Memotret Industri Majalah Bersegmen di Indonesia

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Di tengah gempuran media-media yang mengedepankan teknologi terbaru, sampai saat ini majalah tetap eksis dengan jurus lama: menjual segmentasi, mengupayakan kemasan yang eye cathing, permainan warna, desain, dan kualitas kertas sebagai selling point. Namun, majalah tidak bisa lagi selalu dituntut layaknya sebuah “toko serba ada” yang menyediakan beragam kebutuhan informasi. Berbeda dengan suratkabar,  majalah dituntut lebih fokus untuk menjangkau khalayak atau target audiens tertentu.

Dalam sejarah penerbitan pers Indonesia, penerbitan majalah-majalah dengan segmen khusus sebenarnya sudah sempat dikenal sejak zaman pra-kemerdekaan, meskipun tidak berkelanjutan. Pada sekitar tahun 1939, di Banjarmasin, pernah terbit majalah bernama Perintis, sebuah majalah yang diterbitkan oleh dan untuk kalangan sopir. Majalah itu terbit sebagai dwimingguan. Bahkan, jauh sebelum itu, pada sekitar tahun 1914, juga pernah terbit majalah bernama De Cranie, yakni majalah pembawa suara kaum kerani atau juru tulis kebun (Junaedhie, 1995: 195). Namun, majalah-majalah khusus yang terbit pada masa itu berbeda motivasi penerbitannya dengan penerbitan majalah-majalah khusus pada masa kini. Jika pada masa lampau alasan penerbitannya lebih karena faktor idealisme semata, maka pada tahun-tahun belakangan, selain faktor idealisme, kepentingan bisnis juga turut berperan dominan di dalam  pembentukan majalah (Juanedhie, 1995: 195).

Bila melihat sejarah penerbitan pers di Indonesia, gejala segmentasi majalah sebenarnya mulai tampak pada akhir tahun 1970-an. Pada waktu itu, telah terbit sejumlah media cetak yang membahas masalah spesifik dengan pembaca khusus. Segmentasi itu tampak dari spesialisasi tema majalah seperti majalah khusus ekonomi, keagamaan, kesehatan, anak-anak, remaja, wanita, keluarga, pertanian, otomotif, iptek, sastra/budaya, psikologi, hukum & kriminal, tata boga, manajemen/perbankan, pariwisata, interior, olahraga, kesehatan, industri, ketenagakerjaan, komputer, pertanian, arsitektur, fotografi, komputer, handphone, hobi dan hiburan (musik, film, game, komik, mainan), dll. Beberapa grup konglomerasi penerbitan majalah sebagai pemain besar antara lain Gramedia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Femina, MRA, Media Indonesia, dan Pinpoint.

Jauh sebelum majalah segmentasi merebak, Jakob Oetama (direksi grup PT Kompas Gramedia), dalam seminar ”Penerbitan Majalah Menyongsong Tahun 2000” pada awal tahun 1990-an mengatakan, pangsa pasar majalah umum di tahun 2000 akan mengalami kejenuhan. ”Pangsa pasar yang terbuka nantinya adalah untuk majalah khusus,” katanya (Junaedhie, 1995: 194). Majalah-majalah semakin fokus dengan segmentasi dan target pasar yang sangat spesifik. Teknologi desktop publishing yang semakin cannggih dengan sistem komputerisasi memudahkan proses editting dan lay-out sehingga memudahkan, mempercepat, dan meminimalkan kesalahan pencetakan (Vivian, 2002). Selain itu industri majalah-majalah juga diwarnai dengan sistem waralaba (franchaise), yakni terjemahan ke dalam berbagai bahasa, baik yang seluruhnya merupakan adaptasi dari versi aslinya maupun yang sebagian disesuaikan dengan konteks lokal dan citarasa negara lain.

Tabel 1. Majalah Waralaba di Indonesia

No Tahun Terbit Media Segmen Penerbit
1 April 1973 Bobo Anak-anak Gramedia
2 1997 CHIP Komputer Elex Media
3 September 1997 Cosmopolitan Wanita/Lifestyle Grup MRA
4 2000 Health Today Kesehatan Infomaster
5 Mei 2000 F1 Racing Indonesia Olahraga Quadra Media Publicia
6 Mei 2000 Herpers BAZAAR Wanita/Lifestyle Media Insani Abadi
7 Juni 2000 Autocar Otomotif Grup MRA
8 Agustus 2000 Female Indonesia Wanita/Lifestyle Mediamilenia
9 Oktober 2000 Her World Indonesia Wanita/Lifestyle Media Ikrar Abadi
10 November 2000 Lisa Wanita Pin Point
11 Maret 2001 Golf Digest Olahraga Media Golfindo
12 April 2001 Komputer Aktif Komputer/TI Gramedia
13 Agustus 2001 Men’s Health Kesehatan Grup Femina
14 Agustus 2001 Rally XS Olahraga Quadra Media
15 September 2001 Motorriders Otomotif/Olahraga Grup MRA
16 Oktober 2001 Cosmo Girl Remaja Putri Grup MRA
17 November 2001 Seventeen Remaja Putri Grup Femina
18 2001 T3 Indonesia Komputer/TI Tri Teknologi Tunggal

Sumber: Hersinta, Tesis, Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (2002).

Berkembangnya kembali penerbitan majalah khusus pada saat ini dapat dikatakan sebagai akibat euforia kebebasan pers pada awal tahun 2000 berujung pada munculnya sejumlah penerbitan yang menerbitkan berbagai jenis format media massa Dalam lingkup media cetak, muncul sejumlah penerbitan koran, majalah, tabloid, dan lain sebagainya. Tidak mengherankan jika jumlah penerbitan yang terdaftar oleh Departemen Penerangan di Indonesia melonjak dari 282 penerbitan pada tahun 1997 menjadi 1675 penerbitan pada akhir tahun 1999 (Direktori Pers Indonesia, 2002-2003). Angka ini terus menanjak. Menurut Dewan Pers, pada tahun 2001, jumlah penerbitan media cetak meningkat lagi menjadi 2033 penerbitan. Laporan Tahunan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tahun 2000-2001 juga mencatat perkembangan media lokal di sejumlah daerah pasca kebebasan pers.

Khusus kategori majalah, persentase penerbitan majalah di Pulau Jawa bahkan lebih besar, yaitu sebesar 86,3% dari total 219 buah penerbitan majalah dalam berbagai jenis di Indonesia. Secara provinsi, pasar majalah memang tetap berpusat di Jakarta dengan mengkontribusi 152 penerbitan, diikuti oleh Daerah Istimewa Yogyakarta (13 penerbitan), Jawa Timur (12 penerbitan), Jawa Barat (8 penerbitan), Sumatera Selatan (7 penerbitan), dan Jawa Tengah (6 penerbitan) (Direktori Pers Indonesia, 2002-2003). Adapun menurut perkiraan SPS, kue iklan untuk majalah yang dikuasai oleh penerbitan di Jakarta saat ini berkisar antara 70-80%, yang diperebutkan oleh sekitar 150 pemain majalah yang beredar dengan aneka ragam frekuensi terbit tersebut.

Untuk menyiasati persaingan yang timbul akibat semakin banyaknya jumlah media massa yang muncul, beberapa penerbit mengambil langkah antisipasi dengan menerbitkan jenis media yang lebih tersegmentasi dan lebih terfokus. Pilihan membangun media lokal, bahkan lokalitas yang lebih sempit, seperti kompleks permukiman dan kawasan bisnis, merupakan upaya menggarap pasar yang selama ini tidak tertangani secara optimal oleh media nasional. Kondisi tersebut mendorong lahirnya media berskala lokal yang lingkup pembahasan dan cakupan area peliputannya lebih sempit, yang dikenal dengan nama media komunitas.

Menurut Mahtoem Mastum-Direksi grup Penerbitan Pers PT Wahana Semesta– anak perusahaan kelompok Jawa Pos- Media cetak komunitas merupakan pilihan terbaik bagi investor untuk membuat media cetak. Pasalnya, kendati ruang lingkupnya sempit, media komunitas memiliki pembaca loyal yang berasal dari kalangan komunitasnya (Mastum, 2006). Sebagai konsep baru dalam media massa, media komunitas dibentuk untuk melayani kebutuhan informasi masyarakat dalam sebuah komunitas. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Hermawan Kartajaya dalam buku Marketing in Venus. Menurutnya, komunitas adalah saluran penjualan yang kredibel dan dapat dipercaya karena lingkungan di dalam komunitas bersifat egaliter dan peer to peer. Orang-orang di dalam komunitas adalah pembeli sekaligus penjual.

Pada akhirnya, sejak tahun 2000 awal, penerbitan media cetak komunitas memang kian giat. Sebuah media komunitas dapat mengambil format bentuk berbagai macam, antara lain adalah radio, televisi, dan juga media cetak, berupa koran ataupun majalah (Jankowski, 2001). Di Jakarta, media komunitas beredar di kawasan pemukiman elit Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di kawasan permukiman yang sekaligus juga kawasan bisnis tersebut, beredar majalah Info Kelapa Gading dan Famili Gading. Majalah ini terbut bulanan dan dibagikan gratis kepada komunitasnya. Meski beroperasi pada komunitas yang sama, kedua majalah tersebut memiliki konten rubrik yang berbeda disesuaikan oleh segmentasi dan positioning masing-masing. Majalah Info Kelapa Gading lebih ditujukan kepada pebisnis sedangkan Famili Gading mengambil format sebuah majalah keluarga. Di kawasan Sunter, Jakarta Utara, ada majalah bulanan Sunter yang juga dibagikan gratis.

Hal serupa terjadi di kawasan pemukiman Bintaro Jaya di Jakarta Selatan. Pengelola permukiman Bintaro Jaya berinisiatif menerbitkan sebuah media yang diperuntukkan bagi warga Bintaro. Kicau Bintaro yang terbit bulanan berisi informasi tentang kegiatan yang diadakan di lingkungan Bintaro serta mengangkat profil sejumlah tokoh masyarakat Bintaro secara bergantian. Formatnya kurang lebih serupa dengan Famili Gading yang merupakan majalah keluarga. Di kawasan pemukiman Bumi Serpong Damai (BSD)- Tangerang, dikenal Tabloid Suara BSD City yang diterbitkan oleh pengelola kawasan permukiman BSD City. Sejumlah media komunitas lain yang menyusul diterbitkan di kawasan Serpong antara lain adalah Tabloid Metro Cipasera, Ad Info, Tabloid Serpong Karawaci, Tabloid Helps! Offline, serta Majalah Info Serpong. Rata-rata, media cetak yang beredar di kawasan komunitas tersebut dibagikan secara gratis kepada para penghuni kawasan tempat tinggal yang menjadi sasaran.

Selain di kawasan permukiman warga, ada pula media komunitas yang lahir di kawasan perkantoran dan pusat perdagangan. Kelompok Jawa Pos menggarap pusat perdagangan elektronik Glodok–Jakarta Barat dengan koran Sinar Glodok. Sementara itu di kawasan perkantoran segitiga emas Kuningan, Thamrin, dan Sudirman, hadir majalah Segitiga Emas. Namun, majalah Segitiga Emas itu kemudian berhenti terbit. Media bagi komunitas yang ada di kawasan perdagangan dan masih terbit hingga kini adalah majalah yang beredar di kawasan pertokoan Plaza Senayan, bernama majalah ps:. Majalah ini berisi informasi seputar produk-produk yang dijual oleh para tenant yang menempati area pertokoan Plaza Senayan. Selain itu juga ada tabloid yang beredar di kawasan pertokoan ITC Mangga Dua dan sejumlah lokasi ITC lainnya.

Mayoritas media komunitas tersebut didistribusikan gratis secara langsung dari rumah ke rumah, sehingga pembaca tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan contoh eksemplar dari media komunitas tersebut. Dengan demikian, akses pembaca menuju media komunitas semakin mudah. Atas dasar pertimbangan tersebut, semakin banyak saja jumlah pemegang iklan yang mempercayakan pemasaran produknya kepada media komunitas.

Bukan hanya di Jakarta, media cetak komunitas juga berkembang di luar Jakarta. Di Surabaya, sejak akhir tahun 2000, Media Watch mencatat ada 4 media komunitas yang berkembang, yaitu Warta Darmo, Jurnal YeKP, Galaxi Media, serta Darmo Insight. Keempat media cetak ini bermain di wilayah yang cukup sempit, yakni sebuah kawasan hunian dan bisnis yang cukup padat. Warta Darmo dan Darmo Insight merupakan media komunitas yang membahas satu kawasan yang sama, yaitu warga kawasan Darmo. Selain berguna sebagai langkah alternatif dalam menghadapi kompetisi dengan majalah nasional serta sebagai pemenuh kebutuhan masyarakat akan informasi yang lebih spesifik, sebenarnya sebuah media komunitas memiliki peran lain yang lebih mendasar dan menyangkut hajat hidup orang banyak.

Dibandingkan suratkabar, pembaca majalah memang relatif lebih sedikit, namun demikian majalah memiliki pasar yang lebih mengelompok. Dari sisi isi informasinya, isi majalah tidak seaktual suratkabar namun ulasannya jauh lebih mendalam dan diwarnai dengan latar belakang plus analisis masalahnya. Kebanyakan majalah memuat iklan berlingkup nasional karena umumnya majalah yang beredar di Tanah Air berpusat di Jakarta. Bila dibandingkan belanja iklan antara surat kabar dengan majalah maka dapat dilihat pada tahun 2004 misalnya, persentase iklan koran lebih besar yaitu  Rp 5.235,8 milyar dan majalah hanya Rp 997,6  milyar (Nielsen Media Research – Advertising Media Service, 2005).

Tabel 2. Perolehan Iklan Majalah di Indonesia Tahun 2001-2004 (Rp Miliar)

No Majalah Tahun 2001 Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004
1 Femina 56.464 63.871 59.824 67.688
2 Tempo 38.983 46.431 46.986 58.983
3 Cosmopolitan 24.612 33.611 32.366 44.672
4 Kartini 5.751 17.881 21.271 25.136
5 Ayahbunda 11.764 13.025 17.105 22.508
6 Aneka Yess 12.573 16.449 16.782 20.879
7 Gatra 22.502 23.111 16.709 20.712
8 Bussiness Week 10.288 20.080
9 Dewi 14.150 16.773 17.059 19.751
10 Gadis 13.683 15.998 16.326 18.662

Sumber: Nielsen Media Research 2004 dan Media Scene 2004-2005 dalam Media Directory Pers Indonesia 2006

Pembahasan mengenai kegiatan periklanan di majalah selalu mempertimbangkan tipe majalah yang terkait dengan target audiens yang diinginkan. Menurut http://www.eswias.com, kategori  majalah dapat dipilah-pilah dalam beberapa jenis, meliputi:

a. Geografi

Berkaitan dengan distribusi majalah apakah nasional, lokal ataukah regional atau bahkan internasional (Panjebar Semangat, Tempo, Time)

b. Demografi

Adalah kategori majalah dalam bentuk kelompok umur (Bobo), Pekerjaan (Cakram), jenis kelamin (Matra, Femina, Cosmopolitan, Mens Health), status sosial (Tempo, Intisari, Misteri, Maestro)

c. Editorial Content

Pembagian  majalah dari segi isi apakah berita umum (Tempo, Gatra), informasi wanita (Cosmopolitan), Bisnis (Swa), interert khusus (Cinemagz, ASRI), dsb

d. Ukuran fisik

Ukuran fisik majalah umumnya adalah  8,5 x 11 inchi atau 6 x 9 inchi. Saat ini ukuran majalah terus mengecil agar mudah dibawa kemana-mana.

e. Frekuensi Penerbitan

Umumnya majalah di Indonesia terbit mingguan, namun ada yang terbit dwi mingguan, bulanan, tiga kali sebulan dan ada pula yang terbit tiga bulan sekali.

Sebagai medium beriklan majalah memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

Kekuatan Majalah sebagai Media Iklan

  1. Khalayak sasaran untuk iklannya lebih tersegmentasi, sehingga majalah dengan special interest akan disukai pengiklan karena dianggap memiliki captive market.
  2. Penerimaan khalayak; memiliki kemampuan mengangkat produk yang diiklankan sejajar dengan persepsi khalayak sasaran.
  3. Long life span; usia edar majalah adalah panjang dan sering disimpan sebagai referensi. Umumnya pembaca majalah membaca satu majalah rata-rata 60–90 menit dan sering diulang-ulang. Oleh karenanya iklan yang ada dalam majalah dapat memuat naskah iklan yang panjang dan lebih rinci sekaligus juga unsur kreatif kreasi pesan iklan yang disampaikan.
  4. Kualitas visual; karena umumnya dicetak dengan kertas berkualitas tinggi, maka menjajikan kualitas foto, gambar, tulisan yang lebih indah dan menarik perhatian.
  5. Dapat digunakan sekaligus sebagai sarana sales promotions; misal pemberian kupon, sampel produk, bonus dan sebagainya
  6. Creativity flexibility: karena kualitas visualnya maka iklan di majalah  penerapan artwork dan strategi kreatifnya dapat dimaksimalkan dan lebih bervariasi

Kelemahan Majalah sebagai Media Iklan

  1. Fleksibilitas terbatas; artinya pengiklan harus menyerahkan final artwork iklannya jauh-jauh hari. Untuk pemesanan iklan pada halaman tertentu diperlukan perencanaan dan pesanan lebih dahulu.
  2. Biaya tinggi; untuk beriklan pada majalah diperlukan dana yang relatif mahal
  3. Distribusi; jaringan distribusi majalah tidak sebanyak surat kabar dan penyebarluasannya relatif lebih lambat  bahkan kadang–kadang di suatu daerah tidak ada distribusinya.

Di Amerika serikat, pasar untuk media cetak dikenal melalui hubungan simbiosis antara penerbit dan pemasang iklan. Hubungan antara penerbit dan pemasang iklan terlihat dari harga kolom iklan. Dalam menggali hubungan ini, perlu diingat bahwa majalah sangat dipertimbangkan pemetaan keberagaman pembaca. Contohnya Teen People pembacanya sebagian besar adalah pembaca muda, sementara pembaca Time meliputi wilayah pembaca yang lebih luas.

Pertumbuhan ekonomi, iklim keterbukaan dan kebebasan pers membawa semangat berbagai perusahaan untuk menerbitkan majalah bersegmen yang berorientasi memenuhi kebutuhan khalayak pembaca. Persaingan yang ketat mendominasi industri majalah sehingga setiap pemilik suratkabar berlomba-lomba menguasai pangsa pasar dengan menjual segmentasi. Dalam pasar oligopoli ini, majalah yang tidak memperoleh iklan dan pembaca yang memadai akan gulung tikar. Fluktuasi jumlah pengiklan dan pembaca majalah tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor. Persaingan dengan pendatang baru, baik majalah dalam negeri maupun majalah waralaba menjadi faktor yang menentukan.

Sejarah Kelahiran Majalah

Secara umum, majalah mulai berkembang di Inggris Raya pada tahun 1700-an dengan menampilkan materi fiksi dan nonfiksi. Majalah pertama di negara itu adalah Gentleman’s Magazine yang muncul pada tahun 1731 dan menampilkan tulisan-tulisan tentang politik, biografi, dan kritik (Straubhaar & La Rose, 2006).

Di Amerika, majalah pertama adalah American Magazine (William Bradford) yang dicetak di Philadelphia pada tahun 1741. Disusul berikutnya General Magazine (Ben Franklin). Selama Revolusi Amerika, majalah-majalah di Amerika muncul dengan mengusung topik-topik seputar dunia politik. Pada tahun 1820an, majalah dengan isu-isu umum mulai muncul, seperti Saturday Evening Post (1821-1969). Jumlah majalah meningkat tajam selama Perang Sipil dan mulai menjangkau pembaca yang lebih luas. Pada tahun tahun 1879, undang-undang pos menyebabkan biaya distribusi majalah menjadi lebih murah (Straubhaar & La Rose, 2006).

Pada tahun 1900an majalah bergenre mucraking journalism muncul, yakni majalah-majalah yang memfokuskan pada berita-berita investigasi mengenai skandal, misalnya korupsi di pemerintahan atau perusahaan. Majalah mucracking ini misalnya diwakili oleh McClure’s dan Collier’s. Selain itu ada The Nation dan Washington Monthly yang fokus meliput skandal yang terjadi di pemerintahan

Setelah tahun 1900an, majalah dengan berbagai genre bermunculan dan menyasar target audiens yang spesifik sert mengangkat isu-isu kehidupan modern atau gaya hidup. Strategi ni dilakukan untuk mengimbangi kemunculan-media lain yang lebih atraktif, yakni radio dan film. Salah satu formula majalah yang paling sukses adalah mengombinasikan foto dan berita. Diawali dari majalah Life yang lebih banyak menonjolkan foto. Akhirnya pada dekade-dekade berikutnya kesuksesan Life menurun karena tidak mampu menghadapi persaingan dengan televisi. Sejarah kesuksesan Life digantikan oleh Time dan Newsweek. Kedua majalah ini berhasil karena menampilkan foto dan berita secara seimbang.

Di Indonesia, keberadaan majalah mulai dikenal pada masa menjelang dan awal kemerdekaan Indonesia. Tahun 1945 terbit majalah bulanan dengan nama Panja Raja pimpinan Markoem Djojo Hadisoeparto. Pada masa awal kemerdekaan, lahir Majalah Revue Indonesia yang diterbitkan oleh Soemanang, SH. Kehadiran majalah ini telah mengemukakan gagasannya perlunya koordinasi penerbitan majalah dan suratkabar yang jumlahnya sudah mencapai ratusan dengan satu tujuan, yaitu menghancurakan sisa-sisa kekuasaan Belanda, mengobarkan semangat perlawanan rakyat terhadap bahaya penjajahan, menempa persatuan nasional utnuk keabadian kemerdekaan bangsa, dan penegakan kedaulatan rakyat. Pada zaman Orde Lama, Penguasa Perang Tertinggi mengeluarkan pedoman resmi untuk penerbit surat kabar dan majalah di seluruh Indonesia. Pada masa ini perkembangan majalah tidak begitu baik, karena relatif sedikit majalah yang terbit. Pada zaman Orde Baru, banyak majalah yang terbit dan cukup beragam jenisnya. Hal ini sejalan dengan kondisi perekonomian bangsa Indonesia yang makin baik, serta tingkat pendidikan masyarakat yang makin maju (http://oliviadwiayu.wordpress.com/2006/11/03/ bentuk2-media-massa/). Meski demikian, pada masa ini sempat diwarnai pembredielan beberapa majalah dan pengekangan kebebasan pers oleh pemerintah, salah satunya lewat prosedur perizinan (SIUPP).

Pada perkembangan mutakhir, majalah-majalah semakin fokus dengan segmentasi dan target pasar yang sangat spesifik. Teknologi publishing yang semakin cannggih dengan sistem komputerisasi memudahkan proses editting dan lay-out sehingga memudahkan, mempercepat, dan meminimalkan kesalahan pencetakan (Vivian, 2002). Selain itu industri majalah-majalah juga diwarnai dengan sistem waralaba (franchaise), yakni terjemahan ke dalam berbagai bahasa, baik yang seluruhnya merupakan terjemahan dari versi aslinya maupun yang sebagian disesuaikan dengan konteks lokal dan citarasa negara lain.


[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Yogyakarta.

26 thoughts on “Memotret Industri Majalah Bersegmen di Indonesia

  1. artikelnya bagus, pak :-) terimakasih sudah mencantumkan nama saya untuk pengutipan walaupun datanya sudah lama banget sebetulnya, jaman buat tesis waktu 2002 dulu :-) sekarang sudah puluhan judul majalah franchise yang terbit di Indonesia, sampai saya kesulitan buat update lagi :-)

  2. hersinta :

    artikelnya bagus, pak :-) terimakasih sudah mencantumkan nama saya untuk pengutipan walaupun datanya sudah lama banget sebetulnya, jaman buat tesis waktu 2002 dulu :-) sekarang sudah puluhan judul majalah franchise yang terbit di Indonesia, sampai saya kesulitan buat update lagi :-)

    Betul, majalah2 franchise skrg semakin menggurita masuk Indonesia, meski tirasnya tidak begitu besar.
    Hehe..terimakasih kunjungan dan komentarnya, Mbak Sinta :)

  3. Saya mau tanya nih…
    Ada yang tahu ga…
    Apa sih pengertian dari MEDIA CETAK GRATIS khususnya MAJALAH GRATIS itu?
    Saya sudah cari-cari kemana-mana tapi belum dapet juga pengertiannya apa…
    Tolong dibantu yah bang… Saya butuh banget untuk skripsi saya…
    Terimakasih sebelumnya…

  4. Majalah gratis menurut saya adalah majalah yang tidak berlabel/diberi harga jual karena dua alasan: PERTAMA, karena harga dibayar/disubsidi penuh oleh pembuat pesannya. Dalam kajian menajemen media, disebut penerbitan dengan paradigma miisonaris. Ciri-cirinya: (1) Manajemen media menaruh perhatian pada misi tertentu
    (2) Orientasi pesan top down, (3) merefleksikan gagasan atau kepentingan komunikator, (4) Pada umumnya nonkomersial, (4) Biaya organisasi diperoleh dari organisasi dan kelompok kepentingan tertentu, (5) Implikasi: munculnya general opinion akibat pemberitaan yang seragam. Biasanya berbentuk majalah HUMAS, buletin jumat, majalah kedutaan, dsb.
    KEDUA, Majalah gratis karena biaya produksinya disubsidi penuh oleh pengiklan. Sebutlah majalah2 yang isinya lebih mirip katalog iklan..Atau yang lebih bagus misalnya Majalah 69+ atau majalah perusahaan penerbangan seperti Majalah Garuda Indonesia.
    Semoga membantu.

  5. Sy kurang tahu buku yang spesifik membahas hal tersebut…Ada teman lain yang bisa bantu?
    (Kl tidak salah, ada artikel di Jurnal luar negeri dengan bahasan spesifik dengan satu nama media gratis sebagai objek studi kasus…tapi mohon maaf sy lupa judul dan jurnalnya…)

  6. Artikelnya menarik sekali Pak. Saya sedang meneliti mengenai majalah di Indonesia. Apakah bapak ada data yang lebih aktual (2008-2010) mengenai jumlah majalah, daftar penerbit, pemasukan iklan? Kalo tidak punya, saya bisa dapat datanya dari mana ya Pak ?

  7. Yth Bpapak Iwan,
    Apakah Bapak bisa memberikan info mengenai izin terbit, apakah pada saat ini masih diperlukan? Misalnya saya mau menerbitkan sebuah majalah tentang makanan yg dipasarkan di Indonesia. Dan bagaimana pula bila penerbitnya di Singapore? Apakah ada peraturan dari Dep. Kominfo yg mengaturnya? Bisa Bapk Iwan menyebutkan peraturannya?

  8. @Pak Surya: Persisnya untuk hal teknis perizinan saya kurang tahu, yang pasti aturannya tidak seketat dulu sebelum reformasi. PErizinannya dari aspek legalpersuahaan saja seperti Akta NOtaris dsb (Bukan SIUPP atau sejenisnya). Selengkapnya bisa menghubungi Serikat penerbit Suratkabar (SPS) atau hotlinennya Dewan Pers untuk informasi lebih lanjut.

  9. saya mau nanya donk… kl mau cr survey soal majalah terlaris atau yang paling banyak pembaca nya di Indonesia 2011 dimana web nya ya? terimakasih….

  10. permisi, mau nanya dong. ada berapa perusahaan sih yg bermain di industri media massa (khususnya majalah) di indonesia? dan berapa orang pembaca nya? dimana ya kira2 saya bisa mendapatkan informasi tsb? terima kasih..

  11. Regina dan Aldy: Data2 terbaru mengenai pembaca, oplah majalah dsb bisa diperoleh di biro-biro iklan atau media planner yang berlangganan data AGB/AC Nielsen. Atau ada juga di Media Scene, Direktori Pers (SPS), Media Planner Guide (Perception Pedia) dsb.
    Saya sendiri juga tidak selalu mengupdate data terbaru. hehe..
    Salam.

  12. Yth, Bapak Iwan
    saya sedang menulis Tugas akhir kuliah saya, kebetulan bahan tugas akhir saya adalah seputar majalah. Mau minta pendapatnya nih pak. Menurut Pak Iwan bagaimana sih perkembangan industri majalah konvensional saat ini seiring dengan berkembangnya majalah digital? terima kasih

  13. Pak David, betul pangsa majalah dan koran cenderung turun skrg ini.

    Beberapa gejala bs dilihat dari hampir semua suratkabar dan majalah konvensional skrg ini “takut” kehilangan pembaca di masa depan kerena beda generasi (generasi pembaca loyal akan habis karena faktor usia), makanya sebagian gencar buat halaman2 anak muda untuk menjaring generasi pembaca masa depan yng saaat ini lebih akrab dengan gadget dan update berita2 dr media sosial, bukan koran. beberapa koran menambah halaman khusus kampus dg mengajak siswa dan mahasiswa jd wartawan muda.

    Gejala lain dilihat dari strategi banting harga. Koran 1000 rupiah misalnya jelas muncul karena takut bersaing dg koran eksisting (Sebagian pihak ini dianggap sebagai strategi kotor karena harga itu tidak layak karena merusak harga pasar,tetap 1000 setelah masa promo).

    Fakta lain, pemasok iklan untuk koran skrg ini (Selain iklan baris) sebagian mulai merambah ke media online sehingga kuenya juga makin berkurang. Di Yogyakarta mslnya yang sudah terasa dampaknya adalah radio. Sebagian kue iklan radio bergeser ke media online.

  14. Pingback: Kaum Perempuan Indonesia sebagai Target Market Potensial Media Massa | One cannot not communicate....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s