangatan (superlative):

“cuma”, “banget”, “bahkan”, “benar-benar”, “parah”, “berkecamuk”

5. Penggunaan kata-kata yang menonjolkan sisi emosi pelaku/aktor peristiwa:

“malu”, “marah”, “ngamuk”, “kalap”, “sedih”, “kesal”, “sesal”, “trauma”, “menangis”, “merintih”, “cuek”, “ngelunjak”, “gondok”, “biadab”

Sedangkan frasa yang digunakan Lampu Merah untuk menampilkan emosionalisme antara lain: “sudah tidak tahan”, “anak durhaka”, “jelas sedih”, “pastinya kecewa”, “hanya bisa menangis”, “tidak peduli”, “penuh emosi”, “kesal bukan main”, “capek juga”, “kelakuan bejat”, “adem-adem aja”, dan “perampokan/pembunuhan/perkosaan biadab”. Seringkali frasa ditulis dengan memberi tanda baca, misalnya tanda seru, tanda tanya, atau tanda baca lainnya. Contoh: “nggak tahu diri!” (LM, 13 Agustus 2008).

Emosionalisme pada headline Lampu Merah yang ditulis dalam bentuk kalimat panjang umumnya berupa pola kalimat sebab-akibat atau pemberian keterangan tambahan (apositif) yang dikaitkan dengan konteks, situasi, atau setting kejadian, misalnya:

Warga pun mendatangi rumah Apan. Di sana mereka kaget. Sebab menurut Tika (45), istri Apan, malingnya justru si badut yang kabur tadi. Dia baru saja memperkosa Juwita, si bungsu berusia 7 tahun. Penuh emosi, warga pun kembali mengejar si badut……Melihat ini, si burung badut endut-endutan. Si badut langsung nyelonong masuk masuk kamar Juwita. Karena rumah sepi, si badut pun dengan santai memperkosa Juwita. (LM, 28 Agustus 2008)

Sementara emosionalisme pada headline Lampu Merah yang ditulis dalam bentuk kalimat pendek umumnya berupa pola kalimat sederhana yang diberi tanda baca tertentu guna membangkitkan emosi pembaca. Contoh: “Ini si pemerkosa mayat!” (LM, 5 Agustus 2008).

Tak jauh beda dengan Lampu Merah, pola-pola emosionalisme yang ditampilkan pada judul headline Pos Kota umumnya diperlihatkan dari pilihan kata, frasa, dan kalimat yang bernada emosional dalam bentuk hujatan, himbauan, ajakan, simpati, kerterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Bentuk-bentuk emosionalisme yang ditampilkan pada judul Pos Kota antara lain dapat dilihat dalam contoh berikut.

(1) Jelang Ramadhan Rakyat Sengsara (PK, 28 Agustus 2008)

(2) Tembak Mati Koruptor (PK, 9Agustus 2008)

(3) DKI Tak Gentar Digertak KPK (PK, 14 Agustus 2008)

Seperti halnya pada judul, emosionalisme dalam lead pemberitaan Pos Kota juga sering ditampilkan dalam bentuk kalimat yang berisi hujatan, simpati, kerterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam lead berita Pos Kota yang ditulis sebagai berikut.

(1)   Sadis. Itulah kata yang tepat untuk Teguh Santosa, 35, warga Dusun Kedaung Rejo, Kecamatan Wonopringgo, Pekalongan. Ayah durjana ini tak sekadar tega mencekik anak kandungnya, Amat Bahar, 6, tapi setelah itu leher anak diikat dan digantung di atas pohon mangga depan rumah hingga tewas. (PK, 12 Agustus 2008)

(2)  Emosi warga Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Jombang, sudah tidak bisa dibendung. Jumat (1/8) pagi, puluhan warga mendatangi Kepala Dusin Waijo, Mahmud. Mereka keluarkan ultimatum agar orangtua Ryan diusir dari desa. (PK, 2 Agustus 2008)

(3)   Lengkap sudah penderitaan rakyat. Menjelang Ramadhan, kehidupannya sengsara karena minyak tanah menghilang, harga elpiji naik terus, harga sembako melambung tiada henti, dan cari duit makin susah. (PK, 28 Agustus 2008)

Dalam body berita, bentuk emosionalisme juga tampak dari paparan atau narasi yang mengungkapkan penonjolan emosi terhadap peristiwa, situasi, maupun karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan. Contoh emosionalisme ini antara terlihat dalam body berita Pos Kota yang ditulis sebagai berikut.

(1)   Di kamar yang kumuh itu, petugas menemukan pemandangan yang menyayat hati. Puluhan cewek ABG berusia 13 hingga 16 tahun dalam kondisi mengenaskan. Wajah mereka pucat pasi. (PK, 15 Agustus 2008)

(2)  Kekesalan warga terutama warga Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelan, Jombang, terhadap Ryan, sang penjagal, sepertinya tak bisa dibendung lagi. Kata-kata umpatan bahkan sumpah serapah terus dilontarkan kepada Ryan. Mereka pun mengaitkan kasus Ryan dengan kehidupan keluarganya selama ini, khususnya kehidupan pribadi Ny.Sriatun” (PK, 1 Agustus 2008).

(3) Kebiadaban sang ayah terhadap murid Taman Kanak-Kanak (TK) Getas Pekalongan ini, pertama kali diketahui Kus, warga setempat, Senin (11/8) pukul 06:00. (PK, 12 Agustus 2008)

Secara umum, emosionalisme pada headline Pos Kota muncul dalam bentuk pola-pola sintaksis yang khas berupa kata, frasa, dan kalimat yang dipakai untuk menonjolkan sisi emosi pelaku/aktor peristiwa atau penilaian sifat seseorang. Kata-kata yang dipilih Pos Kota untuk merepresentasikan emosionalisme ditunjukkan dari penggunaan kata seperti “kejengkelan”, “kebiadaban”, “ketakutan”, “sadis”, “durjana”, “jahat”, “histeris”, “sengsara”, “ironis”, “tragis”, “kaget”, “kesal”, “lega”, “sedih”, “loyonya”, “kecewa”, “bingung”, “puas”, “takut”, “beruntung”, “shock”, “terpukul”, “prihatin”, “gempar”, dan “menyeramkan”.

Sedangkan frasa bernuansa emosional yang digunakan Pos Kota untuk menampilkan sensasionalisme antara lain: “menyambut gembira”, “menyayat hati”, “tangisan histeris”, “berteriak ketakutan”, “mengelus dada”, “tak tahu balas budi”, “janji tinggal janji”, “tak peduli”, “tak gentar”, “tidak menggertak”, “alibi jahat”, “tidak menggubris”, “kecewa berat”, “mengaku lega”, dan “sumpah serapah”.

Emosionalisme pada headline Pos Kota yang ditulis dalam bentuk kalimat panjang umumnya berupa pola kalimat sebab-akibat atau pemberian keterangan tambahan (apositif) yang dikaitkan dengan konteks, situasi, atau setting kejadian, misalnya:

(1)   Tewasnya Ahmad membuat Ny. Siti komariah, 52, sang istri pingsan. Hingga Minggu malam. Ibu satu anak ini terlihat shock meratapi kematian suaminya. Begitu juga dengan anaknya, Komaruddin, 17, mengaku sangat terpukul karena kehilangan orang yang dikasihi. (PK, 18 Agustus 2008)

(2)   Loyonya badan penyelenggaraan Transjakarta belakangan ini, justru berakibat menyeramkan lantaran sering terjadi kecelakaan menelan korban jiwa. (PK, 11 Agustus 2008).

Sementara emosionalisme pada headline Pos Kota yang ditulis dalam bentuk kalimat pendek umumnya berupa kalimat perintah, namun tidak disertai tanda baca. Contoh: “Tembak Mati Koruptor” (PK, 9Agustus 2008), “Awas, Bulan Puasa Maling Merajalela” (PK, 30 Agustus 2008), “Stop Pungutan di Sekolah” (PK, 16 Agustus 2008).


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.