Lebih Dekat dengan Konvergensi Media dan Manajemen Media Online

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Pesatnya penggunaan internet berpengaruh secara meluas tidak hanya pada bidang teknologi, tetapi juga pada aspek sosial, politik, ekonomi-budaya, termasuk media massa. Dengan adanya internet, terjadi pemekaran (konvergensi) dari jenis-jenis media yang sudah ada sebelumnya. Perkembangan teknologi media yang cepat dengan kemampuan konvergensinya, secara perlahan tapi pasti akan berdampak pada sistem kerja media massa, terutama praktik jurnalistik. Meskipun prinsip-prinsip yang berkaitan dengan etika dasar tetap dipertahankan sesuai nilai universal jurnalisme: akurat, objektif, fair, seimbang, dan tidak memihak, namun dalam praktiknya, kehadiran jurnalisme online yang difasilitasi internet sedikit banyak mereduksi teknik-teknik jurnalisme konvensional yang selama ini berlaku. Perubahan itu tampak dari peran jurnalis, fungsi gatekeeper, karakteristik medium, hingga perilaku audiensnya.

Beberapa formula dalam pemberitaan jurnalisme online yang berbeda dengan media konvensional antara lain: Pertama, berita cepat tayang dan bahkan real time karena internet mampu memperpendek jarak antara peristiwa dan berita. Pada saat peristiwa berlangsung, beritanya bisa dipublikasikan secara luas. Kedua, berita ditayangkan kapan saja, dari mana saja, tanpa memperhitungkan luas halaman dan durasi, karena internet memang tidak memiliki problem ruang dan waktu dalam mempublikasikan informasi. Ketiga, berita diformat dalam bentuk singkat dan padat karena informasi terus mengalir dan berubah sewaktu-waktu. Namun kelengkapan informasi tetap terjaga karena antara berita yang satu dengan berita yang lain bisa dikaitkan (linkage) hanya dengan satu klik. Keempat, untuk menjaga kepercayaan pembaca, ralat, update, dan koreksi dilakukan secara periodik dan konsisten. Ini sekaligus memanfaatkan kekuatan interaktif internet (Supriyanto dan Yusuf, 2007: 104-105).

Menurut Sen dan Hill (2001: 227), di Indonesia, teknologi internet mulai populer sejak tahun 1994. Saat itu internet masih identik dengan materi pornografi dan gosip politik. Kehausan masyarakat Indonesia untuk mengakses gambar-gambar porno bisa dipuaskan oleh internet sehingga banyak pihak yang memperingatkan agar berhati-hati dengan internet. Di sisi lain, ketertutupun politik menyebabkan hadirnya berbagai forum mailing list. Salah satu yang paling terkenal adalah Indonesia-1 (kemudian lebih populer disebut apakabar). Forum di dunia maya ini membahas isu-isu politik di Indonesia, yang dimoderatori oleh John MacDougall di Maryland, Amerika Serikat.

Pada tahun 1994-1995, apakabar dipandang oleh para aktivis LSM sebagai medium yang sangat berharga untuk menyebarkan berita-berita penting dalam negeri dan luar negeri yang bebas dari sensor. Mailing list tersebut telah menjadi “sebuah sarana luar biasa untuk menyatakan pendapat dan pikiran dengan bebas dan terbuka” (Sen dan Hill, 2001: 227). Madu (2003: 22) dan Winters (2002), menilai. Kehadiran  internet bahkan telah menciptakan ruang-ruang publik secara bebas dan otonom bagi oraganisasi atau kelompok untuk menentang kemampuan kekuasaan negara. Berdasarkan penelitian Sen dan Hill (2001: 227), sekitar akhir 1995, MacDougall memperkirakan ada sekitar 13.000 orang anggota mailing list apakabar, kebanyakan orang Indonesia yang tinggal di Indonesia.

Namun Supriyanto dan Yusuf (2007: 104) menilai, kesan yang umum berlaku pada saat itu, informasi politik yang muncul di dunia internet seringkali dicurigai tidak berdasarkan fakta akurat. Akibatnya internet identik dengan gosip politik dan berita sensasi. Persepsi buruk terhadap internet menjadi tantangan tersendiri bagi para pendiri portal khusus informasi atau situs berita (newsonline). Dengan modal pengalaman jurnalistik di berbagai media konvensional, serta pemahaman tentang teknologi internet sebagai media komunikasi interaktif, para pendiri situs berita mulai berani menerapkan prinsip-prinsip kerja jurnalisme di ranah internet. Dalam situasi perkembangan teknologi internet yang dipersepsikan demikian, satu-persatu situs yang mengkhususkan diri pada penyajian berita mulai bermunculan. Situs berita yang hadir di tengah-tengah gonjang-ganjing perpolitikan nasional lalu menjadi pilihan masyarakat yang tengah membutuhkan informasi yang cepat, dapat dipercaya, dan tentunya bebas dari sensor.

Pada awalnya, dimulai tahun 1995, beberapa perusahaan media cetak memajang produknya di website. Harian Republika (www.republika.co.id) dan Harian Kompas (www.kompas.com) adalah contoh perusahaan pers di Indonesia yang mengawali pemanfaatan website sebagai medium publikasi, lalu disusul media-media cetak lain. Namun apa yang dilakukan kedua harian tersebut tidak lebih dari sekadar menempatkan ulang produk yang sama dari versi cetak ke versi web. Sajian yang terdapat di situs web kedua harian tetrsebut hanyalah digitalisasi format teks dari versi cetaknya. Oleh karena itu, pada dasarnya saat itu kedua situs yang berdiri tetap saja bagian dari tradisi pers cetak, bukan pers online (Darsono, 2002).

Darsono (2002) menambahkan, situs web Tempo lnteraktif (www.tempo.co.id), yang menyusul setahun kemudian (Maret 1996), memberi warna baru dalam bidang publikasi berbahasa Indonesia di website. Setidaknya, Tempo Interaktif menjadi perusahaan pers pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi web sebagai media publikasinya tanpa memiliki versi cetak, terkecuali penerbitan buku kumpulan artikel dalam Majalah Tempo sebelum dibredel (Juni 1994) yang pernah didokumentasikan di web tersebut. Meskipun demikian, praktik pers Tempo Interaktif tetap saja dalam bayang-bayang pendekatan tradisi pers cetak. Situs ini misalnya, hanya di-update seminggu sekali. Seolah merupakan pengejawantahan tradisi pers cetak yang mengenal periodisasi penerbitan—harian, mingguan, dwi mingguan, bulanan dan seterusnya.

Situs berita Detik.com (www.detik.com) oleh banyak orang dinilai sebagai pelopor praktik pers online di Indonesia. Sejak pertama kali di-online-kan tanggal 9 Juli 1998, Detik.com bukan saja hanya menggunakan format penerbitannya dalam bentuk halaman-halaman web saja—tanpa versi cetak, namun juga memang sejak awal dirancang dengan mengakomodasi dan memanfaatkan kecanggihan, kemudahan, dan keleluasaan yang menjadi karakter teknologi web. Kesuksesan Detik.com mendorong situs berita dengan format sejenis bermunculan, seperti Astaga.com, Satunet.com, Lippostar.com, dan Kompas Cyber Media (KCM) yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Kompas.com.

Beberapa situs berita tersebut masih bertahan sampai saat ini, namun sebagian mengalami kerugian sehingga tutup atau bermetamorfisis ke dalam bentuk situs lain di luar kategori situs berita. Astaga.com dan Satunet.com kini sudah berganti format, sementara Detik.com, TempoInteraktif, dan Kompas Cyber Media (KCM) masih tetap eksis. Fenomena ini menjadi menarik karena jika dirunut dari akar permasalahannya, problematika yang dihadapi oleh situs berita pada prinsipnya adalah bagaimana mengelola isi (content) situs bersangkutan, bukan hanya membangun web portal, lalu tinggal mengembangkannya saja. Untuk bisa tetap survive sebuah media online seperti situs berita membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang matang. Sejumlah kekhasan yang dimiliki media ini membuat para pengelolanya harus memperhatikan aspek-aspek pengelolaan informasi yang berbeda dengan media lain.

Banyaknya peristiwa yang terjadi dalam waktu bersamaan, pengutamaan kecepatan waktu penyampaian informasi, ruang media online yang terbatas, keterbatasan SDM yang dimiliki, serta karakter teknologi media yang kompleks, membuat format media dan produksinya pun akan berubah. Kenyataan ini seharusnya dapat diantisipasi oleh para pengelola media online. Sebagai contoh, sebuah studi yang dilakukan oleh Singer (2001) mengindikasikan bahwa ketika suratkabar menjadi online, peran penjaga gerbang (gatekeeper) mereka “menghilang” digantikan oleh tirani kecepatan (updating).

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana manajemen pada sebuah media online dilakukan? Bagaimana pengelolaan media mulai dari struktur organisasi, SDM, infrastruktur teknologi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya bermuara pada persoalan mendasar berkaitan dengan situs berita, yakni bagaimana manajemen redaksional dijalankan pada media online? Tidak seperti media yang berbasis cetak, manajemen redaksional situs berita bekerja sejalan dengan karakter berbeda yang dimiliki oleh media online, baik dalam hal manajemen pemberitaan, pengelolaan rubrikasi, editing, dan hal-hal teknis jurnalistik lainnya.

Situs berita dirancang untuk diakses secara gratis oleh pembaca. Oleh karena itu, sejak kemunculan pertamanya, para pengelola sudah memikirkan bagaimana agar situs berita mampu mendapat dukungan iklan. Upaya meneliti bagaimana langkah-langkah pengelolaan situs berita di Indonesia menjadi relevan untuk melihat bagaimana problematika yang dihadapi dalam pengelolaan situs berita. Spektrum persoalan seputar finansial sebagai konsekuensi dari media berbasis dua muka (pembaca/pengakses dan pengiklan) akan menjadi warna tersendiri dalam upaya melihat manajemen redaksional dalam situs berita.

Awalnya banyak yang meragukan kemampuan internet menyingkirkan media cetak, apalagi radio dan televisi karena sifat internet yang tidak praktis dan mahal. Kenyataannya, asumsi bahwa internet tidak praktis hanya bertahan beberapa tahun. Internet dahulu dinilai tidak praktis karena dalam mengoperasikan dibutuhkan komputer, ruang khusus untuk komputer, serta jaringan telekomunikasi yang handal. Kini perkembangan perangkat keras teknologi komputer sudah menciptakan komputer jinjing-portable (laptop) yang bisa dibawa ke mana-mana sebagaimana orang menenteng koran. Teknologi Wi-Fi juga memungkinkan akses internet secara mudah di berbagai tempat yang menyediakan titik-titik hotspot untuk menikmati fasilitas tersebut. Munculnya teknologi broadband bahkan memudahkan orang mengakses internet di mana saja dengan teknologi mobile. Bila teknologi AMPS (generasi pertama/1G) yang muncul pada awal 1990-an sekadar melampaui keterbatasan fungsi telepon yang statis menjadi dinamis, serta hanya menampilkan suara, maka pada teknologi GSM (generasi kedua/2G) yang bergerak pada pertengahan dekade 1990-an, teknologi seluler tidak hanya mampu menjadi wahana tukar informasi dalam bentuk suara tetapi juga data, berupa teks dan gambar (SMS dan MMS). Karena murah, akses teknologi mobile generasi kedua ini berkembang pesat di Indonesia, sehingga memasuki 2000-an, handphone menjadi perangkat hidup (gadget) sehari-hari.

Sejak tahun 2006, masyarakat di Indonesia sudah bisa menikmati layanan audio-visual yang lebih canggih dengan teknologi generasi ketiga (3G). Ada juga pilihan koneksi internet ke aplikasi seluler dengan sistem UMTS, WiFi, dan WiMax. Berkaitan dengan kecepatan akses, beberapa jaringan operator seluler sudah memiliki jaringan paling cepat yang dikenal dengan high-speed downlik packet access (HSDPA) atau yang sering disebut dengan 3,5G, yaitu generasi yang merupakan penyempurnaan dari 3G. Terakhir, vendor maupun operator seluler sudah mulai menggunakan teknologi next generation network (NGN) atau 4G (Subarkah, Kompas, 29 Juni 2007).

Pada babakan inilah apa yang disebut konvergensi media akan mencapai titik maksimal. Lewat segenggam handset, orang di berbagai penjuru dunia bisa mengakses informasi secara cepat dan lengkap sesuai kebutuhan. Komunitas pers menjadi pihak pertama yang memanfaatkan teknologi ini dengan menampilkan informasi dalam bentuk teks, gambar, audio, dan visual. Konsekuensinya, model-model jurnalisme via internet dan teknologi seluler yang mengusung kecanggihan teknologi ini juga membawa pengaruh bagi praktik kerja jurnalisme mainstream (cetak, radio, dan televisi).

Perspektif ini didukung oleh tujuan bahwa esensi dari proses komunikasi tetap tidak berubah. Apa yang membuat bentuk-bentuk komunikasi berbeda satu sama lain bukanlah penerapan aktualnya, namun perubahan-perubahan dalam proses-proses komunikasi seperti kecepatan komunikasi, harga komunikasi, persepsi-persepsi pihak-pihak yang berkomunikasi, kapasitas penyimpanan,  fasilitas tempat mengakses informasi, densitas (kepekatan/kepadatan), kekayaan arus-arus informasi, jumlah fungsionalitas/intelijen yang dapat ditransfer. Titik esensialnya adalah bahwa keunikan internet terletak pada efisiensinya sebagai sebuah medium. Namun esensi komunikasi secara keseluruhan dan jurnalisme khususnya tetap tidak berubah (Santana, 2005: 136).

Menurut Santana (2005: 136), terdapat tiga kelompok situs berita dalam kaitannya dengan isi. Pertama, model situs berita yang banyak digunakan oleh media berita konvensional, yakni sekadar merupakan edisi online dari medium induknya. Isi orisinilnya diciptakan kembali oleh internet dengan cara mengintensifkan isi dengan kapabilitas-kapabilitas teknis dari cyberspace. Sejumlah fitur interaktif dan fungsi-fungsi multimedia ditambahkan. Isinya di-update lebih sering daripada medium induknya. Washington Post Online (www.washingtonpost.com), CNN Interactive (www.CNN.com), dan BBC News Online (www.BBC.co.uk) adalah contoh-contoh tipikal tipe ini. Kedua, bentukan situs Web-nya berisikan orisinalitas indeks, dengan cara mendesain ulang dan merubah isi dari berbagai media berita. Saloon.com atau Slate and Drudge Report.com masuk ke dalam tipe ini. Situs ini memendekkan portal-portal pemberitaan melalui indeksisasi dan kategorisasi, hasil seleksi berbagai media berita dan isi mereka. Berbagai model situs ini terfokus pada isu-isu spesifik, melayani kepentingan komunitas dan kelompok-kelompok tertentu, serta membuat saluran pertukaran pikiran dan diskusi interaktif dengan pembacanya. Ketiga, situs berita yang berisi diskusi dan komentar-komentar pendek tentang berita dan media. Media-media watchdogs masuk ke dalam kelompok ini. Mereka menjadi saluran untuk diskusi masyarakat mengenai permasalahan yang mencuat.

Perkembangan teknologi jaringan komputer yang fantastis pada akhir dekade 1980-an mendorong lahirnya teknologi internet. Secara sederhana, internet dapat dipahami sebagai sebuah cara atau metode untuk mentransmisikan bit-bit data atau informasi dari satu komputer ke komputer yang lain, dari satu lokasi ke lokasi yang lain di seluruh dunia. Kelebihan teknologi internet adalah kemampuannya menjangkau seluruh penjuru dunia dalam waktu yang serentak. Internet juga memberikan ruang yang nyaris tak terbatas bagi setiap orang untuk menyimpan, mengirimkan, atau membuka akses informasi tersebut kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Apalagi, dengan dikenalkannya teknologi World Wide Web (WWW) pada awal tahun 1990-an oleh Tim Berners-Lee, internet dapat menampilkan “halaman-halaman” yang tidak hanya berisi teks, tetapi juga gambar, grafik, animasi, dan suara yang menarik serta penuh warna sehingga mampu menampilkan layanan multimedia yang bersifat audio-visual (data, citra, dan suara). Internet tidak saja dapat menyajikan data yang bersifat teks dan gambar, tetapi juga sinergi audio dan visual. Sifatnya yang dinamis dan interaktif membuatnya lebih menarik dibanding sumber media informasi lain.

Secara resmi, proyek internet pertama kali dikembangkan pada tahun 1969 oleh salah satu lembaga riset di Amerika Serikat, yaitu DARPA (Defence Advanced Research Projects Agency). Dilatarbelakangi perang dingin antara AS dan Uni Soviet, teknologi ini diciptakan dengan tujuan mengantisipasi kehilangan data penting yang dimungkinkan terjadi seandainya Uni Soviet berhasil menduduki basis militer AS. Tahun 1972, jaringan komputer yang pertama dihasilkan dari proyek DARPA tersebut lahir dan diberi nama ARPANet. Jaringan tersebut menghubungkan 40 titik melalui berbagai macam jaringan komunikasi dan tahan terhadap berbagai gangguan alam. Aplikasi yang dikembangkan pada saat itu masih sebatas FTP (File Transfer Protocol), email, dan telnet (Wahyono, 2006: 133).

Pada perkembangannya, titik yang dihubungkan pada jaringan ARPANet terus bertambah sehingga protokol NCP (Network Communication Protocol, yang saat itu digunakan tidak mampu lagi menampungnya. Setelah melalui penelitian lanjutan, akhirnya DARPA menemukan TCP (Transfer Communication Protocol) dan IP (Internet Protocol) untuk menggantikan NCP sebagai protokol standar resmi. Tahun 1984, jumlah host pada jaringan internet mencapai lebih dari 1.000 titik. Host-pun berkembang menjadi DNS (Domain Name Sytem) sebagai standardisasi nama domain dan menggantikan fungsi tabel host. Jumlah di atas pun terus berkembang sehingga pada tahun 1987 telah melewati 10.000 titik jaringan (Wahyono, 2006: 133).

Sebagai medium baru, internet dan produk turunannya memiliki karakteristik khas dibanding dengan media konvensional yang telah ada. Internet merupakan salah satu aplikasi teknologi yang mendasarkan diri pada sistem kerja (platform) komputer. Oleh karena itu, tipologi (sistem) komputer akan menjadi landasan utuk mengidentifikasi batasan serta karakteristik internet dan produk derivatnya. Salah satu derivat produk teknologi Internet adalah situs berita. Disebut derivat karena pada prinsipnya, situs berita adalah penamaan untuk menyebut salah satu jenis media online yang telah ada. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Ashadi Siregar (dalam Kurniawan, 2005: 20). Menurutnya:

“Media online adalah sebutan umum untuk sebuah bentuk media yang berbasis telekomunikasi dan multimedia (baca-komputer dan internet). Didalamnya terdapat portal, website (situs web), radio-online, TV-online, pers online, mail-online, dll, dengan karakteristik masing-masing sesuai dengan fasilitas yang memungkinkan user memanfaatkannya”.

Oleh karena itu, situs berita merupakan salah satu sub-sistem dari media online. Penyebutan media online dikalangan beberapa ahli media cukup beragam. Salah satu peneliti dan ahli media dari Universitas Texas, Amerika, bernama  Lorie Ackerman, menyebut media online sebagai bentuk “penerbitan elektronik”. Menurutnya terminologi penerbitan elektronik adalah

“The term electronic publishing is used to convey a variety of ideas . Most broadly, it prefer to the use of computers in the composing, editing, typesetting, printing, or publication-delivered process”(Ackerman,http://www.students.cec.wustl.edu/~cs142/articles/MISc/Publishing/electronic_newspaper-crannor)

Penggunaan instrumen komputer sebagai sarana produksi dan reproduksi informasi dalam penerbitan elektronik membawa implikasi terhadap sifat dan bentuk informasi yang dibawakannya. Dalam medium komputer ini informasi dikemas dalam format dokumen elektronik, bentuk ini menjadikan informasi tersebut memiliki sifat salah satunya mudah untuk di “customise”, atau diatur-atur sesuai kebutuhan dan pemanfaatannya. Selain itu juga semakin memudahkan transfer informasi antar pengguna dan pengakses penerbitan elektronik

Salah satu pendekatan dalam memahami media online juga dipaparkan oleh Ashadi Siregar (dalam Kurniawan, 2005: 20). Ia melihat media online, melalui kacamata pendefinisian suratkabar digital, yakni ebuah entitas yang merupakan integrasi media massa konvensional dengan internet. Identifikasinya terhadap ciri-ciri yang melekat pada surat kabar digital ditulisnya sebagai berikut :

  1. adanya kecepatan (aktualitas) informasi
  2. bersifat interaktif, melayani keperluan khalayak secara lebih personal
  3. memberi peluang bagi setiap pengguna hanya mengambil informasi yang relevan bagi dirinya/dibutuhkan
  4. kapasitas muatan dapat di perbesar
  5. informasi yang pernah disediakan tetap tersimpan (tidak terbuang), dapat ditambah kapan saja, dan pengguna dapat mencarinya dengan menggunakan mesin pencari
  6. tidak ada waktu yang diistimewakan (prime time) karena penyediaan informasi berlangsung tanpa putus, hanya tergantung kapan pengguna mau mengakses.

Salah satu desain media online yang paling umum diaplikasikan dalam praktik jurnalistik modern dewasa ini adalah berupa situs berita. Situs berita atau portal informasi sesuai dengan namanya merupakan pintu gerbang informasi yang memungkinkan pengakses informasi memperoleh aneka fitur fasilitas teknologi online dan berita didalamnya. Content-nya merupakan perpaduan layanan interaktif yang terkait informasi secara langsung, misalnya tanggapan langsung, pencarian artikel, forum diskusi, dll; dan atau yang tidak berhubungan sama sekali dengannya, misalnya games, chat, kuis, dll (Iswara, 2001).

Lebih lanjut tentang media online berupa portal informasi ini, Iswara (2001) menjelaskan karakteristik umum yang dimiliki media jenis ini, yaitu:

  1. Kecepatan (aktualitas) informasi

Kejadian atau peristiwa yang  terjadi di lapangan dapat langsung di upload ke dalam situs web media online ini, tanpa harus menunggu hitungan menit, jam atau hari, seperti yang terjadi pada media elektronik atau media cetak. Dengan demikian mempercepat distribusi informasi ke pasar (pengakses), dengan jangkauan global lewat jaringan internet, dan dalam waktu bersamaan .dan umumnya informasi yang ada tertuang dalam bentuk data dan fakta bukan cerita.

  1. Adanya pembaruan (updating) informasi

Informasi disampaikan secara terus menerus, karena adanya pembaruan (updating) informasi. Penyajian yang bersifat realtime ini menyebabkan tidak adanya waktu yang diiistemewakan (prime time) karena penyediaan informasi berlangsung tanpa putus, hanya tergantung kapan pengguna mau mengaksesnya.

  1. Interaktivitas

Salah satu keunggulan media online ini yang paling membedakan dirinya dengan media lain adalah fungsi interaktif. Model komunikasi yang digunakan media konvensional biasanya bersifat searah (linear) dan bertolak dari kecenderungan sepihak dari atas (top-down). Sedangkan media online bersifat dua arah dan egaliter. Berbagai features yang ada seperti chatroom, e-mail, online polling/survey, games, merupakan contoh interactive options yang terdapat di media online. Pembaca pun dapat menyampaikan keluhan, saran, atau tanggapan ke bagian redaksi dan bisa langsung dibalas.

  1. Personalisasi

Pembaca atau pengguna semakin otonom dalam menentukan informasi mana yang ia butuhkan. Media online memberikan peluang kepada setiap pembaca hanya mengambil informasi yang relevan bagi dirinya, dan menghapus informasi yang tidak ia butuhkan. Jadi selektivitas informasi dan sensor berada di tangan pengguna (self control).

  1. Kapasitas muatan dapat diperbesar

Informasi yang termuat bisa dikatakan tanpa batas karena didukung media penyimpanan data yang ada di server komputer dan sistem global. Informasi yang pernah disediakan akan tetap tersimpan, dan dapat ditambah kapan saja, dan pembaca dapat mencarinya dengan mesin pencari (search engine).

  1. Terhubung dengan sumber lain (hyperlink)

Setiap data dan informasi yang disajikan dapat dihubungkan dengan sumber lain yang juga berkaitan dengan informasi tersebut, atau disambungkan ke bank data yang dimiliki media tersebut atau dari sumber-sumber luar. Karakter hyperlink ini juga membuat para pengakses bisa berhubungan dengan pengakses lainnya ketika masuk ke sebuah situs media online dan menggunakan fasilitas yang sama dalam media tersebut, misalnya dalam chatroom, lewat e-mail atau games.

Sebagaimana portal informasi, situs berita memiliki kesesuaian dengan karakter-karakter yang telah dipaparkan diatas (bahkan kalau boleh dikatakan identik). Sebab pada prinsipnya secara teknis tidak ada yang membedakan kedua jenis media online tersebut, keduanya memanfaatkan aplikasi teknologi internet yang sama (dibangun dengan konsep bahasa HTML dan Java[2]), dan menggunakan web browser sebagai sarana outputnya.

Lebih jauh tentang pengertian “situs web” atau “website” itu sendiri—yang  menjadi salah satu varian teknologi internet—merupakan aplikasi yang mendominasi pengunaan internet. Apapun jenis media online, baik itu suratkabar online atau TV-online sekalipun, pada prinsipnya adalah menggunakan teknologi berbasis web. Pengertian situs web memiliki penjelasan beragam dengan berbagai karakteristik dari situs web itu sendiri, antara lain:

“Website is a collection of interlinked web pages with a related topic, usually under a single domain name, which includes an intended starting file called a “home page”.  From the home page, you can get to all the other pages on the website.  Also called a “web presence”.          (http://www.free-webhosts.com/definition/website.php)

“A Web site (we prefer the two words rather than Website) is a collection of Web files on a particular subject that includes a beginning file called a home page. For example, most companies, organizations, or individuals that have Web sites have a single address that they give you. This is their home page address. From the home page, you can get to all the other pages on their site. For example, the Web site for IBM has the home page address of http://www.ibm.com.      (http://searchnetworking.techtarget.com/gDefinition/0,294236,sid7_gci213353,00.html)

Dari dua definisi di atas dapat diperoleh karakteristik dari situs web yang didefinisikan sebagai:

Pertama, sekumpulan halaman web yang berhubungan satu sama lain, yang disatukan melalui suatu topik tertentu.  Kedua, memiliki alamat unik yang membedakan dengan situs web sejenis. Ketiga, hubungan antar halaman web dimediasikan oleh suatu fitur tententu di dalamnya.

Situs web terdiri atas halaman-halaman web didalamnya. Dalam halaman-halaman web ini berbagai ragam informasi dituangkan dan disajikan. Antar halaman tersebut dihubungkan oleh sebuah fitur bernama hyperlink. Hyperlink inilah yang menjadi jembatan komunikasi antar informasi yang ada di dalam sebuah website maupun informasi lain yang ada di website lain yang terdapat dalam jaringan global internet (Sosiawan, 2003).

Halaman web adalah dokumen elektronik yang menjadi basis penyimpanan data dalam sebuah unit jaringan global situs web. Didalamnya terdapat beragam format data baik itu yang bentuknya teks, gambar, maupun file multimedia (audio video). Konsep halaman web ini selanjutnya dijelaskan oleh beberapa definisi sebagai berikut :

  • The web uses the metaphor “pages,” for the organization of information. One page is actually a text file marked up in HTML. It will appear to your web browser as a page containing images, text, and/or hypertext and graphical links to other points on the same page, other pages, large images, sound, or movies. Technically speaking, one page is one computer file that has been marked-up with HTML codes. To a person using the web, a page is that unit that you can scroll through using your web browser’s scrolling tools. A web page has a top and a bottom, a beginning and an end.

(http ://www.radcliffe.edu/rito/glossary.html)

  • A Web page is a document, the basic data storage and display unit of the World Wide Web. Stored as plain ASCII text, a web page embeds “tags” or function and formatting codes which govern its transmission and display on the end-user’s computer screen. These tags are standardized as HTML, the hypertext markup language.

(http:// http://www.wested.org/tie/dlrn/course/glossary.html)

  • A web page is a document created with HTML (HyperText Markup Language) that is part of a group of hypertext documents or resources available on the World Wide Web. Collectively, these documents and resources form what is known as a website. You can read HTML documents that reside somewhere on the Internet or on your local hard drive with a piece of software called a web browser. Web browsers read HTML documents and display them as formatted presentations, with any associated graphics, sound, and video, on a computer screen. Web pages can contain hypertext links to other places within the same document, to other documents at the same web site, or to documents at other web sites. They also can contain fill-in forms, photos, large clickable images (image maps), sounds, and videos for downloading.

(http:// support.airmail.net/faq/glossary_mz.php)

Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa secara umum karakter dan batasan situs web pada prinsipnya hampir sama dengan media online. Hanya untuk lebih merincinya, dalam penelitian ini digunakan batasan dan karakter situs web sebagai media online sebagai berikut:

  1. Berbasis teknologi komputer dan jaringan internet
  2. Bentuk informasi data berupa dokumen elektronik
  3. Kecepatan (aktualitas) informasi
  4. Adanya pembaruan (updating) informasi
  5. Interaktivitas
  6. Personalisasi
  7. Kapasitas muatan yang dapat diperbesar
  8. Terhubung dengan sumber lain (hyperlink), dan
  9. Memiliki bank data (database) yang terintegrasi dengan sistemnya.

Perkembangan Pers,  Internet, dan Kovergensi Media

Jurnalistik pada dasarnya berkaitan erat dengan pers, namum memiliki perbedaan. Dalam arti sempit, pers hanya digolongkan sebagai produk penerbitan yang melewati proses percetakan. Pers dalam arti luas adalah meliputi pelbagai kategori dan jenis media massa, baik suratkabar, radio, televisi, film, dan sebagainya.  Pengertian Press (Inggris) atau Pers (Belanda) berasal dari bahasa Latin Pressare yang berarti tekan atau cetak. Pers lalu diartikan sebagai media massa cetak (printing media). Jadi, secara umum istilah pers lazim dipakai untuk suratkabar atau majalah (Muhtadi, 1999)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ”jurnalistik” adalah bentuk komunikasinya, bentuk kegiatan dan bentuk isinya, sedangkan ”pers” adalah medium tempat jurnalistik disalurkan/disoiarkan/dipublikasikan. Jika dilihat dari hasil akhirnya, ”jurnalistik” adalah adalah hasil kegiatan pengolahan informasi yang akan disampaikan berupa berita, reportase, feature, dsb, maka ”pers” adalah suratkabarnya, majalahnya, televisinya, atau internetnya. Singkat kata pers adalah medianya, sedangkan jurnalistik adalah isinya (Muhtadi, 1999; Sumadiria, 2005; Kusumaningrat dan Kusumaningrat, 2005).

Industri pers terkait erat dengan perkembangan teknologi komunikasi, publikasi, dan informasi. Antara tahun 1880-1900, terdapat berbagai kemajuan dalam industri pers. Yang paling menonjol adalah mulai digunakannya mesin cetak cepat, sehingga deadline penulisan berita menjadi lebih panjang dan bisa ditunda hingga malam hari. Selain itu, teknologi fotografi memungkinkan ditampilkannya foto pada halaman-halaman suratkabar. Perkembangan selanjutnya dari penemuan ini adalah teknologi cetak yang dapat mencetak kertas sampai ribuan lembar setiap jam. Proses percetakan menggunakan metode typesetting, yakni huruf yang akan dicetak disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan hasil cetakan seperti yang diperkenalkan pertama kali oleh Gutenberg. Pada periode 1860-an merupakan tahun ditemukannya litography, yaitu proses percetakan dengan cetakan bahan kimia dan menggantikan metode sebelumnya, yaitu engraving. Di sisi lain, teknologi percetakan fotografi pun mengalami perkembangan dengan proses photoengraving yaitu dengan mencetak suatu gambar secara kimia melalui lempengan besi dengan proses fotografis. Setelah Perang Dunia II, proses percetakan menggunakan offset printing. Teknologi ini digunakan terus menurus sampai saat ini karena kualitas, kecepatan, dan dari sisi pembiayaan lebih ekonomis (Straubhaar & La Rose, 2006; Fidler, 2003).

Pada 1893, untuk pertama kalinya surat-suratkabar di AS menggunakan tinta warna untuk komik dan beberapa bagian di koran edisi Minggu. Pada 1899 mulai digunakan teknologi merekam ke dalam pita, walaupun belum banyak digunakan oleh kalangan jurnalis saat itu. Pada 1920-an, suratkabar dan majalah mendapatkan pesaing baru dalam pemberitaan, dengan maraknya radio berita. Namun demikian, media cetak tidak sampai kehilangan pembacanya, karena berita yang disiarkan radio lebih singkat dan sifatnya sekilas. Baru pada 1950-an perhatian masyarakat sedikit teralihkan dengan munculnya televisi. Namun kemunculan televisi tidak sampai “mematikan” media yang lain. Jadi dapat dikatakan, munculnya radio tidak mematikan media cetak, demikian juga munculnya televisi tidak menghentikan kegemaran orang mendengarkan radio. Ketiga jenis media itu memiliki karakteristik tersendiri dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing sehingga saling melengkapi. Inilah yang menyebabkan ketiga media itu sanggup bertahan bersama-sama secara harmonis (Rivers, dkk, 2003).

Perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat pada era 1970-1980 juga ikut mengubah cara dan proses produksi berita. Selain deadline bisa diundur menjadi lebih panjang, proses cetak, copy cetak yang bisa dilakukan secara massif, perwajahan, hingga iklan, dan marketing mengalami perubahan sangat besar dengan penggunaan komputer di industri media massa. media cetak mengalami perubahan besar dalam proses produksi. Mesin ketik yang tadinya dipergunakan secara luas untuk menghasilkan tulisan, mulai digantikan oleh komputer. Melalui komputer, media cetak tidak hanya menghasilkan tulisan yang dapat diubah tanpa membuang-buang kertas namun juga dapat mengubah suatu gambar atau foto. Hasil kerja yang berbentuk softcopy tersebut, kemudian dicetak. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap efisiensi biaya produksi (Straubhaar & La Rose, 2006).

Memasuki era 1990-an, penggunaan teknologi komputer tidak terbatas di ruang redaksi saja. Semakin canggihnya teknologi komputer notebook yang sudah dilengkapi modem dan teknologi wireless, serta akses pengiriman berita teks, foto, dan video melalui internet atau via satelit, telah memudahkan wartawan yang meliput di medan paling sulit sekalipun. Selain itu, pada era ini juga muncul media jurnalistik multimedia. Setiap media dan kantor berita juga dituntut untuk juga menggunakan internet ini agar tidak kalah bersaing dan demi menyebarluaskan beritanya ke berbagai kalangan. Setiap media cetak atau elektronik ternama memiliki situs berita di internet, yang updating datanya bisa dalam hitungan menit. Ada juga yang masih menyajikan edisi internetnya sama persis dengan edisi cetak.

Di sisi lain, pada tahun 2000-an, berkat perkembangan teknologi web yang pesat, muncul situs-situs pribadi yang juga memuat laporan jurnalistik pemiliknya. Istilah untuk situs pribadi ini adalah weblog dan sering disingkat menjadi blog saja. Memang tidak semua blog berisikan laporan jurnalistik. Tapi banyak yang berisi laporan jurnalistik bermutu. Senior Editor Online Journalism Review, J.D Lasica pernah menulis bahwa blog merupakan salah satu bentuk jurnalisme dan bisa dijadikan sumber untuk berita. Meski tentunya masih diperdebatkan karena harus memenuhi beberapa syarat.

Internet pada dasarnya adalah sistem jaringan antar komputer. Konsepnya adalah menjadikan personal komputer (PC) yang terdapat di seluruh dunia baik di rumah-rumah maupun di kantor sebagi terminal komunikasi serba guna yang dapat digunakan untuk menerima ataupun mengirim sinyal seperti suara, gambar, dan data (Ishadi, 1999).

Internet sebagai salah satu kata kunci yang memainkan peran penting dalam pembentukan media baru juga ditegaskan oleh pernyataan Don Tapscott, direktur Alliance of Converging Technologies, sebagai berikut :

The traditional media of the fourth estate (originally called ‘the press’) are converging with computing and telecommunications to create nothing less than a new medium of human communications –with the Net at its heart (Tapscott, dalam Dalam Riley, Patricia, et.al, http:// http://www.ascusc.org/jcmc/vol4/issue1/Keough.html,1998).

Media baru tersebut muncul dengan sifatnya yang semakin canggih. Karakteristik volume informasi dan pesan yang disampaikan semakin besar dan menjangkau seluruh dunia. Media baru yang dimaksudkan di sini tidak terbatas hanya pada media interaktif saja, tapi juga seluruh media konvensional yang ada. Berkat kecanggihan teknologi, media baru ini mampu menyebarkan seluruh kejadian ke seluruh penjuru dunia pada saat yang sama. McQuail (2004) merumuskan ciri-ciri media baru tersebut, antara lain :

  1. Desentralisasi: pengadaan dan pemilihan berita/informasi tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pemasok komunikasi.
  2. Berkemampuan tinggi: pengantaran melalui media kabel dan satelit mengatasi hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pemancar siaran lainnya.
  3. Bersifat interaktif: setiap pelaku komunikasi yang terlibat didalamnya dapat melakukan proses komunikasi timbal balik, dimana mereka dapat memilih, menjawab kembali, menukar informasi dan dihubungkan dengan yang lainnya secara langsung.
  4. Fleksibel: fleksibel dalam hal ini meliputi bentuk, isi, dan penggunaannya.

Dengan jaringan internet sebagai saluran komunikasinya dan informasi interaktif yang menjangkau seluruh dunia, peranan media baru tersebut menjadi sangat dominan. Semua media lama akan menjadi tradisional jika tidak melibatkan diri dalam jaringan cyberspace. Semua itu merupakan prasyarat agar media mampu menjadi bagian dari sistem jaringan global.

Secara nyata, praktik “jurnalisme online” dimulai ketika Mark Drudge yang terkenal lewat Drudge Report-nya membongkar skandal perselingkuhan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan Monica Lewinsky atau yang sering disebut “monicagate” (Berita skandal ini mulai menjadi perbincangan publik ketika sebuah e-mail dikirimkan ke 50 ribu pelanggan pada tanggal 18 Januari 1998 (Santana, 2005: 136). Dalam setiap aspek penting kisah ini, menurut Lasica (dalam Santana, 2005: 136),

Ketika menulis Internet Journalism and the Clinton-Lewinsky Investigation, medium internet digunakan untuk “membongkar berita-berita skandal, menyuarakan tuduhan-­tuduhan baru, dan merilis secara keseluruhan laporan final Starr atas investigasinya”. Hingga timbul pertanyaan: apakah berita ini adil dan akurat perlu dikesampingkan untuk menjangkau (fakta) fenomena jurnalisme online telah hadir? Jumalisme online telah memicu tren alternatif, mengklaim bahwajurnalisme online telah mengubah segala aktivitas jurnalistik dan kegiatan lama profesi jurnalisme. Sejak itu, jurnalisme online telah maju secara dramatis.

J. Pavlik (2001) menyebut jurnalisme online sebagai “contextualized journalism” yang mengintegrasikan tiga model komunikasi, yaitu kemampuan multimedia berdasarkan platform digital, kualitas-kualitas interaktif komunikasi online, dan fitur-fitur yang dapat ditata dengan berbagai variasi (costomizable features).Dalam kaitan ini, Rafaeli dan Newhagen (sebagaimana dikutip Santana, 2005: 137) mengidentifikasi lima perbedaan utama yang ada di antara jurnalisme online dan media massa tradisional: (1) kemampuan internet untuk mengombinasikan sejumlah media; (2) kurangnya tirani penulis atas pembaca; (3) tidak seorang pun dapat mengendalikan perhatian khalayak; (4) internet dapat membuat proses komunikasi berlangsung sinambung; dan (5) interaktifitas web. Dengan berbagai ciri yang melekat pada jurnalisme online di atas, maka dapat dikatakan bahwa secara nyata terdapat perbedaan yang cukup mencolok pada jurnalisme online dibanding media konvensional. Dengan demikian. kelebihan dari internet sebagai media komunikasi adalah kemampuannya dalam mengubah alur komunikasi yang searah (dari komunikator ke komunikan) menjadi dua arah (dari komunikan ke komunikator). Sifat interaktif inilah yang menyebabkan internet mejadi media yang memperlebar ruang-ruang demokrasi, sebab masyarakat tak lagi sekadar objek pemberitaan tetapi juga bisa jadi subjek.

Manajemen Redaksional Media Online

Manajemen yang diterapkan dalam kegiatan redaksional berkaitan dengan tuntutan untuk merumuskan setiap langkah kerja dalam hubungannya dengan keseluruhan sistem media (Djuroto, 2002). Pada masa kini, manajemen mau tidak mau menjadi kata kunci keberhasilan suatu media dalam mengelola dan mempertahankan eksistensinya. Bidang-bidang atau bagian media dan sumberdaya media perlu diatur dan diberdayakan kemampuan dan fungsinya agar mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan. Setiap unsur-unsur dapat dijadikan parameter dalam pengawasan mutu terpadu (total quality control) karena kejelasan proses dan output yang dihasilkan (Fink, 1996) .

Persaingan antar media baik yang sejenis maupun berbeda berlangsung melalui produk media dan produk informasi. Persepsi khalayak terhadap media terlihat dari informasi yang ditampilkannya. Khalayak memiliki citra (image) terhadap produk media, an ini terbentuk melalui “rasa” terhadap prduk informasi tersebut (Siregar, 2000).

Seluruh upaya manajemen media pada dasarnya adalah memproduksi informasi untuk kemudian secara fisik memproduksi media dan mendistribusikannya. Dengan demikian bagian redaksi sebagai bagian dalam manajemen media memiliki posisi yang sangat penting dalam dinamika penerbitan. Meskipun demikian, dalam manajemen sebuah media, tidak ada unsur yang lebih unggul, meskipun redaksi memegang peranan penting. Baik SDM, bagian produksi, maupun bagian marketing juga punya peranan yang sama dalam pengelolaan media.

Tuntutan pada pekerjaan jurnalistik pada saat ini tidak semata-mata hanya mengembangkan teknik jurnalisme pada tingkat bagaimana untuk memformat realitas menjadi informasi tapi lebih jauh lagi adalah mengemas dan menampilkan output informasi tersebut dalam keseluruhan manajemen media massa. Kebijakan redaksional menjadi dasar bagi kegiatan yang berkaitan dengan produk, oleh karena itu kompleksitasnya semakin bertambah. Setiap pengelola media perlu merumuskan editorial mixed stretegy dan formula sebelum memproduksi suatu media (Siregar, 2000). Dengan rumusan ini maka strategi marketing global media dapat dikembangkan.

Fink dalam bukunya Strategic Newspaper Management (1996: 196-216) merumuskan strategi manajemen tersebut dalam ruang lingkup manajemen redaksional yang meliputi kegiatan research in the newsroom, planning in the newsroom, how to manage the newsroom’s resource, dan evaluating–controlling in the newsroom.

Pendapat yang dikemukakan Fink secara umum adalah konsepsi yang digunakan untuk memahami manajemen redaksional dalam media massa cetak. Fink secara terperinci dan detail menyebutkan berbagai elemen dalam sebuah media yang perlu diperhatikan pengelola media yang berkaitan dengan kebijakan redaksional. Meskipun demikian, pendapat tersebut tidak sepenuhnya bisa diterapkan dalam media online.

Media online adalah media yang berbasiskan teknologi komunikasi interaktif dalam hal ini jaringan komputer, dan oleh karenanya ia memiliki ciri khas yang tidak dimiliki media konvensional lainnya, salah satunya adalah pemanfaatan Internet sebagi wahana di mana media tersebut ditampilkan, sekaligus sarana produksi dan penyebaran informasinya. Oleh karena itu, peranan teknologi komunikasi dalam hal ini internet, sangatlah besar dalam mendukung setiap proses penyelenggaraan media online. Besarnya pengaruh teknologi Internet dalam penyelenggaraan media online ditunjukkan lewat pengeksplorasian setiap karakter yang dimiliki internet yang kemudian diadopsi oleh media online.

Adanya unsur baru, yakni internet berimplikasi pada beberapa perubahan ruang lingkup manajemen redaksional seperti yang dikemukakan Fink di atas. Misalnya hal-hal yang berakitan dengan riset-riset dalam media online, proses jurnalistik (seperti deadline, editing, dan produksi), rubrikasi isi, desain dan visualisasi media. Tidak seperti media massa konvensional sebelumnya yang memilki bentuk fisik media, media online terdiri atas halaman-halaman web di dalamnya. Sehingga kalau media cetak distribusi produknya dilakukan dengan penjualan produk cetak medianya, maka media online distribusinya lebih kepada distribusi informasi dengan cara akses terhadap situs media online yang bersangkutan lewat jaringan internet. Konsumen media online tidak memebeli media tersebut, namun membayar biaya akses ke penyedia jasa internet (ISP) atau biaya sewa internet.

Oleh karena itu, usaha memahami khalayak melalui riset-riset dalam ruang  berita, seperti masukan dan tanggapan dari pembaca serta kuisoner masih bisa dilakukan, sedangkan feedback dari sirkulasi seperti yang dikemukakan Fink tidak mungkin dilakukan. Ada beberapa penyesuaian yang terjadi, misalnya masukan dan tanggapan lebih sering dilakukan secara online yakni lewat fasilitas e-mail yang dikirimkan ke redaksi media, misalnya tanggapan atas berita yang dimuat langsung ataupun melalui online survey atau kuis. Jadi, setiap aktivitas yang dilakukan pembaca dalam hubungannnya  dengan media online dilakukan secara online juga.

Demikian halnya dalam pencarian dan penulisan informasi, media online memiliki pemaknaan yang berbeda dalam hal deadline, editing dan produksi informasi/berita. Penayangan (upload) informasi dapat langsung dilakukan pada saat itu juga tanpa harus menunggu produksi media seperti di media cetak. Kecepatan penyampaian informasi lebih diutamakan karena inilah yang menjadi salah satu keunggulan media online. Selain itu desain dan visualisasi media online bisa berubah setiap saat tergantung pada perubahan isi yang bisa berubah-ubah karena selalu di update.Dan oleh karenanya ciri khas kapasitas informasinya hampir tak terbatas, maka media online bisa menyediakan bank data, arsip, referensi, dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan berita, maka ada fasilitas-fasiulitas yang harus dimunculkan di media online seperti misalnya mesin pencari (search engine).

Karena adanya unsur baru yang sangat berperan yakni teknologi komunikasi dan informasi, maka kemungkinan dibutuhkannya sebuah divisi khusus  yang akan mengelola teknologi yang digunakan media online sangat besar. Dengan adanya divisi baru ini maka akan berpengaruh pada struktur dan proses kerja media secara keseluruhan. Pengelolaan sumber daya ini kemudian menjadi sangat penting dalam media online.

Meskipun demikian secara umum kerangka manajemen redaksional yang dikemukakan Fink (1996) bisa tetap digunakan untuk melihat manajemen redaskional media online, karena apa yang dijabarkannya telah mencakup semua aspek umum yang  termasuk dalam ruang lingkup manajemen redaksional. Selanjutnya pengaplikasian kerangka manajemen redaksional pada media online pada beberapa hal akan terjadi penyesuaian seperti yang telah disebutkan diatas.

Dalam konteks Indonesia, meskipun suratkabar, radio sudah ada sejak sebelum Republik Indonesia lahir, dan televisi sudah beroperasi pada tahun 1960-an, namun jurnalisme cetak, radio dan televisi sesungguhnya tidak berkembang dengan baik di Indonesia. Ini karena kedua jenis media tersebut sangat ketat dikontrol oleh pemerintah. Baru setelah Orde Baru tumbang,  jurnalisme cetak, radio, dan televisi berkembang pesat, bersamaan pula dengan jurnalisme online yang dipraktikkan oleh Detik, Astaga, Satunet, dll. Bedanya, bila operasionalisasi jurnalisme pada pers cetak, radio, dan televisi, para pengelolanya bisa dengan mudah belajar dari pengalaman serupa di negara lain, maka untuk jurnalisme online, para pengelola dan jurnalis situs berita harus mencari model-model kerja sendiri (Supriyanto dan Yusuf, 2007: 105).

Para pengelola media cetak, radio atau televisi tidak tahu persis berapa pembaca, pendengar atau pemirsa yang mengikuti berita yang dipublikasikan. Mereka hanya menggunakan jumlah oplah sebagai patokan, atau survei pendengar dan pemirsa. Ini berbeda dengan dengan situs berita, sebab semua proses yang terjadi di internet terdata dengan rapi, sehingga berapa orang yang mengklik atau membaca satu halaman berita bisa dihitung jumlahnya setiap saat. Pada titik inilah redaktur bisa mengetahui secara pasti berita macam apa yang sedang dibutuhkan pembaca. Oleh karena itu dalam beberapa isu, situs berita sering membuat berita yang jauh berbeda dengan apa yang muncul di cetak, radio dan koran. Dari perilaku pembaca, para redaktur/penulis juga mengetahui, kalau ada peristiwa besar yang menyedot perhatian, maka pembaca akan mengejar terus perkembangan peristiwa tersebut dan cenderung mengabaikan peristiwa lain. Akibatnya sering terjadi dalam satu hari berita dalam situs berita hanya didominasi oleh satu atau dua isu tertentu.

Untuk mewartakan peristiwa yang sedang berlangsung, jurnalis situs berita dituntut memiliki kemampuan memilih sudut pandang berita secara cepat. Pemahaman teori dasar jurnalistik (unsur dan nilai berita) belum cukup, karena jurnalis harus juga memiliki kepekaan atas arah peristiwa dan pemberitaan. Masalah kedua adalah bagaimana bisa melaporkan berita secara cepat ke koordinator liputan/redaktur yang berada di kantor. Di sini jurnalis dituntut untuk membuat laporan yang logis, data yang akurat, serta mampu menyampaikan kutipan-kutipan yang menarik perhatian. Telepon seluler sangat mempermudah kerja jurnalis, namun perangkat tersebut tidak ada artinya tanpa diimbangai oleh kemampuan menyusun laporan cepat. Selanjutnya para redaktur di kantor harus menyaring laporan yang masuk dengan memperhatikan berbagai hal agar berita yang ditayangkan itu tetap mengacu pada prinsip-prinsip jurnaslime: akurat, objektif, fair, seimbang, dan tidak memihak.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.

[2] HTML= HyperText Markup Language; bahasa pemrogaman Java  dan HTML dalam internet digunakan sebagai salah satu standar untuk aplikasi teknologi berbasis web .